[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 4)

Title: Lelaki yang Mencicit

Author: Darya Ivanova

Genre: Fantasy, Comedy, Romance

Cast: Nakajima Yuto, Inoo Kei, Kawaguchi Haruna, Kawaguchi Mai (Haruna’s – fictional – daughter), Kawaguchi Nami (Haruna’s – fictional – mother)

Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)

Disclaimer: All casts (except the fictional ones) are not mine

Selamat membaca~~ Semoga terhibur dan jangan lupa komentarnya yaaa ^^ karena saya hanya manusia yang sangat jauh dari sempurna dan masih harus belajar banyak (terutama soal menulis). Bagian ini adalah revisi terbaru.

Yuto yang Aneh!

Untuk kali ini terpaksa Inoo harus mengalah dengan Yuto. Masalahnya memang kemarin Yuto sudah berjanji kepada Haruna untuk mengantarnya sebelum ia dan Mai bertolak ke Filipina. Siapa yang menyangka jika ternyata di pagi itu – saat fajar menyingsing – Yuto berubah menjadi seekor tikus? Namun, coba kita lupakan hal itu sejenak karena kini sosok yang menyerupai Yuto tampak sudah berjalan jauh dari apartemennya. Namun jangan salah! Itu bukan Yuto, melainkan Inoo yang sedang menyamar menjadi Yuto, alias Yuto jadi-jadian.

“Aduh, bagaimana ini? Mengapa tidak ada seekorpun kuda yang lewat?” gumam Yuto jadi-jadian ketakutan. Ketika ia melihat seseorang mengendarai sepeda – dengan belanjaan di belakangnya, ia menghampiri orang tersebut.

“Berhenti! Bolehkah saya ikut menumpang kuda anda?” tanya Yuto jadi-jadian.

“Dasar gila! Sudah jelas ini sepeda motor, tapi kau malah menyebutnya kuda?! Yang benar saja!” wanita pengendara sepeda itu berlalu.

Kini Yuto jadi-jadian telah tiba di Stasiun Ochanomizu dan kini ia harus memilih perjalanan menuju ke Narita. Orang-orang berlalu-lalang masuk dan keluar stasiun. Pemadangan sesibuk ini bukanlah sesuatu yang lazim bagi Inoo. Ia tampak sangat takut karena orang-orang di sekitarnya sama sekali fokus dengan dirinya sendiri. Sungguh, ia benar-benar kebingungan. Agar ia tidak tampak bingung, ia mengikuti orang-orang yang memasuki stasiun dan berhenti di depan sebuah mesin. Semua orang tampak memasukkan uang ke dalamnya, dan secara ajaib – bagi Inoo a.k.a. Yuto jadi-jadian – uang keluar dari bawahnya. Yuto jadi-jadian pun mengantre dan tibalah gilirannya. Nah, masalahnya adalah Yuto jadi-jadian tak tahu angka yang mana yang harus ditekan untuk menuju ke Stasiun Narita.

“Hei, sudah berapa lama kau tinggal di sini, anak muda?! Jangan membuang waktu kami!” Seorang bapak menegur Yuto jadi-jadian. Ketika ia merogoh sakunya, ia menemukan sebuah kartu.

                Ciiit! Begitu kau memasuki gedung stasiun, tidak usah mengantre lagi di tempat pembelian tiket. Langsung saja ikuti orang yang menempel kartu ini atau memasukkan tiket ke dalam mesin tiket. Mengerti? Ciiiit!

Yuto jadi-jadian langsung teringat akan kata-kata Yuto yang asli. Ia langsung bergerak menuju ke tempat tapping tiket. Di sana ia masih dikejutkan dengan sesuatu yang membuka ketika seseorang memasukkan tiket ke tempatnya, kemudian mengambilnya di ujung lainnya. Orang setelahnya menekan kartu tiket elektrik yang sama seperti miliknya.

                Ciiit! Setelah kau melakukan tapping tiket, langsung saja cari jalur Chuo-Sobu karena kau akan turun di Stasiun Chiba. Dari sanalah, baru kau bisa ke Narita. Ciiit

Hanya dengan bermodalkan ingatan, Yuto jadi-jadian berjalan cepat mencari jalur Chuo-Sobu, dan sepertinya ia juga sedang beruntung. Ia tidak salah memilih jalur. Berbaur, berbaur, berbaur, pikirnya. Kali ini ia tidak mau tampak seperti orang tolol yang baru pertama kali ke kota sibuk seperti Tokyo. Tak lama kemudian, kereta dengan pemberhentian terakhir Stasiun Chiba pun tiba.

