[Minichapter] My Day From Now (Chapter 1)

My Day From Now
(Thank You For Everything sequel)
By. Matsuyama Reina
Type : Minichapter (Chapter 1)
Genre : (Little) Romance, Angst, Friendship
Rated : PG-15
Cast:
Teranishi Takuto (Johnny’s Jr.
Aiu Chan as Fujiyama Akane (OC)
Disclaimer: Just have the story.
Summary: Setelah kau pergi meninggalkanku untuk selamanya, apakah aku masih bisa hidup tanpamu, Juki? (By : Fujiyama Akane)
Fandom : Johnny’s Jr.
          Benarkah apa yang aku baca ini? surat dari Juki yang menyatakan perasaannya padaku?

Aku tidak percaya akan apa yang aku baca ini. Secarik kertas yang merupakan surat dari Juki, Kobayashi Mizuki, yang telah meninggal sehari yang lalu karena mengidap penyakit kanker otak.

Ternyata surat yang dia tulis adalah pernyataan perasaannya padaku. Berarti perasaanku telah terbalaskan? Benarkah Juki suka padaku? Benarkah itu?

To               : Fujiyama Akane-chan

From            : Kobayashi Mizuki

Halo, Akane-chan. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau selalu baik-baik saja keadaannya.

Hmm … melalui surat ini sepertinya aku akan menuliskan sesuatu yang kurasakan selama ini bersamamu. Aku tahu kalau aku tidak seperti Tera yang sangat ahli sekali jika berurusan soal menyatakan cinta pada seseorang. Kau tahu bukan kalau aku ini tipe pemalu? Sama sepertimu. Akan tetapi yang membedakan yaitu keramahanmu, keceriaanmu. Membuatku selalu ingin menjadi sepertimu.

Aku jadi ingat dimana saat itu kita berdua bersama dengan Aderu-chan dan juga Tera menikmati segarnya air hujan di taman Aori waktu masih kecil. Berlari kesana-kemari, saling kejar-kejaran, dan juga mencipratkan setitik air hujan. Sebelum itu kau susah sekali kuajak bermain bersama Tera dan juga Aderu-chan. Lalu karena kegigihanku untuk memaksamu bermain bersama akhirnya kau dapat tersenyum kembali dan bersenang-senang bersama kita, bukan? Rasanya bahagia sekali bisa merasakan itu semua, Akane-chan.

Sungguh, aku ingin sekali berbicara berdua padamu, namun waktu tidak memberiku kesempatan untukku berbicara sehingga setiap aku ingin berkata sesuatu padamu yang berkenaan dengan perasaanku, selalu saja ada halangan -_- akan tetapi kebersamaan kita dengan sahabat kita membuatku merasa cukup dan juga perhatianku padamu sepertinya sudah cukup pula. Hahaha!!

Maaf kalau selama ini aku sering sekali menolak setiap ajakan kalian semua. Sesungguhnya aku bukannya tidak mau, melainkan kondisiku saat ini membuatku tidak bisa melakukan apapun, apalagi soal dance. Aku yakin kau akan tahu setelah ini, oleh karena itu sebagai kata-kata terakhirku, aku membuat surat ini untukmu.

Aku sudah lama menyukaimu namun aku tidak diberi kesempatan untuk mengungkapnya padamu. Apa karena aku takut? Aku rasa tidak. Namun benar, waktu tidak memberiku kesempatan.

Setelah sekian lama, tibalah saat sehari sebelum acara pesta ulang tahunmu yang ke-17 aku membuat surat ini untuk mencurahkan seluruh isi hatiku padamu. Aku ingin kau tahu perasaanku, aku ingin kau tahu bahwa aku sangat perhatian padamu. Dan juga aku tidak ingin hatimu diambil alih oleh pria lain. Aku tahu kalau aku egois, tetapi sungguh hanya kamu yang selalu aku pikirkan, Akane-chan. Hanya kamu dan tidak ada wanita lain dihatiku.

Namun semuanya itu sia-sia karena penyakitku ini. Membuatku tidak bisa melakukan apapun untuk tetap menyayangimu, melindungimu, menghiburmu didalam susah maupun sedih, dan juga menemanimu sampai maut memisahkan kita. Oleh karena itu aku tidak ingin memberitahumu dan juga lainnya mengenai penyakit ini. Aku sudah cacat, aku tidak bisa melakukan apapun terlebih mengembangkan bakatku dalam dance. Dan juga aku belum menunjukkan keahlianku padamu.

Tetapi, aku bersyukur bahwa Tuhan memberikan kesempatan untukku dua kali. Pertama, tentu saja soal menulis perasaanku lewat surat ini dan juga memberikan hadiah yang berupa penampilan dance-ku saat acara ulang tahunmu yang ke-17. Kau tahu? Betapa susahnya aku untuk menahan rasa sakit ini? Aku benar-benar bodoh karena saat itu aku tidak ingin dioperasi saat pertama kali aku mengidap penyakit ini. saat itu aku tidak begitu menghiraukan, tapi semakin lama semakin besar penyakit ini telah membuatku mati rasa.

Dengan ini aku ucapkan selamat tinggal padamu. Semoga kamu suka dengan dance perfomance dariku disaat ulang tahunmu yang ke-17. Jangan menangis saat aku tidak bersamamu. Janganlah sedih jika aku tidak ada untuk menemanimu. Jangan merasa bersalah jika kau tidak sempat berbicara padaku tentang semuanya. Ini semua salahku, andai waktu itu aku menyadarinya, aku segera dioperasi dan akan tetap hidup sampai sekarang untuk menemanimu di hari-hari yang terlihat sempit ini.

