[Multichapter] Kareshi Gacha (Part 1)

Untitled-1

KARESHI GACHA

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Romance, Comedy, Fantasy
Rating : PG-17

Cast: Yamada Ryosuke (HSJ); Koizumi Arina (OC); Sato Miharu (OC)

Desclimer: terinspirasi dari Oniichan Gacha wkwkwkwkwk

“Kita PUTUS!”

Arina pergi meninggalkan seorang pria yang sedang terduduk di tengah jalan sambil memegang sudut bibirnya yang terlihat berdarah. Saat sudah menjauh, saat itu juga gadis itu mulai meneteskan air matanya. Namun dia tidak ingin terlihat oleh orang lain dan mempercepat jalanannya dari sana.

Untuk kesekian kalinya, Koizumi Arina memutuskan seorang pria. Sejak duduk di bangku sekolah menengah, gadis itu terlihat dengan mudahnya bisa akrab dengan berbagai pria. Dan bisa dengan mudah mendapatkan kekasih. Namun semua kekasihnya adalah pria brengsek. Rekor pacaran terlama yang dimilikinya hanya 3 minggu. Teman-temannya mengatakan bahwa dia memiliki nasib yang baik karena para pria dengan mudahnya datang kepadanya, tapi kenyataan yang dirasakannya adalah dia memiliki nasib buruk jika itu mengenai pria. Seperti pria yang baru saja di tinggalkannya di tengah jalan tadi. Dia mendapati bahwa pria itu mengencani 3 wanita sekaligus, dan Arina adalah salah satunya.

“Irrasaimasen~”

Arina memasuki sebuah supermarket dan langsung berjalan menuju kounter makanan ringan. Satu hal yang mampu membantunya memperbaiki moodnya, snack kripik kentang dan kacang kulit. Dua bungkusan paling besar masing-masing. Tidak lupa gadis itu mampir sebentar di spot minuman ringan dan mengambil satu botol besar minuman bersoda. Satu hal yang disesalinya adalah dia terlalu lemah dengan minuman beralkohol. Bukan. Bukan karena dia akan cepat mabuk. Tetapi sebelum itu terjadi dia akan muntah-muntah dengan hebat yang akan membuat kepalanya sakit dan berakhir di tempat tidurnya seharian karena dia tidak akan bisa bangun. Setidaknya dia menemukan alternatif lain untuk melampiaskan rasa stressnya.

Setelah membayar belanjaannya, gadis itu buru-buru keluar dari sana dan mempercepat langkahnya. Dia benar-benar ingin segera sampai dirumah dan mengistirahatkan tubuh serta otaknya.

“Belilah… belilah… uhuuukk…”

Perhatian Arina terusik pada seorang nenek yang sedang berjualan tidak jauh darinya. Hari sudah sangat larut dan nenek itu terlihat kedinginan namun masih berjualan. Perlahan tanpa sadar gadis itu berjalan mendekati nenek itu.

“Nona… silahkan dilihat… ada kalung, gelang, dan anting…” kata nenek itu saat mendapati Arina mendekatinya.

“Eh?” Gadis itu tampak salah tingkah. Dia sendiri tidak tau kenapa kakinya membawanya kesana. Namun tidak mungkin dia berlalu pergi begitu saja.

Baiklah, satu saja dan dia bisa dengan cepat pergi dari sana. Pikir gadis itu.

Arina memilih satu kalung dengan bandul yang terbuat dari kayu berbentuk pendulum. Unik. Lalu gadis itu mengulurkan selembar uang kepada nenek tadi.

“Ini nek, saya ambil yang ini,” katanya.

“Pilihan.. bagus untuk.. nona manis..” kata nenek itu tersenyum sambil membungkus belanjaan Arina.

Saat hendak berbalik pergi, tiba-tiba saja nenek tadi memanggilnya kembali.

“Tunggu sebentar.. nona. Anda meninggalkan… sesuatu,” kata nenek itu.

Arina lalu berbalik. Nenek itu kemudian memberikan sebuah benda seperti gaccha kepada Arina yang menerimanya dengan bingung.

“Ini apa nek?” tanya gadis itu.

“Itu gaccha spesial, namanya Kareshi gaccha… gaccha itu… akan membawa keberuntungan… untukmu,” kata nenek itu.

