[Oneshot] Thank You For Everything

Thank You for Everything, Minna!!
by. Matsuyama Reina
Genre: (Little) Romance, Angst, Friendship
Rated: PG-13
Type : Minichapter
Chapter : 1
Cast             :

Kobayashi Mizuki (Johnny’s Jr.)
Aiu Chan as Fujiyama Akane (OC)
Teranishi Takuto (Johnny’s Jr.)
Richia Kayoru Nanahira II as Hara Negumi (OC)
Chida Kyohei (Johnny’s Jr.)
Mizukana Aderu (OC)
Dan cast-cast lainnya

Disclaimer    : Just have the story.

Summary      :
Sudah 2 ½ tahun lamanya Kobayashi Mizuki mengidap penyakit kanker otak. Namun dari awal dia tidak menyadari kalau sudah terkena penyakit itu.

Setelah dirinya tahu, tidak bisa ia pungkiri kalau sudah selama itu dia mengidap penyakit kanker otak. Namun hal itu tidak menjadi penghalang untuknya tetap bertahan hidup.

Fujiyama Akane, alasan Mizuki untuk tetap bertahan hidup meski tidak lama. Seorang kawan kecil Mizuki sekaligus gadis yang dia sukai dulu. Hal itu sama sekali tidak diketahui oleh Akane sendiri karena Mizuki tidak mengatakannya, terlebih lagi pada Teranishi Takuto, Chida Kyohei, Hara Negumi, dan Mizukana Aderu.

Jika seperti itu, kapankah Akane, Tera, Chida, Negu, dan Aderu akan mengetahui penyakit yang dialami oleh Mizuki?

Fandom        : Johnny’s Junior

Note            :

  • Disini ada beberapa nama yang mungkin readers tidak tahu ^^ dan nama-nama itu saya ambil dari anak-anak JJr yang jadi backdancer di Shokura ^^

“Ne, Juki. Maukah kau ikut ke pesta ulang tahunnya Akane-chan?” tanya seorang gadis padaku dengan wajah cerianya. Dia adalah Mizukana Aderu. Salah satu dari sahabatku sejak kecil.

“Iya, Juki. Pasti akan seru jika kau juga ikut.” Seru seorang pria tinggi dengan postur tubuh pria idaman, namanya Teranishi Takuto. Dia pun juga sahabatku selain Aderu. Akane, nama lengkapnya Fujiyama Akane, dia juga sahabatku. Kami ber-4 sudah bersahabat sejak kecil dan juga aku sudah menyukai sosok Akane itu dalam jangka waktu yang lama. yah bisa dikatakan sejak kecil.

Namun sahabat kami tidak hanya mereka saja. Chida Kyohei dan Hara Negumi juga sahabat kami. Hal inilah yang membuatku menjadi orang yang sangat beruntung di dunia karena memiliki sahabat yang baik seperti mereka semua.

“Ano, aku tidak tahu bisa datang atau tidak. Tapi, aku akan mengusahakannya.” Ya. Entah ini keberapa kalinya aku berbohong pada kedua sahabatku ini. Sesungguhnya aku ingin pergi ke pesta itu, namun …

“Ini sudah ke-sekian kalinya kau menolak, Juki. Tidak seperti biasanya kau menolak setiap ajakan kita. Memangnya ada apa denganmu, Juki?” tanya Tera dengan tatapan penuh selidik. Tidak! Bagaimana pun aku tidak bisa menjelaskannya sekarang!

“Gomen ne …” Mungkin ini sudah takdirku untuk terpaksa datang ke pesta ulang tahun Akane. Andai saja kalau penyakit ini tidak ada, pasti aku sudah setuju untuk bisa datang ke pesta ulang tahun Akane.

“Mengapa kau meminta maaf? Aku hanya bertanya padamu Juki. Kenapa kau akhir-akhir ini selalu menolak ajakan kita?” lagi-lagi pertanyaan itu. Bagaimana aku akan menjawabnya?

“Sudahlah, Tera. Jangan kau paksa Juki terus. Lagipula dia masih dilema dengan keputusannya sendiri. Mana mungkin dia menolak untuk datang ke pesta ulang tahun gadis yang disukainya? Hahaha!!” begitulah yang dikatakan Aderu. Hal itu membuatku tersipu. Aku yakin saat ini mukaku sudah merona.

Kulihat sosok Tera sedang termenung sejenak. Apa yang sedang dipikirkannya? Apa dia akan …

“Baiklah. Ne Juki, kau harus bisa datang ke pestanya Akane-chan! oke?” aku pun hanya mengangguk sebagai jawabannya. Aku sempat mengira kalau dirinya akan memarahiku, tapi fakta berkata lain.

Aku berharap penyakit ini tidak kambuh lagi. Bila perlu aku ingin penyakit ini bisa lenyap jadi aku tidak perlu khawatir akan hal apa pun. Tapi itu sangatlah mustahil

“Ne Juki, sebaiknya dari sekarang kau buatkan kejutan untuk Akane. Bila perlu buatlah dia terkesan akan kejutanmu itu.” Apa yang dikatakan Aderu ada benarnya. Tapi .. aku tidak tahu harus membuat kejutan apa. Terlebih membuat Akane terkesan dengan pemberian kejutanku.

“Bagaimana kalau dance?” kini sebuah suara yang datangnya dari arah timur dari tempat kami berdiri telah mengusik pembicaraan kami. Aku, Tera, dan Aderu mulai menengok ke arah sumber suara. Dan ternyata …

“Eh Chida? Tumben kau baru muncul?” ternyata dia adalah Chida. Lengkapnya Chida Kyohei. Dia salah satu kawan kecilku yang jago dance. Sama seperti Tera.

“Hai! Sebenarnya, kemarin aku ingin sekali menemui kalian. Tapi karena aku terlalu lelah dari berpergian ke luar kota, akhirnya tidak jadi deh!” jelas Chida. Tapi memang benar kalau Chida pergi ke luar kota bersama orang tuanya. Kira-kira 1 bulan yang lalu dia mengatakannya pada kami semua.

“Ne, Hisashiburi Chida-kun.” hanya kalimat itu yang bisa ku-ucapkan. Menyapa kehadiran Chida.

“Hisashiburi mo, Juki.” Balas Chida padaku dan mengembangkan senyumannya.

“Kau tidak ingin menemui Negu-chan, Chida?” tanya Aderu tiba-tiba. Yah akhir-akhir ini Negu tidak kelihatan dari pandangan. Aku tidak tahu mengapa dia menghilang begitu saja.

“Sudahlah! Jangan bahas soal Negu! Aku tidak suka!” ketus Chida yang sukses membuat-ku, Tera, dan Aderu terkejut. Memangnya ada masalah apa?

“Ne Chida-kun, kau sedang ada masalah dengan Negu?” tanyaku pada akhirnya. Namun Chida hanya mengalihkan pandangannya. Sepertinya dia tidak suka kalau aku menanyakan soal Negu padanya.

Please jangan bahas soal dia lagi! Maaf aku tidak bisa menjelaskannya sekarang.” Seru Chida yang berkutat pada pendiriannya itu.

“Sudahlah, sebaiknya kita jangan memaksa Chida untuk menjelaskanya. Beri dia waktu untuk memikirkan semuanya.” Kini Tera angkat suara. Perkataannya itu terdengar bijaksana sekali. Seringkali aku merasa heran dengan dirinya yang terkadang bersikap kekanak-kanakan, dan tiba-tiba bersikap bijaksana seperti itu.

“Ne, mau tidak kalau kita memberikan kejutan untuk Akane berupa dance?” tanya Chida sekali lagi menanyakan pendapatnya. Kalau aku setuju saja, tapi …

“Aku setuju!! Bagaimana denganmu, Juki?” tiba-tiba Tera mengatakan kalau dia setuju dengan pendapat Chida dan kemudian menanyakan pendapatku.

Kami-sama … bagaimana ini? dalam keadaanku yang seperti ini aku tidak bisa beraktivitas seperti layaknya orang banyak. Tapi …. jika aku menolak, mereka pasti kecewa padaku … apalagi kejutan itu untuk gadis yang aku suka, Akane.

Apa sebaiknya aku menyetujuinya?

“Juki? Bagaimana kau setuju?” tanya Aderu yang membuat-ku sadar dari lamunan.

“Baiklah.” Akhirnya kata-kata ini sudah keluar dari bibirku. Kali ini aku tidak bisa menolak karena aku tidak ingin mengecewakan sahabatku sendiri, terlebih lagi mengecewakan Akane.

“Baiklah. Kita hanya perlu mengajak Geya, Ryota, Anderson, sama Hanzawa. Hahaha!”

“Ajak Meguro Ren juga dong!! Aku kan ingin lihat Ren perfom dance saat pesta!” aku hanya bisa terkekeh begitu melihat sikap Aderu yang sangat menyukai sosok Meguro Ren. Salah satu anggota club dance disekolah kami.

“Ne Chida-kun, ajaklah Ren juga. Biar si Aderu melted tuh lihat dia dance. Hahaha!!” ucapku pada Chida sambil terkekeh. Begitu juga Chida, Tera, dan Aderu sendiri.

“Baiklah. Aku akan mengajak Ren-kun untuk ikut dance.” Kata Chida dan mengembangkan senyumnya.

“Asyik!!!” jeritan Aderu sontak membuat kami menutup telinga kami. Jika tidak, bisa-bisa telinga kami rusak jadinya. Hahaha!!

“Hey!! Jangan teriak-teriak kenapa sih?! Kalau senang ya .. bersikap wajar dong! Jangan berlebihan juga kali!!” mendadak Tera protes dengan Aderu. Hal itu membuatku dan Chida langsung tertawa.

Aaaahhhh …. aku akhirnya dapat merasakan kedekatan semua sahabatku disaat ini walau tidak semua sahabatku ada disini. Entah berapa hari lagi aku tidak akan bisa merasakannya hal seperti ini untuk selamanya …

*+*+*

“Tadaima!!” seruku ketika sudah sampai dirumah. Ya aku memang baru saja pulang dari tempat Tera untuk merundingkan kejutan pesta ulang tahun Akane.

Hari ini aku lelah sekali. Kepalaku mendadak pusing berat. Lantai rumahku terlihat bergoyang. Apakah sedang gempa bumi? Sepertinya tidak.

BBRRUUKK!!

