[Oneshot] Game Of Love : Sweet Mistake

Game Of Love sequel : Sweet Mistake
Author : Dinchan
Type : Oneshot
Genre : Romance, Friendship
Rating : NC-17
Staring : Takaki Yuya (HSJ); Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer : Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; Hideyoshi Sora is mine, my original character.
Dikasih rate NC-17 karena banyak istilah-istilah kasar tapi saya gak akan kasih password karena gak ada adegan eksplisitnya, jadi bisa dibilang ini LIME tapi gak LEMON. COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily

GOL

Alunan musik pelan mengalun tepat di telingaku, membawaku sedikit rileks dan kucoba untuk menenangkan hatiku yang sedang panas. Kulihat lagi sobekan kertas-kertas yang berhamburan di atas karpet ungu kamarku, kupunguti satu persatu dan kurekatkan kembali sambil menangis tersedu-sedu. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, kedua nama itu bersanding dengan embel-embel menjadi pasangan suami istri.

Percayalah, kalau kau sudah merasa pernah merasa sakit hati, cobalah menjadi aku. Di tahun ketiga SMA, aku bertemu dengan seorang pria tampan. Dengan senyum ceria dan sifat yang aku sukai, dia balik menyukaiku dan kami pun berpacaran. Tapi diam-diam saja karena Ayah Ibuku tidak pernah mengizinkan anak-anak perempuannya pacaran sebelum lulus SMA. Setahun setelah itu, aku memergokinya dengan kakakku sendiri, mereka berciuman dan kakakku dengan bangga memberi tahuku bahwa dia dan pria yang kucintai sudah berpacaran.

Setelah itu karena aku bodoh dan cukup innocent, aku masih terus berhubungan dengan pria ini, kami sering bertemu tanpa sepengetahuan kakakku. Hingga sebelum mereka menikah, hingga aku pindah ke Rumah ini, kami masih sering bertemu. Hingga sekarang sebenarnya.

Tok Tok Tok

“Sora-nee, ada Takaki-san di luar,” terdengar suara Miki dari luar kamarku.

Aku segera menghapus air mataku dan mengeceknya di cermin sebelum ke luar dari kamar, “Terima kasih, Miki-chan,” aku turun dan menemui Yuya.

Hubunganku dan Takaki Yuya adalah hubungan mutual benefit. Tidak kami tidak pacaran, dan jikapun orang-orang menganggapnya seperti itu, kami tidak pernah keberatan. Tidak ada yang tau, ini rahasia kami berdua.

“Hey! Yuyan!” Yuya melihatku turun dan aku segera mengambilkan sekaleng bir untuknya, “Ini, seperti biasa,”

“Yeah. Arigatou, ada rencana malam ini?”

Aku menggeleng, “Di sini saja ya? Aku hampir menyelesaikan tugas akhirku, aku malas keluar,” ucapku.

Yuya mengangguk, dan membiarkan aku duduk bersandar padanya,”Kutemani ya,” ucapnya, aku tidak menjawab sebagai jawaban iya dariku.

Semua orang juga jika melihat kami bercumbu, berpelukan, saling memanggil dengan kata sayang pasti menganggap kami pacaran. Kami tidak pernah membantahnya. Tapi Yuya tau mengenai hubungan terlarangku dengan pacar slash tunangan kakakku, aku pun tau kalau Yuya hanya ingin ditemani, tidak lebih. Hubungan kami benar-benar fisik semata, walaupun belakangan Yuya sering datang untuk sekedar numpang makan hingga numpang tidur, tetap tidak mengubah status kami. Yuya masih cuek jika aku bertemu pacarku dan aku pun cuek jika Yuya tidur dengan wanita lain. Itu bukan urusanku.

“Ih, nee, jangan di sini dong!” Miki yang turun ke bawah menutup matanya dengan kedua tangannya, walaupun kentara sekali itu hanya main-main.

“Bukannya kau dan Chinen-kun sudah melakukan lebih dari ini?” Yuya terbahak-bahak setelah mengatakannya, apalagi muka Miki berubah jadi salah tingkah.

“Yuyan! Stop! Jangan mengganggu Miki-chan terus!” ucapku sambil melepaskan diri dari Yuya, “Mau sandwich?” tawarku, dan dijawab oleh anggukan dari Yuya.

“Arina dan Miharu kemana?” tanyaku setelah ke dapur, Miki sedang mengambil cemilan untuk belajar sepertinya.

Miki mengangkat bahunya, “Tadi sih Miharu-nee pulang sebentar langsung berangkat lagi dengan Inoo-san, Arina-nee kan masih kuliah,”

Aku mengangguk. Sebenarnya bertemu tiga gadis ini cukup membuatku bersyukur. Mereka menjagaku tetap waras tanpa mereka sadari. Aku memang tidak pernah cerita tentang hubungan gelapku, tapi mengobrol mereka walaupun hanya remeh temeh soal siapa yang memasak hari ini, siapa yang me laundry baju, atau hingga ke-random­-an kami mengenai boyband sampai gosip di TV membuatku sedikit waras setiap harinya. Setidaknya membuatku lupa soal sakitnya hatiku selama ini. Aku memutuskan pindah ke rumah keluarga Koizumi setelah kakakku dan pria itu bertunangan, kuharap bisa melarikan diri. Tapi nyatanya, hanya butuh hitungan bulan sampai pria itu kembali menghubungiku dan kami pun biasa bertemu di tempat rahasia kami.

Tadaima!” suara Arina, aku mengambil sandwich yang sudah selesai kubuat ke ruang tengah dan kuserahkan pada Yuya.

Okaeri, Arina,” jawab Yuya.

“Kau tidak berhak mengatakannya, kau bukan penghuni di sini,” ucap Arina ketus, entah sejak kapan hubungan mereka tidak pernah akur, aku hanya tertawa mendengarnya.

Okaeri! Mau sandwich? Ada di dapur,” ucapku.

Arigatou,nee,aku sudah makan tadi,” Arina langsung menuju ke atas, kamar kami kebetulan bersebelahan.

“Galak sekali dia,” Yuya mengatakannya sambil mengunyah, membuat beberapa tetes mayonaise keluar dari mulutnya, aku mengambil tissue dan mengelap mulutnya. Terkadang bersama Yuya memang terasa seperti bersama anak TK.

