[Minichapter] Forever Love You (Chapter 2) -END-

Title: Forever Love You「ずっと大好き」
by. Arisa Fadhila
Type : Minichapter (Chapter 1)
Cast : Kawashima Noel (Johnny’s Jr.); Hagiwara Mai (OC
Influence: Sako Tomohisa-Hanbunko

Forever love you 2

There was a day when you told me, a little shyly
About the songs you like, the dreams you have, and so on
Your eyes sparkled as you spoke and they looked dazzling
I was so happy, because it felt like we got a little closer
You’re acting as if nothing happened
But you just cried alone, right
You’re working really hard, and I know all about it~

~Mai POV~

Masih jam 4 pagi, kurasakan ponselku yang ku letakkan di atas meja terus bergetar dan berdering. Entah itu telfon dari siapa? Yang jelas ini sudah keterlaluan menurutku. Apa tak bisa mencari waktu lain untuk mengerjaiku? Kenapa harus mengganggu jam tidurku?

Perlahan aku meraba keberadaan ponselku, dan ingin segera melemparkannya ke dinding. Namun belum sempat aku melemparkan ponselku, ia sudah menutup mulutnya kembali. Aku kemudian berpikir 2 kali untuk melemparnya. Ku kembalikan ponselku ke atas meja, dan belum aku melepaskan genggaman tanganku, ia kembali berbunyi. Kali ini bukan sebuah telfon, melainkan hanya sebuah pesan singkat.

Ku ambil kembali ponselku dan dengan mata yang masih terpejam, ku buka pesan singkat yang masuk tadi.

Casey
+81xxxxxxxx
2013.01.21
04:09
Kau tak mendapat kabar dari lelaki itu? Aku menghajarnya saat dia pulang  dari tempat kerjanya. Atau mungkin dia sudah mati, sehingga tak bisa memberi kabar padamu??? Jangan mencoba lari. Ini masih sebuah peringatan dariku.

Aku terkejut bukan main setelah membaca pesan singkat dari Casey. Ia tak main-main dengan ancamannya. Noeru, apa yang telah terjadi padanya. Kenapa tak seorangpun yang memberitahuku. Ini semua karena kesalahanku, mencoba masuk ke dalam neraka yang dibuat Casey untukku.

Dengan pikiran kalap dan tak tahu harus berbuat apa, aku mencoba menghubungi Lulu neechan, kakak ipar Noeru. Kuharap ia akan memberitahuku sesuatu tentang keadaan Noeru saat ini.

“hai, moshi moshi, Lulu neechan, Mai desu” kataku pertama sekali ketika ia mengangkat telfonnya.

“maaf mengganggu saat jam istirahat, bolehkah aku bertanya sesuatu? Apakah Noel baik-baik saja? Dia baik-baik saja kan, oneechan???” tanyaku tak sabar.

“dia sedang di rawat di rumah sakit. Tadi, sepulang bekerja dia diserang seseorang tak dikenal, entah apa yang diinginkan orang itu.” Jawab Lulu neechan.

“lalu bagaimana keadaannya???”

“maaf Mai, aku belum melihatnya, tapi Takapi bilang pendarahannya masih belum bisa di hentikan, dan sampai saat ini Noel masih menjalani transfusi.”

“belum bisa dihentikan? Bagaimana ini? Dia akan baik-baik saja kan?” tanyaku dengan kepanikan luar biasa meski aku tahu Lulu neechan pun belum mengetahui keadaan Noeru.

 “ia~ daijoubu. Mai, kau jangan terlalu memikirkannya, kembalilah beristirahat. Percayalah dia akan  baik-baik saja. Kau mengenalnya kan???” Lulu neechan memberiku semangat sebelum menutup telponnya.

“ah~ hontou? Neechan, maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu… jya, oyasumi.” Ucapku menjawabnya.

