[Oneshot] Game Of Love

Game Of Love
Author (s) : NadiaMiki, YamAriena, Dinchan
Type : Oneshot
Genre : Romance, Friendship
Rating : PG-13
Staring : Inoo Kei, Yabu Kota (HSJ); Sato Miharu (OC)
Disclaimer : We don’t own all characters here. Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; Miharu Sato is ShieldViaYoichi’s OC, and this fanfic is created for celebrate her birthday!! ^^)/
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. HAPPY BIRTHDAY VIA-CHAN ❤

cover 1a

Pagi itu, Miharu sedikit mendumal karena salah satu teman se rumahnya –Miki, mengerjainya sehingga ia bangun terlalu lagi. Padahal jadwal kuliahnya jam satu siang hari ini, alhasil ia harus menunggu lama di kampus karena dengan bodohnya Miharu langsung berangkat begitu saja ke kampus.

‘Dasar anak kecil lihat saja nanti’ rutuknya dalam hati, sambil melangkahkan kakinya ke kantin kampus, ya setidaknya mengisi perut terlebih dahulu lebih baik untuk mengembalikan mood nya yang tadi pagi buruk.

Oha, Miharu chan!” Sapa seseorang, ia tidak asing lagi dengan suara itu, teman satu SMA nya yang entah kenapa hingga kini malah satu fakultas dengan Miharu.

Mungkin jodoh? Ah Miharu tidak mau terlalu berharap.

“Hey Yabu-kun,” sapa Miharu balik.

“Baka.. sudah aku katakan berapa kali kalau kau harus memanggil ku Kouta,” Miharu menaikan sebelah alisnya.

“Memang harus?” tanyanya menyelidik, apa haknya menyuruh seorang Sato Miharu memanggil nama kecil pria jangkung di sebelahnya ini.

“Tentu saja harus!” Kata Yabu lagi dengan sedikit membentak, suskses membuat Miharu terpingkal karena sikap Yabu yang persis seperti anak kecil.

“Baiklah baiklah.. Kouta-kun..” kata Miharu, sedikit menunduk. Ya, tidak bisa di bohongi bahwa ia sangat malu memanggil nama kecil pria ini.

“Nah.. begitu lebih baik,” Yabu mengelus kepala Miharu dengan lembut.

Miharu mengangkat kepalanya dan memandang Yabu sambi tersenyum jengah. Sesuatu di dadanya mulai membuat perasaannya tidak karuan. Namun Yabu sepertinya tidak menyadari perubahan yang terjadi terhadap gadis di depannya itu.

“Yo, Yabu!” sapa seseorang tiba-tiba.

Miharu ikut berpaling kearah orang yang tiba-tiba menyapa Yabu kemudian memasang ekspresi malas. Matanya kembali memandang ke arah Yabu dan melihat senyum diwajah Yabu seketika lenyap saat melihat sosok di depannya saat itu. Miharu tau, dari seluruh siswa di kampus ini, orang ini lah yang paling malas ditemui olehnya. Inoo Kei.

Di seluruh kampus ini, siapa yang tidak tau reputasinya sebagai playboy sekaligus anak berandalan?

Seketika Miharu merasakan dirinya ditarik Yabu hingga ke belakang tubuhnya.

“Mau apa kau? Ada urusan apa mencariku?” tanya Yabu dengan ketus.

“Hei, santai. Aku tidak akan mencari gara-gara hari ini, hanya mau menyapamu. Itu saja” jawab Inoo sambil nyengir.

“Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu,” kata Yabu dengan tajam.

“Ketus sekali kau. Tapi baiklah, aku juga sedang tidak mood bermain denganmu,” katanya. Tiba-tiba saja tatapannya beralih dari Yabu kepada Miharu yang melihat semuanya dari balik punggung Yabu.

Miharu semakin merapatkan dirinya kepada Yabu saat menyadari dirinya sedang di pandangi. Senyuman di wajah Inoo semakin lebar seketika.

“Selamat pagi, Miharu-chan. Apakah aku menakutimu? Tenang saja, hari ini aku sedang menjadi anak baik,” kata Inoo. Terdengar nada jahil di dalam suaranya.

“Siapa kau berani-beraninya memanggil namaku?” kata Miharu dengan ketus. Sesungguhnya dia sebal melihat pemuda di depannya ini yang sejak beberapa hari lalu mendadak bersikap baik padanya.

Miharu merasakan genggaman Yabu pada tangannya semakin mengerat. Yabu memandang Inoo semakin tajam. Inoo menghela nafasnya dengan sikap kurang bersahabat dari orang-orang di depannya ini dan memutuskan menyerah saat itu.

“Baiklah, baiklah.. kali ini cukup sampai disini saja. lagipula sebentar lagi kelasku akan dimulai,” kata pemuda itu, “Sampai jumpa lagi, Yabu, Miharu-chan” kata pemuda itu lagi sambil lalu.

“Kenapa dia, mendadak sok baik seperti itu?” gerutu Miharu saat sosok Inoo sudah menjauh.

“Tidak usah dipedulikan. Kalau kau memikirkan orang seperti itu lama-lama kau yang bakal botak,” kata Yabu sambil mencubit gemas pipi Miharu.

“Aw, sakit,” kata Miharu sambil memukul kecil lengan Yabu.

Dilihatnya Yabu sudah kembali tersenyum sambil memandangnya. Miharu yakin sebenarnya pemuda itu sedang berusaha menenangkannya. Yabu memang selalu seperti ini. Tidak ingin membuatnya khawatir dan selalu menenangkan disaat bersamanya.

“Oh iya, hampir saja aku lupa, kau belum sarapan bukan? Tadi Sora-san menelponku katanya kau berangkat sambil marah-marah tanpa sempat sarapan, makanya langsung ku susul ke sini.”

Miharu kembali mendengus karena harus teringat kejadian kecil tadi pagi, “Si pendek itu mengerjaiku sehingga aku harus bangun pagi sekali. Padahal tadi malam aku harus menenangkan Arina sampai larut karena bertengkar hebat dengan Yamada-kun. Kau tau, Arina sampai memutuskan Yamada-kun, tapi sepertinya pemuda itu sama sekali tidak menyerah dan sepanjang malam berusaha menghubungi ponsel Arina dan ponsel kami semua.” gerutu Miharu.

“Sudah, sudah.. ayo ceritakan di kantin saja. Kau harus sarapan dulu,” kata Yabu sambil menarik tangan Miharu menuju kantin. Tanpa mereka sadari sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan dengan sebuah cengiran di wajahnya.

***

“Yo! ngapain di sini? lihat orang pacaran?” Inoo menoleh, mendapati Takaki Yuya, teman mainnya, ada di sebelahnya.

“Memangnya mereka pacaran?” tanya Inoo. Memang sih, kelihatannya Yabu sangat protektif terhadap Miharu, tapi apa iya mereka pacaran? Inoo belum pernah mendengar beritanya.

“Tidak tau juga sih,” Yuya mengeluarkan kotak rokoknya dan menawarkannya pada Inoo, tanpa basa-basi Inoo mengambil satu batang, “Sora bilang sih mereka dekat,”

“Sora?”

“Pacarku yg baru, kau tau kan?”

“Ah!” seakan dapat lotere, Inoo mengingatnya, senin lalu saat mereka karaoke, Sora juga ikut.

“Miharu itu cewek yang menarik loh!” ucap Yuya, menghisap rokoknya dengan gaya sok cool.

“Maksudmu?”

Yuya menunjuk pada sosok Miharu yang masih mengobrol dengan Yabu, “Katanya sih dia sulit ditaklukan,”

Uso… tidak ada yang tidak takluk olehku, Yuya!” harga dirinya sebagai playboy yang tidak terima.

Souka.. jya.. bagaimana kalau kau coba menaklukannya?”

“Apa untungnya bagiku? Dia cuma cewek biasa, lihat,” kata Inoo menatap kembali ke arah Miharu.

“Kalau kau bisa memacarinya, aku akan memberimu game console milikku,”

Maji de?! yang baru itu?!”

Yuya mengangguk, “Bagaimana? kalau kau tak berhasil, bayar aku 10 ribu yen,”

“Eeehhh? Mahal amat!”

Dengan santai Yuya mengangkat bahu, “Terserah dirimu.. syaratnya cuma satu,”

“Apa?”

