[Minichapter] My Day From Now (Chapter 2) -END-

My Day From Now
(Thank You For Everything sequel)
By. Matsuyama Reina
Type : Minichapter (Chapter 2) –END-
Genre : (Little) Romance, Angst, Friendship
Rated : PG-15
Cast:
Teranishi Takuto (Johnny’s Jr.
Aiu Chan as Fujiyama Akane (OC)
Disclaimer: Just have the story.

Untung saja aku sudah sampai dirumah dengan cepat …

TOK TOK TOK …

“Bibi!! Tolong buka pintunya!! Buruan, Bi!!” akupun berteriak sambil mengetuk pintu rumahku sendiri. Tubuhku gemetar dan air mataku memaksakan diri untuk berdesakan keluar dari mataku. Aku tidak bisa menahan tangis ini. Rasanya menyedihkan!!

“Sebentar!!” suara bibi pun terdengar. Akupun merasa lega sekali.

CEKLEK …

“Eh? Nona Akane, a .. ada apa dengan Nona? Nona menangis?” tanya bibi yang terlihat panik ketika melihat keadaanku yang menyedihkan ini.

“Maaf, Bi. Aku mau istirahat.” Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung berlari ke kamar dan mengurung diri disana.

.

.

Ya Tuhan, mengapa harus terjadi seperti ini? aku bingung dengan perasaanku sendiri … Aku tidak tahu harus bagaimana menjalani ini semua. Juki telah pergi, sekarang Tera menggantikan posisinya untuk tetap bersamaku, tapi … perbuatanku …

Seketika itu juga air mataku keluar dengan derasnya. Bersamaan dengan itu, aku memandang kembali sebuah kotak perhiasan berbentuk hati. Hadiah dari Juki dan barusaja diberikan oleh Tera. Aku masih saja menatap benda itu dengan tatapan nanar.

Juki … kenapa harus secepat ini? percuma saja kalau kau memberiku ini tapi kau sudah tidak bersamaku lagi .. untuk selamanya …

Kau tahu? Hadiah ini justru membuatku semakin merindukanmu …

“Ya Tuhan, harus kuapakan benda ini? jika disimpan akan menambahkan rasa rinduku pada Juki. Tapi jika dibuang, justru aku lebih kasihan. Aku harus bagaimana?” ucapku getir. Mengcengkeram kuat benda itu dan menunduk. Sungguh, aku tidak tahu harus kuapakan benda itu.

Karena ini, aku jadi memarahi Tera … sebenarnya apa yang kupikirkan? Bukankah aku juga mengagumi sosok Tera itu? Bukankah tadi aku barusaja memikirkan bahwa aku mulai menyukai Tera? Tapi .. kenapa? Kenapa aku menyakiti hati Tera? ..

Sekarang ini dia pasti marah akibat sikapku. Mungkin .. akulah yang egois. Tidak memikirkan perasaan orang lain tapi perasaanku sendiri ingin selalu dipikirkan oleh orang lain.

Apakah sikapku tadi karena rasa rinduku pada Juki belum hilang, sehingga dengan teganya diriku menyakiti perasaan Tera? Tapi aku harus bagaimana?

TOK TOK TOK …

Sebuah suara ketukan pintu kini sukses membuatku terkejut dan tergesa-gesa untuk menghapus air mataku. Sementara itu aku langsung menyimpan kotak perhiasan dari Juki ke dalam lemari pakaianku. Tentunya menyimpannya didaerah yang tersembunyi.

Setelahnya aku segera membuka pintu. Ternyata Mamaku. Beliaulah yang mengetuk pintu kamarku.

“Ada apa, Ma?” tanyaku kemudian pada Mama.

“Seharusnya Mama yang tanya sama kamu, Akane. Kamu kenapa tadi menangis saat pulang?” pertanyaan dari Mama-ku kini membuatku hanya terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa.

“Betsuni. Maaf, Ma. Aku harus tidur sekarang. Oyasumi.” Tanpa diragukan lagi aku langsung menutup pintu kamarku dan membaringkan diri diatas tidur. Sesungguhnya tidak sopan ketika aku melakukan ini. Tapi mau bagaimana lagi?

Saat ini memang sudah jam 9 malam. Sudah waktunya aku tidur. Namun …

Aku yakin kalau aku tidak bisa tidur sekarang. Lalu aku harus bagaimana? Meminta maaf? Tapi .. dia pasti akan mengacuhkanku.

Aku pun terus berkutat pada pemikiranku hingga aku tertidur pulas dengan sendirinya.

*+*+*+*

Sepertinya aku akan berangkat sendiri sekarang. Biasanya aku bersama Tera karena dia selalu menjemputku kemari. Yah, karena ada masalah yang tak terduga, mungkin dia masih marah. Aku rasa …

“Ohayou!” sapaku ketika aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.

“Ohayou!” sapa Mama, dan bibi yang sedang didapur. Sesaat aku bingung, Kemana Papa dan juga otouto?

          “Ano, Papa dan Otouto ada dimana, Ma?” tanyaku melontarkan rasa penasaranku pada Mama.

“Haha. Mereka baru persiapan di kamar masing-masing. Mungkin sebentar lagi juga selesai.” Penjelasan dari Mama hanya membuatku mengangguk

Tanpa banyak menunggu, aku langsung menuju keruang makan dan duduk disana. Mengambil sebuah toples berisi selai stoberi dan juga mengambil 2 lembar roti tawar yang mungkin disediakan Mama ataupun Bibi tadi. Kemudian aku mengambil segelas susu vanila yang letaknya tepat dibagian ujung meja makan yang sedikit menjauh dari tepinya.

