[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 3)

Title: Lelaki yang Mencicit

Author: Darya Ivanova

Genre: Fantasy, Comedy, Romance

Cast: Nakajima Yuto, Inoo Kei, Fujii Ryusei, Nakajima Kento (extra), Hashimoto Ryosuke (extra), Yamazaki Kento (extra), Arai Yuko (OC)

Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)

Disclaimer: Seluruh cast bukan milik saya, termasuk OC-nya. (Dua ekor, eh orang) Nakajima, Fujii, Hashimoto, dan Yamazaki adalah milik Tuhan, keluarga masing-masing, serta Johnny’s Jimusho (Duo Nakajima, Fujii, dan Hashimoto) dan Stardust Promotion (Yamazaki). Nah, detail tentang kenapa aku nggak mau mengklaim si OC akan dijelaskan di A/N

Selamat membaca~~ Semoga terhibur dan jangan lupa komentarnya yaaa ^^

Yuto Berubah?!

Hanya dengan tiga langkah pertama, pintu masuk menuju ke jalur aurora langsung terkunci. Ini berarti Inoo baru akan kembali ketika ia telah berhasil menjalankan tugasnya. Jalur ini tampak seperti tak akan berakhir, tetapi lama kelamaan sinar-sinar di sekitarnya mulai redup. Semakin jauh, semakin redup. Hingga akhirnya, tibalah Inoo di sebuah ruangan yang berukuran sekitar 2m x 3m. Warna di sekitarnya samar-samar tampak didominasi oleh warna putih dan abu-abu muda.

Cih, ruangan ini gelap! Sempit lagi!” komentar Inoo ketika ia tiba di dunia nyata untuk pertama kalinya. Ia berusaha memelankan langkahnya dan mendekati jendela yang ditutup oleh tirai. Dari kejauhan, bulan sabit pertama muncul di langit. Hukuman akan berakhir ketika bulan purnama terbit, piker Inoo. Ketika ia berbalik arah, ia menyentuh dan memeriksa sebuah kotak berwarna hitam yang terletak di sudut ruangan.

“Benda apa ini? Mengapa titik merahnya hanya ada di satu tempat?” gumamnya penasaran. Ia pun melangkah mundur karena masih tak mengerti tentang benda yang ada di hadapannya, dan

“Ew! Aku tidak ingin memakan donat yang sudah dijilat oleh Adriana Butera!”  seloroh seorang pria yang mengenakan satu stel jas dan dasi. Inoo semakin terkejut akan keajaiban yang dilihatnya. Bagaimana mungkin, pikirnya. Kemudian tayangan yang memarodikan penyanyi muda dan berbakat Adriana Butera itu berganti.

“Aku tak tahu apa yang kulihat.”  Pandangan Inoo tertuju di layar ajaib itu – dan sepertinya ia lebih tertarik dengan yang ini ketimbang Adriana Butera. “Tunggu, apa itu?” Ketika gerakan semakin dekat dengan objek yang dicarinya, “HIYAAAAAAA!”  Wanita tadi langsung berlari terbirit-birit. Ternyata sesosok manusia dengan kulit yang hampir habis muncul perlahan-lahan.

Ew! Tayangan macam apa itu?” gumam Inoo bereaksi. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meskipun sesosok zombie muncul di layar ajaib. Alih-alih ketakutan, ia tampak penasaran akan kelanjutan kisah zombie itu. Ia mencoba duduk di lantai, tetapi,

“Ah, susah sekali duduk di atas karpet! Dan… karpet ini unik!” Tangannya mengelus permukaan karpet bulu yang didudukinya. Kemudian ia terus memundurkan posisi duduknya hingga sesuatu terasa menghentikannya. Manik matanya kini fokus dengan objek berkaki pendek dengan bagian atas yang lebar. Benda apa itu? Seandainya ini adalah meja, mengapa kakinya pendek? Jikalau ini adalah kursi, mengapa dudukannya bisa selebar itu? Pada akhirnya Inoo memilih untuk melompat ke bagian atas benda berkaki pendek itu.

“Apakah kau benar Nakajima Yuto?” tanya Inoo sembari menusukkan pedangnya, tetapi sebetulnya ia tidak benar-benar sedang bersama targetnya.

