[Multichapter] Flavor of Love (Chapter 5)

Flavor Of Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 5)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Takaki Yuya, Inoo Kei, Yaotome Hikaru, Yabu kota, Arioka Daiki (Hey! Say! JUMP); Ueno Asami, Tanaka Shiori, Yaotome Hikari, Suzuki Yuina, Mitsumiya Kanon (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my own original characters.

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

“Terima kasih kau sudah mau menemuiku, Hikka,” suara Yuina sedikit bergetar karena cuaca dingin yang agaknya sudah mulai bertambah ekstrem, dan ia menunggu diluar hotel daripada masuk kedalam.

“Ayo masuk dulu, Yui,” kata Hikaru.

Arigatou,” Yuina meneliti setiap jengkal lobby hotel itu dan terkesima dengan desain yang menggabungkan modern serta klasik, membuatnya tidak kuno namun tetap elegan.

“Kau harus tau Yui, hotel itu area publik, kau boleh masuk ke lobby,” ucap Hikaru.

Yuina hanya tersenyum, ia hanya tidak merasa tempat itu adalah tempat yang pas untuk dirinya.

“Ada apa? Sepertinya kau cukup terburu-buru tadi saat meneleponku,”

Sebenarnya dia tidak enak meminta tolong kepada Hikaru, apalagi sebenarnya mereka sudah lama tidak bertemu, “Bisakah kau memberiku pekerjaan? Aku mohon maaf karena tiba-tiba sekali, tapi aku sangat membutuhkannya,” kata Yuina, biarlah suaranya terdengar hopeless, ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.

“Tapi aku tidak bisa memberimu pekerjaan yang… kau tau, lebih tinggi dari staff kamar,” suara Hikaru terdengar menyesal, “Hanya pekerjaan itu yang tidak tutup lowongan pekerjaannya sekarang,”

“Tidak apa-apa! Sungguh! Tapi, bisakah anakku dibawa jika sudah pulang sekolah?”

Hikaru tersenyum, “Tentu saja, disini banyak staff yang membawa anaknya kok. Kebetulan kami menyediakan children room,”

“Hikka.. aku benar-benar berterima kasih,” Yuina menundukkan kepalanya, tidak ada yang bisa ia berikan selain ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya.

“Bagaimana kalau kita bicarakan sambil makan siang?” Hikaru melihat ke arlojinya, memang sekarang sudah hampir makan siang.

“Eh? Tidak apa-apa memangnya?”

“Ayo ikut aku, mobilku di parkir di basement,” dan Yuina hanya bisa mengikuti kemana Hikaru membawanya.

Yuina ingat kenapa mereka dulu bisa berteman. Saat itu, ia dan Hikaru masih taman kanak-kanak, Hikaru termasuk anak laki-laki yang suka menjahili anak perempuan. Yuina tidak suka dengan perbuatan Hikaru dan menantangnya duel adu lari. Lalu saat hampir finish, ia ingat Hikaru tersungkur jatuh.

“Kau baik-baik saja?” Yuina kecil saat itu membantu Hikaru bangkit.

Sambil menahan tangisnya Hikaru mengangguk dan menerima uluran tangan Yuina. Sejak saat itu Hikaru menjadi teman Yuina dan anak laki-laki bandel itu tidak berani menjahili anak perempuan lagi, terlebih jika ada Yuina.

Hikaru membawa Yuina ke happytos, tidak ada alasan khusus, Hikaru kelaparan dan hanya porsi dari happytos yang dapat memuaskan perutnya sekarang. Karena Hikari tidak pulang semalam, ia harus puas minum kopi saja tadi pagi.

“Yui, mau makan apa?” Hikaru memberikan daftar menu dan Yuina meminta spageti serta jus jeruk, sementara Hikaru memesan lasagna dan lemon tea.

“Bagaimana keadaan Ayah?”

“Minggu ini akan operasi, dan sampai sekarang sih, kondisinya stabil,” Yuina menjawabnya dengan santai, pasti ini pertanyaan yang sudah biasa ia dengar.

Saat pesanan mereka datang, keduanya sibuk makan, “Maafkan aku datang begini padamu. Sejujurnya aku tidak enak kepadamu,” ucap Yuina.

“Kau mau menceritakan ada apa sebenarnya?”

