[Minichapter] SUMMER STORY #2 (Perang Di Lapangan Baseball)

Title : Summer Story
Subtitle : Perang Di Lapangan Baseball
Type : Minichapter
Chapter : #2
Author : Yotsubakaito
Genre : Romance
Rating : G
Fandom : JE, Johnny’s Jr
Casts : Takahashi Kaito (Johnny’s Jr, Mr. King), Mitarai Saki (OC), Shinoda Masaki (OC), Asaoka Miyuki (OC), Maeda Haruka (OC)

Disclaimer : All casts belongs to themselves. Author owns the plot.

UNTUK PERTAMA KALINYA Saki tidak menyukai awal musim panas. Bagaimana tidak? Awal musim panas yang seharusnya digunakan untuk bersantai di rumah atau liburan, dia justru harus membantu Kaito membersihkan lapangan baseball. Pekerjaan yang sangat membosankan baginya. Karena itu, dia sengaja datang terlambat ke sekolah. Biarkan saja si bodoh itu bekerja lebih dulu, pikirnya.

“Syukurlah Tuan Putri kita sudah datang,” ujar Kaito mengejek ketika melihat Saki baru saja datang di tengah-tengah pekerjaannya. “Darimana saja kau? Sekarang cepat ambil ini dan bersihkan bagian lapangan di sebelah sana!” suruhnya sembari menyodorkan keranjang, sapu dan gunting rumput.

Saki menyilangkan tangan di dadanya. “Jangan pikir aku akan membantumu. Lagipula, jaman sudah modern. Untuk apa pakai gunting rumput jika kau bisa menggunakan alat pemangkas rumput otomatis. Praktis, kan?!”

“Kita ini sedang dihukum. Sensei menyuruh kita membersihkan dengan tangan kita sendiri.”

“Kau yang dihukum!” sergah Saki. “Ini semua karena rasa percaya dirimu yang terlalu tinggi. Sudah kubilang aku tidak menghinamu tapi kalau malah berkeras hati. Jadi, silahkan bersihkan sendiri.”

“Selama ini kau sudah sering mengejekku. Jadi kenapa sekarang aku tidak boleh berpikiran kau melakukan hal yang sama lagi?”

“Diamlah! Pokoknya aku tidak akan membantumu!” ujar Saki tak acuh lalu berjalan melewati Kaito.

“Kau lupa apa perintah sensei?” pertanyaan Kaito menghentikan langkah Saki. Kaito merasa puas karena mengetahui kelemahan Saki. “Ini tidak akan terjadi jika saja kau bisa menjaga mulutmu untuk tidak mengejek orang. Anggap saja ini hukuman atas kesombonganmu selama ini.”

Dengan cepat Saki membalikkan badan. Pintar sekali si Kaito memutar balikkan keadaan. “Berikan alat itu padaku!” Saki mengambil paksa perkakas di tangan Kaito yang memang sejak tadi disiapkan untuknya.

Kaito membiarkan Saki menjauh. Dia juga tidak ingin dekat-dekat perempuan angkuh itu. Diapun kembali ke aktifitasnya, memotong rumput. Dia berjongkok dan kembali mencabuti rumput yang mulai tumbuh sangat panjang itu. Tiba-tiba, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah benda berupa amplop berwarna pink di balik semak-semak di ujung lapangan.

Penasaran, Kaitopun membuka amplop yang ternyata berisi surat itu. Tanpa sadar diapun membacanya dalam hati.

    “Dear Masaki,

    Masaki, sudah berapa lama ya kita berteman? Hmm ,,, kurasa sudah cukup lama. Aku senang menjadi teman Masaki. Masaki adalah teman yang baik dan sangat perhatian. Itu membuatku merasa nyaman jika berada di dekat Masaki. Tapi, akhir-akhir ini Masaki semakin menjauh. Apa ini ada hubungannya dengan Miyuki?

    Aku merasa hubungan kita semakin jauh semenjak kehadiran Miyuki dalam hidupmu. Kau ingin tahu sesuatu? Sebenarnya aku cemburu pada kalian. Tahukah kau, Masaki? Aku sudah lama menyukaimu. Namun, aku terlalu pengecut untuk mengatakannya. Bahkan ketika kau mengumumkan hubunganmu dengan Miyuki, aku tetap menyukaimu. Harapanku masih cukup besar bisa menjadi kekasihmu.

    Hehehe… sepertinya bicaraku sudah mulai kacau. Sudah dulu ya, Masaki. Kumohon setelah membaca ini kau tidak marah padaku. Aku tetap ingin kau menjadi temanku sampai kapanpun.

 

    Saki”

“Oh, jadi si angkuh itu menyukai Masaki…” gumam Kaito seorang diri. Dia menengok sebentar pada Saki yang sudah mulai bekerja. Dia menyunggingkan senyum penuh arti, lalu segera memasukkan surat itu ke dalam saku celananya.