Dengan ini, aku berharap bisa lebih baik lagi …

“Ma, Bi, aku berangkat dulu ya! Ittekimasu!!” sapaku dengan cepat setelah selesai memakan roti selai stoberi dan juga susu vanilla.

“Itterashai!!” balas Mama dan juga Bibi secara bersamaan seraya aku memakai sepatu yang kuambil di rak sepatu dan langsung berangkat sekolah.

.

.

Setelah aku sampai di sekolah, dari luar gerbang sekolah tampaklah siswa-siswi yang berlarian kesana-kemari dengan tidak jelas dan mendekati papan pengumumuan sekolah. Awalnya terkejut, namun karena penasaran pada akhirnya aku datang menghampiri tempat papan pengumuman itu.

“Sumimasen, ano sebenarnya ada apa ya?” tanyaku pada salah satu siswi disana.

“Sekolah akan mengadakan pesta dansa 2 bulan lagi!” jelas siswi itu padaku. Pesta dansa?

“Ano, kenapa mendadak seperti ini?” tanyaku lagi pada siswi itu.

“Pesta ini dilaksanakan tepat di hari ulang tahun sekolah kita yang ke-20. Tiba-tiba saja pengurus OSIS-nya mengusulkan acara pesta ini. Menmyenangkan bukan?!!” siswi itu langsung histeris ketika menyangkut masalah pesta dansa itu.

Pesta dansa, ya? Apakah menyenangkan?

“Hei, Akane-chan!!” tiba-tiba saja aku mendengar seseorang memanggilku. Kutengok kearah asal suara itu memanggilku. “Aderu-chan?” gumamku ketika sosok orang itu sudah kukenali namanya. Mizukana Aderu.

“Ne, Akane-chan apa kau sudah tahu tentang pesta dansa?” tanya Aderu padaku. “Barusaja aku mengetahuinya.” Jawabku singkat dan tentunya dengan nada biasa. “Ah, ternyata kamu sudah tahu sendiri ya. Yah, padahal aku mau kasih kejutan soal pesta ini sama kamu, Akane.” Ucapnya kemudian.

“Haha. Kau itu tidak perlu seperti itu.” Ujarku pada akhirnya.

“Oh iya, Akane-chan. Bagaimana hubunganmu dengan Tera? Baik-baik saja, bukan?”

Kenapa kau harus menanyakan hal itu padaku?              Kembali aku membatin. Pertanyaan Aderu-chan benar-benar membuatku bingung sekarang. Aku harus menjawab apa?

“Akane-chan? Kau kenapa? Apa kau ada masalah dengan Tera?” kembali Aderu-chan bertanya. Kali ini aku bingung antara menjelaskannya atau tidak. Hatiku saat ini benar-benar kacau sekarang. Gomen ne, Aderu-chan~

“Maaf, aku harus kembali ke kelas.” Tanpa menjawab pertanyaannya, aku segera berlari meninggalkan kerumunan banyak oeang yang berdesakan di depan papan pengumuman, begitu juga dengan Aderu-chan, dan tidak mempedulikan pandangan bingung siswa-siswi lain terhadapku.

Dan ..

BBRRAAKK…          Tanpa sengaja aku telah menabrak seseorang sehingga aku terjatuh.

“Kau tidak apa-apa?” kata sebuah suara dan sebuah uluran tangan kini beara dihadapanku. Tidak salah lagi kalau pemilik suara ini adalah pria dan … sepertinya aku mengenal suara ini dengan sangat baik.

Masaka? …

“Tera?” gumamku kemudian ketika kuangkat wajahku untuk melihat dan memastikan orang itu. Dan ternyata .. benar. Dugaanku benar …

“Akane-chan?” gumamnya yang sudah jelas terdengar di pendengaranku. Tatapan matanya terlihat berbeda. Berbeda sekali. Seperti saat kami baru pertama kali saling kenal. “Maaf.” Dengan cepat aku meraih uluran tangan dari Tera itu dan langsung bangkit.

Oh, Kamisama … apakah Tera masih marah padaku?

“Kau tidak apa-apa?” tanya Tera sekali lagi. Kuberanikan diriku untuk melihat wajah Tera. Meskipun ada rasa takut dalam diriku. “Aku tidak apa-apa.” Jawabku sekilas.    “Soal kemarin malam ….”

“Sudah, lupakan saja Akane-chan. Aku tahu kalau kau sangat mencintai Juki. Jadi aku tidak bisa memaksa. Maaf soal kemarin malam itu. Jya ne …” belum selesai aku berkata, Tera sudah menyela ucapanku. Sungguh, hal itu membuatku shock.

Ternyata … kau masih membenciku, Tera …

“Chotto matte ….”

TING TONG … TING TONG …

Belum sempat aku mencegah kepergian Tera, tiba-tiba bel sekolah sudah berbunyi dan pertanda kegiatan belajar mengajar sudah di mulai.

Sial!! Bagaimana ini? …

.

Selama pelajaran berlangsung, tiada satu materi pun yang bisa masuk ke dalam otakku. Saat ini aku tidak bisa fokus jika masalahku semakin memburuk dan tidak semakin membaik.

Penjelasan dari sensei hanya angin lalu. Kepalaku pusing. Aku tidak bisa menahan ini semua …. Sampai kapan aku bisa bertahan?