“Astaga Tuan muda!!” samar-samar aku mendengar suara jeritan seorang wanita paruh baya. Tapi aku yakin itu bukan suara Mama. Melainkan ….

“Nyonya Kobayashi!! Tolong Nyonya!!” – “Tuan muda!! Tuan muda!!” dugaanku benar. Itu suara bibi pembantu yang ada dirumahku. Ah bibi, tolong jangan panik.

“Astaga, Nak!! Kenapa dia bisa pingsan?” lalu beberapa detik kemudian aku mendengar suara Mama. Ingin sekali aku bangun dari pingsanku, tapi aku tidak bisa. Kepalaku terlalu sakit.

“Bi, tolong bantu angkat Mizuki ke sofa.” – “Baik Nyonya.”

Setelah itu aku benar-benar hilang kesadaran. Sekarang aku tidak tahu apa yang terjadi padaku sekarang.

.

Cukup lama aku berbaring lemah di sofa. Seharusnya selama itu kondisiku sudah lebih baik dari sebelumnya, meskipun penyakit ini tidak akan bisa lenyap dari tubuhku ini.

Aku ingin sadar sekarang. Aku tidak ingin membuat keluargaku panik, terlebih lagi Mama-ku. Pasti dia sangat sedih begitu tahu kondisiku.

Aku harus bisa sadarkan diri. Ayo Juki kau pasti bisa sadar! Setidaknya buatlah kelegaan dalam batin Mama!!

“Mizuki!! Kau sudah sadar, Nak?” akhirnya, aku bisa mendengar suara Mama dengan jelas.

“Ma .. Mama?” ujarku kemudian dengan nada lirih. Rasa sakit dikepalaku masih terasa, akan tetapi tidak separah disaat aku pingsan tadi.

“Syukurlah!! Kamu ini membuat Mama khawatir tahu?” aku pun dapat mendengar dengan jelas suara Mama yang gemetar itu. Aku yakin Mama sangat ketakutan sekali begitu mengingat penyakitku ini.

“Jangan khawatir, Ma. Aku baik-baik saja.” Meskipun aku tak terlihat baik-baik saja, tapi aku berusaha untuk tetap tersenyum didepan Mama agar beliau merasa tenang. Walau mungkin tidak bisa tenang seterusnya.

“Nak, Mama mohon kau tetap bertahan ya. Mama tidak ingin kehilangan anak Mama satu-satunya.” Aku dapat merasakan tangan Mama yang dengan lembut menggenggam tanganku. Selembut kasih sayangnya padaku.

Andai saja … waktu bisa diputar kembali, aku akan segera menyadari penyakitku dan pada saat itu aku akan meminta operasi. Namun itu semua sudah terlambat. Takdir memang tidak bisa diganggu gugat. Jadi yang harus kulakukan hanya … membuat orang-orang terdekatku merasa bahagia sebelum pada akhirnya aku akan meninggalkan dunia ini.

Kupejamkan mataku sejenak. Merasakan kehangatan yang diberikan oleh Mama padaku. Aku beruntung memiliki orang tua sebaik Mama. Dia memang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Itulah yang dinamakan ikatan darah.

“Ne Mizuki.” Dengan cepat aku membuka mataku begitu mendengar Mama memanggil namaku. “Nani?” tanyaku pada Mama selembut mungkin dan mengulaskan senyum kearahnya.

“Kau mau apa, Nak?” aku pun terkejut begitu mendengar Mama mengatakan hal apa yang kuinginkan.

Awalnya aku bingung dengan maksud Mama tadi, tapi terbesit di pikiranku kalau aku ingin sekali bisa hidup lebih lama, menjalani hari-hariku seperti biasa, latihan dance dengan teman-teman, dan juga … menyatakan rasa sukaku pada Akane. Namun itu hanya harapan yang tidak akan bisa kuraih apalagi aku kerjakan.

Dan itu semua gara-gara penyakit yang sialan ini!!

“Sesungguhnya sangat banyak keinginanku, Mama. Aku ingin melakukannya itu dengan usahaku sendiri, meskipun tidak akan berjalan dengan normal. Tapi yang utama … aku hanya ingin membuat semua orang yang aku sayangi merelakan kepergianku. Namun sebelumnya aku akan membuat semua orang yang aku sayangi merasa senang terlebih dahulu. Hanya itu, Mama.” Jelasku pada Mama yang sukses membuatnya menangis.

GREP ..

“Maafkan Mama, sayang. Mama tidak bisa merawatmu dengan baik.” Kini Mama memelukku dengan erat. Refleks membuatku mengangkat tanganku yang lemah ini untuk membalas pelukannya.

“Sudahlah, Ma. Jangan merasa kalau Mama itu bersalah sama aku. Ini memang takdir dan kita hanya perlu menjalani takdir ini, Mama.” Ucapku pada Mama.

“Ne, kalau begitu mulai saat ini Mama akan membuatmu selalu senang ataupun bahagia, Mizuki.” Aku pun bisa bernafas lega sekarang. Aku senang jika Mama tidak akan berpikiran negatif secara terus menerus mengenai kondisiku.

“Arigatou, Mama.”

*+*+*

Hiraoka Gakuen

Hari sabtu pagi merupakan hari favoritku sejak kecil. Bisa dikatakan hari minggunya libur dan aku menyebutnya hari istirahatku dirumah.

Fajar pun menyingsing di ufuk timur. Memberikan cerahnya untuk negeri Sakura sekaligus memberi kehangatan dan semangat pagi tentunya.

Dengan semangat aku melangkah masuk ke sekolah. Yah meskipun tidak seperti dulu semangatnya.

“Juki!!!” kini kudengar suara beberapa orang yang berteriak memanggilku secara bersamaan. Aku pun menoleh kearah sumber suara dan …

“Ohayou!!!” ternyata yang memanggilku adalah rombongan sahabat-sahabatku. Kompak sekali ya manggilnya!!

“Ohayou, Minna!!” jawabku seadanya dan memberikan senyumanku pada mereka semua. Terlebih lagi pada … Akane.

“Eh Juki, kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kau sedang sakit?” tanya Akane begitu dia menyadari wajahku pucat.

Yabai! Kenapa pucatnya dari kemarin tidak hilang sih? Buat orang lain khawatir tahu!!

“Juki, kau sakit ya? Memangnya sakit apa?” kini Chida bertanya padaku. Memperjelaskan pertanyaan Akane mungkin.

“Aku baik-baik saja. Mungkin karena kemarin aku sedikit kelelahan saja.” Jawabku dengan cepat dan tentunya bohong.

“Apa karena latihan dance ya?” ucap Tera.

Ah .. kenapa dugaannya selalu tepat sih?!

“Haha. Sudahlah, Minna. Aku tidak apa-apa kok. Sungguh!” kali ini aku berusaha untuk tetap meyakinkan semua sahabatku agar tidak merasa khawatir.

“Baiklah, kalau Juki memang baik-baik saja, sebaiknya kita segera masuk saja!” aku mengangguk setuju dengan perkataan Aderu barusan.

“Ikou!!” ucap Tera dengan bersemangat dan berjalan mendahului kami semua.

“Itu anak kebiasaan! Selalu mendahului jika sudah bersemangat.” Gerutu Chida begitu melihat sikap Tera barusan. Hal itu membuatku tertawa melihat tingkah laku sahabat-sahabatku yang menurutku terkesan aneh.

 

Kini aku mengikuti Chida dan yang lainnya menyusul Tera, namun langkahku terhenti ketika aku menyadari Akane hanya mematung ditempat. Segera saja aku menghampiri dirinya.

“Akane, doushita no?” tanyaku pada Akane yang mematung dengan arah pandangan menatap lurus kedepan.

“A .. ada .. Negu disana.” Negu? Hara Negumi? Gadis yang akhir-akhir ini sedang dibenci oleh Chida?

“Negu? Dia ada dimana, Akane?” tanyaku penasaran. Namun tidak ada jawaban dari Akane dan hal itu membuatku bingung sendiri. Lalu aku ikuti arah pandang Akane dan …

“Souka. Aku rasa kita perlu mengajaknya masuk. Kasihan Negu hanya sendirian.” Ucapku kemudian setelah tahu dimana posisi Negu saat itu.

Dia melihat Chida yang tengah asyik mengobrol dengan Tera maupun Aderu, dan juga beberapa teman-teman yang lainnya. Rasa gelisahnya sangatlah tampak. Bagaimana tidak? Dia dibenci oleh Chida, padahal Negu juga bagian dari sahabatku dan Chida juga. Apakah diantara mereka berdua ada masalah?

“Ayo Akane. Kita harus menghampiri Negu. Kasihan dia.” Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Akane menghampiri Negu yang tengah bersembunyi dibalik pohon untuk mencuri pandang kearah Chida.

Menyedihkan sekali. Tidak bisa kubayangkan wajah Negu yang menyedihkan itu. Terlebih lagi dibenci oleh Chida, sahabatnya sendiri. Aku bingung kenapa Chida sangat membenci gadis kawaii seperti Negu?

“Negu? Doushita no?” tanya Akane yang mendadak itu dengan sukses membuat Negu terperanjat dari tempat ia berdiri.

“A .. Akane? Mizuki-kun?” ucapnya yang terlihat ketakutan. Apa mungkin Negu terlalu terkejut sampai-sampai dia terlihat takut padaku dan Akane seperti itu?

“Kamu kenapa, Negu? Apa ada masalah?” tanyaku kemudian pada Negu. Sungguh, aku benar-benar kasihan pada gadis yang satu ini.

“Da .. daijoubu.” Jawab Negu singkat. Tapi aku yakin kalau dirinya sedang ada masalah saat ini. Terlebih lagi masalah itu ada hubungannya dengan Chida.

“Negu kita harus bicara sekarang.” Kini Akane memaksa Negu untuk menjelaskan semuanya. Ingin sekali aku mendengar penjelasan dari Negu, tapi ..

“Ano .. Juki kau bisa ke kelas terlebih dahulu.” Ucapnya sekilas padaku. Kemudian .. “Setelah aku tahu masalah Negu, pasti akan kuceritakan.” Bisiknya dan segera pergi bersama Negu dengan kepala yang menunduk itu.

Aku hanya bisa mendesah pelan. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa apa-apa sekarang. Yang perlu kulakukan hanya .. ke kelas.