***

Kuliahku sedang padat. Bahkan sebentar lagi aku akan seminar untuk kelulusan. Karena itulah selama dua minggu ini aku tidak menyadari bahwa pernikahan neechan dengan Aiba-kun akan segera dilaksanakan. Aku belum cerita ya, nama laki-laki yang selama ini berselingkuh denganku dan akan menikah dengan kakakku bernama Aiba Masaki.

Lupakan dia. Aku punya urusan yang lebih penting, mengejar dosenku untuk bimbingan seminar. Aku menangkap sosok Yuya di ujung lorong ketika berbelok ke ruang dosen dan dia melambaikan tangannya, semenit kemudian sebuah e-mail masuk dari Yuya. ‘Tempatku malam ini?’ aku menatap Yuya yang masih duduk berseberangan denganku, lalu mengetik ‘OK’. Saat aku mengangkat dagu, Yuya balas menatapku dan mengacungkan jempolnya.

Pertemuanku dengan Yuya klise sekali. Kami bertemu di perayaan ulang tahun Arina, yang diadakan spesial oleh Yamada Ryosuke di sebuah bar private di tengah kota Tokyo. Pacar Arina yang tidak kalah kaya nya dengan gadis itu. Aku yang malam itu habis bertengkar hebat dengan Aiba, merasa harus minum untuk melupakan tangis yang baru saja aku tumpahkan setelah memohon padanya untuk putus dengan neechan, dan memilihku. Masih kuingat raut wajah Aiba yang terlihat sedih.

“Aku mencintaimu, Sora, tapi menikah dengan Aiko adalah hal yang aku butuhkan. Aku butuh sosok seperti Aiko,” dan walaupun aku sudah menangis hingga rasanya dadaku sesak sekali, Aiba hanya bisa menawarkan pelukan kasihannya, tidak lebih. Dia membutuhkan neechan, dan tidak membutuhkan aku walaupun mencintaiku? Kalau kau percaya omong kosong itu, aku bersumpah akan tertawa histeris seperti orang gila saat ini juga.

Mana ada yang percaya? Aku tidak pernah percaya cinta tidak harus saling memiliki, sebelumnya. Lalu apa gunanya mencintai tapi kau tidak bisa memilikinya seutuhnya? Setidaknya itu teoriku sebelum akhirnya menghadapi kenyataan pahit bahwa aku memang tidak bisa memiliki Aiba secara utuh.

“Ku asumsikan nilaimu jelek, atau kau patah hati,” suara maskulin itu terdengar tepat di sebelah kananku, ketika aku menengok dan menatap satu sosok paling terkenal di kampus.

Takaki Yuya.

Pria tampan dan populer. Dengan badan tinggi tegap, rambut yang tidak terlalu panjang berwarna coklat terang, style yang tidak pernah ketinggalan jaman membuatnya populer. Dan seperti kebanyakan pria tampan dan populer lainnya, maka kata playboy adalah sebuah komplementer untuk eksistensinya di dunia ini. Separuh gadis di kampus menyukainya, beberapa diantara mereka yang sedikit beruntung bisa kencan dengan Yuya. Walaupun aku tidak termasuk keduanya, baik yang suka maupun yang bisa kencan dengannya, tapi aku tidak bisa bohong bahwa Yuya memang tampan, apalagi dengan jarak sedekat ini aku bisa menyesap wangi mint deodoran Yuya dan aura maskulin yang menguar dari tubuhnya dan langsung mampir ke hidungku.

“Aku tidak tertarik berbicara denganmu,” ungkapku, bukan play hard to get, tapi sumpah malam itu aku tidak ingin bicara atau goda menggoda dengan pria manapun.

Aku bisa mendengar tawa geli dari mulut Yuya, “Aku pun tidak, tapi sepertinya kau menduduki jaketku,” saat aku berbalik, ada sebuah jaket biru tua yang tersampir di kursi bar ini dan membuatku sedikit malu.

“Maaf,” aku memberikan jaketnya dengan cepat.

Dengan gerakan tiba-tiba Yuya menarik belakang kepalaku dan sama sekali tak kuduga ketika bibir Yuya menekan bibirku, melumat habis-habisan bibirku dengan gerakan cepat dan panas. Ciuman tidak berhenti hingga beberapa detik kemudian, “Sorry, aku harus melakukan itu,”

APAAA??!! Aku memukul lengan Yuya tanpa ampun. Dicium pria tak dikenal, yeah, walaupun secara teknis aku tau Yuya, tapi aku tidak benar-benar kenal dengan pria ini.

“Maaf. Cewek itu,” Yuya menunjuk seorang gadis yang ku tau adalah kakak angkatan kami, “Mengejarku semalaman ini,”

“Lalu? Itu jadi masalahku? Lagian dia cantik kenapa gak sama dia aja?”

“Aku tidak main-main dengan tunangan orang,” kata Yuya lagi, “Jadi aku harus menunjukkan bahwa aku sudah menemukan siapa yang akan kubawa pulang malam ini,” katanya lagi.

“Aku?” mataku menatap Yuya yang masih sibuk mengikuti langkah gadis tadi yang akhirnya keluar dari bar.

Yuya tersenyum, “Hanya akting. Tenang saja,”

“Boleh saja,” entah kerasukan setan apa aku malam itu, Yuya terlihat menahan tawanya, “kenapa ketawa?”

“Tidak gadis manis, siapa namamu?”

“Hideyoshi Sora,” jawabku cepat. Tadi Yuya mencium gadis yang bahkan tidak ia ketahui namanya.

“Ngomong-ngomong namaku Takaki Yuya,” ucapnya lalu menatapku lagi, “kau terlalu manis untuk mengajakku bermalam,”

“Maksudmu aku tidak seperti itu?”

Yuya menggeleng, “Tidak, Hideyoshi-san, tidak. Aku berasumsi kau hanya sedang emosi sesaat. Dan aku minta maaf soal ciuman tadi,” sebelum beranjak sambil mengambil jaketnya dia masih sempat menepuk kepalaku, seakan aku masih kecil atau apalah.

