[Minichapter] SUMMER STORY #1 (Awal Sebuah Cerita)

Title : Summer Story
Subtitle : Awal Sebuah Cerita
Type : Minichapter
Chapter : #1
Author : Aichun
Genre : Romance
Rating : G
Fandom : JE, Johnny’s Jr
Casts : Takahashi Kaito (Johnny’s Jr, Mr. King), Mitarai Saki (OC), Shinoda Masaki (OC), Asaoka Miyuki (OC), Maeda Haruka (OC)

Disclaimer : All casts belongs to themselves. Author owns the plot.

Notes : Halo, saya author baru di sini.. Ini FF pertama yang saya posting di blog ini.. Happy reading and leave some comments please ^^

***

Cerdas, cantik, kaya dan selalu patuh pada apapun perintah guru. Begitulah gambaran murid-murid Ninki Gakuen terhadap sosok Mitarai Saki yang kini duduk di bangku kelas 2. Siapa yang tidak mengenalnya? Di tahun pertamanya di sekolah menengah atas, dia berhasil meraih nilai tertinggi sewilayah Tokyo. Ayahnya adalah seorang bisnisman yang bergerak dibidang agensi keartisan. Popularitasnya sangat meroket di sekolah. Dia disegani oleh kakak maupun adik kelasnya. Semua guru sangat menyayanginya karena sifat “selalu mematuhi perintah guru” yang dimilikinya.

Namun, betapapun sempurnanya seseorang terlihat, tetap saja ada sesuatu yang kurang darinya. Walaupun Saki cantik, cerdas, dan kaya, dia tidak mampu menaklukkan hati Shinoda Masaki, laki-laki yang disukainya sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di Ninki Gakuen. Masaki tidak kalah terkenalnya dengan Saki. Dia tampan, cerdas dan juga kaya. Sangat sepadan dengan Saki. Dalam hal nilai, posisi Masaki selalu nomor dua setelah Saki. Saki adalah ketua Osis sementara Masaki adalah wakilnya. Banyak orang yang sering menjodohkan mereka hingga suatu hari sebuah berita mengejutkan berhembus mengenai Masaki. Dia berpacaran dengan Asaoka Miyuki yang berbanding 180 % dengan Saki. Miyuki tidak cerdas bahkan nilainya tidak terlalu bagus. Lumayan cantik namun tak secantik Saki. Dia hanya berasal dari keluarga pemilik kedai mi di Shibuya. Dan berbicara tentang kepopuleran, dia sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Saki –yang semua orang mengenalnya. Namun, setelah Masaki resmi mengumumkannya sebagai kekasih, lambat laun posisi Miyuki bersanding dengan Saki karena pengaruh Masaki. Dan, hal ini sangat memalukan bagi Saki. Dia merasa tidak pantas disandingkan dengan Miyuki yang tidak terkenal, terlebih lagi untuk merebut hati Masaki. Apa yang kurang pada dirinya sehingga Masaki lebih memilih Miyuki yang menurutnya bodoh itu? Namun, keputusan Masaki sudah bulat. Dia tidak bisa berkutik lagi. Saki pernah menulis surat cinta pada Masaki. Namun, surat itu hilang entah kemana. Sejak saat itu dia tidak pernah berani lagi menulis surat lagi.

Musim panas sebentar lagi menyapa. Sekolah akan libur selama 2 minggu. Momen yang selalu dinantikan oleh Saki. Biasanya dia akan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Masaki. Namun, tahun ini terasa berbeda karena kehadiran Miyuki dalam hidup Masaki.

“Masaki, liburan nanti kita keluar negeri yuk!” ajak Saki.

Masaki memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas lalu berdiri kemudian menjawab ajakan Saki. “Maaf ya, Saki-chan. Bukannya aku tidak mau berlibur bersamamu. Tapi, aku sudah janji pada ayah Miyuki untuk membantunya di restoran.” Terang laki-laki berkacamata itu.

“Kenapa sih kau harus ikut-ikutan membantu ayahnya Miyuki jualan? Kau kan pacarnya bukan pembantunya?” komentar Saki dengan nada mengompori. Dia sangat tidak suka cara Masaki memperlakukan Miyuki seistimewa itu.

“Tidak apa-apa. Aku kasihan dengan ayahnya yang harus bekerja sendirian. Daripada liburan aku hanya di rumah, lebih baik aku pergi ke sana.” Imbuh Masaki beralasan.

“Tapi…”

“Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak merasa terbebani. Kau sangat cerewet seperti ibuku. Bedanya, ibuku merestui tindakanku ini.”

“Jadi bibi setuju kau berhubungan dengan Miyuki?” tanya Saki terkejut.

“Ya. Ibu juga bilang kalau Miyuki-lah gadis yang tepat untukku.”

