[Oneshot] Rising You

Title: Rising You
Cast: Yamada Ryosuke, Yaotome Hikaru, Shiina Hikari (OC)
Rating: PG-15
Genre: Romance, sedikit Angst
Silahkan diberi komentar. And happy reading.

Yamada Side

Namaku Yamada Ryosuke. Aku adalah anak pemilik sekolah ini. Tahun pertamaku sekolah, aku menjadi pusat perhatian karena aku adalah seorang anggota Hey! Say! JUMP. Untuk pertama kali, kami semua, maksudku para member Hey! Say! JUMP akan sekolah di sekolah yang sama. Pada saat aku kelas satu, kami semua ada dikelas yang berbeda. Hanya aku yang masuk kelas 1-1. Kelas ini tidak ditentukan dengan nilai karena kami masih kelas 1. Awalnya semuanya berjalan dengan sangat biasa. Belajar, berkumpul saat istirahat, dikerumuni fans. Semuanya sangat biasa untukku.

Tapi ada satu hari dimana aku memperhatikan teman sekelasku. Dia duduk di bangku paling belakang di dekat jendela. Dia tidak punya teman. Dia tidak pernah diajak bicara oleh siapapun. Tidak ada yang mau duduk berdekatan dengannya. Tiga buah bangku di dekatnya selalu dikosongkan. Dia gadis cacat. Dia tidak memiliki kaki kanan. Menurut informasi yang aku terima deri sensei, dia kecelakaan sejak kecil dan kakinya harus diamputasi. Setiap jam makan siang dia selalu keluar kelas. Ah… Iya. Saat itu kalau tidak salah di hari selasa. Aku kabur dari para fansku. Aku pun lari ke tempat persembunyianku. Di belakang sekolah. Disana ada sebuah tempat duduk, beberapa pohon dan juga semak-semak. Aku suka bersembunyi disitu karena tidak ada orang yang tahu tempat itu.

Saat aku ingin pergi dari tempat itu, tiba-tiba aku melihat gadis itu. Dia makan sendirian disana. Pada cuaca sedingin ini. Meskipun ini musim gugur, tapi cuacanya terlalu dingin untuk makan diluar. Saat aku akan mendekatinya, gadis itu menyadarinya dan melihat kearahku. Dia berhenti makan.

“Shiina Hikari-san?” tanyaku.

“Yamada-san tahu namaku?” tanyanya.

“Iya. Kita kan satu kelas. Boleh aku duduk.”

Dia mengangguk. Saat aku sudah duduk disebelahnya, dia menawariku bekalnya.

“Aku membuatnya sendiri. Cobalah.” Ucapnya.

Aku menolaknya dengan sopan.

“Begitu ya… Wajar saja kalau Yamada-san tidak mau.”

Aku segera merasa bersalah dan memakan sedikit bekal makanannya.

“Enak sekali!!!”

“Hontou??? Ureshii na…”

Dia tersenyum. Dia manis sekali saat tersenyum. Percayalah. Aku tidak bohong. Dari semua gadis yang pernah aku lihat, dia orang pertama yang bisa tersenyum begitu manis. Dia melanjutkan makannya. Aku menyentuh tangannya. Tangannya sangat dingin, sedingin es. Dia terdiam melihatku. Tanpa aku sadari, aku menciumnya. Tidak ada yang bisa aku rasakan selain bibir hangatnya yang menyentuh bibirku. Begitu aku melepakan ciuman kami, aku bingung harus mengatakan apa sementara dia hanya terdiam. Wajahnya terlihat sangat merah.

“A-aku cuma menghangatkan. Ka-kamu kelihatan kedinginan sih….” ucapku sambil memalingkan muka.

Dia tertawa. Aku jamin. Pasti aku orang pertama yang melihatnya tersenyum dan tertawa.

“Shiina-san… Kamu mau berteman denganku?” tanyaku.

“Aku mau. Hikari saja. Tidak perlu formal seperti itu.” Jawabnya sambil tertawa.

“Kalau begitu, panggil aku Ryosuke. Saat jam makan siang, kita akan bertemu disini.”

Dia mengangguk.

***

Besoknya….

“Ne… Ricchan… Aku bingung dengan soal nomor lima.” Rengekku.

“Ryo-kun bagaimana sih? Kan kita sudah diajarkan. Harusnya begini jawabnya.” Jelasnya.

