[Oneshot] Nishina To Kishi

Title       : Nishina to Kishi

Author  : Yotsubakaito

Type  : Oneshot

Casts     : Kishi Yuta | Yoshihara Nishina (OC)

Disclaimer           : All cast belongs to themselves. Author owns the plot.

Note      : FF gaje inspired by author yang lagi insomnia www Sekaligus membayar hutang ff pada mpok Nisa aka Nishina XDD FF ini adalah sebuah kegejeean jadi maaf kalo geje //ditakol. Happy reading ^^

Kagurazaka, pukul 10 malam.

Yoshihara Nishina frustasi di atas tempat tidurnya. Padahal sudah sejak beberapa jam yang lalu dia berniat untuk tidur, tapi belum terpejam juga sampai sekarang. Kejadian ini bukan pertama kalinya. Insomnia ini mulai menderanya sejak bekerja di penerbitan. Karena sering mengerjakan editan naskah pada malam hari, jadwal tidurnya mulai tidak teratur.

“Begadang itu bikin gemuk, loh.” Seorang teman menasehatinya.

“Bukannya malah bikin kurus?” Nishina mengelak.

“Kata siapa? Itu mitos kok.”

Aarrgghhh… Nishina menggerutu sendiri. Matanya sudah merah karena ngantuk tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk tidur. Apa sudah terjadi hal yang tidak benar pada sistem tubuhnya? Nishina pun tidak tahu.

Nishina bangun dan duduk bengong di atas tempat tidur. Tatapan malasnya melirik layar laptop yang masih menampilkan naskah yang harus diedit. Bukannya bekerja kembali, cewek berambut pendek itu malah berdiri lalu meraih parka biru kesayangannya yang tergantung di belakang pintu.

“Sebaiknya aku pergi melihat sesuatu di luar daripada gila sendiri di sini karena tidak bisa tidur.” Ujarnya pada diri sendiri.

Yoshihara Nishina, 25 tahun, seorang editor baru di Penerbit KinPuri. Kebiasaan buruknya baru-baru ini adalah insomnia akut. Dia bahkan pernah tidak tidur selama 48 jam. Awalnya dia menanggapinya biasa saja. Tapi lama kelamaan ini mengganggunya. Jadwal kesehariaannya jadi tidak teratur dan menimbulkan dampak buruk. Imbasnya sangat terasa pada jam-jam kerja. Di kantor dia terus-terusan menguap dan ingin tidur, efek insomnia semalam. Kalau sudah begini, siap-siap saja dimarahi atasan.

Tapi dasar Nishina, bukannya memaksakan diri untuk tidur, dia malah jalan-jalan di Kagurazaka tengah malam begini. Dalam balutan parka kesayangannya, Nishina melangkah ringan keluar dari apartemen. Tujuan pertamanya adalah mencari vending machine yang menjual kopi.

Matte!1 Kopi kan mengandung kafein?! Yang ada malah tambah enggak ngantuk dong?! Eh tapi kan sudah terlanjur gak bisa tidur juga, jadi gak papa deh kayaknya!” kedua sisi dirinya malah bertentangan sendiri di depan vending machine. Dengan koin 100 yen Nishina akhirnya mendapatkan obat begadangnya.

Kagurazaka adalah salah satu distrik di Tokyo yang tidak kalah ramai dengan Shibuya. Jadi meskipun sudah tengah malam, kehidupan kota belum terhenti. Seakan tidak ada matinya. Nishina menikmatinya dengan segelas kopi hangat sambil duduk di sebuah bangku panjang di depan toko roti yang buka 24 jam. Nishina sudah membeli beberapa melonpan2 untuk menemaninya.

Dari tempat Nishina duduk, di depannya berdiri sebuah toko buku yang juga buka 24 jam. Pemiliknya seorang laki-laki yang masih muda seumuran Nishina yang mewarisi toko buku itu dari keluarganya. Itu yang Nishina dengar dari Fujitani Sao, tetangga kamarnya yang tahu segala berita dan gossip yang ada di Kagurazaka.