Casey, bisa-bisanya lelaki itu melakukan hal kotor pada Noeru. Ini semua salahku. Seandainya saja aku tak memulai semuanya dengan lelaki brengsek itu. Hal ini sungguh membuatku tak bisa kembali memejamkan mataku. Semua yang ada di kepalaku saat ini adalah Noeru. Ya,,, sudah kuputuskan, jam 7 pagi aku harus segera terbang ke Hokkaido.

07.00 am JST.

Aku keluar dari kamarku dengan sebuah koper yang sudah siap ku bawa. Papa,Mama, dan Atchan nii ku yang berada di meja makan menatapku serius. Entah mereka mengerti dengan apa yang kupikirkan, atau menganggapku ingin kabur kembali. Maklum saja, sejak aku kembali ke Tokyo sebulan yang lalu, sudah hampir 5 kali mereka memergokiku yang ingin kabur kembali ke Hokkaido dengan sebuah koper besar.

“ohayou~” sapa ketiganya padaku. Tampaknya mereka mengacuhkan sebuah koper yang sedari tadi ku bawa.

“ohayou~” jawabku sambil menarik kursi untuk duduk.

“ingin kabur Mai? Kenapa kesiangan?” tanya Papa setengah menyindirku. Hah, ternyata mereka menyadari kehadiran koper ini.

“ano, papa… aku tidak akan mencoba kabur… kali ini saja, ijinkan aku ke Hokkaido, ada masalah yang harus kuselesaikan.” Aku mulai mengeluarkan suaraku dan mencoba memohon.

“masalah? Apa yang terjadi? Noel tidak sedang sakitkan?” tampaknya Mama benar-benar bisa membaca jalan pikiranku. Benar, ia adalah ibuku, bukankah ikatan antara seorang ibu dengan anak perempuannya itu sangat kuat.

“Noel di rawat dirumah sakit, semalam dia di serang seseorang tak dikenal.” Jawabku mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

“NANI…???!!!” tiba-tiba saja Papa berteriak memekakkan telingaku. Ia terlihat begitu terkejut mendengar hal yang baru saja terlontar dari mulutku.

“lalu bagaimana keadaannya???” tanya mama tak kalah paniknya dengan papa.

“saat aku menelfon Lulu neechan jam 4 pagi tadi, pendarahannya belum bisa dihentikan, dan Noel masih terus menjalani transfusi darah.”

“oh~ kamisama, apa yang terjadi pada putraku???”  teriak mama sambil menutup mulutnya. Sementara papa yang tengah sarapan pagi segera menghentikan kegiatannya dan terlihat mulai panik mencari-cari sesuatu.

“mama, dimana koper? Ya tuhan,,, kenapa hal seperti itu bisa terjadi, ayo berkemas, kita harus segera ke Hokkaido.” Papa berkomat-kamit seorang diri dengan kepanikannya. Sementara mama ikut semakin panik dengan tingkah papa yang tak terkendali.

Apa yang ada dalam pikiran kedua orangtuaku? Menyiapkan koper dan berangkat ke Hokkaido katanya? Mereka bahkan jauh lebih tak terkendali dariku. Ya, aku paham. Bagi mereka, Noel sudah seperti putra mereka sendiri. Karena itu mereka sangat mengkhawatirkannya, terlebih orang yang mereka khawatirkan berada di  tempat yang jauh dari mereka.

Aku hanya menunggu kedua orangtuaku yang tengah bersiap dengan kepanikan mereka. Setelah selesai, mereka langsung menuju pintu luar dan ingin segera keluar rumah.

“Atchan, tolong jaga rumah dengan baik, dan jangan lupa untuk meminum obat-obatmu. Kami tidak ingin repot karena kau sakit!” Nasehat Papa pada kakak ketigaku sebelum ia berangkat bekerja. Aku hanya menatapnya yang sedang sarapan dengan serius dan sedikit khawatir.

“Mai, apa yang kau tunggu? Ayo cepat! Kita harus segera ke bandara.” Panggil Mama terhadapku.

Aku pun segera menyusul keduanya, bertiga kami menuju bandara untuk terbang ke Hokkaido untuk melihat keadaan Noeru yang sebenarnya.