Yuina pun menceritakan bahwa setelah Ayahnya sakit, dan Ayahnya berhenti bekerja di perkebunan. Jadi otomatis pemasukan hanya dari Yuina yang juga ikut bekerja di tempat Ayahnya bekerja. Namun karena keadaannya mereka harus ke Tokyo, Yuina mau tidak mau harus membiayai kehidupannya di Tokyo.

“Perusahaan Ayah?” Hikaru ingat kalau dulu Ayah Yuina memiliki pabrik kecil di Sendai.

“Semuanya sudah habis sejak Ayah sakit-sakitan,” jelas Yuina dengan sedih.

Hikaru mengulurkan tangannya dan meremas pelan tangan Yuina, untuk menunjukkan bahwa ia bersimpati, “Maafkan aku,”

Yuina mengangguk, “Aku harus terus bertahan, karena aku tidak boleh kehilangan pekerjaan, aku takut Yukari akan diambil oleh pemerintah,” terdengar dengan jelas dari suaranya, bahwa wanita itu benar-benar sedang sedih.

“Pemerintah? Sebentar… ada yang tidak kau ceritakan? Bukankah kau seharusnya sudah menikah?” seru Hikaru ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang Yuina sembunyikan.

“Aku tidak pernah bilang aku sudah menikah, Hikka. Yukari anakku, itu saja.”

“Tapi siapa Ayahnya!?” Hikaru mulai histeris. Sekian lama tidak bertemu dengan Yuina, mengapa harus gadis ini yang mengalami seluruh keburukan yang bahkan tidak terbayangkan oleh Hikaru.

“Hanya teman kuliahku,”

“Dia menolak bertanggung jawab?!”

Yuina menggeleng, “Tentu saja bukan begitu. Aku hanya tidak pernah memberitahunya soal itu,”

***

“Mitsumiya-san,” Daiki meletakkan secangkir kopi di atas meja milik Kanon.

Kanon terlihat sedikit kaget namun akhirnya menjawab dengan suara yang palan, “Hai,” masih teringat jelas oleh Kanon mengenai apa yang ia katakan kepada kekasih Daiki, dan sepanjang hari kemarin benar-benar jadi beban pikirannya.

“Kenapa wajahmu kaku begitu?” tanya Daiki sambil menarik sebuah kursi dari kubikel sebelah. Kebetulan memang sedang istirahat makan siang.

“Tidak kok, aku biasa-biasa saja,” urgh. Semoga suaranya tidak terdengar gugup, karena Daiki duduk di dekatnya.

“Mitsumiya-san, mengenai proyek kafe,” Inoo mendatangi meja dimana Daiki dan Kanon sedang mengobrol, “Eh, Dai-chan,” matanya menatap Daiki dan tersenyum sekilas, “Bisa kita meeting sehabis istirahat?” kini pandangannya beralih ke Kanon.

Kanon pun segera mengangguk, “Budget, design, sudah oke, kita sudah konfirmasi dan kini tinggal menghubungi vendor,” jawab Kanon seraya memberikan setumpuk data pada Inoo.

Sedikit lega karena Inoo menyelamatkannya dari situasi canggung dengan Daiki, ia segera beranjak dari mejanya, “Aku makan siang dulu, jya!” Kanon pun melarikan diri dari Daiki. Dia tidak tau kenapa ia harus melarikan diri.

Kanon memutuskan untuk makan mie cup saja,mengingat ia sudah terlambat untuk makan di luar. Kanon suka pemandangan di balkon kantornya ini. Pemilik perusahaan, Inagaki-san, memilih untuk membuat sebuah kantor yang berbentuk rumah sederhana, pantry pun diletakkan di lantai dua yang langsung mengarah ke balkon. Salah satu tempat di mana dia bisa merasa lebih rileks jika sudah berkutat dengan desain seharian.

Mie cup juga?” Inoo mengangkat bungkusan mie cup yang ia bawa dan menyeduhnya.

Kanon mengangguk, “Biasanya Inoo-kun bawa bekal?”

Inoo tertawa, “Tidak lagi. Aku sudah keluar dari rumah, jadi kembali lagi pada mie cup atau makanan dari mini market,” ucapnya lalu membawa makannya ke tempat Kanon duduk.

“Kau tau kan tidak baik makan makanan instan terus-menerus,” ucap Kanon yang kini sudah mulai makan, sementara Inoo masih menunggu.