Ketika Yuya berlalu, sebenarnya apa yang dikatakan Yuya memang benar. Aku buka tipe seperti itu. Hingga sekarang pria yang menyentuhku hanyalah Aiba. Untukku, Aiba adalah serba pertama. Cinta pertama, ciuman pertama, bahkan yang pertama benar-benar menyentuhku. Kemana saja aku? Menghabiskan tahun-tahunku dengan Aiba saja, tanpa ikatan jelas, awalnya kami masih suka berkencan walaupun hanya makan malam atau nonton di bioskop, lama-lama rutinitas bertemu kami hanya di apartemen Aiba dan setelah neechan pindah kesana, hanya di hotel saja. Seakan aku hanya pemuas nafsunya saja. Mungkin memang iya, dan amarah itu tiba-tiba membuncah dalam dadaku.

Aku berjalan ke arah Yuya, menyeret kakiku yang mulai sakit karena semalaman pakai higheels. Aku menariknya dari kerumunan temannya dan membawanya ke tengah-tengah orang sedang berdisko, “Ayo kita lakukan. Aku ingin tidur denganmu,” ucapku tanpa ada keraguan. Mungkin aku butuh orang untuk melupakan Aiba malam ini, dan mungkin Yuya adalah orangnya.

“Kau mabuk?” tanya Yuya setengah berteriak karena dentuman suara musik yang begitu gaduh.

Aku menggeleng dan terima kasih kepada pembuat higheels ini, aku bisa meraih bibir Yuya dengan bibirku hanya dengan satu tarikan lembut di belakang kepalanya. Aku memejamkan mata saat lumatan bibirku dibalas oleh pagutan penuh gairah dari Yuya, aku bisa merasakan tangan Yuya kini membungkus badanku dan menarikku sedikit lebih tinggi agar dia tidak usah terlalu menunduk. Seakan sadar ini masih di tempat umum, Yuya melepaskan bibirku.

“Kau yakin?”

Aku mengangguk, “Hanya semalam. Tidak ada ikatan apapun, have fun saja,”

Dan seperti itulah hingga kini kami melakukannya dalam balutan kata fuck buddy, friends with benefit, sebutkan apa saja istilahnya, namun kami tidak keberatan. Walaupun akhir-akhir ini Yuya sepertinya lebih sering menghabiskan waktunya bersamaku, mungkin hanya karena Yuya malas mencari teman tidurnya yang lain, sementara aku selalu bersedia menemaninya.

.

.

Seperti malam-malam sebelumnya, aku bangun dan menyadari jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku ketiduran, biasanya aku akan pergi setelah Yuya tidur. Dengan sedikit berjengit aku mengambil baju-bajuku yang berserakan tak bersalah di lantai apartemen Yuya.

“Pulang?” Yuya menggeliat sebelum menyentuh tanganku, dan akhirnya aku mengangguk, “Kau boleh tinggal sampai pagi ko,” ucap Yuya.

Peraturan tidak tertulis untuk hubungan seperti kami adalah pulang sebelum pagi, dan biasanya itu kami lakukan dengan patuh.

“Kau kenapa? Biasanya juga aku pulang,” ucapku.

Yuya sedang keras kepala dan menarikku kembali, membuat baju-baju yang susah payah aku kumpulkan itu kembali berserakan, “Ayolah, aku juga sering bermalam di rumahmu, kan? Sampai pagi?”

Tidak setelah kami berbagi gairah semalaman. Yuya hanya menginap hingga pagi jika kami hanya tidur satu ruangan, biasanya Yuya tidur di bawah, aku di kasur. Begitu saja, bukan bergumul berdua di bawah satu selimut seperti sekarang.

Yuya menarikku ke dalam pelukannya dan menutupi bagian tubuhku dengan selimut, “Tidur saja, oke?”

Kenyataannya aku tidak bisa tidur hingga beberapa jam kemudian, walaupun hangat tubuh Yuya membungkus tubuhku, aku masih melamun sambil menghitung tahi lalat yang ada di tubuh Yuya.

Saat terbangun, aku merasa terganggu oleh cahaya terang dari jendela. Ternyata Yuya sudah bangun, dan dia bisa menghirup wangi kopi dari arah luar kamar. Mungkin Yuya sudah bikin kopi. Kali ini aku benar-benar memakai bajuku dan melangkah keluar dari kamar.

“Ini kopimu,” ucap Yuya menyodorkan segelas kopi instan. Yuya tau aku tidak suka kopi hitam.

“Terima kasih,” kafein penyelamat hariku, yang akan dipadati pengerjaan tugas akhirku, “Yuyan, kau mau membantuku lagi sebelum kita benar-benar lulus?”

“Apa sih? Kita masih bisa bertemu setelah lulus tentu saja,” Yuya mengatakannya sambil berjalan ke sofa, dan mau tak mau aku harus mengikutinya.

“Kau mau menemaniku ke resepsi pernikahan kakakku?” reaksi tubuh Yuya yang mendadak duduk tegak membuatku agak kaget, “Kumohon,”

“Akhirnya dia menikahi kakakmu?” tanyanya, aku mengangguk, “Peranku apa? Pacar? Sebatas teman?” tanya Yuya lagi.

Tergoda sekali untuk membiarkan Yuya menjadi pacarnya dan mengenalkannya pada keluarganya seperti itu, tapi itu berarti berbohong pada Ayah dan Ibu, “Hanya sebagai teman, ko,” ucapku lagi.

Yuya mengangguk, “Baiklah,” dan suatu gerakan yang membuatku tiba-tiba membeku di tempat. Yuya mencium keningku.

***

Lelah sekali seharian berdebat dengan dosen. Itulah akhirnya aku lulus juga, walaupun nilainya biasa-biasa saja. Setidaknya sekarang aku sudah bebas dan mencari pekerjaan adalah targetku yang baru. Mungkin aku bisa bekerja di tempat magangku dulu, sebuah perusahaan penerbitan buku yang lumayan terkenal.

Aku membuka pintu Rumah, tidak biasanya rumah begitu sepi. Mungkin semuanya sedang sibuk dengan pacar masing-masing. Walaupun seingatku Yamada sedang di luar negri.

