[Multichapter] Ichigo Prince (Part 2)

Title : “Ichigo Prince”
Genre : Romance
Rating : G
Author : Koizumi Arina
Type : Multichapter
Chapter: 2

Character : Okamoto Keito (HSJ); Fujiwara Atsuko (OC)

Cerita sebelumnya :

“Fujiwara Atsuko seorang gadis yatim piatu yang berhasil mendapat kesempatan untuk bersekolah di Meio Gakuen, sekolah kerajaan dengan beasiswa penuh. Meski begitu, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan minat dengan keluarga kerajaan seperti teman – teman satu sekolahnya atau ikut memuja sang Putra Mahkota.

Namun, takdir bagaikan menarik dirinya untuk terlibat dengan pria itu. Dimulai dengan tabrakan tak sengaja di kantin, hingga kontes yang diikutinya untuk mendapatkan wajah Putra Mahkota dengan eskpresi yang berbeda.”

———————————————-

Keito berjalan menyusuri lorong istananya menuju ke gedung utama. Beberapa saat yang lalu dia mendapat pemberitahuan bahwa dia dipanggil untuk rapat keluarga. Pemuda itu menghela nafas untuk kesekian kalinya hari itu.

Sebenarnya dia lelah dengan segala macam peraturan di istana yang mengikatnya. Dia bukan seperti pangeran-pangeran di cerita dongeng yang senang dengan tahta dan singgasana megah yang sudah dipersiapkan untuknya dari kecil. Kalau boleh jujur, kehidupan biasa-biasa di luar istana yang bebas, bisa bergaul dengan teman-teman seusianya dan melakukan apapun yang dia inginkan. Menjadi Putra Mahkota bukan berarti bisa bersikap seenaknya saja.

Tidak lama kemudian, Keito sudah tiba di depan sebuah pintu besar yang memang digunakan untuk melakukan pertemuan resmi keluarga ataupun dewan istana. Pemuda itu melangkah masuk saat dua orang pengawal yang berada di dekat pintu membukanya. Di dalam ruangan itu kini sudah ada Neneknya serta Ibunya, juga ada beberapa pria paruh baya yang dia ketahui sebagai perwakilan para tetua istana.

“Maaf terlambat,” kata Keito singkat sambil mengambil tempatnya dan duduk disana.

“Tidak apa-apa, nenek juga baru saja tiba.” kata Ibu Suri dengan ramah.

“Yang Mulia, tidak sopan menggunakan istilah seperti itu di siding resmi istana,” tegur permaisuri dari tempatnya, namun Ibu Suri hanya tersenyum saja.

Keito kembali menghela nafas ditempatnya, inilah ibunya, yang selalu terkukung dalam protokol istana yang sangat kaku.

“Baiklah semua sudah berkumpul, jadi kita mulai saja,” kata Ibu Suri lagi.

Ruangan itu mendadak sunyi. Kemudian salah satu dari para tetua terlihat memulai rapat itu.’

“Seperti yang kita tahu, kondisi Ibu Suri saat ini mulai menurun dan hal ini mendapat perhatian dari seluruh Dewan Istana. Juga tahta Kaisar sudah kosong selama beberapa tahun, dan sepertinya kita membutuhkan pengganti dengan segera. Karena itu, Dewan Istana memutuskan untuk segera memikirkan acara penobatan kepada Putra Mahkota sesegera mungkin,”

Keito membelakkan mata ditempatnya saat mendengar kata-kata perwakilan itu. “Apa? Apa-apaan ini?” protesnya.

“Putra Mahkota!” tegur Permaisuri sambil memandangnya tajam.

“Apa itu tidak terlalu cepat? Mengingat Putra Mahkota masih duduk di bangku sekolah. Apa tidak bisa menunggu sekitar setahun lagi saat dia sudah lulus sekolah?” tanya Ibu Suri dengan nada tenang.

“Saya mengerti kekhawatiran Ibu Suri, tapi kita juga harus memikirkan kewajiban dan tugas kepada rakyat kita. Tidak mungkin kita meninggalkan tahta Kaisar kosong dalam waktu yang lama. Putra Mahkota harus segera mengerti tentang kewajibannya,” kali ini Permaisuri yang membuka suara.

