[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 1)

Title: Lelaki yang Mencicit

Author: Darya Ivanova

Genre: Drama, Fantasy, Comedy (latter part), Romance

Cast: Nakajima Yuto, Nishiuchi Mariya, Tamamori Yuta (sebagai orang asing)

Theme Song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)

Disclaimer: (Sejauh ini) tokoh yang ada di cerita ini bukan milik saya. Nakajima dan Tamamori adalah milik Tuhan, keluarga masing-masing, dan Johnny’s Jimusho, sementara Nishiuchi adalah milik Tuhan, keluarganya, dan Rising Pro. Anyway, komentar sangat diharapkan untuk pembelajaran bagi saya di cerita berikutnya. Selamat membaca~~

Being Stabbed From The Back?!

“Oh… itu! Untung saja tidak terselip entah di mana!” Tangannya dengan cepat menyambar sebuah kotak kecil berwarna abu-abu, kemudian memeriksa isinya. “Sempurna!” gumamnya setelah menghela napasnya. Setidaknya ia tidak perlu khawatir karena cincin di dalamnya tidak hilang entah ke mana. Semoga ini menjadi yang pertama dan terakhir untukku, batinnya sambil menahan perasaan harap-harap cemas.

**

Reserved

Down payment sudah dilakukan atas nama Nakajima Yuto-san,” ujar seorang concierge setelah mengecek bukti pembayaran. “Silakan duduk! Jika sudah siap memesan, anda dapat langsung mengisi di sini,” tambahnya setelah meletakkan sebuah tablet yang digunakan untuk melakukan pesanan. Bukan rahasia lagi jika Mizutabe Dine merupakan salah satu restoran termahal yang terletak di Tokyo. Restoran ini tidak hanya menjual makanan super mewah dan lezat, tetapi juga layanan berupa pemandangan air. Wajar, alih-alih memiliki tembok, ruang makan restoran tersebut memiliki akuarium raksasa berisi aneka jenis satwa bahari. Mungkin banyak yang menganggap bahwa  Yuto agak kurang rasional karena memilih tempat semahal itu untuk makan malam – terutama rekan kerjanya, tetapi ia tidak peduli. Ia tak merasa bahwa dirinya adalah korban kekinian karena baru pertama kali menyambangi restoran yang baru beroperasi selama sebulan itu. Yang jelas, jawaban ya adalah yang sangat ia tunggu di malam itu. Meskipun ia belum mendengarnya, ia yakin bahwa sebentar lagi ia akan mendengar jawaban itu. Gerakan satwa bahari itu menghanyutkannya ke dalam lamunan bahwa dalam waktu yang tak lama lagi ia akan mengikat janji sehidup semati dengan pujaan hatinya. Kemudian, di masa depan ia akan tinggal di istana kecil mereka bersama para pangeran dan putri kecil yang semakin melengkapi kebahagiaan mereka. Mariya, cepatlah datang, batinnya karena gugup dan ingin segalanya berjalan sesuai ekspektasi.

“Yuto-kun!” Seorang wanita berambut sebahu menyambangi meja yang sudah dipesan Yuto. Penampilannya dipercantik dengan pakaian terusan berwarna putih dan luaran yang hanya disampirkan di kedua lengannya. Ia memandang sekelilingnya. “Ini… Ini tempat yang indah,” sambung Mariya. Meskipun ia terpana akan tempat pilihan kekasihnya,wajahnya tampak sendu.

“Bagaimana kalau sekarang kita langsung saja pesan makanannya? Kau pasti lapar, kan?” Yuto menyerahkan tablet kepada Mariya. “Kalau sudah selesai, jangan lupa tekan ‘pesan sekarang’!tambahnya. Mariya mengangguk.

“Bagaimana perjalananmu tadi? Pekerjaanmu sudah tuntas semua kan?” tanya Yuto yang lebih dari satu tahun belum bertemu dengan Mariya – setelah pertemuan terakhirnya.Selama itu Yuto sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga mereka tidak bisa bertemu. Bahkan berkomunikasi pun dapat dibilang tidak terlalu intens.

“Sebetulnya aku sudah tidak terlalu sibuk…” jawab Mariya singkat. Setelahnya, kepalanya tampak berputar-putar menatap sekelilingnya.

“Apa ada sesuatu yang membebanimu?” tanya Yuto yang menyadari bahwa Mariya kini sedang tidak fokus.

