[Multichapter] Saigo no Kioku (Part 5)

Title     : Saigo no Kioku
Chapter : 5
Author : Mikka
Cast     :
Matsumura Hokuto (Six Tones)
Kubota Miyu (i☆Ris)
Jesse Lewis (Six Tones)
Aiba Masaki (Arashi)
Genre  : Romance, Friendship
Rating : PG-13

Hokuto baru saja selesai makan bersama ketiga adiknya yang lain. Saat dia hendak bersiap-siap untuk jalan keluar mencari udara segar, pintunya diketuk pelan.

“Siapa yang datang malam-malam begini?” tanya Airi, adik tertua Hokuto yang berusia 14 tahun. Mereka jarang sekali menerima tamu, lagipula memangnya ada yang mau menemui mereka?

Hokuto berjalan menuju pintu depan yang berupa pintu geser, “Ya?” Tatapannya berubah kaku saat melihat sosok ayah Miyu tengah menatapnya dengan wajah datar, matanya mirip dengan mata Miyu saat pertama kali dia mengenalnya. Mata orang yang tidak memiliki motivasi lebih untuk menjalani hidup.

“Apakah kau memiliki waktu?” tanya suara berat itu.

“Kakak, siapa itu?” Airi berjalan ke depan karena merasa penasaran.

“Masuklah kembali Airi,” perintah Hokuto dan langsung dituruti oleh adiknya. Dia kembali menatap ayah Miyu, “Ada keperluan apa denganku?”

“Aku ingin mengucapkan rasa terimakasihku…”

Ayah Miyu mengajak Hokuto ke sebuah restoran bergaya Eropa. Tak banyak orang yang ada di sana. Dan, melihat orang-orang di sana membuat Hokuto mengernyitkan dahinya. Pakaian seluruh orang di restoran ini seakan-akan mereka ingin menghadiri suatu pesta.

“Jangan merasa minder hanya karena melihat mereka,” ujar ayah Miyu yang salah paham.

“Minder?” ulang Hokuto sembari tertawa pelan. “Aku hanya heran kenapa mereka repot-repot mengenakan baju seperti itu hanya untuk makan.”

Memaklumi sikap Hokuto, ayah Miyu hanya tersenyum tipis. Mungkin karena terbiasa dengan kehidupan yang terlampau sederhana membuat suasana formal begini merupakan hal yang aneh untuknya.

“Baiklah, pesan saja semua yang kau inginkan,” suruh ayah Miyu yang juga sedang memegang buku menu sangat tebal di tangannya.

Lembar per lembar dibuka Hokuto, namun dia masih sangat asing dengan semua nama makanan yang bahkan susah untuk diucapkan ini.

“Aku sudah kenyang,” ucapnya menyerah. Melihat beberapa makanan di sana membuatnya kehilangan selera makan. Lalu, dengan porsi super sedikit, harganya bisa mencapai sepuluh kali lipat makanan yang sehari-hari dikonsumsinya.

Tak ingin memaksa, akhirnya ayah Miyu hanya memesankan minuman untuk dirinya dan Hokuto.

“Sebelumnya aku ingin mengucapkan maaf, dan juga terimakasih,” tuturnya setelah sang pelayan yang mencatat pesanan pergi.

“Untuk apa?” tanya Hokuto tak mengerti.

“Jujur saja, kurasa setelah mengenalmu, Miyu menjadi lebih memiliki keinginan untuk melakukan berbagai macam pengobatan yang dapat memulihkan tubuhnya. Kurasa dia ingin melakukan banyak hal sepertimu.”

Hokuto masih mengernyit tak paham.

“Aku sudah dengar ceritanya saat dia bolos bersamamu.”

Melihat tatapan tajam ayah Miyu, Hokuto hanya dapat meringis.

“Tapi sekarang aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Justru dengan adanya dirimu, Miyu semakin bersemangat.”

“Jadi intinya putri Anda semakin memiliki semangat hidup semenjak bolos bersama saya?” tanya Hokuto.

Ayah Miyu mengangguk, “Karena itu aku memiliki satu permintaan.”

Hokuto mencondongkan tubuhnya karena merasa tertarik. Hal ini seperti dia sedang melakukan sebuah misi menyelamatkan umat manusia, “Apa itu?”

“Jagalah Miyu. Kuharap kau bisa memenuhi seluruh keinginannya.”

