[Minichapter] Kimi Ni Attraction (Chapter 3)

Kimi Ni Attraction
By. Dinchan
Type      : Minichapter (Chapter 3)
Genre   : Romance, School Life
Rating   : PG-13, R
Starring : Chinen Yuri, Inoo Kei, Yaotome Hikaru (Hey! Say! JUMP); Yabu Raura, Ueda Kaho (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; Yabu Raura belongs to launyan10 and Ueda Kaho is my original character.

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. This fanfiction is launyan10’s requests, and I wrote it as good as I can.

“Pindah kesini lagi?”

Raura menatap Inoo yang duduk tak jauh darinya. Gadis itu tak menggubrisnya, membiarkan saja gurunya itu kini duduk disebelahnya, bahkan menyomot sebuah sosis yang ada di kotak bekalnya.

“Chinen-senpai tidak lagi mengajakmu makan siang bersama?”

Demi Tuhan, ia tak ingin diingatkan mengenai Chinen. Setelah ciuman itu, Chinen tampak menjauh darinya. Bahkan Chinen mengirimkan pesan untuk sementara ia tak bisa belajar bersama karena ia ada kesibukan. Ya, kesibukan menjauhi Raura yang sebenarnya butuh penjelasan akan sikap Chinen hari itu.

“Bukan urusan Sensei,” jawab Raura tanpa berusaha untuk terdengar ramah.

“Menangislah jika kau butuh menangis. Kau terlihat jelek sekali merengut begitu,” kata Inoo.

Raura menatap Inoo, lalu beralih menatap ke kotak bekalnya. Ia tak mengerti apakah ada yang salah dengannya dan Chinen? Semuanya terasa benar hari itu, dan malam itu pun bukan Raura yang mencium Chinen, namun sebaliknya. Raura tak mampu menahan tangisnya lagi. Butir-butir air mata itu terus membasahi pipinya. Ia terus tertunduk meratapi nasibnya yang sial ini, bahkan kisah cintanya sudah berakhir sebelum dimulai.

Tak lama ia merasakan tangan Inoo di atas kepalanya, mengelusnya pelan, “Patah hati adalah fase awal dari kedewasaan dalam sebuah hubungan, Raura-chan, ketika kau tau rasa patah hati, kau juga nanti akan lebih menghargai orang yang mencintaimu,”

Raura terisak pelan, sentuhan Inoo memang berhasil membuatnya sedikit tenang.

***

Olimpiade semakin dekat. Tinggal menghitung hari dan mereka pun harus bertanding di Okinawa. Tahun ini kejuaraan olimpiade matematika memang diselenggarakan di Okinawa. Selama beberapa minggu ini Chinen dan Raura menjauh. Chinen tidak menjelaskan apapun setelah ia mencium Raura dan tentu saja gadis itu tidak sanggup untuk bertanya kepada Chinen. Semuanya terlalu rumit dan ditengah-tengah kegalauannya, Raura meminta tolong kepada Inoo untuk mengajarinya secara private saat mereka tidak berlatih bersama.

“Ini salah, yang ini juga salah!” seru Inoo sambil melemparkan kertas yang baru saja dikerjakan oleh Raura.

Raura memajukan bibirnya, “Gak usah lempar-lempar!” balas Raura dengan tak kalah kesalnya. Karena sering menghabiskan waktu bersama, Raura rasanya tidak canggung lagi kepada gurunya itu. Mereka bahkan bisa bercanda seperti teman.

“Ini soal baru,” Inoo menyimpannya di atas meja Raura.

“Sensei,” sebuah suara yang Raura kenal. Ia menoleh untuk memastikan, dan benar saja Chinen Yuri berdiri di pintu kelas.

“Ya, Chinen-kun? Ada yang bisa aku bantu?”

“Boleh aku bergabung?”

Raura menatap Inoo, memberinya sinyal untuk tidak memperbolehkan Chinen bergabung. Ia sudah cukup merasa nelangsa untuk menatap Chinen setiap mereka berlatih matematika tiga kali seminggu selama tiga minggu ini dan sekarang ia harus benar-benar berbicara dengan lelaki itu.