“Sumimasen, Sensei.” Tiba-tiba saja aku langsung mengangkat tanganku dan menghentikan aktivitas sensei yang sedang mengajar dikelasku. Semua pandangan siswa-siswi dikelasku ini memandang kearahku.

“Ada apa, Fujiyama-san?” tanya sensei padaku.

“Bolehkah saya ke UKS, sensei??” tanyaku dengan suara lemah dan tangan kiriku menyentuh kepalaku. Saat ini aku sangat pusing. Ada apa denganku?

“Sepertinya kau sakit. Sebaiknya aku menyuruh seseorang untuk mengantarmu …” – “Tidak perlu, sensei. Aku bisa sendiri.” Kataku dengan cepat menyela ucapan sensei.

Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Kepala ku benar-benar pusing sekarang. Aku tak tahu penyebabnya bisa pusing seperti ini.

Ittai!! Kenapa kepalaku bertambah sakit seperti ini? … mengapa mendadak begini …

BBRRAAKK …

Tanpa disengaja, aku langsung jatuh begitu saja. Aku memang tidak bisa menahan sakit di kepalaku ini. Terlalu berat untuk menahannya.

“Fujiyama-san!!!!” – “Astaga, Fujiyama-san!! sadarlah!!!”

Suara samar-samar kini kian terdengar di telingaku dan memanggil namaku. Sudah jelas bahwa siswa-siswi di kelasku yang memanggil namaku. Bagaimana dengan Tera?

“Akane-chan!!!”      Ya … suara itulah yang ingin kudengar. Suara ini yang kurindukan. Andai aku bisa bangun sekarang ….

“Akane-chan!! Aku mohon sadarlah!!!”

.

.

“Ummhhh ..”

“Akane-chan? Kau sudah sadar?”

Kembali terdengar suara samar-samar yang tengah memanggil namaku. Suara pria. Siapa?

“Tera? Um .. a .. aku dimana?” tanyaku pada Tera dan bersamaan dengan arah pandanganku yang melihat kearah sekitar tempatku berada. Apakah di …

          “Di UKS. Kau tadi pingsan saat mau izin kemari. Sebenarnya kamu sakit apa, Akane-chan?” tanya Tera setelah menjelaskan keberadanku dengannya. Suaranya terdengar khawatir sekali. Namun … raut wajahnya tidak menunjukkan itu …

“Souka. Mendadak kepalaku pusing.” – “Apakah kau menangisi kejadian kemarin malam?” tiba-tiba saja Tera menanyakan hal itu padaku dengan serius. Cukup terkejut memang, tapi aku bingung harus menjawab apa.

“Ano .. soal itu ..”

“Sudahlah. Aku mengerti sekarang. Kau …”

“Cukup Tera! Dengarkan aku dulu!” pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mencegah Tera menyela ucapanku. “Aku yang salah. Akhir-akhir ini aku selalu egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Terlebih kau, Tera.” Ucapku kemudian dan menunduk. Aku tidak berani menatapnya saat ini…

SREEGG .. Tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan suara kursi yang diundur ke belakang oleh Tera. “Kau tidak perlu mengucapkan itu, Akane.” Ucapnya sembari berdiri dari duduknya. Apa maksudnya?

“Baguslah kalau kau sudah sadar. Tapi, aku perlu waktu untuk ini. Sa, aku harus kembali ke kelas. Jya matta ne.” Tiba-tiba saja ucapan Tera barusan membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Apa maksud perkataannya itu?

          “Chotto!! Kau sedang membenciku, bukan? Kau ingin mengeluarkan kata-kata pedasmu padaku, bukan? Lalu .. kenapa?!!” bentakku kemudian dan menutup sebelah mataku yang mulai menitikkan air mata dengan telapak tanganku.

“Tidak. Aku hanya butuh waktu untuk ini semua. Maaf.”

Setelah berucap kata itu, Tera langsung saja pergi keluar dari ruang UKS. Ingin sekali mencegahnya, namun … semua sarafku serasa terhenti sehingga aku tidak bisa bergerak. Apakah karena ucapannya itu yang membuatku seperti ini? Entahlah~

Aku yakin, kau pasti membenciku sekarang ….

.

Cobalah untuk melupakan semua masalah ini, Akane! Aku yakin kau bisa!!

Keesokan harinya, entah mengapa aku merasa bersemangat sekali. Tidak seperti biasanya jika aku ada masalah dengan Tera. Salah satu sahabatku yang mungkin .. akan menjadi kekasihku suatu saat nanti …

“Sudah lama aku tidak mengetahui kabar Negu-chan. Sebaiknya aku menghubungi dia saja.” Dengan cepat aku mengambil ponsel yang ada di meja belajar dan menghubungi Negu-chan.

Semenjak kepergiannya ke Okinawa, tentunya setelah Juki meninggal, membuatku semakin rindu padanya. 3 hari belakangan ini dia tidak mengabariku. Ah~ pasti karena aku terlalu sibuk mengurus masalahku sendiri.

Moshi-moshi? Hallo, Akane-chan!!” pada akhirnya, tersambung juga saluran teleponnya. Yokatta~

“Moshi-moshi, Negu-chan!! aaa, aku rindu padamu!! Hehe!” sorakku kemudian yang mungkin membuat Negu-chan terkejut.

Duh, Akane-chan! kau ini mengejutkanku saja. Hehe! Lagipula aku baru pindah 3 hari belakangan ini. Kau malah sudah rindu padaku. Hehe!