~♡~「ずっと大好き」~♡~

That’s enough, you’ve worked hard enough
When you’re tired, just go ahead and rest

~Noeru POV~

Kepalaku masih terasa sangat berat dan sakit. Mungkin akibat pukulan dari Casey yang mengenai hidungku semalam. Pelan-pelan mataku  terbuka. Kulihat lampu kamar rawatku telah menyala, kemudian ku alihkan pandanganku ke kiri, ke arah luar jendela. Langit sudah gelap, berarti sudah malam, cukup lama aku tertidur sejak pagi. Rasa kantuk dan lelah benar-benar tak bisa ku tahan, karena aku tak bisa tidur selama dokter berusaha menghentikan pendarahan yang ku alami. Baru pagi tadi trombositku mau mulai bekerja menutup luka di hidungku, dan aku pun langsung tertidur.

Ku rasakan sesuatu mengganjal lengan kananku yang terasa sangat berat, ku palingkan wajahku untuk melihatnya. Seorang gadis tengah tertidur pulas sambil menggenggam telapak tanganku, dan kepalanya tergeletak di atas tangan kananku. Aku mengenali gadis ini, gadis dengan rambut diikat tinggi ke atas dengan pita berwarna kuning, warna favoriteku.

“Mai…!!!!????” aku berteriak pelan menyebut namanya karena terlalu terkejut. Untungnya hal itu tak membuatnya terbangun.

“bagaimana bisa ia ada di sini?” pikirku dalam hati.

Aku ingin segera membangunkannya dan memaksanya untuk segera pulang. Tapi aku juga tak tega melakukannya, ia terlihat lelah sekali. Aku yakin dia sudah lama berada di sini. Lama aku hanya memandanginya yang masih tertidur di atas tangan kananku.

Sedikit ingin menjahilinya, aku mencoba mengambil ponselku yang terletak di atas meja dengan tangan kiriku. Ku telfon dia dan kemudian aku berpura-pura tidur kembali. Ketika ponselnya berbunyi, ia terbangun dan dengan paniknya mengangkat telfon dariku.

“moshi-moshi~” katanya menjawab telfonku.

Aku hanya diam dan tak bicara apapun, ia masih belum mengetahui kalau aku sudah terbangun sejak tadi.

“moshi-moshi~ dare desuka?” tanyanya yang masih penasaran, dan masih sama, aku tetap tak menjawab telfonnya. Lama-kelamaan ia terlihat sangat kesal dan mulai marah.

“Omae wa BAKA!!!!” teriaknya sangat marah, “Kau pikir aku memiliki waktu untuk meladeni orang usil sepertimu???” ia pun bergegas ingin segera mematikan telfon dariku. Namun belum sempat ia mematikannya, aku mulai berbicara.

“moshi-moshi…” kataku pelan, ia hanya diam dan mencoba mendengarkan suaraku dengan baik.

“Mai~,” aku mulai memanggil namanya, dan ia masih diam.

“ittai yo~” ucapku berpura-pura kesakitan.

“eeeeee????? Noel!!! Daijoubuka??? Dimana? Dimana yang sakit?” ia terlihat begitu panik dan mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku membuka mataku dan menatapnya.

“ittai~” kataku lagi menatapnya sendu, dan masih berpura-pura.

“dimana? Aku, aku akan memanggilkan dokter.”

“ie, ittai~” sambungku merintih. Ia terlihat semakin panik dan tak terkendali.

“tolong katakan sesuatu, dimana yang sakit? Agar aku bisa melakukan sesuatu.”

“mataku, mataku sakit.”

“eeee???? Mata???” ia semakin serius menatapku.

“un, mataku… mataku sakit melihatmu ada disini!!!!” bentakku. “Baka janai yo? Apa sih yang ada dalam kepalamu? Kenapa tiba-tiba bisa berada disini? Kau pikir kau siapa boleh memikirkanku sampai seperti itu melebihi dirimu sendiri???” aku mengomelinya panjang lebar.