“NEECHAAAANN OMEDETOOUUU!!” lampu menyala dan terlihat ada Miharu, Arina, Miki, dan ada Inoo yang belakangan lengket sekali dengan Miharu, Chinen yang juga pacarnya Miki, malah ada Yamada segala, kapan bocah itu pulang? Dan…. ada Yuya, yang membawa sekotak donat berbagai rasa, dengan sebuah lilin di atasnya. Dibelakang mereka ada tulisan “Selamat Atas Kelulusannya”, layaknya orang yang merayakan ulang tahun.

“Ya ampun kalian?! Terima kasih,” aku hampir saja menangis namun kutahan, dan meniup sebuah lilin yang masih menyala, “Padahal tidak usah repot-repot,” kataku.

“Ini ide Takaki-san, nee!” seru Miharu dan mataku otomatis menatap mata Yuya yang tersenyum menatapku.

Malam itu kami minum-minum, kecuali Chinen dan Miki yang belum boleh minum alkohol, dan makan-makanan china yang mereka pesan beberapa jam sebelumnya.

“Sekarang setelah lulus, kau akan bekerja di mana?” tanya Inoo. Pria itu sudah lulus jauh sebelum aku dan Yuya lulus. Pria itu pun kini sudah bekerja di sebuah perusahaan desain besar.

Aku mengangkat bahu, “Mungkin di tempat magangku kemarin,” aku sudah menghubungi bosku, dan dia mengatakan mungkin ada tempat untukku.

“Nee, setelah lulus apakah Sora-nee akan pindah dari sini?” tanya Miki.

“Hmmm, tidak sih sepertinya,” ucapku. Bisa dibilang aku betah sekali di sini, buat apa pake pindah segala?

“Tidak akan tinggal dengan Takaki-san?” Yamada mengambil segelas bir dan meneguknya. Ternyata pemuda itu sedang liburan semester dan datang sejak kemarin, menurut cerita Arina.

Aku menatap Yuya, meminta pertolongan, “Belum saatnya. Kami masih mau tinggal sendiri-sendiri dulu,” Terima kasih Yuya, apapun yang kau minta malam ini, aku akan mengabulkannya, tentu saja aku mengucapkannya dalam hati saja.

“Horeee!!” suara Miki benar-benar nyaring hingga Chinen harus menjawil pipi Miki, “Berarti masih ada yang memasak untuk kita!!” disambut gelak tawa dari semua orang.

.

.

“Terima kasih sudah membuatkan acara ini,” semua orang sudah masuk kamar masing-masing. Chinen diusir Arina dari rumah tidak boleh menginap, begitu pula dengan Yamada, diusir oleh Miki gara-gara Chinen tidak boleh menginap, maka Yamada pun tidak boleh menginap. Sementara Inoo dan Miharu bilang masih ada acara dan kabur dari rumah. Tinggal aku dan Yuya membereskan kekacauan yang terjadi termasuk mencuci piring bekas makan tadi.

“Hanya spontan kok,” Yuya mengelap piring yang sudah selesai aku cuci dan menyimpannya kembali ke rak.

Setelah selesai beres-beres, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aku membuatkan segelas teh hangat untuk Yuya yang sudah masuk ke kamarku duluan. Yuya terlihat duduk di meja belajarku, ditemani cahaya lampu dari lampu belajarku.

Kuletakkan secangkir teh itu di samping Yuya, “Terima kasih,” katanya. Di hadapannya sebuah draft novel yang sudah kurampungkan semester kemarin sedang dibacanya. Aku berniat mengirimkannya, walaupun masih belum ada nyali.

“Jangan dibaca, bukan buku bagus, ko,” kataku namun Yuya masih saja membacanya, sehingga aku akhirnya menarik buku itu dari hadapan Yuya, namun dibalas olehnya dengan menarik pinggangku hingga kini pantatku mendarat mulus di pangkuannya.

“Aku belum selesai,” katanya mencoba merebut buku itu, namun aku belum menyerah dan menyimpannya jauh-jauh dari jangkauan Yuya, lagipula dia tidak bisa bergerak bebas dengan adanya aku di pangkuannya.

Masih sambil tertawa aku membiarkan diriku berada di pelukan Yuya yang melingkarkan tangannya di pinggangku, menempelkan kepalanya di antara rambut dan bahuku, “Jadi, kapan seminarmu?” tanyaku pada Yuya. Pria itu kini meraih jari-jari tangan kananku, menyatukannya dengan jari-jari maskulin miliknya, yang ukurannya dua kali lipat dari jariku yang mungil.

“Masih bulan depan kurasa,” katanya, hembusan napas Yuya di tengkukku membuatku tiba-tiba merinding, ini intens sekali, aku merasa harus segera beranjak namun sama sekali tidak rela kehilangan momen nyaman seperti ini.

Yuya menguap beberapa kali hingga matanya berair aku tertawa melihatnya, “Sebentar aku ambil futon dulu,” aku beranjak untuk mengambilkan alas tidur untuk Yuya namun beberapa saat kemudian Yuya pindah ke atas ranjangku dan berbaring di situ.

Urung mengambil alas tidur aku duduk di pinggir ranjang, menatap wajah Yuya yang menutup matanya, namun mata itu tiba-tiba saja terbuka.

“Sini, tidur,” Yuya menepuk bagian kosong di sebelahnya.

“Kita tidak melakukan ini Yuyan,” kataku menatapnya, tangan Yuya mampir di pipiku.

“Tidak melakukan apa? Tidur? Berpelukan saat tidur?” lalu ia terkekeh, mungkin mengingat apa yang kita lakukan sudah lebih jauh dari itu.

Yuya hanya menatapku, dan aku pun luluh, merebahkan badanku disebelahnya. Ini tidak seharusnya kita lakukan, tidak seharusnya berpelukan, kita fuck buddy bukan sepasang kekasih yang dimabuk cinta.

***

Tadaima!” masuk ke rumah pertama kalinya setelah setahun ini tanpa pulang sama sekali rasanya cukup aneh. Melihat area depan rumah yang tidak pernah berubah membuatku merasa benar-benar ada di rumah, aku kangen Ibu dan Ayah tentu saja, walaupun sering berbicara lewat telepon, tapi berbeda rasanya menatap wajah mereka saat bertemu.

Okaeri, Sora-chaaannn!!” terdengar suara langkah Ibu dan beberapa saat kemudian Ibu muncul menyambutku.

Ojamashimasu,” Yuya menunduk ke arah Ibu yang kini terlihat tersenyum menatap Yuya yang ada di sebelahku.