“Tentu saja, Chinen-kun, silahkan masuk,”

Sukses membuat Raura membelalakan matanya karena kesal dengan gurunya itu. Chinen duduk di meja sebelah Raura dan mengambil kertas soal yang disodorkan oleh Inoo. Ia sempat menoleh dan tersenyum kepada Raura yang tidak digubris oleh gadis itu.

Setelah memberikan soal, Inoo pun meninggalkan Raura dan Chinen. Keheningan langsung tercipta dan hanya suara goresan pensil milik Raura yang terdengar. Sementara Chinen sama sekali belum memulai pengerjaan soalnya.

“Raura-chan,” panggil Chinen, menyudahi keheningan yang canggung diantara keduanya.

Raura tidak menjawab dan tidak menoleh, karena tidak yakin ia bisa menahan air matanya jika ia menatap wajah Chinen.

“Aku mau minta maaf soal malam itu,”

Dan sekarang, Raura malah merasa marah dengan perkataan Chinen, “Maaf untuk apa?” nada suara Raura sedingin es.

“Soal ciuman itu… aku… tak bermaksud… maksudku…” Baru kali ini Raura melihat Chinen gugup. Benar-benar bukan Chinen yang biasanya ramah dan ceria.

Raura tiba-tiba ingin menangis dan jika ia harus menangis, ia tak mau menangis di hadapan Chinen. Maka ia pun berdiri,”Aku harus ke toilet,” Raura meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak menangis sekarang, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Chinen.

“Kita lupakan saja ciuman itu, bagaimana?” Chinen menarik lengan Raura untuk mencegahnya kabur.

Raura tersentak, ia semakin ingin menangis.

“Iya senpai. Kita lupakan saja,” Raura berharap suaranya tidak terdengar bergetar.

“Kita bisa jadi teman lagi, kan?” kini Chinen terdengar frustasi, entah untuk sebab apa.

Karena tak sanggup menjawabnya, Raura mengangguk dan melepaskan genggaman Chinen. Ia segera keluar dengan air mata yang sudah tidak sanggup lagi ia tahan. Raura terus berlari menyusuri lorong kelas dua hingga ia mendengar derap langkah di belakangnya. Awalnya ia berharap itu Chinen, namun saat sosok itu menarik tangannya, menuntunnya berlari, ia melihat Inoo yang melakukannya. Mereka terus berlari hingga ke pinggir sekolah, di bawah pohon Cherry.

“Kau baik-baik saja?” tanya Inoo.

Alih-alih menjawab Raura menangis lebih keras sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Beberapa detik kemudian, Inoo memeluknya, menepuk-nepuk pelan punggung Raura yang membuat gadis itu seketika berhenti menangis karena kaget.

“Uhm… Sensei?”

“Menangislah,”

***

Sesaat Chinen ingin mengejar Raura tapi ia tak sanggup memberikan harapan yang lebih lagi kepada gadis itu. Ketika malam itu, entah kenapa Chinen tiba-tiba merasa ingin mencium Raura ketika melihat gadis itu tertawa di sampingnya.

Raura bukan gadis yang jahat, Chinen tau itu. Tapi Chinen meyakini bahwa perasaannya kepada Kaho lebih penting. Walaupun ia tau bahwa Kaho akan segera menikah, ia ingin berjuang hingga titik penghabisannya.

Selama beberapa minggu ia sering menghabiskan waktunya dengan Raura, Chinen menyadari kalau keberadaan gadis itu semakin penting untuknya. Ia senang melihat Raura yang kebingungan dengan soalnya, yang cemberut ketika makanannya di sabotase oleh Chinen, yang tertawa saat Chinen menggodanya. Ia suka semuanya, tapi mungkin ini hanya perasaan ada yang menemani dan Chinen tidak bisa memberi Raura hal yang tidak bisa ia berikan, yaitu hatinya.

Chinen memutuskan untuk meninggalkan kelas, ia harus melakukan sesuatu untuk membuat dirinya sendiri lebih tenang. Maka ia pun ke lapangan untuk melampiaskan semua bebannya, ia harus berlari seperti yang sering ia lakukan.