Sekarang aku pindah tempat duduk disebelahnya. Aku akan menjadi teman pertamanya yang paling baik. Aku merasa senang sejak bersamanya.

***

Jam makan siang…

Seperti biasa aku selalu bersamanya di tempat persembunyian kami saat jam makan siang. Biasanya kami akan banyak bercerita. Kami punya perjanjian kalau kami harus jujur satu sama lain. Semua hal yang terjadi harus dilaporkan.

“Hari ini Miyamura-san membullyku. Dia mengancamku jika aku menceritakannya pada Ryo-kun…” ucap Hikari.

“Benarkah? Dia harus diberi pelajaran.”

“Jangan!!! Ryo-kun tidak perlu melakukannya.”

Aku pun kembali duduk disampingnya.

“Ricchan, aku janji. Aku pasti melindungimu.”

***

Kelas dua… Aku sekelas lagi dengan Hikari. Tapi kali ini aku sekelas dengan semua anggota Hey! Say! JUMP. Kelas kami pun langsung jadi kelas terpopuler. Sejak kelas dua, aku dan Ricchan jadi agak jauh. Aku tidak punya kesempatan untuk mendekatinya. Saat itu, aku akan pergi ke kantin bersama member JUMP. Saat melewati toilet perempuan, aku melihat Hikari sedang dibully. Wajahnya lebam semua. Kepalanya juga berdarah. Saat aku melihatnya, dia juga melihatku. Dia menatapku seolah-olah meminta pertolonganku. Ketika aku akan menolongnya, Yabu dan yang lainnya menarikku pergi. Pada jam pelajaran kelima, Hikari tidak datang. Dia pulang lebih awal.

***

Semakin lama, pembullyannya semakin parah. Meja dan sepatunya dicoret-coret. Dan parahnya, para member JUMP juga ikut membullynya.

“Hei!!! Kamu itu mengganggu pemandangan kami!!! Kenapa kamu tidak keluar saja dari sekolah ini!!!” ucap Hikaru.

“Ne Yama-chan… Kenapa tidak kamu usir saja dia dari sekolah ini?” tanya Yabu.

Seluruh kelas tertawa mendengar ucapan Yabu sedangkan Hikari hanya bisa terdiam dan tertunduk. Dia seperti akan menangis.

“Daijoubu?” tanyaku.

Aku membantunya berdiri. Tanpa aku duga, Hikaru malah mendorong Hikari sampai kepalanya membentur loker tas.

“Kenapa kamu bantu dia Yama-chan? Dia tidak pantas ditolong!!!” ucap Hikaru.

Hikari segera keluar dari kelas kami dengan membawa tasnya. Aku hanya bisa melihatnya tanpa bisa berbuat apapun. Seluruh kelas menertawainya saat dia pergi keluar kelas.

***

Pagi ini, pagi yang cerah. Matahari bersinar terang dan cuaca terlihat bersahabat. Aku melangkahkan kaki ke sekolah. Dari halaman sekolah terdengar suara tawa dari murid-murid lainnya. Saat aku masuk, aku melihat Hikari yang sudah berlumuran telur.

“Hika..”

“Jangan coba-coba Yama-chan. Kita tinggalkan saja dia.” Ucap Yabu.

Semua member JUMP menarikku menuju ke dalam sekolah. Saat aku berjalan melewatinya, dia melihatku. Sekali lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memang teman yang jahat.

***

Besoknya aku ingin mengambil komik yang Hikaru pinjam. Aku pun pergi ke rumahnya sesuai dengan alamat yang diberikan. Ketika sudah sampai, aku menekan bel di pagar itu.

“Siapa?” tanya seorang perempuan dari dalam rumah.

“Aku ingin mengambil komik pinjaman Hikaru.”

Seketika gerbang pagar terbuka. Aku pun masuk ke dalam menuju pintu rumah. Halamannya luas sekali. Siapa yang merawatnya?