“Kau tak boleh jatuh cinta kepadanya,”

Inoo tertawa terbahak-bahak seakan Yuya sedang melawak di hadapannya, “It’s a piece of cake..” kata Inoo lalu menyambut uluran tangan Yuya, berjabat tangan.

***

Sore ini ketika Inoo selesai kuliah, ia melihat Miharu berjalan ke arah kantin. Tanpa pikir panjang Inoo memanggilnya.

“Mi-ha-ru-chan!” Inoo mendekati gadis itu dan merangkul bahu si gadis yang kelihatan takut.

“Apa-apaan sih? Lepas!” Miharu menghindar dan berjalan secepat yang ia bisa.

Inoo menghadang Miharu dari depan. Ia berpose dengan tangan dan kaki terbuka di hadapan Miharu, “Kenalan boleh kan?”

Miharu mendesah, “Sato Miharu, dan kau Inoo Kei, kan? Untuk informasi ya Inoo Kei-san, kita satu kelas d kelas bahasa Inggris dasar semester satu, dan kita sudah berkenalan. Jadi kupikir kita tidak perlu berkenalan lagi,” Memang keduanya pernah di satu kelas yang sama saat semester satu, bahasa inggris adalah salah satu mata kuliah wajib untuk semua mahasiswa.

“Tapi aku ingin minta nomor ponselmu!” seru Inoo, masih tak mau kalah.

Dengan senyum yang dipaksakan Miharu melewati Inoo, “Maaf, Inoo-san, aku tidak tertarik!” baru beberapa langkah kemudian Miharu berbalik, “Jangan seenaknya panggil nama depanku!”

Inoo memandangi punggung Miharu yang semakin menjauh, “Sial. Dia menarik juga,” ucapnya dalam hati.

Ugh! Memangnya siapa dia? Memangnya kalau playboy dan tampan ia bisa seenaknya memperlakukan semua wanita? Miharu mendumel dalam hatinya.

Inoo Kei adalah tipe pria yang aneh menurut Miharu. Dengan wajah cantik dan imutnya, sekaligus playboy dan berandalan. Miharu juga sering melihat nama Inoo ada di urutan teratas peraih IP terbaik di jurusannya. Sungguh Miharu tidak bisa mengerti apa yang ada di otak Inoo Kei.

Segera saat ia tiba di kantin, Miharu membeli sekaleng jus jeruk, dan duduk di dekat jendela.

“Jadi, boleh aku minta nomer ponselmu?” Miharu hampir tersedak ketika melihat Inoo duduk di hadapannya, dengan memamerkan deretan giginya yang putih.

“Anda mengganggu saya, Inoo Kei-san,”

“Kalau begitu aku minta nomormu dulu, baru aku akan pergi!!” Inoo masih bertahan.

Miharu menatap Inoo, lalu tiba-tiba Miharu mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sebuah nomor, “Ini…”

“Yatta!! Arigatouuuu!” Inoo menghampiri Miharu, namun gadis itu lebih cepat dan meninggalkan Inoo.

Sambil berjalan Miharu tertawa dalam hati karena yang dia berikan tadi adalah nomor milik Yabu, bukan miliknya.

***

Untuk pertama kalinya Miharu membuat makan malam karena salah satu teman apartemen nya Sora absen untuk berkencan dengan kekasih barunya. Ya, kegiatan klasik yang di lakukan oleh orang yang memiliki kekasih.

“Miharu! Yabu-senpai menelpon mu..” teriak Miki dari sofa depan televisi tanpa mengantarkan ponsel Miharu, membuat gadis itu kerepotan harus segera mematikan kompor lalu segera mengangkat ponsel nya yang ada di sofa tepat di antara Arina dan Miki.

“Angkat dong!” Geram Miharu yang kesal karena merasa kerepotan sendiri. Dan saat ini panggilan Yabu terputus karena tidak di angkat.

“Malas..” jawab keduanya tanpa melepaskan pandangan dari televisi.

Baru saja Miharu akan menghajar dua temannya itu, tapi matanya langsung beralih dari dua objek menyebalkan ke alat elektronik yang kini ada di genggamannya.

Yabu.

Dia menelpon lagi, secepat kilat Miharu mengangkat sambungan itu.

“Moshi moshi Miharu Sato desu.”

“MIHARU APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA INOO MALAH MENELPON KU MENGIRA AKU INI KAMU???!” sepersekian detik Miharu langsung mejauhkan ponsel dari telinga nya, Miki dan Arina yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil.

Namun berhenti saat Miharu menatap kedua nya dengan sinis.

“Hahaha.. gomen gomen..habis dia memaksa ku untuk memberi nomor handphone.. ya jadi aku kasih nomor mu saja, masalah?” Miharu kembali melangkahkan kaki nya menuju dapur sambil mengapit ponsel nya di dengan pundak–melanjutkan masakannya.

“Ya tentu saja jadi masalah, arrrghh kau ini!” Yabu terdengar frustasi.

“Dan sekarang dia memaksa ku untuk memberikan nomor handphone mu” kata Yabu melanjutkan, membuat Miharu berdecak kesal.

Kebal juga rupanya si playboy itu.

“Diamkan saja… ngomong ngomong… mau makan di apartemen ku? Aku buat spaghetti hari ini karena Sora-nee sedang pergi” kata Miharu menawarkan, ya tidak heran Yabu sering mampir ke apartemen kecil nya itu.

“Ah, pantas saja kau masak, baiklah aku kesana jangan lupa siapkan aku obat sakit perut,”

“Untuk apa?”

“Siapa tahu saja aku sakit perut setelah memakan masakan mu” Yabu tertawa sangat keras dari seberang sana.

Baka!!”

Nanchatte~ tunggu aku ya” setelah itu sambungan telepon mereka terputus dan Miharu langsung meletakan piring yang berisi spagheti di meja makan.

.

.

“Yappari da ne~ kau dan Yabu itu pacaran kan?” Arina langsung to the point saat mereka kini sedang makan masakan buatan Miharu, tidak buruk–pikir mereka.

Yabu yang merasa dirinya sedang di bicarakan langsung tersedak lalu cepat-cepat meminum air mineral yang ada di hadapannya.

“A-ah kami hanya teman” ucap Yabu lalu kembali makan, kali ini dengan sedikit gugup.

“Teman atau teman kalau sudah mesra begitu? Hahaha,” Miki menambahkan, lalu mengerling ke arah Miharu yang sedang menatapnya sinis. Gadis ini memang senamg sekali menggoda Miharu.

“Iya, benar kami hanya teman. Ne, Miharu-chan?” Yabu menyenggol tangan Miharu menggunakan siku nya meminta persetujuan.

Dengan senyum yang sedikit terpaksa Miharu mengangguk “Ya, teman…”

“Lalu.. kalau di antara kalian memiliki kekasih.. apa kalian saling merelakan?” Pertanyaan Arina sukses membuat kedua nya kembali diam.

Tidak tahu apa yang harus dijawab, mau mengakatakan rela. Tapi hati mereka sama-sama berat. Mau di katakan berat, tapi mereka hanya sebagai teman.

Ya, mereka rasa…perasaan mereka sampai saat ini masih sangat random.

Hingga malam itu, suasana malah canggung. Terkecuali Arina dan Miki yang sibuk bercengkrama menganggui kedua sahabat yang sama-sama memendam gengsi.

“Trrrttt…kono SENSEESHON zutto sawagi tatechae bad end good end… Trrrttt…mirai ni tsunagu kono kokoro wo mamoreru yo..ttrrrrttt”

Miharu bersumpah siapapun itu yang menelpon ke ponsel Yabu, dia adalah malaikat penolongnya dari situasi canggung saat ini, dan dia akan berterima kasih pada orang itu lain kali saat dia punya kesempatan dan menawarkan sesuatu sebagai balas jasa.

“Ck..” Yabu terlihat berdecak kesal saat melihat ponselnya lalu berpaling memandang ke Miharu, “Miharu, kau harus bertanggung jawab atas masalah yang kau buat ini,” kata Yabu padanya.

Miharu mengerjapkan matanya dengan bingung bersamaan saat Yabu menjawab telponnya, sehingga gadis itu tidak sempat bertanya lebih jauh.

