[Oneshot] I Think I Love You

Title     : I Think I Love You
Genre  : Romance
Ratting : PG-15
Author : Shiina Hikari
Cast     : Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Yaotome Hikaru (HSJ), Yaotome Hikari (OC)

Terinspirasi dari lagu Byul-I Think I. Silahkan dibaca dan beri komentar desu. o((*^▽^*))o

Musim dingin di Jepang….

Namaku Nakajima Yuto. Aku bekerja di Jhonny Entertaiment sebagai member Hey! Say! JUMP. Aku sudah lama bekerja di Jhonny Entertaiment. Tepatnya sejak aku kecil. Pekerjaan ini menuntutku untuk tidak berdekatan dengan perempuan manapun. Aku selalu bersekolah disekolah khusus yang siswa laki-laki dan siswa perempuan selalu belajar terpisah. Aku punya banyak sekali teman. Yah… Menurutku itu hal yang wajar… Bisa dibilang aku mendapatkan teman karena aku punya banyak teman… Tapi… Meskipun begitu… Tidak ada satupun dari temanku yang seorang perempuan… Aku dilarang mendekati perempuan manapun selain untuk memberikan tanda tangan ataupun memberikan fan service. Jika aku melanggar hal tersebut, aku akan dikeluarkan. Tapi aku tidak dilarang untuk menyukai seseorang.

Yah… Benar… Sekarang aku sedang menyukai seseorang. Tepatnya sudah lima tahun aku menyukai gadis itu. Gadis itu adalah adik senpaiku di Hey! Say! JUMP. Yaotome Hikari. Dia adalah adik Yaotome Hikaru-senpai. Umurnya empat tahun lebih muda dariku. Hikari adalah gadis pendiam, pintar, cantik dan juga pemalu. Dia gadis yang sangat sempurna. Dan juga… Banyak sekali senpai dan kohai di Jhonny Entertaiment yang suka dengannya. Pertama kali aku bertemu dengannya saat aku pergi meminjam buku di perpustakaan daerah Harajuku. Saat itu, tanpa sengaja aku dan Hikari mengambil buku yang sama dan tanpa sengaja tangan kami bersentuhan. Dan pada saat itu, aku mulai merasa tertarik dengannya. Kupikir jika aku datang ke perpustakaan itu setiap hari pada jam yang sama, aku pasti bisa bertemu dengannya lagi.

Dan ternyata dugaanku benar. Dia selalu datang ke perpustakaan pada jam yang sama. Setiap hari aku datang kesana hanya untuk sekedar melihatnya membaca buku. Kira-kira sudah 2 minggu aku memperhatikannya di perpustakaan. Tapi tetap saja aku tidak berani untuk bertanya siapa namanya. Sampai saat itu… Hari itu aku datang ke perpustakaan bukan hanya sekedar untuk melihatnya tapi juga untuk mengerjakan tugas sekolahku. Saat aku sedang serius mengerjakan tugasku, tiba-tiba ada seseorang yang menegurku dan ternyata dia adalah Hikari.

“Su-Sumimasen… Apa kamu tidak keberatan aku duduk disini?” tanya Hikari.

“A.. Ii yo.. Eeto… Boleh aku tahu siapa nama kamu?” Aku benar-benar gugup saat berbicara dengannya.

“Hikari.”

Setelah percakapan pendek itu, Hikari tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya fokus dengan buku yang dia baca. Aku pun juga fokus mengerjakan tugas-tugas sekolahku. Saat aku mulai kebingungan mengerjakan salah satu soal, tiba-tiba Hikari menatap kearah buku pelajaranku. Dia menuliskan sesuatu diatas sebuah kertas yang kemudian kertas itu diberikan kepadaku. Dia menuliskan jawaban serta cara mengerjakan soal tersebut dengan cara yang sangat mudah untuk aku pahami.

“Arigatou.” Ucapku sambil tersenyum kearahnya.

Hikari terlihat sedikit terkejut mendengarnya. Kupikir hanya aku yang bisa membuatnya terkejut. Ternyata dia yang membuatku lebih terkejut lagi. Dia mengangguk sambil tersenyum kearahku. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya Hikari akan tersenyum kepadaku. Setelah dia tersenyum kepadaku, dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku. Besoknya aku tidak bertemu dengannya lagi di perpustakaan. Begitu juga dengan hari selanjutnya. Dan tanpa terasa sudah 1 minggu aku tidak bertemu dengannya di perpustakaan. Setelah 1 minggu menunggunya, akhirnya aku putuskan untuk tidak datang ke perpustakaan lagi.

Dua hari setelah itu, Hikaru mengatakan bahwa besok dia akan datang kemari bersama adiknya. Dia bilang adiknya ingin belajar bermain musik dan membuat lagu bersama kami. Sejujurnya aku tidak menantikannya. Karena kupikir adik Hikaru pasti memiliki sifat yang sama dengannya. Dan pasti aku yang akan menjadi sasaran pembulian mereka berdua. Selama semalaman aku berdoa dan berharap agar besok adik Hikaru tidak akan pernah datang ke tempat latihan kami.

Keesokannya Hikaru datang menggandeng seorang perempuan yang lebih pendek darinya. Gadis itu menggunakan masker sehingga kami tidak bisa memastikan seperti apa wajahnya.

“Nah teman-teman… Ini dia adikku.” Gadis itu melepaskan masker yang ia kenalkan.

“Namanya adalah….”

“Hikari-san?” potongku.

Hikari terlihat kebingungan saat aku menyebut namanya.

“Kamu kemana saja seminggu ini? Kenapa kamu tidak datang ke perpustakaan?” Saat aku mengatakan itu, barulah dia teringat siapa sebenarnya aku.

“Kamu menungguku?”

Pertanyaan Hikari yang singkat itu membuatku tersadar betapa cerobohnya aku yang secara tidak langsung mengatakan bahwa aku menunggunya. Dan ini juga membuka rahasia tentang aku yang selalu bertemu dengannya di perpustakaan.

“Wow… Sasuga Yuto… Sepertinya kamu kenal sekali dengan adikku. Sudah berapa lama kalian bertemu?” goda Hikaru.

“Ti..Tidak sering…”

“Ah… Biar aku perkenalkan ulang. Nama adikku Yaotome Hikari. Usianya beda enam tahun dariku. Tapi dia tetap menjadi adik kesayanganku.”

“Yaotome? Jadi nama margamu Yaotome?”

“U~n… Nii melarangku memberitahu margaku kepada orang lain.” Ucapnya sambil bersembunyi di belakang Hikaru.

