[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 2)

Title: Lelaki yang Mencicit

Author: Darya Ivanova

Genre: Drama, Fantasy, Comedy, Romance

Rating: PG-13 to 15 (untuk kata-kata frontal)

Cast: Nakajima Yuto, Yabu Kota, Arioka Daiki, Inoo Kei, Kawaguchi Haruna (sebagai sepupu)

Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)

Disclaimer: Tokoh-tokoh di chapter ini juga tidak ada yang saya miliki. (Lagi-lagi disebutkan) Nakajima, Yabu, Arioka, dan Inoo adalah milik Tuhan, keluarga masing-masing, dan Johnny’s Jimusho, sementara Kawaguchi adalah milik Tuhan, keluarganya, dan KEN-ON. Oh ya, di chapter ini ada nama dua bocah yang bernama Kokomi dan Mitsuki. Mereka juga milik Tuhan dan keluarganya (Bapak dan Ibunya adalah KimuTaku dan Kudo Shizuka).

Warning: Ada beberapa kata yang frontal di chapter ini.

Selamat membaca~~ Komentar, kritik, dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan penulisan berikutnya ^^

Hal yang Terjadi di Dua Dunia yang Berbeda

“Yiha!” Pekik seseorang yang tengah menunggang kuda putihnya. Di punggungnya, ia membawa perlengkapan panahnya. Sekelilingnya dipenuhi dengan hamparan hijau selagi sang raja siang kembali ke peraduannya.

“Paduka Raja, tunggu!” Pasukan berbaju besi mengikutinya dari kejauhan. Aksi kejar-kejaran itu jelas menarik perhatian rakyat, terutama yang bekerja di ladang. Para penggembala lupa bahwa mereka sedang menggembalakan ternaknya. Para petani pun lupa bahwa mereka sedang menyiangi tanamannya. Perhatian mereka teralihkan oleh pasukan berbaju besi dan kuda-kuda yang ditungganginya.

“Apa kalian tadi melihat Paduka Raja Yang Mulia Yabu?” tanya seorang wanita peternak yang membawa seember susu.

“Tidak! Kami hanya melihat bala tentaranya!” ujar seorang wanita petani yang tampak sedikit cemas. Di dekatnya, seorang penggembala domba berlari bersama dua ekor anjing gembalanya. Mereka semua tampak sedang menggiring ternaknya kembali ke rumahnya. Pria itu pun tak kalah cemas dari wanita petani itu.

“Lebih baik Ibu segera pulang! Bapak khawatir jika sesuatu akan terjadi! Pastikan bahwa Kokomi dan Mitsuki juga sudah pulang!” ujarnya kembali.

“Mereka sedang belajar menjahit di rumah Nyonya West! Memangnya mengapa, Pak?” tanya wanita peternak itu penasaran. Ia sepertinya masih bertanya-tanya mengapa suaminya tampak begitu takut.

“Kan tadi sudah kubilang bahwa bala tentara kerajaan melewati kawasan ini! Bagaimana kalau nanti terjadi perang? Bapak khawatir!” Karena sang suami menyebut kata perang, wajah sang istri juga tampak sama cemasnya seperti suaminya.

“Pak, jangan berkata begitu! Negeri Baika selalu damai dan di sini adalah tempatnya akhir yang bahagia!”

**

“Kalian memang masih hidup saat ini, tetapi lihat saja nanti! Boleh jadi di malam hari nanti, salah satu dari kalian akan berada di atas meja makanku. Hahahahaha!” Seorang pemuda berperawakan jangkung tampak rapi dengan pakaiannya yang berwarna merah maroon yang dipadu dengan warna putih gading di bagian tertentu. Lengannya panjang dan bagian bahunya tampak mengembang. Celananya juga berwarna senada dengan warna bajunya, sementara sepatunya berwarna cokelat dan menutup  hampir separuh kakinya – dan berakhir di bawah lututnya. Kini padangannya tertuju pada seekor rusa jantan, dan setelah ia yakin, ia pun melepas anak panahnya.

CLING!  Gerakan sebilah pedang berhasil meloloskan rusa jantan itu dari ajalnya. Sungguh, beruntung sekali dia.

“Sial! Apa yang kalian lakukan?” Sang Raja pun menjadi sedikit kesal karena hasratnya untuk memakan daging rusa harus tertunda. Ternyata tentara yang mengganggu aktivitas berburu Raja Yabu tidak datang sendiri. “Mengapa kalian semua datang ke sini?! Apalagi dengan pakaian seperti ini!” Ya, masalahnya mereka semua mengenakan baju zirah. Kemudian, salah satu dari mereka membuka helmnya.

