[Oneshot] Game Of Love : Only You

Game Of Love sequel : Only You
Author (s) : NadiaMiki, YamAriena, Dinchan
Type : Oneshot
Genre : Romance, Friendship
Rating : PG-13
Staring : Chinen Yuri (HSJ); Kanagawa Miki (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; Kanagawa Miki is NadiaMiki’s OC.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily

cover 2

“Chii no BAKA… ugghhh…”

Miki memandang ponsel ditangannya dengan gemas. Hampir saja benda tak bersalah itu dibantingnya, namun tidak jadi.

Sudah hampir dua jam dia menunggu, namun kekasihnya tidak juga kelihatan datang menjemputnya. Padahal pria itu berjanji akan menjemputnya dari sekolahnya hari ini. Sejak tadi, sudah ratusan kali Miki mencoba menelpon ke ponsel kekasihnya namun sama sekali tidak diangkat.

“Chii kemana sih?” rutuk Miki masih dengan kesal.

Miki lalu melihat kesana kemari, namun sekolahnya sudah terlihat sangat sepi. Langit juga semakin senja. Akhirnya Miki memutuskan untuk berjalan pulang sendiri kerumahnya.

“Awas saja dia nanti,” kesal gadis itu.

Selama di perjalanan, Miki mengucapkan banyak sumpah serapah(?) terhadap kekasihnya yang tidak ada kabar. Tanpa dia sadari, sebuah mobil jeep tiba-tiba berhenti tidak jauh dari dirinya. Miki mendadak terdiam ditempatnya. Caci maki yang tadi dilontarkannya mendadak berubah menjadi rentetan doa keselamatan karena pikirannya mulai membayangkan yang tidak-tidak. Apa dia akan diculik? Lalu dia harus apa sekarang? menelpon orang dirumah? Atau lari?

“Miki? Kau baru pulang?” kata orang yang turun dari mobil jeep itu yang tidak lain adalah Miharu.

“Nee… san..” kata Miki dengan lega.

“Miki chan, ayo naik!” Inoo hanya berteriak sambil mengeluarkan kepala dari dalam mobilnya.

Miki pun menarik nafas lega karena tanpa dia sadari, sedari tadi dia menahan nafasnya karena ketakutan. Gadis itu pun lalu menghampiri pintu yang dibuka oleh Miharu dan naik ke dalam mobil jeep milik Inoo.

“Kenapa baru pulang?” tanya Miharu setelah mobil itu kembali melaju dengan kecepatan sedang.

“Si bodoh itu bilang dia mau menjemputku, tapi dia terlambat..” kata Miki sambil cemberut di tempatnya.

Di tempatnya Inoo nyengir sambil melihat Miki dari kaca depan, “Jangan-jangan dia sedang bersama gadis lain dan melupakan… aaawww”

Belum sempat Inoo menyelesaikan kalimatnya, Miharu sudah lebih dulu mencubit lengan pria itu dengan gemas. Membuat Inoo harus melepaskan satu pegangan stir nya untuk mengelus lengannya yang dicubit oleh Miharu.

“Tidak semua pria itu seperti kau, Inoo Kei!” kata Miharu tajam.

“Aku tidak bercanda… insting seperti itu alami bagi semua pria,” kata Inoo lagi sambil nyengir.

“Kau mau ku cubit lagi sampai memar?” ancam Miharu.

Inoo pun tertawa dengan keras ditempatnya, lalu berkata dengan nada jahil “Jangan melakukan KDRT disini, sayang… nanti saja kita lanjutkan di kamar..”

“Inoo Kei!!” Miharu berteriak frustasi sambil memukul Inoo yang sedang menahan semua serangan gadis itu sambil tertawa.

Tanpa mereka sadari di kursi belakang, Miki duduk terdiam sambil menopang dagunya dan memandang keluar jendela, memikirkan kata-kata Inoo barusan. Apa benar kalau Chinen menyukai wanita lain dan melupakannya?

***

“Gomen Miki-chan, aku ada tugas dadakan. Sampai ketemu besok,”

Setelah tidak ada kabar seharian, Chinen mengirimkan pesan singkat yang benar-benar singkat. Membuatnya kesal saja. Ketika Miki mencoba meneleponnya pun Chinen tidak mengangkatnya. Miki menyimpan ponselnya di atas meja belajar. Ia harusnya belajar karena besok ada tes untuk pelajaran matematika, tapi pikirannya sekarang benar-benar kacau.

Akhirnya dengan mengumpulkan niat, Miki membuka buku matematikanya, ia mencoba beberapa soal, namun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk membuka diary miliknya. Mungkin kalau perasaannya dituangkan sekarang, dia akan lebih merasa tenang.

Ternyata membuka diary dalam keadaan galau bukanlah hal yang benar. Lembar demi lembar buku diary itu berisikan curhatannya mengenai Chinen. Seorang pemuda yang ia taksir sejak kelas dua SMA. Saat itu Miki adalah salah satu ‘fans’ dari Chinen Yuri. Bahkan Miki pernah mengirimkan coklat valentine di loker Chinen, mengirimkan surat juga pernah. Lalu suatu hari tiba-tiba Chinen ada di depan loker milik Miki.

“Hey. Kanagawa Miki-chan?”

Bisa dibayangkan muka merona, jantung deg-degan, pokoknya kalau diingat-ingat pasti ekspresi Miki saat itu sangat memalukan.

“Eh, iya senpai,” dug dug dug. Bahkan suara jantung Miki berdengung di telinga sendiri.

Arigatou ne, aku sangat suka. Enak sekali,” Chinen mengacungkan kotak bekal milik Miki. Memang Miki membuat kue kering saat pelajaran tataboga dan sengaja memberikannya kepada Chinen kue kering saat pelajaran tataboga dan sengaja memberikannya kepada Chinen.

Yokatta kalau senpai suka,” ujar Miki malu-malu.

