[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 5)

Title: Lelaki yang Mencicit
Author: Darya Ivanova
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Cast: Nakajima Yuto, Inoo Kei, Arai Yuko (OC parsial)
Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)
Disclaimer: All casts are not mine,including the OC
Selamat membaca semuanya ^^ Kalau masih bingung dengan cerita di part 4 diperkenankan untuk membaca ulang karena sudah diperbaiki. Don’t forget that comments are love! 

Dasar Bawel!

Rupanya tugas untuk mengantar saja bisa begitu merepotkan. Sudah hampir dicurigai Haruna dan keluarga, menghadapi Mai yang tengah rewel, kemudian dianggap tidak sopan oleh Bibi Nami. Belum lagi Inoo masih sering linglung di tengah keramaian. Apalagi sejak pagi tadi ia betul-betul belum makan.

Loh, ini toko yang menjual kue enak itu kan?” Rupanya Inoo masih ingat logo yang ada di kemasan dorayaki itu sehingga tanpa ragu ia mengunjunginya. Di sisi depan toko terdapat satu rak berisi aneka majalah dan,

“Tuan Kimura lagi?” gumamnya ketika melihat majalah yang bersampul Kimura Takuya. Kini ia betul-betul bertanya-tanya apakah Tuan Kimura benar-benar mengawasinya atau tidak. Setelah ia berputar-putar, akhirnya Inoo menemukan seseorang yang tengah menyusun berbagai wadah berisi makanan ke dalam rak display.

“Permisi!” Petugas itu pun menengok dan menyadari  kehadiran Inoo – yang masih berwujud Yuto. “Apakah ada roti bulat yang bertumpuk?” Petugas masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh Yuto jadi-jadian.

“Tunggu sebentar,” jawabnya. Kemudian petugas itu mengantarnya ke rak display yang berisi aneka jenis roti.

“Inikah yang anda maksud?” tanya petugas itu memastikan. Mata Yuto jadi-jadian berbinar. Ia mengangguk senang.

“Tepat sekali! Terima kasih!” Tanpa ragu pula ia juga mengambil seluruh bungkusan yang berisi makanan sejenis. Mungkin ini bisa untuk persediaan ketika aku pulang ke Negeri Baika nanti, pikirnya. Ketika ia melihat seseorang yang telah selesai mengumpulkan barang belanjaannya, ia mengikuti orang tersebut – mengantre – hingga gilirannya tiba.

“Seluruhnya ¥600,00!” ucap petugas kasir. Memang tidak salah Yuto menyuruhku membawa tas, ponsel, dan dompet, pikir Inoo. Ia pun mengeluarkan selembar uang ¥10.000,00 hingga membuat petugas tak menyangka bahwa ia akan mengeluarkan uang dengan nilai sebesar itu.

“Baiklah, kembaliannya ¥9.400,00. Terima kasih banyak!” Ketika keluar, Inoo menemukan tempat duduk dan memilih untuk makan di sana. Mungkin karena ia kelaparan, akhirnya dalam sekejap 4 buah dorayaki di dalam satu bungkus itu habis. Tenggorokanku, pikir Inoo yang lupa merasa tenggorokannya tak enak karena tidak minum. Di manakah sumber air?

Di satu sisi, Yuto yang tengah kelaparan hanya dapat duduk dan menunggu di dekat jendela. Sejak pagi ia juga tidak makan karena yang ia lihat hanyalah sampah. Meskipun tubuhnya kini berubah menjadi seekor tikus, rupanya selera makannya masih sama seperti manusia. Ia tak ingin makan makanan sisa dari kotak sampah. Di mana sih pangeran gadungan itu, pikir Yuto kesal.

Papa sudah pulang!” Rupanya tetangga sebelah sudah pulang. Lalu kapan Inoo pulang? Sudah keroncongan, bosan pula. Sedari tadi ia tidak dapat melakukan apapun karena kondisi fisiknya yang tidak mendukung.

Samar-samar, sinar bulan tampak dari jendela. Mata Yuto berbinar karena dalam waktu yang singkat ia akan kembali menjadi manusia – meskipun di keesokan harinya ia masih akan kembali menjadi seekor tikus. Kini ia merasa tubuhnya seperti diangkat ke atas dan,

Au! Sakit!” Eh, rupanya ia sudah tidak mencicit lagi. Namun, “Ha?!” Ia terkejut luar biasa saat menyadari apa yang terjadi jika tubuh manusianya kembali:  tubuhnya kembali tanpa lindungan benang sehelai pun! Sebelum Inoo datang, ia harus sudah mengenakan pakaian yang lengkap!