“Sou… Sou… Bisa gawat jika Hikari ketahuan kalau dia adikku.” Sambung Hikaru.

Seandainya saat itu Hikaru tidak membawa Hikari datang ke tempat latihan kami, mungkin aku dan Hikari tidak akan bertemu lagi. Tapi… Aku juga merasa sangat menyesal, karena sekarang bukan hanya aku saja yang menyukai Hikari. Mungkin senpai dan kohaiku juga menyukainya. Seperti biasa, selama 2 jam kami akan latihan menari dan 3 jam berikutnya berlatih vokal dan instrument. Selama kami berlatih, Hikari hanya duduk terdiam diam di pojok ruangan sambil melihat kami berlatih. Sesekali dia menggambar sesuatu dibukunya untuk menghilangkan kebosanan.

“Daiki, tadi kamu ketinggalan dibagian terakhir. Perbaiki lagi gerakanmu. Dan Hikaru… Tidak seperti biasanya. Hari ini kamu tidak lupa dengan gerakannya.” ucap Kota.

“Mochiron yo… Hari ini kan aku ingin menunjukkan betapa hebatnya aku di depan adikku…” ucap Hikaru sambil tersenyum puas.

“Nii…” panggil Hikari.

“Nanda?”

“Nii wa kakkoi janai.” ucap Hikari tanpa ekspresi.

“HEEEHH???? Gomennasai Hikari… Niichan tidak akan melakukannya lagi” ucapnya sambil bersujud.

“Tanoshikatta ne… Kalau tidak ada Hikari-chan, kita tidak akan bisa melihat Hikaru seperti itu” ucap Ryosuke sambil tertawa.

“Yama-chan… Jangan macam-macam dennganku atau akan aku ambil strawberrymu.” Ancam Hikaru.

Semua member tertawa mendengar mendengar pertengkaran kecil mereka. Begitu juga dengan Hikari-chan. Melihatnya tersenyum membuatku sangat bahagia. Selama ini dia tidak pernah tersenyum saat berada di pepustakaan. Hanya satu kali aku melihatnya tersenyum dan aku kira itu menjadi senyuman terakhirnya.

“Hikaru-kun, maukah kamu melepas adikmu untukku. Dia cantik sekali. Aku jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama. Hikaru, kamu mau kan menerimaku sebagai adik iparmu?” Ucap Ryosuke sambil mencium tangan Hikari layaknya seorang pangeran.

“Iya da! Aku tidak rela adik cantikku direbut sama pangeran palsu.”

Aku terkejut melihat Yama-chan yang tiba-tiba mencium tangan Hikari-chan seperti itu. Aku saja tidak pernah terpikir melakukan hal semacam itu. Hikari hanya terdiam melihat Yama-chan. Sepertinya dia menyukai Yama-chan. Tapi… Kalau dipikir-pikir, wajar saja dia suka dengan Yama-chan. Tampan, kharismatik, memiliki suara yang bagus, memiliki hati sebaik pangeran, seorang dancer terbaik, aktor terbaik dan masih banyak lagi. Aku masih kalah jauh dari Yama-chan dalam segala hal. Ah… Aku menang dalam satu hal dari Yama-chan. Aku jauh lebih tinggi darinya. Hah… Tapi siapa yang akan peduli tentang itu.

“Su-sumimasen Yamada-san… Ini sedikit tidak nyaman.” Ucap Hikari sambil menarik tangannya kembali.

“Tidak nyaman? Lalu apa yang bisa membuat Hika-chan nyaman?” ucap Ryosuke sambil mendekatkan wajahnya ke Hikari.

Hikari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar tanpa sepatah katapun.

“Gomenne minna… Hikari memang seperti itu.” Ucap Hikaru.

Hikaru pun menceritakan tentang alasan sebenarnya Hikari datang kemari. Saat duduk dibangku SMP, Hikari pernah berpacaran dengan seorang pria. Mereka berpacaran sampai satu tahun lamanya. Tapi dua bulan setelah perayaan hari jadian mereka yang ke satu tahun, Hikari putus dari pacarnya. Pacarnya memutuskannya tanpa alasan yang jelas. Setelah merasa trauma dengan kejadian itu, Hikari meminta kepada orang tuanya agar dia dimasukkan ke SMA khusus perempuan. Selama tiga tahun, Hikari enggan mengenal pria lain selain Hikaru. Seminggu yang lalu, Hikaru membujuk Hikari untuk datang ke tempat latihan kami. Hikari selalu menolak. Karena Hikaru bersikeras membawa Hikari kesini, akhirnya Hikari menyetujuinya.

“Sejujurnya kalau aku masalah belajar musik, aku bisa mengajarinya sendiri. Tapi karena khawatir dengan keadaannya, akhirnya aku putuskan untuk membawanya kemari. Ah… Aku harus mencari Hikari. Jyaa na…” Sambung Hikaru.

Setelah Hikaru pergi keluar ruang latihan, situasi pun mulai terasa ramai kembali. Semuanya mulai membicarakan beberapa topik yang hangat belakangan ini. Beberapa dari mereka juga mengganggu satu sama lain.

“Yama-chan, seharusnya kamu tidak melakukan hal senekat itu kepada Hikari-san.” Ucap Kota.

“Aku tidak tahu jika reaksinya akan begitu. Aku benar-benar menyesal.” Ucap Ryosuke.

Aku enggan mendengar percakapan mereka sampai habis dan memutuskan keluar ruang latihan. Begitu berjalan sedikit jauh dari ruang latihan, aku melihat Hikaru memeluk Hikari yang duduk diatas pagar pembatas. Untuk sedikit memperjelas, ruang latihan kami ada di lantai 3. Pagar pembatas itu lumayan aman untuk diduduki asal berhati-hati. Mereka berdua sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Aku pun memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

“Nee Hikari… Hikari harus mulai membuka diri kepada laki-laki.”

Hikari hanya terdiam mendengar perkataan Hikaru.

“Nee… Hikari…”

“Aku… sudah merasa bahagia saat bersama Nii. Aku tidak perlu… orang lain…”

“Mou… Wakatta yo… Demo…”

Tiba-tiba keitaiku dan keitai Hikaru berbunyi. Ternyata latihan selanjutkan akan dimulai. Aku pun bergegas meninggalkan mereka agar tidak ketahuan. Sesampainya di ruang latihan, aku mengatur posisi dudukku dekat dengan Yabu. 2 menit kemudian, Hikaru pun sampai di ruang latihan. Setelah 30 menit latihan akhirnya Yabu membubarkan kami. Mattaku… Hari yang melelahkan.

