[Multichapter] Saigo no Kioku (Part 6) -END-

Title     : Saigo no Kioku
Chapter : 6
Author : Mikka
Cast     :
Matsumura Hokuto (Six Tones)
Kubota Miyu (i☆Ris)
Jesse Lewis (Six Tones)
Aiba Masaki (Arashi)
Genre  : Romance, Friendship
Rating : PG-13

Hokuto menggedor pintu apartemen Jesse dengan tidak sadar. Bahkan tombol bel pun tak akan berumur panjang jika terus-terusan dipencet dengan sekuat tenaga oleh Hokuto. Keringat bercucuran di wajah dan punggung Hokuto karena dia berlari dari rumahnya tanpa beristirahat. Setelah mendapatkan panggilan dari Jesse, Hokuto yang bisa menduga alasan telepon itu langsung datang tanpa bertanya.

“Kau bisa merusak pintu apartemenku!” ketus Jesse begitu pintu terbuka.

“Bagaimana keadaannya?”

Jesse menaikkan alis, “Oh, kau sudah tahu alasanku memanggilmu? Masuklah.” Pria blasteran itu begitu tenang, berbanding terbalik dengan Hokuto yang seperti kesetanan.

Hokuto masuk dan mengganti sepatu dengan sandal rumah. Dia menuju ruang tengah dan mendapati Miyu tengah duduk di lantai dekat jendela. Kepalanya menengadah menatap langit sore yang berwarna oranye.

Menyadari kedatangan Hokuto, Miyu memutar tubuhnya dan tersenyum lembut, “Selamat datang Hokuto-kun.”

Hokuto berjalan cepat dan ikut duduk, “Kau baik-baik saja?” tanyanya cemas.

Miyu tertawa, “Memangnya aku terlihat seperti apa?”

Hokuto memerhatikan Miyu dengan lebih teliti. Mata gadis itu tampak bengkak seperti baru menangis. Miyu menangis? Ada apa?

Sebelum Hokuto sempat mengeluarkan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, Miyu sudah lebih dulu berbaring.

“Ayo kalian juga baring,” ajak Miyu pada Hokuto dan Jesse.

Hokuto memandang Jesse, matanya menyiratkan rasa ingin tahu dengan apa yang sedang terjadi. Namun, Jesse hanya membalasnya dengan kedikan bahu.

“Kenapa tadi kau tidak sekolah?” tanya Hokuto saat dia sudah baring di kanan sebelah Miyu, sedangkan Jesse berada di sisi kiri gadis itu.

“Hmmm. Ada yang harus kulakukan,” jawab suara gadis yang tiba-tiba memelan itu.

Hokuto menolehkan kepalanya ke kiri dan melihat Miyu tengah menggigit bibir bawahnya sendiri seakan-akan mencoba menahan sesuatu.

“Aku akan membuat minuman,” ucap Jesse yang langsung berdiri dan berjalan ke dapur. Tampak Jesse memalingkan wajahnya saat Hokuto memandangnya. Ada apa sebenarnya dengan orang-orang ini? Sebuah firasat tidak enak terlintas di hati Hokuto.

Hokuto tersentak saat jemari Miyu yang begitu lemah menggenggam tangan Hokuto.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan…”

Hokuto menelan ludahnya, menunggu dengan tidak sabar kata-kata yang akan meluncur dari bibir Miyu. Selama beberapa menit, Miyu tampak ragu. Hokuto ikut membalas genggaman tangannya dan membuat gadis itu tersenyum.

“Aku menyukaimu…”

Tampak bulir air mata berjatuhan dari pelupuk matanya. Dia menangis sambil tersenyum. Bibir Miyu tampak bergetar, namun senyum itu tak kunjung terlepas dari wajahnya.

“Aku bersyukur bisa mengatakan ini sekarang…”

Hokuto masih tidak tahu harus mengatakan apa.

“Aku tidak mengharapkan balasan darimu… aku hanya ingin mengatakannya… sebelum terlambat…”

“Apa maksudmu?” tanya Hokuto yang telah menemukan suaranya kembali.

“Kau harus berjanji satu hal…”

“Apa?”