Arina semakin bingung. Ingin rasanya dia mengembalikannya, namun sepertinya nenek itu melihat keraguan di hatinya saat itu.

“Anggap saja… itu bonus… karena… membeli dagangan… nenek,” kata nenek itu lagi.

Akhirnya Arina tersenyum dan menyimpan gaccha itu di tas belanjaannya, “Baiklah kalau begitu, terima kasih nek,” kata gadis itu sambil membungkuk singkat.

“Jangan lupa… kau… harus merendamnya… di bak mandi… berisi air… hangat… satu malam,” ingat nenek itu lagi sebelum akhirnya Arina pergi menjauh.

Tidak lama kemudian, Arina tiba di apartemennya. Belanjaannya tadi di letakkannya begitu saja di sofa ruang duduk dan dia berjalan masuk ke kamar. Membuka mantel dan syalnya, yang dilemparnya begitu  saja ke atas tempat tidur, lalu mengambil baju ganti dari lemarinya dan keluar kembali. Saat hendak masuk kekamar mandi, tiba-tiba pandangannnya tertuju pada plastik belanjaannya dan menangkap sebuah benda. Arina teringat kata-kata nenek tadi. Sebenarnya dia tidak terlalu percaya dengan hal-hal berbau tahayul seperti itu, namun terkadang rasa penasaran lebih menguasai dirinya dibanding pikiran rasionalnya sendiri. Akhirnya gadis itu berjalan mendekati belanjaannya dan mengambil gaccha tadi lalu kembali berjalan ke kamar mandi.

Setelah mandi, Arina tidak langsung keluar. Gadis itu memperhatikan gaccha yang didapatnya. Isinya hanya sebuah benda bulat berwarna putih. Arina memiringkan kepalanya dan membuka gaccha itu. Isinya langsung jatuh begitu saja di lantai. Namun Arina buru-buru mengambilnya lalu menenggelamkannya kedalam bak mandi air hangat yang baru saja dia gunakan.

Satu detik…

20 detik…

1 menit…

Tidak terjadi apa-apa dan benda tersebut seperti lenyap larut dalam air. Seketika Arina merasa dirinya sangat bodoh karena mulai mempercayai hal-hal yang tidak nyata. Namun belum sempat dia akan menarik sumbat bak mandinya, teringat bahwa dia harus mencuci besok pagi. Akhirnya diurungkan niatnya itu. Setidaknya dia harus hemat air bulan ini karena pengeluarannya di awal bulan saja sudah habis-habisan.

“Ya sudahlah…” gumam gadis itu sambil berjalan keluar dari kamar mandinya.

Arina kemudian mengambil tempat duduk di depan televisinya, memilih mengambil posisi dilantai dibanding duduk diatas sofa. Gadis itu lalu menyalakan televisi ke siaran drama sambil membuka cemilan yang tadi dibelinya. Semalaman Arina sibuk menghibur dirinya sendiri dengan berkuat dengan cemilan dan drama televisi, melupakan segala hal yang terjadi hari itu.

 

*******************

 

Sinar matahari masuk melalui celah-celah tirai, mengusik Arina yang masih terlelap. Tapi bukan di kamar, melainkan di ruang duduk. Gadis itu menguap beberapa kali masih sambil duduk ditempatnya dan memandang ke sekitar. Kepalanya terasa sangat berat. Mungkin akibat dia menonton drama tadi malam yang entah kenapa sedih sekali dan membuatnya ikut menangis.

Gadis itu lalu beranjak dari tempatnya setelah dirasakannya nyawanya terkumpul, berjalan ke dapur dan mengambil segelas air mineral untuk menetralisir rasa pusingnya. Kemudian dia teringat rencananya pagi itu untuk mencuci pakaian. Mengingat ini akhir pekan gadis itu pun menambahkan beberapa rencana lainnya untuk dirinya sendiri.

Arina pun berjalan menuju kamar mandi sambil membawa beberapa baju kotor lainnya dari dalam kamarnya. Gadis itu memasukkan semuanya kedalam mesin cuci dan menutupnya. Namun saat ingin menambahkan air dari bak mandinya semalam, betapa terkejutnya dia saat melihat ada seseorang didalam bak mandinya.