“Hei!! Juki!!” sebelum aku melangkahkan kaki menuju ke kelasku, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggilku dari arah belakang. Aku pun menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa yang memanggilku barusan.

“Hara-kun? ada apa?” tanyaku kemudian begitu tahu yang memanggilku barusan adalah Hara. ~Yoshitaka Hara.

“Tadi yang bersama Fujiyama-san itu … Negumi kan?” tanya Hara padaku. Ya memang benar tadi yang bersama Akane itu Negu. Tapi kenapa Hara-kun bertanya tentang Negu?

“Ya. Dia Negu. Memangnya ada apa, Hara-kun?” akhirnya rasa penasaranku tersampaikan juga. Aku bingung kenapa si Yoshitaka Hara yang terkenal cuek dengan gadis-gadis disekolah ini mendadak memperdulikan Negu? Atau jangan-jangan ….

“Daijoubu. Aku merasa aneh saja pada gadis itu. Dia yang biasanya periang kenapa mendadak muram gitu wajahnya?” pertanyaan Hara pun hanya kujawab dengan menaikkan kedua bahuku.

Memang benar kalau sebelum Negu ada masalah sama Chida .. dia selalu ceria sekali. Sehingga siswa-siswi disini yang selalu bertegur-sapa dengannya. Tapi, satu hal yang menjadi pertanyaan, ada masalah apa Negu dan Chida sebenarnya?

*+*+*

@Class

“Aaaaa!!! Aku sama sekali tidak mengerti pelajaran kimia!!”

“Sensei!! Kenapa kau memberikan materi yang rumit sekali?! Hah!!!”

“Aku pusing!!!” – “Tidak Cuma kau saja yang pusing! Aku juga kali!!”

“Aaaarrggghhhh!! Aku jadi benci sama Haruma-sensei!!”

Selalu begitu. Setiap selesai pelajaran kimia dikelas, pasti ada keluh-kesal dari siswa-siswi dikelasku. Ya .. bisa dikatakan mereka tidak suka pelajarannya, apalagi gurunya.

Namun hal itu tidak aku hiraukan. Yang kupikirkan hanya diriku. Semenjak terkena penyakit sialan ini, semua mata pelajaran yang lumayan berat sulit kuterima ke dalam ingatanku. Ingin sekali aku memaksakannya agar bisa untuk diingat, tapi jika itu dilakukan akan menambah buruk keadaanku.

Dengan perlahan aku memijit pelipisku dengan kedua jariku di tangan kanan dan kiri. Tepatnya jadi telunjuk dan jari tengah.

“Juki, kau pusing ya?” kini aktivitasku terhenti ketika ada suara siswi yang menanyakan hal itu padaku. Tentunya aku sudah mengenal suaranya …

“Haha. Hanya pusing sedikit. Mungkin efek pelajaran kimia yang lumayan berat kali. Bagaimana denganmu, Akane?” ucapku kemudian. Walau berbohong sebenarnya.

“Hanya sedikit yang kumengerti. Tapi aku kan selalu punya sahabat yang bisa ku andalkan.” Ucap Akane dengan mengulaskan senyumnya. Manis sekali. Dan hal itu membuatku menyunggingkan senyum padanya. Senyum sebaik mungkin.

“Tapi kau tidak apa-apa kan, Juki? Wajahmu terlihat pucat.” Senyuman Akane memudar begitu dirinya tahu kalau wajahku terlihat pucat. Ah bukan, sudah pasti pucat.

“Daijoubu desu. Hanya sedikit kelelahan saja. Kemarin ada pekerjaan rumah. Jadinya ya .. beginilah. Hahaha!” gomen ne, Akane. Aku harus terpaksa berbohong padamu.

          “Oh begitu. Setelah pulang nanti, sebaiknya kau langsung istirahat.” Akane pun memberi nasehat padaku. Justru aku setiap saat selalu istirahat, Akane!!

“Hai!!” Jawabku seadanya karena tidak ingin mengecewakannya jika aku berkata seperti apa yang kupikirkan tadi.

“Hei Juki!! Nanti kita ada latihan dance ditempatnya Geya.” Tiba-tiba sebuah suara menghentikan aktivitas perbincanganku dengan Akane. Aku pun mengenal suara ini …

“Baiklah, Chida-kun. Jam berapa latihannya?” tanyaku seraya membalikkan badan kearah belakang tepat dimana sosok Chida sedang berdiri itu.

“Umm … jam 3 sore.” Jawab Chida singkat.

“Eh? Latihan dance? Untuk apa?” yabai!! Aku lupa kalau latihan dance ini untuk hadiah kejutan pesta ulang tahun Akane. Mana dia bertanya lagi!!

“Etto … untuk .. apa yah …” ucapan Chida terdengar ragu-ragu. Aku yakin dia sedang bingung untuk mencari alasan yang tepat. Asalkan Akane tidak tahu kalau kami mengadakan latihan dance untuk hadiah ulang tahun Akane.

“Ano .. sekedar latihan saja, Akane. Bisa dikatakan untuk event-event tertentu.” Akhirnya tanpa berpikir panjang aku mendapatkan alasan seperti apa yang kukatakan barusan. Supaya Akane tidak curiga tentunya.

“Souka.” Jawab Akane dengan singkat. Untung saja dirinya tidak curiga padaku apalagi Chida.

*+*+*

@Takuya Kageyama House

“Juki!! Kenapa kau salah gerakan lagi? Bukan seperti itu gerakannya!!”

Lagi-lagi salah!! Gerutuku dalam hati. Bagaimana tidak? Setiap latihan dance aku selalu salah gerakan. Apa karena penyakit sialan ini aku jadi selalu salah gerakan? Sudah pasti jawabanya IYA!!

“Gomen ne, Geya. Aku akan mencobanya lagi.” Ucapku dan kemudian mencoba untuk memperbaiki kesalahanku pada gerakan dance ini.

“Konsentrasilah, Juki. Jika kau ingin kejutan ini terkesan untuk Akane-san, sebaiknya kau lebih serius dan konsentrasi dalam latihan ini!!” Aku hanya mengangguk mengiyakan nasehat Geya.

Kami-sama, aku ingin seperti dulu. Selalu bisa latihan dance dengan baik, terlebih lagi bersemangat dalam latihan dance. Tapi apa daya .. aku yang sekarang sangatlah lemah untuk bisa semangat seperti itu. Setiap bersemangat, aku selalu pusing dan hampir mau pingsan.

Tapi bagaimanapun juga aku harus bisa bersemangat layaknya aku yang dulu. Ini demi Akane. Setidaknya sebelum aku meninggal nantinya, aku dapat melihat senyuman Akane untuk yang terakhir kalinya.

          “Hey Juki!! Kau melamun atau sedang memperhatikan gerakanku sih?” lagi-lagi Geya protes begitu aku sedang melamun. Ah!! Aku ini payah sekali!!

          “Gomen. Ayo kita coba lagi latihannya. Kali ini aku akan lebih konsentrasi.” Kali ini entah kenapa aku tiba-tiba menjadi bersemangat sekali. Apa karena dari dalam diriku yang ingin sekali membahagiakan Akane sampai-sampai bersemangat seperti ini?

“Baiklah.” – “Kita mulai dari awal, Minna!!” ucap Geya kemudian. Lalu semua kawan-kawanku yang ada ditempat ini mulai mengambil posisinya masing-masing, termasuk aku.

“Hei, Geya!! Lagu dance-nya ditambah Supersonic saja? Terus kalau letaknya dibagian akhir pasti bagus!!” Baru saja kami akan memulai latihannya lagi, tetapi mendadak Tera mulai berbicara semenjak dirinya hanya diam dan itu masalah penambahan lagu. Menurutku lumayan aneh jika ditambahkan lagi kalau lagunya sudah fix.

“TERA!!!!” kemudian semua teman-ku yang ada disini langsung berteriak begitu mendengar Tera mengatakan hal itu tadi. Aku hanya terkekeh saja melihat reaksi semua teman-ku ini.

“Kau ini!! kenapa gak dari dulu saat kita menentukan lagunya!! Dasar!!” protes Hanzawa pada Tera dan kemudian menjitak kepala pria itu.

“Gomen ne. Kan hanya bercanda, minna!!” ucap Tera dan menunjukkan barisan giginya itu. Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil menghembuskan nafas. Teman-temanku benar-benar lucu sikapnya!!

“Sudah-sudah!! Sekarang kita lanjutkan latihannya. Aku ingin Hara Negumi saat melihatku perfom dance di acara ulang tahun Akane bisa melted. Tentunya aku juga ingin terlihat keren dimata Negumi-chan!!”

DEG. Aku tidak menyangka kalau salah satu kawanku, Yoshitaka Hara, mengucapkan nama Hara Negumi didepan kawan-kawanku yang lainnya. Terlebih lagi disana ada Chida. Apa dia terkejut?

Lalu kualihkan pandanganku untuk melihat Chida. Raut wajahnya terlihat marah. Ah bukan, bahkan raut wajahnya terkesan marah. Apa mungkin Chida benci jika Yoshitaka Hara mengatakan ‘Hara Negumi’ didepannya? Tapi disisi lain aku bingung. Chida sangat keji sekali dengan Negu. Ada masalah apa sebenarnya?

“Yosh!! Kita lanjutkan latihanya, Minna!!!”

Lebih baik aku diam saja daripada mencari tahu masalah Chida, Negu, maupun Yoshitaka.

Aku hanya bisa berdoa semoga saja masalah mereka bertiga cepat selesai.

*+*+*

Kediaman Kobayashi Mizuki

BBRRAAKK ..

“Ittaaii.” Lagi-lagi kepalaku sakit. Mungkin karena aku terlalu lelah jadinya kambuh lagi sakitnya. Tapi untungnya aku tidak sampai pingsan seperti kemarin.

Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki dari arah dalam. Dan suara itu semakin mendekat. Apakah Bibi? Atau Mama?

“Tuan Muda tidak apa-apa? Tadi saya mendengar ada kebisingan diluar. Jadinya saya datang kemari.”

Ternyata Bibi yang datang kemari. Kepanikan kini ada diwajah bibi. Tapi aku menghiraukannya. Dan langsung bertanya pada bibi,

“Mama sedang pergi ya, Bi?”

“Iya Tuan Muda. Nyonya Kobayashi sedang rapat dadakan di kantor.” Jelasnya.