“Ne, Miki-chan, mau jadi pacarku?” Chinen Yuri saat itu tersenyum dengan manis, memamerkan gigi kelincinya, senyumannya yang manis dan sudah sangat sering dibicarakan gadis-gadis di sekolahnya.

Miki saat itu yakin, beberapa menit kemudian Chinen akan berkata ia hanyalah bercanda saja. Karena Miki mempunyai teori ini, bahwa seseorang yang tampan, populer seperti Chinen, mempunyai dunia yang berbeda dengannya. Dengan kata lain, Chinen Yuri adalah tipe pria yang akan memilih seorang gadis manis dan cantik, mungkin dengan tampilan feminin dan memiliki lesung pipit, oke itu berlebihan, tapi yang jelas bukan seorang Kanagawa Miki. Yang biasa, dan chubby, bukan berarti Miki tidak percaya diri dengan bentuk pipinya ini.

“Miki-chan, kenapa melamun?”

“Uhm…” speechless, “Tapi senpai… kenapa?”

“Karena aku meyukai Miki-chan, sudah jelas kan?”

Dan sejak saat itu mereka berpacaran. Setiap pergi sekolah, Chinen akan menunggu Miki datang dan akan berjalan beriringan sampai di depan kelas Miki, ya, Chinen mengantarnya ke depan kelas. Lalu saat istirahat, Miki pun akan bertemu dengan Chinen, selanjutnya pulang sekolah mereka akan pulang sama-sama. Saat itu adalah hari-hari terbaik yang pernah Miki rasakan.

“Belum tidur?” saat Miki turun untuk mengambil makanan kecil untuk menemani belajarnya, well, lebih banyak melamun sih, tapi biarlah anggap saja belajar, Sora juga ke dapur untuk mengambil bir.

“Masih belajar, Neesan,” jawab Miki.

Sora mengangguk-angguk, “Wajahmu kenapa?”

Miki otomatis menyentuh wajahnya, “Kenapa memangnya Nee?”

“Sedih, kecewa, sedikit tertekan. Ada masalah? Orang tuamu? Atau…. Chinen-kun?” Miki agak curiga, mungkin sebenarnya Sora nee adalah mahasiswi psikologi bukan literatur.

“Hanya masalah kecil kok, Nee, Chii semakin sibuk, aku merasa agak kesepian,”

“Beri ruang untuknya sedikit, Miki-chan, jangan teror dia ya,” ucap Sora nee yang lalu beranjak ke ruang tengah, Miki pun mengikutinya, “Laki-laki tidak suka di teror. Jadi, kalau dia memang sedang sibuk, biarkan saja dulu dia. Semakin kau menerornya, dia akan semakin menjauh.”

“Jadi begitu ya?” Miki mengingat puluhan e-mail dan beberapa kali telepon yang tidak dibalas atau diangkat sama sekali oleh Chinen.

“Tenang saja. Kau harus percaya padanya,”

“Neesan, selalu begitu pada Takaki-san?”

Sora tiba-tiba tertawa, “Tidak tidak… kalau aku dan dia, berlaku sebaliknya,” Sora pun meninggalkan Miki setelah menepuk pelan bahu gadis itu, “Tidur sana, sudah malam!”

***

“Kanagawa-san, coba kerjakan soal matematika di papan tulis” tak ada sahutan, orang yang di panggil masih setia dalam lamunan nya.

“Kanagawa, apa kau mendengar ku?”

“Heh, Miki, kau di panggil baka!” tiba-tiba lamunan Miki kacau karena teman sebangku nya menyenggol tangan Miki yang sedang menopang dagunya.

“A-aah apa?” Miki linglung.

“Ke depan! Dan kerjakan soal!”

“Heee?!” Dengan langkah sedikit lesu Miki pun ke depan dan menatap soal itu dengan sedikit nanar, ia lupa.

Padahal semalam sudah di pelajarinya hingga tengah malam.

Arrgh bodoh.

.

.

Baka yo!” Miki membating tubuhnya di atas sofa, membuat Arina yang saat itu sedang asik dengan komiknya langsung menoleh dan melihat Miki dengan heran.

“Siapa bilang kau pintar?” Arina bertanya dengan santai.

“Maksud ku Yuri! Aahh aku juga, aku sampai kena hukum karena tidak bisa menjawab soal matematika tadi”

“Lalu?” Arina rasa tak ada hubungannya dengan Chinen.

“Aku lupa karena memikirkan dia” well, Arina mengerti sekarang ini.

Ia pun lalu menyelipkan sebuah pembatas komik, lalu menutup komik itu “Miki..ingat, kamu sebentar lagi akan tamat,dia juga sedang sibuk…coba kamu belajar dengan fokus saja…” kata Arina mencoba menenangkan Miki.

Meski ia jarang sekali bersikap seperti itu.

Namun sebaliknya, Miki malah semakin kesal karena merasa Arina tidak mengertinya sama sekali.

“Ah.. aku lelah, mau mandi” Miki pun berlari ke arah kamarnya menaikin tangga.

“Sensi lagi?” Tanya Miharu sambil mengambil tasnya, dia akan berangkat kekampus.

Arina mengangkat bahunya “masih labil”

***

Berkali-kali Miki memandangi ponselnya, membaca ulang seluruh isi pesan nya ke Chinen yang sampai kini sama sekali belum dibalas.

Hanya ucapan selamat pagi yang Miki terima.

“Yuri..apa kita putus saja?” Terkirim.

Satu menit.

Dua menit.

Miki kembali membuka ponselnya, dan melihat pesan yang ia kirim.

Di baca!

Kenapa ketika ia minta putus baru di baca?

Arrghh dia semakin frustasi!!

“Ah? Kenapa kau minta putus?” Kali ini Miki benar-benar membanting ponselnya ke lantai, untung tidak sampai pecah. Lalu ia memeluk bantal guling dan menangis.