“Darurat! Kondisi darurat, Paduka Raja! Anda harus melihatnya sendiri jika ingin memercayai semua itu!” ujar salah satu tentara dengan nada cemas. Napasnya juga tak beraturan.

“Memangnya ada apa? Sedarurat itukah?” tanya Raja Yabu yang kini malah kebingungan dengan aksi yang dilakukan oleh tentaranya yang memaksa untuk pulang.

**

Setelah diiming-imingi oleh buruan rusa oleh salah seorang tentaranya, Raja Yabu memutuskan untuk pulang ke kastilnya. Di depan pintu, seseorang bertubuh cebol dengan pakaian terusan berwarna jingga dan topi kerucutnya yang berwarna biru tua bermotif bintang berlari mendekati Sang Raja.

“Pa… Pa… Pa… Paduka Rrr…Raja!” Namun panggilannya tidak digubris oleh Raja Yabu. Mungkinkah Sang Raja tengah mengalami perubahan suasana hati akibat niatnya yang terpaksa dibatalkan?

“Silakan!” Setelah Raja Yabu kembali ke takhtanya. Rupanya ia tidak segalak yang diperkirakan. “Ada apa, Penyihir Arioka?” tanya Raja Yabu menyambung.

“Gggggg…Gaw…ww…wat! Se…se…se…seorang mm…menghina nn…neg…geri k…ki…ki…ta! D…d…di…di…a bb..berasal da…dari B…Bu…mi y…y….yang ny…nya…ta!” lapor Penyihir Arioka yang menyerahkan bola kristal keramatnya kepada Raja Yabu. Setelah kepulan asap muncul di bagian dalam bola Kristal, muncullah sesosok pria berkemeja biru laut tengah menenggak birnya.

                  “Itulah mengapa aku membenci dongeng! Bisanya hanya membohongi pembacanya dan menjual mimpi!”

Raja Yabu masih tak percaya akan apa yang dilihatnya. “Memangnya ia tidak tahu bahwa di sini akhir yang bahagia itu selalu ada?!” Raja Yabu mengernyitkan keningnya dengan pandangan tidak suka.

                     “Persetan dengan dongeng! Persetan!”

Adegan di dalam bola Kristal pun semakin diperparah dengan kelakuan sang pria. Ia tampak membanting semua barang yang ada di dekatnya. Bahkan meja ia juga tampak menendang meja.

“Hei, kalian! Kalian tahu apa arti kata fak?” tanya Raja Yabu. “Dia terus menyebut kata-kata itu.

Apa kalian tahu arti kata itu?” Penyihir Arioka pun langsung membuat gerakan menggulung dengan kedua tangannya.

Invenire!” Penyihir Daiki merapal mantra. Well, ia hanya tidak gagap ketika sedang merapal mantra.

“Se…se…betulnya ar…tt…ti ka…ttt….ta itu a…d…da…lah seng…g….ga…m…ma d…da…lam B…Ba…Baha…sa Ing…gris. Na…m…mun, kk…ki…ni ka…ka…ta i…tu men…jjj….ja…di sss…sa…lah sss…sa…tu k…ka…ta um…pppa…t…tan!” Menunggu Penyihir Daiki untuk menyelesaikan pembicaraannya itu menguji kesabaran. Begitu Yang Mulia mengetahui arti kata yang disebut, ia pun muntab.

“SIAPA YANG BERANI MENGHINA NEGERI BAIKA YANG DAMAI?! SIAPAPUN YANG MENGHINA NEGERI BAIKA HARUS DIBERI PELAJARAN!” Emosinya memuncak.

“Lantas, apa yang akan kita lakukan, Paduka Raja?” tanya Inoo. Entah siapa dirinya, tetapi para Raja dari generasi ke generasi tampak sangat memercayainya meskipun ia bukan siapa-siapa bagi istana. Meskipun wajahnya seperti dayang-dayang, faktanya ia bukan wanita, melainkan pria. Kini Raja Yabu harus memutar otak.

“P…pa…duka, a…aku pu…ny…nya ide!” Penyihir Arioka pun mendekati Raja Yabu yang sangat ‘dermawan’ untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya. Dengan demikian, Penyihir Arioka dapat membisikkan idenya kepada Raja Yabu.