**

                Sekumpulan pria berpakaian a la koboi menyambangi Wilson’s Bar setelah mengikat kudanya masing-masing. Mereka langsung menduduki tempat mereka. Para pelayan yang melihat kedatangan mereka langsung menyiapkan sebotol bir dan lima buah gelas.  Tampaknya mereka sangat berkuasa di tempat itu.

“Aku punya satu dek kartu. Hari ini… Nakajima-san, aku menantangmu!” tantang Fujii Ryusei yang tengah mengocok kartu, sementara keempat orang lainnya masih celingak-celinguk. Di ruang itu terdapat dua orang Nakajima. Nakajima yang pertama hanya tersenyum asimetris dan tring! Maksud dari senyuman itu rupanya untuk memamerkan gigi emasnya. Namun, hal yang kontras tampak dari Nakajima yang kedua. Ia tampak gugup dan lelah di saat yang sama. Maklum, sedari tadi yang ia lihat adalah langit biru, daratan yang berwarna keemasan, dan kaktus yang tumbuh di antara daratan yang tandus.

Okay, aku akan memilih Yuto si gigi emas!” tunjuk Fujii dengan penuh kepastian. Dengan percaya diri, Yuto duduk berhadapan dengan Fujii. Yamazaki yang berdiri di antara mereka membagikan kartu. Ia menatap kedua rekannya dan tring! Ia memamerkan gigi emasnya kembali.

Tanpa dinyana-nyana, uang yang berada di sisi Yuto semakin bertambah – yang artinya uang Fujii semakin berkurang. Di tengah keseruan itu, ketiga orang yang tersisa menikmati minuman mereka.

“BRAAAK!” Tampak seorang masuk ke dalam bar dengan menendang pintunya. Di belakangnya,  pasukannya yang bertubuh kekar mengikutinya. Meskipun ia memiliki beberapa item umum yang digunakan oleh koboi, ia sama sekali tidak tampak seperti seorang cowgirl. Pandangan kelima pria itu langsung teralihkan oleh wanita berambut panjang itu. Masalahnya bukan hanya siapa orangnya yang membuat mereka terkejut, tetapi juga penampilannya yang… terlalu provokatif. Mulai dari kepalanya, ia mengenakan topi hitam yang senada dengan salah satu warna di kemeja plaid-nya yang tidak dikancing. Tak lupa dengan celana denim super mini dan sepatu botnya yang berwarna cokelat tua. Penampilannya menjadi semakin menggoda dengan pulasan warna merah di bibirnya. Setelah ia masuk, ia langsung menembak bagian langit-langit Wilson’s Bar, sementara pasukannya membanting-banting kursi dan meja terdekat.

“Yuko?!” Kelima pria yang telah terlebih dahulu berada di Wilson’s Bar itu tampak terkejut. Wanita yang bernama Yuko itu langsung melempar topi dan kemejanya ke arah para pasukannya – sehingga tampak jelas bahwa pakaiannya adalah jumpsuit mini. Yah, kelima pria yang bukan bagian dari pasukannya tak dapat memprediksi apa yang akan terjadi kepada mereka. Ternyata ia hanya berlalu meskipun kelima pria itu masih fokus memerhatikannya. Ia melompat ke atas meja dan,

KREEEEK!

Yuto langsung membuka kedua matanya. Sekelilingnya gelap. Meskipun ia menyadari bahwa kejadian itu hanyalah mimpi, ia masih tak percaya jika ia sudah kembali ke kehidupan nyata. Mengapa bisa-bisanya ia bermimpi soal kemunculan Yuko yang entah mengapa berubah menjadi Kesha jadi-jadian? Persis seperti Kesha di video Die Young.

“Huh! Dia menggunakan sihir apa, sih sehingga bisa bertransformasi menjadi Kesha?” gumam Yuto. Kini tenggorokannya terasa kering.

“APAAA?!” Yuto tak percaya akan apa yang dilihatnya saat itu. Kotatsu di ruang tengah apartemennya telah patah! “SIAPA KAU?” labrak Yuto begitu melihat seseorang berada di tempat yang tak jauh dari patahan kotatsu-nya.

“Oh, jadi anda yang namanya Nakajima Yuto?” tanya Inoo. Mengapa cara bicaranya seperti pangeran dongeng gadungan, pikir Yuto.