Ibu Suri tersenyum dan menganggu dengan tenang, “Ku rasa Putra Mahkota kita adalah seorang yang sangat bertanggung jawab, permaisuri. Hanya saja, ini masih terlalu awal,” kata Ibu Suri lagi.

“Kami juga memikirkan kesehatan Yang Mulia Ibu Suri. Kita harus memikirkan masa depan selagi masih sempat,” kata salah satu perwakilan tetua lainnya yang ada di ruangan itu.

“Jadi menurut kalian, aku tidak akan bisa bertahan paling tidak setahun lagi? Aku masih cukup kuat untuk melantik cucuku sendiri?” kata Ibu Suri lagi dengan tajam.

Namun tiba-tiba saja wanita paruh baya itu terbatuk di tempatnya. Keito langsung beranjak dari tempatnya dan menghampiri Ibu Suri dengan wajah yang khawatir.

“Tolong pertimbangkan permintaan kami, Ibu Suri,” kata para perwakilan itu bersamaan.

Di tempatnya Keito mengalihkan pandangannya dan menggertakkan giginya kepada orang-orang itu dengan kesal. Bisa-bisanya mereka mengajukan permintaan seperti itu, dan lagi memaksa. Untuk kesekian kalinya Keito merasa membenci pemerintahan aristrokrat seperti ini.

“Kalian benar-benar keras kepala sekali ya,” kata Ibu Suri ditempatnya.

Wanita itu kini sudah bisa kembali duduk tegak ditempatnya. Beliau memandang sejenak kepada cucu kesayangannya itu dan tersenyum lalu kembali memandang semua yang ada diruangan itu satu per satu.

“Maaf sekali, tapi aku tidak bisa memenuhi keinginan kalian saat ini.” kata Ibu Suri kemudian. Telihat wajah ingin protes dari yang lain, namun Ibu Suri langsung menghentikan mereka, “Namun sebagai gantinya, kita akan melakukan pemilihan Putri Mahkota,” kata wanita itu lagi.

Pengumuman yang diberikan Ibu Suri lebih mengejutkan dibanding permintaan para perwakilan itu tadi bagi Keito. Pemilihan Putri Mahkota berarti memilih calon pendamping hidup untuknya.

“Putra Mahkota akan di lantik menjadi seorang Kaisar, karena itu dia harus memiliki seorang pendamping yang layak sebelum itu terjadi. Sebelum memikirkan masalah penobatan, sebaiknya kita pikirkan calon pendamping yang layak untuk Putra Mahkota. Jika kalian membicarakan penobatan, bukankah ini juga sudah saat yang tepat untuk memperkenalkan tunangan kerajaan di depan publik? Sebentar lagi Putra Mahkota akan merayakan ulang tahunnya, bagaimana jika dilakukan disana saja. Kalian semua boleh mengundang siapa pun kandidat yang kalian anggap layak untuk menjadi calon Putri Mahkota di acara itu. Dan keputusan selanjutnya akan kita tentukan disana,” kata Ibu Suri kemudian.

Seluruh ruangan tampak hening dan saling berpandangan. Ibu Suri kembali tersenyum ditempatnya, “Baiklah, karena tidak ada sanggahan, ku nyatakan rapat kali ini selesai. Kalian semua bisa meninggalkan ruangan,” katanya lagi sambil beranjak dari tempatnya.

Keito yang sempat terpaku langsung mengejar Ibu Suri yang sudah berjalan duluan keluar ruangan diikuti oleh pengawal pribadinya.

“Nenek, apa maksud dari perkataan nenek baru saja?” tanya Keito saat berhasil mengejar Ibu Suri.

“Hanya ingin membungkam para tetua itu. Mereka keras kepala sekali dan itu membuat nenekmu ini sakit kepala,” jawab Ibu Suri dengan ringan.

“Tapi, apa maksudnya dengan memilih Putri Mahkota?” tanyanya lagi.