***

Hikari Side

Namaku Shiina Hikari. Aku adalah anak dari keluarga Shiina. Sejak aku umur empat tahun, ayahku sudah meninggal. Aku adalah anak normal tanpa cacat sedikitpun. Saat aku berumur tujuh tahun, ibuku menikah lagi. Pria yang ibuku nikahi sudah punya anak laki-laki. Aku dengar ibu anak itu sudah meninggal. Pertama kali kami tinggal bersama, anak laki-laki itu bersikap tidak ramah kepadaku dan kepada ibuku. Lama-kelamaan anak laki-laki itu ramah kepada ibuku. Tapi beda ceritanya jika denganku. Anak laki-laki itu selalu jahat padaku. Mainanku dirusak. Bonekaku dibuang. Buku bacaanku pun dia bakar. Dia jahat sekali. Tapi aku tidak pernah mengadukan itu kepada siapapun.

Hari itu… Hari yang tidak bisa aku lupakan. Hari itu kami sekeluarga pergi ke taman bermain. Awalnya semuanya berjalan sesuai rencana, tapi saat kami pulang, anak laki-laki itu berlari menyebrangi jalan. Saat itu ada sebuah truk yang akan melintas. Anak laki-laki itu hampir tertabrak. Aku berlari kearah anak laki-laki itu. Aku dan anak laki-laki itu selamat, tapi kaki kananku tertimpa roda truk. Dengan segera aku dibawa ke rumah sakit. Kaki kananku diamputasi. Hari kedua setelah aku dioperasi, anak laki-laki itu datang menjengukku.

“Seharusnya kemarin kamu biarkan aku mati. Sekarang kan aku jadi susah karena harus mengurusmu!!!!”

Anak laki-laki itu pergi dari kamarku dan membanting pintu kamarku. Aku kebingungan dan menangis. Padahal aku tidak bermaksud buruk, tapi kenapa dia mengatakan hal buruk seperti itu kepadaku.

Ketika umurku tiga belas tahun, ibuku meninggal. Ayah baruku bekerja di Inggris. Jadi aku hanya tinggal berdua dengan anak laki-laki itu. Saat ibuku tidak ada, dia menjadi lebih jahat kepadaku. Aku menjadi pembantu di rumahku. Jika keinginannya tidak dipenuhi, dia akan marah padaku dan melakukan hal-hal jahat seperti memukuliku. Aku juga dilarang memakai marga ayah tiriku karena anak laki-laki itu malu jika punya saudara sepertiku. Sejak dulu aku tidak pernah punya teman karena aku cacat. Semua orang melihatku dengan tatapan tidak menyenangkan, karena itu aku selalu sendiri.

Saat aku masuk SMA, tanpa sengaja anak laki-laki itu memilih sekolah yang sama denganku. Untungnya aku tidak satu kelas saat kelas satu. Aku juga bisa mendapatkan teman sebaik Yamada-san. Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Saat aku naik kelas dua, aku sekelas dengan anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu mulai membuat murid satu kelas bahkan satu sekolah mulai membullyku. Dan disaat itu pula aku tidak bisa bersama dengan Yamada-san lagi. Dia tidak bisa menolongku karena anak laki-laki itu satu band dengan Yamada-san. Yamada-san selalu dijauhkan dariku. Aku… sendirian lagi….

***

Yamada Side

Pintu rumah terbuka dan aku melihat Hikari.

“Ricchan…”

Secara refleks aku memeluknya.

“Gomen ne… Gomennasai Ricchan. Maaf karena aku tidak bisa menolongmu…” ucapku sambil menangis.

Dia juga menangis. Aku merasakan airmatanya jatuh membasahi pundakku. Aku melepaskan pelukan kami. Hikari mengizinkanku masuk. Kami pun duduk di ruang tamu. Hikari pun mulai menceritakan tentang hubungan dia dengan Hikaru. Dia dan Hikaru adalah saudara tiri. Hikaru tidak pernah menyukai pernikahan ayahnya dengan ibu Hikari. Hikaru selalu berbuat jahat kepada Hikari sebagai bentuk protesnya terhadapnya. Terlebih lagi saat ibu Hikari sudah meninggal. Karena ayah Hikaru bekerja di luar negeri, Hikaru semakin leluasa menindas Hikari. Hikari tidak pernah memberitahu kepada ayah Hikaru karena Hikaru mengancamnya.

“Oh, ya! Katanya ingin mengambil komik yang Hika-nii pinjam. Tunggu sebentar.”

Aku menahan Hikari untuk pergi.

“Biar aku yang mengambilnya.” Ucapku sambil tersenyum.

Hikari menunjukkan dimana kamar Hikaru. Aku pun segera pergi ke kamar yang ditunjuk. Kamar Hikaru terlihat sangat rapi. Aku pikir dia bukan orang yang suka merapikan kamarnya. Ketika aku turun ke bawah, aku melihat Hikari yang sedang beres-beres rumah.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku.