“Memangnya kau siapa? Cosplayer?” tanya Yuto dengan nada mengolok. Yang membuat Yuto bertanya apakah ia seorang cosplayer atau bukan adalah kostumnya. Ia mengenakan pakaian yang membuat area batang tubuhnya tampak seperti bujur sangkar karena luaran yang dikenakannya relatif lebar. Bajunya memiliki aksen tambahan yang membuat pria itu tampak mengenakan rok – sebetulnya itu adalah doublet yang terdapat di setiap belahan kanan dan kiri pakaiannya. Sebagian besar kakinya ditutup dengan kaos kaki berwarna putih. Jika diperhatikan baik-baik, pakaiannya persis seperti pakaian pria di zaman kekuasaan Dinasti Tudor*.

“Aku Inoo. Inoo Kei, utusan dari Negeri Baika ke Jepang,” jawab Inoo – masih dengan nada bicara pangeran gadungan. Negeri Baika? Memangnya tidak salah dengar, nih?

“Maaf aku tidak mengerti. Kalau tidak keberatan, apakah anda berkenan menunjukkan identitas di paspor anda?” tanya Yuto. Ini memang aneh. Masa ada orang bertamu di waktu dini hari.

“Tidak. Aku pun tidak heran jika kau tidak mengenal Negeri Baika. Negeri kami itu negeri dongeng yang sangat sulit dijamah oleh manusia di dunia nyata!” jawab Inoo. “Dan tahukah kau bahwa Yang Mulia Raja Yabu tengah murka?” imbuh Inoo dengan nada berapi-api.

“Aku tidak peduli akan itu!” jawab Yuto arogan.

Eits, mungkin kau tidak akan percaya sebelum melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Hasil amarah Yang Mulia Raja Yabu akan tiba ketika fajar menyingsing!” ujar Inoo. Yuto terus mengabaikan orang aneh itu. Ia mengambil gelasnya dan meneguk air minum.

“AAAH!” Dengan cepat Yuto meletakkan gelasnya di meja terdekat. Tangannya langsung berpindah melingkari lehernya. Seluruh bagian tubuhnya terasa sangat sakit, terutama di area tulang belakang dan mulutnya. Pada awalnya rasa sakitnya sangat terasa, tetapi kini mulai berkurang secara perlahan.  Karena sedari tadi Yuto menutup matanya, ia akhirnya membuka matanya.

“CIIIIIIIIT!”  Ia terkejut ketika melihat kedua tangannya. Ukurannya menjadi menyusut! “Apa yang telah kau lakukan? Ciiit!” tanya Yuto tak mengerti.

“Inilah hukumanmu karena menghina dongeng, anak muda! Sekarang kau mengerti kan bentuk hukumanmu dari Raja Yabu?” tanya Inoo yang telah berhasil menjalankan tugas pertamanya.

“Ciiiit! Memangnya apa telah yang kulakukan? Ciiit!” tanya Yuto tak mengerti. Bagaimana mungkin tangannya menyusut menjadi sekecil cakar seekor tikus?

“Kau telah mengeluarkan kata-kata yang tak senonoh dan menghina negeri Baika! Harus kuulang berapa kali, sih?!” Inoo juga kesal karena ia merasa telah menyebut alasan itu berulang-ulang – padahal baru dua kali.

“Ciiiit! Aku kan masih harus bekerja! Kau tidak tahu kalau saat ini divisiku dipimpin oleh nenek sihir? Ciiiiit!” protes Yuto. Memang, sekarang tim proyeknya sedang sangat sibuk karena kliennya adalah perusahaan kelas atas.

“Nenek sihir? Apakah ia juga bisa meracuni seseorang dengan apel?” tanya Inoo mencemooh.

“Ciiiit! Dia tidak membunuh orang dengan apel, tetapi cara kepemimpinannya! Bahkan yang jauh di atasnya pun tidak seketat itu. Ciiiit!” jawab Yuto dengan nada berapi-api. Sebetulnya suara Yuto juga ikut berubah seperti suara tikus, tetapi Inoo mengerti bahasa manusia dari kata-kata yang diucapkannya. “Ciiit! Sehari pun aku tidak pernah memikirkannya, tetapi mengapa bisa-bisanya aku bermimpi tentang dia?! Ciiiit!” tambah Yuto. Sekarang ia benar-benar ketakutan karena memang wanita yang tadi muncul di mimpinya itu sudah lama dikenal dengan prinsip efektif dan efisien – semua pekerjaan harus diselesaikan sesuai target yang disusunnya.