“AAAAAAAAAA!!” refleks Arina berteriak masih tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

Disana, ada satu sosok seorang pria, berada di dalam bak mandinya, dan bertelanjang dada. Pikirannya sudah menambahkan bahwa pria itu juga sedang tidak memakai celana sama sekali.

“KAU… KAU SIAPA?! DARIMANA KAU BISA MASUK KESINI?!” teriak gadis itu histeris.

“Urusai!! kau ribut! Berisik!!” kata sosok itu dengan pandangan dinginnya.

 

*******************

 

Kini Arina duduk di meja makan berhadapan dengan pria asing yang ditemuinya dalam bak mandinya. Namun pria itu kini sudah memakai baju handuk miliknya, tentu saja karena dia tidak punya pakaian pria di rumahnya.

“Jadi, bisa kau jelaskan lagi kau siapa?” tanya gadis itu lagi.

Pria didepannya itu duduk memandangnya sambil menyilangkan tangannya didepan dada dan memandangnya sambil nyengir.

“Kau bodoh, tuli, atau pikun?” kata pria itu balik bertanya.

“Jawab saja! atau kau ku usir dari sini sekarang juga!” ancam Arina.

Pria itu mengerling dengan malas ditempatnya, “Aku dari gaccha yang kau dapatkan, kau yang mengaktifkanku dengan merendam gaccha itu semalaman, dan karena itu mulai sekarang kau yang bertanggung jawab terhadapku,” katanya

“Kau bukan maling yang menyusup?”

“Bukan!”

“Bukan penguntit?”

“Bukan!”

“Kau tidak berbohong?”

“Tidak sama sekali!”

Arina lalu menenggelamkan wajahnya kedalam kedua tangannya. Kenapa bencana tiba-tiba datang secara beruntun dalam hidupnya. Tiba-tiba saja bel apartemennya berbunyi, gadis itu lalu berjalan melihat yang datang melalui intercome. Lalu berjalan ke pintu dan membukanya.

“Ricchan, apa yang terjadi? Aku buru-buru datang karena kau menelponku dengan pa…..nik? Haloo?” sosok gadis yang baru datang itu langsung tertuju pada pria yang sedari tadi duduk di ruang makan dan memandang Arina dan gadis itu bersamaan.

“Inilah masalahnya, Miharu…” kata Arina dengan nada lemah, “Kau duduk dulu, biar kusiapkan sesuatu,” katanya lagi.

Gadis yang bernama Miharu itu lalu mengambil tempat di dekat pria itu sambil memandangnya dengan lekat.

“Hajimemashite, Sato Miharu desu, namamu siapa?” sapa Miharu pada pria itu.

“Hajimemashite… aku belum punya nama,” jawab pria itu namun dengan nada ramah.

“He?” seru Miharu dengan heran.

Tepat saat itu Arina datang membawa 3 gelas minuman sereal dan meletakkan masing-masing di depan Miharu, pria itu, dan dirinya.

“Apa maksudnya ini, Ricchan? Jadi dia bukan kekasihmu yang baru?” tanya Miharu.

“Bukan!” jawab baik Arina dan pria itu hampir bersamaan. Keduanya lalu berpandangan sejenak sebelum Arina kembali mengalihkan pandangannya pada Miharu.

“Akan ku ceritakan, meski ini sulit untuk diterima akal sehat, tapi inilah yang sebenarnya terjadi. Dan kau bisa menjaga ini sebagai rahasia bukan?” kata Arina dan dijawab Miharu dengan anggukan.

“Kau mengenalku bukan?” kata Miharu lagi.

Arina menghela nafasnya dan mulai bercerita. Dari kelakukan pacar terakhirnya yang membuatnya memutuskan pria itu tadi malam, pertemuannya dengan nenek asing yang memberikan sebuah gaccha padanya, rasa penasaran yang menguasainya dan membuatnya melakukan yang disuruh sang nenek, dan kemunculan pria asing di bak mandinya.

“Gak bisa ku percaya…” respon Miharu setelah mendengar cerita Arina.

“Aku juga masih belum bisa percaya,” kata Arina lagi.

“Kau benar-benar berasal dari gaccha itu?” kini Miharu bertanya pada pria yang sedari tadi hanya diam sambil menikmati minumannya.