Klik! Suara pintu terdengar lagi. Gemerisik suara kantong plastik terdengar dari sisi depan ruangan. Kali ini Yuto yakin bahwa yang datang adalah Inoo dan kali ini tebakannya tidak meleset.

“Hei, aku sudah kembali, loh!” ucap Yuto senang, tetapi Inoo malah terkejut seakan sedang melihat lelembut. “Ta-da!”  Yuto muncul memberi kejutan kepada Inoo. Lalu matanya melihat sebuah bungkus platik.

“Aku tadi belanja. Mungkin ini bisa jadi oleh-oleh ketika aku kembali ke Negeri Baika nanti!” ujar Inoo santai. Kemudian Yuto membuka isi bungkusan itu.

“Hei! Ini kan makanan favoritku!” sahutnya ketika melihat bungkusan berisi 20 buah dorayaki yang dapat dengan mudah ditemukan di sebuah kombini – setiap kemasan berisi empat buah dorayaki. “Aku minta satu, ya! Lapar, nih!” Yuto menyambar sebungkus dorayaki di dalam bungkusan plastic itu, tetapi Inoo menepisnya.

“Enak saja! Ini kan punyaku!” serang Inoo. “Ini akan menjadi persediaanku untuk di Negeri Baika nanti,” tambahnya. Yuto benar-benar tak mengerti akan cara berpikir Inoo.

“Hei, kau kira makanan ini tahan sampai kapan?” tanya Yuto menguji Inoo. Kini ia harus mencari jawaban untuk pertanyaan Yuto.

“Entahlah,” jawab Inoo santai.

“Coba lihat tanggal kadaluarsanya! Tiga hari lagi makanan ini sudah tidak layak konsumsi. Kau bisa sakit, Yang Mulia!” Yuto menunjukkan tanggal kadaluarsa yang tertera di dalam kemasan.

“Kalau begitu… Mungkinkah aku bisa mati karena memakan makanan yang sudah kadaluarsa?” tanya Inoo ketakutan. Namun jika dipikir kembali, ia belum bisa mengakhiri masanya sebagai ‘manusia abadi’ karena hanya keberhasilannya di tugas inilah kutukannya dapat berakhir.

“Tidak serta merta juga, sih. Yang jelas itu tidak baik untuk kesehatanmu,” jawab Yuto. Sebetulnya ia sendiri juga bingung untuk menjawab pertanyaan Inoo soal makanan kadaluarsa. Namun, ia juga memiliki niat lain di balik memberitahunya soal makanan kadaluarsa.

“Nah, daripada dorayakinya tidak habis, bagaimana kalau kau membaginya denganku?” rayu Yuto, tetapi Inoo membalasnya dengan tatapan tidak suka.

“Ini punyaku!” ucap Inoo seperti anak kecil.

“Hei, kau membeli ini dengan uang siapa?! Enak saja mengambil semuanya!” ujar Yuto senewen. Namun, tampaknya ia mulai mengubah pikirannya. “Baiklah kalau kau mau.” Ucapan Yuto membuat Inoo berbahagia kembali. “Tetapi ada syaratnya!” imbuh Yuto. Gubrak! Rupanya Inoo tidak dapat menerima dorayaki itu secara cuma-cuma.

Inoo terpaksa kembali keluar dengan pakaian casual milik Yuto – yang membuat tubuhnya tenggelam di dalam bajunya yang kebesaran. Kali ini ia tidak lagi menyamar sebagai Yuto, melainkan menjadi dirinya sendiri. Hanya pakaiannya yang berubah dari gaya khas era abad ke-17 menjadi t-shirt berlapis jaket dan celana blue jean. Seperti pakaian rakyat jelata, komentarnya di dalam hati.

“Masa orang dari Negeri Baika masih harus belanja?!” gumamnya protes. “Mana belanjaannya sebanyak ini!” Sebetulnya alasan mengapa Inoo ditugaskan berbelanja sebanyak itu adalah keadaan Yuto yang tidak memungkinkan untuk keluar dari atap perlindungannya selama dua minggu – hingga bulan purnama yang sempurna terbit.

“Bumbu kari… lima kotak. Kemudian aneka makanan beku,” gumam Inoo sambil membaca isi daftar belanjaan. Dirinya kini tiba di sebuah pasar swalayan yang tak jauh dari apartemen Yuto. Linglung. Ya, Inoo kembali linglung seperti biasanya.