Tok… Tok… Tok…

Tiba-tiba Ohno-senpai masuk ke ruangan latihan kami bersama Hikari.

“Eeto… Aku yakin kalian tidak ingin mendengar ceritanya dariku. Sore jyaa…”

Setelah itu, Ohno-senpai pergi meninggalkan ruangan latihan kami tanpa sepatah katapun.

“Hikari, nani shiteru no?”

“Nani mo… nai….”

Saat Hikaru menanyakan beberapa pertanyaan, Hikari menolak untuk menjawab. Dia hanya menunjukkan pada Hikaru sebuah buku gambar.

“Naru hodo… Hasrusnya tadi aku tidak meninggalkanmu sendirian disana.”

Karena penasaran apa yang ada di dalam buku itu, akhirnya kami mengambil dan melihat isi buku itu. Dan isinya… Kau tahu… Hikari-chan menggambar apa yang dia lihat. Hikari-chan melihat dua orang staff kami yang sepertinya sepasang kekasih. Yah… Kau tahu sendiri… Mereka bermesraan di jam istirahat… Dan untungnya Hikari tidak melihat dan menggambar inti cerita mereka.

“Hikari, niichan harus mengaransemen lagu. Hikari boleh pulang duluan.”

Hikari hanya mengangguk.

“Ah… Yuto. Bisakah kamu mengantar adikku pulang?”

“Mo-Mochiron, yo…”

Hah… Bagaimana ini? Aku benar-benar gugup. Saat aku mengantar Hikari, Hikari tidak berbicara sedikitpun. Selama kami berjalan, Hikari hanya jalan sambil menundukkan kepalanya. Tanpa terasa kami sudah melewati sebuah taman. Langkah Hikari terhenti saat melalui taman itu. Hikari berjalan mendekati sebuah ayunan. Hikari duduk di ayunan tersebut tanpa melihat kearahku.

“Senpai… boleh duduk disini.” Ucapnya sambil menunjuk kearah ayunan disebelahnya.

Setelah aku duduk disebelahnya, Hikari kembali terdiam. Tidak lama kemudian keitaiku berdering. Ada sebuah e-mail masuk dari Hikaru.

From               : yaotomehikaruxxxx@jpmail.com

Subject             : Khawatir

Bagaimana dengan adikku? Apa dia baik-baik saja? Pastikan dia tidak melihat kejadian seperti tadi.

Mou… Hikaru terlalu cemas. Bahkan dari tadi Hikari tidak berbicara sepatah

katapun. Dan selama kami berjalan dia terus-terusan melihat bawah. Seharusnya Hikaru tidak perlu cemas begitu.

BRUUKK

Aku terkejut saat mendengar suara keras tersebut. Dan saat aku melihat kearah Hikari, Hikari sudah tergeletak di tanah.

***

“Hikari-chan wa daijoubu?” tanyaku.

Hikaru hanya mengangguk sambil tersenyum kearahku. Meskipun Hikaru mengatakan dia baik-baik saja, tapi aku rasa Hikari-chan tidak baik-baik saja. Hikaru mengajakkku duduk di koridor rumah sakit. Tak lam kemudian, Hikaru bercerita tentang apa yang terjadi pada Hikari. Hikari adalah anak jenius yang diadopsi oleh keluarga Hikaru. Saat itu Hikari baru berumur 2 tahun. Namun saat itu Hikari sudah bisa berbicara dan berjalan layaknya anak umur 5 tahun. Saat itu Hikari tidak pernah mau bicara pada siapapun. Karena itu tidak ada yang tahu jika Hikari memiliki kejeniusan yang melebihi siapapun. Hikaru mengetahui hal itu saat dia mengajak Hikari bermain catur bersamanya.

Hikari memperhatikan Hikaru bermain sendiri. Setelah memperhatikan beberapa saat, Hikari pun mulai bermain catur. Dan Hikaru berhasil dia kalahkan. Saat Hikaru memujinya, untuk pertama kalinya Hikari mau bicara kepada Hikaru. Saat Hikari berusia 5 tahun, mereka pergi untuk jalan-jalan keluarga. Saat terkena sinar matahari, tiba-tiba Hikari pingsan. Dokter mengatakan kalau Hikari tidak boleh terkena sinar matahari. Jika hal itu terjadi secara terus menerus, Hikari bisa meninggal karena penyakitnya. Penyakitnya ini tidak diketahui apa namanya dan apa obatnya. Dan sejak saat itu Hikari tidak pernah lagi keluar rumah.

Hari ini adalah pertama kalinya Hikari keluar meninggalkan rumah saat pagi hari. Biasanya Hikari hanya diperbolehkan keluar saat sore menjelang malam hari. Saat Hikaru menyuruh Hikari pulang duluan, Hikaru lupa dengan penyakit yang Hikari derita. Semua itu menjelaskan kenapa Hikari selalu datang ke perpustakaan pada jam yang sama. Orang tua Hikaru tidak pernah ada dirumah. Mereka terlalu sibuk bekerja. Awalnya Hikari akan diasuh oleh seorang pelayan. Tapi Hikaru menolak dan menyanggupi mengasuh Hikari.

“Meskipun begitu, aku malah melupakan penyakitnya dan meninggalkannya. Aku benar-benar kakak yang tidak baik. Cerita yang aku ceritakan tadi di tempat latihan semuanya bohong. Hikari tidak pernah sekalipun keluar rumah ataupun mencintai siapapun.”

“Nii…”

Tiba-tiba Hikari keluar dari kamarnya dan memeluk Hikaru sambil tersenyum.

“Kenapa kamu keluar kamar?”

“Kaeru…”

Hikaru tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya tersenyum dan mengelus kepala Hikari dengan lembut. Raut wajah Hikaru terlihat sedih melihat penyakit adiknya yang tidak bisa disembuhkan. Selama perjalanan pulang, di dalam mobil Hikaru, Hikaru lebih banyak terdiam sedangkan Hikari tertidur di tempat duduk belakang.

“Dokter bilang Hikari tidak bisa bertahan lama.”

Perkataan Hikaru benar-benar membuatku kaget. Seolah-olah tubuhku dihempaskan ke bumi dengan kuat.

“Aku tahu penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Tapi kenapa harus secepat ini?”

Airmata Hikaru jatuh satu per satu saat dia menceritakan hal tersebut kepadaku. Aku juga tidak sanggup menahan airmataku. Kenapa gadis yang kucintai harus meninggalkanku?

***

Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku terus-menerus terpikir tentang keadaan Hikari.

“Yuto… Bisa kita bicara sebentar?” ucap Yabu.