“Lalu Otoutochan?” tanyaku lagi pada Bibi.

“Tuan Rikito belum pulang dari les, Tuan Muda.” Aku hanya mengangguk-angguk mengerti. Sekarang yang aku butuhkan hanya istirahat. Tidak hanya mengistirahatkan tubuh, tetapi juga mengistirahatkan kepalaku yang berdenyut dengan cepat.

“Tuan Muda mau saya buatkan teh?”

“Tidak, Bi. Aku hanya ingin tidur. Tolong katakan pada Mama atau Rikito kalau ingin menemuiku, aku ada dikamar.” Jelasku.

“Baik, Tuan Muda.”

Dengan segera aku pun menuju kamar. Hari ini benar-benar lelah sekali. Latihan sehari yang cukup berat sekaligus latihan terakhir karena besok sudah mulai perfom di pesta ulang tahun Akane.

Semoga saja … Akane suka dengan hadiah ini.

Sesampainya diriku dikamar, aku segera mengambil handuk kecil untuk menghilangkan semua peluh yang ada di dahiku dan juga dibagian leher.

Setelahnya aku langsung pergi kekamar mandi untuk membasuh diri supaya lebih segar. Walau tidak segar sepenuhnya dengan keadaanku seperti ini.

.

RING RING …. RING .. RING ..

Barusaja keluar dari kamar mandi seketika itu juga keitai-ku berbunyi diatas meja belajar. Sambil mengeringkan tubuh yang basah, aku pun segera mengambil keitai-ku di meja belajar.

Akane? Tumben sekali dia meneleponku.

“Moshi-moshi.” Ucapku memulai pembicaraan.

Hai. Moshi-moshi. Fujiyama Akane desu.” Ujar Akane diseberang sana.

“Ada apa, Akane?” tanyaku to the point pada Akane. Tidak seperti biasanya, aku yang dulu suka sekali basa-basi kalau berbicara dengan Akane.

Ano, bisakah kau datang ke Taman Yoshioka? Ada hal yang ingin kubicarakan padamu.” DEG!! Tumben Akane mengajakku ketemuan di Taman Yoshioka. Kira-kira tentang apa ya?

sekilas aku melihat jam dinding yang terpasang di dinding kamarku bagian utara sana. Masih jam setengah 7 malam. Mungkin tidak apa-apa jika aku tidak menolak ajakan Akane. Ini kesempatan yang bagus untukku.

“Bisa kok. Kau ingin aku berangkat sekarang?” tanyaku pada Akane.

Iya. Tapi kalau sedikit terlambat juga tidak apa-apa. Lagipula hal yang ingin aku bicarakan padamu juga tidak begitu penting. Hahaha!!” terdengar Akane sedang tertawa. Hal itu juga membuatku tertawa ditambahkan senyum juga. Untuk Akane, siapa sih yang tidak bisa datang? Hahahah!!

“Baiklah. Tunggu ya, Akane sayang.”

Eh? Sayang? Ke .. kenapa .. kau ..” Yabaii!! Kenapa aku jadi kelepasan kata sih!! Bisa-bisa dia marah lagi kalau aku berkata ‘sayang’ pada Akane.

“Ah, bukan apa-apa kok Akane. Maaf ya aku kelepasan bicara. Hehe.” Ucapku kemudian dan meminta maaf pada Akane.

Daijoubu. Ne aku tunggu kau di Taman Yoshioka ya. Jika kau sudah datang duluan dibanding aku, tunggulah dibawah pohon Sakura yang besar itu. Oke?

“Oke. Saa … aku tutup ya teleponnya. Jya matta ne!!”

Jya matta ashita!!

Entah kenapa aku merasa bersemangat sekali. Hari ini aku akan menemui Akane di taman malam ini.

.

Oniichan? Tumben keren sekali. Memangnya mau kemana?” terdengar suara adikku, Kobayashi Rikito, yang sedang duduk manis di meja makan.

“Menemui seseorang.” Jawabku singkat dan melanjutkan menuruni tangga.

“Etto, Oniichan sebaiknya makan malam dulu. Nanti sakit loh kalau tidak makan.” Ucap adikku yang berlagak menasehatiku itu.

“Maaf, Rikito-kun. Aku sedang tidak nafsu makan. Mungkin setelah pulang aku akan makan kok. Jadi kau makan duluan saja.” Jelasku kemudian.

“Kalau Mama sudah pulang, bilang padanya kalau aku sedang pergi untuk menemui seseorang. Saa .. ittekimasu!!” aku pun segera berbalik dan mengambil sepatu yang tertata rapi di rak sepatu.

*+*+*

Yoshioka Park

Sesampainya di Taman Yoshioka, aku pun segera mencari tempat yang telah ditentukan oleh Akane. Pohon Sakura yang besar.

Aku mulai tersenyum. Pohon Sakura sudah tampak didepan sana. Aku kira akan kebingungan dalam mencari pohon sakuranya. Tapi dugaanku salah.

Kirei na! Gumamku kemudian. Malam musim semi ini akan semakin indah jika pohon sakura yang bermekaran juga indah. Dengan cepat aku menghampiri pohon sakura itu dan menemui Akane. Um .. bisa juga aku akan menunggu kedatangan Akane.

“Sebaiknya aku duduk disini.”

Lalu aku mengambil posisi duduk tepat dibawah pohon sakura. Disaat menundukkan kepala, tiba-tiba kepalaku sakit lagi. Aku rasa sakitnya mulai kambuh lagi. Tapi aku harus bisa bertahan dan juga aku tidak ingin Akane sampai tahu tentang hal ini, meskipun pada akhirnya dia juga segera mengetahuinya.

Untung saja dari rumah aku sudah membawa minyak aromatheraphy. Jika mendadak kepalaku pusing, aku selalu menggunakan minyak ini. Walaupun hanya sementara, tapi setidaknya tidak akan mengganggu aktivitasku. Lagipula tadi belum makan malam, jadi belum minum obat juga. Setelah itu aku memejamkan mata untuk menikmati udara malam hari.

“Konbanwa, Juki.” Belum lama aku menikmati udara di malam hari, sebuah suara telah mengejutkanku. Dengan cepat aku membuka mata untuk melihat siapa orang yang memanggilku barusan.

“Eh, Akane. Kau sudah datang rupanya.” Ucapku dan mengulaskan senyuman kepadanya.

“Hai. Maaf telah membuatmu lama menunggu, Juki.”

“Tidak apa-apa, Akane. Lagipula aku juga baru saja datang.” Lagi-lagi aku mengulaskan senyumanku untuk Akane. Dia pun juga membalas dengan senyuman. Manis sekali. Aku yakin saat ini pipiku sudah merona.

“Duduklah dan mulailah untuk menceritakan sesuatu padaku.” Kini aku mulai menepuk-nepuk bangku panjang. Memberi isyarat pada Akane untuk duduk disebelahku.

Setelah Akane duduk, “Ano Juki .. besok kan hari ulang tahunku. Apakah kau mau datang ke pestaku?” Akane .. Akane .. soal ulang tahunmu aku sudah tahu sejak awal. Apalagi pesta ulang tahunmu!

“Haha. Aku sudah tahu soal itu, Akane. Dua hari yang lalu Tera memberitahu. Hehe.” Ucapku kemudian. Kulihat Akane hanya menganggukan kepalanya saja.

“Souka. Ano, mumpung belum malam, maukah kau menemaniku untuk jalan-jalan, Juki?” jam segini? Jalan-jalan? Dengan Akane?

“Umm ..” sejenak aku berpikir. Ada bagusnya juga sih. Pergi jalan-jalan dengan Akane “Boleh saja, Akane. Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Haha!!” Entah kenapa perkataanku ini sedikit aneh dan membuatku tertawa. Begitu pula dengan Akane.

“Arigatou, Juki.” Ucapnya singkat.

“Douita, Akane. Nah, sekarang kau mau kita kemana?”

“A .. aku ingin pergi membeli gaun untuk pesta ulang tahunku besok. Seharusnya hari ini aku pergi dengan orang tuaku. Tapi mereka kebetulan tidak bisa menemaniku, jadinya ya .. aku mengajakmu. Haha!”

“Oh begitu. Ya sudah sebagai hadiah ulang tahun dariku, aku akan menemanimu jalan-jalan.”

“Ano .. tapi kita mampir makan dulu. Aku sudah lapar dan juga masakan dirumah tidak enak.” Aku hanya bisa terkekeh begitu melihat Akane mengelus pelan perutnya. Ah, kebetulan sekali! Aku juga belum makan.

“Kebetulan sekali, Akane. Aku juga belum makan, tapi aku bawa uang. Jadi aku akan mentraktirmu makan.” Kataku kemudian.

“Arigatou, Juki. Sebenarnya aku juga bawa uang. Hehehe!” Akane pun terkekeh pelan setelah mengucapkan kata-katanya itu. Namun aku hanya tersenyum saja.

“Sa .. ikou!!”

Ucapku dan kemudian mengulurkan tangan kananku kearah Akane. Tujuanku simple saja, hanya ingin menautkan tanganku dengan tangan Akane. Kulihat dirinya menerima uluran tangan dariku dan melangkah mendahuluiku. Otomatis aku langsung mensejajarkan posisiku dengan Akane.

.skip 2 jam.

Saat ini .. entah kenapa aku merasakan kebaikan Kami-sama atas semuanya ini. aku pun tidak bisa menyebutkan semuanya. Yang jelas salah satunya adalah memperkenankan diriku bisa pergi bersama dengan Akane. Seumur hidupku baru pertama kali diajak pergi oleh seorang gadis. Apalagi kalau gadis itulah yang disukai. Pasti senang bukan?

Terima kasih, Akane. Aku bahagia bisa pergi bersamamu walau hal ini bukan semacam kencan atau lainnya. Tapi aku telah menganggap ini sebagai kencan pertama kita. Hari ini adalah kencan terakhir kita. Dan besok, disaat hari ulang tahunmu adalah hari terakhir aku melihat senyummu, kebahagianmu untuk yang terakhir kalinya.

“Ne .. sekali lagi terima kasih Juki karena kau sudah menemaniku jalan-jalan hari ini.”

“Iya Akane. Lagipula aku juga bosan dirumah, jadinya aku menerima ajakanmu. Hahaha!”