“Aku harus belok ke mana?” Namun kali ini ia tidak terkejut oleh lalu lintas manusia, tetapi karena pasar swalayan itu tampak sangat besar. Saking besarnya ia tak tahu harus memulai dari mana.

“Sayur beku… 6 bungkus, ayam katsu potong 4 bungkus, aneka daging merah 6 bungkus, masing-masing untuk daging sapi dan babi.” Inoo terkejut ketika berada di area makanan beku. Linglungnya selalu muncul. Pada awalnya memang disebabkan oleh  luasnya pasar swalayan, tetapi kali ini oleh banyaknya jumlah barang belanjaan.

“Aneka jenis makanan beku sudah! Miso dan bumbu kari instan juga!” ujarnya mencentang daftar belanja. “Sekarang spons piring, sabun cuci untuk pakaian dan peralatan makan.” Inoo bergerak mencari barang lain yang harus dibeli. Di pikirannya kini adalah bagaimana agar ia dapat memenangkan hati Yuto – demi beberapa bungkus dorayaki.

**

Sementara itu, Yuto masih menatap patahan kotatsu sambil memegang laptop. Ia terus menghela napasnya yang semakin cepat. Rasa panas perlahan-lahan bergerak menuju ke kepalanya. Bagaimana aku bisa bekerja kalau mejanya saja patah begini, batinnya kesal.

Karena tenggat waktu sudah semakin dekat, mau tidak mau Yuto tetap harus bekerja – entah bagaimana caranya. Satu-satunya tempat yang paling nyaman untuk digunakan adalah…meja makan. Tak apalah repot sedikit, yang penting dapat bekerja dengan nyaman.

From: wataru1986@nagase-ad.jp

To: go911@nagase-ad.jp, ueto-a@nagase-ad.jp, yokoyama05@nagase-ad.jp, yuko-arai@nagase-ad.jp, uchida4589@nagase-ad.jp, yamazakiken@nagase-ad.jp, fujii08@nagase-ad.jp, y_nakajima@nagase-ad.jp

                Subject: Kriteria konten Harao Goods Inc.

                Selamat malam,

Sesuai dengan hasil rapat antara tim account dan klien, klien membutuhkan tagline terbaru untuk iklan poduk minuman segar yang akan diluncurkan pada musim panas mendatang. Kriteria tersebut terdiri atas sebagai berikut.

  1. Sesuai dengan tema besar: musim panas.
  2. Target utama iklan: keluarga dengan/tanpa anak dan remaja.
  3. Ciri khas produk: teh aroma alam yang sehat, aman bagi keluarga, serta menyegarkan.
  4. Media: televisi, internet, billboard, media cetak, dan yang melekat di tempat umum dan kendaraan umum.

Mohon kerja sama anda semua agar proyek Harao Inc. dapat berjalan sebagaimana mestinya. Deadline adalah dua minggu dari dikirimnya surel ini.

Terima kasih.

Di surel tersebut juga terlampir kumpulan gambar yang ternyata merupakan desain produk dari Harao Inc. Sebuah produk teh yang dapat dikonsumsi secara langsung dalam keadaan dingin. Kini otak Yuto mulai mencari ide mengenai iklan tersebut. Biasanya kata-kata yang digunakannya selalu direvisi – oleh seseorang namanya ada di daftar penerima surel dan juga mimpinya di pagi hari.

“Kalau saja setan berwujud wanita itu tidak ada di tim ini, setidaknya aku bisa bekerja jauh lebih tenang,” gumam Yuto mengeluh. Yuto benar-benar takut jika nanti seseorang yang dimaksud mulai menolak idenya dan menyarankannya mengikuti ide yang ada di kepalanya, seperti yang telah terjadi bertahun-tahun sebelumnya ketika keduanya masih menyandang status mahasiswa. Lamunannya tiba-tiba buyar saat menyadari bahwa ponselnya bergetar. Mungkin akan lebih greget kalau suasana ini diiringi dengan salah satu lagu milik Avenged Sevenfold, Nightmare.

From: Arai Yuko

Hei, Nakajima-kun!

Apa maksudnya mengirim pesan hanya dengan mengatakan “Nakajima-kun”?! Meskipun rasa takutnya belum berkurang, dugaannya ternyata – sedikit – meleset.

Ada apa?