“Haha! Sudah jelas aku rindu padamu. Kau ini sahabatku, jadi ya .. wajar bukan? Haha!!”

Ne! Tumben kau meneleponku. Ada apa?” – “Um .. selain rindu .. ada info dari sekolah nih!” jelasku pada Negu-chan yang masih bercakap-cakap di ponsel.

Benarkah? Info apa itu?

“Pesta dansa bertopeng, Negu-chan.”

He? Pesta dansa bertopeng? Apakah memerlukan pasangan juga?

“Iya. Hanya saja ….” – “Ada apa, Akane-chan? kau bisa menceritakannya padaku.

Tiba-tiba saja aku kembali berkutat pada pikiranku sendiri. Memilih antara menjelaskannya atau tidak. Perlukah aku menceritakannya?

“Ah, nandemonai. Pokoknya kau sudah harus kembali pulang dari Okinawa, Negu-chan! Pesta dansa-nya bersifat wajib loh. Hahaha!” tiba-tiba saja aku tertawa dan membuat candaan pada Negu-chan. Aku bingung mengapa mendadak seperti ini.

Akane-chan!! Jangan membuatku panik!” – “Haha! Hanya bercanda saja, Negu-chan!” kembali aku tertawa. “Haha!” kudengar Negu-chan pun juga tertawa. Entah mengapa aku merasakan hawa atmosfer kehangatan di kamarku ini. Mungkin hanya feeling-ku saja.

          “Saa, kalau begitu sampai disini dulu, Negu-chan. kutunggu kepulanganmu dari Okinawa. Terpenting jangan berdekatan dengan hari H-nya. Hehe.”

Haha! Tentu saja. Mungkin 3 minggu lagi aku akan pulang kembali ke Tokyo. Tunggulah kedatanganku ya, Akane-chan!

Aku pun mengangguk dan menjawab “Un! Atashi wa anata no matteru kara!”

Hai! Jya matta ne, Akane-chan!!” – “Jya matta ne, Negu-chan!”

Kini aku mengakhiri percakapan singkat dengan Negu-chan. Sesungguhnya aku ingin cerita padanya tentang masalahku akhir-akhir ini. Tapi, mengapa aku cangung seperti ini?

“Hari Minggu. Enaknya melakukan apa ya?” pikirku kemudian.

Hari ini Minggu. Tugas-tugas sekolah juga tidak ada. Sudah mereda sekitar seminggu yang lalu … namun aku bingung mengisi kegiatan hari ini. Tapi melakukan apa?         — “Aha! Membantu Mama masak saja kalau begitu!”

Barusaja mendapat ide, aku segera keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membantu Mama yang mungkin sedang memasak. Kira-kira Mama masak apa ya?

“Ohayou Mama!” sapaku. “Ah, Ohayou mo, Akane!” seru Mama di dapur. Kemudian aku menghampirinya.

“Hmm. Wangi sekali. Mama sedang memasak apa?” tanyaku penasaran. Terciumlah bau yang sedap berasal dari dapur. Membuatku semakin penasaran.

“Sup kepiting, Akane. Sup kesukaan kamu.” Jawab Mama dan tak lupa mengembangkan senyumnya. Seketika aku terhenti. Sup kepiting? Masakan kesukaanku dengan Juki dulu… ah, mengapa aku mengingatnya lagi?

“Kamu kenapa, Akane? Bukannya kamu seharusnya senang kalau Mama memasak makanan kesukaanmu?” kini Mama-ku mulai heran ketika melihat tingkah laku-ku ini. doushite?

          “Ah, betsuni. Tiba-tiba saja aku melamun. Huaa … kalau begitu aku mau membantu. Boleh?” segera saja aku mengganti topik pembicaraan dengan menawarkan diri untuk membantu Mama memasak.

“Tentu saja.” Jawab Mama yang kini membuatku jadi bersemangat. Meskipun tidak menyeluruh.

*+*+*+*

Tanpa sadar, 2 bulan telah berlalu. Kini tibalah saat yag dinantikan oleh semua siswa-siswi di sekolahku. Pesta Dansa Bertopeng.

Hal itu membuat semua siswa di sini sibuk kesana-kemari untuk memikirkan masalah pasangan, baju pesta, dandanan, dan sebagainya.

Menurut rumor, pesta semacam ini membawa keajaiban(?) bagi semua siswa di sekolah. Terlebih keajaiban tentang memiliki pacar atau barusaja jadian dengan seseorang yang disukainya. Yah, meskipun begitu … tidak akan diketahui kalau orang itu benar-benar orang yang kita sukai selama ini karena tertutup topeng. Meskipun mengetahui dari suara orang itu, belum tentu juga dikenalinya.

Aku tidak terlalu yakin …

.

Keesokan harinya sudah mulai diadakannya pesta dansa bertopeng dalam rangka acara ulang tahun sekolahku. Yah, pesta yang lumayan keren dan banyak sekali diminati oleh beberapa siswa-siswi disekolah.

Sebelumnya aku sudah membicarakan hal ini pada Mama maupun Papa. Mereka akan menyewa sebuah salon untuk mendadaniku sebelum acara pesta dansa nanti malam.

Semoga saja … Tera adalah jodohku. Ah~ doki-doki desu!!

“Nah, ini salon-nya, Akane.” Tiba-tiba saja lamunanku dibuyarkan dengan suara Mama yang mengatakan bahwa kami sudah tiba di sebuah salon.