Baka!

Dasar tidak peka!

Makinya di dalam hati.

“Are…” Sora kaget melihat ponsel Miki yang berada dilantai dekat pintu, hampir saja terinjak.

“Hey.. kenapa?” Sora mengambil ponsel Miki lalu melihay layar ponsel itu, ada panggilan masuk.

Dan itu dari Chinen.

“Miki, Chinen menelpon mu,” kata Sora-nee sambil menyodorkan ponsel itu ke arah Miki.

Namun Miki menggeleng, “biarkan saja,” katanya dibalik bantal guling yang sedang ia peluk.

Tak lama, sambungan itu terputus lalu kembali berbunyi. Karena tahu Miki akan tetap keras kepala, Sora pun keluar dan mengangkat telepon itu.

Tapi, Sora-nee tercengang karena Chinen langsung menghujani pertanyaan yang entah Sora harus jawab apa.

“Miki? Kau baik baik saja? Kenapa? Apa salah ku? Kenapa minta putus? Hey, jawab aku..Miki? Miki?”

Putus?

Sora semakin diam mendengar kata-kata itu. Dasar Miki, mengambil keputusan dengan cepat tanpa di pikir lagi.

“Anoo… Chinen kun, tenang dulu.. aku jadi bingung menjawabnya..” kata Sora berusaha menenangkan suara panik di seberang sana.

“Eh? Ini… bukan Miki?” tanya Chinen.

Sora lalu tersenyum, “Ini Sora… ponselnya di biarkan tergeletak begitu saja di lantai, sepertinya dia sedang tidak mau menerima telpon dari siapapun..” jelas Sora.

“Sora oneesan… itu.. tadi aku menerima pesan kalau Miki meminta putus dariku. Apakah… jangan-jangan aku melakukan kesalahan padanya. Dia benar-benar sedang marah ya?” jelas sekali Sora mendengar nada sedih di suara Chinen saat itu.

“Jangan terlalu di pikirkan.. dia hanya kesal karena beberapa hari ini kau mengabaikannya. Sampai kau lupa menjemputnya tadi sore…” kata Sora

“Masalah itu… sebenarnya aku mendapat telpon mendadak yang mengabarkan kalau ada kerabatku yang meninggal, jadi aku harus ke kampung halamanku siang tadi.. aku lupa mengabarkan padanya. Dan saat dia menelponku, kami sedang berada di tengah-tengah acara kremasi… kami akan pulang besok siang, dan aku berencana untuk langsung menjemputnya besok…” jelas Chinen panjang lebar, “Hontou ni gomennasai..”

Sora menghela nafasnya, “ternyata begitu.. anak itu benar-benar sembrono..”

“Sora oneesan.. kalau bisa, bisakah oneesan menolongku untuk menjelaskan semuanya padanya? Ku mohon…” kata Chinen lagi penuh harap.

“Bisa saja… tapi aku tidak bisa menjamin dia akan tenang kembali apa tidak. Yah… kau kenal dia dengan baik kan…” kata Sora lagi.

“Benar… ah, oneesan, aku sudah dipanggil, kututup dulu ya.. maaf merepotkan oneesan” kata Chinen.

Beberapa saat kemudian sambungan itu pun diputus setelah Sora dan Chinen bertukar salam. Sora menghela nafasnya panjang lalu memutuskan kembali ke dalam kamar Miki.

“Miki…” panggil Sora saat masuk.

“Aku tidak mau dengar apapun. Aku ingin dia sendiri yang menjelaskannya padaku…” kata Miki yang masih membenamkan wajahnya sendiri di dalam bantal.

Sora tampak mengerutkan keningnya saat meletakkan ponsel Miki di meja belajar gadis itu, “Kau ingin mendengar dia yang menjelaskan, tapi sama sekali tidak mau menjawab telponnya??”

Miki mengangkat wajahnya dari bantal lalu mengerucutkan bibirnya, “Masa Sora nee tidak paham? Itu balasan karena dia mengabaikan telponku… tidak mungkin aku memaafkannya semudah itu.” Kata Miki yang langsung kembali membenamkan mukanya, “Pokoknya, Chii harus datang sendiri menemuiku dan menjelaskannya..”

“Yah… terserah kalau begitu. Tunggu saja dia sampai besok..” kata Sora geli sambil menggeleng kepalanya.

“Ah… ternyata disini..” kata Arina yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

“Kenapa? Butuh sesuatu?” tanya Sora.

“Aku mau pergi dulu. Hari ini ada pameran dan bazar anime dan manga, aku mau berburu harta karun…” jawab Arina dengan sangat antusias.

Miki mengangkat wajahnya dan melihat penampilan Arina saat itu, “Nee mau kencan ya? Dengan Yamada?” tanyanya.

“Tentu saja tidak.. siapa yang mau pergi dengan pria menyebalkan itu..” kata Arina acuh sambil memeriksa ponselnya.

Miki dan Sora hanya saling berpandangan dengan heran. Tiba-tiba saja Arina terlihat hampir melompat dengan girang, “Dia sudah di depan… ittekimaaaasssuuu~

Sora lalu mengintip keluar melalui jendela kamar Miki, dan melihat seorang pemuda dengan motor mengenakan jaket kulit dan helm, membuat wajahnya susah untuk dikenali.

“Sepertinya memang bukan Yamada… sejak kapan Yamada bawa motor?” gumam Sora.

“Dasar Arina nee, mirip sekali dengan Chinen. Gak peka. Padahal aku sedang dilema begini, bukannya di hibur dia malah asik bersenang-senang sendiri dengan pacar baru..” gerutu Miki sambil menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.

Sora hanya tertawa geli dan geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.

Sora duduk di sebelah Miki dan menepuk pelan kepala gadis itu, “Miki-chan, syarat kalian berbaikan adalah kamu mau mendengarkan dirinya, akan ku telepon dia, mungkin akan datang saat urusan pemakaman sudah selesai,”

“Eh? Pemakaman siapa?!” seru Miki kaget, seketika ia duduk dan menatap Sora yg sudah beranjak keluar.