Tubuh Saki seperti mengerut. Dia merasa sudah kehilangan semua harapannya untuk mendapatkan Masaki. Ibunya saja yang sangat ekstra perhatian terhadap anaknya setuju. Tentu ibu Masaki punya penilaian tersendiri pada Miyuki dan itu semakin membuat kecewa juga sakit hati.

Saki dan Masaki berjalan bersama ke luar kelas dan bertemu dengan Maeda Haruka, teman dekat Saki di koridor.

“Saki, kita pulang bersama yuk!” ajak Haruka.

Saki bergeming. Seleranya untuk bicara telah rusak oleh sikap Masaki yang begitu mengistimewakan Miyuki.

Haruka menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada Saki. Dia melirik Masaki sejenak yang tengah sibuk dengan ponselnya sambil tetap berjalan.

“Kau ini kenapa?” tanya Haruka berbisik agar tidak kedengaran oleh Masaki.

Saki kembali bergeming, merasa tidak perlu menjawabnya karena sebentar lagi Haruka akan tahu jawabannya.

“Masaki!!!

Serempak tiga orang itu menoleh ke asal suara yang berasal dari seorang perempuan yang melambai-lambaikan tangannya pada Masaki. Saki melirik Masaki sejenak yang tersenyum melihat perempuan itu. Hanya Saki yang bisa mendengar suara pelan dan halus Masaki saat menyebut nama Miyuki dengan intonasi yang berbeda. Semakin membuatnya terbakar cemburu.

Miyuki berlari-lari kecil ke arah mereka. Saki menahan nafas, menantikan apa yang akan dilakukan gadis itu pada laki-laki pujaannya, sementara Haruka memperhatikan gerak-gerik Saki.

“Hai Saki, hai Haruka…” sapa Miyuki ramah.

“Hai…” balas Haruka sama ramahnya. Tapi, Saki hanya membalasnya dengan senyuman yang hanya dia yang tahu apa arti senyuman itu.

“Masaki, hari ini kita jadi kan ke toko ayahku?” tanya Miyuki manja sambil memeluk tangan Masaki. Dia tidak merasa kalau di sampingnya ada gadis yang sedang terbakar api cemburu.

“Tentu saja. Kita ke rumahku dulu ganti baju, setelah itu kita ke rumahmu lalu ke toko ayahmu.” Kata Masaki.

Hati Saki semakin panas. Sudah sedekat itukah hubungan mereka?

“Mitarai, Maeda, kami pulang duluan ya! Bye.” Masaki dan Miyuki melambaikan tangan. Mata Saki tidak berhenti memperhatikan mereka sampai benar-benar hilang dari pandangannya.

“Saki, kau kenapa?” tanya Haruka yang keheranan melihat tubuh Saki yang sepertinya kaku. Dia mengguncang-guncangkan tubuh Saki agar tersadar.

“Ahh, lepaskan aku!” ucap Saki berontak.

“Kau ini kenapa sih? Dari tadi suasana hatimu sepertinya sedang tidak enak. Kenapa?”

Lagi-lagi Saki tidak menjawab. Dia hanya memberikan tatapan “seharusnya kau mengerti” pada temannya itu. Hanya Haruka yang tahu seperti apa perasaan Saki pada Masaki. Haruka pasti menyadari hal itu karena raut wajahnya langsung berubah. “Gomen ne… Aku tahu kok apa yang kau rasakan. Melihat orang yang kita sukai pergi dengan perempuan lain itu pasti menyakitkan. Seandainya…”

“Kenapa harus perempuan itu?” sergah Saki memotong ucapan Haruka. “Apa istimewanya dia dibanding diriku. Aku lebih dulu mengenal Masaki, tapi kenapa dia yang sangat beruntung bisa jadi kekasihnya?”

“Saki, tenanglah… Kita akan menemukan cara agar kau bisa mendapatkan Masaki lagi. Aku akan membantumu,” janji Haruka.

“Tapi, aku masih tidak terima Masaki lebih memilih dia daripada aku!” Saki benar-benar telah dikuasai api cemburu. Dia tidak sadar nada suaranya cukup tinggi sehingga bisa terdengar oleh orang lain. Untung saja saat itu koridor sudah sepi. Hanya ada mereka berdua. “Dasar bodoh! miskin! jelek!! baka baka baka!!!” umpat Saki dengan kesalnya.

Saat Saki sedang sibuk mengumpat Miyuki, tiba-tiba Takahashi Kaito, salah satu teman kelas Saki lewat. Dengan percaya diri dia merasa Saki sedang mengumpat dirinya karena nada suaranya tinggi dan menatap ke arahnya. Sontak saja dia merasa sangat tersinggung. Dengan langkah cepat dia menghampiri Saki dan Haruka.

“Hei, apa maksud ucapanmu tadi?!” ujarnya dengan suara agak tinggi.