“Un. Salonnya bagus.” Pujiku kemudian.

“Nah, Mama akan menemanimu berdandan.” Ujar Mama dan kemudian ia mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang dekat dengan salon itu. ~Salon Iriyama.

.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Sudah 1 jam lebih aku berada di salon Iriyama. Salon yang lumayan terkenal dengan urusan make up, dress, dan juga tatanan rambut. Aku beruntung bisa berdandan di salon ini.

“Nah, Nona Akane … anda ingin model rambut seperti apa?” tanya seorang penata rambut di salon itu padaku. Model rambut ya? Entahlah~ aku bingung.

          “Ano ne, soal model rambutnya itu terserah saja. Tapi saya suka kalau dimodel spiral.” Kataku kemudian.

“Baiklah Nona. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan alat-alatnya dulu.” Kata penata rambut itu kemudian dengan ramah. Setelahnya, ia berlalu dan mengambil beberapa buah alat untuk menata rambutku.

.

.

.

Jantungku berdegup kencang… entah mengapa tiba-tiba aku jadi seperti ini. Apakah aku cemas?

Aku menatap diriku di cermin. Sebuah gaun pesta terusan berwarna merah gelap dengan kupu-kupu sebagai hiasannya kini telah ku pakai. Sarung tangan yang panjangnya hanya sampai pergelangan tangan telah membuatku terpesona, terlebih model rambutku yang di spiral dengan hiasan rambut disebelah kiri juga telah mempercantik diriku yang keturunan Italia-Japan.

Inikah aku? Fujiyama Akane?

Tak kusangka aku secantik ini ….

“Akane, apakah kau sudah siap?” ujar Mama yang berdiri di pintu kamarku. Menatapku yang membelakanginya lewat cermin.

“Hm .. iya ..” jawabku ragu dan segera bangkit dari tempat menuju ke pintu kamarku. Menghampiri Mama yang sedang menantiku dengan senyuman.

“Pakailah topeng ini supaya kau tampil beda, Akane.” Ujar Mama sembari memberiku sebuah topeng yang warnanya senada dengan gaun yang kupakai.

“Arigatou Mama.” Ucapku sembari menerima topeng itu dari Mama. Bentuk topeng itu diberi sebuah irisan bambu yang setengah tebal itu dengan fungsi supaya dapat dipegang oleh pemakai. Cukup ribet juga, tapi tidak masalah bagiku.

“Biar Papa nanti yang mengantarmu, Akane. Jadi, semoga saat kau berpesta nanti, kau mendapat pasangan sejatimu. Hehehe.” Mendadak pandangan mataku tertuju kearah Mama. Mencerna apa yang barusaja diucapkannya. Mendapatkan pasangan sejati? Yang benar saja?

          “Ah, Mama. Jangan buat Akane malu. Hehe.” Aku yakin, saat ini wajahku memerah sekarang. “Tapi firasat Mama mengatakan seperti itu, Akane. Percaya saja. Bahkan Mama juga merasa kalau kamu nanti waktu pulang, pasti ada pria yang mengantarmu kesini. Sudahlah, percaya sama perkataan Mama. Okey?” Tak kusangka, Mama benar-benar mirip peramal. Sesungguhnya aku ragu akan ucapan Mama, tapi ya sudahlah jika harus mempercayai ucapan Mama.

“Haha. Baiklah Mama, Akane pergi dulu ya dan terima kasih untuk semuanya. Ittekimasu!!” pada akhirnya aku memutuskan untuk berangkat. Aku menghampiri Papa yang tengah menungguku di ambang pintu rumah.

“Mama, Papa mengantar Akane dulu ya. Ittekimasu!!” Papa pun sama-sama pamit pada Mama. Segera saja aku langsung keluar mendahului Papa.

Apa aku akan mendapatkan kekasih?

.

.

.

Selama perjalanan, aku hanya terdiam. Sibuk dengan pemikiranku sendiri. Terkadang aku menoleh kearah kaca jendela mobil untuk melihat-lihat situasi di pinggir jalan yang aku lalui ini. Kulihat orang-orang disana sedang berbahagia dengan sanak keluarga, teman, sahabat, maupun kekasihnya.

Soal kekasih, aku masih ragu akan ucapan Mama tadi. Masa iya sih kalau nanti aku akan pulang diantar pacar. Ucapku dalam hati. “Kau tumben sekali hanya berdiam diri saja, Nak.” Tiba-tiba suara Papa membuatku terkejut. Segera saja aku mengalihkan pandanganku untuk melihat Papa. Sebagai tanda kalau aku mendengar ucapannya. “Tidak. Aku hanya melihat-lihat suasana Sabtu malam di luar sana. Sepertinya banyak sekali orang-orang yang bersukacita.” Ucapku pelan dan kembali mengarah ke jendela mobil untuk melihat suasana di luar.

“Ya, Sabtu malam selalu digunakan banyak orang untuk berekreasi ataupun berkumpul bersama seseorang yang mereka kenal. Ada juga yang datang menghampiri pesta ulang tahun, pesta pernikahan, dan terlebih …. pesta dansa bertopeng di sekolahmu.” Ucapan Papa yang cukup panjang lebar itu hanya kutanggapi dengan sekali anggukan. Tanpa sekalipun mengalihkan padangan dari jendela mobil.

“Oh iya, bukankah akhir-akhir ini kau sering bersama dengan Teranishi-kun? Lalu sekarang kenapa kalian tidak bersamaan lagi? Apa ada masalah?”