Hanya itu balasan Yuto untuk Yuko, rekan kerjanya yang menurutnya adalah titisan Bloody Mary. Mengapa Bloody Mary? Karena Yuko adalah seorang anglophile, yang menyukai semua hal yang berasal dari Inggris dan sekutunya. Setidaknya hal itu terlihat dari kebiasaan bicaranya yang mencampur-campur Bahasa Inggris – dengan aksen Inggris yang bercampur dengan aksen Jepang dan Jamaika – dengan Bahasa Jepang – seperti Mai, kebiasaan memamerkan pernak-pernik tim sepak bola Chelsea – salah satunya ransel yang digunakannya di waktu kerja. Selain dari itu, lihat saja isi meja kerjanya: pajangan menyerupai Jam Bigben, jembatan London, kotak telepon berwarna merah, serta boneka tentara kerajaan Inggris. Ternyata paparan soal Yuko cukup panjang, ya. Karena itulah Yuto diam-diam menjulukinya sebagai titisan Bloody Mary. Selagi Yuto menunggu balasan dari Yuko, diam-diam ia membuka foto yang digunakannya di akun instant messenger: foto yang entah sudah berapa lama tidak diganti saat ia berkunjung ke museum Chelsea, lengkap dengan jersey Chelsea yang melekat di tubuhnya.

Besok kau bisa ikut rapat tim kreatif untuk konsep iklan Harao Inc? Ini rapat pertama, loh! Kita perlu brainstorming.

Deg! Kini Yuto tak tahu harus mencari alasan apa. Ia tak akan pernah lupa jika besok ia tidak dapat ke kantor sebagaimana seharusnya karena satu alasan: pagi sampai sore berada di dalam tubuh seekor tikus.

Aku dikutu… Seketika Yuto menghapus pesan yang seharusnya diselesaikan untuk dikirim kepada Yuko. Mana mungkin alasan tersebut diterima oleh orang yang akal sehatnya masih berfungsi dengan sangat baik.

Karena sesuatu dan lain hal, aku tidak bisa ke kantor untuk waktu yang tidak sebentar.

Sungguh, Yuto benar-benar bingung soal jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Yuko. Bagaimana kalau nanti ia mengadukan ketidakhadiran Yuto yang tidak beralasan ke Nagase-san? Beberapa waktu yang lalu ia telah mengadukan beberapa orang rekan copywriter senior kepada Nagase-san karena berbohong mengenai alasan absennya di kantor. Dengan senior saja ia berani begitu, apalagi dengan yang regular seperti Yuto. Sudah pasti ia akan jauh lebih berani.

Mengapa? Jujur saja denganku 🙂 aku tidak akan mengadu yang tidak-tidak.

Idih, bagaimana kalau emoji itu hanyalah akal-akalan agar Yuto percaya dengannya? Tidak! Tidak akan!

Tiba-tiba aku jatuh sakit. Walaupun tubuhku tampak sehat, sebetulnya aku sedang sangat tidak sehat. Aku takut menulari kalian semua. Tapi aku janji, aku akan terus mengerjakan tugasku.

Setidaknya Yuto sudah selesai membuat alasan yang sebetulnya masih dapat dikatakan aneh itu. Alasan itu harus membuat orang-orang tak ingin menemuinya secara langsung.

Sayang sekali. Padahal besok adalah waktu pertama kita untuk mengumpulkan ide, loh! Semoga lekas sembuh! Ya sudah, jika ada rapat yang kau lewatkan, aku akan mengirimkan notulensinya untukmu.  Jika kau butuh bantuan, aku siap membantu 🙂

Jika Yuko benar-benar serius soal itu, sudah pasti Yuto akan sangat terbantu untuk mengerjakan pekerjaannya. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, itu berarti semuanya tak lebih dari “jebakan Batman”.

Pintu langsung terbuka tanpa diketuk lagi. Inoo rupanya sudah pulang dari belanjanya. Tangannya penuh dengan dua tas belanja di masing-masing tangan. Tanpa banyak cing-cong Yuto segera menghampiri Inoo dan menyambar tas berisi makanan beku.

“Nah, aku sudah melakukan ini untukmu. Sekarang mana dorayakinya?” tanya Inoo menuntut. Sebetulnya antara wajar dan tidak wajar, sih, mengingat Inoo telah lelah membawa tas seberat itu di sepanjang jalan – dengan jalan kaki. Namun, di sisi lain sudah pasti bahwa ia akan terus menuntut “haknya”, beberapa bungkus dorayaki kombini.

“Oh, jadi ini yang kau minta dariku? Dasar pangeran bawel!” Yuto menimpali tuntutan Inoo.

 

~Bersambung~

A/N: Maafkan kalau sebelumnya ada yang bingung dengan isi part 4. Akhirnya baru sempat revisi sekarang karena UTS sudah dekat :””)

 

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 5)

  1. Pingback: Darya Ivanova | Johnny's Entertainment Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s