Sekarang mulailah cari penggantiku di dunia ini. carilah pasangan hidupmu yang sesungguhnya. Suatu saat nanti, kita akan bertemu dialam sana dan hidup kekal untuk selamanya. Aku akan sabar menunggu hingga 50 tahun atau mungkin 100 tahun lagi untuk menunggumu kembali padaku.

Aku mohon jangan sesali semuanya, Akane sayang. Fokuslah pada masa depanmu dan carilah pasangan hidupmu yang akan menggantikan posisiku untuk menemani hari-harimu. Aku tidak akan cemburu ataupun marah karena aku sudah ada di surga untuk saat ini. Aku akan bahagia jika Akane-chan sendiri bahagia. 🙂

Sayonara, My Love :* Itsumo I Love You …

Kobayashi Mizuki …

 

Juki … andai saja kau memberitahu pada kami semua atau aku yang menyadari penyakit yang hinggap di tubuhmu itu, aku pasti akan memaksamu untuk operasi. Namun Tuhan telah berkehendak lain ….

Perlahan aku menghapus air mata yang mengalir dengan deras keluar dari pelupuk mataku. Aku terharu begitu membaca surat dari Juki. Orang pertama yang aku suka. Melihat keceriaannya setiap hari di sekolah, keahliannya dalam dance dan terkadang juga ahli dalam bermain gitar membuatku sangat tersanjung padanya.

Semangatnya yang membara itu telah membuatku bangkit, membuatku ingin seperti dia. Sosoknya yang tenang itu juga membuatku semakin suka padanya. Teringat akan kenangan dimasa lalu disaat bersama Juki dan tentunya bersama Aderu-chan dan juga Tera. Masa-masa itu, akan selalu kuingat. Tapi, apakah aku bisa hidup bila tidak ada kamu, Juki?

“Akane!! Temanmu datang kemari, tuh.” Tiba-tiba saja sebuah suara kini berhasil mengusik keheninganku. Tak lain adalah kakakku, Fujiyama Akari. Temanku datang kemari? Siapa?

          “Iya!!” jawabku seadanya dan segera keluar dari kamar untuk menemui teman-temanku. Sesungguhnya aku sedang malas untuk bertemu dengan siapapun, tapi karena teman-temanku ingin sekali menemuiku jadi ya aku hanya menurut.

Saat menuruni tangga, sudah jelas di ruang tamu terlihat sosok seorang pemuda dengan tubuh tinggi duduk di sofa. Saling berbincang-bincang dengan Ayah, Ibu, dan juga kakakku. Tera? Untuk apa dia kemari?

Sesaat langkahku terhenti di salah satu anak tangga, “Ah Akane, ini temanmu ingin menemuimu.” Kata Ibu dan mengulaskan senyumnya kearahku. Sebagai jawaban aku hanya mengangguk dan segera turun.

“Ah, Akane-chan konbanwa.” Sapa Tera dan tak lupa menampakkan senyumnya itu sehingga terlihat garis lesung pipinya. “Konbanwa mo, Tera.” Jawabku seadanya.

“Ano, maukah kita jalan-jalan ditaman?” tanyanya secara langsung yang disertai dengan sedikit keraguan. Aku terdiam sesaat memandangi pemuda itu.

Jalan-jalan ditaman? Jam segini?  Pikirku kemudian.

“Tidak apa, Akane-chan. Kalau kau ingin pergi jalan-jalan dengan Teranishi-kun, Ayah akan mengizinkan. Lagipula Teranishi-kun sudah meminta izin pada Ayah barusan.” Belum juga aku menjawab, tiba-tiba saja Ayah mulai angkat suara. Mengizinkanku pergi jalan-jalan dengan Tera.

“Sekali-sekali tidak apa-apa, Akane. Lagipula kamu ini jarang sekali keluar kamar. Itupun kalau kamu pergi ke toilet atau sekedar makan dan lain-lainnya. Mungkin dengan kamu jalan-jalan bersama Teranishi-kun, semuanya akan kembali pulih, Nak.” Ibu juga mendukung perkataan Ayah. Sama-sama mengizinkanku untuk pergi dengan Tera. Sudah mendapat izin kenapa aku masih terdiam saja?

“Bagaimana, Akane-chan?” tanya Tera sekali lagi. Tampaklah semburat wajah yang terkesan harap-harap cemas itu. Setidaknya dengan ini aku bisa kembali membaik.

“Tentu.” Jawabku singkat dan segera kembali ke kamar untuk mengambil tas yang sering kugunakan untuk berpergian dan tentunya juga mengambil handphone.

.

Setelahnya, “Ayah, Ibu, aku pergi dulu ya. Terima kasih atas izinnya. Ittekimasu!!” ucapku pada Ayah dan Ibu lalu berjalan menuju ke pintu luar rumah.

“Paman, Bibi, kami pergi dulu. Aku akan membawa Akane-chan pulang sampai disini dengan keadaan baik-baik saja. Ittekimasu.” Sesaat langkahku terhenti begitu mendengar ucapan dari Tera barusan. Kata-kata itu. Entah mengapa aku tersentuh sekali.

“Itterashai!!” jawab Ibu dan Ayah secara bersamaan. Seketika itu juga aku tersenyum. keakraban mereka membuat hatiku tenang kembali.