“Katanya mau dengar langsung saja dari dia,” Sora terkekeh, “Adios!! aku ada kencan dengan Yuya!”

.

.

Setelah beberapa hari, akhirnya Chinen bertemu dengan Miki. Sore itu Chinen menjemput Miki di sekolah, seperti biasa.

“Miki-chan!!” panggil Chinen yang sudah menunggu di gerbang sekolah.

Miki tidak yakin dia mau tersenyum atau cemberut menyambut Chinen, tapi akhirnya memutuskan untuk memberikan sedikit senyum. Kalau dipikir-pikir, dia kangen pada Chinen.

“Chii…” suara Miki terdengar lirih, Chinen tersenyum dan memeluk Miki sekilas.

Chinen menjelaskan bahwa pamannya meninggal dan saat itu juga ia harus ke Shizuoka saat itu juga. Karena Paman ini adalah orang yang cukup dekat dengan keluarganya.

“Tapi kau lupa memberitahuku!!” Miki masih protes, “Setidaknya kirimkan pesan. Aku kan menunggumu,”

Chinen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Hontou ni gomen. Karena panik, aku benar-benar lupa, onegai Miki-chan… maafkan aku,” Chinen meraih tangan Miki dan menggenggamnya dengan kedua tangan.

“Tapi traktir es krim ya?” kata Miki.

Chinen tersenyum lega, gadisnya sudah kembali, untunglah dia tidak marah lagi.

Hari minggu yang tenang. Penghuni rumah tingkat dua itu masih terlelap di alam mimpi sepertinya, Miki sebenarnya sudah bangun tapi dia memutuskan untuk berbaring dulu, tidak bergerak dari kasurnya.

Ngomong-ngomong soal rumah ini, sebenarnya rumah ini milik orang tua Arina. Namun orang tuanya harus pindah keluar kota, namun saat itu menurut Arina dia menolak untuk pindah karena alasan sekolah, dan Yamada (Walaupun sekarang ia tak mau mengakuinya) yang waktu itu masih kekasihnya. Karena rumah ini terlalu besar untuk ditempati sendiri, Arina memutuskan untuk mengajar Miharu, temannya sejak kecil, yang juga akan berkuliah di Tokyo. Lalu beberapa bulan kemudian Sora bergabung, dia satu klub jurnalis dengan Arina. Sementara Miki sendiri adalah murid privat Sora. Keadaan Miki sama seperti Arina, orang tuanya harus pindah, namun Miki sudah kelas tiga, tidak mungkin ia pindah sekarang. Maka Sora menawarkan untuk tinggal bersamanya di rumah Arina, dan orang tua Miki pun akhirnya setuju.

Ketika Miki melihat jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul delapan, Miki akhirnya beranjak. Ia sudah janjian dengan Chinen, untuk kali pertama sejak mereka pacaran Miki akan ke rumah Chinen. Sejuta perasaan campur aduk d hatinya. Takut, sekaligus ingin tau, dan juga gugup.

Ketika Miki selesai mandi dan siap-siap, Miki menuju ke lantai bawah dan alangkah kagetnya ketika melihat Sora dan Takaki yang sedang, errr, bercumbu. Seketika Miki merasa risih dan tak tau harus bereaksi seperti apa. Sora sepertinya sadar ada yang datang dan menghentikan ‘kegiatannya’ dengan Takaki.

“Miki-chan! Itu sarapannya sudah aku siapkan,” ucapnya tanpa terlihat canggung dan melepaskan diri dari Takaki.

“Ohayou Miki-chan!” sapa Takaki, sudah jelas pasti Takaki bermalam d rumah ini, karena terlihat masih dengan celana pendek dan kaos oblong.

“Kencan dengan Chinen-kun?” tanya Sora yang menemani Miki di meja makan.

Miki mengangguk, “Chii mengajakku ke rumahnya,”

“Akhirnya ya Miki-chan…” Takaki berkomentar dari sofa.

Mata Miki membulat tak mengerti, “Maksudnya?”

“Ahahaha, kau taulah kalau pria mengajakmu ke rumahnya, ia pasti ingin melakukan sesuatu denganmu,”

“Yuya, diam!!” hardik Sora, “Jangan dengarkan dia, oke?”

Miki tiba-tiba merasa panik. Benarkah? Masa sih?

.

.

Miki yang sudah tiba di depan rumah keluarga Chinen tiba-tiba merasa keringat dingin membasahi tangannya. Bagaimana ini? Apalagi Chinen tadi bilang kalau Ibunya sedang belanja dan kakaknya bahkan tidak di rumah. Apakah ini saatnya?

Walaupun mereka sudah pernah berciuman sebelumnya, tapi apakah ini artinya mereka akan masuk ke fase yang lebih serius?

Jujur saja Miki sebenarnya juga penasaran, tapi juga merasa belum siap.

Miki akhirnya menekan bel rumah kediaman Chinen dan beberapa menit kemudian Chinen muncul membukakan pintu.

“Hey! Ayo masuk,”

Miki mengangguk dan masuk ke rumah bergaya Jepang itu, “Ojamashimasu,” ucapnya sambil menyimpan sepatunya di genkan dan mengikuti Chinen, sebelumnya ia memakai slipper yang disediakan oleh Chinen.

“Kau tunggu di kamarku saja, ada namaku d pintunya. Aku ambil snack dulu ya,” ucap Chinen menunjuk ke tangga di sebelah ruang TV. Miki hanya bisa mengagguk gugup dan akhirnya menuruti perkataan Chinen.