“Kau sudah selesai menangisnya?”

Langkah Chinen terhenti, ia segera mencari sumber suara dan kaget ketika melihat Raura berada di pelukan Inoo-sensei. Entah mengapa ia tidak rela, namun alih-alih menarik Raura dari pelukan Inoo-sensei, Chinen berlari ke lapangan. Mungkin dia bahkan butuh tiga puluh menit penuh sprint untuk menyegarkan otaknya yang terasa mumet tiba-tiba.

***

Me : Raura chan, kau baik-baik saja?

 

Malam itu setelah mandi Chinen berinisiatif untuk mengirimkan pesan kepada Raura melalui sebuah layanan chat.

Satu menit, belum ada balasan, bahkan pesannya tidak dibaca.

Dua menit, Chinen kembali mengecek ponselnya dan masih belum ada tanda-tanda kehidupan.

Tiga menit, Chinen memutuskan untuk mengambil minum dulu di lantai bawah, ia melihat kamar Ayah dan Ibunya sudah gelap, pasti mereka sudah tidur.

Sepuluh menit, saat Chinen kembali membuka slide ponselnya, Raura terlihat sudah membaca pesannya, namun belum ada juga balasan. Chinen tergoda untuk mengetik kembali, bertanya kembali, namun ia tidak mau jadi pemaksa dan penuntut.

Lima belas menit kemudian sebuah pesan masuk. Chinen setengah melompat ketika melihat nama Raura muncul di notifikasi.

Yabu Raura mengirimkan stiker.

Hanya sebuah stiker jempol. Itu saja. Tidak ada penjelasan lainnya. Chinen merasa frustasi, ia ingin mereka kembali menjadi teman yang menyenangkan seperti dulu.

 

Me : Kau belum tidur? Besok kita belajar bareng lagi?

 

Fase menunggu pun kembali ia rasakan, ‘Tunggu, kenapa aku harus panik? Aku hanya mengirim pesan pada Raura-chan!’ hardiknya pada diri sendiri. Ketika balasan datang, Chinen kembali merasa bersemangat.

Yabu Raura mengirimkan stiker.

Lagi-lagi stiker.

“Huft…” Chinen frustasi dan menyimpan ponselnya jauh-jauh. Ia pun berbaring, memejamkan matanya.

***

Siang ini udara semakin panas karena sudah akan memasuki bulan Juni akhir, artinya sudah masuk musim panas. Raura membuka jas sekolahnya, mengambil bekalnya, ia akan ke bawah pohon cherry lagi. Rutinitasnya kembali seperti sebelum ia dekat dengan Chinen.

Setelah ia sering bersama Chinen, Raura selalu diajak makan siang di kantin bersama keempat teman Chinen. Walaupun tidak masalah, namun seluruh sekolah rasanya selalu memperhatikan mereka. Apalagi karena empat cowok itu jelas sekali terlalu mencolok untuk tidak diperhatikan.

“Raura-chan!!” semua mata tertuju ke pintu kelas, Tanimura Rei aka gadis tercantik di sekolah, kekasih Yamada Ryosuke aka laki-laki paling tampan di sekolah, memanggilnya.

“Rei-senpai?” Raura menghampiri Rei.

“Makan siang sama aku yuk!”

“Eh?”

Dan sebelum Raura bisa menolak, Rei menggamit lengan Raura dan mereka pun makan di kantin berdua, tanpa The Fantastic Four. Raura melihat para lelaki itu di seberang ruangan, namun tidak menghampiri merka.

“Tenang saja, hari ini aku spesial ingin makan bersamamu,”

Raura mengangguk. Rei mengambil kotak bekalnya, ia langsung merasa lapar. Bekal milik Rei benar-benar indah, bahkan sosisnya diberi mata dan mulut dengan bahan nori.

“Sugeeee,” ucap Raura.

Rei tersenyum, “Ini semua buatan Ryo-chan,”

“Eeehhh?! Ryo-chan? Maksudku Yamada-senpai bisa masak?!” Raura kaget sendiri.

