[Multichapter] Treasure Hunting (Chap 7)

Buat yang lupa cerita awalnya, boleh trackback disini:
chap1  chap2 chap3 chap4 chap5 chap6

Title        : Treasure Hunting
Type          : Multichapter
Chapter     : 7
Author    : Dinchan
Genre        : Fantasy, a little bit romance 😛 *teuteup* #Plakk
Ratting    : PG-15 *naek rating* 😛
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Suzuki Saifu (OC), Sakurai Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yajima Natsuki (OC), Yanagi Riisa (OC), Sakamoto Yoko (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakura Natsuru (OC), Sugawara Ichiko (OC).
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members belong to JE, Opi punyaan Opichi, Natsuki charanya Vina, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miki punyaan Nadia. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

And saya banyak meniru Hunger Games novelnya…jadi, jangan protes kalo banyak mirip…karena emang ini inspired dan banyak niru dari tu novel… 🙂 sudah di disclaimer yaaa~

Natsuki tahu dirinya telah salah langkah. Ia sendirian, tidak tahu arah dan lebih parah lagi ia sepertinya sudah mulai dehidrasi. Sejak tadi kepalanya terasa pusing dan perutnya pun keroncongan karena belum makan apapun sejak meninggalkan Riisa dan Keito. Sejak kemarin pun ia belum juga menemukan keberadaan Yuto. Orang yang ia harapkan bisa membantunya saat ini.

Sudah beberapa jam ini matanya mulai berkunang-kunang, tapi Natsuki tidak berani berhenti. Ia takut akan binatang buas, ia takut jika orang lain menemukannya dan akan membunuhnya.

Sejak kecil ia di adopsi oleh keluarga Okamoto dan sejak saat itu pula kemanapun juga ia selalu bersama Keito. Pemuda itu otomatis selalu mengantar dirinya kemanapun dia ingin pergi. Keito memang tidak pernah membiarkan Natsuki pergi sendirian.

Gadis itu juga tidak punya ide bagaimana caranya ia bisa menemukan Yuto yang bisa jadi berada sangat jauh dari tempatnya sekarang berjalan, bisa juga sangat dekat, tapi Natsuki tidak punya pilihan lain. Ia harus terus berjalan karena dia juga tidak bisa kembali ke tempat Keito. Bukannya ia tak mau, tapi ia tak ingat jalannya.

Beberapa jam kemudian Natsuki merasa pandangannya semakin kabur. Tenggorokannya terasa menyakitkan bahkan untuk menelan ludahnya sendiri yang rasanya sudah asam dan ia tidak bisa berfikir jernih. Matanya berkunang-kunang, ia seakan lemas dan tak punya kekuatan untuk berjalan lagi. Ia butuh air. Ia harus minum, kemungkinan besar dirinya dehidrasi.

Sejak tadi Natsuki berjalan di dekat sungai, namun ia tak berani meminumnya. Bagaimana jika air sungai itu beracun sementara ia tak punya iodine untuk menjernihkan airnya. Namun setelah beberapa saat terduduk, Natsuki tahu ini bukan saatnya memikirkan kemungkinan-kemungkinan macam itu. Ia butuh minum dan persetan dengan tidak sehatnya air sungai itu. Natsuki dengan terburu-buru mengambil setangkup air dan mulai minum. Rasanya melegakan walaupun tentunya rasanya tidak enak. Natsuki terus minum sampai rasanya ia sudah kembung. Gadis itu terduduk kelelahan karena terus mengambil air dengan kedua tangannya.

Saat kesadarannya mulai pulih Natsuki mulai merasa sangat sedih. Ia menatap langit yang sekarang diperkirakannya sudah tengah hari itu dengan sedih. Apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya? Apakah ia bisa bertahan hidup? Natsuki tiba-tiba merasa sendirian, ia menangis sesenggukan dan menyesali kebodohannya sendiri.

***

“Kau bilang tadi dia hanya pergi sebentar!” bentak Keito pada Riisa yang duduk tak jauh darinya.

“Memang begitu katanya,” jawab Riisa tak acuh. Ia mulai malas berdebat dengan Keito yang sejak tadi sudah marah-marah karena tidak menemukan Natsuki dimanapun ketika ia bangun.