Yabu membawaku ke ruang tengah tempat kami biasa berbicara satu sama lain. Di ruangan itu ada member-member lain, termasuk Hikaru. Ketika aku sudah sampai disana, Hikaru pun mulai bercerita tentang Hikari. Hikaru menceritakan semuanya, kecuali tentang penyakit Hikari. Hari ini Hikaru terlihat ceria seperti biasanya. Tapi aku tahu jika sebenarnya Hikaru sangat sedih karena kondisi Hikari yang semakin memburuk.

***

Keesokan paginya, Hikaru tidak datang latihan. Latihan hari ini dipercepat karena Hikaru tidak ada. Aku merasakan sesuatu yang buruk terlah terjadi. Begitu pulang dari tempat latihan, aku langsung mengendarai mobilku menuju rumah Hikaru. Sesampainya disana, aku melihat Hikaru membukakan aku pintu dengan wajah yang lusuh. Hikaru pun menceritakan bahwa tadi pagi Hikaru diberitahu oleh pelayannya kalau Hikari tiba-tiba pingsan di rumahnya. Hikaru pun segera pergi menuju rumahnya secepatnya. Saat dokter selesai memeriksa Hikari, Hikaru diberitahu bahwa Hikari koma. Dokter pun segera memberi perwatan di rumah Hikaru.

Saat Hikaru selesai bercerita, aku langsung menuju kamar Hikari. Hikari terbaring lemah di kamarnya. Denyut jantungnya juga sangat lemah. Di tubuhnya dipasang berbagai alat untuk membantunya agar tetap hidup. Aku hanya bisa terdiam sambil memegang tangannya. Tangannya terasa sangat dingin seolah-olah dia tidak hidup. Tak terasa airmataku pun jatuh dan mengenai tangannya. Pria macam apa aku ini! Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat orang yang aku cintai terbaring lemah dan membutuhkan pertolongan. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan berdoa untuk kesembuhannya.

***

Sudah 1 bulan Hikari tidak terbangun dari komanya. Dan sudah 1 bulan Hikaru tidak ikut latihan. Setiap hari aku selalu datang untuk melihat keadaan Hikari. Kondisinya sedikit demi sedikit membaik. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia akan sadar. Kondisi Hikaru juga terlihat tidak baik. Kami pun harus menunda beberapa jadwal konser bulan ini karena Hikaru tidak bisa tampil dengan keadaan seperti ini. Sesekali member lain datang untuk menjenguk Hikari. Tapi ketika ditanya apa penyakitnya, Hikaru tidak menjawab. Dia hanya menangis saat ditanyai tentang penyakit Hikari.

Hikari… Berapa lama lagi kamu akan sadar? 1 bulan lagi? 2 bulan? 1 tahun? Atau 10 tahun lagi? Apa kamu tidak melihat betapa menyedihkannya kondisi kakakmu? Apa kamu tidak lihat betapa sedihnya aku melihatmu? Aku hanya bisa menangis sambil memegang tangannya dengan erat.

***

Sudah dua minggu Hikaru kembali ikut latihan. Kami berusaha mengejar deadline beberapa penampilan yang sempat kami tangguhkan. Selama Hikaru berada diluar rumah, Hikaru menyuruh pelayan terpecayanya untuk mengurus Hikari. Tapi tetap saja. Selama beberapa penampilan, Hikaru tidak bisa tersenyum tulus dihadapan semua fans kami. Bahkan sebelum kami tampil, terkadang Hikaru menangis di ruang ganti karena teringat Hikari.

***

Tiga bulan sudah berlalu, belum ada tanda-tanda Hikari akan membuka matanya. Dan Hikaru masih saja larut dalam kesedihan. Begitu juga denganku. Dokter juga sudah mulai khawatir kalau Hikari tidak akan pernah bangun kembali.

“Yaotome-san… Sudah saatnya anda merelakan adik anda pergi.” Ucap dokter.

Apa itu? Kata-kata macam apa itu? Dia bilang merelakan? Apa sudah separah itu keadaannya?

“Kami akan melepaskan alat penunjang kehidupannya secepat mungkin.”

Dame da. Kenapa Hikaru diam saja? Kenapa dia tidak mengatakan sesuatu? Apa dia akan membiarkan Hikari pergi begitu saja?

“Maaf kami sudah melakukan ya terbaik.”

“YAMETE!!! Hikaru-kun, apa kamu sudah gila? Kamu ingin membiarkannya pergi begitu saja?”

Hikaru hanya diam sambil menangis.

“Hikaru-kun. Sadarlah! Aku tidak akan pernah membiarkan adikmu pergi begitu saja!”

Hikaru tertegun. Dia pun memohon kepada dokter untuk membiarkan alat penunjang kehidupan itu terus terpasang.

***

Seminggu setelah insiden itu, aku merasa diriku seperti mayat hidup. Aku mulai merasa begitu tertekan karena tidak bisa melakukan apapun agar Hikari sadar. Malam harinya, aku datang ke rumah Hikaru karena Hikaru sedang melakukan rekaman, karena itu aku menggantikannya untuk menjaga Hikari. aku melihat Hikari hilang. Dia sudah tidak berada di tempat tidurnya. Aku mencarinya keseluruh ruangan. Tapi tetap saja tidak ada. Saat aku sudah menyerah mencarinya, tiba-tiba ada gadis memakai dress putih berdiri di depanku.

“Hikari?”

Aku langsung lari memeluknya.

“Syukurlah kamu sudah sadar. Aku percaya kamu pasti akan sadar kembali.”

Hikari hanya diam sambil membalas pelukanku. Dia berusaha menenangkanku. Tapi airmataku benar-benar tidak bisa berhenti keluar. Aku benar-benar bersyukur Hikari sadar. Aku bersyukur karena menghentikan dokter melepaskan alat bantu Hikari.

“Nakanaide. Ima wa, watashi wa daijoubu.” Ucapnya sambil tersenyum.

Hangat. Apakah pelukan Hikari selalu sehangat ini? Padahal selama 3 bulan ini aku hanya bisa merasakan betapa dinginnya tangannya. Kenapa pelukannya bisa begitu hangat? Rasanya aku tidak ingin melepaskannya. Aku merasa jika sekarang aku melepaskan pelukannya, dia akan pergi meninggalkanku lagi. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Aku tidak ingin kehilangan orang yang kucintai lagi.

***

Setelah aku puas menangis di pelukannya, aku pun segera menghubungi Hikaru. Hikaru pun segera pulang ke rumahnya.

“Yuto-kun… Arigatou… Hontouni arigatou…” ucap Hikaru sambil menangis.