Ibu Suri menghentikan langkahnya dan tersenyum ramah. Wanita itu menggenggam tangan Keito dengan lembut, “Putra Mahkota, ayo ikut dengan nenek sebentar,” katanya kemudian memberi isyarat dengan para pengawal untuk meninggalkan mereka berdua.

Ibu Suri kemudian menggandeng Keito dan membawa pemuda itu duduk disalah satu bangku di taman istana. Ibu Suri pun berkata sambil menggenggam lembut tangan cucu kesayangannya itu.

“Sebelum kau menjadi seorang Kaisar, kau harus bisa melihat yang mana musuhmu yang mana sekutumu. Kita tidak bisa menghindarinya Putra Mahkota, pasti ada orang-orang dibelakang yang ingin menjadikanmu boneka untuk memperoleh kekuasaan mereka. Dan cara untuk memastikannya adalah dari pemilihan Putri Mahkota ini. Nenek percaya mereka pasti mulai menunjuk calon-calon yang kemungkinan besar akan menguntungkan mereka dalam bidang politik nantinya.” kata wanita itu.

“Tapi, nek…” kata pemuda itu dengan enggan.

Ibu Suri memandang cucunya dengan wajah yang sedikit menyelidik, “Apa sedang ada yang kau suka saat ini, Putra Mahkota?” tanya wanita itu yang mampu membuat Keito sedikit kelabakan, “Undang saja dia di pesta nanti, nenek akan mendukungmu sepenuhnya. Tapi ingat satu hal ini, jangan pernah mencampurkan urusan hatimu dengan urusan politik. Tetap pada akhirnya, nenek ingin kau sendiri yang memutuskan siapa yang layak untuk jadi pendampingmu nantinya.”

Keito memandang neneknya sambil tersenyum masam. Memang itu sebenarnya yang dia inginkan. Untuk satu hal ini saja dia ingin egois. Dia tidak ingin hidup dengan orang yang tidak disukainya.

*****************************

Kruuuyyyuuukkk

Atsuko memegang perutnya yang keroncongan. Dia memang hanya sarapan sedikit tadi pagi karena harus menghemat uang makannya selama sebulan kedepan. Selama jam istirahat gadis itu hanya duduk diam di rerumputan dibawah pohon yang ada di taman belakang sekolah untuk menghindari kerumunan gadis-gadis di kelasnya yang mendadak buas.

Dia tidak tau apa yang terjadi saat tiba disekolah pagi tadi dan melihat seluruh penghuni sekolahnya mendadak histeris. Setelah bertanya kesana kemari, dia akhirnya mengetahui bahwa si ‘Pangeran’ akan mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran dan mengundang satu sekolah.

Atsuko sama sekali tidak berniat untuk datang. Dia tidak berminat untuk masuk dalam lingkungan orang-orang yang berada di ‘dunia lain’ itu. Lagipula pesta megah seperti itu pasti akan dipenuhi selebriti dengan pakaian bagus dan mobil mewah. Sedangkan dirinya, dapat uang untuk bisa bertahan hidup saja dia sudah sangat bersyukur.

Namun sekarang, sepertinya hidup sedang bermain dengannya. Karena kamera miliknya, satu-satunya benda yang menunjang hidupnya selama ini berada ditangan ‘Pangeran’ sombong itu.

Kruuuyyyuuukkk

Kembali perut Atsuko berbunyi dengan nyaring. Gadis itu lalu mengerang dengan kesal dan terlihat hampir saja akan menangis.

“Doushiyo~ apa yang harus ku lakukan? Penjagaan orang itu akhir-akhir ini ketat sekali, aku benar-benar membutuhkan kameraku kembali,” erangnya.

“Acchan…” panggil seseorang tiba-tiba, tidak lain adalah Naoko, sahabatnya.

“Naaaooooo~” seru Atsuko dengan sedikit manja.

“Ini untukmu. Aku tau kau belum makan apa-apa sejak tadi.” kata gadis itu mengulurkan sebuah sandwich sambil mengambil tempat duduk disamping Atsuko.

“Huwaaa~ Nao, kau memang bidadari…” kata Atsuko sambil menerima sandwich itu dan langsung memakannya.