“Lalu kenapa sudah berjam-jam tapi dia belum kembali?!” bentak Keito lagi. Ia mulai beranjak, berjalan hilir mudik karena khawatir.

“Ya mana aku tahu, memangnya urusanku hanya menjaga Natsuki saja?!” kini Riisa sudah ikut-ikutan naik darah.

Keito tidak menjawab, ia sibuk melihat ke segala arah, menebak-nebak kemana Natsuki pergi.

“Lalu kemana dia sekarang?” walaupun Keito bergumam, Riisa bisa mendengarnya dengan jelas.

Sebenarnya Riisa ingin meninggalkan Keito sendirian, tapi di sisi lain ia tak yakin bisa bertahan tanpa Keito. Ia tak punya senjata, dan kemampuan bertarungnya nol. Bagaimana jika ia bertemu Nu atau Sora? Bagaimana jika ada binatang buas? Riisa akhirnya hanya bisa menggeleng lemah, membiarkan Keito marah-marah sendiri.

“Kalau sudah marahnya, aku sudah membuatkan sup untukmu,” terserah kau mau apa tidak, tambah Riisa dalam hati.

Tanpa disangka Keito mengambil sup itu, memakannya pelan-pelan, “Terima kasih,” ucap Keito tulus.

Riisa menghela nafas, “Nanti kita cari Natsuki,” ujarnya. Riisa melihat Keito hanya mengangguk sedih.

***

Natsuki masih berbaring. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia menatap langit karena sepertinya senja sudah datang. Gadis itu belum mampu bergerak. Apalagi kini perutnya terasa keroncongan, diperparah dengan rasanya ia mual sekali. Natsuki menebak hal itu disebabkan oleh air sungai yang tadi ia minum.

Henteko na kushami da ne.. waratteita ne,” Natsuki menggumamkan lagu yang sering Keito nyanyikan sambil bermain gitar, “Odayaka na shiawase wa totsuzen kieta, Oh Love Love Love Love Love Love Love, Oh Love Love Love Love Love, aitai no ni doushite?…Kimi wa koko ni inai,” (Tegomass-Kushami)

Natsuki terisak pelan, “Kimi wa…koko ni inai… (Kau tidak ada disini),”

Kata orang, kita akan merasa seseorang spesial dan tidak ingin kehilangan setelah orang itu tidak ada. Baru kali ini Natsuki merasakannya.

Kalau saja ada Keito.

Keito akan memeluknya saat ia ketakutan.

Keito akan menenangkannya saat ia panik.

Keito tidak akan memarahinya walaupun ia berbuat salah.

Tangis Natsuki semakin keras, tubuhnya bergelung beralaskan tanah.

“Natsuki??”

Kaget dengan suara itu, Natsuki terdiam dan duduk sambil mencari arah suara.

“Kau kenapa?”

Natsuki mulai merasa dirinya berhalusinasi karena ia tidak bisa menemukan orang yang bicara padanya. Tapi kemudian ia merasakan tepukan pelan di bahunya.

“Yuto…” tanpa pikir panjang Natsuki memeluk Yuto, yang ternyata menemukan Natsuki.

Yuto membelai pelan rambut Natsuki, “Tidak apa-apa, aku ada disini…” ucap Yuto pelan.

Setelah agak tenang Natsuki menceritakan semuanya pada Yuto dan Yamada yang kebetulan sedang bersama Yuto.

Baka…” Yuto menyentuh dahi Natsuki, “Buat apa kau mencariku hanya untuk meminta maaf? Aku tidak marah padamu atau Keito,”

Natsuki terisak pelan, “Aku tidak berfikir panjang. Aku…. aku hanya ingin bertemu denganmu, memintamu kembali berjalan bersama kami,”

“Kau bawa peta?” tanya Yuto.

Natsuki menggeleng, “Aku hanya bawa kacamata ini,” gadis itu mengeluarkan kacamata malamnya. Yuto hanya tersenyum melihatnya.

“Baiklah… nanti kita cari Keito dan Rii-chan, ya?”

Natsuki mengangguk setuju.

“Kita hanya punya air minum, mau?” Yamada menawarkan sebotol air minum yang sudah ia bersihkan tadi dengan iodine yang kebetulan dibawa oleh Yuto.