“Ahahaha, tidak ada yang percaya tapi ini semua benar-benar buatan Ryo-chan. Ia tidak tiap hari mempersiapkan ini, tapi dalam seminggu pasti Ryo-chan membuatkan aku bekal sekali atau dua kali,” Rie tersenyum. Raura langsung mengerti kenapa gadis ini sangat populer.

Raura mulai memakan bekalnya. Bekal milik Raura selalu buatan Kota. Walaupun tidak sebagus buatan Yamada,tapi ia juga bangga karena kakaknya itu juga skill memasaknya tidak buruk.

“Kau menyukai Chii?” tanya Rie tiba-tiba dan hamoir membuat Raura tersedak omurice-nya.

“Uhuk uhuk!”

“Terjadi sesuatu denganmu dan Chii?” tanyanya lagi. Mungkin Rie berbakat menjadi detektif.

Raura ingin menggeleng, tapi pasti kentara sekali karena selama beberapa minggu ini ia berhenti hang out dengan mereka, dan walaupun mengelak pastinya Rie sudah tau kebenarannya.

“Aku tidak akan memaksamu, tapi yang jelas, Chii menyukaimu!”

“Tidak Senpai, dia tidak menyukaiku!” bantah Raura langsung. Walaupun ia berharap Rie tidak mengigau, tapi ia harus mulai menyadari posisinya yang hanya dianggap teman oleh Chinen, teman yang dicium. Raura sungguh berharap ia amnesia dan dapat melupakan ciuman itu.

“Mencari-cari dirimu, terlihat murung ketika kau tidak bersamanya, yeah dia tidak menyukaimu,” ujar Rie dengan ekspresi yang sulit dijelaskan oleh Raura. Campuran serius dan sarkasme.

“Tapi Senpai…”

“Kalau Chinen menyukaimu, kau mau bersamanya?”

Raura terdiam. Ia tidak tau. Chinen Yuri sudah membuatnya bahagia dan sedih berkepanjangan, ia membuat Raura tak bisa tidur, lalu merasa kesepian, dan segala bentuk perasaan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan pada siapapun. Apakah Raura mau menerima lebih banyak perasaan yang aneh-aneh lagi setelah ini? Mengubah semua yang biasa ia rasakan?

***

“Terima kasih kau mau belajar bersamaku lagi, Raura-chan,” dengan sedikit ‘memaksa’ akhirnya Chinen bisa belajar sepulang sekolah dengan Raura, bahkan mengajaknya pulang bersama.

Chinen tidak sadar bahwa Raura terpaksa melakukannya karena permintaan Rei. Ia sebenarnya tidak yakin bahwa ia bisa bertahan di sebelah Chinen, dan mengabaikan debar jantungnya, mengabaikan rasa sakit yang masih bisa ia rasakan, ia ingin berhenti terus bertanya-bertanya kenapa sikap Chinen seperti ini? Apakah karena Chinen ada kemungkinan menyukainya? Atau ini karena rasa bersalahnya saja? Kepala Raura rasanya mau pecah memikirkan semua ini.

“Kau masih marah padaku?” tanya Chinen, haruskah Raura menjawabnya ketika jawaban dari pertanyaan tersebut sudah harusnya sangat jelas.

“Tidak,” setelah lima menit yang membosankan, akhirnya Raura menjawabnya.

Chinen mendesah, sambil terus berjalan di sebelah Raura yang jelas-jelas tidak sedang mood meladeninya, Chinen mencoba membuka kembali percakapannya, namun Raura hanya mendengarkan, tanpa meresponnya.

“Raura-chan,” kini mereka sudah di halte bis, Chinen bilang mereka akan pergi makan.

“Ya?”

“Kenapa kau masih marah? Aku kan sudah minta maaf,”

Itu dia masalahnya!! Seru Raura dalam hati. Kenapa kau malah meminta maaf?! Raura tidak tahan, ia pasti akan meledak sebentar lagi, “Aku tidak mau Senpai minta maaf,” ucap raura lirih.

“Apa?” Chinen tidak mendengarnya dengan jelas.