“Hei, berhenti menggangguku. Sudah ku bilang aku tidak akan memberikan nomor ponsel Miharu padamu. Menyerah saja kau, Inoo Kei.” kata Yabu dengan ketus sebelum langsung mematikan sambungan itu.

Miharu masih terdiam ditempatnya sesaat sambil mengerjap memandang ponsel Yabu yang diletakkan diantara mereka berdua. Sepersekian detik kemudian gadis itu merutuki dirinya sendiri saat teringat sumpah spontanitas yang baru saja disuarakan hatinya beberapa saat lalu.

‘Bagaimana mungkin aku tiba-tiba datang dan berterima kasih lalu menawarkan sesuatu sebagai balas jasa pada orang gila itu??!! Pada Inoo Kei??!!’

“Baka” desis Miharu pelan.

“Apa?” tanya Yabu yang mendengar desisan itu sepintas.

Miharu memandang Yabu dan menggeleng sambil tersenyum agak dipaksakan, “Tidak apa-apa, bukan hal yang penting” kata gadis itu.

Melihat Miharu yang sudah kembali fokus pada makanannya, Yabu memutuskan untuk tidak mempermasalahkan lagi hal kecil itu.

***

Keesokan paginya, Miharu berjalan dengan gontai menyusuri halaman kampusnya. Paginya benar-benar heboh dengan kedatangan Yamada tiba-tiba di depan pintu apartemen mereka, disusul dengan teriakan Arina yang mengunci diri di dalam kamar, serta Chinen dan pacar baru Sora nee, Takaki-san, membantu Sora nee dan Miki menenangkan kedua pasangan gila itu.

Miharu tidak mengetahui kelanjutan kehebohan itu bagaimana karena dia harus buru-buru ke kampus hari ini, karena ada ujian.

Tiba-tiba…

“Mi-ha-ru-chaaaaaannnn…” suara teriakan nyaring membuyarkan lamunan gadis itu seketika, dan saat dia menolah, sosok Inoo Kei sudah berdiri dihadapannya.

“Kau?!” kata Miharu dengan nyaring.

“Hei, kau mengerjaiku ya? Kenapa kau malah memberikan nomor monyet itu padaku? Orang itu benar-benar menyebalkan, kau tau?” kata pemuda itu sambil memasang wajah pura-pura ngambek.

“Kalau iya kenapa? Masalah?” tanya Miharu ketus.

“Jelas saja masalah. Karena yang kubutuhkan nomor ponselmu, bukan nomor monyet itu.” jawab Inoo dengan santai.

Miharu tampak menghela nafasnya dengan keras memandang pria didepannya ini, “Kau ini memang tidak peka apa bagaimana? Apa kau sama sekali tidak melihat kalau aku tidak tertarik denganmu?” sembur Miharu langsung.

Inoo tampak nyengir melihat gadis didepannya ini mulai ketus, imut sekali, pikirnya.

“Kenapa kau senyum-senyum? Kalau sudah tidak ada urusan lagi, aku pergi.” kata Miharu lagi sambil berusaha menerobos Inoo.

Inoo lalu menarik tangan Miharu dan menghentikan gadis itu kembali di depannya, “Eh, tunggu dulu, mau kemana sih?” katanya.

“Lepaskan! Apa sih pegang-pegang!” rutuk Miharu menyentakkan pegangan tangan Inoo padanya.

“Hahaha.. kau memang menarik, Sato Miharu.” kata Inoo sambil tertawa, “Kau tau, kalau kau sedang marah seperti itu, kau imut sekali.”

“HAAA??” kata Miharu kaget.

Inoo nyengir lalu menarik lagi lengan Miharu dan memepetnya ke dinding dengan satu tangan pemuda itu menahan dinding tepat di sebelah wajah gadis itu. Miharu kaget karena mendadak di kabedon seperti ini, lebih parah, di tempat umum pula.

“Sebenarnya aku tau kau tidak tertarik padaku, tapi itu terserah padamu. Kalau aku, aku tidak bisa, kalau aku sudah bertekad untuk melakukan sesuatu aku akan tetap melakukannya sampai berhasil,” kata Inoo sambil nyengir.

“Dasar psikopat.” kata Miharu lagi.

“Duh.. kasar sekali. Tapi tidak apa sih, kau jadi terlihat semakin menarik, hehehe” kata Inoo lagi tidak peduli.

“Minggir! Aku harus ke kelas,” kata Miharu sambil berusaha melepaskan diri dari pemuda itu.

Namun gagal, karena Inoo malah semakin mendekatkan tubuhnya ke Miharu dan menahannya untuk pergi dari sana. Miharu dapat mencium aroma wangi dari tubuh Inoo di depannya saat ini dengan sangat jelas, dan entah kenapa hal itu membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

“Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Mi-ha-ru-chan” kata Inoo lagi masih dengan cengiran jahat di wajahnya.

Miharu merasakan lututnya mendadak lemas. Ini tidak bisa dibiarkan terjadi lebih dari ini, pikirnya.

Mou… wakatta yo…” rutuk Miharu sambil mendorong dengan keras dada pemuda itu, dan berhasil.

Miharu menghela nafasnya dengan berat lalu merogoh sebuah buku dan pulpen dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu disana dan menyerahkannya pada pria didepannya itu.

“Itu alamat e-mailku,” kata gadis itu singkat.

Inoo melihat kertas itu sambil mengerenyitkan dahinya, “Hanya alamat e-mail? Nomormu?” tanyanya lagi.

“Itu saja sudah cukup,” kata Miharu masih dengan nada ketus.

Inoo lalu melipat kertas itu dan menyimpannya di saku jaketnya, “Baiklah, kalau begitu aku akan mengirimu pesan nanti malam,” katanya.

Miharu kembali mendengus dengan keras, “ya, ya.. apa sajalah” katanya acuh, sambil berbalik pergi dari tempat itu.

“Pastikan kau membalasnya ya, sampai nanti Miharu-chaaaannn… ” teriak pria  itu lagi dengan heboh dari tempatnya.

Miharu mempercepat langkahnya untuk pergi dari sana. Sejujurnya kalau bukan karena tiba-tiba teringat sumpah ‘tak sengaja’nya tadi malam, dia tidak akan sudi memberikan alamat e-mail nya pada pria gila itu. Tapi dari pada dia kena karma karena melanggar sumpah dan mendapatkan sial lebih jauh lagi, setidaknya dia bisa mengabaikan kalau pria itu mengiriminya pesan.

“Dasar pria gila!” celetuk gadis itu sambil bergidik.

***

Entah sudah berapa banyak pesan yang dikirimkan oleh Inoo Kei, namun Miharu sama sekali tidak ingin membalasnya. Bahkan ia sampai berencana untuk mengganti e-mailnya walaupun itu pasti akan sangat merepotkan.

Seperti siang ini, di hari sabtu yang tenang dan harusnya tanpa gangguan berarti, lagi-lagi ponselnya meneriakan tanda bahwa sebuah e-mail masuk. Dengan malas Miharu mengambil ponselnya, mengintip isi pesan dari Inoo.

From: Inoo Kei
Subject : (no subject)

Mi-ha-ru-chan…
Keluar dari kamar dong..

HAH?!

Miharu turun dari kamarnya di lantai dua, perlu diingatkan dia masih menggunakan piyama. Inoo Kei ada di ruang tamunya!! Ngapain dia di sini?!!

“Hello Miharu-chaaann?!! Bergabung?”

Selain Inoo Kei di situ ada Sora nee, Takaki-san, bahkan Arina dan Miki! Ada acara apa? Kenapa hanya dirinya sendiri yang tidak diberi tahu?

“Ada apa ini?” Miharu terlihat linglung.

Inoo berdiri menyambut Miharu, “Lihat, pacarku cantik sekali kan walaupun baru bangun tidur?”

Miharu melepaskan tangan Inoo dari bahunya, “Pacar? Sebentar, ini apa sih?”

“Kamu kan sekarang pacarku, dan hari ini aku mengundang semua temanmu dan Yuya untuk merayakannya,”

Omedetou neechan!” seru Miki.

“HAH?!”

“Baca e-mailku dua hari yang lalu,” ucap Inoo.