DEG …

Apa yang barusan Papa katakan? Menanyakan masalah Tera lagi? Tiba-tiba jantungku berdegup. Tak kusangka Papa sangat memperhatikanku sampai sedalam itu. Bahkan saat aku tidak bersama Tera-kun akhir-akhir ini saja ditanyakannya.

“Ah, se .. sebenarnya tidak, Pa. Ya … karena panitia pesta dansa yang melarang pria menghampiri wanitanya, jadi harus berangkat sendiri-sendiri. Mungkin panitianya ingin memberikan surprize pada seluruh siswa-siswi di sekolah.” Jelasku secara spontan, walau ada sedikit keraguan. Sebenarnya aku mengatakan ini bukan karena aku beralasan, tapi memang begitu kenyataannya bahwa panitia pesta melarang pria menghampiri wanita. Meski mereka bersaudara. Kedengaran aneh menurutku.

“Begitu ya … Mungkin panitia dansa punya maksud lain. Bisa saja kalau kalian akan diijodohkan, jadi identitas seseorang akan tertutup dengan topeng. Tidak akan ada yang tahu dan juga tidak bisa memilih meskipun sudah tahu orangnya. Hahaha!”

“Haha. Mungkin seperti itu, Pa.” Jawabku dengan singkat.

“Ne, semoga saja jodohmu itu Teranishi-kun. Entah kenapa, Papa sangat mendukung hubungan kalian berdua. Lagipula, Papa dan Mama juga kenal dekat dengan orang tua Teranishi-kun.”

APA?!! Papa mendukung? Kenapa bisa secepat ini?

“Haha. Tapi, jangan terlalu dipaksakan untuk bisa berjodoh dengan Teranishi-kun, Akane. Apapun keputusanmu, Papa dan Mama akan mendukung. Asal kau bisa bahagia bersama orang yang kau cintai sampai selamanya.” Ujar Papa kini telah membuatku blushing seketika. Tak kusangka, Papa mengerti juga perasaanku.

CCIIITT …

“Nah, sudah sampai. Sekarang pakailah topengmu itu.” Tanpa kusadari, akhirnya aku sudah tiba di depan sekolahku. Dari luar saja sudah ramai dengan siswa-siswi yang lumayan berdesakan untuk masuk ke dalam sekolah.

Aku gugup~

“Sudahlah. Nikmati saja pestanya. Jangan khawatir akan masalah jodoh itu. Papa yakin Kamisama akan merencanakan sesuatu yang indah nantinya. Percaya sama Papa.” Ucap Papa yang menasehati itu.

Sama seperti Mama. Mengatakan masalah jodoh. Tapi aku mencoba untuk bersikap biasa saja. Yah, semoga saja aku menikmati acara pesta itu.

Sambil memasang topeng, “Terima kasih Papa sudah mengantarku. Kalau begitu aku turun ya. Bye-Bye.” Selesai memasang topeng dan berucap terima kasih pada Papa, segera saja aku turun dari mobil. Sesekali aku mengangkat sebagian bawah gaunku supaya tidak mengganggu pergerakan kakiku untuk keluar.

“Iya. Sukses ya, Nak. Papa selalu mendukungmu. Hahaha!” ucap Papa sambil mengacungkan ibu jarinya tepat dihadapanku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelahnya aku berbalik dan berjalan menuju gerbang sekolah.

.

.

Setelah sampai di pertengahan halaman sekolah, aku sibuk mencari sosok teman dekatku yang satu ini, Hara Negumi. Katanya ingin selalu bersamaku disaat pesta, namun sepertinya aku tidak melihatnya.

 

Baka!! Sekarang ini semua murid menggunakan topeng. Mana bisa aku mencari Negu!! Umpatku dalam hati begitu mengingat seluruh siswa di sekolah ini mengenakan topeng dengan berbagai macam model yang unik dan berbeda.

“Akane-chan!!” suara seseorang kini berhasil menyita penglihatanku untuk melihat keasal suara itu berada. Siapa yang memanggilku?

“Nyaaa~ Akane-chan!!! Konbanwa!!” dengan suara yang berbeda, kini juga memanggilku. Terdengar samar-samar sepertinya aku mengenal suara-suara itu. Masaka …

“Aderu? Negu-chan?” gumamku ketika menyebutkan nama kedua orang itu. Mizukana Aderu dan Hara Negumi. “Kenapa kalian bisa tahu kalau ini aku?” tanyaku pada akhirnya.

“Haha!! Akane-chan sejak kapan kau jadi aneh seperti ini? Kita ini sahabatmu, masa tidak tahu benda kesukaan sahabatnya sendiri, heu?” bukannya menjawab, Aderu seperti bertanya balik kearahku. Benda kesukaanku? Memangnya apa?

“Ha? Benda kesukaanku? Apaan coba?” gerutuku kemudian.

“Aduh, Akane-chan! Kau ini suka kupu-kupu. Buktinya kau mengenakan gaun bermotif kupu-kupu.” Perkataan Negu-chan seolah mengingatku akan suatu hal. Kupu-kupu? Kenapa aku bisa lupa kalau aku suka motif kupu-kupu?

Wajar saja, saat ini aku mengenakan gaun pesta terusan dengan motif kupu-kupu. Sebenarnya gaun ini yang dipilih oleh Mama. Apa mungkin ia tahu kalau aku suka motif kupu-kupu?