“Nii… Besok kita jalan-jalan ya? Aku ingin naik bianglala.” Ucap Hikari dengan semangat.

“Eh? Kamu kan baru sembuh. Kamu tidak boleh kemana-mana.”

Saat Hikari ingin berjalan kearah Hikaru, tiba-tiba Hikari terjatuh. Hikari memang tidak apa-apa.

“Nii… Kenapa kakiku tidak mau bergerak?”

Kami pun langsung membawa Hikari ke rumah sakit. Dokter mengatakan Hikari mengalami kelumpuhan. Hikari tidak bisa berjalan lagi. Padahal baru saja kami merasa senang karena Hikari sudah sadar. Tapi tuhan sudah memberikan cobaan lainnya kepada Hikari. Kenapa tuhan tega sekali kepada Hikari? Kenapa tuhan selalu memberi Hikari cobaan yang berlebihan?

“Nii… Aku kenapa?”

Rasanya aku tidak tega mengatakan kebenaran bahwa Hikari lumpuh. Hikaru dan aku hanya bisa terdiam.

“Nii… Aku lumpuh ya? Apa aku tidak akan pernah bisa berjalan lagi?”

Hikaru agak terkejut dengan perkataan Hikari.

“Gomen ne… Gomennasai… Aku tidak bisa menjadi kakak yang baik. Maaf aku tidak menjagamu dengan baik. Kalau seperti ini, apa yang bisa aku katakan kepada papa dan mama…” ucap Hikaru sambil menangis di dalam pelukan Hikari.

“Daijoubu… Nii tidak perlu merasa bersalah. Semuanya bukan salah Nii.”

Aku pun menangis mendengar perkataan Hikari. Tapi Hikari tidak menangis. Dia malah tersenyum. Nee… Kenapa kamu tidak menangis? Bukankah kamu tidak bisa berjalan lagi? Seharusnya Hikari menangis.

***

Hikaru pun membelikan Hikari sebuah kursi roda. Tapi Hikari tidak mau memakainya.

“Eh??? Naze?”

“Aku mau Nii yang menggendongku. Itu hukuman.”

“EH????”

“Tidak kok. Aku hanya bercanda.”

***

Sudah 2 minggu Hikari sembuh. Sekarang Hikari sudah lebih terbuka kepada semua member Hey! Say! JUMP. Termasuk juga kepada Yama-chan. Rasanya hubungan mereka menjadi lebih dekat. Terlebih lagi Yama-chan selalu memberikan perhatian lebih kepada Hikari.

“Nee Hika-chan… Kore. Oishii yo…” ucap Yamada sambil menyuapkan Hikari es krim strawberry.

“Un… Oishii yo…” ucap Hikari sambil tersenyum.

Mou… Yama-chan membuatku iri saja. Seharusnya aku yang memperlakukan Hikari seperti itu.

“Semua member Hey! Say! JUMP disuruh berkumpul di kantor om Jhonny.” Ucap salah satu staff.

“Hikari tunggu disini saja ya?” ucap Hikaru.

Hikari hanya mengangguk dan kembali memeluk bonekanya. Kawaii… Hanya kata-kata itu yang terlintas pikiranku saat melihatnya. Dan akhirnya kami pun berakhir dengan penyusunan schedule tampil untuk 2 minggu ini. Menunggu mereka menyusun schedule benar-benar membuatku bosan. Akhirnya aku memutuskan untuk melarikan diri dengan izin ke kamar mandi. Setelah berhasil melarikan diri, aku pergi menuju ruang latihan. Tujuanku hanya satu. Tentu saja agar aku bisa berduaan bersama Hikari. Sesampainya aku di ruang latihan, aku melihat Hikari sedang bermain piano sambil bernyanyi. Lagu yang sangat sedih. Sampai aku hampir menangis mendengarkannya.

Setelah Hikari selesai menyanyi, aku pun segera menghampirinya. Ketika aku sampai di depannya, aku melihat dia menangis.

“Kotae Nai Kotoba. Senpai juga menangis mendengarkan lagunya?”

Ternyata tanpa terasa airmataku sudah membasahi pipiku.

“Aku tidak menangis. Ini hanya keringat.” Ucapku sambil menahan malu.

“Tidak perlu malu begitu. Lagipula senpai sudah pernah menangis dihadapanku. Ingat tidak? Saat aku siuman, senpai menangis lama sekali.”

Aku hanya bisa tertunduk malu. Sementara Hikari terus-terusan menertawakanku. Tiba-tiba aku dipeluk oleh Hikari. Dia berdiri dari kursi rodanya dan memelukku. Saat kakinya tidak sanggup menahan tubuhnya lagi, aku membalas pelukannya dan membuat dia tetap berdiri. Pelukannya terasa hangat. Sama seperti hari itu. Hikari kembali berusaha berdiri dengan kedua kakinya.

“Senpai… Aku sudah tidak kuat lagi berdiri.”

“Daijoubu. Aku akan menahan tubuhmu. Saat Hikari tidak kuat berdiri lagi, aku akan membantumu. Saat Hikari terjatuh, aku akan menolongmu. Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh ataupun sedih karena penyakitmu.”

Tiba-tiba member lainnya membuka pintu ruang latihan. Kami berdua terkejut dan langsung melihat kearah mereka.

“Ya ampun. Pantas saja kamu tidak kembali ke kantor om Jhonny. Ternyata kamu kesini. Hikari jangan dekat-dekat Yuto-kun. Nanti kamu bisa hamil.” Ucap Hikaru sambil menarik Hikari dari pelukanku.

Tiba-tiba Hikari terjatuh saat Hikaru menariknya.

“Hikari. Gomennasai. Niichan tidak tahu jika Yuto-kun menahanmu agar tidak jatuh.”

“Daijoubu. Nii tidak perlu memperlakukanku berlebihan. Lagipula, aku dan Yuto-senpai tidak melakukan apapun.”

“Tapi tadi kalian….”

“Nii. Itu hanya sebuah pelukan. Bukankah itu hal yang biasa?”

Tiba-tiba Yama-chan menarikku ke pojok ruangan.

“Yuto-kun, kamu bermaksud bersaing denganku ya?”

Bersaing? Bukankah kita semua sama. Sama-sama menyukai Hikari? Bahkan tidak menutup kemungkinan juga kalau Hikaru-kun menyukai Hikari.

***

Malamnya saat kami di asrama, Yabu-kun mengumpulkan kami di ruang tengah. Saat itu Hikari sedang tidur di sebuah kamar yang kami sediakan khusus untuknya.