Miharu segera membuka kotak masuk e-mailnya. Ia ingat Inoo mengiriminya e-mail, namun ia lupa isinya karena terlalu banyak e-mail yang masuk ia hanya membukanya tanpa membaca isinya, “Mulai hari ini kau pacarku!! Kalau tidak membalas, aku artikan iya, ya?!” Miharu membacanya pelan namun bisa di dengar semua orang, “Jangan bercanda Inoo Kei!! Ini kan sepihak?!”

“Uhmm… tidak juga…”

Dengan emosi memuncak hingga ke ubun-ubun Miharu menarik tangan Inoo, “Kita ngomong di luar!” serunya.

“TOLONG BERHENTI MENGGANGGU HIDUPKU!” seru Miharu yang tidak bisa lagi menahan amarahnya.

Inoo Kei sebaliknya, masih terlihat tenang, “Baiklah. Tapi satu syarat!”

“Apa?!”

“Pergi kencan denganku, besok… bagaimana?”

“Tentu saja jawabannya tidak mau!” balas Miharu lagi. Setelah semua yang Inoo lakukan, mungkin Miharu sudah gila jika mengiyakan ajakan itu.

“Kalau begitu, bersiaplah menerima semua gangguanku. Asal kau tau, Miharu-chan, aku bukan orang yang cepat menyerah!” Inoo menyentil ujung hidung Miharu.

“BAIKLAH!! Sekali saja! Setelah itu, silahkan pergi dari hidupku!”

Inoo melangkah kembali menghampiri Miharu, “Jangan senang dulu, Miharu-chan, aku tak yakin kau bisa melepaskanku setelah besok,”

Lihat saja nanti! Dasar laki-laki aneeehhh!! Miharu hanya bisa menggerutu saat Inoo kembali masuk ke rumahnya.

“Ngomong-ngomong, bra mu kelihatan tuh! Kaosmu tipis sekali.. hihihi,”

“INOO KEEEEIIII!!!”

***

Keesokan harinya saat Miharu menunggu Inoo di sebuah kedai minum kopi, ia mulai berpikir aneh. Kenapa seorang Inoo Kei, yang diketahui sebagai playboy nomor satu di kampus, yang mungkin rekor pacarannya sama dengan Takaki Yuya, mengejarnya? Apa yang diinginkan pria itu? Miharu bukan mahasiswi yang populer, apa yang akan dimanfaatkan darinya?

“Jangan melamun, Miharu-chan!” Saat ia menggerakan kepalanya, wajah Inoo sudah berada dekat sekali dengan wajahnya. Mungkin sisa beberapa senti saja dan karena itulah Miharu bisa mencium bau deodoran dan wangi parfum Inoo yang maskulin, membuatnya mengingat kabedon di kampus itu, dan ini tidak bagus untuk jantungnya.

Miharu memalingkan mukanya, “Aku tidak melamun!”

Inoo terkekeh pelan, “Sshhht, sudahlah, ayo! Kita ke kebun binatang!!”

“Kebun binatang?”

“Kau sudah janji akan ikut kemana aku minta, kan?”

Miharu tidak bisa membantah dan mengikuti saja kemauan Inoo. Karena hanya hari ini saja, hari ini saja dan semua gangguan ini akan selesai. Hari minggu di kebun binatang ternyata cukup ramai. Miharu cukup menimatinya karena sudah lama sekali ia tidak ke kebun binatang, rasanya sudah bertahun-tahun lamanya.

Berbeda dengan apa yang dipikirkannya, ternyata Inoo Kei cukup menyenangkan sebagai teman ngobrol. Sama sekali tidak awkward seperti yang Miharu sangka.

“Lihat! Singanya sedang bere…nang,” ketika ia menoleh ia tidak menemukan Inoo, sepertinya mereka tdai jalan beriringan, tapi memang Miharu sengaja berjalan sedikit di belakang Inoo dan tidak menyadari sepertinya mereka terpisah, mengingat kebun binatang ini memang sangat ramai.

Baka! Jangan pisah dariku!!” belum sempat Miharu bereaksi, Inoo sudah memeluknya dari belakang, “Hampir saja aku kira kau melarikan diri,”

SIAL

SIAL

SIAL

Kenapa jantungnya berdegup kencang begini? Ada yang salah dengan dirinya. Tidak! Tidak mungkin ia suka pada Inoo.

“Maafkan aku,” bisik Miharu lirih.

“Sudahlah! Makanya kubilang pegangan tangan ya!” jari-jari Inoo menggenggam jari-jarinya, memberikan kehangatan yang belum pernah Miharu rasakan sebelumnya.

Hari semakin sore dan kebun bintang ini pun semakin ramai, membuat Miharu sedikit pusing san lemas, karena ia terlalu lelah. Meskipun ini menyenangkan baginya.

“Inoo-san, aku mau duduk dulu…” kata Miharu sambil manarik-narik tangan Inoo, memberi isyarat kepada pria itu bahwa ada sebuah bangku yang tidak jauh dari mereka

“Ah, baiklah..” Inoo pun langsung menarik tangan Miharu membawa diri mereja duduk dibangku itu.

Tanpa melepaskan genggaman, entah itu keinginan mereka atau karena Inoo yang tidak pernah mengendurkan genggamannya, tapi Miharu merasa nyaman selama itu.

“Ne, Miharu-chan” Inoo menoleh ke arah Miharu yang sedang memandang langit sore.

“Menyenangkan tidak?” Tanya Inoo kemudian, ya jujur saja sebenarnya ia juga sangat senang bisa jalan bersama Miharu–ralat tapi ini kencan.

Saat mendengar pertanyaan itu, jantung Miharu serasa mau berhenti detik itu juga. Senang?

Dia merasakan itu.

Tetapi, ini bersama Inoo Kei. Kenapa bisa?

SIAL INI TIDAK BOLEH BERLANJUT.

Dengan cepat Miharu menarik tangannya dari genggaman Inoo lalu berdiri dari tempat duduknya, membelakangi Inoo yang kini hanya bisa memandang punggung gadis itu.

“A-ano.. sebaiknya kita pulang” Miharu mencoba untuk menyembunyikan detak jantungnya yang teru saja berisik.

Ah, bodoh bodoh kenapa jadi seperti ini?

“Baiklah kalau begitu” Inoo berdiri disamping Miharu lalu kembali menganggam tangan gadis itu sambil memasang senyum kemenangan.

“Ayo kita pulang” tanpa babibu lagi ia langsung menarik lengan Miharu menuju parkiran, senyuman nya terus mengembang.

Inoo hapal sekali, reaksi yang Miharu barusan beri kepada nya menunjukan kalau gadis itu mulai jatuh cinta kepada nya. Ia menang.

Pulang ini, Inoo berencana untuk memberitahu Yabu agar Yabu merasa iri kepada nya.

Haha.. ini sungguh menyenangkan bagi Inoo.

***

“Jadi, benar kau berpacaran dengannya?” Yabu menatap Miharu yang kini sedang menikmati jus jeruknya.

Kemarin malam Yabu di telepon oleh Inoo dan pria itu bercerita kalau Miharu dan dirinya sudah mejadi sepasang kekasih, dan bahkan sudah berkencan.

Itu sungguh membuat Yabu kesal.

Miharu menghela napas nya “dia yang memutuskan, aku sebenarnya tidak mau, Kouta”

“Tapi kau menerima kan saat dia ajak kencan?” Yabu kembali bertanya dengan nada tidak suka.

Entah ia cemburu atau bagaimana, ia tak perduli.

Belum sempat Miharu menjawab lagi pertanyaan Miharu tiba-tiba ada saja ada tangan seseorang yang sudah melingkar di bahu gadis itu.

“Mi-ha-ru-chaaann” bisik Inoo tepat di telinga Miharu, sukses membuat Miharu terdiam karena kelakuan pria itu.

Yabu yang melihat kelakuan Inoo langsung menarik tubuh Miharu untuk mejauhi Inoo.

“Kau.. apa-apaan hah?! Kenapa kau mendekati Miharu?!” Emosi Yabu sudah tidak terkendali kali ini, tanpa sadar ia mengenggam tangan Miharu dengan sangat kuat, membuat gadis itu kesakitan.