 

“Ayo, Akane-chan.” ajak Tera yang telah selesai memakai sepatunya kembali. Akupun mengangguk dan segera keluar dari rumah.

*+*+*

Selama perjalanan kami berdua hanya terdiam. Entah mengapa rasanya cangung untuk mengatakan sesuatu pada Tera. Lagipula aku juga tidak tahu apa yang akan aku bicarakan padanya. Semuanya terlihat berubah ya setelah tidak ada kau, Juki.

“Ano Akane-chan. Kita sudah sampai.” Tiba-tiba saja Tera mulai angkat suara. Katanya sudah sampai, tapi kenapa …

“Taman ini …” gumamku kemudian yang tak mampu berbicara. Pandanganku tetap melihat kesegala arah taman itu. Sungguh, aku sangat mengenali taman ini. Taman Aori. Untuk apa Tera membawaku kemari? Bukankah …

          “Saat membaca surat dari Juki, dia ingin aku membawamu kemari. Aku tidak tahu apa tujuan dari permintaannya itu tapi ya .. aku turuti saja.” Jelas Tera dan menatapku dengan lembut yang bersamaan dengan senyuman di wajahnya.

Permintaan dari Juki ya? Lalu untuk apa?

“Mungkin tujuannya memintaku untuk mengajakmu kemari supaya kau bisa tenang kembali dan tidak larut dalam kesedihan. Bukankah dulu Juki pernah bilang taman ini benar-benar akan membuatmu tersenyum dikala kau sedang sedih? Dan juga dia pernah bilang kalau kau sedang sedih, kau harus datang ke taman ini, deshou ?”

DEG.

Taman ini membuatku tersenyum dikala aku sedang sedih? Ah, apa mungkin …

+++ Flash back 5 years ago +++

Author POV

“Hey Akane-chan, mau main bersama?” seru anak laki-laki usia 12 tahun yang terlihat sangat ceria sekali. Datang menghampiri seorang anak perempuan yang seusia dengan anak laki-laki itu.

“Juki, aku tidak mau bermain!!” cetus anak gadis kecil itu dan mulai menunjukkan raut wajahnya yang terkesan cemberut. Fujiyama Akane.

“Hey, ini taman. Tempat untuk kita bersenang-senang dan bermain. Ini juga taman favorit kita berempat bukan?” kata anak laki-laki yang bernama Kobayashi Mizuki itu. Berusaha memberi Akane semangat agar dia bisa untuk diajak main bersama.

“Benar yang dikatakan Juki, Akane-chan. Ayo main!! Kalau kamu tidak ikut main rasanya tidak seru kalau Cuma bertiga saja, Akane-chan.” tiba-tiba saja seorang anak gadis lagi datang menghampiri Mizuki dan juga Akane. Namun anak gadis itu tidak sendiri, dia juga bersama anak laki-laki dibelakangnya. Tentunya seumuran dengan Mizuki dan juga Akane. ~Mizukana Aderu.

“Ayolah Akane-chan. Tidak seru loh kalau kamu tidak ikut main.” Tambah anak laki-laki itu. ~Teranishi Takuto.

“Um … Akane-chan ada masalah apa? Wajahnya kok cemberut begitu?” tanya Mizuki yang mulai penasaran pada raut wajah Akane yang terlihat cemberut itu.

“Tidak apa-apa kok.” Jawab Akane secara singkat dan menundukkan kepalanya.

“Um … tidak apa-apa kalau tidak mau cerita, yang penting kamu harus ikut main bersama kita. Lagipula taman ini pasti akan membuatmu tersenyum dan melupakan segala masalahmu.” Dengan tanggap Mizuki langsung meraih pergelangan tangan Akane dan menyeretnya agar bisa langsung berdiri dari duduk di bangku taman Aori.

“Percayalah. Taman ini akan selalu membuatmu tersenyum dikala kau punya masalah Akane-chan. Ingatlah kata-kataku ini. Aku berani menjaminnya.” Lanjut kata Mizuki dan mengepalkan salah satu tangannya yang tidak memegang pergelangan tangan Akane.

Taman ini akan selalu membuatku tersenyum dikala aku sedang sedih maupun punya masalah? Benarkah? Pikir Akane dalam hati.

“Sudahlah Akane-chan. Percaya saja padaku. Taman ini pasti akan membuatmu selalu tersenyum karena taman ini adalah taman yang sangat cantik. Sama-sama cantiknya seperti Akane-chan. Tentunya kau harus tersenyum jika kau berada di taman ini.” jelas Mizuki sekali lagi yang pada akhirnya membuat Akane percaya padanya.

“Arigatou, Juki.” Kata Akane dan segera kembali tersenyum.

“Nah, itu baru Akane-chan yang aku kenal. Sekarang kita lanjutkan main yuk!!” ajak Mizuki dan segera menarik pergelangan tangan Akane yang masih digenggamnya. Mengajaknya ke tengan-tengah taman untuk melanjutkan bermain bersama. Tera maupun Aderu juga mengikuti arah laju Mizuki dan juga Akane.

+++ Flash Back OFF +++

Fujiyama Akane POV

Aku baru ingat sekarang. Juki pada saat itu, di taman ini, pernah mengatakan hal itu padaku. Taman ini akan selalu membuatku tersenyum dikala aku sedang sedih. Tapi … semuanya berbeda Juki !! justru dengan aku datang ke taman ini akan mengungkit masa lalu itu yang membuatku semakin sedih !!