Yuto jadi-jadian itu pun akhirnya dapat memasuki kereta yang sudah ia pastikan kembali: menuju ke Chiba. Untung saja saat itu bukan rush hour karena kalau iya, sudah dipastikan ia akan tergencet dan semakin linglung.

“Oh!” gumamnya terkejut. Ketika masinis menjalankan kereta, ia linglung lagi meski hanya sesaat. Kemudian ia fokus kembali sembari menyaksikan pemandangan kota Tokyo dari jendela.

Ciiit! Ingat. Jangan turun sebelum ada pemberitahuan bahwa keretamu turun di Stasiun Chiba Ciiit!

Yuto jadi-jadian mengangguk sendiri dengan pasti. Ketika kereta berhenti di Stasiun Akihabara, ia melihat berbagai neon box iklan dan,

“Astaga! Mengapa ada wajah yang mirip Tuan Kimura di sana?” gumam Yuto jadi-jadian terkejut. Sosok yang dimaksud oleh Yuto jadi-jadian – maksudnya Inoo – adalah Tuan Kimura Takuya, salah satu peternak sukses di Negeri Baika – dan juga penyihir ulung yang baik hati. Hewan ternaknya pun bermacam-macam, mulai dari ayam, bebek, domba, sapi, kambing, babi, hingga lebah dan ulat sutera. Dari usahanya ini, Tuan Kimura dan keluarga juga menjadi produsen utama berbagai produk, seperti susu – dan produk olahannya, madu, dan kain. Karena banyak orang yang tidak mampu dipekerjakan dan diberdayakan dengan baik olehnya, akhirnya reputasi keluarga ini menjadi terdengar sangat baik di mata penduduk Negeri Baika, dan begitu pula dengan pihak kerajaan. Okay, mungkin kalian ingin tahu mengapa sosok mirip Tuan Kimura yang ada di neon box iklan itu mengejutkan Inoo. Itu karena selain ia tampak gagah dengan satu stel jas yang dikenakannya, posenya pun dapat dikatakan menggoda di iklan kartu kredit VisionCard. Tipikal nominasi The Sexiest Man Alive versi majalah People. Kereta pun berlalu dan Inoo – alias Yuto jadi-jadian – menikmati kembali pemadangan kota Tokyo di pagi hari – menjelang siang.

DRRRT! Ponsel Yuto bergetar. Di layarnya terdapat pemberitahuan pesan dari Kawaguchi Haruna. Kini Yuto jadi-jadian menjadi sedikit cemas karena ia benar-benar tak tahu bagaimana cara menggunakan ponsel pintar. Ketika kereta berhenti sesaat, Yuto jadi-jadian membuat gerakan tembakan ke arah neon box iklan yang menunjukkan sesosok pria yang – lagi-lagi – sangat mirip dengan Tuan Kimura. Di sana – dengan kekuatan sihir yang ia miliki, ia berhasil menemukan tutorial sakti cara menggunakan telepon pintar. Ajaibnya, keadaan itu tidak membuat orang-orang curiga akan apa yang ia lakukan.  Setelah tutorial itu berakhir, ia pun membuka pesan dari Haruna.

From: Kawaguchi Haruna

                Mengapa tadi teleponku tidak dijawab? Kapan kau akan tiba di Stasiun Chiba?

Masalahnya sekarang Haruna tidak tahu jika sesuatu sedang menimpa sepupu yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri. Ini adalah kali pertama bagi Yuto jadi-jadian untuk megetik di ponsel pintar. Dapatkah ia melakukannya?

Aku akan tiba di Stasiun Chiba pukul 11.06.

Rupanya ia berhasil melakukannya! Boleh jadi itu karena ia menggunakan tutorial yang jauh lebih lengkap dan komrehensif dari tutorial biasa. Yuto jadi-jadian menghela napasnya. Tak disangka bahwa mengetik di ponsel pintar tidak sesulit yang ia kira sebelumnya. Ketika melewati perkotaan, lagi-lagi ia menemukan wajah Tuan Kimura yang kali ini berada di billboard saat kereta melewati kawasan Ichikawa.