“Kau yang apa-apaan? Dia sekarang kekasih ku… kau mau apa? Melindungi nya? Tenang aku akan menjaganya” Inoo mendekat dan menarik sebelah tangan Miharu yang bebas.

Tidak mau kalah, Yabu kembali menarik tangan Miharu “tidak akan ku biarkan Miharu bersama mu” ucapnya ketus.

“O’ow.. tapi dia yang mau kok, ya kan sayang?” Inoo nyengir dan kembali menarik tangan Miharu.

“STOOP tangan ku sakit!!” Mendengar teriakan itu, refleks keduanya melepaskan tangan Miharu, lalh gadis itu pergi tanpa mengatakan apapun.

Baru saja Yabu bergerak untuk mengejar Miharu, tapi sayang langkahnya sudah di dahului oleh Inoo Kei.

“Aahh!! Kuso!!” Geramnya frustasi.

Miharu berjalan semakin cepat, menjauh dari keramaian. Dia tidak peduli kemanapun kakinya membawanya, yang pasti jauh dari tempat ini. Dia butuh menenangkan pikirannya sendiri. Hati dan pikirannya sekarang sedang tidak sejalan dan dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Di satu pihak, Yabu membuatnya tenang. Dia merasa sangat nyaman berada bersama Yabu. Yabu memberikannya kehangatan, menjaganya, selalu memperhatikannya. Dia menyayangi pria itu, meskipun dia tidak pernah punya keberanian untuk mengatakannya secara langsung.

Tapi…

Entah mengapa dia merasa hatinya sedang mengkhianatinya saat ini. Semua yang dirasakannya pada Yabu juga dirasakannya pada pria gila itu. Bahkan mungkin melebihi apa yang dia rasakan saat bersama Yabu. Saat bersama pria itu jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat. Saat pria itu menyentuh tangannya seperti tadi, suatu sengatan aneh menjalar ke tubuhnya. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya. Apakah dia mulai menyayangi pria aneh itu? Atau mungkin…. ini Cinta?

“Tidak… tidak boleh… ini tidak benar…” Miharu berdesis sambil menepuk-nepuk pipinya.

Gadis itu terus mendesiskan hal yang sama sambil menepuk pipinya, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang mulai merasuki kepalanya.

“Hei, Miharu, apa yang kau lakukan?” tiba-tiba saja seseorang datang dan menghentikan apa saja yang sedang Miharu lakukan pada dirinya sendiri.

Gadis itu memandang linglung kearah orang itu yang ternyata adalah Inoo. Sengatan rasa hangat tiba-tiba saja menjalar dari tempat orang itu menggenggam tangannya.

“Lepaskan aku, lepaskan!” Miharu meronta berusaha melepaskan cengkraman Inoo di lengannya.

Namun Inoo lebih kuat. Pria itu kini mencengkram pundak Miharu dan mengguncangnya.

“Miharu, sadarlah. Kau kenapa?” tanyanya. Terdengar nada khawatir dari suara pemuda itu.

Miharu langsung menunduk dan mulai menangis, “Pergi. Pergi dari hidupku! Apa yang sudah ku lakukan padamu sampai kau melakukan ini padaku? Apakah aku pernah mengganggu hidupmu? Kenapa kau membuatku seperti ini. Pergiiii!!”

Inoo terdiam di tempatnya. Di depannya kini Miharu tampak begitu rapuh. Gadis itu menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri. Suara gadis itu terdengar sangat frustasi saat mengatakannya.

“Kau sudah berjanji bukan, setelah kencan itu kau tidak akan lagi menggangguku. Kenapa kau masih saja menggangguku? Kenapa?” isakan Miharu semakin kencang.

Inoo menyentuh lembut wajah Miharu dengan kedua tangannya, kemudian mengangkatnya hingga gadis itu memandang lurus kearahnya.

Entah dorongan dari mana, Inoo menarik kepala Miharu dan menyentuhkan bibirnya di bibir gadis itu yang masih bergetar. Namun sepersekian detik berikutnya dia langsung tersadar dengan apa yang dilakukannya dan langsung melepaskan dirinya sendiri.

Sungguh dia tidak tau apa yang baru saja di lakukannya. Yang dia inginkan hanya membuat gadis didepannya ini tenang. Sepertinya nalurinya mendorong dirinya untuk melakukan itu. Dengan salah tingkah, Inoo mengalihkan tatapannya memandang kearah gadis itu. Dilihatnya Miharu masih membeku di tempatnya.

“Maaf… aku…” bingung. Apa benar baginya untuk meminta maaf setelah melakukannya secara tiba-tiba seperti itu? Tapi ini aneh, kenapa dia harus salah tingkah seperti ini? Apa yang terjadi dengan dirinya?

Tiba-tiba saja Inoo merasakan Miharu menghambur kedalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di dalam dada Inoo. Tangan gadis itu mencengkram kerahnya namun Inoo merasakan tubuh gadis itu bergetar.

“Kau brengsek, Inoo Kei. Kau benar-benar brengsek.” kata Miharu pelan.

Inoo semakin bingung dengan apa yang terjadi. Namun sebelah tangannya terangkat dan merengkuh Miharu di dalam pelukannya. Sedangkan satu tangannya lagi menggaruk kepalanya yang sedang memandang kearah lain.

“Sial…” gumamnya tanpa suara.

***

“Mau kemana?” pertanyaan itu terlontar dari Sora-nee saat Miharu turun ke bawah, yang sekarang, well… sedang berduaan dengan pacarnya, di ruang tengah, dengan posisi berada di pelukan Takaki-san. Ugh, bisakah mereka berhenti bermesraan di tengah ruangan? Miki bisa lihat, ucap Miharu dalam hati.

“Nonton. Ada film bagus di bioskop,” ucap Miharu.

“Nonton? Okay, jadi dia akan mengantarmu pulang atau kau akan menginap di rumahnya?” tanya Sora-nee lagi.

“Hah? Bukan.. ini dengan teman kok,”

“Yeah, yang benar saja,” katanya sambil menatap Miharu dengan pandangan pasti-sama-cowok-kan?

Miharu salah tingkah, “Aku akan memintanya mengantar ke rumah,”

“Oke. Bersenang-senanglah! Ngomong-ngomong siapa pria ini?” kini Takaki-san yang bertanya, “Inoo Kei?” tambahnya.

Miharu langsung mengerenyitkan dahinya, dari mana dia tau? “Uhm… yeah,”

“Hahahaha, baiklah,”

“Kenapa kau tertawa?” tanya Sora pada Takaki-san dan pria itu masih hanya tertawa hingga Miharu keluar dari rumah, tepat saat itu Inoo sudah ada di depan.

“Sudah siap?” tanya Inoo yang kini,ugh-dia-tampan-sekali, dengan jeans, kaos dan dua lapis jaket, tentu saja ini sudah masuk musim dingin.

Miharu mengangguk dan menyambut uluran tangan Inoo yang langsung menggenggamnya. Sejak hari itu, entah kenapa Miharu lebih senang menghabiskan waktunya dengan seorang Inoo Kei. Bahkan saat istirahat jika jadwal mereka kebetulan sama, sudah seminggu sejak mereka, secara tidak resmi berpacaran. Miharu mengatakan bahwa ini tidak resmi karena Inoo tidak pernah menyatakannya, namun mereka lebih sering bersama.

“Mau popcorn?” tanya Inoo ketika mereka sudah menunggu waktu masuk ke bioskop.

“Boleh,” Inoo kemudian membeli satu kotak popcorn ukuran besar dan dua air mineral.

“Kau suka kegelapan?” tanya Inoo sambil tertawa kecil saat mereka sudah berada di dalam teater.

“Entahlah, bisa suka bisa tidak, tergantung…”

Inoo menatap Miharu dengan pandangan bertanya.

“Tergantung dengan siapa aku atau apakah aku sendirian,” jawab Miharu lalu mengambil beberapa butir popcorn.

“Aku tau kau akan bilang begitu,” Inoo menarik dagu Miharu, memberinya kecupan kilat di bibirnya sehingga Miharu hampir saja tersedak popcornnya sendiri.

“Uhm… ya ampun. Ini di tempat umum,” ucap Miharu sedikit panik.

“Tenang saja, tidak ada yang memperhatikan kok,” Inoo kini menarik tangan Miharu dan menggenggamnya, “Aku ingin kau tetap aman,” ujarnya.