Naoko hanya tersenyum. Gadis itu kemudian menyerahkan sebuah undangan kepada Atsuko, “Ini punyamu, undangan ke pesta ulang tahun Putra Mahkota besok malam,” katanya.

Atsuko menerimanya dengan malas, “Kau datang?” tanyanya.

Naoko mengangguk sebagai jawaban, “Kau sendiri?” katanya balik bertanya.

“Entahlah… masih belum tau,” katanya sambil mengangkat bahunya acuh.

Tepat saat itu bel berbunyi, mau tidak mau keduanya harus kembali kedalam kelas. Dari kejauhan, Atsuko mendapati sosok sang Pangeran, Okamoto Keito sedang berjalan dan masih di kelilingi dengan penjagaan yang ketat. Namun terlihat raut kesal di wajah pemuda itu. Dan Atsuko hanya melihatnya dari jauh sambil berpikir cara untuk mendapatkan kembali kameranya.

*************************************

Atsuko berjalan mondar-mandir di kamarnya. Dia sudah tidak tahan lagi dan bagaimanapun juga dia harus bisa bertemu dengan si Pangeran dan mendapatkan kembali kamera miliknya, benda berharganya, yang menjadi penopang hidupnya.

Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya adalah datang ke pesta ulang tahun, karena hanya disana dia bisa bertemu muka dengan orang itu tanpa harus mengkhawatirkan para pengawal yang selalu mengelilinginya.

Tapi bagaimana? Dia tidak punya gaun ataupun baju yang layak yang bisa dia pakai untuk kesana. Bisa-bisa baru sampai pagar, dia langsung diusir keluar oleh para penjaga. Tapi dia sudah tidak tahan lagi dan benar-benar butuh kameranya.

“Aku harus pergi! Aku harus bertemu dengan orang itu dan meminta kameraku kembali. Setelah itu aku tidak harus repot-repot lagi berurusan dengan dia. baiklah…” putusnya.

Akhirnya Atsuko berjalan menuju lemarinya, dan mengambil baju terbaik yang dia punya. Mengenakannya dan pergi menuju istana.

Dan benar saja, baru saja sampai tidak jauh dari istana. Dia sudah melihat berbagai mobil mewah berdatangan dan masuk kedalam gerbang. Sedangkan dia? sungguh suatu keajaiban dia bisa sampai disini meski dengan menaiki bus dan berjalan kaki beberapa kilometer dari pemberhentian bus terdekat. Tidak mungkin dia masuk begitu saja dengan dandanan seadanya seperti ini. Dia pasti akan langsung diusir.

“Aduuhh… aku harus bagaimana?” pikirnya sambil melihat sekitar.

Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah mobil dengan logo cleaning service yang memutar. Atsuko tanpa sadar mengikuti mobil itu hingga ke gerbang belakang istana. Si supir terlihat turun sambil membuka pintu box mobilnya dan para penjaga melakukan pencekan. Setelahnya si supir tampak berbicara sebentar dengan petugas di dekat pintu gerbang. Hal ini dimanfaatkan oleh gadis itu untuk masuk kedalam box mobil dan bersembunyi sampai masuk kedalam. Keberadaan gadis itu sama sekali tidak ketahuan hingga si supir kembali menutup pintu box mobilnya dan kembali melajukan mobil itu masuk kedalam istana.

Setelah memberhentikan mobilnya, si supir tampak membuka kembali box mobilnya dan membawa beberapa yang ada disana kedalam. Sementara itu Atsuko keluar dari persembunyiannya dan kini sudah melapisi bajunya dengan seragam cleaning service. Gadis itu turun sambil membawa sebuah ember, pel, dan lap, kemudian berjalan masuk melalui pintu belakang istana.

Sepertinya tidak ada satu orangpun yang curiga padanya saat dia masuk. Sepertinya aman untuk berjalan kedalam hingga sampai di tempat pesta.

Namun tiba-tiba…

“Tunggu sebentar!” kata sebuah suara.