“Memangnya kau bermimpi tentang apa, tikus malang?” tanya Inoo.

“Ciiit! Jangan sebut aku tikus! Ciiit!” Namun pada akhirnya Yuto juga menyadari kalau kini ia tengah berada di dalam tubuh tikus. Secara fisik ia benar-benar tampak seperti seekor tikus.

“Tidak perlu khawatir, anak muda! Selama menjalani hukuman ini, kau dapat kembali ke tubuh manusiamu di malam hari, ketika sinar bulan muncul. Namun, ketika fajar menyingsing, kau akan kembali menjadi seekor tikus,” papar Inoo.  Yuto menjadi sedikit tenang, tetapi di satu sisi ia juga masih takut.

“Berarti kalau hujan turun atau langit berawan, aku akan kembali menjadi tikus?” tanya Yuto memastikan.

“Tepat sekali! Kau hanya akan menjadi manusia ketika langit tidak berawan dan hujan tidak turun. Jika kau berhasil menjalani seluruh syarat yang kujelaskan, kau akan kembali menjadi manusia yang normal per malam terbitnya bulan purnama,” tambah Inoo. Mengetahui bahwa ia tubuhnya dapat kembali seperti semula, Yuto pun kegirangan.

“Ciiit! Sungguh?! Apa yang harus kulakukan? Ciiit!” tanya Yuto dengan mata berbinar.

“Tidak banyak.” Karena Inoo menyebut tidak banyak, Yuto menjadi semakin kegirangan. “Kau tidak boleh keluar rumah dan bertemu dengan orang lain sama sekali sebelum bulan purnama yang sempurna terbit. Itu saja,” tambahnya. Yuto tak percaya. Mana mungkin ia dapat menjalani syarat itu?

“Ciiit! Artinya aku harus mendekam di tempat ini sampai bulan purnama terbit? Ciiit!” Inoo hanya menjawab dengan anggukan.

Ciiit! Yang benar saja?! Aku masih harus bekerja! Walaupun pekerjaanku itu fleksibel, tenggat waktunya itu gila! Ciiit!” Yuto tak menyangka bahwa sebelum malam bulan purnama terbit, ia harus mengurung diri. Bagaimana mungkin?

“Tenang saja. Aku akan membuatkanmu surat izin bahwa saat ini kau memang tidak bisa hadir ke kantor, misalnya karena… Invenire!” Inoo merapal mantra dan membuat gerakan tembakan ke arah layar televisi. Yuto tak menyangka bahwa Mr. Giggle dapat terlihat dari layar televisi.

“Ciit! Rupanya penduduk Negeri Baika juga melek teknologi, ya! Buktinya sekarang kau menggunakan Giggle untuk mencari informasi! Ciiit!” timpal Yuto.

“Aku tahu! Bagaimana kalau aku membuat surat izin bahwa saat ini kau sedang menjadi relawan di Negeri Afrika?” tawar Inoo. Hei, Afrika itu nama benua, bukan negara.

“Ciiiit! Afrika itu luas! Itu bukan negara, melainkan benua!  Ciiit!” Yuto benar-benar tak habis pikir dengan Inoo yang terlampau sok tahu.

“Oh, rupanya di dunia nyata begitu, ya! Kalau di dunia kami memang hanya ada satu negeri, yaitu Negeri Baika. Memangnya beda benua dan negara itu apa?” tanya Inoo.

“Ciiit! Sederhananya, negara itu memiliki kumpulan kota dan provinsi, sementara benua itu memiliki kumpulan negara. Mengerti? Ciiit!” Yuto menjelaskan dengan singkat. Inoo tampaknya baru mengerti konsep itu.