**

Sesuai dengan instruksi Yuto yang asli, Yuto jadi-jadian turun di Stasiun Chiba. Kini agar tidak salah orang, ia sudah mengingat dengan baik bagaimana wajah Haruna dan anaknya, Mai. Jikalau ia lupa, Yuto yang asli sudah memberitahunya bahwa jika terdengar suara anak perempuan yang menyebut Uncle Yuto, sudah dipastikan bahwa itu adalah Mai.

“That’s Uncle Yuto, Mama!”  dari kejauhan terdengar suara anak perempuan yang menyebut kata Uncle Yuto. Yuto jadi-jadian pun berbalik arah. Seorang wanita dengan baju terusan bermotif floral dan luaran rajut tampak bersama dengan seorang balita yang mengenakan sweater ungu bergambar unicorn dan celana blue jean. Tampaknya Mai sangat senang bertemu dengan paman yang di seumur hidupnya cukup menggantikan figur ayah yang selama ini tak pernah ia kenal.

“Are you excited, Mai-chan?” tanya Yuto jadi-jadian yang mencoba akrab dengan Mai. Namun, wajah Mai yang semula memang senang menjadi bingung. Haruna pun juga tampak semacam memberikan kode lewat kontak mata.

“Mama, Uncle Yuto bilang apa?” tanya anak berusia 4 tahun itu dengan polos.

“Dia bertanya apakah Mai-chan gembira,” jawab Haruna. “Ayo, jawab pertanyaan Uncle Yuto, dear!”

“Yes, I am!” jawab Mai dengan lantang. Karena ia menjawab dengan lantang, suasana menjadi sedikit canggung. Semua orang menengok ke arah mereka. Mungkin mereka menganggap bahwa anak kecil yang bisa berbahasa Inggris itu keren – atau aneh. Dengan cepat Yuto membantu membawakan koper besar yang akan dibawa Haruna. Namun, lalu lintas manusia yang berlalu-lalang membuat Yuto jadi-jadian – maksudnya Inoo – linglung lagi. Apalagi ia membawa koper sebesar itu. Untung saja mereka sekarang sudah memasuki jalur yang tepat, yaitu jalur Narita.

“Yuto-nii, kau baik-baik saja kan?” tanya Haruna. Yuto jadi-jadian mengangguk.

“Tapi mengapa Uncle Yuto ketakutan?” tanya Mai menimpali. “Uncle benar-benar seperti orang yang ketakutan ya, Ma!” tambahnya. Haruna cekikikan.

“Kau belum makan?” tanya Haruna. “Wajahmu tampak pucat, loh!” Haruna membuka tasnya dan mengeluarkan kemasan berisi tiga potong dorayaki yang diikat dengan alat penutup kemasan roti tawar. “Mai darling, give him one!” perintah Haruna kepada Mai. Mai pun memberikannya kepada Pamannya – yang sebetulnya hanyalah wujud samara Inoo.

Ini! Ambil satu, ya!” Mai menawarkan bungkusan berisi dorayaki yang dapat dengan mudah ditemukan di kombini berwarna khas jingga, hijau, dan merah itu. “Mama, can I take one too?” tanya Mai yang juga menginginkan dorayaki  itu.

“Sure!” jawab Haruna mengizinkan. “But let your uncle take one first, and then you can take one for you.” Mai mengangguk mengerti. Yuto jadi-jadian masih bertanya-tanya apa makanan itu. Maka, ia mengambilnya dan menggigitnya untuk pertama kali.

“Haruna-chan, ini lezat sekali! Di mana kau membelinya?” tanya Yuto jadi-jadian dengan mata berbinar. “Ini adalah makanan terlezat yang pernah kumakan!” ucapnya memuji kelezatan dorayaki berisi kacang merah itu.

“Yuto-nii… bukankah kau sudah sering makan itu?” tanya Haruna heran. Ia tak menyangka bahwa sepupunya itu tampak tak mengenal makanan kecil favoritnya.

“Mama, I think he really likes it!” sahut Mai yang juga melahap dorayakinya.

“He really does,” jawab Haruna. Kemudian mereka bertiga pun menaiki kereta yang akan memboyongnya ke Narita.