Seharian mereka bekerja tanpa suara. Bukan larut dalam kesibukan masing-masing, mereka hanya malas bicara satu sama lain. Saki tidak menyukai Kaito karena dia murid yang bodoh, sedang Kaito tidak menyukai Saki karena keangkuhan gadis itu. Kaito mengejek Saki setiap kali gadis itu mengeluh kelelahan, lalu mengatainya anak manja. Saki yang tidak suka diejek seperti itu akan berdiri lalu melemparkan segenggam penuh rumput ke badan Kaito dan tertawa. Kaitopun tidak segan untuk membalasnya. Suasana di lapangan itu terasa sangat panas karena permusuhan dua orang yang masing-masing tidak ingin mengalah itu.

BRAAAKKK!!!

Saki menjatuhkan sekeranjang penuh rumput tepat di hadapan Kaito. “Pekerjaanku sudah selesai. Aku mau pulang.” Katanya.

“Siapa bilang kau sudah boleh pulang? Pekerjaan kita baru setengahnya. Kau harus tetap di sini!”

“Kau ini benar-benar menyebalkan!” geram Saki lalu berjongkok dan mengambil tanah basah dan melemparkannya ke arah Kaito.

“Aww… Hei! Kau ini kenapa? Benar-benar cari masalah. Akan kubalas kau!” Kaito juga mengambil tanah lalu melemparnya ke arah Saki. Sayang, serangannya meleset karena Saki membungkuk.

“Ye ye tidak kena, ye ye…” cemooh Saki yang kembali memberikan serangan tanah bertubi-tubi pada Kaito.

Kali ini Kaito berhasil mengelak dan dalam satu kali lemparan akhirnya diapun mengenai sasaran. Baju kaos biru Saki kotor terkena lemparan tanah.

“Kaito!!! Awas kau!!!” geram Saki.

Akhirnya mereka berdua berkejar-kejaran sambil saling melempar tanah. Entah sudah berapa kali Saki terkena lemparan dari Kaito. Bajunya jadi sangat kotor. Nasib Kaito tidak jauh beda. Baju dan celananya sudah seperti tidak dicuci beberapa hari.

“Hei kalian!!” seru Kawato-sensei dari pintu masuk lapangan. Dia datang untuk mengawasi pekerjaan Kaito. Dua orang yang sedang berlari itupun berhenti. “Hari sudah hampir gelap. Besok saja dilanjutkan lagi pekerjaannya. Jangan lupa bersihkan diri dulu sebelum pulang. Badan kalian sangat kotor.” Sensei mengingatkan.

Mendengar itu, Saki segera membuang tanah yang dipegangnya, kemudian berjalan menuju kran air yang ada di sudut kanan lapangan, tempat yang khusus disediakan untuk membersihkan diri setelah latihan.

Sepertinya krannya macet. Sudah berulang kali Saki memutarnya bahkan dengan tenaga yang penuh, kran itu tetap tidak mau terputar. Tidak ada air setetespun, kekesalan Saki semakin menjadi. Dia mengomel sendiri, seolah sedang marah pada kran air itu.

“Dasar anak manja! Kran sekecil itu saja tidak bisa kau putar. Apa-apaan kau ini?!” lagi-lagi Kaito mencela Saki dan merasa puas.

“Kalau kau bisa, lakukan saja! Jangan banyak bicara!” balas Saki.

“Minggir kau!” suruh Kaito kasar.

Saki menyingkir dan membiarkan Kaito melakukannya. Tapi, tetap saja kran berukuran besar itu tidak bergerak sedikitpun. Keringat mengucur di kening Kaito. Tenaganya sudah penuh. Dia sangat kelelahan.

“Bagaimana, Tuan Sok Pintar? Kau saja tidak bisa kan membuka krannya? Makanya jangan terlalu sombong kalau bicara,” cemooh Saki lagi. Kali ini dia juga merasa puas melihat Kaito kewalahan.

“Jangan diam saja. Bantu aku!”

“Tidak mau!”

“Jadi kau mau pulang dengan kondisi seperti itu?!”

Saki memandang tubuhnya dari bawah ke atas. Kotor sekali. Tidak mungkin dia pulang dengan keadaan seperti itu. Apa kata orang-orang nanti? Air di toilet sekolah pasti tidak mengalir karena sedang libur. Setelah lama berpikir akhirnya diapun memutuskan untuk membantu Kaito. Kedua tangannya diletakkan di atas tangan Kaito. Bersama-sama mereka memutar itu sekuat tenaga. Dan akhirnya… airpun mengucur deras. Tapi, bukan dari lubang kran, melainkan dari sisinya. Ternyata kran itu bocor. Air yang keluar seperti air mancur, membasahi tubuh Saki dan Kaito.