“Aku? Aku sedang membesihkan rumah.” Jawab Hikari.

“Bukan itu maksudku. Apa tidak ada pelayan di rumah ini?” tanyaku lagi.

“Tidak ada. Semua pekerjaan rumah, aku yang melakukannya.” Jawab Hikari.

“Jadi yang membereskan kamar Hikaru… itu kamu?” tanyaku dengan ragu.

“Tentu saja.”

Yappari. Sudahku duga. Hikaru bukan tipe orang yang akan merapikan barang-barangnya dengan benar. Loker buku disekolah saja tidak tersusun rapi.

“Aku akan membantumu.”

***

Cukup lama kami membersihkan rumah itu. Aku tidak membayangkan Hikari membersihkan rumah ini setiap hari sendirian. Belum lagi dia harus merawat bunga-bunga di halaman itu.

“Gomennasai. Ryo-kun jadi ikut membantuku.” Ucapnya sambil menunduk.

“Tidak perlu minta maaf. Kita kan teman. Seharusnya saling menolong. Kalau begitu, aku pulang dulu.”

***

Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah. Hari ini aku datang agak pagi. Saat masuk ke gerbang sekolah, ada sekerumunan murid yang mengelilingi sesuatu. Saat aku menerobos kerumunan itu, aku melihat Hikari terduduk lemas. Wajahnya penuh dengan luka. Begitu juga dengan kakinya.

“HENTIKAN!!!!! Jika kalian semua tidak berhenti, kalian semua akan aku keluarkan dari sekolah ini!!!!!”

Semua murid yang membully Hikari sedikit demi sedikit menjauh. Aku menggendong Hikari dan membawanya ke ruang kesehatan. Di ruang itu, perawat sekolah belum datang. Aku mencari perban dan plester sendiri. Karena sekolah ini milikku, jadi aku tahu persis letak barang-barang itu. Aku mengusap kaki Hikari yang terluka dengan kain yang sudah aku basahi dengan air hangat. Hikari sedikit meringis saat dia merasa sakit. Dia tidak mengatakan apapun. Dia juga tidak menangis. Seandainya aku yang ada di posisinya, aku pasti sudah menangis.

“Arigatou to… gomennasai.” Ucapnya.

Aku tersenyum dan menempelkan plester di dahinya yang terluka.

“Tidak perlu. Kita kan teman.”

Hikari terdiam. Wajahnya memerah. Airmatanya satu per satu jatuh. Dia menangis dalam diam. Aku menghapus airmatanya yang keluar lalu menciumnya. Ciuman keduaku. Setelah agak lama, aku melepaskan ciuman itu. Hikari masih terdiam. Aku tersenyum kepadanya.

“Apa Ryo-kun mau bilang kalau ciuman ini karena Ryo-kun mau menenangkanku?” tanyanya.

“Bukan. Aku hanya mau bilang kalau aku menyukaimu sejak pertama bertemu denganmu.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

Wajahnya memerah.

“Ba-baka!” ucapnya sabil mengalihkan pandangannya dariku.

“Jadi Ricchan tidak mau menjawab pernyataan cintaku?” tanyaku.

“Aku… juga suka…” ucapnya lirih.

“Apa? Aku tidak dengar.” Ucapku sambil menggodanya.

“Baka! Tidak ada siaran ulang.”

***

Sejak hari itu aku berpacaran dengan Hikari. Hikari sudah tidak dibully lagi disekolah. Tapi aku masih khawatir dengan perlakuan Hikaru kepada Hikari saat di rumah. Hikari tidak menceritakan apapun soal yang terjadi di rumah. Bahkan saat aku tanya, mengatakan tidak ada apa-apa.

Hari ini aku dan para member JUMP melakukan beberapa pemotrean di studio. Saat istirahat, aku selalu terpikir tentang keadaan Hikari.

“Ne minna… Ada yang mau menitip beli minuman gak?” tanya Hikaru.

“Aku minuman yang biasa.” Jawab Kei.

“Aku mau coklat hangat.” Ucap Chii.

“Hikaru-kun, boleh aku ikut?” tanyaku.

“Mochiron.” Jawabnya.