Kepalaku menunduk. Menyembunyikan tangisan yang telah kulakukan saat ini. mengingat masa lalu itu, membuatku semakin ingin menangis. Tidak seperti apa yang dulu Juki katakan padaku.

“Ah, Akane-chan! Jangan menangis! Um .. kalau begitu kita duduk disana ya, supaya aku bisa menenangkanmu di sana.”

Tanpa aku ketahui, Tera langsung menarikku sehingga kakiku mulai tergerak untuk menuju kearah tujuan Tera. Kepalaku masih menunduk. Tidak berani mengangkatnya. Aku malu. Aku malu menunjukkan wajahku yang sedang menangis ini!!

“Kita duduk disini dulu.” Kata Tera dan segera menuntunku untuk duduk disalah satu bangku taman. Aku hanya bisa menurut saja, lagipula aku juga lelah sejak tadi berdiri terus di saat pikiranku berkecamuk pada masa lalu yang berkenaan dengan taman ini.

Setelah aku duduk, tiba-tiba saja aku merasakan sebuah uluran tangan yang hangat kini telah menyentuh pundakku sebelah kiri. Siapa lagi kalau bukan Tera yang melakukannya?

“Mungkin dulu Juki pernah bilang kalau taman ini akan selalu membuatmu tersenyum. Tapi dipikiranmu sekarang saat ini beda permasalahannya, bukan? Pasti dalam pikiranmu taman ini justru akan membuatmu semakin sedih, bukan?”

DEG.

Bagaimana Tera bisa tahu isi pikiranku saat ini?

“Saat ini, bukan hanya kau yang sedih. Aku juga. Juki adalah orang yang berarti untukku. Dialah sumber semangatku dan juga dialah satu sahabatku yang paling mengerti diriku.”

“Aku ingat saat dia memujiku terlalu berlebihan, padahal sebenarnya aku bukan tipe orang yang seperti dipujikan oleh Juki. Namun, aku terus berusaha untuk bisa mewujudkan apa yang dipujikan Juki padaku.”

“Untungnya aku bisa melakukan itu sehingga Juki tidak merasa aku bohongi. Tapi ketahuilah, Akane-chan. Janganlah larut dalam kesedihan. Raga Juki memang tidak ada bersama kita. Namun arwahnya masih bersama kita. Bahkan aku merasa kalau sekarang disini ada Juki. Menemani kita disini. Hahaha!!”

Ah, Tera. Kau memang seperti Juki … selalu ada disaat aku sedang susah maupun sedih. Bahkan dulu kalian berdua pernah bersamaan menghiburku disaat aku sedang sedih. Kalian berdua sangat peduli sekali padaku ….

“Pasti kau sedang berpikir kalau dulu aku dan Juki pernah menghiburmu disaat kau sedang sedih, bukan? Hahaha!!” tiba-tiba saja Tera berkata sama persis seperti apa yang aku pikirkan barusan. Bagaimana bisa?

         “Eh? Bagaimana kau … kau …” – “Sudahlah. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Akane-chan. Mulai sekarang jangan sedih ya.” Perkataanku disela oleh perkataan Tera. Dan tiba-tiba saja jari-jemarinya mulai mengarah kewajahku. Lebih tepatnya mengarah ke pelupuk mataku ini. Apa mungkin ….

“Sudah jangan menangis. Aku yang akan menggantikan posisi Juki di sini supaya aku bisa menjadi orang pertama yang menolongmu disaat susah, menghiburmu di saat sedih, menemanimu disaat kau sendirian, dan juga melindungimu dari segala macam bahaya yang akan membahayakanmu. Saat ini juga, ditaman ini, aku meneguhkan semua janjiku pada Juki. Taman inilah saksinya. Aku akan mewujudkan permintaan terakhir Juki untuk terus bersamamu, Fujiyama Akane-chan.”

Oh, Tuhan. Benarkah apa yang dikatakan Tera? Dia mewujudkan permintaan terakhir Juki? Menemaniku? Melindungiku? Menghiburku? Dan juga menolongku? Inikah perasaan Tera padaku?

“Kau tahu mengapa aku lakukan semua ini?” tiba-tiba saja Tera bertanya padaku. Tentu saja aku tidak tahu apa maksud dari perkataannya itu.

“Aku melakukan ini semua karena aku sayang padamu, Akane-chan. Anata wa daisuki desu !!” kata Tera yang kini mulai menatap intens kedua manik mataku ini.

Ya, Tuhan!! Tera menyukaiku? Dia berkata kalau dia sayang padaku? Ba .. bagaimana bisa?

“Aku tahu. Sekarang ini kau sedang terkejut bukan akan pernyataan rasa suka-ku padamu? Sebenarnya sudah lama, tapi karena aku tahu kalau kau dulu suka dengan Juki jadi aku mengurungkan niatku untuk mengatakan rasa suka ini padamu. Maaf kalau mendadak aku mengungkapkannya.” Jelas Tera pada akhirnya.

Pantas saja dia sangat perhatian padaku ketika Juki sudah tiada. Tapi maaf Tera, aku …

          “Maaf, Tera. A .. aku …”

“Kau tidak perlu menjawab sekarang, Akane-chan. Aku akan terus menunggu. Yang paling penting bagiku, seperti apa yang aku katakan tadi. Menemanimu, meghiburmu, menolongmu, dan juga melindungimu. Itulah janjiku padamu dan pada Juki juga.” Lagi-lagi ucapanku disela olehnya. Yah, mungkin karena aku tampak ragu-ragu saat berbicara tadi.