Ia langsung membelalak terkejut ketika menyadari aku membohonginya dan kini memarahinya habis-habisan. Setelah aku selesai berbicara, ia menatapku tajam, dan tiba-tiba saja,,, ia memukuliku.

“anta ga BAKA!!!! Kau pikir siapa dirimu boleh memarahiku seperti itu? Kau pikir kau bisa mencegahku Kawashima Noel??? Sudah kubilang jangan membuatku khawatir? BAKA, BAKA, BAKA, BAKA!!!!!” balasnya memarahiku.

“ittai~ ittai~ ittai~ yamete!!!! Mai, YAMETE!!! Kau ini kasar sekali, aku ini sedang sakit tahu!!!!” teriakku protes akan perbuatannya yang memarahiku habis-habisan.

Tak lama ia langsung menghentikan perbuatannya dan terdiam. Ya, sungguh-sungguh terdiam, dan sangat lama. Ia benar-benar tak mengatakan sepatah katapun padaku. Mai yang selalu cerewet dan tak pernah berhenti berbicara denganku, tiba-tiba saja menjadi orang lain. Menjadi sosok yang tak ku kenal sama sekali.

“nande?” tanyaku mencoba membuka suara di antara keheningan kami.

Ia hanya menggeleng menjawab pertanyaanku. Tapi itu bukan sebuah jawaban bagiku. Pasti ada sesuatu yang sangat mengganjal perasaannya. Aku sendiri sebenarnya ingin menanyakan perihal hubungannya dengan Casey, tapi aku merasa tak memiliki hak untuk menembus kawasan yang terlalu pribadi itu.

“daijoubuka?” tanyanya tentangku.

“un,,, daijoubu desu!!!” jawabku meyakinkannya.

“Noel, aku akan melaporkan perbuatan Casey ke polisi.” Katanya tiba-tiba. Hal itu sungguh mengejutkanku. Ia tahu dari mana bahwa Casey perlakunya?

“eh…?” aku mencoba bersikap seolah tak mengetahui apapun.

“Casey yang mengatakannya langsung padaku, dia mengirimiku sebuah pesan singkat yang berisi pengakuannya padaku bahwa dia telah memukulimu. Itu bisa dijadikan sebagai bukti.”

“ia, daijoubu… kau tidak perlu melaporkannya, lagipula aku baik-baik saja.”

“nani???!!!! Baik-baik saja katamu? Seenaknya berbicara seolah nyawamu hanya sebuah permainan!!! Kau tidak tahu betapa takutnya aku mendengar kau terluka? Kau tidak tahu betapa paniknya Papa dan Mama, sampai mereka juga ikut ke sini hanya karena mengkhawatirkanmu? Kau!!!! Untung saja aku tak menghubungi Alix dan Keith, jika mereka tahu, mereka pasti sudah terbang dari Perancis hanya untuk melihat keadaanmu…!!!” omelnya panjang lebar. Dia sudah kembali, kembali menjadi Mai yang ku kenal dengan baik.

“ku mohon, jangan memberitahu Alix dan Keith tentang keadaanku saat ini.” Pintaku padanya untuk tak memberitahu adik-adikku tentang apa yang telah menimpaku. Jika mereka sampai tahu, aku akan benar-benar habis. Alix, adikku itu tak kalah cerewetnya dibandingkan Mai. Bahkan aku yakin, jika ia sampai tahu, ia pasti akan langsung membawaku kembali ke Perancis tanpa bertanya padaku lebih dulu. Sedangkan Keith, dia anak yang manis. Tetapi selalu bersekongkol dengan Alix dalam urusan mengkhawatirkanku.

“nande?” tanyanya tentang alasanku.

“aku tidak ingin mereka mengkhawatirkanku.”

“ada apa denganmu???!!!” tiba-tiba saja nada bicara Mai menjadi tinggi. Tampaknya kali ini ia benar-benar marah terhadapku.