“Oh, kalau misalkan kau tidak bosan dirumah, apa kau mau menerima ajakanku?” kata-kata itu membuatku jadi terdiam. Aku tidak tahu mengapa perkataan Akane membuatku jadi diam seperti ini.

“Haha Juki, kau ini serius sekali. Aku hanya bercanda. Jangan sampai panik begitu. Hahaha!!”

“Akane!! Kau ini membuatku terkejut tahu!” ternyata Akane hanya bercanda. Aku sempat kebingungan mau menjawab apa. Sesungguhnya simple saja sih, tapi tatapan matanya tadi …. uuggghhh!!

“Maaf. Nah lebih baik Juki segera pulang. Terima kasih sekali lagi aku ucapkan, Juki.” Ucap Akane yang berterima kasih itu dan kemudian membungkukkan badannya.

“Iya Akane. Ya sudah kau cepat masuk kedalam dan aku langsung pulang. Jya matta ne!!” akupun melambaikan tangan kearah Akane setelah dirinya berdiri dengan tegak.

“Hai!! Jya matta ashita!!” ucapnya dan langsung masuk kedalam rumahnya.

Sebaiknya aku harus cepat pulang. Sakit dikepalaku ini semakin memburuk.

*+*+*

“Tadaima …” ucapku dengan lemah. Lagi-lagi sakit dikepalaku kambuh lagi.

BBRRAAKK!!!

“Ittai!!” entah ini yang keberapa kalinya aku selalu jatuh tepat bersentuhan dengan pintu rumah.

“Oniichan!! Daijoubu ka?!” – “Mama!! Bibi!! Tolong Mizuki-nii!!”

Kenapa kau tidak bisa bangun Juki? Ayolah bangun!! Setidaknya jangan buat Mama, Rikito, maupun bibi khawatir akan dirimu!!

.

.

“Maaf, Nyonya Kobayashi. Penyakit anak anda semakin memburuk dan sudah saya prediksi kemungkinan besar besok anak anda bisa meninggal. Sesungguhnya kami bisa mengadakan operasi, tetapi resikonya anak anda akan lumpuh seumur hidupnya. Penyakit kankernya sudah lama hinggap di jaringan otaknya sehingga mudah sekali tidak bisa konsentrasi dengan apapun.”

“Memangnya tidak ada ya kalau operasi itu tidak akan menjadikan anak saya lumpuh, Sensei?”

“Tidak ada, Nyonya. Semua orang yang memiliki penyakit kanker otak terlalu lama memang bisa dioperasi, tapi akan berakibat fatal. Lagipula anak anda juga suka sekali dance bukan? Saya kasihan jika anak anda tetap harus dioperasi, seluruh jaringan tubuhnya akan lumpuh sepanjang hidupnya.”

“Sensei!!! Kenapa tidak ada jalan lain untuk hal ini!!! aku mohon Sensei!! Selamatkan anak saya!! Saya tidak ingin kehilangan anak saya!!”

Samar-samar aku bisa mendengar percakapan Mama dengan seorang dokter. Dan penjelasan dari Dokter itu membuatku ……… drop.

Mama … aku minta maaf. Karena aku, Mama dan yang lainnya jadi panik seperti ini. Lebih baik aku meninggal daripada hidup dengan organ tubuhku yang lumpuh nantinya …

Sesungguhnya ada sedikit harapan karena aku ingin hidup dengan normal. Tapi takdir tidak bisa diubah dan aku harus menjalaninya. Jika besok aku akan meninggal, setidaknya dari sekarang aku harus bangun dan melakukan hal-hal bersama dengan Mama dan Rikito. Tentu juga dengan Papa.

Ayo Juki!!! Kau harus bangun sekarang jika kau ingin melakukan banyak hal dengan keluargamu saat ini!!

“Ma .. mama ..”

“Mizuki!! Syukurlah, Nak!!” tanpa hitungan detik Mama langsung memelukku.

“Mizuki-nii!!” Rikito pun juga sama dengan Mama. Langsung memelukku tanpa hitungan detik. Hal itu membuatku mengangkat kedua tanganku untuk membalas pelukan dari mereka.

“Jangan khawatir soal itu, Mama.” Ucapku berusaha menenangkan hati Mama.

“Tapi Mizuki-nii …” – “Setidaknya saat ini kita akan melakukan hal-hal yang menyenangkan.” Ucapku menyela perkataan Rikito. Membuat Mama dan Rikito menjadi diam. Mungkin sedang mencerna apa yang kukatakan barusan.

Aku pun melihat Mama yang menghapus air matanya itu. “Baiklah Mizuki. Mama akan menuruti semua yang kau mau. Saat ini juga.” Ucap Mama.

“Aku juga, Mizuki-nii!!”

“Arigatou, Mama, Rikito!!” ucapku yang berterima kasih pada Mama dan adikku.

“Sa .. kalau begitu saya permisi dulu.” Tiba-tiba Dokter yang memeriksaku itu izin pamit pulang.

“Arigatou, Sensei.” Ucap Mama dan Rikito bersamaan sambil membungkukkan badannya. Dokter itu menggangguk dan tersenyum kemudian membalikkan badanya menuju ke ambang pintu rumah.

“Bi, tolong antarkan Sensei sampai diluar gerbang!” – “Baik Nyonya!”

Ingin sekali aku bangkit dari sofa ini dan menuju ke kamarku. Alhasil pun tidak bisa. Kepalaku masih sakit jika aku bergerak sedikit.

“Mizuki-nii mau ke kamar? Aku tuntun ya?” tanya Rikito padaku. Namun aku hanya menjawabnya dengan sekali anggukkan kepala.

“Terima kasih, Rikito.” Ucapku kemudian.

Kini adikku, Rikito, mulai membantuku untuk bisa bangkit dari sofa. Aku merasa geli sendiri ketika tahu kalau aku ini benar-benar pria lemah. Bagaimana jika aku berkutat ingin dioperasi? Pasti aku akan jadi pria paling lemah dimuka bumi ini.

“Loh? Kalian mau kemana?” tanya Mama begitu dia mengetahui diriku beranjak dari sofa yang dibantu oleh Rikito.

“Ke kamar Mizuki-nii, Mama.” Jawab Rikito sekilas dan kemudian kembali fokus untuk menuntunku.

“Mama bantu ya?” baik aku maupun Rikito mengganggukkan kepala. Senang juga kalau Mama ingin sekali membantu Rikito, agar dia tidak kesusahan saat membantu menuntunku sampai dikamar.

“Terima kasih, Mama, Rikito. Sampai disini saja ya. Biarkan aku mencoba berjalan sendiri sampai masuk kedalam kamar.”

“Tapi …”

“Tidak apa-apa. Mizuki kan belum lumpuh, jadi tidak masalah Mama.” Ucapanku kini menyela perkataan Mama.

“Sebaiknya Mama dan Rikito kembali tidur. Ini sudah malam. Sekali lagi terima kasih ya.”

“Sama-sama!” ucap Mama dan Rikito bersamaan. Sekilas aku memberikan senyuman pada mereka berdua dan kemudian aku langsung masuk kedalam kamarku sendiri.

“Sebaiknya aku menulis surat untuk semua sahabatku. Terlebih lagi untuk Akane. Setelah itu aku akan membuat origami berbentuk bunga sakura. Aku harap Akane suka dengan hadiah-ku ini.”

Segera saja aku langsung menuju meja belajar dan kemudian mengambil beberapa lembar kertas yang akan kutulis nantinya. Setelah itu aku mencari beberapa kertas lipat berwarna-warni yang biasanya untuk origami. Warna merah muda sedang ku-cari saat itu.

“Untung saja aku punya banyak kertas origami. Tepatnya warna merah muda lebih banyak. Jadi aku bisa membuat origami model bunga sakura.”

Tanpa memilih-milih warna kertas origami, aku langsung mengambilnya dan membawanya ke meja belajarku.

“Lebih cepat .. lebih baik, Juki!!”

Kini dengan semua tenangaku yang tersisa, aku mulai melakukan penulisan surat dan juga membuat origami model bunga sakura.

*+*+*

“Yabaii!! Aku baru ingat kalau hari ini latihan lagi di tempat yang akan diadakan pesta ulang tahun Akane nanti!!”

Terlambat lagi. Semenjak penyakit kanker ini aku jadi sering menjadi pria yang lambat. Maklum lah namanya juga sakit, sesuatu yang dikerjakan pasti jadi lambat.

“Untung saja aku sudah selesai membuat origami ini.” ucapku dan kemudian memasukkan beberapa buah origami yang sudah terbentuk bunga sakura ini kedalam tas.

Setelah itu aku langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

.

TAP TAP TAP …

“Mizuki? Kau mau kemana?” tanya Mama begitu melihat diriku sedang terburu-buru.

“Aku harus pergi ke Restoran Hilary, Ma. Mau mempersiapkan untuk pesta ulang tahun Fujiyama Akane nanti malam.” Jelasku pada Mama.

“Souka. Ah, kalau begitu bawa bekal ini dan juga obatnya supaya penyakitmu tidak kambuh lagi. Meskipun hari ini …”

“Sstt. Mama jangan berkata seperti itu. Kita belum tahu kapan waktunya, kan?” – “Etto .. bukankah ini bekal makanan punya Rikito?” tanyaku yang secara langsung mengalihkan pembicaraan.

“Iya. Tapi begitu kau tidak sarapan terlebih dahulu, ya bekal makanan punya Rikito Mama kasih ke kamu. Mama bisa buat lagi bekal makanan untuk Rikito.” Aku hanya mengangguk. Kemudian memasukkan bekal makanan dan juga obat kedalam tas.

“Sa .. ittekimasu!!” tanpa menunggu lebih lama aku segera berlari dengan tempo pelan menuju rak sepatu dan berpamitan.

“Itterashai!!”

.

“Juki!!! Untung saja kau cepat datang.” Tiba-tiba Chida langsung menepuk pelan pundakku begitu tahu aku datang dengan tergesa-gesa.

“Ada apa, Chida?” tanyaku kemudian.

“Ada sedikit perubahan dengan gerakan dance-nya dan kau lebih banyak gerakannya.” Jelas Chida yang sukses membuatku terkejut.

“Apa?! Gerakan-ku paling banyak?”

“Iya. Ada juga bagian kau melakukan salto, Juki. Tadi baru saja Geya yang mengatakan itu. Katanya hanya kau yang cocok diberi gerakan seperti itu.” Jelas Chida lagi. Rahangku mengeras. Bagaimana tidak? Dengan keadaanku seperti ini harus melakukan gerakan salto?