Saat Miki masuk ke kamar Chinen, dilihatnya kamar dengan dominan warna biru dan abu-abu. Terdapat meja belajar, dan tempat tidur serta sebuah meja kecil di dekat ranjang, sementara lantainya sebagian tertutupi oleh sebuah karpet berwarna biru tua. Miki memutuskan untuk duduk d atas karpet karena rasanya terlalu gugup untuk duduk di atas kasur Chinen tentu saja.

Senyum Miki mengembang ketika melihat sebuah frame dengan foto mereka saat field trip ke Kyoto. Ia ingat saat itulah pertama kali Chinen menciumnya. Tepat tiga bulan setelah mereka berpacaran. Menurut teman-temannya, hubungan Chinen dan Miki berjalan terlalu lambat, namun Miki sendiri tidak tau harusnya seperti apa karena Chinen Yuri adalah pacar pertamanya.

“Maaf lama,” pintu terbuka dan Chinen terlihat membawa dua kantung snack ringan dan dua botol minuman soda.

Miki menggeleng, “Aku sedang mengaggumi kamarmu yang rapi, hehehe” sepertinya ia harus ekstra beres-beres jika Chinen ke rumahnya. Mengingat kamarnya bisa dibilang sangat berantakan, bahkan Sora selalu mencak-mencak jika melihat kamarnya.

“Karena Miki akan kesini jadi aku beres-beres,” ucapnya.

“Masih ingat field trip ini?” Chinen mengambil frame foto Kyoto nya, “Aku ingat Miki-chan tersesat dan saat aku menemukanmu kau sedang menangis, hehehe,”

Miki merebut frame itu, “Habis Chii-kun membuatku kesal sih,” Ya, hari itu dia memang marah pada Chinen dan nekat berjalan-jalan sendirian.

“Kamu marah hanya karena aku mengajak yang lain ikut kan? padahal aku sudah janji kita harusnya jalan-jalan berdua,” Chinen mendekat ke arah Miki dan merangkul gadisnya itu, “Kau harus tau aku panik sekali saat kau tiba-tiba menghilang,”

Miki bisa merasakan nafas Chinen di kupingnya, membuatnya sedikit bergidik karena geli.

“Kan aku ingin jalan berdua dengan Chii-kun,” ucap Miki yang kini bersumpah rasanya detak jantungnya tidak bisa ditolerir lagi.

Chinen tertawa kecil, “Miki-chan itu selalu spontan dan jika ada yg tidak sesuai dengan yg kau inginkan, Miki-chan langsung mengatakannya tapi kau juga cepat sekali memaafkanku,”

Miki hanya terdiam. Kini serba salah tingkah karena tiba-tiba saja Chinen mencium kepalanya dan terasa seperti sedang menghirup wangi rambut Miki.

“Aku selalu suka wangi rambut Miki-chan, mint dan segar sekali,”

Duh. SIAL! Aduh!! Miki tiba-tiba memikirkan apa yang dikatakan Takaki dan seketika ia mengingat pembicaraannya dengan teman-temannya di sekolah. Ya tentu saja teman-teman Miki sebagian besar juga sudah melakukannya dengan pacar mereka masing-masing. Selama ini Miki hanya mendengarkan saja tidak pernah ikut nimbrung karena memang Miki belum pernah melakukannya.

“Kenapa kau gugup sekali?” tanya Chinen, membuat Miki tersentak lalu dengan gerakan cepat membuka satu snack yg tadi dibawa oleh Chinen.

Aku lapar!! hehehe” Chinen tertawa mendengarnya dan ikut-ikutan memakan keripik itu.

“Belepotan tuh,” kata Chinen, tangannya terulur membersihkan remeh-remeh yang diakibatkan cara makan Miki yang tidak rapi.

Saat jari Chinen menyentuh bibirnya, Miki menatap Chinen dan cowok itu perlahan mendekatkan wajahnya. Namun sebelum bibir Chinen menyentuh bibirnya, Miki cegukan dan membuat Chinen terhenti.

“Ugh,” Miki menahan cegukannya namun tidak berhasil.

“Ahahahaha,” Chinen tertawa dan mencium kening Miki, “Ini minum dulu,” Miki mengangguk dan cepat-cepat meminum air sodanya, berharap cegukannya segera berhenti.

Ting Tong. Suara bel rumah Chinen berbunyi. Chinen segera beranjak, “Sebentar ya,”

Miki pun beranjak untuk melihat siapa yang datang. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang sebahu, setelan modis, tubuh ramping dan imut sekali wajahnya, Chinen terlihat berbincang dengan gadis itu di depan pagar.

Beberapa menit kemudian Chinen masuk ke dalam, namun gadis itu masih di depan pagar dan benar saja Chinen pun muncul di pintu kamarnya.

“Miki-chan, gomen… keberatan kalau Yui-chan bergabung?”

Miki tak tau apa yang harus ia jawab.

“Uhm? Kenapa?”

“Dia sudah jauh-jauh kesini, aku tidak mungkin menyuruhnya pulang sekarang,”

Raut wajah Chinen terlihat menyesal dan khawatir.

Siapa dia?

Kini pikiran Miki sudah melayang entah kemana, memikirkan si Yui-chan..yah tersengar sangat akrab dan Miki merasa dadanya tiba-tiba panas, bagaikan ada api yang sedang menyala-nyala.

Dengan terpaksa Miki tersenyum dan mengangguk “y-ya…boleh saja”

Sekali lagi, siapa perempuan ini?

“Arigatou”

“Nah.. kalian duduk dulu saja ya, aku akan mengambilkan minuman untuk Yui-chan”

“Hanya untuk dia?” Tanya Miki sebelum Chinen beranjak ke dapur, kecemburuan Miki tanpa di sadarinya sudah 100% saat ini.

“Miki..punya mu kan ada di kamar ku…” kata Chinen, mengingat kalau mereka sudah meminum soda di kamar milik Chinen tadi.

Canggung, karena sudah merasa salah sangka, Miki pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum hambar. Kini, hanya ada dirinya dan..siapa nama nya? Yu–Yui?