“Aku tidak mau Senpai meminta maaf, aku tidak menyesal Senpai menciumku,” ucap Raura.

Chinen terdiam, menatap kaget kepada gadis di hadapannya, yang terlihat sedih sekaligus marah.

“Aku…” Raura menelan ludahnya, kata-kata itu sudah diujung lidahnya, ia tak boleh mundur lagi, karena sekarang ia sudah tidak punya alasan untuk menunggu Chinen, sudah jelas Chinen mungkin tidak menyukainya, dan jika ia tidak mengutarakannya, mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya, “Aku menyukai Senpai,”

“Rau…”

Raura mengangkat tangannya, mengisyaratkan pada Chinen bahwa ia belum selesai berbicara, dan Chinen menurut, pemuda itu kembali menutup mulutnya.

“Aku menyukai Senpai, dan aku tau Senpai menyukai Ueda-Sensei,” Raura butuh udara, ia menelan ludahnya, mencoba sedikit lebih tenang, “Kalau memang aku tidak ada harapan lagi, Senpai harus menjawabku dengan tegas, maka aku akan mundur dan tidak lagi mengharapkanmu,”

Kini Chinen terlihat panik, matanya tidak fokus, ia melihat Raura yang benar-benar serius dengan ucapannya.

“Aku tidak bisa, aku sangat senang kau menyukaiku, tapi…”

Air mata Raura sudah ada di pelupuk matanya, maka ia berdiri dan menunduk kepada Chinen, “Arigatou Senpai! Aku mengerti!”

Chinen sudah memberikan jawabannya.

Sudah saatnya ia mundur, sudah saatnya ia melupakan semua kenangan yang diberikan Chinen, setidaknya ia sudah mengutarakannya. Raura merasa sedikit lega.

Chinen masih mematung di tempatnya bahkan sampai bus ketiga lewat di hadapannya. Langit semakin gelap, sebentar lagi pasti sudah malam. Raura menyatakan cinta kepadanya, dan setengah hatinya mengatakan bahwa sebenarnya ia juga bisa menyukai Raura.

Maksudnya, mana bisa ia mencium orang yang tidak ia sukai?

Dan jelas-jelas, malam itu ia yang mencium Raura, ketika gadis itu tertawa sambil menatapnya dalam radius ciumnya, menyentuh pipinya walaupun itu untuk membersihkan mayonaise di pipinya. Dorongan kuat untuk mencium gadis itu tiba-tiba muncul.

Ia merasa frustasi. Ia mencintai Kaho, itu sudah jelas, ia sudah merasa jatuh cinta pada Kaho di tahun pertamanya di sekolah dan tidak mungkin ia salah. Lalu ini perasaan apa yang tiba-tiba muncul untuk Raura? Kasihan? Hanya karena ia tidak tega membuat Raura sedih?

***

“Jya, persiapan kita sudah matang. Nanti malam, kita kumpul di halaman sekolah untuk menuju Narita,” ucap Inoo, disambut anggukan semua anggota olimpiade, “Jangan lupa bawa baju renang, hahaha,”

Raura melirik ke arah Inoo, mencibir namun disambut senyum jahil dari bibir gurunya itu. Membuatnya kesal saja. Raura memutuskan untuk menyimpan beberapa buku ke perpustakaan sebelum pulang, dan setelah ia selesai, ia malah bertemu dengan Inoo-Sensei yang juga akan pulang.

“Jadi, Raura-chan tipe bikini atau baju renang? Hihihi,”

“Stop Sensei! Itu sekuhara tau!” balas Raura kesal.

“Kenapa kau itu, kan kamu haru tampil sexy di depan Chinen-senpai,” ucapnya sambil terkekeh-kekeh.

Raura memutar bola matanya, ini kenapa sih gurunya hentai sekali. Ia pun terus berjalan tanpa mengindahkan Inoo yang mengoceh di sebelahnya.

“Ah! Ada tukang es krim baru di blok sana, kau mau coba?” tanya Inoo, “Aku yang traktir?”