“Tidak. Hanya… Hanya… Apakah menurutmu restoran ini terlalu mewah untuk kita?” Yuto tak menyangka jika Mariya melontarkan pertanyaan semacam itu.

“Ini adalah pertama kalinya aku ke sini. Sesekali tidak apa-apa kan?” Yuto mencoba meyakinkan Mariya bahwa pilihannya tidak salah.

 

Biduan restoran kini membawakan tembang lawas milik Nat King Cole yang berjudul When I Fall In Love. Iringan musik jazz yang menenangkan seharusnya dapat menjadikan suasana menjadi semakin romantis. Meskipun demikian, Mariya masih menengok ke arah kanan, kiri, atas, dan bawah. Jikalau itu karena Mariya memiliki fobia akan air, Yuto pasti akan merasa sangat bersalah karena terlambat mengetahui fakta itu.

“Kau yakin bahwa tidak ada sesuatu yang membebanimu?” tanya Yuto lagi. Mariya hanya menggeleng.

“Ini menu pembukanya!” Seorang pelayan restoran meletakkan dua buah piring berisi salad udang dan scallop dengan saus avokad masing-masing untuk Yuto dan Mariya. Setelahnya ia menuang wine ke dalam gelas masing-masing.

“Rupanya seleramu masih sama seperti dulu,” gumam Yuto ketika melihat Mariya mulai menikmati scallop-nya.

 

Ketika sang biduan telah mengakhiri waktu jedanya, sesinya pun digantikan oleh seorang biduanita yang membawakan tembang romantis milik Christina Perri – yang kalian semua sudah tahu apa judulnya. Masih dengan iringan musik jazz. Berhubung di saat yang sama Yuto telah menghabiskan makanan pembukanya – dan begitu pula dengan Mariya, ia merogoh saku celananya. Akan tetapi,

“Mariya-chan, mengapa kau ada di sini?” Seseorang yang asing di mata Yuto menanyakan sesuatu kepada Mariya. Entah apa maksudnya. “Dan siapa kau? Mengapa kau bersama dia sekarang?” Kini pria itu bertanya menyerang Yuto. Yuto merasa bahwa momen yang sekiranya romantis malah menjadi canggung.

“Seharusnya saya yang bertanya siapa anda?! Mengapa anda memanggil pacar saya dengan nama kecilnya?” Emosi Yuto langsung meningkat. Bagaimana tidak, momen yang paling ditunggu-tunggu olehnya dapat dipastikan kacau. Apalagi di tempat umum seperti itu mereka akan bertengkar. Emosi Mariya kini ikut tersulut.

“Sudah kubilang, jauhi aku! Mengapa kau masih mengikutiku?” Mariya tampak menangis di hadapan pria aneh itu.

“Katakan padaku bahwa kau tidak mengenalnya!” ujar Yuto dengan nada tinggi. Sepertinya urat malu ketiga orang itu sudah putus sehingga mereka berani membuat keributan di tempat umum.

“Sudah berapa lama kita saling mengenal, Mariya-chan? Sejak kapan kau menyatakan cinta padaku, dan… perlukah aku menyebut yang satu itu?” tanya sang pria asing dengan tatapan mengancam. Tulang kaki Yuto seakan keropos dalam waktu sekejap. Di sudut pandangnya, dunia sedang dilanda gempa bumi global. Bagaimana mungkin hubungan 6 tahunnya bersama Mariya kandas karena hubungan jarak jauh? Hancur sudah rencana melamarnya meskipun sang biduanita terus menyanyikan tembang A Thousand Years sampai selesai. Ingin rasanya ia memecahkan akuarium agar pria asing yang merebut Mariya darinya itu mati disengat ikan pari atau menjadi santapan malam ikan hiu. Namun, tindakan itu sangat tidak sebanding akan rasa sakit yang dirasakannya. Yuto pun bergerak cepat meninggalkan mejanya.

“Berapa semuanya?” tanya Yuto dengan nada tinggi kepada kasir. Begitu angka tertera di mesin kasir, ia segera mengambil selembar uang pecahan ¥10.000,00 dan meletakkanya di atas tatakan khusus uang. “Ambil saja kembaliannya!” Setelahnya ia bergerak meninggalkan gedung restoran.

 

Ia sama sekali tak menyangka jika sesuatu yang ia khawatirkan akan terjadi. Entah disadari atau tidak, sebetulnya dirinyalah biang keladi dari semua ini.