Di perjalanan menuju ke Narita, seperti biasa, Yuto jadi-jadian masih mengagumi suasana perkotaan yang tak akan pernah dilihatnya begitu ia kembali ke Negeri Baika. Gedung-gedung tinggi di Chiba juga bisa dikatakan banyak, tak seperti di Negeri Baika. Hanya kastil yang menjadi satu-satunya gedung tertinggi di sana. Lagi-lagi, sosok menyerupai Tuan Kimura muncul lagi di neon box iklan yang berada di Stasiun Sakura. Kali ini sebuah iklan minyak wangi yang bertuliskan Gordon Scentsation X Takuya Kimura – yang namanya juga sama dengan Tuan Kimura di Negeri Baika, lengkap dengan fotonya yang tengah menyemprotkan minyak wangi. Gayanya pun juga langsung dapat menjadi definisi seksi bagi seorang pria dewasa. Entah siapa Kimura yang dapat dengan mudah ditemukan di neon box dan billboard itu, yang jelas Tuan Kimura Takuya di Negeri Baika sangat bertolak belakang dengan Kimura Takuya di Tokyo – walaupun secara fisik mereka tampak sama.

Mereka pun akhirnya tiba di Bandar Udara Narita dan seperti biasa, Yuto jadi-jadian tetap bersifat seperti seorang gentleman. Ia yang menjadi ‘tukang angkat’ barang-barang Haruna.

“Yuto-nii, tidak apa-apa. Aku bisa cari trolley di sana. Aku titip Mai dulu…”

“Tidak usah, biar aku saja yang ambil,” sahut Yuto jadi-jadian menginterupsi. Seperti biasa, ia lagi-lagi linglung melihat keramaian yang terlihat di dalam Bandar Udara.

“Aku mau ikut Uncle Yuto juga!” sahut Mai yang mengetahui bahwa pamannyalah yang akan mengambil trolley. Selama Yuto dan Mai mengambil trolley bersama, kini Haruna mulai menyadari bahwa hari ini Yuto tidak seperti biasanya. Kurang lebih rincian kecurigaan Haruna terhada Yuto terdiri atas sebagai berikut. Satu, mengapa ia bisa tidak mengenal makanan favoritnya sendiri.        Dua, mengapa ia tampak linglung ketika berada di keramaian. Tiga, mengapa ia selalu terkejut setiap melihat iklan dengan Kimura Takuya sebagai dutanya.  Hal tersebut tampak ketika mereka baru melewati Stasiun Higashi-Chiba – saat itu terdapat billboard iklan VisionCard, dan saat mereka berhenti di Stasiun Sakura – dengan iklan Gordon Scentsation. Tak lama kemudian, Mai dan Yuto menghampiri Haruna. Hanya sifat gentleman-nya yang hari ini tidak berubah, pikir Haruna. Ketika mereka baru saja selesai meletakkan seluruh barang di trolley, Yuto jadi-jadian menangkap sesuatu yang aneh dari wajah Haruna.

“Hei, ada apa denganmu?” tanya Yuto jadi-jadian. Haruna hanya menjawab dengan gelengan.

“Sungguh? Tetapi kedua manik matamu mengisyaratkan bahwa kau tengah merahasiakan sesuatu!” Empat, gaya bahasa Yuto yang hari ini menyerupai gaya seorang pujangga.

Maa,  aku merasa bahwa kau di hari ini sedikit berbeda,” jawab Haruna. Yuto jadi-jadian bungkam. Inilah hal yang dikhawatirkannya dari mengalah dengan Yuto. Haruna mulai menaruh kecurigaan kepadanya.

“Hehehe… Maksudmu?” tanya Yuto – pura-pura – tidak mengerti.

“Aku tah tahu bagaimana caraku mengatakannya, tapi… tapi… kau hanya sedikit berbeda. Itu saja,” jawab Haruna.

“Mama, Obaa-chan is here!” Mai tampak senang karena neneknya juga mengantarnya. Begitu pula dengan Haruna yang pada hari ini akan berpisah dari ibunya sampai dengan jangka waktu yang tidak ditentukan.

“Kaa-san!” Haruna menghampiri ibunya. “Yuto-nii juga ada di sini,” Yuto jadi-jadian menghampiri ‘bibi’-nya karena Haruna mengatakan kehadirannya.

“Apa kabar… Oba-san?” Tanya Yuto jadi-jadian dengan sopan. “Sudah lama sekali, ya!” Dua wanita dewasa di dekatnya – Bibi Nami dan Haruna – lagi-lagi terdiam. Suasana menjadi sedikit canggung.