Aku berjalan menuju keluar gedung dengan Hikaru tanpa berkata sepatah katapun. Setelah kami membeli minum pun kami tidak saling bicara. Hari ini lalu lintas sangat ramai. Setelah lampu bagi pejalan kaki berubah menjadi warna hijau, kami pun segera menyebrangi jalan. Hikaru berada beberapa langkah dariku. Aku agak melamun saat berjalan. Saat Hikaru melangkah lebih jauh, terdengar suara yang sangat kuat. Begitu aku sadar, sudah ada tubuh seseorang yang tergeletak di depanku. Aku pikir itu Hikaru karena dia berjalan di depanku. Ketika aku perhatikan baik-baik, Hikaru sudah tergeletak disisi lain jalan. Dia baik-baik saja tapi…

***

Hikari Side

Aku berjalan menuju minimarket untuk membeli beberapa barang yang habis. Hari ini entah kenapa aku ingin membeli barang di minimarket yang jauh dari rumah. Saat aku sudah selesai. Berbelanja, aku melihat Ryo-kun bersama Hika-nii sedang akan kembali ke kantor mereka. Aku ingin menyapa mereka. Dari kejauhan, aku melihat ada pengendara mobil yang membawa mobilnya dengan tidak stabil, aku pun segera berlari menuju mereka. Aku mendorong Hika-nii menjauh. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap.

***

Yamada Side

“HIKARIIII!!!!!!”

Aku memeluk tubuh Hikari yang bersimbah darah sambil berusaha menyadarkannya.

“HIKARI!!!! HIKARI!!! BANGUN!!!!”

Dia membuka matanya.

“Ryo…kun… Gomen..nasai…”

***

Aku mondar-mandir di depan ruang operasi. Sudah tiga jam Hikari berada di dalam sana, tapi tidak ada dokter ataupun suster yang kunjung keluar. Aku berada di rumah sakit itu bersama seluruh member JUMP.

“Salahnya sendiri. Siapa suruh dia menolongku?” ucap Hikaru.

BRUUUKKKK!!!!!!

Aku memukul wajah Hikaru dengan kuat.

“Tenang Yama-chan!!! Kita ada di rumah sakit.” Ucap Yabu sambil berusaha menahanku.

Hikaru duduk tersungkur.

“DASAR BODOH!!!! DIA MELAKUKANNYA KARENA DIA MENYAYANGIMU!!!!! KENAPA KAMU TIDAK SADAR-SADAR!!!!” teriakku.

Hikaru hanya terdiam.

“Lepaskan aku!!!”

Aku berusaha melepaskan diriku. Begitu aku terlepas, aku langsung menyambar Hikaru.

“Kapan kamu akan menganggapnya???? Kapan kamu akan peduli padanya??? JAWAB AKU HIKARU!!!!”

Hikaru masih terdiam. Tak lama setelah itu dokter keluar dari ruang operasi.

“Bagaimana dokter? Bagaimana keadaannya???” tanyaku.

“Dia masih kritis.” Jawab dokter.

Tiba-tiba Hikaru langsung berdiri dan memegang tangan dokter itu.

“Dokter tolong selamatkan dia… Tolong selamatkan adikku…”

Dokter tidak memberikan jawaban apapun dan segera meninggalkan kami.

***

“Ricchan… Hari ini aku membawakan bunga baru.”

Hikari sudah satu bulan tidak sadar. Dokter sudah menyerah pada Hikari, tapi aku masih tetap berharap Hikari bisa sadar kembali.

“Ne, Ricchan… Hari ini seru sekali loh. Kita semua sedang sibuk menyiapkan festival sekolah. Ricchan pasti mau ikut kan? Karena itu Ricchan harus cepat bangun.”

Yang bisa aku lakukan hanyalah mengganti bunganya setiap hari dan mengajaknya bicara. Entah dia mendengarkanku atau tidak. Hikaru juga setiap hari datang kesini untuk merawat Hikari.

***

Mulai hari ini, aku sudah berada di kelas tiga. Sudah tiga bulan Hikari tidak sadar. Hikari mulai dirawat di rumah sejak satu bulan lalu.

“Ricchan… Lihat aku sudah kelas tiga.”