“Maaf. Tapi tidak ada anggota lain yang cocok selain aku? Aku rasa …”

“Tidak, Juki. Hanya kau yang cocok. Lagipula kau juga ingin membuat Akane terkesan padamu, kan?” perkataanku disela oleh Chida. Memang benar kalau aku ingin membuat Akane terkesan denganku, tapi …

“Aku tahu kau sebenarnya gugup kan, Juki?” bukan gugup, Chida!! Tetapi …

“Aku yakin kalau kau bisa, Juki. Dulu kan kau pernah diberi gerakan seperti ini tiap-tiap event tertentu kan? Dan itu pun kau bisa melakukannya.”

“Sudahlah, Juki. Jangan terlihat gugup seperti itu. Kau tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat kalau soal dance. Ya sudah, kau lekas bersiap-siap dan kita mulai latihan diatas panggung 15 menit lagi.”

Entah mengapa kakiku kini mulai melemah dan rahangku mengeras. Karena tidak bisa mengontrol keseimbanganku, tiba-tiba aku langsung terjatuh begitu saja. Untungnya aku terjatuh tepat di atas sofa jadi tidak perlu terbentur lantai.

Sebenarnya tidak masalah kalau aku diberi gerakan salto. Tapi …

“Hei Juki!! Kau bawa bekal? Kita sarapan dulu yuk!!” tiba-tiba Tera datang dan langsung mengambil tempat duduk disebelahku.

“Ah .. um … bawa kok. Hahaha!!” ucapku seraya menganggukkan kepalaku. Walau saat ini aku tidak berniat sarapan tapi bagaimanapun juga perut ku perlu diisi makanan. Setidaknya sebagai sumber tenaga untuk latihan nanti.

Lalu aku mengambil bekal makananku (yang seharusnya milik Rikito) dari dalam tas. Kemudian membuka penutupnya dan melihat isi bekal itu.

“Huaaa” – “Eh??” ucapku dan Tera bersamaan. Hal itu sukses membuatku menatap Tera dengan tatapan bingung.

“Huaaa!! Kenapa bekal kita sama, Juki!!” kini aku menatap bekal yang dibawa Tera untuk memastikan benar tidaknya perkataan Tera barusan.

Dan apa yang kulihat? Isi bekal makanan kami sama. Nasi dengan ikan salmon yang digoreng dengan tepung berukuran kecil, kemudian ada sushi, udang tepung maupun takoyaki juga. Benar-benar nasib ya … hahaha!!

“Haha!! Isi bekal makanan kalau sama sih tidak masalah, Tera. Asalkan tempat bekalnya dan hiasan isi bekalnya tidak sama. Hahaha!!” candaku yang sukses membuat Tera tertawa.

“Haha!! Kalau begitu kita langsung makan saja. Aku benar-benar lapar!!”

“Itadakimasu!!!” ucapku dan Tera bersamaan seraya mengambil sumpit.

“Hei, kalian!! Makannya cepat sedikit ya! Sebentar lagi kita mulai latihanya!!”

Yabaii …..

*+*+*

Latihan keras telah kulalui tadi. Rasa kecewa, kesal, letih, tergabung menjadi satu. Untung saja penyakit kanker otak ini tidak kambuh karena aku sudah minum obatnya untuk menghilangkan rasa sakitnya. Walau kutahu ini hanya sementara …

Saat ini aku sedang menyiapkan diri didalam ruang rias. Beberapa orang berlalu lalang tapi aku tidak menghiraukannya. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang akan terjadi nantinya …

Jika Kami-sama berkehendak kalau hari ini aku akan mati, aku akan menerimanya. Asalkan tugasku untuk membahagiakan semua orang yang aku sayangi telah dinyatakan selesai!!

Entah mengapa hati kecilku ini terasa tidak enak. Apa hanya perasaan saja? Bisa jadi. Tapi hati kecil ini masih takut dengan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Semoga saja acaranya berjalan dengan lancar ….

“Ne Juki. 5 menit lagi kita harus bersiap-siap diatas stage.” Tiba-tiba lamunanku buyar begitu mendapati seorang pria yang tidak kukenal datang menghampiriku.

“Ah, baiklah.” Jawabku singkat dan kembali fokus merapikan gold-tuxedo yang sedang kukenakan ini.

Kami-sama … tolong …

.

AUTHOR POV

Kini waktu yang ditunggu-tunggu telah terjadi. Pesta ulang tahun Fujiyama Akane yang ke-17. Pesta yang dirayakan secara meriah di Restoran Hilary. Restoran bintang 5 seluruh penjuru negara Jepang.

“Marilah kita sambut kehadiran princess-Akane!! Yang akan diiringi oleh sebuah dance oleh Yoshitaka Hara, Takuya Kageyama, dan Takuto Teranishi!!!”

Sang MC pun berseru. Suaranya menggema diseluruh penjuru restoran.

“Yatta!! Negumi-chan datang!! Ini perfom pertamaku, jadi aku harus membuatnya terkesan apalagi jatuh cinta padaku!!” seorang pemuda bernama Yoshitaka Hara ini sangat senang sekali jika menyangkut soal Negumi. Lengkapnya Hara Negumi. Disisi lain sepertinya Chida Kyohei tidak menyukainya. Ada masalah apa sebenarnya?

“Ah kau ini. Kalau soal Negumi-san selalu semangat.” Gerutu salah satu temannya. “Aku juga mau membuat Aderu-chan terkesan padaku.” Lanjutnya.

“Aku dengar si Mizukana-san lagi masa-masa sukanya sama Meguro Ren-kun.” jelas Yoshitaka pada temannya itu.

“Gak penting ah!! Yang penting Aderu-chan terkesan padaku.” Ketus temannya itu.

“Terserahlah. Kau susah diatur, Geya!! Sekarang cepat bersiap-siap sana, dari tadi Tera menunggu!!” kini Yoshitaka mendorong-dorong temannya yang dipanggil Geya itu menuju ke atas stage.

“Kalian ini lama sekali. Ayo cepat bersiap-siap sana!!” ketus teman yang lainnya pada Yoshitaka dan Geya.

“Juki sama Chida kemana, Geya?” tanya Yoshitaka pada Geya sambil menoleh kesana-kemari untuk mencari sosok Mizuki dan Chida.

“Buat apa kamu cari mereka? Sudah jelas mereka sedang bersiap-siap diruang rias.” Jawab Geya dengan ketus dan malas. Sebenarnya Geya tidak yakin dengan jawabannya, tapi ya .. mau bagaimana lagi?

“Kalian ini kenapa masih disini? Kalian perfom pertama kali tahu!! Lalu dimana Tera?” salah satu kawan dance Yoshitaka dan Geya menyadari kalau daritadi mereka  hanya berdiri saja. Kemudian menoleh kesana-kemari untuk mencari sosok Tera.

“Iya-iya!! Kau berisik sekali, Seiji-kun!! kalau begitu kami langsung saja. Jyaa!!!” tanpa banyak bicara Geya maupun Yoshitaka segera menuju ke atas stage untuk performance dance penyambutan kedatangan Akane Fujiyama.

.

Kobayashi Mizuki POV

Kami-sama, benarkah ini? benarkah apa yang kulihat saat ini? Akane …. sangat cantik dengan gaun pesta itu.

Dari balik tirai, aku pun mencari kesempatan untuk mencuri pandang melihat Akane yang baru saja masuk kedalam restoran ini. Rambutnya yang dimodel sanggul beserta pernak-pernik sederhana yang menghiasi rambutnya sangat dominan dengan gaun yang dikenakannya itu. Berwarna emas, sama persis dengan gold-tuxedo yang kukenakan ini, dengan berbagai hiasan bunga sakura emas melingkari pinggangnya.

Aku senang bisa melihatnya saat ini. Setidaknya akan memberikan perasaan lega bagi diriku di kesempatan-ku yang teramat singkat ini.

Aku tidak yakin apakah aku akan bisa melakukan gerakan dance salto dengan keadaanku yang seperti ini nantinya? Aku harap bisa. Seperti aku melakukan gerakan itu layaknya orang tidak mempunyai penyakit khusus.

Bagaimana pun juga ini demi Akane … setidaknya disaat-saat terakhirku, aku ingin melihat senyumnya untuk yang terakhir kalinya …

“Ano …” sebuah suara kini mengusik keasyikanku melihat Akane dibalik tirai stage. Dengan cepat aku menoleh keasal suara itu.

“Aderu? Ada apa?” tanyaku kemudian begitu mengetahui seseorang yang telah mengusik keasyikanku melihat Akane itu adalah Aderu. ~Mizukana Aderu.

“Sebaiknya kau segera bersiap-siap, Juki.” Jelasnya kemudian. Aahh kenapa aku tidak sadar?

“Baiklah.” Jawabku singkat dan segera pergi.

Dan entah mengapa aku sangat gugup sekali ….

“Hey Juki!! Kau sudah siap?” tanya Chida padaku. Tentunya jawabanku tidak. Dengan keadaanku seperti ini, bagaimana bisa siap?

Namun aku tidak mungkin menjawab tidak siap. Lagipula aku harus siap dengan semua resikonya.

“Aku siap.” Jawabku. Lalu dengan hati yang berdebar-debar aku mulai berjalan keluar menuju ke atas stage yang akan diikuti oleh beberapa kawanku lainnya.

Lakukanlah seperti layaknya dirimu yang dulu, Juki!!!

Aku pun menghembuskan nafas dan mencoba untuk tetap tenang. Bagaimanapun juga aku harus bisa melakukannya seperti aku yang dulu … sebelum memiliki penyakit ini.

Sorak-sorai pun menggema diseluruh penjuru Restoran Hilary. Beberapa dari mereka ada yang berteriak menyebut nama kami. Layaknya kami seperti artis. Maklumlah karena dulu kami selalu menang jika ada perlombaan dance dimanapun.

“Ren-kun!!!” – “Hanzawa!!!” – “Juki!!!” – “Chida!!!” – “Geya-kun!!!!” – “Hara-kun!!!” – “Tera!!!” – “Shany-kun!!!!!”

“AAAAAA KAKKOI!!!”

Begitulah mereka begitu mengetahui kami perfomance dance ditempat ini. Dengan cepat aku maupun yang lainnya mengambil posisi di atas stage.