Dan kini di sini lah mereka tiba. Sebuah pagelaran busana pengantin tengah diadakan disalah satu gedung yang terletak di pusat kota Tokyo. Miyu, dengan Hokuto dan Jesse yang mendampingi menghadiri acara itu. Dengan sangat konsentrasi Miyu memperhatikan para model yang dengan anggunnya berjalan mempertontonkan kelebihan masing-masing pakaian yang mereka kenakan.

Peragaan busana itu berlangsur sekitar 3 jam, termasuk acara hiburan seperti penampilan bintang tamu. Begitu acara selesai, beberapa orang langsung menyerbu sang perancang busana untuk melakukan berbagai macam transaksi.

“Kau tidak ikut membeli?” tanya Hokuto ketika melihat Miyu malah berjalan keluar.

“Untuk apa? Toh, aku juga tidak berminat untuk menikah,” ujar Miyu.

“Lalu untuk apa dia menonton acara ini?” gumam Hokuto benar-benar tidak mengerti. Dia melirik Jesse yang mungkin mengetahui sesuatu dan Jesse hanya mengangkat kedua bahunya yang berarti dia juga tidak mengerti dengan tujuan Miyu.

Begitu keluar dari ruangan, mata Miyu sibuk mencari sesuatu. Begitu menemukan sebuah bangku yang masih kosong, Miyu langsung berjalan cepat dan menghempaskan tubuhnya.

“Kau lelah?” tanya Jesse khawatir.

Cepat-cepat Miyu menggeleng, “Aku hanya mencoba mencari tempat yang nyaman untuk bercerita.” Dia menepuk bangku di sebelah kanan dan kirinya menyuruh kedua pria itu duduk mendampinginya.

“Tadi aku seperti mendengar sebuah dengkuran saat menonton pertunjukan,” ucap Jesse begitu duduk. Dia sengaja menatap Hokuto karena memang Hokuto lah satu-satunya tamu yang jatuh tertidur saat puluhan wanita cantik hilir mudik di depannya.

“Melihat mereka berlenggak-lenggok dengan baju-baju seperti itu benar-benar membosankan.”

“Membosankan?” ulang Miyu dengan menaikkan alisnya. “Kau tidak mau nanti calon istrimu mengenakan baju-baju seperti tadi?”

Hokuto mencoba membayangkan sesosok wanita cantik yang kemungkinan akan menjadi istrinya sedang mengenakan baju pengantin. Cepat-cepat diusirnya bayangan itu karena menurutnya tidak menarik sama sekali, “Mungkin dibandingkan para model-model baju pengantin itu lebih cocok dikenakan olehmu.”

Mendengar jawaban spontan dari Hokuto mendapatkan tatapan tajam dari Jesse. Hokuto malah mengangkat bahunya seolah-olah tidak tahu dia salah apa.

“Hei, coba lihat ini!” suruh Miyu yang tak memperdulikan acara saling lempar pandangan dari Hokuto dan Jesse, gadis itu menunjuk sebuah buku berisikan foto wanita-wanita barusan dengan gaun yang dikenakannya.

“Kenapa?” Jesse yang penasaran melihat katalog tersebut.

“Kira-kira kalian suka perempuan yang seperti apa?” tanya Miyu sambil membolak-balik halamannya.

Hokuto dan Jesse benar-benar tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Miyu barusan.

“Begini, seandainya aku tidak sempat melihat pernikahan kalian, aku setidaknya masih tahu wanita seperti apa yang akan mendampingi kalian,” jelas Miyu.

“Tidak sempat melihat bagaimana? Memangnya apa yang membuatmu tidak sempat melihatnya?” cetus Hokuto yang tidak suka dengan ucapan Miyu yang seolah-olah mempersiapkan kematian dirinya.

Miyu menunduk sambil memainkan jari tangannya di atas katalog, “Yah, aku kan hanya merasa-” Belum sempat Miyu melanjutkan kata-katanya, Hokuto telah menarik buku katalog itu dari tangan Miyu. Hokuto langsung bangkit dan berjalan meninggalkan Miyu bersama Jesse.

“Hokuto-kun!” Suara Miyu. Hokuto sadar kalau Miyu tengah mengejarnya yang baru saja keluar dari gedung. Namun, Hokuto masih tidak ingin melihat Miyu yang terlihat begitu pesimis dan seolah-olah mengumumkan besok dia akan meninggal.