“Kita akan susah makan popcorn, Inoo-kun,”

“Kau bisa menyuapiku, kan?” kata Inoo, sukses membuat Miharu memukul pelan lengan Inoo.

.

.

“Kau yakin kau tidak mau ke apartemenku?” tanya Inoo, Miharu dan Inoo sudah berada di depan rumah Miharu dan gadis itu menggeleng.

“Nanti saja ya, kita punya banyak waktu, kan?” kata Miharu, lalu dengan malu-malu mengecup pelan pipi Inoo.

“Tentu saja,” Inoo tersenyum dan memberi kecupan lembut di bibir Miharu, “masuklah, sudah malam,” ucapnya.

Miharu mengangguk dan bermaksud membuka pagar rumahnya, namun ia tertahan dan merasakan keingingan kuat untuk kembali ke pelukan Inoo, ia sebenarnya tidak rela malam ini berakhir. Miharu berbalik dan menghambur ke pelukan Inoo.

Inoo memegang bahu Miharu, menatap lurus-lurus langsung ke arah mata Miharu, “Kau tahu, aku bisa tidak berhenti jika ini dimulai,” ucap Inoo dengan nada suara pelan, Miharu tidak bergerak dari tempatnya, Inoo mencium bibir miharu. Pertamanya hanya ciuman lembut, namun kemudian Miharu merasakan Inoo menyesap bibir bawahnya, seolah-olah akan menghisap seluruh energinya. Ciuman Inoo kian terasa serius. Inoo menekankan bibirnya dan menggoda Miharu dengan ujung lidahnya, hingga Miharu mengerang pelan. Namun ciuman itu berhenti ketika pintu rumah Miharu tiba-tiba terbuka.

“Kau berhasil, Kei?” tanya Yuya saat keluar, dengan Sora-nee.

“Berhasil?” tanya Miharu bingung.

“Yeah, dia menggunakanmu untuk mendapatkan game console milikku. Hadiahnya ada di rumahku, Kei!” ucap Takaki-san, yang jelas-jelas sedang mabuk.

“Kau menjadikan Miharu taruhan?!” seru Sora geram.

Miharu seketika mendorong Inoo dan menamparnya keras.

“MIHARU!!” terlambat, Miharu sudah masuk ke dalam rumah.

“Kau!! Jauhi Miharu!!!” Sora masuk ke rumah dan membiarkan Yuya yang mabuk dengan Inoo.

“APA-APAAN KAU!!” Inoo menarik kerah baju Yuya dan menghantam rahang pria itu hingga tubuh Yuya tersungkur dalam sekejap.

***

Miharu berjalan dengan gontai di lorong kampus, pandangannya kosong entah apa yang dia pikirkan saat itu. Ah, ya dia mengingat kejadian semalam. Selaman ia mengetahui bahwa dirinya hanya menjadi pertaruhan di antara Inoo dan Takaki.

Frustasi?

Yes! Tentu saja, harga diri Miharu rasanya sudah habis karena pria brengsek itu.

BRUK!

Tanpa Miharu sadari, dirinya sudah tertabrak oleh tubuh Yabu, walau tahu itu dia masih diam dan hanya tersenyum simpul.

“Konnichiwa, Kouta-kun,” ucapnya, lalu melangkah melewati Yabu.

“Kau..kenapa?” Yabu menyadari sikap Miharu yang berbeda hari ini, tampak sangat kosong. Tubuhnya di dekat Yabu, tapi nyawa Miharu seperti melayang entah ke mana.

“Aku..tidak apa-apa,” ucap Miharu datar tanpa menoleh ke arah Yabu, ia tak mungkin mengatakan kalau dirinya menjadi taruhan antara kedua pria gila itu.

Karena tahu Miharu sedang membohongi nya, Yabu pun menarik tubuh Miharu lalu memepet tubuh gadis itu ke dinding.

Menatap mata Miharu yang kini jelas-jelas terlihat sangat tidak ada semangat “Apa yang terjadi dengan mu? Laki-laki gila itu menyakiti mu?” Tanya Yabu dengan lembut.

Mencoba menahan emosinya di hadapan Miharu.

Ya, Miharu ingin sekali mengatakan itu.

Tapi lidahnya kelu.

“Ti-tidak Kouta…” ucapnya bohong.

“Kau bohong.. aku tahu itu, apa yang dia lakukan kepada mu?” Kali ini Yabu benar-benar tidak tahan, jika Miharu tidak mau mengaku saat ini ia bersumpah akan mengahajar Inoo habis-habisan.

“Aku bilang tidak apa-ap…” ucapannya berhenti saat melihat sosok Inoo yang berada di belakang tubuh Yabu.

Melihat ke arahnya dengan tatapan penuh penyesalan.

Namun, Miharu berinisiatif memeluk tubuh kurus Yabu lalu menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik lelaki itu.

“Eh? N-nande?” Yabu benar-benar tidak mengerti, apa yang terjadi dengan Miharu? Tadi dia terlihat sangat murung dan sekarang gadis itu memeluknya.

Sayup-sayup Yabu mendengar isakan Miharu di dalam pelukannya, hingga membuat baju kemeja Yabu basah oleh bulir air mata Miharu.

“Sst.. tenang..” ucap Yabu sambil mengelus kepala Miharu, dan membalas pelukan gadis itu meski pikirannya masih penuh dengan tanda tanya.

Tanpa Yabu tahu kalau di belakangnya sudah ada Inoo yang kini menggerutu tidak jelas lalu meninggalkan mereka.

“Kuso! Aku sudsh benar-benar jatuh cinta dengan wanita itu!” Rutuk Inoo di dalam hati.

Faktanya, Inoo merasakan sesak saat melihat Miharu memeluk Yabu.

Dan tekadnya untuk menjauhkan mereka semakin kuat di diri Inoo.

“Sial! Kurang ajar sekali dia!!” Yabu membanting gelas minum yang ia pesan ke meja, membuat orang-orang di sekitar kantin kaget dan melihat Yabu dengan heran.

“Kouta-kun, tenang sedikit” kata Miharu sambil memukul bahu Yabu.

Paksaan Yabu untuk meminta Miharu bercerita apa yang di pikirkan oleh gadis itu, akhirnya membuat Miharu menyerah dan menceritakan kejadian tadi malam.

Tentu saja itu membuat Yabu sangat kesal karena perasaan Miharu di permainkan oleh Inoo, si playboy kelas kakap dikampusnya.

“Sudah aku bilang kan? Aku tidak setuju kau bersama nya, Miharu. Tapi kau bandel…” ucap Yabu terdengar sangat kecewa.

“Aku..akan memberinya pelajaran pulang ini!”

“Jangan… itu hanya membuat masalah semakin besar,” Miharu mencegah.

“Tapi dia harus di beri pelajaran Miharu! Kau membencinya kan? Kenapa sekarang sepertinya kau sangat membela dia?”

“Aku…aku menyukainya,” Miharu menunduk dalam, air matanya kembalu menetes.

Selama seminggu ini ia dekat dengan Inoo dan Miharu merasakan kenyamanan dan debaran di dadanya melebihi saat ia berada di dekat Yabu.

Cinta nya kini salah, perasaannya di permainkan, tapi entah kenapa Miharu tidak mau melihat Inoo terluka.

Andai bisa di kata biar dia saja yang terluka.

“Souka na…” Yabu hanya bisa diam.

Seakan dirinya baru saja di tolak ketika ia menyatakan cinta.

Yabu menyukai Miharu, ia baru menyadari itu saat Miharu lebih dekat dengan Inoo dan ia merasakan cemburu. Tapi cinta nya pupus, kenyataan kini Miharu lebih memilih Inoo. Walau ia tahu lelaki itu telah menyakiti hatinya.

“Hahaha..baka!” gumam nya pelan “aku ada kelas, duluan ya.”

Setelah Miharu mengangguk, Yabu pun bergegas pergi dari situ. Meninggalkan Miharu yang masih diam didalam dilema. Yabu sebenarnya tidak ada kelas, pria itu hanya ingin menenangkan diri.