“Benar! Dia tidak berbohong, memang itulah yang terjadi,” jawab pria itu singkat.

“Jadi… mulai sekarang kau yang bertanggung jawab padanya? Kau akan tinggal bersama dia, Ricchan?” tanya Miharu lagi memastikan.

Arina mendesah dengan keras, “Tidak juga, hanya sampai aku bertemu lagi dengan nenek itu dan mengembalikannya,”

Miharu hanya mengangguk-angguk sambil memperhatikan lagi sosok pria satu-satunya disana.

“Sebaiknya aku mencari nenek itu sekarang juga, lebih cepat lebih baik..” kata Arina lagi sambil meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke tempat cuci piring. “Miharu, kau membawa apa yang ku minta di telpon tadi?” tanya Arina kemudian.

Miharu mengangguk sambil meletakkan sebuah kantong kertas keatas meja, “Mantel itu punya ayahku, lagipula dia sudah tidak memakainya lagi, selebihnya aku membelinya di perjalanan tadi, tidak tau pas atau tidaknya,” katanya.

Arina melihat sejenak isi kantong itu lalu menyerahkannya pada pria itu, “Ganti bajumu dengan ini dikamar mandi, setelah itu kita pergi!”

Pria itu mengambilnya dan berlalu begitu saja ke dalam kamar mandi.

“Sepertinya dia tidak masalah saat kau bilang ingin mengembalikannya,” celetuk Miharu.

“Baguslah kalau begitu, lagipula aku tidak mau kekasih yang aku tidak kenal asal-usulnya seperti dia,” kata Arina lagi.

“Kekasih?” tanya Miharu heran.

“Kareshi Gaccha. Itu nama yang disebutkan nenek itu saat memberikannya padaku,”

 

*******************

 

“Hei, apa yang kau lakukan?!”

“Jangan berhenti disana, ayo jalan!”

Untuk kesekian kalinya Arina harus menarik pria itu yang terkadang tiba-tiba berhenti di depan beberapa etalase toko sambil melihat-lihat. Seperti saat ini, dia kembali kehilangan pria itu dan saat melihat sekeliling, dilihatnya orang itu berada di antrian masuk restoran masakan Perancis. Arina buru-buru menariknya dan menjauhkan pria itu dari sana. Setelah Miharu pamit karena ada janji dengan pacarnya, terpaksa Arina hanya pergi berdua saja dengan si pria gaccha mencari si nenek.

“Kau ngapain sih?” tanya gadis itu sebal.

“Hei, Arina. Ayo kita makan disana, tempatnya bagus,” ajak pria itu.

“Aku tidak mau,” kata Arina.

“Kenapa?”

“Tempat itu mahal, dan makan direstoran mahal hanya membuat tubuhmu pegal-pegal. Juga porsi makanan yang disajikan terlalu sedikit padahal harga yang dicantumkan selangit,”

“Ayolah, Arina.”

“Jangan memanggilku seperti kau akrab denganku, aku tidak suka!”

“Bilang saja kau tidak punya uang untuk makan disana,”

Arina menghentikan langkahnya dan berbalik memandang pria itu dengan tajam, “Apa pedulimu?! Kau siapa sih seenaknya saja mengurusi hidupku?! Iya aku tidak punya uang! Puas?! Untuk sebentar saja turuti aku, setidaknya sampai aku mengembalikanmu pada pemilikmu! Setelah itu kau minta saja padanya makan direstoran mana saja yang kau inginkan!!” gadis itu menarik nafasnya dengan panjang. Baru saja dia mengeluarkan emosinya pada pria didepannya ini dengan meledak-ledak.

Arina lalu membalikkan badannya dan kembali melangkah. Pria itu lalu mengejarnya dan mensejajarkan langkahnya.

“Tapi kau pemilikku.” kata pria itu.

Arina menghentikan langkahnya dan kembali memandang pria itu dengan kening berkerut, “Maksudmu?” tanyanya.

“Kau yang mengaktifkanku, jadi kau pemilikku, kau yang bertanggung jawab terhadapku, seperti itulah.” Jawabnya.

“Aku tidak menginginkanmu. Karena itu aku akan mengembalikanmu,” seru Arina.