Berkali-kali Miyu memanggil Hokuto, namun Hokuto tak kunjung berbalik. Langkah cepat Hokuto benar-benar tak sepadan dengan langkah Miyu. Hingga akhirnya Miyu benar-benar merasa lelah dan dia terduduk di trotoar, menjadi tontonan orang-orang.

Hokuto awalnya tak sadar dengan keadaan Miyu, namun suara berisik orang-orang di belakangnya akhirnya dapat membuat Hokuto menoleh. Jantung Hokuto serasa berhenti berdetak saat melihat Miyu yang terduduk di trotoar dengan kepala tertunduk. Orang-orang yang mengeremuninya menanyakan keadaannya tetapi Miyu tidak menjawab.

Hokuto berbalik dan mengangkat wajah Miyu dengan tangannya. Wajah gadis itu terlihat pucat.

“Kau harus ke rumah sakit.” Hokuto mengeluarkan ponselnya, namun tangan dingin Miyu menggenggam tangan Hokuto dan menurunkannya.

Miyu menggeleng, “Aku hanya kelelahan.”

Melihat ada orang yang kenal dengan gadis nyaris pingsan itu membuat kerumunan orang perlahan pergi.

“Kau bisa berdiri?” tanya Hokuto yang kini malah terlihat khawatir.

Miyu meringis, “Boleh istirahat sebentar?”

Akhirnya Hokuto menggendong Miyu di belakang dan katalog yang sedaritadi diremas Hokuto kembali ke tangan Miyu. Pemandangan seperti itu tak luput dari perhatian orang-orang yang melintas, bahkan ada yang terang-terangan memfoto mereka berdua.

“Ke mana Jesse?” tanya Hokuto.

“Dia sedang berbincang-bincang dengan salah satu model,” jawab Miyu. Nada suaranya terdengar riang.

“Apa jangan-jangan kau yang mengenalkan mereka berdua?” Hokuto benar-benar curiga, karena tadi Miyu juga sempat menyodorkan katalog berisi para model tersebut.

“Tidak kok! Reina yang datang lebih dulu dan bicara dengan Jesse. Melihat mereka sedang berkenalan aku langsung meninggalkan mereka,” celoteh Miyu yang terdengar benar-benar bahagia. Kenapa dia sangat berniat untuk mencomblangi Hokuto dan Jesse?

“Lihat, kau sudah kenal dengan model itu! Pasti sebelumnya kau sudah memiliki rencana.”

“Tidaaaak, aku hanya bilang aku akan membawa dua orang temanku,” ucap Miyu. Merasa mengantuk, Miyu menyandarkan kepalanya di punggung Hokuto yang membuat napas Hokuto tercekat dan jantungnya berdebar tak karuan. Padahal sudah dua kali dia menggendong Miyu, tapi baru kali ini dia merasa aneh seperti sekarang. “Aku penasaran…”

“Apa?” Hokuto yang sempat seperti tersentrum listrik itu mencoba menenangkan dirinya.

“Kira-kira wanita seperti apa yang akan kalian nikahi…” gumam Miyu dengan suara pelan.

“Kenapa kau sepenasaran itu sih?”

“Tidak hanya kalian, aku juga melakukan hal yang sama dengan ayahku. Tapi ayahku tampaknya tidak mau mencari pendamping…”

“Kurasa ayahmu lebih ingin menjagamu daripada mencari istri baru,” ujar Hokuto menyuarakan pendapatnya.

“Aku tahu. Karena itu aku tidak suka.” Miyu menghela napas.

Melihat semangat Miyu yang kembali turun, Hokuto mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana kalau kita ke taman?”

Miyu tidak menjawab, dia mengangguk hingga membuat Hokuto merasa geli di punggungnya karena Miyu masih bersandar.

Sesampainya mereka di sebuah taman, Hokuto menurunkan Miyu dan membantunya untuk duduk di salah satu bangku. Sinar matahari sore menerpa wajah Miyu, baru kali ini Hokuto melihat wajah Miyu tidak sepucat biasanya. Kini ada sedikit rona merah di pipinya.

Hokuto belum terlalu lama mengenal Miyu. Tetapi anehnya, Hokuto merasa seakan-akan Miyu seperti bagian dari hidupnya, akan sangat terasa asing seandainya tiba-tiba saja gadis itu menghilang. Bagaimana bisa hal seperti ini bisa terjadi?

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Miyu merasa aneh karena sedaritadi Hokuto terus menatapnya dengan mata sayu.