“Hahaha, ya ya ya, aku tau,” Inoo kembali ke pantry, “Mau teh?” tanyanya dari dalam pantry.

“Boleh, arigatou Inoo-kun,”

“Kau selalu baik hati ya, Inoo-kun,” Kanon mengangguk ketika Inoo meletakkan teh nya di atas meja, sementara Inoo hanya tersenyum terhadap pernyataan itu, “nanti banyak cewek yang salah sangka, loh,”

“Salah sangka?” mie cup nya sudah siap, Inoo pun mulai makan.

“Un! Kau tau, cewek itu luluh kalau diberi kebaikan,”

“Kecuali kau,ya kan?” Inoo melirik sekilas ke arah Kanon.

Malam itu, mereka minum-minum dan Inoo berakhir di sebuah hotel, dengan Kanon. Ia tidak begitu ingat bagaimana mereka bisa tiba-tiba ada di sana, apalagi dalam keadaan hangover parah, padahal itu hari kerja. Kanon bangun setelah Inoo mandi dan bersiap-siap. Saat itulah Kanon meminta untuk melupakan apa yang terjadi, bahwa semuanya hanya kesalahan semata. Kenyataannya Inoo sebenarnya cukup menyukai Kanon sejak ia mulai masuk ke kantornya sekarang, tapi selama dua tahun Inoo ke Paris, ia sudah mencoba melupakan Kanon. Tapi saat pulang, minum-minum, dia malah berakhir tidur dengan Kanon. Tapi karena Kanon memintanya untuk melupakan kejadian itu, Inoo memutuskan untuk mencoba melupakannya lagi. Dan mungkin sedikit demi sedikit Inoo merasakan bahwa perasaannya pada Kanon hanya sebatas kagum saja. Mungkin juga hati Inoo mulai dimasuki oleh orang lain.

“Benar!” seru Kanon.

Baru kali ini Daiki melihat Kanon bersama Inoo berduaan. Mereka cocok juga, pikir Daiki. Tapi kenapa dia harus merasa kesal?Bukankah Kanon hanya atasannya saja? Daiki segera mengambil kopi yang sudah ia buat, dan segera kembali ke dalam, ia tidak mau terus menerus menatap Inoo dan Kanon berduaan.

***

Melihat Ayahnya memasak adalah salah satu hobi Asami. Melihatnya memotong-motong bahan makanan, menggerakan tangannya di atas wajan, dengan wajah serius, menurut Asami adalah saat-saat Ayahnya terlihat sangat cool.

“Asami, itu ada kiriman bunga ke sini, kenapa Yuya mengirimnya ke rumah?”

“Eh? Uhmmm… bunga?”

Ayah mengangguk sambil masih sibuk membumbui masakannya, “Ada masalah dengan Yuya-kun?”

Asami menimbang-nimbang, apakah sebaiknya memberi tahu Ayahnya. Bagaimanapun, Ayah sebenarnya sudah dekat dengan Yuya. Bahkan mereka sering bertemu dan ke bar bersama, walaupun sekarang sudah jarang karena kesibukan Yuya.

“Aku putus dengannya,” akhirnya memang harus dikatakan. Asami yang tumbuh bersama Ayah sejak umur delapan tahun, tidak akan bisa menyembunyikan apapun kepada Ayahnya.

Souka,” as calm as always, Ayahnya itu, pikir Asami, “Ayah akan mendukung apapun yang kau pilih,” Ayah mengangkat makanannya, hari ini dia masak kare, salah satu masakan kesukaan Asami, memang hanya kare, tapi buatan Ayah selalu istimewa bagi Asami.

Arigatou,Yah,”

“Pastikan kau tidak menyesal atas keputusanmu,”

Asami mengambilkan nasi dan piring untuk mereka berdua, “Maksud Ayah?”

“Hingga sekarang Ayah masih sering berandai-andai, seandainya saat itu, baik Ayah atau Ibu tidak sama-sama egois dan mementingkan diri sendiri, kalau saja Ayah bisa mengalah sedikit,” ucapnya lalu menuangkan kare ke piring milik Asami.

Mendengar hal itu Asami hanya bisa menunduk, bukankah manusia pada akhirnya memang egois? Lebih memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri dan sulit mengalah pada kebutuhan orang lain terutama jika itu tidak memberikan apa-apa untuk dirinya?

.

.