“Ah .. haha .. iya juga ya. Tapi tidak hanya aku saja yang suka kupu-kupu. Banyak siswi lain yang suka lho!” seruku tak mau kalah.

“Terserah mereka! Yang kami tahu hanya salah satu sahabat kami-lah yang suka dengan kupu-kupu. Hahaha!” seru Aderu yang juga tak mau kalah.

“Iya. Haha! Terima kasih atas pujiannya. Kalian juga cantik dengan gaun kalian itu.” Ujarku memuji gaun pesta yang dikenakan Aderu dan juga Negu-chan.

Saat ini Aderu berbalut gaun pesta dengan motif bunga sakura berwarna merah muda yang cukup pudar dan tampak senada dengan gaun putih yang dikenakannya itu. Sebenarnya sangat disayangkan, jika memakai pakaian berwarna putih, resiko akan terkena kotor itu sangatlah besar. Jadi, cukup berhati-hati ketika mengenakan pakaian warna putih. Hahaha!

Selanjutnya, Hara berbalutkan gaun biru laut dengan motif gliter disekitar lingkar pinggang dan juga bawah dasar gaun itu. Gliter yang menampakkan kemilaunya gaun itu ketika terkena pantulan cahaya. Model yang menurutku simple dan menarik. Rambut panjang Negu-chan kini sebagiannya telah dimodel sanggul kecil dan juga sebagiannya lagi di spiral. Tentu juga dengan hiasan rambut kini telah terpasang dengan bentuk bunga perak.

Tak lupa juga kalau mereka sama-sama mengenakan topeng perak yang cukup gemerlapan itu.

“Kalian semakin cantik.” Pujiku pada mereka.

“Arigatou, Akane-chan!” ucap mereka padaku yang merupakan ucapan terima kasih. Aku pun mengembangkan senyumanku pada mereka.

“Saa, kalau begitu kita pisah ya. Semoga kalian bisa dapat kenalan baru. Apalagi pacar baru. Hahaha~!” begitu berkata ‘pacar’, tatapan mata Aderu mengarah padaku dan juga Negu-chan.

“Ya~Ya …” jawab Negu-chan dengan malas. Membuatku hanya terkekeh pelan.

“Bye-Bye minna! Semoga hari ini hari beruntung kita.”

“YA!!”

Setelah percakapan singkat dengan kedua sahabatku ini, kami saling berpisah satu denga yang lain. Negu-chan kearah utara, sedangkan Aderu-chan kearah selatan. Kini hanya aku yang sedang berdiam diri dan tak tahu harus bagaimana.

“Rasanya bosan. Tidak ada satupun orang yang kuketahui.” Gerutuku cukup kesal. Seharusnya pesta itu untuk bersenang-senang, kenapa harus kesal seperti ini?

“Hay, cantik.” Baiklah. Suara siapa sekarang? Lagi-lagi aku dibuat kesal dengan seseorang yang memanggilku. Siapa dia?

“Ah, hallo!” dengan ragu-ragu aku membalas sapaan orang itu. Pria ini tampan juga. Tapi kenapa style rambutnya itu ….

“Perkenalkan, namaku …..” sesaat pemuda itu menghentikan ucapannya itu. Menyebutkan nama namun sepertinya belum ada kesiapan. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya itu dan berniat untuk mengajakku salaman.

“Teranishi Takuto desu.”

DEG …

Tera-kun? maji desuka?  Jantungku serasa berhenti berdetak dan juga waktu seakan berhenti begitu saja. Bagaimana bisa dia …

“Maaf, kalau boleh kutahu, siapa namamu?” merasa didiamkan, akhirnya pemuda bernama Tera-kun itu menanyakan namaku.

Rahangku mengeras saat ini, tak mampu berkata apapun. Bagaimana bisa aku bertemu dengan Tera?

Karena tak ada pilihan, aku mulai mengangkat sebagian dari gaun-ku dan berniat untuk melarikan diri. Sungguh, aku belum siap menghadapi Tera-kun.

“Hey! Tunggu Nona!!” Tera-kun berteriak memanggilku.

Karena terburu-buru dan juga langkah lariku ini kurang cepat, tanpa sadar topengku lepas begitu saja. Kini aku yang memiliki niat untuk mengambilnya sudah tak ada lagi. Rasanya percuma kalau mengambil disaat seperti ini. Bisa-bisa ketahuan oleh Tera-kun.

“Tunggu!!!”

Suara itu tidak kudengar. Aku cukup panik saat ini karena lariku tidak bisa cepat. Maklum saja karena aku mengenakan high heels sehingga mengurangi kecepatan berlari-ku kalau tidak ingin ada resiko kaki terkilir.

GREPP ..

“Tunggu dulu, Nona!!”

Bagus! Sekarang Tera-kun bisa menghentikanku. Aku harus bagaimana?

Tanpa kusadari, Tera-kun berhasil menghentikanku. Argh! Jikalau bukan karena sepatu high heels ini, aku pasti sudah bisa lari sekencang mungkin.

“Maafkan aku Nona, kenapa kau berlari menghindariku?” tanyanya padaku. Gawat!! Aku harus bagaimana?

“Nona?” panggilnya sekali lagi dan secara perlahan memutar balik tubuhku yang membelakanginya. Jika seperti ini skenario kehidupanku, aku akan melakukannya!      “Ah …. A .. Akane?” kini dapat kulihat raut wajahnya yang terkejut itu begitu mengetahui siapa aku ini.