“Haha .. Kita seperti artis saja ya, Minna-san?” bisik Geya pada kami semua.

“Pasti dong. Kita memang artis. Hahahah!!” seru Chida.

“Sudah-sudah. Sebentar lagi kita mulai, minna-san. Jadi bersiaplah.” Kini Tera memberikan instruksi pada kami semua kalau kami harus bersiap-siap.

Kini iringan lagu pop yang mengiringi dance kami telah berjalan. Aku pun mulai fokus pada gerakan-gerakannya. Lagu pertama adalah Music for the people – V6. Kemudian berganti dengan lagu Beat Your Heart – V6. Dan selanjutnya lagu Sakura Gaaru – NEWS telah berjalan.

“AAAHHH KAKKOI!!”

Teriakan itu kembali terdengar. Disaat pertengahan dance aku pun menyempatkan diri melihat Akane sekilas yang duduk di meja makan restoran itu dengan pandangan takjub. Mungkin. Pandangan matanya tidak lepas memandangku. Sempat aku merasa shock ketika Akane terus-terusan memandangku.

Semoga saja … Akane senang …

Kini lagu selanjutnya adalah Dancin’ in the Secret – NEWS. Beberapa kawan-kawan kami dari grup Travis Japan (5 member) mendadak keluar dengan mengenakan jubah berwarna biru gelap.

“KYAAAAA !!! KAKKOI !!!”

Teriakan itu kembali terdengar dan entah mengapa aku merasa senang sekali bisa membuat semua tamu undangan Akane bangga akan perfomance dance yang kami persembahkan ini.

Kini lagu Sakura Gaaru – NEWS kembali diputar. Namun saat di-remix, salah satu pelatih kami hanya mengambil bagian akhirnya.

.

“HUAAA!! Aku lelah sekali!!” seru salah satu temanku, Shany, sambil mengerahkan kedua tangannya keatas.

“Aku juga!!” jawab temanku yang lainnya juga.

Aku hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa. Aku lelah sekali. Bahkan sangat lelah jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Debaran di jantungku masih terasa dan kepalaku masih pusing. Please … jangan pingsan sekarang.

“Juki, kau kenapa?” tanya salah satu temanku yang tak lain adalah Tera.

“Iya Juki. Wajahmu terlihat pucat.” Temanku yang lainnya juga tidak mau kalah penasaran. Bagaimana ini?

“Ah, aku tidak apa-apa. Mungkin efek wajahku yang putih seperti orang Eropa kali ya? Hahaha!!” Lagi-lagi aku berbohong. Ini sudah kesekian kalinya aku berbohong. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin membuat mereka semua kecewa nantinya, walau nanti secara perlahan mereka akan menyadarinya.

“Aku rasa tidak mungkin kalau wajah pucat Juki itu wajah aslinya.” Kemudian samar-samar aku mendengar bisikan salah satu temanku.

“Iya. Mungkin Juki sedang sakit saat ini tapi dia tidak ingin kita panik.” Bisikan itu pun kembali terdengar. Namun aku hanya pura-pura tidak mendengarnya.

“Semoga Juki baik-baik saja ya.”

Aku tidak akan baik-baik saja setelah ini …

“Eh Juki, sebaiknya kau lekas kembali ke ruang ganti. Sebentar lagi kita perfomance dance lagi.” Ucap Tera tiba-tiba dan otomatis aku menepuk pelan pelipisku. Kenapa aku bisa lupa?

“Baiklah.” Jawabku singkat dan segera melesat pergi menuju keruang ganti.

Saat perfomance … melakukan gerakan salto ya?

Sepanjang perjalanan menuju keruang ganti, jantungku terus berdebar-debar yang ditambah dengan sakit kepala. Tanganku mulai keringat dingin. Aku takut kalau aku mengacaukan pesta ulang tahun Akane. Aku takut membuatnya kecewa.

Segala resiko apapun akan kuterima, tapi .. tidak jika resikonya mengacaukan pesta ulang tahun Akane apalagi mengecewakannya. Kami-sama tolong!!

“Ah Mizuki-san akhirnya kau datang. Pakailah baju ini dan lekaslah ganti.”

Aku hanya mengangguk dan menerima satu celana jins berwarna biru, sepatu kets berwarna putih abu-abu dan kemeja berwarna putih polos. Pakaian ini mirip sekali dengan teman-temanku yang memakainya. Sebaiknya aku harus cepat ganti!!

*+*+*

Kini telah tiba saatnya dimana aku selalu merasa ketakutan. Performance dance dengan gerakan salto. Terlebih lagi diriku yang banyak diberi berbagai macam gerakan karena mengetahui kalau aku ingin memberikan sebuah hadiah yang special untuk Akane.

Kami-sama … tolong kuatkanlah diriku yang lemah ini. Aku tidak ingin membuat acara ini menjadi kacau.

“Ne Juki, tetap tenang dan konsentrasi ya?” ucap seseorang yang kini menepuk pelan pundakku. ~Tera.

“Baiklah.” Jawabku seadanya. Aku benar-benar tidak yakin akan perkataanku sendiri.

Setidaknya aku telah berusaha …

Aku, Tera, Geya, Hanzawa, dan Shany sedang bersiap-siap diatas panggung. Aku pun berdiri tepat ditengah-tengah alias mendapat bagian center nya. Kini lagu pertama telah dinyalakan. ~ SuperSonic – Sakamoto Masayuki.

Begitu mendengar lagu ini, semua orang yang ada direstoran ini langsung berteriak. Aku tahu kalau lagu ini cukup keren dan cocok untuk lagu dance dengan berbagai gerakan akrobatik seperti salto.

.

Aku bersyukur bisa melakukan dance sebelum gerakan salto tapi bagaimanapun juga aku harus melakukannya ….

“Juki! Sudah waktunya!” seru Chida yang kebetulan ada disebelahku sambil memberikan kode kalau aku harus melakukan gerakan salto di bagian lagu terakhir.

Entah mengapa saat itu detak jantungku serasa berhenti.

“Kyaaaaa!!! Juki-kun wa sugoi!!!” mataku masih terpejam. Aku tidak berani membuka mataku. Apakah aku ….

“Hey Juki!!” aku pun mendengar suara Chida dan Geya yang memanggil-ku. Perlahan aku membuka mata. Apakah aku berhasil dengan gerakan salto-nya? Semoga saja …

“Juki!!!!! Aaaaahhhhhh!!!” teriakan itu kembali terdengar. Aku bingung apa yang membuat mereka berteriak seperti itu?

“Huaaa!! Kau hebat, Juki!!” salah satu temanku, tak lain adalah Yoshitaka, tiba-tiba menepuk pundakku dan tersenyum bahagia.

“Kau keren sekali Juki!!”

PROK PROK PROK …

Suara tepuk tangan mulai menggema dengan keras diseluruh penjuru restoran berbintang lima ini. Aku sempat bingung kenapa orang-orang bisa senang seperti itu? Apakah aku berhasil? .. benarkah aku berhasil?

“Terima kasih semuanya!!!”

Kini teman-temanku yang ikut dance diatas stage ini mengucapkan terima kasih pada orang-orang disini dan kemudian membungkukkan badan. Otomatis aku juga turut membungkukkan badan. Setelah itu kami langsung kembali menuju backstage.

“Juki, tadi itu keren sekali!!”

“Iya Juki, kau hebat sekali!! Tidak salah kami memberimu gerakan tadi. Hahaha!!”

“Kalau begitu tiap ada performance dance lagi, kita beri saja Juki gerakan akrobatik selain salto. Lalu kita meminta Hirano Sho untuk mengajari Juki tentang akrobatik itu.”

Semua temanku mulai berbicara dengan yang lainnya. Sekali-kali mereka memujiku, terkadang membahas soal perfomance dance yang akan datang, dan lain-lainnya.

“Ahh!! Ittai!!” mendadak kepalaku pusing sekali. Lebih pusing dari sebelumnya. Apakah penyakit kanker-nya kambuh lagi?

“Eh Juki, kau kenapa?” semua teman-ku yang tadinya sibuk berbincang-bincang, kini langsung menghampiriku yang hampir terjatuh karena penyakit kanker yang mendadak kambuh.

“Dia mimisan, bagaimana ini?” tanya Chida dengan panik.

“Aaahhh ittaii!!!” karena tidak tahan, terpaksa aku berteriak dan memegang kepalaku dengan erat. Aku yakin pasti semua temanku terkejut akibat teriakanku tadi.

“Untung kita sudah selesai performance dance disini. Jadi bisa bawa Juki langsung kerumah sakit.” Ucap Tera dengan panik juga.

Kini suara teman-temanku perlahan semakin merendah. Merendah, dan merendah. Pada akhirnya aku tidak bisa mendengar suara mereka lagi dan suasana diruangan ini menjadi gelap gulita. Apakah aku sudah mati?

*+*+*

AUTHOR POV

“Juki!! Bertahanlah!!!” – “Kalian tolong bawa Juki kerumah sakit yang ada diseberang jalan lewat dari belakang sana. Lalu aku akan memberitahu Akane soal ini.”

kini Tera meminta tolong pada teman-teman yang lainnya untuk membawa Mizuki kerumah sakit yang terletak diseberang jalan Restoran Hilary. Mereka pun membawa Mizuki lewat jalan belakang agar tidak diketahui banyak orang.

Semoga saja Akane tidak langsung terkejut’ batin Tera dengan penuh kepanikan dan kekhawatiran.

.

Setelah Tera keluar dari backstage, beberapa kerumunan orang-orang direstoran itu, dilewati Tera begitu saja. Bahkan sapaan-sapaan dari kawan-kawannyatidak dihiraukannya. Perasaannya tidak karuan untuk saat ini.

Sesampainya Tera dimeja makan Akane …

“Ano Akane, maaf mengganggu. Bisakah kita bicara diluar?” bisik Tera disamping telinga Akane.

“Ada apa, Tera?” tanya Akane penasaran.

“Nanti aku jelaskan.” Tanpa basa-basi Tera langsung meraih tangan kiri Akane dan membawanya keluar restoran.

“Ada apa, Tera? Sepertinya penting sekali?” tanya Akane.

“Juki …”

“Juki? Memangnya ada apa dengan Juki?”