“Masuk, masuk, kita sedang mempersiapkan makan siang,”

“Ini Takaki Yuya, bu,”

Yuya mengikuti langkahku masuk membawakan tasku dan tasnya, namun menyimpannya di depan dan ikut masuk ke ruang tengah dimana neechan dan ternyata Ayah juga sedang menonton TV.

Aku memeluk Ayah dan neechan bergantian, setelahnya mengenalkan Yuya pada mereka. Ayah memutuskan untuk ke garasinya, mengajak Yuya ke sana.

“Jadi, di Tokyo kau menemukan pria tampan, eh?” neechan menggodaku saat kamimenyiapkan makan siang.

Entah kenapa aku tidak ingin mengatakan tidak, “Yah begitulah, mungkin aku akan menyusul neechan secepatnya, hahaha,”

“Benarkah? Ya ampunnn!!” Neechan memelukku dan aku hanya bisa terkekeh.

Ojamashimasu!” aku membeku. Itu suara Aiba.

Aku ingin kabur, tapi pasti Ibu dan neechan akan curiga jika aku tiba-tiba kabur. Lagipula ngapain dia kesini? Mengganggu saja ketenanganku. Sejak beberapa minggu lalu sejak neechan mengirimkan undangan pernikahan mereka, aku berhenti merespon semua e-mail atau telepon dari Aiba.

“Masaki-kun! Kau bawa salmonnya?” Ibu menyambut Aiba yang masuk dengan sekotak besar pendingin, pasti isinya ikan segar.

“Iya bu,” aku bisa merasakan pandangan bertanya Aiba yang langsung rasanya menelanjangi seluruh tubuhku, “Kau sudah datang?” tanyanya dengan nada suara yang sudah kembali ke mode normalnya.

Aku hanya mengangguk.

“Bu, sebelum makan siang aku dan Yuya-kun akan ke Bengkel depan!!” suara Ayahnya yang masuk kemudian disusul langkah Yuya.

“Bengkel?”

“Pacarmu ini pintar juga mengotak-atik mobil!” Ayah menepuk bahu Yuya, dan sumpah aku saja baru tau.

Yuya menggeleng, “Tidak ko, aku hanya sering membantu Ayahku juga kadang-kadang,” ucapnya, lalu matanya menyadari kehadiran Aiba di ruangan.

“Jangan terlalu lama di sana ya,” Ibu mengingatkan.

“Tenang saja Okaa-san, aku akan mengingatkan dia bahwa istrinya yang cantik sudah repot-repot memasak dan dia harus pulang cepat,” perkataan Yuya berefek besar dan membuat Ayah, Ibu, bahkan neechan tertawa karenanya.

Ayah adalah seseorang yang cukup kuno. Ayah senang menghabiskan sebagian waktunya mengotak-atik sebuah mobil tua eropa yang dia beli beberapa tahun lalu. Ayah biasanya tidak mudah akrab dengan seseorang, apalagi dengan ‘pacar-pacar’ anak perempuannya. Mengingat Ayah hanya punya dua anak perempuan, dan satu kakak laki-lakiku yang sudah menikah. Bahkan dia melarang kami untuk berpacaran hingga lulus SMA. Jadi, melihatnya tiba-tiba akrab dengan Yuya yang baru saja dia temui hari ini rasanya cukup aneh.

“Baiklah kami pergi dulu!” Ayah berjalan duluan ke depan.

Yuya menghampiriku, “Jangan bengong gitu, aku cuma pergi sebentar,” katanya dan mengecup dahiku sebelum akhirnya mengikuti langkah Ayah keluar.

Neechan dan Ibu tertawa, “Ya ampun, dia romantis sekali!!” seru neechan heboh.

Aku tidak bisa membaca ekspresi Aiba saat ini, tapi anehnya itu tidak masalah buatku. Karena yang masalah kali ini adalah aku sendiri tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini.

***

Malam itu Yuya tidur di kamar Tatsuya-nii, kakak laki-lakiku yang akan datang ke pernikahan Aiko-nee langsung dari rumahnya, Kakak tertuaku itu sudah menikah dan punya anak dua. Malam ini entah kenapa aku tidak bisa tidur karena memikirkan semua yang terjadi seharian. Makan siang yang cukup intens karena Yuya terus-terusan bersikap manis padaku. Bahkan dia memintaku untuk menyuapinya, hari ini Takaki Yuya jadi bintang di rumahku. Semua orang menyukainya. Neechan, Ayah, dan Ibu, hanya Aiba yang tentunya menolak keberadaan Yuya yang tiba-tiba jadi favorit keluarga Hideyoshi.

Aku merasakan keinginan kuat untuk menemuinya sekarang juga. Aku merindukannya untuk diriku sendiri. Kalau diingat-ingat, satu minggu ke belakang memang nyaris setiap hari kami tidur bersama hingga pagi tiba, dan tidur sendirian sekarang malah membuatku sulit tidur. Mengendap-endap keluar kamar dan masuk ke kamar Tatsuya-nii.

Yuya tidak sedang tidur, dia duduk di balkon sambil menyesap rokoknya, memang kamar Tatsuya-nii berada di lantai dua dan tepat menghadap ke balkon.

“Yuyan,” panggilku dengan suara tercekat, aku menghampirinya di balkon, “Belum tidur?” tanyaku sambil duduk tepat di sebelah Yuya yang duduk dengan alas sebuah selendang.

Yuya tersenyum saat aku duduk, tangannya bergerak merangkul bahuku, “Mengendap-endap ke kamar pria malam-malam, ahahaha, kau sendiri? Tidak ngantuk?”

Aku menggeleng, “Belum,” Yuya secara otomatis mematikan rokoknya itu kini menengadah menatap langit malam yang bintangnya hanya bertabur malu-malu karena tertutup awan malam.

“Tadi itu….”

“Tadi apa?” Yuya membiarkan aku merebahkan kepalaku di pundaknya.

“Itu… berpura-pura jadi pacarku?” tanyaku takut-takut.

Yuya terkekeh, “Sebenarnya aku tidak keberatan sih kalau kita benar-benar pacaran pun, toh beberapa bulan belakangan aku memang hanya bertemu denganmu,”

“Bohong!!” jadi dia benar-benar tidak bertemu dengan wanita lain selain aku??!!