Saki yang tidak mengerti maksud Kaito mengernyitkan dahi. “Kenapa kau ada di sini?”

“Hei, jangan pikir aku tidak mendengar apa yang baru saja kau katakan. Kau mengataiku jelek, miskin dan bodoh. Iya kan?!” ucap Kaito semakin emosi.

Kening Saki semakin berkerut. Dia bertukar pandangan dengan Haruka yang sama kebingungannya. “Percaya diri sekali kau! Aku tidak sedang membicarakan orang tidak penting sepertimu!”

“Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada aku. Jadi siapa lagi kalau bukan aku yang kau umpat?!”

“Takahashi, kau salah paham. Kami bukan mengejek dirimu. Kami itu sedang mengatai Mi…” tangan Saki langsung membekap mulut Haruka agar dia tidak keceplosan bicara. Saki tidak ingin ada yang tahu hal ini selain mereka berdua.

“Kupertegas sekali lagi. Aku tidak sedang mengumpatmu. Mengerti?!”

Rupanya kata-kata Saki tadi telah sangat membekas di hati Kaito hingga membuatnya sangat tersinggung. Apapun penjelasannya, dia tetap tidak terima. Lagipula, selama ini Saki memang sering mengejeknya dan mengatainya anak bodoh karena tidak sepintar Masaki.

Mata Kaito menatap Saki dengan tatapan membunuh yang dibalas dengan tatapan yang sama oleh Saki. Mereka berdua bertarung dalam diam. Tidak ingin dikalahkan satu sama lain. Saki bersikeras mengatai Kaito sangat besar kepala, sementara Kaito tidak percaya penjelasan Saki yang selama ini memang sering menghinanya.

“TAKAHASHI KAITO!!”

Kaito menelan ludah. Tanpa menoleh dia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Kawato Yasushi-sensei, guru bahasa inggris yang tadi berniat menghukumnya karena lupa mengerjakan tugas rumah.

“Ke mari kau!” perintah Kawato-sensei menggerak-gerakkan jemari tangannya.

Dengan langkah berat dan wajah pucat Kaito menuruti perintah itu, meninggalkan sejenak urusannya dengan Saki.

“Urusan kita belum selesai. Aku belum memberi hukuman padamu,” tukas sensei ketika Kaito telah berada di hadapannya. “Kau kuhukum untuk membersihkan lapangan baseball. Lapang itu akan dipakai oleh klub baseball sebagai tempat latihan untuk mengikuti Turnamen Koshien.”

“Tapi, lapangan itu sangat besar, Sensei. Mana mungkin saya bisa mengerjakannya seorang diri?” elaknya.

“Tidak peduli apapun katamu. Hukuman adalah hukuman. Tapi, kalau kau punya teman yang bersedia dengan ikhlas membantumu, kau boleh mengajaknya.” Kata sensei memberi keringanan.

“Jadi boleh mengajak teman ya,” gumam Kaito. Ekor matanya menangkap sosok Saki yang masih berdiri di tempatnya. Tiba-tiba, sebuah ide bersinar terang di kepalanya. “Sekaranglah saatnya balas dendam.” Batinnya.

“Ano, sensei, saya punya seorang teman yang akan membantu saya.” Katanya kemudian.

“Siapa dia?” Sensei bertanya.

“Mitarai Saki.” Jawab Kaito mantap.

Kawato-sensei segera berpaling ke arah Saki yang sedang berbicara dengan Haruka, lalu memanggilnya. “Mitarai Saki,”

Saki menuruti panggilan gurunya tanpa perasaan aneh sedikitpun. Dia tidak sadar baru saja masuk ke dalam perangkap Kaito.

“Iriyama-san, aku dengar dari Itou katanya kau akan membantunya membersihkan lapangan baseball saat libur musim panas nanti. Apa itu benar?”

Saki terkejut mendengar ucapan gurunya. Diapun akhirnya sadar permainan apa yang sedang dimainkan oleh Kaito. Namun, karena sifat “selalu menuruti perintah guru” dan rasa tidak enak pada Kawato-sensei, diapun akhirnya mengiyakan.

“Be-Benar, sensei. Saya bersedia membantu Kaito.”

Kawato-sensei menampakkan senyum puas. “Terima kasih, Iriyama. Kau memang murid yang bisa diandalkan. Selain cerdas, kau juga tidak segan membantu teman yang sedang kesusahan.” Pujinya.

Saki tersenyum. Hanya Kaito yang mengerti arti senyuman itu. Dia menahan tawanya dan merasakan sensasi kemenangan karena telah berhasil mengerjai seorang Mitarai Saki. Pandangan mereka bertemu dan kembali saling menatap tajam.

“Awas kau, Kaito!!!” gerutu Saki dalam hati

To be continued…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s