“Ide yang brilian!” Mata Raja Yabu berbinar.  “Itu pasti bisa memberikan efek jera padanya. Kalau kau tak keberatan, aku ingin tahu lebih banyak soal makhluk itu! Tolong tunjukkan!” Tangan Penyihir Arioka membentuk gerakan menggulung, dan

“Untuk kali ini Arioka jangan dulu membacakan semuanya! Inoo, tolong sebutkan semua yang kau lihat di sana!” instruksi Raja Yabu. Inoo pun bergerak cepat mendekati Penyihir Arioka dan mengangkat bola kristalnya.

“Namanya Nakajima Yuto, usia 25 tahun, pekerjaannya adalah karyawan di perusahaan periklanan. Ia tinggal di Tokyo, Jepang, dan baru-baru ini mengalami patah hati!” Inoo memaparkan penerawangan Penyihir Arioka di bola kristal.

“Jepang? Tempat apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya,” tanya Raja Yabu.

“Itu adalah salah satu negara yang ada di dunia nyata, Paduka. Wajar saja jika kita tidak mengenalnya,” jawab Inoo. Raja Yabu pun mengangguk.

**

Kling! Meskipun bel berbunyi, Yuto belum juga bangun. Mungkinkah itu karena ia mabuk berat semalam?

KRIING! Begitu suara panggilan telepon berbunyi, Yuto baru terbangun. “Siapa yang menelepon sekarang?”  Yuto melengos. Dengan malas ia mengambil ponselnya yang terus berdering.

“Halo,” jawabnya di telepon. “Apa? Kau di depan pintu sekarang? Tunggu sebentar!” Dengan cepat ia segera memasang T-Shirt dan mengganti celana pendeknya dengan celana olahraga yang disambarnya dari gantungan. Kemudian ia bergerak menuju ke dapur dan mencuci muka sebelum begerak ke arah pintu.

“Kau baru bangun?” Ternyata yang ada di depan pintu adalah Haruna, sepupunya. “Di sini berantakan sekali,” komentarnya dengan wajah datar. Harap maklum, tetapi memang beginilah sifat asli Haruna. Mungkin baru saat itulah Yuto menyadari sebrutal apa tingkahnya semalam.

“Ah, maaf. Akan segera kubereskan,” ujarnya. Kini Yuto mengembalikan posisi kotatsu yang terbalik.

“Baiklah, aku mau membantumu!” Haruna pun memungut satu per satu kaleng bir berserakan. Kemudian ia mencari kantong khusus sampah sebelum memindahkan seluruh kaleng bir dan sampah lainnya. Bisa dibilang bahwa agenda bertamu Haruna berubah menjadi membersihkan apartemen sepupu.

Perubahan agenda itu memang tidak salah lagi. Apartemen Yuto memang terlalu berantakan untuk dihuni – meskipun biasanya ia tidak seberantakan itu. Kalau saja Mai ada di sana, waktu mereka pasti akan lebih banyak terbuang hanya untuk berkata “Mai, jangan!”

“Rupanya kau mabuk sampai separah itu! Untung saja Mai tidak ikut,” ujar Haruna. Kemudian ia meneguk air yang sudah disiapkannya sendiri. “Memangnya ada sesuatu yang terjadi, sampai-sampai kau mabuk?” tanya Haruna. “Oh iya, bagaimana dengan yang kemarin?” Kini wajah Haruna menjadi berbinar karena penasaran akan hasil dari rencana lamaran Yuto.

“Gagal total!” jawab Yuto singkat, padat, dan jelas. Haruna sama sekali tak percaya akan jawaban itu. Haruna menjadi sedikit khawatir atas jawaban Yuto.

“Maksudmu?” tanya Haruna. Yuto masih membisu. Suara napasnya terdengar cukup jelas.

“Ternyata selama Mariya di Fukuoka, ia sudah bersama orang lain.” Haruna terperanjat akan fakta itu. Yuto sendiri merasa bahwa untuk menjawab pertanyaan Haruna, ia harus menahan emosinya. Meskipun Haruna tahu bahwa ia juga merasakan perasaan semacam itu, baginya tetap saja Yuto jauh lebih beruntung darinya. Itu memang tidak salah karena dengan kondisi seperti itu Yuto masih tetap menjadi dirinya sendiri, masih lebih mudah untuk fokus akan apa yang hendak dikejarnya. Namun, hal yang sama tidak berlaku bagi Haruna. Hingga saat ini ia masih tidak percaya bahwa hidupnya telah berubah 180 derajat setelah ia mengetahui bahwa perasaan kasmaran telah menghancurkan impiannya. Jika normalnya remaja berusia 19 tahun menikmati masa-masa perkuliahan, Haruna harus menelan pil pahit ketika menyadari bahwa dirinya tengah berbadan dua – di saat usia kandungannya telah memasuki minggu ke-12. Awalnya ia memang terpikir untuk melakukan aborsi, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ketika studinya memasuki tahun ketiga, ia memilih untuk cuti selama satu tahun karena kehamilannya yang semakin besar, serta kelahiran sang buah hati. Di saat itu, ia benar-benar tak ingin jauh dari anaknya. Meskipun demikian, ia tetap dapat lulus dengan nilai yang sempurna. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sesal memang hanya muncul ketika segalanya sudah terjadi. Meskipun ia telah melamar pekerjaan di berbagai instansi dan perusahaan, pada akhirnya ia selalu ditolak karena satu alasan yang sama: sudah punya anak.