Pria itu tampak menggaruk kepalanya, “Iya, iya.. kau sudah bilang itu ribuan kali sejak tadi,” Arina masih melihatnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat, “Baiklah… terserah kau saja. Aku akan menurutimu karena kau pemilikku saat ini. Tapi setidaknya bersikaplah seperti pemilik yang bertanggung jawab,”

“Maksudmu?”

“Panggil aku dengan benar. Sejak tadi aku memanggilmu dengan namamu, tapi kau memanggilku hanya dengan ‘hei’, ‘kau’, dan semacamnya” katanya.

“Jadi kau ingin ku panggil apa?” tanya Arina kemudian.

“Berikan aku nama, kau punya hak untuk menamaiku,” kata pria itu.

Arina diam sesaat namun langsung mengalihkan pandangannya lagi dan berjalan kembali, “Minta saja pada pemilikmu setelah ku kembalikan,” kata Arina lagi.

Pria itu menyerah dan mengikuti Arina dalam diam. Hingga mereka tiba di tempat dimana Arina melihat nenek itu tadi malam. Tapi nenek itu sama sekali tidak ada disana. Arina memandang ke sekeliling dan menemukan satu kios penjual aksesoris. Gadis itu lalu mendekati kios itu dan sempat heran karena yang sedang berjualan adalah seorang pria.

“Ada yang bisa saya bantu nona?” tanya penjual itu.

“Anoo… apakah anda tau nenek yang menjual aksesoris di sekitar sini?” tanya Arina pada penjual itu.

“Setahu saya, yang berjualan aksesoris di tempat ini hanya saya sendiri.” Jawab orang itu.

“Yang benar saja. Saya bertemu dengannya tadi malam, dan membeli ini darinya,” kata Arina lagi sambil menunjukkan satu kalung yang dibelinya tadi malam.

Penjual itu kembali menggeleng kepalanya, “Saya tadi malam berjualan disini sampai tengah malam, dan sama sekali tidak bertemu dengan penjual lainnya, mungkin di tempat lain.”

Arina semakin bingung dan kaget. Yang benar saja. Dia ingat dengan benar dia melewati jalan ini sekitar jam 9 malam dan tiba dirumahnya tepat jam setengah 10. Dia juga ingat drama yang ditontonnya tadi malam adalah drama jam 10. Jadi apa yang sebenarnya sedang terjadi?

“Arina, kau baik-baik saja?” tanya pria yang sejak tadi selalu ada dibelakangnya.

“Tidak… tidak mungkin. Ini cuma mimpi. Pasti hanya mimpi… tidak. Ini hanya halusinasi. Iya, halusinasi.. kepalaku terlalu sakit sehingga aku berhalusinasi…” Arina terlihat bergumam berdebat dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba saja pipinya di tepuk beberapa kali membuat Arina setidaknya kembali ke dunia nyata untuk sesaat karena mendapati sosok pria yang sama masih berada di depannya, memandangnya, bicara padanya, dan baru saja menepuk pipinya.

“Hei, kau kenapa? Sadarlah, Arina…” tanya pria itu.

“Kau pikir aku nyamuk, sampai kau tepuk seperti itu?” gerutu Arina padanya.

“Kau terlihat seperti berada di dunia lain tadi,” kata pria itu acuh sambil mengangkat bahunya.

Arina menggerutu sambil berjalan pergi dari sana dengan cepat tanpa mempedulikan pria gaccha yang kini memilih mengikutinya. Hingga tiba di depan gedung apartemennya, Arina menyadari bahwa pria itu masih mengikutinya dan kemudian berbalik menghadap pria itu.

“Kenapa masih mengikutiku? Pergi sana! Jauh-jauh dariku.” kata Arina sewot.

Pria itu tidak sempat bicara apa-apa karena Arina sudah berjalan cepat masuk kedalam gedung, namun gadis itu berbalik sejenak dan mengancam pria itu lagi, “Awas kalau kulihat kau masuk kedalam. Akan ku panggil satpam untuk mengusirmu dan kau akan tidur di penjara malam ini!”