Yuya tidak menjawab, “Kau harus tidur, besok kan acara besar,”

“Boleh aku tidur di sini?” tidur sendirian pasti tidak akan berhasil.

Yuya mendesah, “Sora-chan, ini rumah orang tuamu,”

“Kan cuma tidur!!” protesku.

“Tetap saja. Ayo aku antar ke kamarmu,” Yuya berdiri dan menarik lenganku hingga aku pun ikut berdiri. Ia menuntunku hingga ke depan kamarku, “Sudah malam. Oyasumi,” katanya dengan suara pelan.

Aku menahan tangannya, “Kumohon, tunggu sampai aku tidur?”

Yuya tidak mengiyakan atau menolakku, tapi dia ikut masuk ke kamar, “Ayo sekarang tidur,” katanya, dan aku menurut dengan berbaring di kasur sementara Yuya ikut berbaring namun menopang kepalanya dengan tangan kirinya, menatapku, “Kenapa?” dia bertanya mungkin karena aku tidak juga menutup mataku dan malah menatapnya terus-terusan.

Entah dorongan dari mana aku mengecup bibir Yuya dan segera menutup mataku, memeluk Yuya dengan sikap posesif. Yuya tidak merespon, membiarkan tanganku merayap memeluknya, aku merasakan tangan Yuya mengelus pelan rambutku, membuatku rileks. Sampai kapan kehangatan Yuya ini bertahan ya? Aku tidak ingin memikirkannya. Setidaknya untuk satu malam lagi Yuya adalah milikku.

***

Semua dekorasi bernuansa biru, pasti neechan yang memilih, termasuk gaun pendamping pengantin ini juga, sebuah gaun baby doll warna biru muda dari bahan satin yang panjangnya tidak melebihi lututku. Aku memakai sepatu heels warna putih, tidak sempat beli sepatu lain karena terlalu malas dan memikirkan seminar yang menurutku lebih penting.

Resepsi dan pemberkatan pernikahan neechan dilakukan di satu tempat. Bedanya, pemberkatannya diadakan di luar gedung, sementara respesinya di dalam ballroom gedung ini. Aku bergerak menuju ke ruang ganti neechan seperti yang diinstruksikan Ibu, neechan terlihat cantik sekali dengan balutan gaun sederhana berwarna putih, lalu ia memberikan sedikit aksen biru di ujung gaun. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan warna kesukaannya.

“Aiko-nee, cantik sekali!!” Aku memeluknya, bagaimanapun dia akan segera jadi istri Aiba, nama belakangnya akan segera berganti jadi Aiba, betapa bahagianya jika itu terjadi padaku. Tapi demi kebahagiaan neechan, aku harus rela.

“Kau juga cantik!” neechan mengambil ponselnya dan mengambil foto kami dengan kamera depannya, “Sora, aku senang kau sudah bisa melupakan Masaki,”

“Hah?” maksudnya?

Neechan kembali duduk di kursinya, “Aku tau kau menyukai Masaki, bahkan mungkin sebelum aku berpacaran dengannya,”

“Aiko-nee,” suaraku terdengar lirih, aku tidak menyangka neechan mengetahuinya.

“Aku egois, aku bahkan tidak bisa mengalah untukmu karena aku pun jatuh cinta kepadanya, aku ingin sekali bisa jadi kakak yang baik tapi nyatanya aku hanya bisa jadi kakak yang egois,” mata neechan berkaca-kaca, aku memeluknya untuk menenangkan.

“Tidak apa-apa nee, dia juga pasti tetap memilih Aiko-nee walaupun tau aku menyukainya,” yah kenyataannya memang begitu kan? Walaupun aku sudah habis-habisan mencoba menariknya ke sisiku, pada akhirnya dia memilih untuk menjadi pendamping kakakku, bukan aku.

“Terima kasih Sora,”

“Pengantinnya tidak boleh menangis, nee,” ucapku sambil tersenyum. Neechan ikut tersenyum, “Kalau begitu aku tunggu di luar ya,” neechan mengangguk dan sebelum aku keluar, Ibu masuk ke dalam ruangan neechan, mungkin memberikan nasehat-nasehat terakhir sebelum anak gadisnya melangkah ke pelaminan.

Saat keluar dari ruangan neechan, aku menangkap bayangan Yuya di ujung lorong, aku bermaksud mendekatinya ketika kulihat salah satu pintu terbuka dan sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, tanganku ditarik masuk ruangan, punggungku menabrak tembok belakangku dan baru kusadari yang melakukannya adalah Aiba.

“Masa…ki…” dan detik berikutnya bibir Aiba sudah menginvasi bibirku dengan kasar, jenis ciuman yang menuntut dan tidak peduli aku nyaman atau tidak. Aku mencoba mendorong bahunya, namun tentu saja sia-sia karena tenanganya jelas lebih besar daripada aku.

Akhirnya Aiba melepaskan ciumannya, napasnya memburu dan menatapku seolah-olah aku adalah terdakwa, dan dia berhak menghakimi aku.

“Aku mencintaimu, Sora, kalau kau memintaku untuk meninggalkan Aiko sekarang, maka akan kulakukan, apapun…” tubuh Aiba yang mepet padaku membuatku sedikit susah napas, aku mendorong bahu Aiba lagi, kini dengan kekuatan penuh dan akhirnya berhasil.

Sekarang?

Sekarang? Saat akan menikahi neechan hanya dalam hitungan jam dan dia menginginkan aku? Apa karena aku sekarang punya pacar, menurutnya, dan dia tak rela?

PLAK!

Aku menampar wajahnya, tiba-tiba saja aku merasakan amarah yang tidak bisa lagi aku bendung, “BODOH!!”

Semua sumpah serapah sudah siap aku lontarkan, namun saat itu pintu terbuka, Aiba memang tidak menguncinya tadi. Yuya berdiri di depan pintu, lalu menarik tanganku, “Jangan ganggu Sora lagi, dia milikku sekarang,” aku bisa merasakan nada marah dari suara Yuya.