Tiba-tiba saja ditengah perjalanan Yabu melihat Inoo, terlihat sedang berdebat dengan seseorang yang dia tidak tau karena orang itu sedang membelakanginya. Perasaan kesal di dirinya kembali bangkit saat melihat Inoo disana. Yabu lalu berjalan cepat menghampiri pria itu.

“Ikut aku!” katanya singkat namun tajam lalu pergi begitu saja.

Inoo, meskipun terlihat sedikit bingung, memutuskan untuk mengikuti Yabu. Yabu membawa pria itu ke belakang kampus. Sepersekian detik kemudian pria itu berbalik dan langsung menghantamkan satu pukulan telak ke wajah Inoo, yang langsung membuat pria itu jatuh tersungkur.

Yabu lalu meraih kerah baju Inoo, menghadapkan wajah pria itu padanya. “Dasar kau brengsek, Inoo Kei! Kenapa kau mengganggu Miharu sampai seperti itu?? Kalau kau punya masalah denganku, langsung cari aku!!” Yabu menggeram sambil menghantamkan beberapa pukulan lagi.

Inoo sama sekali tidak mencoba melawan dan menerima semua pukulan marah dan teriakan frustasi Yabu padanya. Yabu terus memukul Inoo sampai dirinya sendiri kehabisan tenaga, lalu ikut jatuh terduduk tidak jauh dari Inoo yang sudah terkapar dengan wajah memar dan sudut bibir yang pecah dan berdarah.

“Hhh… kenapa kau tidak melawannya?” tanya Yabu sesaat setelah agak tenang.

Inoo tampak terbatuk sedikit ditempatnya, “Karena… aku pantas menerimanya..” jawabnya singkat sambil berusaha bangkit untuk duduk. Namun rasa sakit di perutnya membuatnya harus menyangga tubuhnya dengan satu tangannya yg lain yang masih bebas.

“Mau bersikap baik kau ha?” tanya Yabu dengan sinis.

Inoo nyengir sedikit, “Aku memang orang baik, tau.” kata pria itu,

“Ulangi sekali lagi! Setelah itu kau akan tidur di rumah sakit malam ini,” kata Yabu sinis.

“Pada awalnya memang begitu…” kata Inoo tiba-tiba, “Pada awalnya aku memang ingin menggunakannya untuk menjatuhkanmu. Ku pikir, setelah aku merebutnya darimu, kau tidak akan berani lagi macam-macam padaku. Ku pikir pada awalnya, dia adalah pacarmu…” rasa perih di sudut bibirnya membuat pria itu menghentikan kata-katanya sejenak.

“Jadi aku bertaruh dengan Takaki. Tapi semakin aku mengenalnya, aku menyadari dia berbeda. Aku baru menyadari bahwa Miharu adalah gadis yang istimewa. Hingga pada akhirnya niatku untuk memanfaatkannya memudar dan berubah menjadi sebuah perasaan yang tulus. Lalu aku memutuskan untuk serius dengannya… tapi, tadi malam si brengsek Takaki mabuk dan membongkar semuanya, dan Miharu terlanjur marah sebelum aku sempat menjelaskan apa-apa.”

Yabu diam, tatapannya hanya memandang Inoo yang berada tak jauh darinya. Dia sendiri bingung harus mengatakan apa setelah mendengar penjelasan yang diberikan pria itu. Dalam hatinya dia berharap ada nada berbohong, namun nihil. Inoo mengatakannya dengan tulus.

“Kau tau, sebelum brtemu denganmu, aku sudah bilang pada Miharu bahwa aku ingin menghajarmu… tapi dia menghentikanku..” kata Yabu, kini giliran Inoo yg diam. Yabu kemudian melanjutkan, “kalau aku jadi dia, mungkin aku akan menyewa pembunuh bayaran dan mengirimnya ke rumahmu… itu kalau aku jadi dia… tapi yg dia lakukan malah untuk membiarkanmu”

Yabu menghela nafasnya lalu bangkit berdiri. Pria itu lalu berjalan menghampiri Inoo lalu mengulurkan tangannya. Inoo menyambut uluran tangan itu dengan heran, lebih heran lagi saat melihat senyum di wajah Yabu.

“Ini kesempatan terakhirmu, kalau kau membuatnya menangis lagi, kau benar-benar akan ku buat pergi ke kamar Mayat,” kata Yabu.

Butuh waktu beberapa detik sampai Inoo berhasil mencerna maksud dari perkataan Yabu padanya. Senyuman tersungging di bibir Inoo lalu menepuk singkat pundak Yabu, “terima kasih, kawan” katanya sebelum berbalik dan berlari pergi dari sana.

***

“Tadaimaa~” kata Miki yang baru saja masuk ke apartemennya.

“Okaeri, Miki!” Jawab Arina dari ruang tengah yg sedang asik dengan laptopnya.

“Itu… tadi di luar rumah, aku melihat pria yg pernah datang kesini waktu itu, yg mengaku pacarnya Miharu nee,” kata Miki.

“Dia mengikuti Miharu dari tadi siang, katanya mau bicara… kata Miharu begitu” kata Arina sambil lalu.

“Pria itu mau apa sebenarnya? Kenapa dia begitu bersikeras, padahal sudah kubilang jangan mengganggu Miharu lagi!” keluh Sora yang baru keluar dari dapur.

“Jadi dia dari siang sudah ada disana?? Ini sudah malam hari dan udaranya sangat dingin… Miharu nee mana?” tanya Miki kaget.

“Di kamarnya, sejak pulang dia tidak mau keluar” kata Sora lagi.

“Biar aku yg bicara padanya” kata Miki lagi.

“Kalau aku, pria seperti itu sudah ku ikat di rel kereta, dan membiarkannya di lindas shinkazen sampai mati.” celetuk Arina.

“Jangan samakan Miharu nee dengan neesan dan Yamada,” kata Miki.

“Jangan sebut namanya lagi, atau kau juga akan ku ikat di rel Shinkanzen!” kata Arina tajam.

“Sudah, sudah… ayo Miki, nee juga ikut ke kamar Miharu,” kata Sora menengahi debat kusir itu.

Sora dan Miki lalu menghampiri kamar Miharu lalu mengetuknya pelan.

“Miharu chan, boleh kami masuk?” tanya Sora sambil mengetuk pelan pintu kamar Miharu.

“Masuk saja nee,” kata Miharu pelan.

Sora lalu memutar knop pintu dan membukanya. Tampak Miharu sedang berbaring dengan posisi telungkup diatas tempat tidur.

“Miharu nee, daijoubu?” Tanya Miki.

Miharu tidak menjawab namun hanya mengangguk di tempatnya.

“Nee, aku tau ini bukan urusanku, tapi sebaiknya neesan menyelesaikannya baik-baik. Sepertinya dia ingin menjelaskan semuanya pada nee,” kata Miki.

“Aku juga sebenarnya jadi kesal dengannya, dan aku juga sudah memperingatkan Takaki mengenai hal ini. Tapi masalahnya tidak akan selesai dengan dirimu berdiam diri di kamar seperti ini.” kali ini giliran Sora yg bicara.

Miharu bangkit dan duduk dari posisinya, lalu memandang Miki dan Sora satu persatu, “Apalagi yg mau dijelaskan? Semua sudah jelas. Dia cuma pria brengsek yang suka mempermainkan perempuan” kata Miharu.

“Pasti ada sesuatu dibalik itu semua dan dia berusaha untuk menjelaskannya pada neesan. Kalau memang dia se brengsek itu, tidak mungkin dia masih di bawah sana sampai sekarang.” kata Miki lagi.

“Miki benar, cobalah untuk meberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan, Miharu.. setelah itu keputusannya ada di tanganmu. Lagipula membiarkan sesuatu tanpa kejelasan seperti ini, akan membuatmu semakin susah untuk move on nantinya” bujuk Sora lagi.

Tiba-tiba Arina muncul di pintu kamar Miharu.

“Miharu, sebaiknya kau usir pacarmu itu! Baru saja bagian security menelpon, mereka juga sepertinya sudah risih melihatnya dari tadi.” omel Arina sebelum kembali pergi dari sana.

Miharu kembali memandang Sora dan Miki dan dijawab keduanya dengan anggukan. Miharu pun menghela nafas berat lalu mengambil mantelnya dari belakang pintu dan berjalan keluar dengan cepat.

.

.