Kamar Hikari sekarang dipenuhi dengan alat penunjang hidup yang terpasang pada Hikari. Dokter sudah mulai menyerah dengan kondisi Hikari, tapi aku tetap percaya jika Hikari pasti akan bangun. Kepercayaanku semakin bertambah setelah aku melihat artikel tentang seorang pasien yang bisa terbangun kembali setelah koma selama 40 tahun. Jika pasien itu bisa bangun, aku yakin Hikari juga pasti bisa. Lagipula ini baru tiga bulan. Seperti biasa aku selalu pulang ke rumah Hikaru. Aku mulai tinggal disini sejak Hikari dirawat di rumah.

***

“Dai-chan, tadi kamu ketinggalan selangkah. Seharusnya habis berputar, kita menghadap ke kanan.” Ucap Chinen.

Aku duduk disudut ruang latihan sambil mendengarkan percakapan Chii dan Daiki. Hari ini kami latihan menari untuk single terbaru kami. Belakangan ini jadwal kami sangat padat. Kami berkali-kali harus izin sekolah karena tawaran pekerjaan yang banyak.

“Hah… Untunglah besok kita bisa sekolah. Aku sudah kangen belajar.” Ucap Yuya.

“Hei… Bukannya kamu ingin menggoda gadis-gadis di sekolah kita?” tanya Kei.

“Yah… Itu hanya nilai plus dari sekolah saja. Aku kan cuma ingin menambah fans kita.” Jawab Yuya sambil tertawa.

***

KYAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Teriakan dari murid-murid sekolah sudah menggema saat kami datang ke sekolah. Aku sih tidak peduli sama mereka, tapi… Member lainnya malah melayani mereka. Untuk sekedar menyapa, bersalaman hingga berfoto bersama. Yuya malah mulai merayu murid-murid itu. Mereka bodoh sekali. Kok mau ya dirayu sama Yuya?

“Yamada-kun… Boleh aku minta tanda tangan?”

Aku tersenyum dan memberi tanda tanganku padanya. Tiba-tiba datang tiga orang gadis dengan dandanan gals yang mengusir kerumunan gadis yang mengurung kami. Mereka Sato Akemi, Nakamura Chika, dan Yoshida Mana. Gadis yang bernama Sato Akemi dan Yoshida Mana itu mendekati Yabu dan Yuya, sementara Nakamura Chika mendekatiku. Murahan sekali. Mereka benar-benar murahan. Untungnya Yabu hanya mengabaikan mereka, sedangkan Yuya malah memanfaatkan kesempatan ini.

“Ne Ryo-kun… Ayo kita main sesekali.” Ucap Nakamura sambil menyentuh pipiku.

“Jangan seenaknya memanggil namaku!!!!! Dasar murahan!!!!” bentakku.

Aku meninggalkan Nakamura dalam keadaan syok.

“Maaf Nakamura-san. Tapi Yama-chan tidak tertarik dengan gadis manapun selain Hikari-chan.” Ucap Chinen sambil berlalu.

Semua anggota JUMP meninggalkan tiga gadis itu, termasuk Yuya yang ditarik paksa oleh Yabu dan Kei menuju kelas.

***

Normal Side

Nakamura Chika masih belum tersadar dari syoknya.

“HAH? Dia tidak sedang menolakkukan?” ucap Nakamura.

Kedua temannya hanya menggelang cepat agar Nakamura tidak marah.

“Kita harus menemukan gadis bernama Hikari itu!!!” sambungnya lagi.

***

Hari ini Nakamura dan teman-temannya mengikuti Yamada pulang. Yamada masuk ke dalam rumah besar yang sangat mewah. Nakamura dan temannya tidak bisa masuk, jadi mereka menanyakan dengan beberapa orang yang tinggal disekitar sini.

“Ah… Hikari-chan… Iya, iya aku kenal. Dia teman kecilku. Dia gadis yang punya satu kaki. Waktu kecil kakinya harus diamputasi karena mengalami kecelakaan. Kalau tidak salah, dia cerita saat itu dia menyelamatkan nyawa kakaknya. Dia gadis yang sangat baik. Tapi sekitar empat bulan lalu, dia mengalami kecelakaan dan koma sampai sekarang.”

***

Besoknya Yamada datang ke sekolah bersama member JUMP lainnya. Kali ini Nakamura, Sato dan Yoshida sudah mencegat para member JUMP. Para member JUMP hanya berlalu dan melewati mereka.

“Shiina Hikari! Apa hebatnya gadis itu??! Dia hanya gadis cacat yang koma. Mungkin dia tidak lebih cantik dariku.” Ucap Nakamura.