Yuya menarikku keluar ruangan, aku berhenti sejenak dan kembali masuk ke ruangan itu, Yuya terlihat kaget tapi mengikuti langkahku, “Jangan sampai kau mengecewakan neechan, aku tidak akan mengampunimu jika kau menyakitinya!” setelah itu giliranku yang menarik Yuya dari ruangan, menjauhi masalah karena roman-romannya, jika dibiarkan Yuya bisa memukul Aiba. Tidak bagus, Aiba masih harus menikahi neechan dan tidak perlu tambahan hiasan di muka Aiba saat ini.

“Aku belum sempat memukulnya,” tuh kan, sudah kusangka Yuya ingin memukul Aiba.

Aku menggeleng, “Jangan, tidak perlu, tidak penting,” ucapku.

“Kau tidak apa-apa kan?” Yuya meraih daguku, mengamati setiap jengkal mukaku dan tiba-tiba dia mendaratkan sebuah kecupan di bibirku, “baiklah, sudah kuhapuskan jejaknya, sekarang kita lebih baik ke tempat acara saja,”

Takaki Yuya itu sedang berusaha membuatku jantungan apa?

***

Setelah pernikahan, aku tidak lagi ingin berhubungan dengan Aiba. Kuhapus semua kontaknya, sebelumnya aku mengucapkan perpisahan lewat e-mail. Mengatakan bahwa sekarang kami benar-benar hanya adik ipar dan kakak ipar, kuberitahu bahwa jangan lagi menghubungiku kecuali masalah neechan.

Sejak hari itu pun hatiku rasanya sudah memilih Yuya, tapi aku masih ragu, apa benar Yuya juga mencintaiku? Memang sih, dia mengatakan bahwa sah-sah saja kalau kita berpacaran sekarang, tapi aku bingung, itu benar-benar dia katakan sebagai pernyataan atau hanya main-main seperti biasa?

“Sora-nee, ambilkan saus juga yaaa!!” suara Arina dari ruang tengah. Malam ini kita sedang berpesta ala Italia, ide Arina dan Miharu, maka sepanjang sore ini aku memasak untuk mereka. Pasta, lasagna, bahkan pizza walaupun pakai roti pizza yang sudah jadi, tinggal buat isiannya saja.

“Oke!” aku kembali ke ruang tengah dengan sebotol besar minuman bersoda, empat cangkir dan saus yang tadi Arina minta.

Malam ini hanya ada para gadis, sementara pacar-pacar mereka tidak ikut, Yuya juga tidak ikut.

“Untuk Sora-nee yang sudah dapat kerja!!” seru Miki, “dan untukku yang akan segera ujian, huhuhu,”

“Untuk kita semua,” kataku dan kami menyentuhkan cangkir-cangkir berisi minuman bersoda itu sambil tertawa-tawa. Selalu aja ada hal yang menyenangkan saat kita berempat berkumpul seperti ini. Walaupun pasti diwarnai oleh pertengkaran tidak penting antara Miki dan Arina atau perdebatan soal siapa yang lebih tampan di boyband tertentu, atau aktor mana yang harusnya jadi tokoh utama suatu film, apapun itu rasanya menyenangkan ada orang-orang yang menghiburmu saat pulang ke rumah.

Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk, Yuya mengirimiku sebuah foto, ‘AKU LULUS!!’ dan fotonya dengan tanda lulusnya. Aku hanya membalas seadanya, memberikan selamat untuknya. Ponselku kembali bergetar kali ini Yuya meneleponku.

Moshi-moshi?” Miharu memberiku pandangan bertanya dan aku menjawabnya tanpa suara, ‘Yuya’ kataku.

“Kok cuma selamat sih?” suaranya protes seperti anak kecil merengek.

“Iya lah, aku harus gimana?” tanyaku.

“Uhmmm… apa gitu, datang ke apartemen sini,” memang sejak pulang dari Rumahku dan Yuya sibuk dengan seminarnya, kita praktis jadi jarang bertemu apalagi aku sudah mulai kerja, “Besok kan sabtu,” rengeknya lagi.

“Terus?”

“Ya kesini, kamu harus ke sini,” katanya lagi, masih dengan nada memaksa.

“Ngerepotin deh,” padahal memang rencananya nanti malam aku akan kesana, “Udah deh. Lain kali aja ya aku ke sananya,” Yuya terdengar menggeram, mungkin dia kesal.

“Ya sudah,” jawabnya dan beberapa saat kemudian telepon di tutup.

Aku bengong. Belum pernah Yuya marah seperti ini sebelumnya, apa karena hari ini dia lulus dan aku tidak menyambutnya seperti dulu dia menyambut kelulusanku? Padahal memang rencananya aku akan ke sana tengah malam nanti. Makanya sengaja aku buat makanan Italia lebih banyak, untuk dibawa ke apartemen Yuya.

Sudahlah. Tunggu sampai tengah malam saja, pasti Yuya mengerti.

.

.

Arina bersikeras untuk mengantarku dengan supirnya. Menurut Arina tidak aman jika berangkat tengah malam naik kendaraan umum. Aku menurut saja, lagipula lebih praktis karena bawaanku kali ini cukup banyak. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan jalanan Tokyo yang tidak pernah sepi memang masih terlihat ramai, aku turun di depan sebuah bangunan apartemen lalu menuju ke apartemen milik Yuya, setelah sebelumnya meminta supir pribadi Arina meninggalkan aku saja. Toh aku juga tidak akan pulang malam ini.

Sebelum mengetuk pintu apartemen, aku menyempatkan diri untuk menyalakan sebuah lilin dan menyimpannya di atas pizza buatanku. Akhirnya siaplah aku memencet bel apartemennya. Semoga Yuya suka semua yang aku siapkan.

Surprise!!” ketika aku berteriak dan yang membukakan pintu adalah seorang wanita dengan lingerie merah, rambut pirangnya acak-acakan.

“Yuya!! Ini ada tamu!!” serunya ke dalam dan aku mendengar langkah kaki mendekat ke arah pintu. Aku segera mematikan lilin, menutup tempat penyimpanan pizza dan memberikannya pada si rambut pirang.

“Bukan-bukan. Ini delivery service,” ucapku dan dengan terburu-buru memberikan satu tas penuh makanan padanya dan segera berlari ke arah tangga darurat.