“Kau tau sekarang berapa derajat? Ngapain di luar? Kamu cari mati?!” sepertinya penyakit sarkasme Miharu tiba-tiba kumat.

Inoo segera berdiri dan rasanya dingin ini sudah tidak lagi penting karena melihat Miharu mau menemuinya, “Miharu-chan, maafkan aku,”

Miharu tidak salah lihat kan? Kenapa wajah Inoo sedih begitu? Bukankah cinta Miharu hanya seharga game console bekas punya Takaki-san?! Kalau dia bersikap manis begini, bagaimana Miharu bisa mengusirnya?!

“Bisa kita bicara? Hanya bicara, aku janji,” Inoo cepat-cepat menambahkan karena ekspresi wajah Miharu yang terlihat kesal.

“Oke,”

“Kau tau, merencanakan taruhan itu memang kesalahanku yang paling bodoh, tapi… aku juga merasa taruhan itu justru membuatku bahagia sekarang,”

Sepertinya otak Inoo Kei sudah rusak. Apanya yang membuat bahagia? “Kau sedang bercanda?”

“Sebentar. Aku belum selesai. Uhmmm…” Inoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia playboy kan? Playboy kan? Berapa banyak wanita yang sudah takluk karena kata-katanya, tapi sekarang bibirnya kelu, “Karena taruhan itu aku menemukan orang yang ingin aku jaga selamanya,”

“Inoo Kei-san, ngomongnya jangan muter-muter dong,” Miharu mulai senang memepermainkan harga diri Inoo Kei yang kini terlihat bingung.

SIAL! Seru Inoo dalam hati. Tadi kan dia berusaha jadi romantis, kenapa malah kena marah Miharu? Mata Inoo berkilat-kilat nakal, “Aku tidak bisa mengatakan lebih lagi, aku bisa menunjukkannya,” ucap Inoo.

“Uhm?” Miharu masih bengong ketika Inoo menarik pinggangnya dan menempelkan badan Miharu dengannya, “Ini di… depan…”

“Memangnya aku pernah peduli?” suara Inoo pelan dan ugh, walaupun Miharu tidak mau mengakuinya, sexy, ketika bibir itu menyentuh bibirnya, Miharu bersumpah bisa mengecap rasa coklat dan strawberry, cowok ini tadi makan apa? Pikirannya sibuk sementara bibirnya sudah dilumat oleh Inoo, yang menggoda bibir bawah Miharu dengan ujung lidahnya, seperti sebuah sapaan sensual yang memberikan reaksi aneh pada tubuh Miharu.

“Sebentar!!” Miharu mendorong pelan bahu Inoo, “Aku belum memaafkanmu!!” seru Miharu berteriak karena frustasi, harusnya kan dia yang memegang kendali semuanya. Yang salah kan Inoo, yang harusnya marah kan Miharu.

“Miharu-chan, percuma kau mengelak, bibirmu dan tubuhmu sudah menjawab semuanya,”

“Errrr,” mungkin kini mukanya sudah merah padam. Bahkan musim dingin begini, Miharu merasa kepanasan.

“Akuilah, kamu jatuh cinta padaku, kan?” kedengaran benar-benar seperti Inoo Kei, sombong dan sok, sialnya Miharu suka.

“Kalau aku tidak memaafkanmu?”

“Aku akan menunggu kau memaafkanmu,” telapak tangan Inoo kini sudah menyentuh pelan pipi Miharu.

“Ini akan memakan waktu yang… lamaaaa,” tentu saja bohong. Sejak tadi Miharu sudah memaafkan Inoo.

Inoo tidak menjawabnya dan mengecup pelan dahi Miharu, “Berarti kau sudah siap dapat terorku lagi setiap hari?”

Miharu tertawa, “Baiklah, aku siap,”

“Kalau begitu, bisa kita masuk ke dalam? Aku kedinginan,” hidung Inoo memang terlihat merah dan ketika Miharu menyentuhkan tangannya ke pipi cowok itu, jelas sekali pipinya dingin.

Dengan sedikit berputar Miharu membuka pintu apartemen dan terlihat ketiga teman serumahnya, melakukan aktivitas yang tidak wajar. Maksudnya, sejak kapan Miki bersih-bersih meja ruang tamu atau Sora-nee dan Arina yang membaca komik bersama, selain komik terlalu kecil untuk dibaca berdua, Sora-nee tidak baca komik yaoi seperti Arina. Pasti mereka habis menguping.

Ojamashimasu,” ucap Inoo sambil tersenyum kepada penghuni rumah itu.

“Inoo-san, silahkan, aku… aku harus belajar!” Sora segera menyingkir, sementara Arina menarik Miki dari ruangan itu.

“Mereka baik-baik sekali ya, Miharu-chan,”

Miharu hanya tertawa dan beberapa menit kemudian kembali dengan secangkir coklat panas, “Untukmu,”

Arigatou, ngomong-ngomong aku kalah taruhan dengan Yuya,” kata Inoo, yang tanpa malu-malu menarik Miharu ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu merebahkan tubuhnya di dada cowok itu.

“Kalah?”

“Yuya bilang, syaratnya aku tidak boleh jatuh cinta padamu,”

Miharu hanya bisa tersipu, ia tau maksudnya tanpa Inoo harus memberi taunya. Walaupun keesokan harinya Inoo sakit flu dan Miharu akhirnya harus merawatnya, walaupun Inoo Kei akan selalu jadi cowok menyebalkan namun sekaligus menyenangkan, Miharu tau bahwa Inoo Kei kini adalah kebahagiannya. Bahagia yang sederhana, karena dia hanya butuh kehadiran cowok itu disampingnya.

THE END

HAPPY BIRTHDAY PIA-CHAAAANNN!! Inilah hasil collab saya, Gita dan Nadia dengan waktu yang sangat singkat. Yang penting Pia senang yaaa ^^ Wish you all the best ya Pia sayang :*

BANZAAAIII!!

OMAKE:

“Idih, mesra sekali mereka… Yuri tidak pernah begitu kepada ku” rutuk Miki yang kini sedang mengintip Miharu dan Inoo dari lantai atas bersama Arina dan Sora-nee.

“Haha… dasar kau nya saja yang terlalu manja, dia jadi risih kali” sahut Arina.

“Masih kecil ngomongin cinta..belajar sana” kata Sora, lalu Miki pun dengan kesal masuk ke dalam kamar.

“Sora-nee bagaimana dengan Takaki-san?” Arina bertanya setelah Miki masuk ke dalam kamar.

“Hmm.. aku memberi dia hukuman, putus selama sebulan”

“Heeee?!! Ide bagus” ya, Arina setuju karena dia memperlakukan hal yang sama kepada Yamada.

“KYAAAAA ARINA NEE… YAMADA MENGIRIM PESAN MINTA PUTUS KALAU KAU BEGINI TERUSSS” Miki berteriak heboh dari dalam kamar.

Karena mendengar itu, cepat-cepat Arina masuk lalu langsung merampas handphone nya yang berada di tangan Miki.

“Tidak ada….” kata Arina sambil terbengong, tidak ada pesan Yamada yang mengatakan itu.

“Aku bohong!!! Hhahaha” tak lama kemudian terciptalah perang di antara Arina dan Miki di dalam kamar. Sora tidak bisa lagi untuk mencegah kedua orang itu.

THE END

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] Game Of Love

  1. Chipel

    HUAAAAA~~~~ YABAI KORE ///////// JADI BLUSHING SENDIRI(?) KEREN KEREN~ demen cerita2 yg kek gini nih ///3/// bayangin inoo jadi anak berandalan… boleh juga wwwwww. tambahin lagi min plot cerita yg similar kek gini :3 kalo bisa lanjutin yg judulnya Crush /maksa/ /plak/

    Reply
  2. shieldviayoichi

    uhuk…. *blush* kasian Yabu tercampakkan… :”” *dor* THANK YOU SO MUCH buat ini… ;A; dikala lagi sibuk, kalian masih sempat bikin ff yang kayak begini ;____; cuma rada bingung, Miharu tinggal dirumah gede bareng gitu atau apartemen? .-. dan juga……….. rada mesum ya, saya kan masih polos… :”’D *plak* TERAKHIR DEH, MAKASIH BUANYAAAAAAAAAAAAAAAK YA… :*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s