“Kau lupa kapan terakhir kita bertemu?” tanya bibinya. Yuto jadi-jadian kembali bungkam. Kini ia harus mengira-ngira waktu terakhir Yuto yang asli bertemu dengan bibinya. Kali ini Yuto hanya menatap bibinya dan, “Iya, benar sekali! Sepertinya kita benar-benar sudah lama tidak bertemu!” ujar bibinya. Kini Haruna terkejut dengan apa yang terjadi kepada ibunya.

“Kaa-san?!” gumam Haruna yang masih terkejut. Mai rupanya menyadari

“What’s wrong with Obaa-chan?” tanya Mai dengan polos. Tangannya menarik luaran rajut milik ibunya.

“Mai-chan, no! Don’t pull it! Okay?” Haruna menasihati Mai agar tidak membuat pakaiannya menjadi rusak. Biasanya Mai memang sulit untuk mematuhi perintah orang lain, tetapi hal itu tidak berlaku untuk ibunya. Jika yang mengatakan jangan itu adalah Haruna, ia pasti langsung patuh.

“Mai, ayo ikut Obaa-chan!” Mai langsung bergerak menuju neneknya. Kini dengan demikian, Haruna memiliki kesempatan untuk menginterogasi sepupunya yang hari ini tampak aneh.

“Mumpung sekarang Mai sedang bersama neneknya, sekarang aku ingin tahu mengapa kau agak berubah hari ini,” ujar Haruna membuka pembicaraan. Ia menatap Yuto jadi-jadian dengan tajam. Yuto jadi-jadian kini balas menatap Haruna, tetapi… tatapan Haruna terlalu mendominasi. Akan sangat sulit untuk dipengaruhi oleh sihir seperti ibunya tadi. Yuto jadi-jadian tak berdaya karena Haruna menatapnya dengan penuh perlawanan.

“Apa yang tadi kau lakukan kepada ibuku? Apa kau memengaruhinya?” tanya Haruna mengeinterogasi. “Mengapa ia bisa percaya bahwa kalian sudah lama tidak bertemu, padahal baru dua minggu yang lalu kalian bertemu?” Yuto jadi-jadian semakin tidak berkutik. Namun, ia menggunakan jurus rahasia.

“Entahlah. Mungkin efek patah hati,” jawabnya enteng. Baiklah, mungkin efek patah hati bisa dijadikan alasan mengapa ia melupakan waktu terakhir ia bertemu bibinya. Namun, Haruna masih belum puas karena pertanyaan pertamanya belum dijawab. Ketika Haruna menengok ke arah kiri – sementara Yuto jadi-jadian berdiri di sisi kanannya, Yuto jadi-jadian menunjuk telinga kanan Haruna dan,

“Ya sudah lupakan saja soal itu. Namun, masih ada hal lain yang ingin kutanyakan. Mengapa sejak pertama kali kita bertemu – hari ini – kau tampak… berbeda?”  Rupanya sihir Yuto jadi-jadian hanya efektif untuk menghapus ingatan Haruna untuk bertanya mengapa ibunya tampak seperti dihipnotis.

“Berbeda? Berbeda bagaimana?” tanya Yuto jadi-jadian.

“Pertama, kau seperti tidak pernah makan dorayaki favoritmu. Kedua, kau tampak linglung saat berada di keramaian. Ketiga, kau tampak selalu terkejut setiap melihat foto iklan Kimura Takuya. Ada apa denganmu?” tanya Haruna langsung ke inti permasalahan. Babak yang paling mengerikan dimulai. Untuk jawaban pertama, Yuto jadi-jadian, alias Inoo, memang belum pernah memakan dorayaki. Mana ada orang yang makan dorayaki di Negeri Baika. Untuk pertanyaan kedua, pada faktanya akses Inoo untuk ke dunia luar sangat dibatasi. Hanya pada saat era kekuasaan Dinasti Honmadeka – yang saat ini dipimpin oleh Raja Yabu – ia baru boleh keluar, itupun dengan kereta kuda dan pengamanan yang sangat ketat. Ia sama sekali tidak pernah berada di keramaian sejak…kira-kira dua abad yang lalu. Karena alasan itulah Inoo tampak sering ketakutan dan linglung setiap berada di keramaian. Satu-satunya alasan mengapa ia boleh keluar dari kastil hanyalah untuk menemui klan Kimura yang merupakan keluarga penyihir tersakti di Negeri Baika. Mengapa klan Kimura? Karena sudah bertahun-tahun – bahkan berabad-abad –  Inoo mengalami kutukan yang membuatnya hidup abadi, tetapi tidak juga normal. Menurut perkamen yang menjadi saksi bisu pengutukan Inoo, hanya penyihir yang memiliki 8 jenis hewan ternak yang dapat menyembuhkan Inoo dari kutukannya – dan saat ini hanya anggota klan Kimura yang memenuhi syarat tersebut. Karena itulah Inoo dapat mengenal anggota klan Kimura meskipun ia tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Kesaktian Tuan Kimura menjadi jawaban dari pertanyaan ketiga. Ia merasa bahwa melalui foto-fotonya yang tersebar di penjuru Jepang, Tuan Kimura tengah mengawasinya – dalam rangka penyelesaian misi melalui titah Raja Yabu. Namun, bagaimana cara Inoo – yang tengah menyamar sebagai Yuto – mengatakan yang sebenarnya? Mana mungkin Haruna percaya akan hal itu. Ia pasti akan menganggap Yuto sudah gila karena patah hati.