Atsuko merasakan jantungnya berpacu semakin kencang saat mendengar suara itu. Gadis itu terpaksa berhenti saat dilihatnya seorang pria paruh baya berjas hitam menghampirinya.

“Apa kau petugas cleaning service yang di sewa untuk acara ulang tahun ini?” tanya pria itu.

Atsuko membungkuk dan mengangguk cepat-cepat, “Benar…” jawabnya singkat.

Wajah pria itu berubah melunak dan tersenyum, “Kau berjalan di arah yang salah, nona. Pestanya diadakan di taman, arahnya kesana.” kata pria itu.

“Terima kasih, tuan,” kata Atsuko lagi sambil membungkuk lalu segera mengambil peralatannya dan berjalan kearah yang ditunjuk pria tadi.

Benar saja, pesta taman yang diadakan sangat meriah serta dipenuhi oleh orang-orang penting. Juga ada beberapa kamera yang Atsuko yakin bahwa itu adalah para wartawan dari televisi atau surat kabar. Namun Atsuko tidak peduli, dia hanya mengedarkan pandangannya kesekeliling mencari sosok si Pangeran.

Matanya kemudian tertuju pada satu sosok yang sedang meraih tangan seorang gadis dan mengecupnya singkat. Sosok itu lalu membawa si gadis berjalan ke tengah-tengah pesta, tepat saat lampu menyorot keduanya. Tepat saat itu musik berubah dan memainkan musik waltz.

Untuk sesaat Atsuko terpana memandang dansa kedua orang itu. Dari seluruh tarian yang ada di dunia ini, Atsuko sangat menyukai dansa waltz. Bisa berdansa waltz dengan begitu indah, dia pasti akan merasakan berdansa seperti dalam dongeng-dongeng yang pernah di ceritakan padanya sebelum tidur saat kecil dulu. Tidak terasa musik pun perlahan berhenti tepat saat kedua orang itu mengakhiri dansa mereka diiringi dengan tepuk tangan meriah dari semua yang ada disana.

“Hei, kau tau tidak? Katanya di pesta kali ini, Putra Mahkota akan memilih calon istrinya,”

“Yang benar? kalau begitu, gadis itu yang dipilih olehnya?”

“Yaampuuuunn… aku cemburu. Gadis itu beruntung sekali bisa mendapatkan Putra Mahkota.”

“Kau tau, kabarnya dia putri Perdana Menteri.”

“Sudah cantik, pintar, kaya, dan memiliki orang tua seorang Perdana Menteri. Bagaimana mungkin kita bisa menyainginya?”

Atsuko tersadar pada kenyataan saat mendengar obrolan gadis-gadis yang berada tidak jauh darinya. Apapun itu dia tidak peduli, yang dia pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa berbicara sebentar dengan pemuda itu dan memintanya untuk mengembalikan kameranya.

Tapi, sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Atsuko mendapati pemuda itu berjalan menjauh dari kerumunan. Atsuko berjalan mengejar sosok itu hingga tiba di satu spot yang agak tertutup, gadis itu kemudian menarik tangan pemuda itu yang langsung terkesiap.

“Hei!” kata pria itu.

Atsuko buru-buru menutup mulut pemuda itu dengan satu tangannya yang lain dan kembali menariknya menjauh dari kerumunan.

“Kau siapa? Apa maumu?!” tanya pemuda itu dengan sedikit keras.

Atsuko menepuk pelan lengan pemuda itu tidak lain hanya bermaksud agar pemuda itu sedikit lebih tenang, “Kau bisa diam tidak? Kita bisa ketahuan kalau kau berteriak seperti itu!” protes Atsuko.

“Kau siapa sih? Kau punya niat jahat?”

“Ini aku! Dasar pangeran bodoh!” kata Atsuko sambil membuka topinya, barulah saat itu Keito mengenalinya.

“Kau?!” kata Keito kaget.

“Ssssttt!”

“Kau…… petugas cleaning service?” tanya pemuda itu sambil melihat Atsuko dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Ceritanya panjang… yang lebih penting, aku butuh kameraku. Kembalikan kameraku!” kata gadis itu tidak kalah keras.