Setelah makan, Asami menuju kamarnya, melihat seikat bunga aster di sebuah vas, dan sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, kesukaan Asami.

Aster : Love, beautiful, patient

Happy 7th Anniversary, Asami-chan.

I’ll always love you

-Yuya

 

Patient.

Kalau dipikir-pikir, memang Yuya selalu sabar menghadapinya. Selalu. Ketika dia marah karena Yuya tidak bisa menjemputnya, Yuya dengan sabar menghadapi sifat kekanakannya, ketika Asami sedang datang bulan dan Yuya dengan sabar mengelus-ngelus pinggangnya, memeluknya ketika terpaan hormon membuatnya tiba-tiba secengeng anak kecil kehilangan mainannya.

Tapi, pertanyaan lainnya, sampai kapan Yuya bisa sabar kepadanya? Sampai kapan? Kata orang, ketika menikah kita akan sedikit demi sedikit kehilangan rasa cinta kepada pasangan. Kalau itu terjadi, lalu bagaimana dengan dirinya dan Yuya?

***

Tadaima,

Okaeri,” Hikari berlari dari dalam dan menyambut Hikaru seperti biasa.

Hikaru mematung di pintu masuk mansion mereka, tidak yakin apakah ia harus tersenyum atau bersikap seperti apa. Hikari menghampiri suaminya, memberikan pelukan selamat datang, melepaskan jas kerja Hikaru dan membawakan tasnya, “Mandi dulu atau makan dulu?”

Alih-alih menjawab Hikaru menghampiri Hikari dan memeluk istrinya dari belakang, “Gomennasai, Hikari,” bisiknya tepat di telinga Hikari.

Hikari mengangguk pelan, “Aku juga minta maaf karena merahasiakan semuanya. Padahal kita sudah berjanji selalu jujur satu sama lain,”

Tanpa mengatakan apapun Hikaru mempererat pelukannya, menyembunyikan wajahnya di riak rambut Hikari, menghirup wangi tubuh Hikari yang menurutnya memabukkan, “Kita akan cari cara, kita akan usaha semampu kita, ya? Tapi aku mohon, jangan sampai membahayakan dirimu sendiri,”

Hikari mengangguk hingga berlinang air matanya, “Bagaimana dengan Ibu?”

“Aku akan menjelaskan semuanya. Jangan takut, dia lebih menyayangimu bahkan daripada diriku,”

“Hikka-kun, lebih baik kita sekarang makan sebelum nikujaganya jadi dingin,” Hikari melepaskan pelukan Hikaru dan sebelum menyimpan semua barang-barang suaminya, dia menyempatkan untuk mencium bibir Hikaru.

Tak apa-apa, Hikaru meyakinkan dirinya sendiri. Mulai sekarang tidak apa-apa asal mereka bersama.

***

Satu ketukan, dua ketukan, nampaknya belum memberikan efek pada pemilik apartemen, Asami belum menyerah dan walaupun ini masih pukul enam lebih tiga puluh menit, dia harus menemui si pemilik apartemen. Sebelum dirinya pergi bekerja, mulai hari ini Asami sudah bekerja di restoran prancis milik teman Inoo.

Pintu apartemen terbuka, seraut wajah dengan mata mengantuk, rambut acak-acakan menyambut Asami.

Ohayou gozaimasu, Inoo-san,”

Mata Inoo terlihat terbuka lebih lebar, “Ohayou!

“Maafkan aku mengganggumu, ini,” Asami menyerahkan beberapa kotak bento kepada Inoo.

Dengan ragu-ragu Inoo menerimanya, “Apa ini?”

“Balasan dari makan pagimu kemarin!” seru Asami, “dan rasa terima kasihku karena sudah mencarikan pekerjaan,”

Inoo tersenyum, “Sama sekali tidak. Temanku memang mencari pekerja kan, aku hanya mengenalkan dirimu padanya, dan dia bilang kau memang yang dia cari,”

Asami mengangguk senang, “Aku mulai kerja hari ini, kumohon terima ya, lagipula sebagian masakan Ayah kok, bukan masakanku, hehe,”

“Waahh, aku tersanjung bisa makan makanan chef terkenal seperti Ayahmu,”

“Kalau begitu, aku berangkat dulu ya, Inoo-san. Ittekimasu!!

Itterasshai. Ganbatte ne, Asami-san!”