“selalu saja kau mengatakan tak ingin membuat orang lain khawatir. Kalau begitu, bisakah sedikit lebih jujur padaku? Tak apa jika membuatku khawatir, setidaknya kau tak menyembunyikan apapun dariku!!! Nande? Nande dayo??? Kenapa kau tak bisa jujur dan mengatakan yang sebenarnya? Jika kau terluka, katakan bahwa kau terluka! Bukan terus bersembunyi dariku!!!” ucapnya semakin meninggi, ku lihat air mata mulai membasahi pipinya. Ia menangis, aku tahu ia merasa sangat bersalah terhadapku.

“kimi mo!!!” jawabku tegas menanggapi pernyataannya. Ia terlihat begitu terkejut mendengar nada bicaraku, dan langsung mengangkat kepalanya menatap wajahku.

“kenapa kau tidak pernah sekalipun mengatakan padaku, bahwa Casey tak pernah memperlakukanmu dengan baik? Apa itu yang kau sebut kekasih? Apa itu pria yang mencintaimu? Jangankan untuk membahagiakanmu, menjaga perasaanmu pun tak bisa dilakukannya!!! Kenapa tak pernah mengatakan apapun padaku??? Kenapa harus selalu aku yang berterus terang padamu? Sementara kau tak pernah ingin jujur terhadapku!!! Kau sama sekali tak pernah menganggapku sebagai sahabatmu? Benarkan???” kuluapkan semua yang ingin ku katakan padanya, entah dari mana semua kata-kata itu bisa meluncur begitu saja dari mulutku. Mai masih terus tercengang menatap kemarahanku yang kini meledak-ledak. Kemarahanku yang tak pernah keluar di hadapannya lagi sejak 12 tahun yang lalu.

 

[Flashback]

Paris Musim Gugur 2001

“Noel, berjuanglah… aku, aku bersedia memberikan jantungku untukmu agar kau bisa sembuh. Aku pasti akan berikan…!!!!” ketika itu Mai menangis tersedu-sedu di hadapanku yang sedang di rawat di rumah sakit. Masih sangat jelas ku ingat raut wajah sedihnya hingga saat ini.

“Nani…???!!! Jangan pernah melakukan hal bodoh untukku!!! Kau akan mati, dan aku juga belum tentu bisa hidup!!! Apa kau benar-benar sahabatku? Apa yang ada dalam kepalamu? Jika kau benar-benar ingin aku bahagia, bersikaplah seperti sahabat yang baik. Seorang sahabat tidak akan pernah meninggalkan sahabatnnya sendirian, tidak seperti ucapan bodohmu tadi!!!!”

“demo, Noel jika tidak mendapatkan donor, paman bilang bisa meninggal.”

“aku tidak akan mati semudah itu! Meskipun tanpa donor, aku akan berjuang hingga dewasa, aku akan berjuang untuk tetap hidup! Aku akan berjuang melawan penyakitku, tapi berjanjilah kau akan terus berada di  sampingku, jangan pernah melakukan hal bodoh hanya karena diriku.”

[Flashback End]

“aku… aku hanya~”

“hanya apa?” belum sempat ia menjawab, aku sudah memotong ucapannya.

“kau tak pernah menganggapku sebagai orang yang penting bagimu! Karena itu kau tak pernah bercerita apapun padaku!!!!”

“ie, Noel,,, tidak seperti itu, aku melakukannya karena kau begitu penting untukku! Aku tidak ingin Casey melukaimu.” Ucapnya berterus terang.

“nande?” kukembalikan pertanyaan itu padanya. Ia menatapku heran, dibulatkannya matanya yang mungil itu.

“kenapa kau melakukannya? Kenapa harus berpura-pura di hadapanku? Kau tak pernah mencintai Casey, tapi kenapa harus menjadi miliknya? Kau benar-benar sudah membuatku sangat sakit!!!” semakin aku mengeluarkan semua yang ada di dalam kepalaku. Aku ingin sebuah kejelasan dari Mai tentang semua ini.

Mai hanya diam, ia tak sanggup menjawab pertanyaanku. Yang ia keluarkan hanya tangisan dan air mata sebagai tanda rasa bersalahnya melihat keadaanku yang seperti ini. Tak tahan melihatnya yang seperti ini, aku kembali bertanya padanya.