Ah apalah itu Miki tak perduli.Mereka hanya saling diam, dan Miki sekilas melirik ke arah Yui. Cantik, wajahnya sangat imut dan terlihat dia sangat ramah karena dari tadi terus memasang senyum yang menurut Miki–oh menjijikan. Ketika dia berdiri tadi juga kelihatannya Yui lebih tinggi darinya bahkan dari Chinen. Bisa di katakan wanita ini cocok untuk menjadi model.

“Nah.. ini” lamunan Miki buyar saat Chinen kembali dan membawa beberapa makanan kecil, serta minuman untuk Yui dan milik Miki yang berada di kamarnya tadi. Setelah itu, Chinen duduk di antara keduanya.

‘Kenapa harus duduk dekat dengan dia sih?’ Protes Miki dalam hati.

“Oh..jadi dia pacar mu?” Yui mulai berbicara ketika Chinen duduk di sampingnya, diam-diam Chinen mengenggam tangan Miki–agar Miki tidak marah.

“Ya.. dia pacar ku, ngomong-ngomong..bagaimana tugas kita?”

“Oh ya, ini” Yui pun mengeluarkan beberapa berkas yang kemudian Chinen membaca berkas itu dengan serius.

Miki baru mengerti jika Yui ini adalah teman kampusnya Chinen yang sedang mengerjakan tugas kelompok bersama Chinen. Namun, setelah satu jam Miki menunggu mereka mengerjakan tugas, belum juga selesai. Miki merasa di abaikan dan sangar bosan, ingin rasanga berpamitan pulang. Tapi tidak enak menganggu pekerjaan Chinen. Ingin juga dia pulang tiba-tiba, tapi dia takut Chinen merasa dirinya marah. Walau kenyataan nya memang begitu.

“Chii-kun..” Miki memanggil Chinen pelan saat Chinen dan Yui masih sibuk dengan tugas mereka.

“Nanti Miki..aku masih sibuk” mata Chinen masih terfokus pada berkas itu.

“Chii…”

“Nanti dulu!! Kau bisa mengerti tidak si?!” Kini Chinen melihat Miki dengan tatapan marah, namun raut wajahnya berubah saat melihat Miki menangis dan membereskan barang-barangnya.

“A-aku pulang saja” cepat-cepat Miki keluar dari rumah Chinen, berlari sejauh mungkin meskipun Chinen sudah memanggilnya.

Saat sampai dirumah, tanpa membuka sepatunya lagi Miki langsung naik dan membanting tubuhnya ke kasur.

Menangis sejadi-jadinya.

“Chii jahat!! Hiks” ucapnya di tengah tangisannya.

“Ada apa?” Miharu masuk ke dalam kamar Miki lalu duduk di samping gadis itu.

Miharu sedari tadi memperhatikan Miki sejak gadis itu masuk ke rumah dengan berlinang air mata.

“Chii–Chii jahat dengan ku..” Miki berbicara tidak jelas karena tangisnya yang tak bisa dikendalikan.

Melihat itu Miharu pun mengajak Miki duduk dan memeluknya, menenangkan Miki yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

“Sstt..tenang… nanti saja ceritanya kalau belum bisa” kata Miharu sambil mengelus punggung Miki.

“Miki…itu hanya teman kampus kan?” Setelah Miki merasa tenang, akhirnya ia bercerita kepada Miharu.

Miki mengangguk “tapi Chii membentak ku… padahal aku hanya ingin pamitan pulang” Kata Miki lalu menunduk.

Miharu mengelus kepala Miki lembut sambil menggeleng “jadi bagaimana sekarang?”

“Aku ngambek sama dia” Miki mengalihkan wajahnya.

“Lagi?” Ya, sudah sering sekali Miki ngambek, lalu baik lagi dengan Chinen.

Tahan sekali Chinen menghadapi Miki, pikir Miharu.

“Ya..habisnya..”

“Sudah..sudah..” tidak sengaja Miharu mendengar suara motor dari kamar Miki.

Ia pun melihat ke jendela dan mendapati Chinen yang baru saja turun dari motornya.

“Ada Chinen tuh di bawah..” kata Miharu, namun Miki hanya diam.

TING TONG

“Nah..kan benar” kata Miharu lagi, berharap mendapst respon yang bagus.

Tapi nihil, Miki malah tiduran lagi dan menenggelamkan kepalanya ke bantal “bilang saja aku tidur” ucap Miki dengan nada kesal.

Teng tong teng..

“Iya sebentar..” kata Sora saat membuka pintu, namun belum sempat menyapa siapa pun yang datang, orang itu sudah berjalan masuk kedalam rumah.

“Dimana Miki? Dimana dia? Miki…” kata Chinen dengan panik.

“Chinen kun, tenang dulu,” Sora berusaha menenangkan pemuda itu.

“Aku harus bertemu Miki, aku harus menjelaskan semuanya.” Chinen masih panik saat harus berhadapan dengan Sora yang masih sedikit bingung menenangkannya.

“Miki ada dikamarnya…” kata Miharu dari lantai atas.

Saat itu juga, Chinen dan Sora langsung memandang kearah Miharu yang sedang berjalan turun dengan santainya.

“Dia ngambek lagi.. dan menyuruhku mengatakan padamu kalau dia sedang tidur,” kata Miharu santai.

“Di… dia cemburu dengan Yui-chan,” kata Chinen sambil berusaha menjelaskan.

“Yui-chan?” tanya Sora tidak mengerti.

“Teman sekampusku.. dia tadi tiba-tiba datang untuk membahas tugas kelompok kami. Aku tidak sadar kalau Miki merasa tidak nyaman dengan kami… dan aku membuatnya mena..ngis..” Chinen benar-benar merasa sangat bersalah saat mengatakannya.