Hokuto berdeham dan duduk di sebelah Miyu. Mereka kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jika kebanyakan situasi seperti ini pasti akan membuat kedua belah pihak menjadi canggung karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Namun lain halnya dengan Miyu dan Hokuto, karena terlalu banyak yang ingin dikatakan mereka harus berpikir terlebih dahulu. Dan hasilnya, keheningan seperti sekarang ternyata bisa menciptakan kenyamanan tersendiri.

“Besok apa yang akan kau lakukan?” tanya Hokuto yang akhirnya memecah keheningan.

“Hmmm… tidak ada yang lain selain pergi ke sekolah. Kalau kau?”

“Aku juga akan ke sekolah.”

“Benarkah?” tanya Miyu dengan mata berbinar-binar.

“Memangnya aneh kalau aku ke sekolah?”

Miyu tertawa pelan, “Begitulah yang kudengar dari Aiba-sensei. Dia bilang kau lebih suka kegiatan yang melibatkan otot dibandingkan otak.”

Pernyataan jujur yang keluar dari bibir Miyu itu bukannya membuat Hokuto marah, dia malah tersenyum, “Pria tua itu sepertinya terlalu banyak bicara.”

“Aku juga pikir begitu. Dia menceritakan semuanya bahkan tanpa kutanya.”

Jeda beberapa saat, Miyu mencondongkan tubuhnya ke arah Hokuto, “Hei, Hokuto-kun.”

“Hm?”

“Apa aku boleh meminta sesuatu?”

Hokuto mengernyitkan dahinya. Memangnya apa yang bisa diminta Miyu dari seorang Hokuto? Miyu sudah memiliki segalanya, sedangkan Hokuto terkadang harus melakukan part time untuk menghidupi dia ketiga adiknya.

Miyu membuka tas dan mengeluarkan ponsel miliknya. Hokuto hanya bisa melihat ketika gadis itu mengutak-atik ponselnya hingga akhirnya layar ponsel itu memperlihatkan gambar mereka berdua.

“Ayo foto!”

Tanpa aba-aba, Miyu mengambil gambar. Hokuto yang masih tidak mengerti menatap lensa kamera hingga foto dirinya terlihat aneh. Melihat wajah Hokuto seperti itu langsung membuat Miyu tertawa.

Setelah tawanya mereda, Miyu memasukkan ponselnya dan melanjutkan, “Lalu aku ingin bekal buatanmu.”

Hokuto tidak langsung berkata-kata, hingga Miyu memberikan tatapan memicingkan matanya, “Tidak mau ya?”

Dengan tergagap, Hokuto menjawab, “Te… tentu saja, akan kubuatkan.”

Mendengar persetujuan itu membuat gadis itu langsung sumringah.

“Besok aku akan menemuimu begitu jam istirahat di atap sekolah,” ucapnya lagi.

Hokuto pun mengangguk mengerti.

Tanpa diduga oleh Hokuto, Miyu bersandar di pundak Hokuto. Napasnya yang panjang pendek bisa terdengar oleh Hokuto. Hokuto mencoba menatap Miyu, dan dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengecup rambut gadis itu.

Hokuto menunggu Miyu di atap sekolah saat istirahat tiba, sesuai dengan yang dijanjikan mereka kemarin. Tetapi sudah 10 menit berlalu, Miyu tak kunjung muncul.

Hokuto meletakkan kotak bekal itu di sebelahnya dan berbaring menghadap ke langit. Baru pertama kali ini dia membuatkan bekal untuk orang yang bukan keluarganya. Lagipula, di mana-mana biasanya si perempuan kan yang membuatkan bekal? Tetapi, yang terjadi dengan dia dan Miyu justru tak seperti itu. Memikirkannya saja membuat Hokuto tersenyum.

Berbagai hal yang kini terjadi benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh Hokuto sebelumnya. Berkenalan dengan Miyu, terlibat dengan masalah-masalahnya, hingga akhirnya kehadiran Miyu menjadi sesuatu kewajaran tersendiri. Awalnya gadis yang tak pernah tersenyum itu memang terlihat begitu dingin tak bersahabat, namun begitu mengenalnya lebih jauh ternyata dia sangat murah senyum dan memiliki berbagai pemikiran yang unik.

Dengan senyuman yang tak bisa lepas dari bibirnya, Hokuto terus tersenyum membayangkan kedatangan Miyu. Namun, keadaan tak seperti yang dibayangkannya. Hari itu, Miyu kembali tidak datang ke sekolah…

 

———————————-

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s