“NANDE…???!!!!” tanyaku sekali lagi dengan nada tinggi, dan… tiba-tiba saja dadaku terasa begitu sakit. Jantungku bagaikan dihimpit, dan aku tak bisa bernapas. Mendadak aku collapse kembali, namun tak sampai pingsan.

“Noel, daijoubu???” Mai terlihat begitu panik melihatku yang tiba-tiba collapse. Ia langsung berteriak memanggil dokter jaga untuk menanganiku.

“bertahanlah…!!!” ia terus berupaya menguatkanku.

Ketika dokter datang hendak menanganiku dan memintanya keluar, aku langsung menarik tangannya. Aku tak ingin dia keluar, aku ingin dia di sampingku saat ini. Ku tatap wajah khawatirnya.

“tetaplah di sini, tetap di sampingku…” pintaku memohon padanya dengan terbata-bata.

~♡~「ずっと大好き」~♡~

Hey, I want to take a step closer to you
I want to make your dream come true
I’ll always be right here beside you, I’ll always be by your side
So give half of all your tears and grief to me

~Mai POV~

“NANDE…???!!!” Noeru bertanya dengan nada tinggi, aku tahu ia sangat emosi. Kemarahannya sangat tak terbendung.

Tiba-tiba saja ia memegangi dadanya dan terlihat sangat kesulitan bernapas, tampaknya jantungnya kambuh lagi.

“Noel, daijoubu…?” tanyaku sangat panik melihat keadaannya. Ia collapse dan hal itu membuatku benar-benar takut. Aku ingin menangis melihatnya yang begitu kesakitan, namun aku tak mungkin menangis di hadapannya saat ini. Aku langsung berteriak memanggil dokter untuk segera menanganinya.

“bertahanlah…!!!” kataku berupaya menguatkannya selagi menunggu dokter yang tengah menuju ke sini.

Setelah dokter datang, mereka langsung menangani Noeru dan memintaku keluar. Namun, tiba-tiba saja tanganku di tarik oleh Noeru. Dengan sangat khawatir aku menatapnya, menatap wajah pucatnya yang mulai membiru. Ia telihat sangat kesakitan.

“tetaplah di sini, tetap di sampingku…” pintanya padaku dengan terbata-bata.

Dokter yang melihat hal itu pun akhirnya membiarkanku tetap berada di sampingnya. Aku sungguh tak tega melihatnya seperti ini. Dokter terlihat menyuntikkan sesuatu padanya, memasangkan kabel-kabel yang entah untuk apa fungsinya, dan memasukkan selang ke dalam hidungnya untuk membantunya bernapas. Bagian itu terlihat sangat menyakitkan baginya, aku terus menggenggam tangannya dengan sangat erat.

“kau kuat…!!! kau bisa Noel, ne~ aku tetap di sini,,, di sampingmu…!!!” supportku dengan tetap menggenggam telapak tangannya.

Perlahan keadaannya mulai kembali stabil. Setelah itu dokter meninggalkan ruangan ini. kini hanya tinggal kami berdua. Ia terlihat begitu lemah kali ini. Namun aku bisa membaca pikirannya. Ia masih ingin membahas hal yang telah membuatnya begitu emosi hingga menyebabkannya collapse seperti tadi.

“Nande?” tanyanya kembali. Kali ini terdengar lebih lembut.

“gomen…” jawabku. “aku melakukannya untukmelindungimu. Casey menginginkanku sejak lama, dia mengancamku akan melukaimu jika aku tak mau menjadi miliknya. Karena itu, aku melakukannya…”jelasku pelan sambil menangis.

“kenapa harus mengorbankan dirimu? Kenapa tak membiarkannya melukaiku? Itu akan lebih baik bagiku, dari pada harus melihatmu tersakiti karenanya…!!!” ucapnya. Kali ini kembali nada bicaranya mulai naik. Aku tahu, ia sangat geram dengan apa yang telah terjadi.