“Yuto-kun, bisa kamu jelaskan kejadian siang tadi?” tanya Yabu.

“Aku hanya membantunya berdiri. Hikari terjatuh saat akan menghampiriku.”

“Aku tidak percaya kalau dia hanya menolong Hikari.” Ucap Yamada.

“Yama-kun hentikan. Kita tidak perlu berkelahi karena hal sepele sepeti itu.” Ucap Chinen

“Baiklah. Akan aku perjelas. Jadi siapa saja yang menyukai Hikari? Dengan begini tidak ada lagi perkelahian seperti ini lagi.”

“Sudah jelas aku menyukai Hikari sejak pertama dia datang ke tempat latihan kita.” Tukas Yamada.

“Ada lagi? Tidak perlu merasa takut mengungkapkannya hanya karena Yama-chan berkata begitu.” ucap Yabu.

Semua member mengangkat tangan kecuali Hikaru, aku dan Yabu.

“Yuto-kun? Bagaimana denganmu?” tanya Yabu.

“Aku…Sudah menyukainya sejak bertemu dengannya di perpustakaan.”

“Yuto-kun jika sejak awal kamu sudah mengatakannya, aku tidak akan memojokkanmu seperti ini. Gomen ne…” ucap Yamada sambil menunduk.

“Aku akan bersaing denganmu secara jujur.” Ucapnya lagi.

Karena masalahnya sudah selesai, kami pun memutuskan untuk pergi tidur. Besok adalah hari dimana kami akan syuting iklan terbaru.

***

Jam 1 malam aku terbangun dari tidurku karena aku merasa sangat lapar. Tidak biasanya aku terbangun karena kelaparan. Saat aku berjalan menuju dapur, aku mendengar sebuah suara yang berasal dari kamar Hikari. Saat aku mengintip ke kamarnya, aku melihat Hikari sedang duduk di lantai. Dia berusaha meraih kursi rodanya yang terletak jauh dari tempat tidurnya.

“Bergeraklah! Ayo bergerak! Kau kan kakiku. Seharusnya kau mendengar perintahku!”

Dia mengatakan itu sambil menangis dan memukul-mukul kakinya. Selama ini dia tertawa dan tidak menunjukkan rasa sakitnya di depan kami agar kami tidak bersedih. Hikari hanya menangis saat dia sendirian. Aku tidak bisa melakukan apapun saat dia menderita seperti itu. Aku ingin membantunya. Tapi mungkin dia akan marah saat aku ketahuan melihatnya. Hikari berusaha dengan keras untuk kembali ke tempat tidurnya. Begitu dia sudah berada di tempat tidurnya, dia menangis sekencang-kencangnya.

 

“Naze? Kenapa ini hanya terjadi padaku? Kenapa aku selalu diberi penyakit yang membatasiku? Kenapa tuhan memberiku cobaan yang berat? Kenapa aku selalu menyusahkan orang disekitarku? Kenapa aku tidak mati saja? Aku tidak sanggup jika harus terus-teruusan begini.” Ucapnya sambil menangis.

 

Entah kenapa kakiku bergerak dengan sendirinya memasuki kamarnya. Aku memeluknya saat dia masih menangis. Hikari masih terus menangis saat aku memeluknya.

***

Hikari Side…

Seorang anak perempuan lahir di hari yang cerah di kota Tokyo. Anak itu ditinggalkan orang tuanya disebuah panti asuhan kecil. Awalnya tidak ada yang aneh dengan anak itu. Saat berumur 1 tahun, anak itu mulai bisa berjalan. Dan saat dia berumur 2 tahun, dia mulai bisa berbicara dan membaca. Anak itu mempunyai kemampuan istimewa yang tidak dia tunjukkan pada orang lain. Tidak lama setelah kejadian ajaib itu, anak itu diadopsi oleh sebuah keluarga. Di keluarga itu ada anak laki-laki yang berumur 6 tahun lebih tua darinya. Anak laki-laki itu sangat ceria dan berusaha mengajak anak perempuan itu bermain, tapi anak perempuan itu menolak dan hanya duduk meringkuk di pojok kamarnya.

Anak laki-laki itu tidak kehabisan akal. Dia mengajarkan anak perempuan itu bermain catur. Awalnya anak permpuan itu hanya meringkuk dan melihat anak laki-laki itu bermain Lam-kelamaan, anak perempuan itu ikut bermain dengan anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu kalah dan memuji sambil mengusap kepala anak perempuan itu.

“Mulai sekarang namamu adalah Hikari (cahaya). Namaku Hikaru (cahaya). Kita punya nama yang sama. Mulai sekarang, aku adalah kakakmu.” ucap anak laki-laki tersebut.

Aku menatap anak itu dengan tatapan takjub.

“Nii…” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Itu juga boleh.” Ucap Nii sambil mengusap kepalaku.

Aku tahu tentang kemampuanku. Aku juga tahu kalau aku terlahir dengan tubuh yang lemah. Karena itu aku memutuskan untuk tidak bergantung pada siapapun. Tapi Nii selalu membantuku dan melindungiku. Papa dan mama selalu mengatakan jika aku dan Nii bersaudara, tapi aku tahu jika aku dan Nii tidak bersaudara. Aku sangat menyayangi Nii seperti Nii menyanyangiku. Karena itu aku akan melakukan semua hal yang bisa membuat Nii bahagia. Tanpa aku sadari, aku bisa membuat barang-barang yang belum pernah orang buat sebelumnya.

Dikarenakan kelebihanku itu, para ilmuwan Jepang mulai melirikku. Orang tuaku setuju menyerahkanku kepada para ilmuwan itu, tapi tidak dengan Nii. Walaupun Nii masih kecil, dia berusaha mempertahanku mati-matian agar aku tidak dibawa pergi oleh para ilmuwan itu. Tapi usaha Nii sia-sia.

Aku dipaksa untuk bekerja di laboratorium. Pagi, siang, malam yang aku lakukan hanyalah bekerja dan melakukan penelitian. Setelah satu tahun disana, aku mulai merasa bosan dan ingin kembali kepada Nii. Diam-diam saat para ilmuwan tidak ada, aku membuat sebuah senjata. Senjata yang bisa aku gunakan untuk meledakkan tempat ini.

Keesokan harinya, saat ilmuwan datang, mereka mengambil senjata yang aku buat. Mereka menekan tombol yang aku suruh dan seketika, laboratorium itu meledak tanpa bekas. Hanya aku yang selamat. Aku pun segera melarikan diri dari tempat itu.

***

Back to Yuto Side…

“Gomennasai. Maaf karena aku sudah menangis di depan senpai.”