Raura mengangguk. Siapa tau dengan ice cream perasaannya akan sedikit terobati. Toko es krim itu di pinggiran jalan, dengan gerobak seadanya. Namun pilihan rasa yang ditawarkan cukup banyak juga. Raura memilih coklat dan vanilla choco chips sementara Inoo memilih rasa strawberry dan vanilla.

“Waaaa… hampir musim panas ya kalau makan es krim begini!” ucap Inoo ketika menyendokkan es krimnya sebelum akhirnya sendokan es krim itu berakhir di mulutnya.

Sambil menikmati rasa dingin di mulutnya Raura mengangguk-angguk, “Mana yang lebih Sensei suka? Musim panas, dingin, semi atau gugur?”

Inoo terlihat berpikir, “Yappari musim panas lebih baik, kau tau kan musim panas itu saatnya kita jatuh cinta!!” kini gurunya itu tertawa, disambut cibiran dari mulut Raura. Setelah merasakan sakit hati dari Chinen, ia tak yakin ingin merasakan jatuh cinta kembali dalam waktu dekat ini.

“Kalau Raura-chan?”

“Mungkin aku lebih suka musim dingin atau musim semi, aku suka bunga sakura,”

“Dan musim dingin? Karena saljunya?”

Raura menggeleng, “Karena di musim dingin ada natal dan saat itulah aku bisa berkumpul dengan Ayahku,”

Inoo mengangguk-angguk mengerti, “Kau juga bisa jatuh cinta pada musim dingin, tau! Saat salju turun, dan banyak event di akhir tahun dan awal tahun, benar kan?”

Dengan ekspresi malas, Raura mengangkat bahunya, “Entahlah, aku tidak tau apa itu cinta, Sensei,”

“Yang jelas Cinta itu menyenangkan sekaligus menyakitkan,”

“Menyakitkan?” Raura mengerenyitkan dahinya.

“Dalam sebuah hubungan, kau tidak mungkin tidak menyakiti partnermu, kita semua manusia dan secara sadar atau tidak sadar adalah mahluk yang egois,” kata Inoo, “Kenapa aku membicarakan hal seperti ini dengan anak kecil sepertimu?” lalu Inoo tertawa.

Raura melirik Inoo dan membiarkan pria itu tertawa sambil mengigiti cone es krimnya.

***

Langit Okinawa hari ini cukup cerah setelah diguyur hujan kemarin seharian. Raura memutuskan untuk keluar kamar penginapannya. Kemarin malam bisa dibilang cukup kacau. Ternyata karena seorang Inoo Kei masih bergelar guru training, Ueda-sensei harus ikut dengan mereka. Dari puluhan guru di sekolah mereka, entah kenapa harus Ueda-Sensei yang ikut. Raura yakin Tuhan benar-benar sedang menghukumnya. Tapi untuk apa? Dia kan anak baik-baik. Dan seperti harus merasakan lebih menderita lagi, Raura duduk bersebelahan dengannya di pesawat, juga satu kamar karena hanya mereka berdua yang perempuan.

Raura menghirup udara pagi di pantai Kondoi setelah berjalan selama sepuluh menit dari penginapan. Raura tidak bisa tidur nyenyak padahal kamarnya sangat nyaman, mungkin karena ia harus berbagi kamar dengan Ueda-Sensei.

“Belajar matematika?”

“Arrgghh! Kenapa harus ada sensei di sini? Ini pagi yang terlalu indah untuk di rusak,” ucap Raura ketika melihat seorang Inoo Kei berjalan ke arahnya.

“Hahaha! Jahat sekali, Raura-chan,”

Pandangan Raura kembali ke pantai, menikmati pantai memang bukan nomor satu yang ia sukai, tapi cukup menenangkan juga. Terutama karena belum banyak wisatawan. Musim panas baru saja akan dimulai, pasti air pantai pun belum cukup bersahabat untuk dipakai berenang.

“Tidak suka berenang?”

“Airnya masih terlalu dingin, Sensei,” jawab Raura.

Inoo mengangguk-angguk, “Kalau nanti kita menang, paling tidak dapat medali perunggu, aku akan mengajarimu berenang,”

“Aku bukannya tidak bisa berenang!” Yah, Raura tidak mau mengakui kalau dia memang sebenarnya tidak bisa berenang.