“Tera-kun ….” gumamku yang tak mampu berkata ini dan juga menunduk.

“Benarkah ini kau, Akane? Fujiyama Akane?” tanyanya sekali lagi padaku seraya ia menggunaka salah satu tanganya untuk menyentuh dagu-ku dan mengangkatnya. “Ya. Aku Fujiyama Akane.” Ucapku getir. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali menangis mengingat kemarahan Tera dulu.

“Yokatta ne. Sebenarnya aku ingin sekali menemuimu dan berkata semuanya tentang perasaanku selama ini.” ucapnya lembut dan kulihat dirinya menarik sudut bibirnya. Tersenyum tepat didepanku. Oh~ Ya Tuhan ….

          “Maaf Tera-kun … aku ….”

“Tolong. Kali ini saja dengarlah perkataanku.” Dia sudah terlebih dahulu menyela ucapanku. Terpaksa aku terdiam dan mendengarkannya. Dapat kurasakan kedua lenganku kini digenggam erat olehnya. Sepertinya takut kalau aku akan melarikan diri.

“Kau tahu? Selama kita tidak bersama, entah mengapa aku merasa gelisah dan juga merasa bersalah padamu. Sesungguhnya, saat aku marah padamu, hatiku sedang bimbang dan tak tahu harus bagaimana untuk membuatmu mengerti perasaanku yang sesungguhnya.”

“Tera-kun …” aku hanya bisa bergumam dan tak tahu harus bicara apa pada Tera-kun. Apakah dia merasa tersiksa selama ini?

“Bisakah … kau mengerti perasaanku? Bisakah aku menunjukkan padamu kalau aku sayang padamu?” dua pertanyaan darinya kini membuatku bingung. Ia meraih pipiku dengan salah satu tangannya. Dapat kurasakan hangatnya tangan itu pada pipiku. Aku yakin wajahku merona sekarang.

Baiklah, Akane. Bukankah selama ini kau merindukan sosok Teranishi Takuto disampingmu? Bukankah kau juga menyukai dirinya yang perhatian padamu? Dan juga bukankah kau merasa kehilangan ketika dia tak berada di sisimu? Menemani hari-harimu seperti biasa? Ini saatnya kau ungkapkan semua perasaanmu dari lubuk hatimu yang paling dalam itu, Akane ….

Katakan perasaanmu padanya jika kau tak ingin kehilangan dia sama seperti saat kau kehilangan Kobayashi Mizuki!!

Mau tak mau, aku harus ungkapkan yang sebenarnya, jika aku tak ingin kehilangan Tera ….

“Maafkan aku, Tera-kun. Selama ini aku sangat egois padamu. Selalu bersikap kekanak-kanakan dan tidak mementingkan perasaan orang lain terhadapku. Terlebih kau, Tera-kun.” akhirnya aku dapat mengungkapkannya meskipun sebagian. “Akane-chan … kau tak perlu me …”

“Tidak. Bagaimanapun aku juga salah. Tidak menyadari perasaanku yang sesungguhnya. Aku … sebenarnya … juga menyukaimu, Tera-kun.” fiuhh … cukup lega juga aku mengatakan ini.

“Eh? Be .. benarkah? K .. kau juga menyukaiku? Kau tidak bohong ‘kan?” dapat kulihat raut wajahnya yang cukup terkejut itu. Membuatku geli dan hanya terkekeh pelan.

          “Sungguh! Aku benar-benar menyukaimu.” Ucapku dengan nada serius. Jika aku tidak melakukan ini, aku pasti akan kehilangan Tera. Sudah cukup aku kehilangan Juki, tapi tidak untuk Tera-kun.

“Ah~ Yokatta!! Akhirnya kau membalas perasaanku ini. Arigatou ne, Akane-chan

GREP …

Kali ini dengan riangnya Tera-kun langsung memelukku. Aku pun juga membalas pelukannya itu. Dapat kurasakan detak jantung Tera-kun itu. Aku juga merasakan hal yang sama sepertinya. Kuharap, kita akan selalu bersama … Tera-kun.

“Ne Akane-chan ….” sesaat Tera-kun mengedurkan tangannya dan ingin berkata sesuatu. “Ada apa?”

“Mulai sekarang kau resmi jadi pacarku dan … panggil aku Takuto, Nyonya Teranishi!!”

“Apa? Nyonya Teranishi? Kau ini … kita barusaja pacaran kenapa harus dipanggil Nyonya Teranishi?” seruku kemudian.

“Karena kelak suatu saat nanti, aku akan menikahimu, Teranishi Akane.”

Blusshh~

Menikahiku? Duh … aku benar-benar dibuat malu olehnya. Untung saja kami berada di taman belakang sekolah. Tidak jauh namun tidak dekat juga dari halaman sekolah kami yang besar itu. Umur kami padahal baru 17 tahun, tetapi Tera .. um .. maksudku Takuto-kun mengatakan hal seperti itu padaku.

Cintanya padaku sangat besar ….

“Haha! Itu masih lama dan yang terpenting sekarang aku sudah menjadi milikmu, Tera .. ano .. maksudku, Takuto-kun.” ucapku kemudian dan tersenyum kearahnya.

“Iya. Terima kasih Akane-chan.”

CHU~

Sontak mataku membulat sempurna. Dengan mendadak tanpa ragu Takuto-kun mencium bibirku yang kecil ini. Tak diragukan lagi, aku pun membalas ciumannya itu.

Berharap, kaulah pasangan hidupku … Takuto-kun ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s