“Hahaha…” tanpa sadar Saki tertawa melihat tubuh Kaito yang basah. “Bajumu basah sekali. Badanmu juga kotor. Kau terlihat seperti pengemis yang baru saja kehujanan. Hahaha!!!”

“Kau tidak melihat dirimu?! Kau sama saja denganku bahkan lebih parah. Bajumu basah sekali sampai pakaian dalammu terlihat. Hahaha!!!” ujar Kaito ceplas-ceplos.

Tentu saja Saki sangat malu mendengarnya. Dia menyilangkan kedua lengannya untuk menutupi bagian depan tubuhnya. “Awas kau Kaito! Dasar otak hentai!!!”

Lagi-lagi mereka berdua saling serang. Kali ini dengan air yang mengucur sangat deras mereka saling mencipratkan air. Mereka berdua terlihat seperti dua orang anak kecil yang sedang asyik bermain air.

***

Puas bermain air, Saki segera mengganti bajunya yang basah dengan baju yang dibawanya dari rumah di toilet sekolah. Begitupun dengan Kaito yang berganti baju di toilet sebelah. Dia menemukan surat merah muda itu sudah basah. Tulisannya sudah luntur. Dia memasukkannya kembali ke dalam kantong celananya yang kering. Mereka keluar toilet bersamaan.

Jalan raya di depan sekolah sudah gelap. Gara-gara sibuk berperang dengan air, mereka jadi lupa waktu. Saki berdiri di bawah gerbang sekolah. Dia tidak beranjak. Sebenarnya Saki tidak takut gelap. Hanya saja dia tidak berani berjalan sendirian saat malam. Pandangannya menyapu ke lapangan sekolah yang juga gelap, lalu ke lapangan baseball dengan air yang masih mengucur deras di sana. Besok pagi entah apa yang akan dikatakan Kawato-sensei jika melihatnya. Dia juga mencari sosok Kaito ke sana ke mari namun tak ditemukan. Kemana anak itu?

Saki semakin takut saja. Kaito pasti sudah pulang. Saat keluar dari toilet mereka bersama, tapi saat menuju gerbang sekolah, Kaito tiba-tiba tidak ada. Saki terlalu malas memikirkannya. Namun, kini entah kenapa dia sangat mengharapkan kehadiran Kaito.

“Hihihi…” terdengar suara aneh dari semak-semak di sekitar gerbang.

Saki bergidik mendengarnya. Mulutnya komat-kamit tidak jelas. Matanya terpejam dengan kuat. Dia benar-benar takut jika yang bersuara itu adalah hantu.

“HUWAA!!!”

“KYAAAAAAAAA!!!”

Tanpa sadar Saki berteriak. Tiba-tiba saja sebuah sosok melompat keluar dari semak-semak ke arahnya. Dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Benar-benar ketakutan.

“Hahaha…!!!” terdengar suara tawa yang sangat keras. Saki mencermati suara itu lalu menyadari sesuatu. Itu bukan suara hantu melainkan suara Kaito. Saki mengangkat kepalanya dan melihat Kaito yang tertawa terbahak-bahak.

“Diam kau! Ini tidak lucu! Kau membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya!” bentak Saki kesal.

Namun, tawa Kaito tidak juga mereda bahkan semakin keras. “Ternyata selain angkuh dan manja, kau itu juga penakut. Sungguh kombinasi yang sangat unik. Hahaha… Kau harus melihat sendiri wajahmu saat ketakutan. Lucu sekali. Hahaha!!!”

Kata-kata Kaito membuat Saki sangat tersinggung. Diapun memukul Kaito dengan tasnya untuk balas dendam.

“Aww sakit! Hentikan! Kau menyakitiku!”

“Siapa suruh kau mengejekku. Rasakan ini!!!” Saki semakin menguatkan tenaganya memukul Kaito.

“Baiklah, baiklah… Aku berhenti.” Kata Kaito.

Pukulan Saki semakin melemah mendengar perkataan Kaito. Setelah itu, mereka berdua terdiam. Tidak tahu harus melakukan apa. Saki merasa gengsi mengajak Kaito pulang bersama. Walaupun dia takut berjalan sendiri, tapi mengajak Kaito, bukankah sangat memalukan? Saki meremas-remas tangannya sendiri. Bingung harus mengajak Kaito atau tidak.

“Kau kenapa?” tanya Kaito. Sebenarnya dia tidak mau tahu apa yang terjadi pada Saki. Dia hanya merasa terganggu dengan hal itu.

“Aku…” Saki merasa ragu. “Aku mau pulang.” Tanpa menjawab pertanyaan Kaito, Saki langsung berjalan walau tetap merasa takut. Tapi, Kaito pasti sebentar lagi berjalan di belakangnya. Bukankah rumah mereka searah?

 

To be continued…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s