“Baiklah, aku akan mencari lagi informasi yang ada di negeri, eh maksudku benua Afrika,” jawab Inoo. Ia pun segera mencari informasi yang lebih tepat. Namun, sebetulnya Yuto agak kurang bersedia untuk ‘menjadi relawan’ sesuai dengan rencana Inoo. Selain karena ia tidak begitu tertarik dengan kegiatan sosial semacam itu, ia juga takut jika nanti orang-orang tahu kalau ia tidak benar-benar sedang di Afrika. Mau tidak mau, agar ia tidak terjebak oleh Inoo yang sok tahu, ia  juga harus berpikir untuk mencari alasan mengapa ia tidak ke kantor. Kalau dipikir-pikir, perusahaan periklanan tempat Yuto bekerja relatif lebih fleksibel dibanding perusahaan yang sudah terlebih dahulu berdiri. Oleh karena itu, karyawannya tidak diwajibkan untuk datang setiap hari, tetapi mereka dididik untuk berorientasi terhadap target dan klien.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kalau aku tetap berhubungan via surel? Pada dasarnya, aku hanya mengirim pesan tanpa bertatap muka.” Kini giliran Yuto yang menawarkan, sementara Inoo masih berpikir keras.

“Surel itu apa?” tanya Inoo. Jika Yuto adalah raja petir – atau keturunan Dewa Jupiter atau Dewa Zeus,  ingin rasanya ia menusuk Inoo dengan ujung petir. Padahal pada awalnya ia sangat ‘melek teknologi’.

“Surel itu surat elektronik. Surat yang hanya dapat diakses ketika hanya ada jaringan internet,” Yuto menjelaskan. Inoo pun mengangguk mengerti, dan kembali berpikir.

“Kukira di sini juga menggunakan burung merpati untuk mengirimkan surat. Di Negeri Baika, kami hanya memanfaatkan burung merpati untuk mengirim surat,” sahut Inoo.  “Tapi selama kau tidak bertemu langsung dengan manusia lainnya, itu bukan masalah,” jawab Inoo mengonfirmasi. “Sekarang, sebelum aku undur pamit, ada dua hal yang harus kau perhatikan. Satu, kau tidak boleh keluar dari tempat ini sebelum bulan purnama yang sempurna terbit. Kedua, kau juga tidak diperkenankan untuk berbicara langsung dengan manusia lainnya sampai bulan purnama yang sempurna terbit. Jika terjadi pelanggaran, aku akan kembali dan menambah hukumanmu. Sudah jelas?” Yuto hanya mengangguk akan penjelasan Inoo.

KRIIIIING! Suara ponsel terdengar. Oh, tidak! Jangan bilang itu Haruna! Baik yuto, maupun Inoo langsung berlari ke arah sumber suara. Ternyata dugaan Yuto memang tidak salah. Layar ponselnya menunjukkan adanya panggilan telepon dari Kawaguchi Haruna, sepupunya. Inoo yang memegang ponsel Yuto kini ketakutan karena di Negeri Baika ia tidak pernah memiliki ponsel seperti itu. Jangankan ponsel, telepon kawat pun tidak ada! Mereka benar-benar hanya mengandalkan burung merpati untuk berbagi informasi dengan orang yang tinggal di tempat yang jauh. Mana mungkin Yuto menjawab panggilan dari Haruna dengan suara cicitan tikus. Ia pasti tidak akan mengerti.

“Ciiiit! Aku harus bagaimana? Ciiit!”

-Bersambung-

 

*) Dinasti Tudor adalah kelompok dinasti di Kerajaan Inggris yang berkuasa di tahun 1485-1603. Salah satu rajanya yang terkenal adalah Henry VIII, dan dinasti ini berakhir ketika Ratu Elizabeth I wafat.

 

A/N: Di sini aku akan bicara cukup banyak soal OC yang sebenernya bukan 100% OC. Pada awal rencananya, aku mau itu adalah FC dari aktris dan model Araki Yuko. Well, kalo gak tahu siapa dia, dia nantinya akan jadi lawan main utama Yuto di film Bokugoha (yang katanya bakal romantis banget). Sejujurnya, begitu aku kepoin lagi soal Yuko, somehow aku langsung nge-flail sama YutoxYuko, NakajimAraki (whatever) walaupun hasilnya belom ada. Namun, karena suatu pertimbangan – dan udah minta wejangan juga – akhirnya aku memutuskan untuk mengganti sosoknya jadi OC walau nggak 100%. Nama kecilnya tetap dipertahankan, tetapi marganya dari Araki (新木)sedikit diubah menjadi Arai (新井)

Anyway, ini semua cuma fiksi kok. Karena tokoh “Yuko” udah ditandain jadi OC, kalian para pembaca pun boleh mengambil peran itu. Nah, selamat membaca ^^

 

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 3)

  1. Pingback: Darya Ivanova | Johnny's Entertainment Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s