“Terima kasih, Tera. Kau memang yang terbaik.” Ucapku yang terkesan memujinya. Kuulaskan senyumku padanya yang mendapatkan balasan langsung berupa senyuman pula. Entah mengapa aku merasa tenang sekarang.

“Tidak perlu berterima kasih, Akane. Sekarang nikmati saja udara malam hari disini. Aku yakin suasana hatimu yang tadi membuatmu sedih menjadi suasana hati yang nyaman dan damai. Hahaha!!” kata-katanya itu lagi-lagi membuatku menjadi tenang. Ternyata dia sama seperti Juki. Sempat salah sangka terhadapnya dulu.

“Baiklah.” Jawabku seadanya dan kemudian kembali menikmati udara malam hari yang kian menusuk tubuhku ini.

Ya Tuhan, jikalau benar bahwa Tera yang akan selalu bersamaku … buatlah kami jangan sampai terpisah. Entah mengapa aku tidak ingin kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku untuk yang kedua kalinya …

Untuk melupakan semua kesedihanku selama ini, kemudian aku pejamkan mataku. Berusaha membuang segala kesedihanku disini. Meski tidak semuanya, tapi aku tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Aku ingin Juki hidup tenang di alam sana. Jadi dia tidak perlu mencemaskanku.

“Ah, apa kau sudah makan Akane-chan?” tiba-tiba saja Tera mengusik keheninganku dalam menikmati udara malam hari di taman ini. Namun entah mengapa aku lupa untuk makan malam.

“Belum, Tera. Tadi aku sedang tidak selera makan.” Jawabku sejujurnya. Yah, semenjak Juki pergi aku jadi tidak nafsu makan. Ya walaupun tidak nafsu makan untuk seterusnya.

“Kita cari makan disekitar daerah ini ya?” tanpa menungguku berbicara, Tera langsung menarik lenganku sehingga aku berdiri dari bangku yang kududuki itu. Berjalan kearah pintu luar taman ini. Kira-kira kemana Tera akan membawaku?

Setelah keluar dari taman, arah laju Tera kini ke kanan. Aku pun hanya terdiam saja dan tidak tahu harus berkata apa. Saat ini aku hanya bisa diam dan mengikuti kemana Tera akan mengajakku …

.

“Nah, ini tempatnya!! Biasanya aku dan Juki makan di sini. Masakannya enak semua loh. Ayo!!” setelah selesai promosi sebentar, Tera langsung menarik tanganku sehingga aku langsung masuk ke dalam kedai itu.

Oh, jadi ini kedai favoritnya Tera dan Juki ya? … lumayan juga kedai ini …

Sesaat aku melihat-lihat ke sekeliling kedai itu. Tidak mewah dan tentunya tidak megah juga, namun kedai ini sangat bersih sekali. Sehingga orang-orang yang ada di sini merasa nyaman. Akupun sendiri juga merasa nyaman berada disini …

“Kita duduk disana, Akane-chan.” aku hanya mengangguk dan mengikuti kehendak Tera. Setelah mendapatkan persetujuan dariku, Tera langsung menarikku dengan cepat sehingga sampai di bangku dekat pintu keluar dari kedai ini. Tadinya sempat kewalahan, tapi ya mau bagaimana lagi?

“Silahkan Tuan .. Nona ..” tiba-tiba saja seorang pelayan dalam kedai itu datang ke arah tempat duduk yang akan kutempati bersama Tera. Setelah aku dan Tera duduk, pelayan itu memberikan sebuah buku menu.

“Nah, sekarang kamu mau makan apa Akane-chan? Silahkan pilih duluan.” tanya Tera yang mempersilahkanku untuk memilih makanan yang ada dalam menu itu.

Aku ingin sekali mencoba makanan kesukaan Juki dulu … tapi apa makanan kesukaannya? Mengapa aku bisa lupa?

Sambil membolak-balikkan buku menu itu, aku berpikir sejenak. Ingin rasanya mencoba makanan favoritnya Juki, tapi …. mendadak aku lupa.

“Kau pasti mau mencoba sup kepiting bukan?” tiba-tiba saja Tera mengejutkanku sehingga aku bingung harus menjawab apa.

“Eh? Sup kepiting?” kataku kemudian. Lalu sejenak berpikir.

Sup kepiting? Mungkinkah …..

          “Ini makanan kesukaan Juki. Kau mau memesan ini?” tanya Tera dan tak melupakan senyuman khas-nya. Ah, membuatku tersipu sendiri.

“Jika tidak apa-apa … aku akan pesan ini.” ucapku yang tampak ragu-ragu ini. Ternyata Tera lebih banyak mengetahui tentang Juki dibandingkan diriku.

“Haha!! Iya tidak apa-apa.” Katanya.

“Umm .. aku pesan sup kepiting dua ya.” Lanjut kata Tera dan kemudian menyerahkan kembali buku menu pada pelayan itu. “Dan minumnya teh hijau hangat dua.”

“Baiklah, Tuan.” Jawab pelayan itu dan segera meninggalkan kami berdua. Suasana kembali hening diantara kami. Kecuali suara berisik semua orang yang ada di kedai ini.