“Aku jadi penasaran ingin masuk ke dalam. Kenapa harus buka 24 jam ya?” masih dengan melonpan di mulut, Nishina lagi-lagi bicara sendiri.

KISHI BOOKSTORE.

Nama itu tertulis besar-besar di atas pintu masuk. Setelah membuang bekas makanan dan minumannya, Nishina masuk ke sana. Sepi sekali di dalam. Tidak ada siapa-siapa. Dia memutuskan untuk pulang kalau saja tidak ada seorang laki-laki yang tiba-tiba mengagetkannya dari balik lemari.

Yo! Ohayou Gozaimasu!”3

Nishina bingung dan melihat ke luar. Jelas-jelas masih gelap. Tapi kenapa cowok itu mengatakan ucapan selamat pagi?

“Sedang mencari buku apa?”

Nishina sudah ditanyai duluan sebelum bertanya. Dia menggaruk tengkuknya karena bingung. Tujuannya masuk ke sini hanya sekedar ingin tahu. Bukan untuk membeli buku.

“Masih bingung ya? Kalau begitu silakan diliat-liat saja dulu.” Cowok itu tersenyum sebelum meninggalkan Nishina yang masih bingung ingin mencari buku apa.

Toko buku ini tidak terlalu luas. Di sudut ruangan terdapat meja kayu dengan beberapa kursi di keempat sisinya. Daripada toko buku, tempat ini lebih mirip seperti perpustakaan. Sepertinya buku yang dijual pun tidak begitu banyak. Namun karena Nishina juga belum ingin pulang, akhirnya dia memutuskan untuk mengelilingi ruangan itu. Siapa tahu menemukan buku yang cocok.

“Kalau tidak ingin beli, bukunya bisa dibaca di sini kok. Bacanya di sebelah sana.” Cowok itu menunjuk meja di sudut ruangan.

Nishina pun terkejut karena cowok itu tiba-tiba saja ada di sebelahnya.

“Ah iya”.

“Belum menemukan buku yang cocok ya?” cowok itu bertanya lagi.

Nishina lama-lama merasa kesal. Saking tidak ingin ditanya lagi, dia mengambil sembarang buku dan membawanya ke meja kasir. Tepat setelah membayar, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.

“Heeee?!!! Kok bisa hujan sih?! Bukannya ramalan cuaca bilang tidak akan hujan? Aku kan tidak bawa payung!”

Menyadari kepanikan Nishina, cowok itu tersenyum lalu menyarankan, “Sambil menunggu hujan reda, kau bisa membaca bukunya di sini.”

Nishina yang masih kesal segera duduk tanpa mengiyakan. Cowok itu berjalan dan masuk ke sebuah ruangan. Ah, Nishina tidak peduli. Dia pun mengeluarkan buku yang dibelinya dari kantongan.

AI WA MIKATA SA.

Nishina tertegun. Itu adalah novel editan pertamanya di KinPuri. Sambil membuka plastiknya, Nishina mencium aroma kopi yang semakin mendekat.

Cowok pemilik toko buku kembali dengan dua cangkir kopi di tangannya.

“Minumlah. Supaya tidak mengantuk saat membacanya. Biasanya orang-orang akan mengantuk saat membaca buku, kan?”

Alih-alih mendengar ucapan cowok itu, Nishina lebih terfokus pada kopinya. Meskipun penyuka kopi, dia tidak akan sembarangan minum kopi pemberian orang.

“Ada apa?” cowok itu bertanya.

“Kau tidak memasukkan sianida ke dalamnya, kan?”

“Hah?!”

“Akhir-akhir ini orang-orang sangat berhati-hati meminum kopi sejak muncul kasus pembunuhan dengan cairan sianida yang dicampur ke dalam kopi.”

Bukannya tersinggung, cowok itu malah menertawai penjelasan Nishida.

“Kau terlalu terpengaruh pemberitaan publik. Aku tidak mungkin melakukannya pada pelangganku. Ada-ada saja hahahahaha.”

“Tapi kalau dipikir-pikir kau ini aneh.” Nishina menambahkan.

“Eh?”