Dengan sedikit amarah yang ku keluarkan, ku pukul kepala lelaki yang berbaring di hadapanku ini.

“kau gila??? Kau pikir nyawamu tak berharga??? Kau pikir hidupmu hanya sebuah permainan???!!! Tidakkah kau tahu betapa pentingnya kau untukku??? Kenapa tak pernah memahamiku? Aku takut,,, aku takut melihatmu seperti ini…!!! Atashi… Noel ga hontou ni daisuki…!!!!!” dengan tanpa pikir panjang aku mengeluarkan semua yang ada di dalam kepalaku. Mengeluarkan segenap perasaan yang selalu ku simpan dengan air mata.

Tiba-tiba saja ia menarik tanganku, hingga aku tertunduk. Di rangkulnya pelan bahuku, dan ia memelukku erat. Lama ia terdiam hingga ia kembali membuka suaranya dan tetap membiarkanku berada dalam pelukannya.

“ne~ Mai, yamete!!! Akhiri semuanya sampai di sini. Jangan pernah kembali lagi pada lelaki itu. Kau tahu? Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Karena itu, berbagilah setengah kesedihan dan kebahagiaanmu padaku, kau harus berbagi senyuman dan air matamu padaku. Mari bergandengan tangan denganku, menatap masa depan bersamaku, menciptakan kebahagiaan bersama-sama, dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senangbersamaku. Karena itu, kore kara mo, ijinkan aku menggantikan posisi lelaki itu untukmu, karena aku sangat mencintaimu…” katanya pelan dan lembut.

“aku mencintaimu… sejak kita pertama kali bertemu, hingga saat ini… Mai, zutto… daisuki…!!!” ia benar-benar mengungkapkan perasaan yang telah dipendamnya lebih dari 13 tahun yang lalu.

Aku hanya mengangguk pelan menjawabnya, hal ini membuatku benar-benar terharu, semua terasa begitu bebas. Aku benar-benar bahagia dan  tersenyum puas dalam pelukan Noeru.

 

~♡~「ずっと大好き」~♡~

Together, let’s double the number of happy things in our lives
Together, let’s spend lots of time having fun
Since you’re working so hard, what can I do for you?
I hope that you can always be true to yourself
So I’d keep looking for more things that I can do to help you

~Noeru POV~

Musim semi sudah datang, sakura juga sudah bermekaran. Hari ini terasa lebih hangat di banding dengan beberapa hari sebelumnya. Aku sedikit berlari-lari kecil menuju taman. Tentu aku tak ingin membuat Mai menunggu terlalu lama. Ia sudah berada di Sapporo pagi ini dan menunggu di taman untuk bertemu denganku.

Aku melihatnya, gadis dengan rambut diikat tinggi ke atas dan di cepol dengan pita berwarna kuning, khas Mai, ia sangat menyukai ikatan itu dan selalu warna kuning, warna favorite ku. Terlihat sangat serasi dengan gaun kuning yang dikenakannya. Terlihat begitu feminin. Ya, dia selalu manis mengenakan apapun di mataku.

“gomen, aku terlambat…” ucapku pertama sekali ketika berdiri di hadapannya.

“ie, aku juga baru sampai…” katanya menjawabku.

Terdengar lebih dewasa, gadis manja ini sudah berubah banyak, padahal baru saja ia di wisuda. Tapi bagaimanapun dirinya, aku tetap menyukainya, sangat menyukainya. Kemudian aku pun duduk di sebelahnya.

“bagaimana hukuman untuk Casey? Sudah di putuskan???” tanyanya padaku.

Ya, setelah kejadian pemukulan yang dilakukan Casey terhadapku hingga aku berakhir di rumah sakit, Mai sungguh-sungguh melaporkan perbuatan Casey bersama Takapi oniichan dengan bantuan Masaki oniichan sebagai pengacaraku.

“belum, hakim mengatakan akan diputuskan minggu depan.” Jawabku.