“Yuto-kun, tunggu!” Tanpa ia sadari, Mariya mengikuti jejaknya yang sudah jauh dari restoran mewah itu. Dari jarak beberapa meter – dan terpisah oleh orang-orang yang berlalu-lalang – Yuto masih dapat melihat Mariya dengan jelas. Tak disangka ia dapat menyusulnya dengan jarak sejauh itu. Rupanya ia melepas sepatu hak tingginya.

“Yuto-kun, maafkan aku!” Meskipun Mariya meminta maaf, rasanya kata maaf sudah tidak ada gunanya. Akan jauh lebih baik jika ia mengatakan maafnya agar mereka dapat berpisah dengan baik-baik. Emosi negatifnya kini tumpah ruah, tetapi… sepertinya ia tak dapat melampiaskan amarahnya jika harus melakukannya langsung kepada Mariya.

“Mulai hari ini, kita sudah tida ada apa-apa lagi. Anggap saja ini hadiah terakhirku untukmu!” Yuto melempar kotak abu-abu yang sedari tadi disimpannya di saku ke arah kotak sampah di depan sebuah minimarket. Tanpa diketahui olehnya, Mariya benar-benar mendekati kotak sampah tersebut dan dirinya benar-benar tak menyangka akan apa yang seharusnya terjadi.

**

Begitu kakinya telah melangkah jauh dari gedung stasiun, pikiran Yuto memaksanya untuk segera melangkahkan kakinya menuju ke kombini. Ternyata malam itu ia sangat beruntung untuk urusan mabuk-mabukannya karena ia berhasil mengumpulkan berkaleng-kaleng bir untuk dikonsumsinya. Entah berapa kaleng bir yang akan ia habiskan hanya dalam jangka waktu semalam.

Gluk! Yuto menenggak bir pertama di malam harinya. Ia pun tak memiliki rencana akan berapa kaleng yang nantinya harus dihabiskan. Yang jelas, ia hanya meletakkan seluruh kaleng bir di atas meja pendek di ruang tamu sekaligus ruang tengah apartemennya.

“AAAK!” Suara sendawa terdengar sangat jelas. Begitu kaleng pertamanya sudah kosong, ia langsung meremuknya. Tiba-tiba kisah putri yang berhasil menemukan pangeran cinta sejatinya muncul di benaknya. Mungkin ini adalah akumulasi ingatannya akan kumpulan cerita dan kartun dongeng yang sering disaksikannya bersama keponakannya yang masih berusia empat tahun, Mai. Sebetulnya Mai  merupakan anak perempuan tunggal sepupunya, Haruna, dan jika bukan karenanya, ia pun sebenarnya tidak sudi membaca dan menonton film dongeng tersebut.

“Mengapa aku bisa terpengaruh oleh Mai?!” Yuto meracau sembari membuka kaleng bir keduanya. “Itulah mengapa aku membenci dongeng! Bisanya hanya membohongi pembacanya dan menjual mimpi!” tambahnya. Mai yang masih berusia empat tahun mana mungkin mengetahui kerasnya kehidupan nyata. Yang ia tahu hanyalah mereka pun akhirnya hidup bahagia selamanya. Usianya masih terlalu dini untuk mengetahui kenyataan bahwa ibunya sendiri adalah ‘korban’ dari akhir bahagia semacam itu.

“Persetan dengan dongeng! Persetan!” umpatnya sambil menjerit. Ia pun melempar kaleng bir keduanya.

“Setelah Haruna, sekarang siapa korban selanjutnya? Aku? Yang jelas, dongeng itu hanya kumpulan mimpi yang membuat orang lupa akan kerasnya kehidupan!”

-Bersambung-

 

 

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 1)

  1. strawieluphy

    INI KEREN BANGET! *caps jebol*
    awalnya aku agak bengong sama judulnya, mencicit? kayaknya harus banyak-banyak baca lagi biar tau maknanya. dan pas baca isinya, bener-bener di luar dugaan. aku nangkep banget karakter Yuto yang kayak gitu, cocok lah pokoknya.

    nggak sabar banget pingin tau lanjutannya, ditunggu chapter berikutnya!
    ganbatte! 😀

    Reply
      1. Darya Ivanova Post author

        Salam kenal juga ^^ Btw aku terbuka banget untuk kritik dan saran. Kalo ada yang “ganjil” atau kurang, sampein aja yaaa ^^

  2. Pingback: Darya Ivanova | Johnny's Entertainment Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s