 

*******************

 

Hari sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Arina selesai memasak makan malam. Moodnya benar-benar buruk sepanjang hari ini. Sesampainya dirumah dia teringat akan baju-bajunya yang belum dicuci dan dia terpaksa mencucinya, mau tidak mau, walau tau tidak akan kering cepat hari itu. Meskipun kering, dia tidak akan sempat mensetrikanya. Dia juga harus membereskan rumahnya yang berantakan karena perbuatannya sendiri malam tadi. Juga piring-piring kotor yang harus dicucinya.

Arina baru akan menyantap makan malamnya saat dia teringat akan sosok pria gaccha yang ditinggalnya begitu saja di luar gedung apartemennya tadi. Tiba-tiba terlintas di pikirannya bahwa pria itu tidak membawa uang sepeserpun, dia juga tidak punya kartu identitas dan tanda pengenal, terlebih lagi pria itu sepertinya tidak mengenali Tokyo sama sekali dan yang lebih parah, diluar sedang turun salju.

“Kenapa aku peduli? Dia juga bukan anak kecil, kenapa aku mencemaskannya?” gerutu Arina pada dirinya sendiri.

Namun saat akan menyuap potongan makanan kedalam mulutnya, gerakannya kembali terhenti. Sepertinya beberapa hari ini otak dan hatinya sedang tidak akur. Karena saat ini otaknya menyuruhnya untuk melanjutkan makannya tetapi rasa penasaran di hatinya lebih menguasainya.

“Baiklah… baiklah… hanya untuk memastikan saja!” Arina membanting sumpitnya keatas meja lalu beranjak dari sana.

Berjalan perlahan mendekati jendela dan mengintip sedikit dari tirai. Gadis itu mencari diantara orang-orang yang setidaknya berjalan lewat di gedung apartemennya. Dan matanya membulat saat melihat satu sosok duduk di dekat trotoar, merapatkan mantelnya, dan menggosok kedua telapak tangannya serta meniupnya sesekali.

“Dasar orang itu….” desis Arina.

Tanpa sadar kakinya langsung berlari mengambil syal dan sarung tangan di dekat cupboard dekat pintu, mengambil mantelnya sendiri yang juga tergantung disana dan berlari keluar dari apartemennya. Tidak lama kemudian gadis itu tiba di bawah dan berlari mendekati pria itu. Pria itu bangkit berdiri sejajar dengan Arina.

“Kau?! Hh…. apa yang kau lakukan hhh… diluar sini?” tanya gadis itu dengan nafas satu duanya.

“Karena… kau bilang… aku tidak boleh masuk!” jawabnya.

Arina mendengar suara pria itu sudah bergetar saat menjawabnya, “Dasar bodoh! Kenapa tidak cari tempat untuk berteduh… ini sedang salju, kau malah diluar seperti ini?”

“Aku… tidak tau harus kemana. Aku hanya tau.. tempat ini.” katanya lagi.

Arina terdiam sebentar sambil memandang pria didepannya ini. Mengingat semua kejadian yang dialaminya, dan kata-kata pria itu yang mengatakan bahwa kini dia yang bertanggung jawab terhadap pria itu.

Tangan Arina lalu terulur melingkarkan syal ke leher pria itu dan memasangkan sarung tangan kepadanya. Saat itu baru disadarinya tangan pria itu dingin seperti es.

“Dasar kau ini… kau benar-benar membuatku susah…” gerutu gadis itu.

“A…rina?” kata pria itu sedikit terkesiap.

Setelahnya Arina menggandeng tangan pria itu dan menariknya menuju gedung apartemennya masih sambil menggerutu.

“Jangan salah paham. Bukan berarti aku menganggapmu sebagai pacarku meski kau kareshi gaccha, aku hanya merasa bertanggung jawab karena sudah menagaktifkanmu, hanya itu saja. Dan juga ini hanya sementara sampai aku bisa menemukan nenek itu dan mengembalikanmu.” kata gadis itu masih dengan nada dingin.

Perlahan pria itu tersenyum dibelakangnya sambil mengangguk, “Baiklah, aku mengerti,” katanya.

“Lalu… Ryo!” kata gadis itu.

“Eh?” kata pria itu tidak mengerti.

“Namamu adalah Yamada Ryosuke. Aku akan memanggilmu, Ryosuke mulai sekarang.” kata Arina lagi, masih tidak memalingkan wajahnya dan tetap berjalan didepan sambil menarik tangan pria itu.

*******************

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Kareshi Gacha (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s