“Um .. terima kasih, Tera .. sudah mentraktirku makan disini.” Kataku yang terlihat ragu-ragu. Sudah banyak yang Tera lakukan padaku sehingga cukup membuatku senang.

“Sama-sama. Oh iya aku hampir lupa. Aku punya kado untukmu. Sebenarnya aku ingin sekali memberikannya kemarin, tapi … mengingat kejadian itu, aku mengurungkan niatku untuk memberikannya.”

Kado? Kado apa yang akan diberikan Tera padaku?

          “Ini.” dengan cepat Tera langsung mengeluarkan suatu benda yang berkilauan itu dan mengarahkanya tepat dihadapanku. Berwarna perak, diatasnya terdapat hiasan kupu-kupu, dan bentuk dari benda itu adalah hati.

 

Kotak ini .. bukankah kotak perhiasan? Cantik sekali …

Tanpa sadar akupun memuji keindahan kotak perhiasan itu. Entah mengapa hatiku tergerak untuk membuka kotak itu dan …

 

Oh, Tuhan … benarkah apa yang kulihat ini?

“Kau terkejut, bukan?” tiba-tiba saja Tera mengetahui kalau aku benar-benar terkejut. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja dia menghadiahkanku 3 macam perhiasan. Tak lain adalah kalung, gelang, dan cincin yang bentuknya semua kupu-kupu.

Ah, ternyata Tera mengetahui kalau aku suka kupu-kupu …

“Selama 4 bulan akhir-akhir ini aku selalu menabung untuk membelikanmu ini semua. Walaupun aku memberinya tidak tepat waktu disaat ulang tahunmu yang ke-17 kemarin.” Ucapannya itu kian membuatku hanya bisa diam.

Selama 4 bulan dia menabung untuk membelikanku ini? Ah, entah mengapa aku … merasa tersanjung …

“Maaf ya, Akane-chan. Semoga kamu suka kadonya. Dan maaf juga aku tidak bisa membelikan anting-anting karena uang tabunganku hanya cukup untuk membeli 3 macam perhiasan ini saja.” Lagi-lagi dia mengucapkan kata-kata penyesalannya itu dengan kepalanya yang menunduk. Cukup membuatku bingung harus bagaimana.

Ah, Tera …. ini sudah cukup membuatku senang. Aku suka sekali kadonya … menurutku ini lebih dari sekedar cukup …

          “Maaf Tera. Um .. sesungguhnya aku senang kau memberikanku kado seperti ini. Aku bingung harus bilang apa, tapi … ini cukup membuatku tersanjung. Terlebih lagi perjuanganmu untuk menabung selama 4 bulan hanya membelikan 3 macam perhiasan ini. Terima kasih, Tera.” Akhirnya aku dapat berbicara seperti ini pada Tera. Aku tak tahu kata-kata ini asalnya darimana, tapi aku cukup lega bisa mengungkapkan rasa tersanjungku pada Tera.

Pria ini memang benar-benar diluar dugaanku … kau ternyata sangat baik …

          “Ah, tidak perlu berterima kasih, Akane-chan. Kamu puas dengan hadiahnya cukup membuatku senang.” Setelah mendengar perkataanku tadi, tiba-tiba saja Tera mengangkat wajahnya dan kembali bersemangat seperti sedia kala. Hal itu membuatku tersenyum kearahnya.

“Nah, sekarang aku ingin kau memakai cincin ini. Aku sematkan di jari manis sebelah kanan, ya?” dengan cepat aku meganggukkan kepala. Hati rasanya senang sekali dan seolah-olah hari ini adalah hari keberuntunganku dan tidak ada seorangpun merasakan hal yang sama sepertiku.

Setelah Tera menyematkan cincin berbentuk kupu-kupu itu di jari manis tangan kananku, tiba-tiba saja aku terdiam sembari manik mataku ini melihat kearah cincin itu.

Kirei na … aku tidak bisa membayangkan kalau aku memakai cincin yang cantik ini.

“Permisi Tuan, Nona. Ini pesanan anda. Silahkan menikmati.” Tiba-tiba saja seorang pelayan telah datang dengan membawa sebuah nampan yang isinya dua buah mangkuk sup kepiting dan juga dua buah cup berukuran sedang yang berisikan teh hijau hangat. Sontak hal itu membuatku terkejut … haha ..

“Nah, sekarang kita makan dulu! Keburu malam loh! Hahaha!!” lagi-lagi Tera mengeluarkan kata-kata candaannya yang membuatku tertawa. Walau hanya tertawa pelan dan tidak seperti layaknya orang benar-benar tertawa …

Percakapan kami pun ditunda untuk beberapa saat karena kami sedang makan di kedai ini. Sesekali mengobrol sedikit tentang berbagai hal yang menyenangkan.

.

Setelah kami selesai makan, kami langsung kembali pulang karena sudah malam dan besok kami juga masih sekolah.

Selama perjalanan kami kembali saling diam. Tidak ada percakapan apapun diantara kami. Mungkin kami terlihat cangung akibat kejadian tadi. Tera memberikanku 3 buah perhiasan dengan pola kupu-kupu.

Sungguh, ini benar-benar diluar dugaan. Tiba-tiba saja Tera memberiku perhiasan ini. choo kirei na …

“Sudah. Yang lihat-lihat perhiasannya nanti dulu setelah sampai dirumah. Kalau di jalan bisa-bisa diambil orang. Hahaha!!” lagi-lagi anak ini bercanda. Hahaha, memang tipe periang ya …

“Baiklah.” Jawabku seadanya dan terkekeh pelan. Lalu ku sejajarkan langkahku dengan langkah Tera yang jauh beberapa senti saja.