Asami berlalu dari hadapan Inoo dengan senyum mengembang dan tak lupa lambaian tangan yang sangat bersemangat. Lagi-lagi pagi yang sempurna bagi Inoo. Walaupun semalam ia begadang dan kurang tidur, mungkin ini hadiah Tuhan untuk memperbaiki mood nya hari ini.

.

.

Pekerjaan Asami di restoran sebenarnya mulai siang nanti. Tapi kali ini Asami juga bekerja di sebuah majalah, sebagai penulis lepas kolom jalan-jalan. Karena pengalaman Asami di luar negeri, dia mendapatkan pekerjaan ini setelah mengirimkan beberapa tulisan ke majalah ini. Dan setelah beberapa kali dimuat, Asami dihubungii untuk menjadi penulis lepas, dia harus mengirimkan setidaknya dua sampai tiga tulisan seminggu. Karena hari ini deadline, Asami memutuskan untuk mencari suasana baru agar ia bisa menulis dengan baik.

Secangkir kopi dan sepiring pancake strawberry di hadapannya sebagai pemancing ide menulisnya. Sejak tadi laptopnya pun sudah menyala, Asami duduk di dekat jendela, agar dia bisa menatap orang berlalu lalang, apalagi ini masih pagi, pasti banyak yang bisa dia lihat dan amati.

Seorang gadis berpakaian seragam di luar, sepertinya menunggu sesuatu atau seseorang, Asami tidak yakin. Ketika beberapa saat kemudian seorang anak laki-laki menghampirinya dan mereka pun pergi bersama-sama. Asami otomatis tersenyum melihatnya, mengingatkan akan dirinya dan Yuya, dulu.

Dulu.

Kata itu begitu menghantuinya beberapa hari ini. Dengan semua hal yang terjadi padanya dan Yuya, semua kenangan bersama Yuya menjadi ‘dulu’ dan sebahagia apapun kenangan itu, menjadi sedikit menyakitkan untuk diingat.

“Ueno Asami?”

Asami menengok, “Kanon-nee!!” otomatis dia berdiri dan memeluk Kanon, “Hisashiburiiii!!” dia mengenal Kanon sejak awal kuliah karena Asami ingat, salah satu sepupunya, Ishizaki Naoya, dari pihak ibunya, adalah pacar dari Kanon, namun ia dengar Naoya-nii sudah menikah tapi tidak dengan Kanon.

Hisashiburi!! Belakangan aku hanya melihatmu di berita saja,” ucap Kanon ketika dia ikut duduk di meja Asami.

“Berita?”

“Yah, aku sering membuka berita online dan menemukan namamu belakangan sering muncul,”

Jujur saja, Asami tidak sering membuka berita online terutama mengenai gosip atau apalah.

“Aku dengar kau putus dengan Takaki-san?”

“Eh?”

“Itu cukup menggemparkan loh, terutama karena kalian sudah pacaran lama sekali, beberapa media bahkan sudah sering menanyakan kapan kalian akan menikah,” Kanon mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa berita di situ media online mengenai dirinya, dan Yuya.

Takaki Yuya, walaupun bukan seorang artis atau aktor adalah most wanted bachelor sejak dia masih muda. Yuya dikenal sebagai salah satu pengusaha muda yang digemari banyak wanita, dan sejak muda pula Yuya sering masuk majalah bisnis, bahkan hingga majalah entertainment walaupun dia tidak bekerja di dunia entertainment. Maka wajar saja jika beritanya dengan Yuya sering dimuat di media online atau cetak. Asami masih ingat setiap kali mereka ke luar negri atau liburan kemanapun, akan muncul di berita, dan walaupun Asami tidak suka membaca berita online, Hikari akan berbaik hati mengirimkan beritanya pada Asami.

Souka, Kanon-nee apa kabar? Terakhir kali kita bertemu kapan, ya? Sudah lama sekali!” Asami mengalihkan pembicaraan mereka. Apa saja selain topik mengenai Yuya.

“Yah begitu saja,” Kanon tersenyum lalu menyesap kopinya, “Aku dengar kau membangun kafe? Aku bekerja di Inagaki Design juga loh,”

“Eeehh? Benarkah? Kalau tau aku pasti meminta Neechan yang mendesain kafeku!” seru Asami.

“Tapi kau tidak salah pilih desainer kok, Inoo Kei-san dua tahun di Prancis, jadi kalau kau ingin bangunan gaya Eropa, dia memang paling tepat,” ucap Kanon.