“Anak itu cepat sekali ngambeknya..ckckck” kata Sora sambil geleng-geleng kepala.

“MIHARU NEE!! DIMANA KUNCI KAMARKU? KENAPA KAU MENGUNCIKU?!” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari lantai atas.

Miharu terkikik geli dan semakin terbahak saat melihat wajah Sora dan Chinen yang bingung dengan insiden kecil itu.

“Chinen-kun, sebaiknya kau bicara sendiri dengannya… ini sudah sering kali terjadi dan sejujurnya kami, dan terutama aku sudah bosan dengan sifatnya yang seperti itu. ” kata Miharu sambil menyerahkan sebuah kunci ke telapak tangan Chinen yang hanya menatapnya dengan bingung.

“Nomor dua sebelah kiri dari tangga. Aku tidak akan mempermasalahkan apa yang akan kalian lakukan, yang lebih aku pedulikan adalah gendang telingaku yang akan pecah kalau dia sudah mulai teriak-teriak, jadi saranku kunci saja kamarnya sampai masalah kalian selesai. Tapi jangan sampai juga kalian memutuskan untuk bunuh diri bersama, kalau itu terjadi kalian yang akan ku goreng” kata Miharu lagi dengan sedikit mengancam.

“Sudah sana.. tenangkan dia..” kata Sora mendorong pelan Chinen sambil menahan senyum gelinya.

Masih linglung, Chinen mengucapkan terima kasih dan langsung berjalan keatas lalu berbelok ke sisi kiri.

“MIHARU NEE!! CEPAT BUKA PINTUNYA! KEMBALIKAN KUNCI KAMARKU! KALAU…..” tiba-tiba saja teriakan Miki terhenti diatas dan itu membuat Miharu tertawa semakin keras.

‘Pasti Chinen sudah membuka pintu dan membungkamnya’ pikir Miharu.

“Dasar kau ini…” kata Sora ikut tertawa geli.

“Salahnya sendiri, terlalu cepat emosi.. biar sesekali dikerjai seperti itu hahahaha” kata Miharu lagi.

Sora geleng-geleng kepala sambil mengecek kembali tas kecilnya yang diletakkannya di atas pantry daput.

“Nee mau pergi?” tanya Miharu sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah.

Sora mengangguk, “Takaki mengajakku makan malam, sebentar lagi dia akan menjemputku. Kau sendiri tidak kencan? Ini kan akhir pekan..” kata Sora.

“Inoo akan datang malam nanti, kami berencana akan menonton DVD di rumah saja..” kata Miharu.

Tepat saat itu terdengar bunyi klakson dari luar. Sora langsung mengambil tasnya dan berjalan keluar, disusul Miharu yang ingin menutup pintu kembali, namun urung karena dia melihat jeep Inoo baru saja masuk melewati pagar rumah.

*****

“Chii…nen? kena..pa?” tanya Miki sambil mengerjap dan sedikit mundur saat melihat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan ternyata yang membukanya adalah Chinen.

Pria itu langsung menutup pintu kamar Miki dan tidak lupa menguncinya, seperti yang disarankan Miharu padanya tadi. Chinen langsung berbalik dan memeluk Miki yang masih kaget ditempatnya saat itu juga.

“Miki, maafkan aku… maaf aku mengacuhkanmu seperti tadi. Jangan begini lagi ya, kau tidak tau kan aku panik sekali tadi..” kata Chinen.

Miki masih kaget dengan semua yang tiba-tiba terjadi. Namun… hisashiburi >w< Miki merasakan betapa dia merindukan Chinen mendekapnya seperti ini. Perlahan tangan Miki terangkat dan membalas pelukan Chinen padanya.

“Kau tau.. betapa aku merindukan kau memelukku seperti ini.” gumam Miki di dada Chinen.

Tanpa sadar air mata gadis itu mengalir. Chinen yang merasakan kemejanya basah mendorong sedikit tubuh Miki untuk memandang gadis itu.

“Kenapa menangis?” tanya Chinen bingung sambil menghapus air mata gadis itu.

“Semenjak Chii-kun mulai sibuk, kau jadi mengabaikan aku… aku benar-benar merindukanmu. Aku kesepian. Padahal tadi kesempatan kita akhirnya bisa berdua, tapi kau malah sibuk dengan temanmu itu..” Miki cemberut sambil memainkan kerah baju Chinen.

“Maafkan aku ya. Aku tidak tau kau begitu kesepian.. maaf aku tidak begitu peka denganmu..” kata Chinen lagi lalu kembali mendekap Miki dengan erat.

Miki mengangguk pelan dalam dekapan Chinen dan membalas pelukannya. Dia merindukan aroma ini. Aroma Chinen yang maskulin saat memeluknya seperti ini. Membuat dirinya tenang dan sangat nyaman.

“Chinen benar-benar hangat..” celetuk Miki.

Perlahan Chinen melepaskan pelukan Miki dan memandang lurus ke wajah gadis itu. Satu tangannya terangkat ke wajah Miki dan menyingkirkan rambut tipis yang berantakan.

“Aku benar-benar bodoh karena sering sekali melupakan kalau aku punya pacar yang sangat manis seperti ini..” kata Chinen.

“Eh?” Miki mengerjap bingung.

Namun belum sempat dia berpikir, Chinen sudah mendaratkan bibirnya di bibir soft pink milik Miki dan melumatnya dengan lembut. Pada awalnya Miki bingung harus melakukan apa, namun akhirnya dia mengikuti apa yang dilakukan Chinen padanya dan membalas lumatan demi lumatan di bibirnya. Chinen nyengir karena merasa mendapatkan lampu hijau lalu mulai menekan lidahnya dan sedikit gigitan di bibir Miki untuk minta akses lebih. Tanpa sadar Miki membuka mulutnya dan saat itu Chinen langsung masuk dan mengajak perang lidah Miki. Ciuman yang diberikan Chinen begitu memabukkan, membuat Miki hilang akal. Pikirannya benar-benar kosong karena Chinen membuatnya larut dengan permainan pria itu.