Mengapa aku merasa senang sekali? Dan hatiku tiba-tiba saja merasa nyaman ketika bersama Tera. Apa ini suatu kebetulan? Entahlah. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku tidak tahu harus bagaimana mengakuinya …

Apakah aku mulai suka dengan Tera? Tapi bagaimana bisa secepat ini?

Oh, Tuhan … sungguh aku bingung dengan perasaanku sendiri. Seolah-olah perilaku Tera sama seperti Juki dulu. Ternyata sifat Tera yang paling dalam tidak seperti apa yang kupikirkan dulu sebelum Juki meninggal. Dia lebih baik dari yang kubayangkan. Dia tipe orang yang lemah lembut dan juga periang, seperti Juki.

“Oh iya .. aku hampir lupa.” Tiba-tiba saja lamunanku buyar karena Tera mendadak berkata sesuatu. Hal apa yang membuatnya lupa?

“Ada apa, Tera?” tanyaku pada akhirnya.

“Aku lupa memberikanmu hadiah dari Juki” katanya padaku. Hadiah dari Juki? Hadiah apa?

“Mampir kerumahku sebentar ya? Aku lupa membawakannya untukmu …” jelas Tera dengan sedikit keraguan di wajahnya. Aku sempat bingung kenapa dia seperti itu. Apa dia sengaja menyembunyikan hadiah dari Juki itu?

Tanpa berpikir panjang, aku segera menyamakan langkahku dengan Tera yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan. Berjalan sambil berpikir. Hadiah dari dia sendiri tidak lupa, mengapa kalau hadiah dari Juki dia bisa lupa ya?

Sampai sekarang pun semua pemikiran aneh selalu muncul di otakku. Aku tidak ingin menyalahkan Tera, tapi … entah mengapa aku merasakan ada yang aneh pada Tera.

.

Sesampainya kami di kediaman Teranishi …

“Nah, kita sudah sampai. Sebaiknya kau masuk dulu.” Aku hanya menganguk dan mengikuti Tera masuk ke dalam rumahnya.

“Tadaima!!!” seru Tera ketika dia sudah benar-benar masuk kedalam rumahnya. “Sumimasen.” Kataku setelahnya.

“Okaerinasai!! Ah, kau mengajak Akane berkunjung rupanya.” Tiba-tiba saja suara seorang perempuan paruh baya datang menyambut kedatangan kami. Tak lain adalah Ibu Tera. Kulihat Tera hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas. Mungkin kamarnya ada di lantai 2 …

“Maaf Tante kalau saya mendadak datang. Kata Tera tadi ada sesuatu yang dia lupa untuk diberikan padaku. Jadi, aku disuruh mampir sebentar.” Jelasku kemudian pada Ibunya Tera.

“Ah, begitu rupanya. Takuto memang anak pelupa. Hahaha!!” mendengar ucapan Ibunya itu membuatku hanya tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa Tante. Namanya juga manusia, bisa saja lupa bukan? Hehe.” Kataku kemudian yang malah membuat Ibu Tera tertawa. Walau tidak sampai terbahak-bahak.

Sambil menunggu Tera, aku dan juga Ibu Tera tiba-tiba saja terhanyut dalam obrolan yang lumayan seru. Walaupun sekedar obrolan simple, namun bagiku ini obrolan yang seru.

Dan tanpa sadar Tera tiba-tiba saja sudah turun dari lantai dua lalu datang kemari, tempat kami sedang mengobrol. Tanpa bicara, Tera langsung mengulurkan tangannya yang membawa sebuah benda berkilauan di telapak tangannya.

“I .. ini …” tiba-tiba saja tenggorokanku tercekat setelah melihat uluran sebuah kotak berwarna perak berbentuk hati itu. Bentuknya sama persis seperti yang diberikan Tera saat di kedai tadi. Majide??

          “Ini hadiah dari Juki. Bentuknya memang sama seperti hadiah dariku yang baru saja aku kasih ke kamu. Namun di dalamnya berbeda.” Kata Tera dengan nada ketus. Kenapa dia bisa berkata ketus seperti itu? Ada apa?

          “Eh? Majide? Ano … um … terima kasih sudah memberikannya padaku, Tera.” Dengan ragu-ragu aku mengambil kotak berbentuk hati yang merupakan kotak perhiasan itu. Setelah kotak itu ada di tanganku, tiba-tiba saja Tera langsung menarik kembali tangannya dengan kasar. Membuatku terkejut saat itu juga.

“Takuto!! Tidak baik seperti itu dihadapan wanita!!” dengan cepat Ibunya Tera memarahi anaknya itu. Oh, Tuhan!! Ada apa denganmu, Tera?

          “Maaf.” – “Sekarang aku akan antar kau pulang. Lagipula ini sudah malam dan besok kita masih sekolah.” – “Mama, aku mengantar Akane dulu. Ittekimasu!!”

Dengan cueknya dia berbicara sehingga membuatku sangat shock mendengarnya sekalipun melihat perilakuannya itu. Namun aku tidak bisa melakukan apapun, terlebih untuk bertanya padanya …

 

“Tante, saya pulang dulu. Terima kasih sudah menemani saya untuk mengobrol.” Ucapku kemudian. “Jya matta ne!”