“Ceritanya panjang,” jawab Yuto jadi-jadian dengan singkat. Memang terlalu panjang untuk diceritakan.

“Ya sudah, terserah kau saja kalau begitu.” Haruna menghela napasnya. “Kalau kau keberatan untuk mengatakannya, lebih baik tidak usah.” Meskipun pada akhirnya Haruna tidak memaksanya untu menjelaskan apa yang terjadi, di satu sisi Yuto jadi-jadian juga merasa bersalah. Ia khawatir jika hubungan kedua saudara sepupu itu renggang karena ulahnya.

Keempat orang itu kini telah berada di depan terminal dan tidak mungkin Yuto jadi-jadian dan Bibi Nami ikut masuk ke dalam. Lagi pula waktu check-in semakin lama semakin terbatas, sementara barang bawaan Haruna juga dapat dikatakan cukup banyak.

“Haru-chan, ingatlah bahwa kau ke sana untuk hidup, bukan hanya untuk bersenang-senang. Jangan lupakan identitas kalian sebagai orang Jepang. Tanamkan nilai itu pada Mai karena kaulah yang bertugas untuk mendidiknya.” Yuto jadi-jadian memandangi perpisahan itu. Seburuk itukah perpisahan? Mengapa orang berduka ketika berpisah dari orang yang mereka cintai? Ini adalah pertanyaan pertama Inoo akan kehidupan di dunia nyata. Adegan semacam ini sebetulnya ada di Negeri Baika, tetapi memang dirinya yang tidak terlalu berpengalaman soal apa yang terjadi di luar.

“Yuto-nii, maafkan sikapku tadi. Semoga kita bisa bertemu lagi, entah cepat, atau lambat.” Haruna memeluk saudara sepupu – jadi-jadiannya – sebelum jarak memisahkan mereka. Begitu pula dengan Mai yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda tantrum.

“Mai-chan, no! Obaa-chan can’t go with us today!” Kini Haruna sibuk dengan Mai yang tengah rewel karena harus berpisah dari neneknya. Kini dengan sigap Yuto jadi-jadian mengambil alih menenangkan Mai.

Mai, Mai-chan masih menyangi Mama, kan? Jangan menangis lagi! Turutlah akan kata-kata Mama!” Namun Mai masih menangis. Ia masih tidak ingin berpisah dari neneknya dan juga Uncle Yuto-nya.

“Obaa-chan pasti akan menyusul Mai-chan dan Mama di sana! Sekarang anak yang baik jangan menangis!” Perlahan-lahan Mai mulai tenang ketika neneknya mendaratkan kecupan di atas rambut hitamnya.

“Lalu, Uncle Yuto juga akan datang kan?” tanya Mai kepada Uncle Yuto-nya – yang sebetulnya adalah versi jadi-jadiannya. Yuto jadi-jadian mengangguk dan melemparkan senyuman kepada Mai.

“Nah, Mai-chan harus kuat dan tangguh! Jangan lupa untuk selalu mematuhi apa kata-kata Mama,” Itulah pesan terakhir Yuto untuk Mai – yang disampaikan oleh Inoo yang tengah menyamar. Mai mengangguk sebelum ibunya mengajaknya ke check-in counter.

                “Sampai jumpa!”

 

~Bersambung~

 

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 4)

  1. Pingback: Darya Ivanova | Johnny's Entertainment Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s