Yamada dan yang lainnya berhenti. Yamada hanya sedikit berpaling.

“Setidaknya dia lebih cantik dan tidak murahan sepertimu!!!” ucap Yamada sambil meninggalkan Nakamura.

“DIA ITU HANYA GADIS CACAT YANG SUDAH MATI!!!!” teriak Nakamura.

PLAAAKKK!!!!

Sebelum Yamada ingin memukulnya, terdengar suara seseorang yang memukul Nakamura.

“Jaga kata-katamu! Dia itu adikku!!!” ucap Hikaru sambil berlalu.

Ternyata Hikaru yang menamparnya. Para member JUMP pun meninggalkan mereka bertiga yang masih ketakutan. Nakamura terduduk di lantai sambil memegangi pipinya.

***

Hari ini adalah hari kelulusan Yamada. Yamada pulang lebih awal hanya untuk memberitahukannya kepada Hikari. Yamada berlari menuju rumah Hikaru.

“Ricchan… Aku lulus!!” teriak Yamada begitu memasuki kamar Hikari.

Yamada terdiam melihat Hikari sedang duduk di tempat tidurnya.

“Omedetou Ryo-kun”

“Ricchan… Kamu sudah sadar.”

Yamada memeluk Hikari dengan erat. Yamada merasa sangat senang akhirnya Hikari terbangun dari koma.

“Oh, ya tunggu sebentar. Biar aku telepon yang lainnya.”

Hikari menggeleng.

“Aku kemari untuk mengucapkan selamat tinggal.” Ucap Hikari.

“Selamat tinggal? Jangan bercanda. Tidak mungkinkan Ricchan akan mati.” Sangkal Yamada.

Hikari hanya terdiam. Hikari meraih wajah Yamada dan menciumnya.

“Daisuki! Ryo-kun koto ga daisuki!” ucap Hikari sambil tersenyum.

Hikari pun pingsan.

“Hikari…HIKARI!!! Jangan mati… Aku juga menyukaimu… Karena itu jangan mati…”

Yamada menangis sekeras-kerasnya.

“Ryo-kun jelek sekali!”

Yamada terkejut karena mendengar suara. Hikari bangun dan melepaskan diri dari pelukan Yamada.

“Ryo-kun tidak bisa diajak bercanda. Mana mungkin aku mati sekarang. Setidaknya sebelum aku menikah…” ucap Hikari sambil tertawa.

Yamada masih terdiam karena syok. Hikari kembali tersenyum dan mengusap airmata Yamada.

“Sudah berapa banyak airmata yang kamu keluarkan sejak aku koma? Mulai sekarang, jangan menangis lagi.” Ucap Hikari.

“Kalau begitu, menikahlah denganku.” Ucap Yamada.

BRAAAKKK!!!!

Pintu kamar Hikari tiba-tiba terbuka dan para member JUMP masuk.

“Mana boleh begitu?” ucap Hikaru.

“Niichan….”

“Hikari… Gomenne selama ini aku jahat padamu.” Ucap Hikaru sambil memeluk Hikari.

“Un… Daijoubu. Daisuki!” jawab Hikari.

Hikaru berbalik dan menatap Yamada.

“Mungkin pada akhirnya aku yang akan menikahinya.” Ucap Hikaru.

“Mana boleh begitu! Kamu kan kakaknya.” Elak Yamada.

“Tapi kan kami bukan saudara kandung kami tidak punya hubungan darah.” Ucap Hikaru sambil mencium pipi Hikari.

“Hentikan!!! Pipi ini milikku!!” ucap Yamada sambil mencium pipi Hikari yang satunya.

“Tidak bisa!!! Dia milikku!” ucap Hikaru.

Yamada pun mengambek dan seisi rumah menertawakan tingkah mereka berdua.

OWARI

Advertisements

8 thoughts on “[Oneshot] Rising You

  1. Unknown

    Tolong buat lagi cerita nya, ingin tau kelanjutan sebelum mereka bertemu lagi dikelas 2
    karena agak singkat. 🙂

    Reply
  2. Unknown

    Iya dibuat multichapter dong, pingin tahu lanjutan sebelum mereka ketemu lagi dikelas 2.
    Dikembangin lagi pasti jadi bagus (MULTICHAPTER PLEASE)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s