“Itu lagi?! Kau cuma jauh-jauh kesini, menarikku, hanya untuk meminta kameramu?” tanya Keito dengan nada sinis.

“Kamera itu sangat penting untukku. Itu masalah hidup dan matiku. Kau tidak akan mengerti kalau ku jelaskan, yang penting kembalikan saja kameraku!”

“Baiklah… tapi berikan aku satu alasan yang sangat meyakinkan kalau kau memang tidak berniat melakukan kejahatan dengan kamera itu,”

Atsuko menggeram menahan emosinya, kalau saja dia tidak lupa sedang ada dimana pasti pria didepannya ini sudah dia hajar, “Hapus saja memorinya atau kau bisa mengambil memori kamera itu. Lagipula lomba mengenai fotomu sudah lama berakhir. Hanya saja, kembalikan kameraku sekarang juga.”

Tepat saat itu terdengar keriuhan dari tengah-tengah pesta. Dari tempatnya, baik Atsuko maupun Putra Mahkota dapat dengan jelas melihat apa yang sedang terjadi. Saat itu, permaisuri dan ibu suri serta gadis yang tadi diajak berdansa oleh Putra Mahkota berada disamping pembawa acara seperti ingin mengumumkan sesuatu.

“Kau benar-benar menginginkan kamera itu?” tanya pemuda itu tiba-tiba.

Atsuko mengalihkan pandangannya kembali lalu mengangguk, “Tentu saja,”

“Kau bersedia melakukan apa saja demi kamera itu?” tanya pemuda itu lagi.

Atsuko terdiam dan tampak berpikir sejenak. Berurusan dengan orang kaya memang tidak mudah, dan dia bersumpah ini terakhir kalinya terjadi seperti ini.

“Asal kau tidak menyuruhku melakukan perbuatan yang dilarang hukum saja,” kata Atsuko lagi.

Pemuda itu kemudian menghela nafas dan kini sebuah senyuman tersungging diwajahnya, “Baiklah… kau akan membayar mahal untuk kamera itu. Jadi kau tidak akan berani lagi sembarangan melakukan sesuatu,” katanya.

Atsuko menyerit mendengarnya, “Mak…sudmu?” tanyanya.

Pemuda itu lalu meraih lengah Atsuko lalu menariknya dari sana tanpa sempat memberikan kesempatan gadis itu untuk berbicara.

“Pada malam berbahagia ini, kerajaan akan membuat pengumuman penting. Sebagaimana diketahui, Putra Mahkota Okamoto sudah mencapai tangga kedewasaannya, dan itu artinya beliau akan segera mengambil alih tahta kekaisaran. Untuk itu, Putra Mahkota akan memutuskan memilih seorang gadis sebagai pendamping hidupnya kelak.” kata sang pembawa acara dengan senyuman berbinar diwajahnya.

“Seperti yang kalian semua saksikan, Putra Mahkota telah mengajak seorang gadis ke lantai dansa untuk dansa utama malam ini… dan dia adalah…”

“Tunggu sebentar!”

Perkataan pembawa acara itu terputus saat Keito berjalan ke tengah-tengah pesta sambil menggandeng seorang gadis dengan seragam cleaning service. Pemuda itu berjalan mendekati si pembawa acara dan langsung mengambil mikrofon darinya lalu memandang keseluruh tamu undangan tanpa mempedulikan wajah keheranan dari ibu atau neneknya yang berada disampingnya.

“Aku ingin memperkenalkan sendiri calon Putri Mahkota yang ku pilih malam ini. Dan inilah orangnya,” kata Keito sambil menunjukkan genggamannya pada Atsuko yang kini tampak bingung dengan apa yang sedang terjadi, “Dia adalah kekasihku, Fujiwara Atsuko. Dan dialah yang akan menjadi calon Putri Mahkota yang akan mendampingiku kelak,” kata Keito dengan tegas.

Atsuko membulatkan matanya mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan pemuda disampingnya itu.

Dia? calon Putri Mahkota? Pria ini sudah tidak waras!!!!!

 

—————————————

~TBC~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s