“Baiklah, lupakan saja soal itu. Suatu saat, seseorang yang tepat pasti akan datang kepadamu.” Haruna berusaha menghibur sepupunya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia sendiri juga masih mendambakan kehadiran seseorang yang mau berbagi suka dan duka dengannya.

“Yuto-nii, aku ke sini tidak hanya untuk berkunjung, tetapi… aku juga ingin berpamitan denganmu.” Kini Haruna mengutarakan maksud dari kehadirannya.

“Pamit? Kau mau ke mana?” tanya Yuto tak percaya. “Mengapa mendadak sekali?” Yuto bertanya-tanya karena beberapa hari yang lalu Haruna sama sekali tidak berbicara soal dirinya yang akan pergi ke suatu tempat.

“Aku… Besok aku akan ke berangkat ke Filipina. Aku akan tinggal dan bekerja di sana selama… entahlah. Aku tak tahu apakah masa kerjaku bergantung dari kontrak kerja atau visa kerjaku nanti.” Boleh jadi kabar ini adalah kabar yang baik dan buruk bagi Haruna.

Okay. Memangnya kau bekerja di mana dan sebagai apa? Lantas bagaimana dengan Mai?” Yuto memang lebih mengkhawatirkan Mai karena jika Haruna bekerja, biasanya ia akan dititipkan di daycare atau rumah ibunya. Namun, Filipina adalah negara yang betul-betul asing bagi mereka dan mereka tidak memiliki keluarga dan kerabat yang tinggal di sana.

“Aku mengajar Bahasa Jepang di sebuah lembaga bahasa di Manila. Walaupun mungkin hasilnya tidak seberapa, aku yakin kami bisa bertahan. Biaya hidup di sana tidak semahal di sini,” jawab Haruna dengan mata sedikit berkaca. Jelas sekali bahwa ia telah mempertimbangkan berbagai hal sebelum  mengambil keputusan berat itu.

“Baiklah, semoga sukses di tempat barumu! Kalau nanti aku punya waktu, aku pasti akan ke sana, dan… Aku tidak usah menyewa tour guide lagi karena kau yang akan menjadi tour guide-ku. Hahahahaha!” Kini Yuto mulai dapat mengembalikan sifat periangnya setelah sedari tadi ia tampak gundah gulana. Kini Haruna tampak menitikkan air matanya. Ia sendiri juga takut dan khawatir karena ini adalah kali pertama bagi Mai untuk meninggalkan Jepang dan mereka akan berada di negeri asing hingga batas waktu yang tak ditentukan.

“Sejujurnya aku juga khawatir dengan Mai. Sampai sekarang ia terus bertanya sampai kapan ia harus berpisah dari neneknya, teman-temannya, dan juga Yuto-nii dan Raiya,” sahut Haruna sambil sesekali menyeka air matanya.

“Jangan khawatir. Kau itu wanita yang kuat!” Kini Yuto menghibur sepupunya yang kini dilanda kekhawatiran. “Dengar, mungkin kau masih terus berpikir “Seandainya aku tidak melahirkan Mai secepat itu”, atau “Mengapa aku harus mengalami semua ini”, tetapi mulai sekarang buanglah jauh-jauh semua pemikiran itu! Semua yang terjadi di masa lalu adalah pembelajaran untuk kita di hari ini agar di kemudian hari kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika Mai sudah cukup dewasa, mungkin tidak salah jika kau membagikan pengalamanmu itu kepadanya agar ia mengerti bahwa hidup itu sangat jauh berbeda dengan dongeng,” tambah Yuto.

“Dongeng? Mengapa kau menyebut dongeng?” tanya Haruna heran.

“Karena… karena memang begitu. Coba kau pikir, memangnya ada seseorang yang bisa langsung hidup bahagia selamanya seakan-akan masalah langsung hilang setelahnya?” tanya Yuto – entah retoris atau tidak.