“Saat masuk kedalam backstage, mendadak kepalanya pusing sekali kemudian dia juga mimisan. Karena dia mengerang kesakitan, teman-teman yang lain langsung membawanya kerumah sakit. Lalu aku kemari untuk memberitahumu.”

“APA?! Bagaimana bisa? Lagipula tadi Juki ….”

“Aku juga tidak tahu, Akane. Sebaiknya kita … ah tidak, sebaiknya aku pergi kerumah sakit sekarang. Lagipula aku hanya memberitahumu, bukan mengajakmu kerumah sakit sementara kau kehilangan kesempatan untuk berbahagia dihari ulang tahunmu. Sa …”

“Aku akan ikut! Lagipula aku tidak ingin pria yang aku sukai menderita, sementara aku hanya bersenang-senang dan tanpa mempedulikannya sama sekali. Jadi, izinkan aku untuk ikut, Tera.”

Kini Akane menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada sehingga terbentuk seperti memohon. Tera yang melihatnya bingung walau sebagian senang juga kalau Akane peduli sekali dengan Juki. Tanpa basa-basi Tera langsung mengganggukkan kepalanya.

 

@Hospital

Tera maupun Akane bergegas untuk bisa cepat keruang IGD. Tentunya untuk memastikan keadaan Juki.

“Ah itu mereka. Ayo kita kesana, Akane.” Ucap Tera yang secara langsung mendapat jawaban iya dari Akane berupa anggukkan kepala.

“Minna-san, bagaimana keadaan Juki?” sesampainya Tera dan Akane didepan IGD, Akane langsung menanyakan keadaan Mizuki pada teman-temannya yang menunggunya.

“Tidak tahu. Lagipula dokter yang memeriksa Juki juga belum keluar.” Jelas Geya dengan kepala tertunduk.

“Apa orang tua Juki sudah dihubungi?” tanya Tera secara langsung begitu mengingat orang tua Mizuki juga harus tahu masalah ini.

“Sudah. Tapi saat aku menelepon nomor rumah Juki, yang menerima hanya pembantunya. Adik maupun orang tua Juki sedang pergi dan sampai sekarang belum pulang. Tapi kata pembantu itu, dia akan langsung menghubungi adik serta orang tua Juki.” Jelas Chida secara panjang lebar.

“Baiklah. Yang penting orang tua Juki sudah diberi tahu. Jadi kita hanya perlu berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan Juki.” Jelas Tera yang (terlihat) bijaksana itu.

Kami-sama, tolong sembuhkanlah Juki. Banyak hal yang ingin kukatakan padanya. Aku tidak ingin Juki kenapa-kenapa!!” batin Akane dengan menyatukan tangannya didepan dada untuk berdoa.

Tetesan air mata kini telah keluar dari pelupuk mata Akane. Hatinya tidak tenang, bahkan jantungnya serasa kekurangan oksigen karena sesak nafas. Dia ingin Mizuki bisa sembuh, dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan kondisi Juki. Namun perasaannya merasa tidak enak. Berkata seolah-olah Mizuki dalam kondisi yang teramat buruk.

Namun Akane tidak berhenti mengharapkan yang terbaik untuk Mizuki.

“Ah, ternyata kalian teman-teman Mizuki, ya?” kini sebuah suara mengejutkan Akane dan yang lainnya disitu. Ternyata sang pemilik suara itu adalah Ibu dari Mizuki. Dia tidak sendiri, melainkan ditemani anaknya yang merupakan adik kandung Mizuki dan juga Ayah Mizuki.

“Iya.” Lalu semua teman Mizuki langsung membungkukkan badan kearah Ibu dan Ayah Mizuki.

“Bagaimana keadaan Mizuki? Apakah dia baik-baik saja?” suara Ibu Mizuki terlihat ragu-ragu. Sudah dipastikan kalau dia takut sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi pada Mizuki, anaknya.

Namun sebelum salah satu diantara teman-teman Mizuki yang menjawabnya, tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka. Keluarkah seseorang yang mengenakan pakaian IGD dan melepaskan masker berwarna biru-kehijauan yang dipakainya. Ternyata dokter yang memeriksa Mizuki.

“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” kini Ibu Mizuki langsung menghampiri dokter itu dengan cepat, yang diikuti juga Ayah dan adik Mizuki.

“Iya dokter, apakah anak saya baik-baik saja?” kini sang Ayah mulai angkat suara. Kekhawatiran pun kini ada dihati sang Ayah itu.

 

Akane yang penasaran akan jawaban dari dokter itu, dia langsung mendekat sehingga dirinya berdiri dibelakang persis keluarga bermarga Kobayashi.

 

“Maaf Tuan, Nona dan semuanya. Penyakit kanker otaknya sudah menyebar kemana-mana dan juga jaringan otak Mizuki kekurangan oksigen banyak sekali. Jadi … Mizuki tidak bisa bertahan lagi dan dia telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.” Jelas sang dokter dengan nada kecewa. Mungkin karena tidak berhasil menangani pasiennya itu.

“Ah, tadi sebelum Mizuki-san meninggal, dia telah menitipkan surat ini untuk kalian semua. Douzo.” Lanjut dokter itu sambil mengambil beberapa buah surat dari Mizuki kemudian memberikannya pada Ibu Mizuki.

 

Ibu dari Kobayashi Mizuki langsung shock begitu dirinya mengetahui kalau anak sulungnya sudah tiada. Dengan cepat dia langsung memasuki ruang IGD yang kemudian disusul oleh Ayah Mizuki dan adiknya, Kobayashi Rikito.

 

“Juki … benarkah Juki telah tiada … untuk selamanya?” ujar Akane dengan lemas dan kemudian …

 

BBRRUUKK … Akane pun tidak bisa menopang tubuhnya dan akhirnya dia terjatuh ke lantai. Otomatis membuat semua orang yang ada disitu langsung terkejut.

 

“Akane!! Kau tidak apa-apa?” pertanyaan dari teman-temanya pun tidak dihiraukan Akane. Pandangan matanya menatap kosong ke lantai rumah sakit. Air matanya kini berdesakan keluar dari pelupuk mata Akane.

 

Hatinya saat ini terasa disayat-sayat.

 

“Minna-san!! Aku dengar kalau ….” sosok Hara Negumi beserta Mizukana Aderu datang menghampiri mereka semua. Negu maupun Aderu langsung terkejut begitu melihat Akane yang terduduk dilantai itu.

“Kenapa kalian tidak membawa Akane duduk disini, hah?!” protes Negu dan segera membantu Akane untuk duduk dikursi sebelah ruang IGD.

 

Namun Akane hanya terdiam dalam tangisan.

 

“Akane. Kau yang sabar ya. Tidak hanya kau yang merasa kehilangan Juki, tapi kami semua yang ada disini juga merasa kehilangan dirinya.”

 

Kini Tera mulai berbicara pada Akane walau pada akhirnya Akane hanya terdiam. Karena tidak tega melihat Akane seperti itu, Tera langsung memeluknya. Mencoba untuk membuatnya tenang.

 

“Tenanglah, Akane. Relakan Juki pergi, ya? Biarkan dia hidup tenang disana. Lagipula meskipun fisiknya tidak ada bersama kita, tapi aku yakin arwahnya masih bersama kita. Suatu saat, kita pasti bisa bertemu dengannya dialam sana, Akane.”

 

Ucapan Tera barusan telah sukses membuat yang lainnya menangis. Begitu pula Akane. Meskipun dia hanya diam, tapi bukan berarti dia tidak menanggapi ucapan Tera barusan. Akane mengcengkram kuat kemeja putih yang dikenakan Tera. Isakan tangisnya terasa sekali. Melihat hal itu Tera langsung merasa kasihan pada Akane.

 

Begitu pula dengan Hara Negumi dan Mizukana Aderu. Lalu Yoshitaka Hara langsung memeluk Negumi untuk memberikannya sebuah ketenangan. Begitu pula Takuya Kageyama juga langsung memeluk Mizukana Aderu. Hal itu tidak disadari oleh Negumi dan Aderu sendiri karena mereka masih terlarut dalam kesedihan. Chida Kyohei maupun Meguro Ren yang tahu akan hal itu langsung mengepalkan tangannya. Ada perasaan tidak suka diantara mereka. Apakah cemburu? Kemungkinan besar iya.

 

*+*+*

09.30 a.m.

 

Kini pemakaman Kobayashi Mizuki telah terlaksana. Banyak sekali tamu undangan yang datang, diantaranya teman rekan kerja dari Ibu Mizuki dan Ayah Mizuki. Kemudian teman-teman sekolah Mizuki dan guru-guru juga datang ke acara pemakaman Mizuki. Semua pakaian yang dikenakannya berwarna hitam.

 

Dari kemarin semua teman dekat Mizuki masih saja menangis. Mungkin mereka tidak rela akan kepergian Mizuki …

Tapi jika itu terus berlanjut, Mizuki juga tidak bisa tenang di alam sana bukan?

 

“Tenanglah, Akane. Relakan Juki pergi, apa kau tidak kasihan jika Juki tidak bisa tenang disana?” jelas Tera dengan terang-terangan.

“Aku mohon, kalian semua tenang dan biarkan Juki hidup tenang disana! Kalian tidak senang jika Juki bisa hidup tenang di alam sana?” gerutu Tera terhadap teman-temannya yang masih menangis itu. Walau dirinya juga menangisi kepergian Mizuki

“Bukan seperti itu Tera, tapi …”

“Kalau begitu tenanglah. Dan tentunya juga kita harus saling maaf-memaafkan. Jika Juki ada salah sama kita semua, berilah maaf untuknya. Dan sebaliknya, jika kita ada salah sama Juki harus minta maaflah padanya. Jadi kita sama-sama tenang bukan?” jelas Tera lagi dengan penuh kesabaran.

 

Teman-temannya hanya mengangguk dan kemudian menundukkan kepalanya. Sepertinya mereka sedang berdoa dan melakukan apa yang dikatakan oleh Tera tadi.

 

Meskipun tubuhmu sudah tidak ada diantara kami, tapi kami yakin kau selalu ada didalam hati kami, Kobayashi Mizuki …..

Hiduplah dengan tenang disana … dan tunggulah kami pada suatu hari nanti ….

Karena pada saat-saat bersamamu, kami selalu merasa nyaman ….

Jadi … sabarlah untuk menunggu kami, Juki!!

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s