“Kau mengucapkan “ohayou” padahal ini masih malam. Lalu kau bertanya terus apa aku sudah menemukan buku atau belum. Dan sekarang tiba-tiba datang membawakanku kopi. Aneh sekali.”

Cowok itu tersenyum lebar mendengar penjelasan Nishina yang juga aneh. “Itu bukan aneh, Nona Manis. Apa salahnya bersikap baik kepada pelanggan. Kau pelanggan pertamaku hari ini. Kau tahu, pembeli adalah raja.”

“Tapi…,”

“Kishi Yuta!”

“Eh?”

“Aku belum tahu namamu. ”

Meskipun Nishina sempat merasa cowok di hadapannya ini aneh, pada akhirnya dia merasa baik-baik saja.

“Nishina. Yoshihara Nishina desu.”

Cowok bernama Kishi itu pun duduk di depan Nishina.

“Novel itu, penulisnya adalah teman baikku.”

Nishina memandangi novel bersampul biru di tangannya. Di sampulnya tertulis nama penulisnya ‘Yotsubakaito’.

Nishina tidak mengerti apa pentingnya Kishi memberitahu itu padanya. Meskipun dirinya adalah editor novel tersebut, dia enggan memberitahukannya pada Kishi.

“Kishi-san4, toko sudah sepi. Sebaiknya kau menutupnya sekarang. Aku juga akan segera pulang.”

“Aku baru buka kok.”

“Eh?!”

“Toko ini memiliki 2 shift. Dari pagi sampai sore adikku yang menjaganya. Setelah tutup beberapa jam aku membukanya kembali.”

Penjelasan Kishi tentu saja membuat Nishina kebingungan.

“Aku lebih menyukai bekerja di malam hari. Rasanya lebih menyenangkan.”

Nishina tetap saja belum mengerti.

“Lalu apa yang kau lakukan di siang hari?”

“Tidur. Sejak dulu aku selalu kesulitan tidur saat malam hari. Jadi aku memutuskan mengubah kebiasaanku.”

“Hah?! Jadi kau tidak melakukan apa-apa selain tidur?”

Kishi terkekeh. “Tidak juga sih. Terkadang juga tidak bisa tidur, jadi aku menjalani hidupku seperti orang-orang.”

Mendengar hal itu, Nishina merasa ada yang senasib dengannya. Hanya saja Kishi terlihat lebih menikmatinya.

“Kau bisa datang ke sini kapanpun kau merasa tidak bisa tidur,” Kishi menambahkan. “Tempat ini ada untuk orang-orang seperti kita. Tidak hanya siang hari, malam hari pun memiliki kehidupannya sendiri. Jadi tidak usah merasa susah. Nikmati saja.”

Hoaaaammmm…

Kishi berbicara Nishina malah sudah mengantuk.

“Sebaiknya kau pulang. Nampaknya hujan juga sudah reda.” Kishi menyarankan.

Nishina mengiyakan karena sudah benar-benar mengantuk. Kali ini dia pasti bisa memejamkan mata. Kishi mengantar Nishina sampai ke depan toko.

“Nishina!!!”

Nishina yang baru berjalan beberapa langkah menoleh saat Kishi memanggilnya.

“Kapan-kapan ayo tidur bersama!”

“Eeeeehhhh?!!!”

Kishi tersenyum. “Jodan dayoo.. Jodan5! Kapan-kapan datang lagi ke sini!”

Nishina ikut tersenyum. “Tentu saja! Sampai ketemu lagi ya! Bye-bye!”

Mereka berdua saling melambaikan tangan. Kishi terus memandang punggung Nishina hingga menghilang.

Dalam perjalanan pulang, Nishina terus memikirkan Kishi.

“Kishi lucu juga. Senyumnya lucu sekali.”

Diam-diam Nishina mulai mensyukuri insomnianya ini.

THE END

  1. “Tunggu!”
  2. Melonpan adalah roti khas jepang yang tekstur kulit luarnya seperti melon
  3. “Hai, selamat pagi!”
  4. San adalah imbuhan di belakang nama orang Jepang. Digunakan untuk yang lebih tua atau baru kenal.
  5. “Becanda kok.. Becanda…”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s