“Ah… Da-daijoubu.”

“Senpai juga ikut menangis kan?” goda Hikari.

“Ti-tidak… Kenapa aku harus menangis?”

“Ma… ma… Ii deshou… Aku harus tidur sekarang. Oyasumin…”

Hikari tertidur sebelum sempat menyuruhku keluar. Aku terus memandanginya sambil duduk di kasurnya. Bahkan saat dia tertidur, dia terlihat sangat manis.

***

Aku terbangun dari tidurku di kamar yang tidak asing bagiku. Aku merasa tanganku menyentuh sesuatu yang hangat. Aku juga merasa memeluk sesuatu yang hangat. Bantal? Boneka? Atau selimut? Aku belum bisa memastikannya karena aku masih malas membuka mataku. Aku masih ingin merasakan kenikmatan tidur ini. Aku pun memaksakan untuk membuka mataku. Setelah mngerjap-ngerjapkan mataku, aku melihat benda hangat apa yang aku peluk. Dan saat aku melihat kearah kiri…

“Ohayou… Apakah senpai tidur dengan nyenyak.”

Aku hampir saja berteriak. Tapi Hikari menutup mulutku dengan cepat.

“Sssttt… Nanti semuanya akan tahu. Harusnya aku yang berteriak. Bukannya senpai. Tadi malam senpai tidak kembali ke kamar senpai ya?”

Ya tuhan… Dekat sekali. Rasanya jantungku tidak bisa berhenti berdebar kencang. Pikiranku kosong. Aku tidak bisa menjawab apapun.

“Senpai, bukankah sudah saatnya senpai melepas pelukan senpai?”

Aku segera melepaskan pelukanku dan duduk diatas kasurnya.

“Bagaimana ini senpai? Kita tidur bersama. Kalau terjadi sesuatu, senpai harus tanggung jawab.”

Aku kaget mendengar perkataan Hikari. Tanggung jawab? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?

“Tidak kok… Hanya bercanda… Tapi bisa gawat kalau Nii tahu soal ini.” Ucapnya sambil tertawa.

“Aku mohon. Rahasiakan ini dari Hikaru-kun. Kalau dia tahu, dia pasti akan membunuhku.”

“Baiklah. Akan aku rahasiakan. Tapi… Aku sekarang jadi tidak bisa menikah lagi.”

“Eh? Kenapa?”

“Karena senpai sudah tidur denganku. Aku jadi tidak boleh menikahi pria lain selain senpai…”

Menikah? Kata-kata itu membuatku malu. Aku hanya memalingkan wajahku dari Hikari. Tiba-tiba Hikari mendekatkan wajahnya kearahku.

“Aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius.” Bisiknya.

Kupikir dia akan melakukan apa. Hah… Membuat jantungku tidak karuan saja.

“Ah… Aku lupa.”

Tiba-tiba Hikari menarik tanganku dan mencium pipiku.

“Ohayou no kissu.” Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.

“N-n-n-n-nani shiteru no?”

“Eh? Memangnya tidak boleh ya? Aku selalu melakukannya dengan Nii.”

“Demo…”

“Ah… Seharusnya senpai keluar sekarang. Nanti ketahuan sama Hikaru-nii loh…”

Aku pun langsung pergi keluar kamarnya dan menuju kamarku. Aku menutup kamarku dengan perlahan dan bersandar di pintu. Aku memegangi pipi kananku. Rasanya panas sekali. Ciumannya terasa sangat lembut. Bayangannya ketika menciumku selalu teringat di kepalaku. Aku menuju ke tempat tidurku dan membenamkan mukaku di dalam selimut. Aku terlalu malu untuk menunjukkan wajahku yang sekarang.

***

Waktu sarapan pun tiba. Seperti biasa, kami selalu sarapan bersama. Bedanya hari ini Hikari juga ikut sarapan bersama kami. Dan tanpa sengaja, aku duduk disebelah kanan Hikari. Dan disebelah kiri Hikari ada Yama-chan. Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa. Yama-chan berusaha bersikap semesra mungkin kepada Hikari. Hal ini membuat member lainnya mengundurkan diri dari persaingan untuk mendapatkan Hikari. Semuanya sudah tahu jika Yama-chan yang akan memenangkan hati Hikari. Saat Yama-chan ingin menyuapi Hikari, Hikari tidak mau. Hikari malah melihat kearahku.

Aku pun pergi meninggalkan meja makan karena ingin menghindari salah paham. Mou… Sebenarnya apa sih yang aku lakukan? Aku tidak mengeti jalan pikiranku.

***

Begitu sampai di tempat syuting, aku melihat seorang pria yang tidak dikenal. Dia sangat tampan. Sepertinya dia bukan orang Jepang.

“Ah… Jang Geun Suk-kun…” sapa Hikaru.

“Yaotome Hikaru-san. Hisashiburi na….” balas pria itu.

Pria itu bisa berbahasa Jepang dengan lancar.

“Ah… Perkenalkan. Dia adikku Hikari.” Ucap Hikaru.

“Hajimemashite. Yaotome Hikari desu. Yoroshiku onegaishimasu.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Kawaii na… Rasanya aku ingin memeluknya.”

Jang Geun Suk-san tiba-tiba memeluk Hikari. Hikari juga tidak terlihat menolaknya. Hikari hanya sedikit terkejut.

“Nani shiteru no?” tanya Hikaru sambil melepaskan pelukan mereka.

“Nani mo nai. Hanya sebuah pelukan.” Jawab Jang Geun Suk dengan tenang.

“Kyaaa… Aku dipeluk Jang Geun Suk-san…” teriak Hikari.

Kakaknya tidak mengizinkan, tapi adiknya malah senang. Rasanya aku sedikit cemburu. Aku pun mengalihkan pandanganku kepada Yama-chan. Dia kelihatan kesal sekali. Dia bahkan mengepalkan tangannya seperti sedang menahan sesuatu.

“Aku sudah lama menjadi penggemar Jang Geun suk-san.” Ucap Hikari dengan senang.

“Kalau begitu, aku ada sedikit fan service untukmu.”

Tiba-tiba Jang Geun Suk-san mencium pipi Hikari. Dan… Kalian tahu apa reaksi Hikari? Hikari malah menangis.

“Hiks.. Hiks… Mou… Sekarang Hikari tidak bisa jadi pengantin lagi….”

Semuanya terkejut dengan perkataan Hikari.

“Daijoubu Hikari. Apa yang Nii katakan waktu itu tidak benar. Nii hanya bercanda. Hikari masih bisa jadi pengantin.” Ucap Hikaru sambil menenangkan Hikari.