Miyu tersenyum lembut, “Jangan pernah menangisi yang telah terjadi… karena kau tidak akan bisa mengubah takdir yang telah berlalu.” Suaranya terdengar begitu lemah, namun Hokuto masih bisa mendengarnya.

“Aku juga…” Hokuto tersedak ludahnya sendiri. “…menyukaimu,” sambungnya.

Mata Miyu tertutup, namun bibirnya masih tersenyum, “Terima…kasih.” Genggaman jari Miyu melemah, membuat Hokuto semakin menguatkan genggaman tangannya.

“Kubota?” Hokuto duduk dan, dengan tangannya yang satu lagi, dia menyentuh pipi Miyu yang terasa dingin. Tangan Hokuto bergetar hebat ketika tak merasakan napas dari gadis itu. “Kubota!” panggil Hokuto lebih keras. Dia mengguncang bahu Miyu namun masih tidak ada respon.

Jesse datang bersama ayah Miyu, mata mereka tampak memerah, terlebih lagi ayah Miyu. Hokuto mendongak meminta penjelasan dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ayah Miyu berlutut dan menyerahkan sebuah ponsel pada Hokuto.

“Miyu ingin kau melihatnya…”

Mata Miyu tampak menghiasi layar dia memastikan kalau ponselnya sudah merekam dengan benar. Dari yang terlihat dari video, sepertinya Miyu sedang berada di rumah sakit. Setelah yakin, Miyu meletakkan ponselnya di atas meja lipat ranjangnya dan menyandarkan tubuhnya ke belakang.

            “Hokuto-kun… bagaimana keadaanmu?” Dia menarik napas dan menghembuskannya kembali, “Aku juga membuat dua video lainnya untuk Ayah dan Jesse karena begitu banyak hal yang ingin kusampaikan pada kalian…”

            Miyu terbatuk, setelah batuknya reda dia kembali menatap kamera, “Keadaanku subuh tadi memburuk hingga aku tidak bisa menepati janjiku pagi ini. Lihat, harusnya aku sekarang sedang memakan bekal buatanmu tapi… aku tidak bisa.”

            Dia memiringkan kepalanya, “Apa kau marah ketika menungguku?”

            Miyu tak kunjung melepaskan senyumnya saat berbicara, “Tubuhku… semakin sulit untuk kukendalikan. Aku bisa bergerak seperti sekarang karena obat yang diberikan oleh dokter, tetapi efeknya juga tidak akan lama…”

            “Awalnya aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa merasa sangat dekat denganmu, padahal kita belum sampai satu bulan saling mengenal. Aku hanya tahu tentangmu dari cerita Jesse lewat telepon dan email. Tetapi, setelah mengenalmu… aku melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah kupikirkan, seperti membolos, memanjat pohon dan melompati pagar, berkeliling kota Tokyo berdua, kemudian melihat bintang secara langsung. Memang tidak banyak tapi aku sangat senang saat itu. Aku selalu bertanya-tanya apakah kau juga merasa demikian saat denganku…”

            “Hingga akhirnya aku menyadari perasaanku sendiri… saat itu timbul keinginanku ingin sembuh dari penyakitku bagaimana pun caranya. Aku ingin hidup dan mengenalmu lebih jauh. Aku ingin menghabiskan hari-hariku bersamamu, juga bersama orang-orang yang kusayang. Kautahu, padahal awalnya aku sudah ingin menyerah dan mengakhiri semua ini.”

            Sebulir air mata turun dari sudut matanya dan melintasi pipi Miyu yang pucat, “Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu… Hokuto-kun…”

            Senyum yang sekejap menghilang itu kembali muncul, “Aku menyukaimu… sangat menyukaimu…”

Hokuto tak bisa berhenti menonton video yang begitu singkat itu. Dia terus-terusan menontonnya dan air matanya tetap tak bisa berhenti. Tak peduli sudah sesering apa Hokuto melihatnya.

Bintang tengah bersinar dan Hokuto tengah duduk di taman. Bunga sakura sudah mulai tumbuh, hingga tempat itu tampak begitu berbeda.

Hokuto mendongak menatap langit, menatap bintang.

Seandainya aku mati besok, aku mungkin akan menjadi bintang.

“Aku juga menyukaimu… sangat menyukaimu… Miyu.”

 

—————————————–

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s