Asami mengangguk-angguk mengerti, “Jadi Neechan mampir kesini untuk sarapan?”

Kanon menggigit sandwichnya sebelum menjawab, “Kadang-kadang saja sih, kalau aku senang menghabiskan waktu pagiku di tempat seperti ini, memberikan sedikit tenaga untuk bekerja hari ini,” laluia melihat ke arlojinya, “Gomen na, lain kali kita ngobrol-ngobrol lebih banyak ya, Asami-chan,” Kanon mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Asami, “Telepon aku ya, Asami-chan,”

Asami mengangguk sebelum akhirnya Kanon beranjak dan bergegas pergi,karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Kembali dengan kesendirian, Asami mulai mencari ide dan akhirnya menuliskan beberapa baris mengenai Hokkaido. Asami ingat Hokkaido adalah salah satu tujuan wisatanya saat liburan musim dingin seperti ini, selain karena waktu salju yang lebih lama, menurut Asami Hokkaido dan saljunya adalah tempat yang indah.

Satu kata, dua kata, tangan Asami terus menari di atas keyboard laptopnya, menceritakan semua yang dia ketahui dan dia rekomendasikan mengenai Hokkaido. Saat menulis, Asami tenggelam dalam kata-kata dan membuatnya merasa lebih hidup ketika menceritakan pengalamannya.

***

Yabu mengangkat tangannya ke udara, meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah beberapa jam di dalam ruang operasi. Berdiri, menjadi asisten bedah memang selalu menyenangkan, tapi juga melelahkan.

“Kopi?” Shiori yang sedang berada di depan mesin penjual otomastis menawarkan kepadanya.

“Teh saja, aku sudah minum kopi tiga gelas hari ini,” ucap Yabu lalu duduk di ruang tunggu, melihat beberapa orang sudah lalu lalang sepagi ini.

Shiori meyodorkan sekaleng teh hangat, Yabu mengambilnya dan membukanya, “Sankyu,

“Kou-chan,” panggil Shiori.

“Hmmm?” Yabu sedang memejamkan matanya, kebiasaan Yabu ketika sudah lelah.

“Kapan hari liburmu lagi?”

Yabu segera membuka matanya dan menatap Shiori, “Tidak ada sampai minggu depan sepertinya, kenapa?”

“Bisakah kita pergi kencan saat liburan? Aku pun akan cari libur yang sama denganmu!” ucap Shiori.

“Kencan?”

Shiori mengangguk, “Aku akan mengutarakan cintaku dengan benar kali ini, dan… tolong jawab aku dengan tegas, bagaimana?”

Beruntung Yabu tidak sedang minum karena ia pasti akan tersedak mendengarnya, “Shiori, sudah kubilang.. aku…”

“Kumohon? Aku ingin move on, tapi semuanya tergantung dari jawabanmu nanti,” Shiori mengatakannya dengan ekspresi serius, sama sekali tidak terlihat bercanda.

“Kau yakin?”

Shiori kembali mengangguk, “Pikirkan ya, sampai hari kita kencan! Jya, Yabu-sensei, aku kunjungan pasien dulu, Otsukaresamadeshita.

Yabu menarik napas panjang. Shiori sudah seperti adiknya sendiri, walaupun kenyataan mereka seumuran. Yabu tidak pernah memikirkan akan ada hubungan romantis antara dirinya dan Shiori. Walaupun memang, Yabu tidak buta dan melihat gelagat Shiori yang selama ini menyukainya, tapi saat kuliah, Yabu berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lulusan terbaik, dan memutuskan tidak memikirkan apapun menganai cinta dan tetek bengeknya setelah putus dengan Yuina, karena dia mulai kehilangan konsentrasi saat jatuh cinta. Yabu adalah tipe pria yang jika jatuh cinta, dia akan seratus persen mencintai, begitulah yang ia rasakan pada Yuina sebelum akhirnya Yuina meninggalkannya begitu saja. Dan karena itulah, saat ditinggalkan, Yabu pun patah hati seratus persen, bahkan mungkin seratus sepuluh persen.

“Yabu-jichan?” Yabu menatap seorang gadis yang rambutnya di kepang dua, dengan baju terusan berwarna biru, menatapnya yang kemungkinan besar tadi melamun.