“Hontou?”

“Un. Hontou da…”

Hikari pun berhenti mengangis. Sebenarnya kebohongan apa sih yang sudah diceritakan Hikaru?

“Yamete! Aku sudah tidak tahan melihatnya. Ayo kita pergi.” Ucap Yamada.

Yamada pun berjalan kearah Hikari. Dan… membawa Hikari kabur. Ya tuhan… Hari ini semua orang sudah menjadi gila. Kali ini apalagi yang akan terjadi? Aku pun segera mengejar Yama-chan. Ketika aku sampai, aku melihat Yama-chan menatap Hikari lekat-lekat. Saat wajahnya sudah dekat dengan Hikari. Hikari menaruh tangannya tepat di muka Yama-chan.

“Yamada-senpai akan melakukan apa?”

Yama-chan kelihatan kesal. Yama-chan berusaha menahan amarahnya. Sampai akhirnya…

“Jangan panggil aku Yamada! Namaku Ryosuke! Bukankah sudah aku katakan berulang kali?!”

Hikari terlihat sangat terkejut dan ketakutan. Yama-chan pun menyadari apa yang barusan dia lakukan.

“Go-gomennasai…”

Hikari yang ketakutan segera menjauh dari Yama-chan perlahan-lahan. Sampai akhirnya dia beranjak dari kursi rodanya dan berusaha berlari. Setelah beberapa langkah dari kursi rodanya, Hikari terjatuh. Saat Yama-chan mendekatinya, Hikari berteriak sekeras-kerasnya.

“Nani suru no?!” ucap Hikaru sambil menjauhkan Yama-chan.

“Hikari, daijoubu desu ka? Hikari! Jawab aku.” Ucap Hikaru sambil mengguncang-guncangkan tubuh Hikari.

Hikari masih terus berteriak.

“Hikari, tenanglah. Niichan disini. Hikari tidak akan diganggu lagi.”

Hikaru terus mencoba menenangkan Hikari sampai Hikari tenang.

“Yamada-san, seharusnya kamu tidak melakukan itu. Sebaiknya kau jauhi adikku.” Ucap Hikaru dengan tegas.

Itu pertama kalinya aku melihat Hikaru-kun serius seperti itu. Sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti itu kepada kami.

***

Sesampainya di asrama, Hikaru tidak berbicara sedikitpun dengan Yama-chan. Hikaru menghindari Yama-chan. Aku pun memutuskan untuk menonton dorama. Aku tidak mau terlibat perang dingin mereka. Tak lama setelah aku duduk di depan televisi, Hikari keluar dari kamarnya sambil merangkak. Di ruangan bawah hanya ada aku dan Hikari, sementara member lain sedang menyelesaikan masalah Hikaru dan Yama-chan. Aku pun bersembunyi di balik sofa. Saat Hikari semakin mendekat, aku pun pura-pura tidur di sofa. Saat aku pura-pura tertidur, aku merasa ada yang mengusap kepalaku dengan lembut.

Dan aku merasa ada sesorang yang tidur disampingku. Sofa itu cukup besar untuk ditiduri oleh dua orang. Saat aku merasa orang disampingku sudah benar-benar tertidur, akhirnya aku membuka mataku dan yang kulihat adalah…. Hikari yang sedang tertidur. Chotto matte! Jika yang tidur disampingku adalah Hikari, berarti yang tadi mengusap kepalaku adalah… Mou… Rasanya jantungku mau meledak saja.

***

Waktunya makan malam. Sepertinya Hikaru dan Yama-chan sudah berbaikan. Mereka berdua sudah terlihat akrab lagi. Malam ini aku memutuskan untuk duduk disebelah Hikari. Aku pun memakan kue yang dijadikan makanan penutup. Hari ini kuenya enak sekali.

“Senpai, ada kue di wajahmu.” Ucap Hikari.

Eh? Eh? Aku jadi panik sendiri.

“Biar aku bersihkan.”

Hikari pun menyeka kue itu dengan tangannya. Aku memegang tangan Hikari dan menjilat sisa kue itu dari jarinya.

“Kuenya enak sekali ya?” ucapku sambil tersenyum kearahnya.

Hikari kelihatan terkejut dan mukanya tiba-tiba menjadi merah. Aku pun mengusap kepalanya dengan lembut dan segera pergi dari meja makan. Kali ini, aku tidak akan kalah.

***

Mou… Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan? Aku pun membenamkan wajahku ke bantal. Tiba-tiba aku merasa ingin keluar dari kamar. Begitu aku keluar darikamar, aku melihat televisi di ruang tengah menyala. Saat aku berjalan untuk mematikannya, tiba-tiba aku melihat Hikari tidur di sofa. Aku pun duduk disebelahnya dan memandang wajahnya.

“Sebenarnya aku sangat menyukaimu sejak aku bertemu denganmu di perpustakaan.” Ucapku sambil memandang kearahnya.

“Hontouni?”

Eh? Barusan ada orang yang bicarakan? Tapi siapa? Aku mencari sumber suara itu, tapi ku tidak menemukan siapapun.

“Jika senpai menyukaiku, kenapa tidak katakan dari awal?”

Aku melihat kearah Hikari. Ternyata dia sudah bangun dan orang yang menjawab perkataanku tadi adalah Hikari. Aku benar-benar malu dan mengalihkan pandanganku darinya.

“Aku juga menyukai senpai.”

Apa? Apa aku tidak salah dengar? Tiba-tiba, dia menciumku. Bukan di pipi. Melainkan di bibirku. Lampu ruang tengah pun tiba-tiba menyala.

“Nani shiteru no Yuto-kun?” ucap Hikaru dengan kesal.

Hikari melepaskan ciuman kami.

“Memangnya tidak boleh? Kami kan saling menyukai. Jadi tidak ada salahnya kami berciuman. Lagipula, kami sudah penah tidur bersama. Ne Yuto-kun.” Ucap Hikari sambil tersenyum kearahku.

“NANI????? Yuto-kun… Sebaiknya kamu siap-siap menghadapi kematianmu.” Ucap Hikaru sambil menahan amarahnya.

Karena aku merasa terancam, aku pun berlari meninggalkan Hikari. Hikaru yang masih marah, masih terus mengejarku. Sepertinya dia akan memukulku karena aku mengambil ciuman pertama adiknya.

Jadi… Begitulah kisah cintaku berawal. Meskipun banyak rintangan dan banyak hal yang terjadi, aku tetap bisa mendapatkan gadis yang menjadi cinta pertamaku.

END

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s