“Hai!! Hati-hati di jalan ya, Nak!” akupun hanya menanggapinya dengan sekali anggukan dan tentunya senyuman yang mengembang. Kemudian aku berbalik arah menuju ke pintu luar.

Setelah benar-benar keluar dari kediaman Teranishi, tiba-tiba saja perasaanku yang tidak enak kembali membuatku gelisah. Tiba-tiba saja saat Tera memberikan hadiah dari Juki itu di raut wajahnya menunjukkan kekesalan. Apakah Tera mebenci Juki? Tapi … bagaimana bisa?

Selama perjalanan hanya ada keheningan diantara kami. Kecuali suara kendaraan yang berlalu lalang melewati kami. Sejak tadi aku masih menundukkan kepala, namun sekali-sekali menengadah untuk melihat Tera dari belakang. Ingin sekali rasanya bisa bertanya apa alasan dia bersikap seperti itu, namun … untuk saat ini sepertinya aku tidak bisa melakukannya.

TAP …

Tiba-tiba saja langkah Tera terhenti. Sukses membuatku terhenti juga dan secara otomatis aku langsung mengangkat wajahku yang sedari tadi menunduk itu. Kenapa dia menghentikan langkahnya?

Lalu tubuhnya yang cukup tinggi itu kini membalikkan badannya, sehingga aku dan dia bisa saling melihat dengan jelas. Tatapan matanya saat ini membuatku gemetar dan … takut.

“Apa kau masih menyukai Juki?” tanyanya sembari mendekatiku. Hal itu membuatku semakin mundur ke belakang.

“Eh? Apa maksudmu, Tera?” tanyaku dengan ragu-ragu dan tentunya ketakutan.

“Sampai sekarang, bahkan disaat Juki sudah meninggal, apakah kau masih menyukainya, heuh?” lagi-lagi dia menanyakan hal yang sama dan langkahnya semakin mendekatiku. Aku pun terus-menerus mundur dan tanpa sadar punggungku sudah menyentuh sebuah pohon besar yang ada di pinggir jalan.

Dengan cepat Tera mendekatiku dan kemudian mengunci pergerakanku. Saat ini jarakku dengan jarak Tera hanya beberapa senti. Bisa dikatakan jarak kami sangat dekat. Membuatku tak bisa berkutik lagi.

“Katakan padaku, apa kau masih menyukai Juki sampai sekarang? Meskipun dia sudah meninggal?” kata Tera sekali lagi yang membuatku hanya bisa terdiam.

Jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam … aku masih menyukai Juki. Ah, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya … tetapi, apa boleh buat .. dia sudah tidak ada di sini karena dia sudah ada di alamnya sana.

 

“Aku .. aku …”

“Tidak bisakah kau melupakannya? Tidak bisakah kau menatapku? Menatap hatiku yang benar-benar tulus menyukaimu? Yang benar-benar tulus menemani hari-harimu?” – “Tidak bisakah kau menempatkanku di hatimu? Apa itu tidak bisa?”

Ah, Tera … maaf, aku benar-benar tidak bisa menerimamu sekarang .. aku masih merindukan Juki di hatiku …

          “Maaf .. aku .. aku …” lagi-lagi tenggorokanku tercekat. Semakin aku ragu-ragu, Tera semakin memperkuat cengkeramannya di bahuku.

“Aku mohon, cintai aku. Lihatlah hatiku yang tulus ini.”

Lagi-lagi Tera mencengkramkan tangannya dibahuku dengan kuat dan mendekatkan wajahnya dihadapanku. Hal itu dilakukan dengan Tera secara paksa, sehingga membuatku ingin sekali memberontak. Tapi tidak bisa.

“Tera!! Aku mohon lepaskan!! Kenapa kamu jadi seperti ini!!” dengan keberanian aku mulai menanyakan hal ini pada Tera setelah beberapa saat yang lalu aku mulai meresahkannya.

“Karena aku cinta sama kamu, Akane!! Kau selalu saja memandang Juki lebih baik dibandingkan diriku!! Selama ini aku cukup tersiksa akan keegoisanmu!! Saat Juki meninggal kamu masih saja memikirkannya!! Kenapa kau sama sekali tidak bisa memandang diriku?”

“Cukup hentikan!! Ya .. semua yang kau katakan itu benar. Aku masih menyukai Juki. Hingga akhir waktu aku masih menyukainya!! Jadi aku mohon jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu!! Bagiku … Juki lebih baik daripada kau! Dia yang lebih mengerti diriku dibanding kau!!” – “Mulai sekarang, jauhi aku. Aku tidak ingin terus-terusan dalam egoismu. Aku kembalikan hadiah darimu!! Aku tidak membutuhkannya!!”

Dengan kesal dan tanpa memperhatikan resikonya, aku langsung mengembalikan kotak perhiasan dari Tera itu padanya. Saat ini semua amarahku sudah ada dalam diriku dan aku tidak bisa mengendalikannya. Semua amarahku keluar begitu saja.

“Maaf, aku sebaiknya pulang sendiri!!” tanpa diragukan aku langsung berlari meninggalkan Tera yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Aku tidak mempedulikannya. Sungguh, hatiku benar-benar sakit dibuatnya. Sesungguhnya yang egois itu dia atau aku? Aku akui aku juga egois, tapi ini berkenaan dengan perasaanku. Perasaan sayang dan cinta pada Juki. Bukankah perasaan itu tidak baik dipaksakan bukan? Tapi … mengapa? …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s