“Sudah. Kita kembali ke topik. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Yakinlah, kau pasti sanggup menjalani semuanya bersama Mai. Karena kau adalah ibu yang baik, didiklah Mai agar di masa depan ia menjadi wanita yang kuat seperti ibunya,” tutur Yuto menyemangati Haruna. “Tapi saranku, sebisa mungkin buatlah ia menjauh dari impiannya untuk menjadi tuan putri di negeri dongeng,” sambungnya. Kini Haruna terdiam. Pemikiran orang yang belum menjadi orangtua memang berbeda dengan yang sudah menjadi orangtua.

“Aku tak tahu bagaimana caranya. Setiap aku mengatakan nanti – untuk urusan membeli buku dongeng atau DVD film dongeng, ia pasti merajuk. Belakangan ini ia suka menangis kalau tidak dibacakan cerita sebelum tidur yang berbau kisah para tuan putri,” ungkap Haruna. “Walaupun tipe dongengnya juga sudah kuganti menjadi fabel, ia tetap tidak mau,” imbuhnya.

“Wajar saja kalau anaknya bertingkah seperti itu, sejak awal ibunya hanya menceritakan dongeng tuan putri a la Disney, sih,” gumam Yuto. Padahal tidak semua versi asli dongeng-dongeng tersebut berakhir bahagia. Contohnya, Little Mermaid,  di mana sang putri duyung mati menjadi buih ketika ia menyadari bahwa sang pangeran menikahi wanita lain. Jikalau ada yang berbahagia, pada akhirnya pasti ada orang yang berduka di baliknya.

“Oh Tuhan! Aku lupa harus menjemput Mai sekarang! Yuto, aku pulang dulu, ya. Besok kita akan bertemu lagi.” Haruna dengan cepat mengambil tas dan perlengkapan lainnya.

“Besok aku akan mengantarmu ke Narita. Maka bersiap-siaplah!” ucap Yuto ketika Haruna memutuskan untuk pulang

**

“Nah, Inoo! Sekarang kau akan menjalankan tugasmu, niscaya kutukan yang saat ini kau derita dapat berakhir, tetapi dengan satu syarat,” ucap Raja Yabu.

“Apa syaratnya?” tanya Inoo dengan mata berbinar.

“Kau harus membuat manusia terkutuk yang bernama Nakajima Yuto itu merasakan pelajaran akibat menghina dongeng. Caranya sama seperti yang dijelaskan oleh Penyihir Arioka,” titah Raja Yabu. Inoo pun mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah siap menerima tugasnya. Raja Yabu menganggukkan kepalanya untuk memberi kode kepada Penyihir Daiki.

“Viam aperit!” Penyihir Arioka merapal mantra di antara dua pohon oak yang dikeramatkan oleh penduduk Negeri Baika. Ketika mantra telah dirapal, perlahan-lahan muncul bulatan yang warnanya menyerupai aurora. Bulatan tersebut perlahan-lahan membesar dan ketika ukurannya telah berhenti menambah, Inoo pun berjalan melaluinya.

“Semoga berhasil!” ucap Raja Yabu ketika melepas Inoo menuju ke dunia nyata.

-Bersambung-

 

 

A/N: Maaf ya kalo cara ngomongnya Daiki di sini annoying pake banget >< Awalnya gak ada rencana masukin tokoh Haruna dan membuat cara bicara Daiki jadi begitu. By the way, kalo kalian bingung sama arti kata Baika, sebetulnya itu adalah cara penyebutan kata Bajka yang artinya dongeng atau cerita dalam Bahasa Polandia.

 

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 2)

  1. strawieluphy

    di luar dugaan banget perkembangan ceritanya. kaget dan ngakak banget sama dunia yang lainnya ini, apalagi gambaran karakter-karakternya kocak! Daiki-nya agak-agak clumsy gitu ya, lucu deh XD
    ceritanya bikin keinget sama propodai #gaknyambungya
    jadi makin penasaran sama lanjutannya.

    sedikit masukan dari aku, mungkin persoalan ada dua dunia ini di”spoil” dulu di chapter 1, supaya pas masuk chapter 2 nggak bikin bingung atau kaget 🙂
    tapi overall udah bagus banget kok 😀 ganbatte buat authornya, ditunggu chapter 3!

    Reply
    1. Darya Ivanova Post author

      Huaa, belom pernah nonton Propodai :”””) saran yang pertama udah ditampung. Makasih ya udah mampir ^^
      Chapter 3 nya juga udah yaaa

      Reply
  2. Pingback: Darya Ivanova | Johnny's Entertainment Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s