“Siapa?” aku masih bisa mendengar suara Yuya namun kulangkahkan kakiku cepat-cepat menuruni tangga. Beruntung apartemen Yuya hanya di lantai tiga jadi hanya dalam hitungan menit aku sudah sampai di belakang gedung apartemen, air mataku tiba-tiba saja mengkhianatiku, merembes keluar tanpa aku perintah. Hatiku rasanya hancur, walaupun memang secara resmi aku dan Yuya bukanlah sepasang kekasih, bahkan aku sendiri yang mengatakannya, tapi tetap saja melihat Yuya membawa wanita lain ke apartemennya membuatku sedih.

Kulihat jalanan depan apartemen yang sepi, supir Arina pasti benar-benar sudah meninggalkan aku. Berarti aku harus berjalan ke halte dan menunggu bis tiba, semoga saja masih ada bis malam ini.

“SORAAA!!” kudengar teriakan Yuya, aku mencoba melarikan diri, tapi sialnya aku pakai higheels karena ingin tampil beda walaupun hanya pergi ke apartemen Yuya. Tidak lama Yuya sudah berdiri di hadapanku, “Berhenti!”

Aku segera menghapus air mataku, mencoba terlihat se-biasa mungkin, walaupun pasti jejak-jejak air mata terlihat jelas di mataku.

“Kenapa kabur?”

“Kamu kan sedang bersenang-senang, aku tidak mau ganggu,” ucapku tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewa dalam nada suaraku.

Dan bukannya merasa bersalah, Yuya tertawa bahkan kali ini terbahak-bahak, “Kamu cemburu, ya?”

“Bukan begitu! Aku tau kita tidak ekslusif. Maksudku…. kita tidak pacaran, tapi…. kupikir… kita…”

“Aku pacarmu. Kan sudah kubilang sejak aku ke rumahmu kemarin,”

Aku mengerenyitkan dahi, “Terus tadi siapa? Merayakan kelulusan jadi boleh bawa cewek lain?!”

Yuya meraup wajahku dengan kedua tangan besarnya dan mengecup dahiku, selanjutnya dia memelukku dan bisa kuhirup aroma rokok yang biasa dia hisap serta parfum mintnya, “Itu pacar Keito. Ingat kan? Okamoto Keito?”

“Okamoto Keito?” aku mendorong Yuya agar bisa menatap wajahnya.

“Keito sepupuku. Tadi sore dia meneleponku, mengatakan bahwa dia akan ke apartemen. Dia pegang kunciku karena kita pernah tinggal bareng saat awal-awal kuliah, ingat kan? Aku pernah cerita. Dan tadi saat aku pulang, ternyata dia datang dengan Reika, menurutnya sih pacarnya, aku sedang memarahi mereka saat kau datang tadi, dan kuminta Reika membukakan pintu,” ucapnya tanpa jeda, dan aku mencari binar kebohongan di matanya, tapi tidak kutemukan di sana, “Kalau tak percaya,” Yuya diam sebentar, mengangkat daguku untuk memberi akses pada bibirku karena detik selanjutnya Yuya sudah menyesap bibirku dengan bibirnya, walaupun tak pernah kuakui, bibir Yuya sehabis merokok itu rasanya manis, tak lama kemudian ciuman ini berubah jadi pagutan penuh gairah karena rasanya aku membalas Yuya kelewat bersemangat.

Yuya berinisiatif untuk menyudahi ciuman kami. Walaupun sepi, tetap saja ini masih di tempat umum, “Ada yang berbeda dari bibirku?” tanyanya.

Aku mengigit bibirku, memang tidak ada sih, masih sama dan malah aku merasakan desakan ingin menciumnya lagi, “Ugh… tidak tau,”

“Kau biasanya pintar mencium bauku, ada bau gadis lain di tubuhku?”

Aku menggeleng. Sial. Aku kalah telak.

“Aku memang playboy, Sora, tapi kalau aku sudah berkomitmen, aku berubah jadi buaya,” ucapnya.

“Buaya?” sepertinya alisku sudah bertautan karena bingung dengan perumpamaan Yuya.

“Kau tau kan, Buaya itu sebenarnya mahluk yang setia,”

“Maksudmu kau setia?”

Yuya mengambil ponselnya, membuka kotak masuknya dan di situ hanya pesan dari Ibunya dan dari aku, “Mau lihat yang lain?” Yuya membuka daftar panggilan terakhirnya, dan hampir semua telepon dari gadis lain tidak dia angkat, “sudah percaya sekarang?”

“Jadi sekarang kita bukan fuck buddy lagi?” tanyaku.

Yuya tertawa terbahak-bahak, lagi, kini kami sudah bergerak kembali ke apartemen Yuya, dengan tangan kami bertautan satu sama lain, “Kita akan masih jadi fuck buddy, tapi bedanya, aku juga akan jadi teman curhatmu, teman makanmu, teman belajarmu, full time kali ini, dan aku juga akan meneleponmu setiap malam, memastikan kau makan di kantor, dan mungkin aku akan lebih sering menginap di rumahmu,”

“Tidak memintaku pindah ke apartemenmu?” langkah kami berhenti di depan lift yang menuju apartemen Yuya, dia memencet tombol naik, kami menunggu lift terbuka.

“Aku tahu kau masih betah di sana, kita tunda kepindahanmu sampai kau siap, oke?”

Aku menghambur ke pelukannya, tepat saat pintu lift terbuka dan Yuya sampai harus menyeretku masuk ke dalam lift.

“Jadi, kamu datang untuk merayakan kelulusanku?” tanya Yuya masih membiarkan aku memeluk tubuhnya.

Aku mengangguk, “Semua makanan itu kamu yang siapkan?” tanyanya lagi, dan aku lagi-lagi hanya mengangguk, “Makan malamnya boleh diganti jadi makan pagi, gak?”

“Kenapa?” aku manyun, itu makanan sudah aku masak sejak sore tadi.

“Aku kepikiran makan kamu dulu malam ini,”

 

-THE END-

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] Game Of Love : Sweet Mistake

  1. magentaclover

    Halo, kak maaf baru sempet komen ^^
    suka banget sama ceritanya apalagi pembawaan tokohnya dan pas baca ff ini akhirnya udah terduga tapi part tengahnya bikin tercengang! Suka karakter Yuyanya, terlebih OC ceweknya, pokoknya manis XD sekian…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s