“Hai! Hai! Wakaru yo, Raura-chan. Lebih baik sekarang kita kembali ke penginapan kalau tidak mau telat!” Inoo toba-tiba berdiri di sebelah Raura, mengulurkan tangannya agar Raura bisa berdiri tanpa susah payah.

Raura menyambut uluran tangan itu, namun tiba-tiba saja Inoo menariknya cukup keras sehingga ia menubruk badan Inoo dan mereka jatuh bersamaan di atas pasir pantai. Inoo tertawa terbahak-bahak, sementara Raura tiba-tiba salah tingkah.

“Hahahaha! Aku kira badanmu berat, ternyata ringan juga ya,”

Tidak sadarkah Inoo-Sensei? Raura ada di atas tubuhnya, dan jarak mereka sangat dekat. Pasti kini muka Raura sudah seperti kepiting rebus.

“Sampai kapan kau berencana akan ada disitu?” tanya Inoo membuat Raura cepat cepat berdiri dan berjalan cepat mendahului Inoo.

***

Tim sekolah mereka menang peringkat dua. Tidak buruk untuk pemula dan karena itulah mereka sekarang merayakannya dengan makanan sea food yang sangat banyak. Chinen rasanya tidak mampu lagi menelan apapun karena perutnya sangat penuh sekarang.

Beberapa kali ia mencoba untuk berbicara dengan Kaho, tapi gurunya itu menolak. Bahkan dengan sengaja duduk dengan Raura dengan alasan mereka sama-sama perempuan. Selain itu, ia tidak punya waktu dan kesempatan untuk berbicara dengan Kaho.

“Ne ne ne… ayo kita bersulang untuk Ueda-sensei yang sebentar lagi akan menikah!!” ucap Ryuhei Matsumoto sambil mengacungkan segelas teh manis, Ryuhei kebetulan wali kelasnya adalah Yaotome-sensei.

Kaho terlihat tertawa dan mengangguk, “Arigatou ne, Matsumoto-kun,”

“Uhuhuhu, Yaotome-sensei selalu membicarakan sensei loh, di kelas,”

Semua mata langsung tertuju pada Ryuhei, “Kalau ada yang bertanya mengenai Ueda-sensei, Yaotome-sensei pasti menjawabnya dengan berseri-seri, bahkan ia memanggilnya dengan ‘Kaho-chan tentu saja bisa memasak’ begitu!!” ucapnya sambil menirukan gaya Yaotome.

Disambut gelak tawa yang lainnya, dan Kaho pun terlihat senang. Chinen hanya bisa memandanginya.

“Jya, aku akan beli jus dulu, siapa yang mau?” tanya Kaho tiba-tiba.

“Aku mau jus jeruk Sensei!!”

Dan pesanan-pesanan lainnya. Kaho pun hanya tersenyum lalu keluar dari ruangan, Chinen berdiri juga, “Aku akan membantu sensei membawanya!” Chinen melihat Kaho menatapnya, namun Chinen mengindahkan pandangan tersebut dan terus mengikuti Kaho sampai ke mesin penjual minuman yang ada di lorong penginapan.

“Aku bisa membawanya sendiri, Chinen-kun,” ucap Kaho saat ia memasukkan beberapa koin ke dalam mesin penjual minuman.

“Aku ingin bicara denganmu,”

“Sudah cukup. Aku tidak akan mendengarkanmu lagi!” kata Kaho dengan suara tegas, namun Chinen tidak bisa lagi menahannya.

“Kenapa?! Karena kau pikir aku main-main dan perasaan ini adalah perasaan anak-anak saja? Aku ingin melindungimu, Kaho-chan!”

“CUKUP! Apapun yang kau katakan tidak akan membuatku meninggalkan Hikaru,”

Minggu lalu, saat ia pulang sekolah, Chinen bertemu dengan Kaho di bis, saat itulah ia menyatakan perasaannya lagi, dan menjelaskan bahwa Hikaru menduakannya, namun jawaban Kaho saat itu mengagetkannya.