“Yukari-chan, mana Mama?”

“Masih di kamar kakek!” jawabnya, lalu mendekati Yabu, “Yabu-jichan dokter?”

Yabu mengangguk sambil tersenyum, “Un!”

“Yukari juga ingin jadi dokter kalau sudah besar!” serunya dengan bersemangat.

“Oh ya?”

Yukari mengangguk dengan bersemangat, “Yukari akan menyembuhkan penyakit kakek!” ucapnya lagi lalu duduk di sebelah Yabu.

“Kalau begitu, Yukari harus belajar yang rajin, ya?” Yabu menatap Yukari yang kini mengangguk-angguk, “Yukari mau minum teh? Paman belikan ya?”

Arigatou,” ucapnya manis.

Yabu membelikan satu kaleng teh hangat dan membukakannya untuk Yukari, “Douzou,

“Yukari!!” suara Yuina dari kejauhan dan ketika ia melihat Yukari bersama Yabu, kelihatan sekali ia lega, “Arigatou Kou-chan, kau membuat mama ketakutan!” seru Yuina saat mendatangi Yukari.

Gomen,” ucap Yukari terlihat merasa bersalah.

“Sudahlah tidak apa-apa, ayo kau kan harus sekolah dan Mama harus kerja,” Yuina menarik tangan Yukari dan mengangguk sekilas pada Yabu, “Yoroshiku ne, Yabu-sensei, kudengar kau akan jadi salah satu dokter saat operasi Ayah,” ucap Yuina.

Yabu mengangguk, “Yoroshiku onegaishimasu,”

“Jya, aku pergi dulu,”

Masih adakah rasa cinta kepada Yabu dalam hati Yuina? Sejak ia bertemu lagi dengan yuina, pertanyaan itu terus terngiang di benaknya.

***

Pulang kerja kali ini Daiki tiba-tiba saja ingin pergi ke suatu tempat. Entah kenapa kakinya membawa dirinya ke sebuah tempat yang sebenarnya paling dia benci. Hanya untuk memastikan sesuatu.

Yamamoto.

Nama itu tertulis di gerbang sebuah rumah mewah. Daiki menatap rumah itu, sejujurnya beberapa kali pula sudah pernah masuk ke rumah itu, sebelum akhirnya Ruiko membelikannya sebuah apartemen yang mudah dijangkau olehnya.

Pintu rumah tiba-tiba terbuka, Daiki cepat-cepat menyembunyikan dirinya, bukan ide bagus mencari keributan.

“Hati-hati di jalan ya sayang!!” Daiki melihat Ruiko mencium suaminya, yang bahkan mungkin seumur dengan Ayahnya, lalu melambaikan tangan hingga pria itu masuk ke mobilnya dan pergi.

Sampai kapan akan begini?

Tanya Daiki pada dirinya sendiri.

Sampai kapan kau mau berlagak tidak tersakiti dan bahagia hanya dengan bersama Ruiko saat wanita itu butuh saja? Apa bedanya kau dengan pria panggilan?

Ponsel Daiki berbunyi beberapa saat kemudian, benar saja Ruiko yang meneleponnya. Suaminya pasti pergi ke luar negeri.

Moshi-moshi?

“Dai-chan!! Suamiku ke Inggris untuk seminggu. Bagaimana kalau kita liburan ke suatu tempat?” suara Ruiko, yang selama ini ia cintai.

Daiki mendesah, “Gomen Ruiko-chan, aku tidak bisa.”

“Eh? Kenapa?”

“Aku sekarang kerja,” jawab Daiki sekenanya.

“Kalau begitu aku akan menginap di apartemen, bagaimana? Seminggu loh!! Kau tidak kangen denganku?”

Gomen. Aku sibuk sekali, lain kali saja ya,” klik. Daiki menutup teleponnya.

Tidak lama, ponselnya kembali berbunyi, Daiki kira itu dari Ruiko, tapi ia melihat nama lain di layar ponselnya, Mitsumiya Kanon.

“Mitsumiya-san?”

“Hai! Daiki-kun, ada dimana? Bisa temani aku minum malam ini? Hehehe,”

“Beri tahu tempatnya ya,”

Daiki segera beranjak dari tempat itu. Dadanya sesak, dan pikirannya kacau. Mungkin dengan bertemu Kanon, semuanya akan terasa lebih baik.

 

-To Be Continue-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s