“ah sou ka,,, aku akan ikut denganmu menghadiri persidangannya. Lagi pula aku sudah di wisuda, jadi Papa dan Mama tidak akan banyak mengeluh kalau aku berlama-lama di Sapporo. Lagi pula seharusnya mereka tidak boleh mengeluh, karena Atchan nii kan selalu berada di rumah.” Ucapnya sesuka hatinya seperti biasa.

“BAKA…!!! mana boleh seperti itu…!!! ku pikir kau sudah berubah menjadi lebih dewasa, ternyata tetap saja sama…!!!!” protesku padanya sambil menarik poni bagian sampingnya. Ia pun memajukan bibirnya dan kembali membetulkan posisi poninya, yang juga masih tak bergeser sama sekali.

“eh…??? nande? Nande? Kau kan kekasihku, tidak apa-apa kan kalau aku sering-sering mengunjungimu di Sapporo???” jawabnya tak mau kalah.

“hanya kali ini, untuk yang berikutnya, biarkan aku yang mengunjungimu di Tokyo…!” perintahku.

“nande? Padahalkan lebih menyenangkan berkencan di Sapporo!!!” ia masih bersikeras dengan keinginannya.

Kali ini aku berdiri untuk menjawab pertanyaannya. “aku juga ingin mengunjungi Papa, Mama dan Atchan nii…!!! memangnya tidak boleh??? Lagi pula Papaku juga berada di Tokyo…!!! sudah lah, Iku…!!!” kataku sambil menjulurkan tanganku padanya. Ia hanya memandangku kebingungan.

“kita ingin kemana?” tanyanya.

“ini kencan pertama kita setelah resmi berpacaran kan? setelah aku keluar dari rumah sakit, kau harus kembali ke Tokyo… Ne~ Mai, kau hanya perlu mengikutiku, berbagi segalanya denganku, karena aku akan selalu ada di sini, di sampingmu. Tidak peduli apapun masa depan yang tengah menunggu kita, aku akan tetap berada di sampingmu dan terus menggandeng tanganmu…”

Ia tersenyum menatapku, kemudian perlahan di sambutnya tanganku dan ia mulai berdiri, dirapatkannya tubuhnya padaku, dan dengan manja di sandarkannya kepalanya pada bahuku.

“kita akan ke mana?” ia masih penasaran dengan rencanaku hari ini.

“kemana saja, ke tempat yang akan membuatmu senang.”

“ah, menggandeng tangan Noel saja sudah membuatku sangat berdebar-debar…!!!”

“bagaimana dengan sebuah ciuman?” ucapku manja meminta padanya.

“NO…!!!!!!!!!” jawabnya dengan tegas. “aku tidak ingin kau berakhir di rumah sakit… kau harus ingat, kau tidak boleh merasakan sesuatu yang berlebihan. Aku tidak ingin jantungmu itu menyakitimu terus menerus…!!!” ucapnya sambil terus menunjuk-nunjuk ke arah dadaku. Ia kembali… kembali menjadi Mai yang cerewet seperti biasa.

“ah~ lalu kalau kita menikah,,,??? Aku juga ingin memiliki anak, bagaimana dengan hubungan sex kita nanti???” aku mencoba menggodanya.

“kita bisa berkonsultasi pada dokter tentang itu. Lagi pula kau sendiri itu kan dokter…!!!” ia membantah perkataanku sambil mencubit pinggangku pelan.

“ittai,,,!!! Yamete yo…!!! kau selalu seperti itu…!!!” protesku padanya.

Ia tertawa, gadis ini tertawa,,, aku begitu menyukai tawanya. Mai, teruslah seperti ini, teruslah berbagi tawamu padaku,,, teruslah berbagi segalanya tentang dirimu padaku. Jadilah dirimu yang sebenarnya, dengan begitu kau dan aku bisa terus melanjutkan hidup kita sebagaimana diri kita yang sebenarnya. Sampai waktunya tiba… Mai, zutto… daisuki…….!!!!

I’ll always be right here beside you, I’ll always be by your side
That’s right, no matter what kind of future awaits us
Let’s share everything, so that you and I can continue
To live in a way that’s true to ourselves in the days ahead

~END~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s