“Kaho-chan, kenapa kau bertahan dengan Yaotome? Dia selingkuh! Dia bukan pria yang baik untukmu!” ucap Chinen saat itu.

Kaho hanya tersenyum, “Aku sudah tahu, dan kau tak perlu ikut campur urusan kami,” selanjutnya Kaho masuk ke rumahnya, sejak saat itu Kaho tidak bisa diajak bicara hingga hari ini.

“Kenapa kau tidak bisa meninggalkannya? Walaupun dia menyakitimu?!”

“Hikaru….” suara Kaho seperti orang yang menahan tangisnya, “Adalah orang yang jahat karena menyelingkuhiku, dia hanya guru sepertiku, dia sulit memilih antara aku dan gadis itu, aku tahu…”

Chinen frustasi, ia menarik bahu Kaho, “Tapi? Sekarang kau akan bilang tapi, kan?”

“Tapi, aku suka diriku saat bersama dengannya. Aku suka Hikaru karena dia penyemangat bagiku. Aku tahu, suatu saat ia akan berhenti menemui gadis itu. Suatu saat…”

“Kaho-chan!!”

“Cukup, Chinen-kun!” Kaho melepaskan tangan Chinen dari bahunya, “Aku berterima kasih kau sangat ingin melindungiku, tapi… aku benar-benar hanya melihatmu sebagai muridku,”

Dengan kata-kata itu pun Kaho meninggalkan Chinen, wanita itu berlari meninggalkannya, suara mesin otomatis mengiringi langkah Kaho, jus yang baru saja ia pilih sudah menunggu untuk diambil.

“Chinen-senpai, kau… baik-baik saja?” Chinen menoleh dan melihat Raura berdiri di lorong, “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menguping. Tadi… aku mau ke toilet tapi aku tersesat, lalu…”

Belum selesai Raura menjelaskan, Chinen menghampirinya, “Mau jalan-jalan?”

“Eh?”

“Mau berlari ke pantai?”

“Tapi ini sudah malam, Senpai,”

Chinen tersenyum, “Baiklah,” lalu dengan gerakan terburu-buru Chinen keluar dari penginapan, dan terdengar derap langkah kaki Chinen yang berlari.

“Sana susul!” Raura menoleh, Inoo ternyata sedang memperhatikannya dari belakang.

“Tapi sensei,”

Inoo mendorong bahu Raura, “Cepat sana pergi! Bagaimana kalau dia bunuh diri?” tentu saja tidak akan, kenapa dengan gurunya ini? Sangat hiperbola.

Raura pun berlari mengejar Chinen, walaupun tidak lagi kelihatan bayangannya. Ia berasumsi mungkin Chinen pergi ke pantai. Maka ia pun berlari ke arah pantai, dan ternyata benar saja, Chinen sedang duduk di atas pasir pantai, menatap ke arah pantai dengan pandangan yang sedih.

“Senpai,”

“Kau itu memang lambat ya, aku sudah duduk di sini selama lima menit, tau!”

“Gomen,” ucap Raura sambil menunduk.

Chinen mengacak rambut Raura pelan, “Tidak usah minta maaf,”

Lalu keheningan menyelimuti keduanya. Baik Raura maupun Chinen hanya menatap ombak yang terus bergulung-gulung ke daratan, sambil mendengarkan suaranya.

“Ne, Raura-chan,”

“Ya?”

“Kalau aku memintamu untuk memelukku, apa kau mau?” entah karena suara Chinen yang sangat sedih, atau karena Raura mengetahui keadaan Chinen saat berlari tadi sedang sangat kacau, maka tanpa mengatakan apapun Raura berdiri dengan lututnya dan menarik Chinen yang sedang duduk ke dalam pelukannya. Beberapa saat kemudian Chinen melingkarkan tangannya di pinggang Raura, mempererat pelukan itu, dan ia pun menangis seperti anak kecil kehilangan mainan kesayangannya.

Untuk kali ini, Chinen tidak mau terlihat kuat, ia ingin Raura menopangnya, untuk kali ini saja.

 

-To Be Continue-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s