*****

“Tadaaaa….i..ma?”

Arina yang baru saja pulang langsung terdiam, belanjaannya langsung jatuh begitu saja kelantai saat melihat pamandangan pertama yang ditemuinya saat masuk kerumah. Dua orang sedang saling melumat di sofa ruang tengah. Dan yang paling mengejutkan adalah kaos salah satu dari mereka sudah terangkat dan rambut mereka yang sudah mulai acak-acakan.

“Eh? Nee.. sudah pulang?” tanya Miharu salah tingkah, begitupun dengan Inoo yang mendadak memalingkan muka dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tidak bisakah kalian melakukannya di tempat yang lebih pribadi?” tanya Arina sambil menghela nafasnya dan mengambil kembali barang belanjaannya, lalu berjalan menuju dapur, mengabaikan tingkah Miharu dan Inoo yang semakin salah tingkah karena di sindir seperti itu, “Aku melihat motor Chinen terparkir di depan, dimana dia? Kenapa rumah sepi sekali?” tanya Arina beruntun.

“Ah itu, Chinen ada di dalam kamar Miki. Sora nee pergi kencan dengan Takaki sejak sore.” kata Miharu.

“Di kamar Miki?” Arina mengangkat alis mendengar jawaban Miharu. Gadis itu lalu meletakkan satu kantong belanjaannya di atas meja pantry dan ganti mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas.

“Itu ada kue kalau kalian mau, kalau tidak, kau bisa di letakkan di kulkas saja” kata Arina lagi sambil berjalan menaiki tangga, “Sepertinya aku akan menghindari kamar di sisi kiri untuk malam ini…” celetuk Arina santai sambil belok ke sisi kanan tangga, dan masuk ke kamarnya. Di sisi kiri tangga, dua kamar yang ada disana memang di tempati oleh Miharu dan Miki. Sedangkan Arina dan Sora ada di sisi kanan.

Inoo dan Miharu lalu saling berpandangan dan tersenyum salah tingkah. Miharu lalu bangkit dari posisinya dan menuju meja pantry dan mengecek kantong belanjaan yang di letakkan Arina.

***

Saat Miki membuka matanya, matanya langsung menangkap sosok Chinen yang mendekapnya. Seketika ia merasa wajahnya panas karena mengingat apa yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu.

Miki tidak sanggup beranjak karena dekapan Chinen lebih kuat, dan beberapa saat kemudian Chinen pun membuka matanya.

“Hey.. ini jam berapa?” tanya Chinen yang lalu mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya, “Aduh sudah jam dua pagi,” ucapnya lagi.

Miki mengangguk-angguk. Chinen mengecup pelan puncak kepala Miki, dan tersenyum saat melihat gadis itu terlihat malu.

“Maafkan aku,” bisik Miki.

“Kenapa minta maaf?” tangan Chinen menyusuri rambut panjang Miki, mengelusnya pelan.

“Uhm soal tadi…”

Tangan Chinen terulur mengangkat dagu gadisnya itu dan mencium sekilas bibir Miki, “Kapanpun kau siap, aku akan siap. Itu selalu jadi prioritasku, Miki-chan,”

Ya, ciuman panas tadi terus berlanjut, Chinen membawa Miki perlahan ke atas ranjang, merebahkan tubuh gadis itu dan ciumannya pun beralih ke leher Miki.

“Kau harus membuatku berhenti sekarang atau aku tidak akan bisa berhenti,” kata Chinen sambil menatap mata Miki yang terlihat gugup dan ketakutan.

“Uhmm… ” Miki bergumam dan menutup matanya lalu mengangguk pelan.

Chinen terkekeh pelan lalu mencium kening Miki, “Yameta..” ucapnya lalu melepaskan diri dari Miki dan duduk d tepi ranjang.

“Chii-kun.. aku benar-benar tidak apa-apa,” kata Miki padahal suaranya bergetar karena takut.

Chinen meraih tangan Miki dan menggenggamnya, “Jangan memaksakan dirimu, ya?”

“Tapi.. tapi… ” Miki takut kehilangan Chinen nya.

“Kita masih punya banyak waktu, oke?”

Miki menghambur ke pelukan Chinen sambil terisak pelan.

Begitulah akhirnya Chinen dan Miki hanya berpelukan sambil mengobrolkan banyak hal. Belum pernah mereka lakukan dan baik Miki atau Chinen merasakan hal yang sama, yaitu kenyamanan satu sama lain. Seakan mereka tidak butuh apa-apa selain keberadaan pasangan mereka. Hanya berpelukan hingga mereka terlelap.

“Miki-chan, kau harus percaya padaku ya, aku benar-benar sayang padamu, jadi jangan suka berasumsi macam-macam. Bagiku hanya Miki-chan saja,”

Miki mengagguk dan tersenyum. Ia harus lebih percaya diri dengan cintanya pada Chinen sehingga dia tidak akan cemburu buta, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap lebih dewasa.

“Kalau cium boleh tidak?” tanya Chinen.

Miki hanya menatap Chinen yang ia asumsikan sebagai jawaban iya, maka Chinen pun kembali menyentuh bibir Miki dengan bibirnya. Mungkin tidak akan sampai third base, kita coba dulu saja second base, ucap Chinen dalam hati.

Namun lagi-lagi ciuman mereka terhenti ketika mendengar suara ribut-ribut dari sisi kiri kamar Miki.

“Kamar siapa?” tanya Chinen.

“Miharu-nee,”

Keduanya pun saling bertatapan dan tertawa setelahnya. Entah apa yang sedang dilakukan Miharu dan Inoo hingga membuat keributan selarut ini, dan Miki bersumpah dia sebenarnya tidak benar-benar ingin tau.

 

THE END

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Game Of Love : Only You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s