Walaupun sudah minum banyak air sungai akhirnya Natsuki menerima botol minuman itu, “Terima kasih…”

Yamada tersenyum dan membiarkan Yuto berduaan dengan Natsuki, “Aku disana ya…” ucap Yamada menunjuk sebuah batu yang agak jauh, namun masih bisa terlihat oleh keduanya. Yuto mengangguk.

***

Opi tidak menemukan sosok Sora sejak ia berlari ketika Nu menemukan mereka. Sepertinya ia sudah berjalan jauh, tapi tak kunjung menemukan Sora atau Inoo ataupun Yuya. Opi sedikit khawatir karena ia membawa sisa perbekalan mereka, sementara Sora hanya membawa katana nya ketika ia tinggalkan.

Rasanya sudah seharian ia berjalan, dan kini ia mulai lapar. Dengan hati-hati Opi membuka karung yang berisi hasil buruan, ia bisa membakar daging kelinci yang ada di dalam, tidak masalah karena ia akan menyisakannya untuk Sora kalau-kalau ia kembali bertemu dengan gadis itu.

Selesai menyiapkan api, Opi yang telah membersihkan kelinci itu dengan pisau lipat yang juga ada di dalam tas yang ia bawa, segera membakar kelinci itu. Tiba-tiba terdengar suara di belakangnya. Opi panik dan menoleh, namun sedikit lega ketika yang ia temukan adalah Chinen dan Miki.

“Anou… boleh… kami ikut?” tanya Chinen takut-takut.

Memang selama beberapa hari ini mereka bisa bertahan hidup dengan makan tanaman yang ada di sekitar mereka, tapi ketika mencium bau daging yang rasanya akan nikmat sekali di lidah, Miki dan Chinen memutuskan untuk mendekati Opi. Entah kenapa Miki merasa Opi tidak jahat.

“Tentu saja,” kata Opi ramah. Akhirnya ia mendapatkan teman bicara, tidak buruk juga rasanya ada yang menemani di saat seperti ini.

“Kalian suka daging kelinci?” walaupun sebenarnya menanyakan hal itu sekarang bukan hal yang tepat karena pastinya kita akan memakan apa saja yang ada di hadapan kita dalam keadaan sekarang, tapi Opi tetap ingin bertanya.

Miki mengangguk, “Aku suka jika ayahku yang membuatkannya untukku. Rasanya jadi lebih terasa seperti daging ayam!” seru Miki sedikit terlihat bersemangat setelah memakan beberapa potong daging.

“Mana bisa daging kelinci terasa seperti ayam?!” protes Chinen.

Sisa sore itu dihabiskan dengan berdebat soal Kelinci rasa Ayam yang membuat suasana di sekitar Opi menjadi lebih ceria. Opi menyerap sedikit energy positif yang membaur di sekitarnya, ia tak tahu kapan ia bisa bercanda lagi jika ia tidak menemukan Chinen dan Miki.

***

Daiki masih memperhatikan tangan kanannya. Masih ada plester kecil tanda dia sudah ditandai oleh pihak pengatur permainan. Pasti ini semacam GPS, dia bisa dilacak selama di tangannya masih tertanam alat pelacak ini. Pasti ada cara untuk melepaskan pelacak ini, dengan pelacak semua gerak geriknya terpantau, itu artinya selama pelacak ini tertanam, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia harus tetap di dalam permainan, mengikuti aturan dari permainan ini, saling memburu peta dan berburu harta karun. Yang saat ini sama sekali tidak ia butuhkan. Keluarganya kaya, dia punya segalanya, kecuali kebahagian, kecuali senyum ibunya.

“Daiki-kun,” suara parau menyapa lamunannya. Saifu terlihat tidak nyaman dan berkeringat hebat. Daiki segera menghampiri gadis itu.

“Kenapa, Fu-chan?”

“Gerah… kakiku kebas,” ucapnya terbata-bata. Sorot mata Saifu sudah semakin meredup. Tampaknya rasa sakit sudah menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga membuatnya kebas dan tidak lagi merasakan apa-apa.

Daiki memeluk Saifu, “Bertahan ya Fu… kita akan dapatkan obat yang kita perlukan,” walaupun setengah hatinya tidak yakin, tapi dia harus menunjukkan bahwa dia percaya itu untuk menenangkan si gadis yang sudah terlihat lebih lemah dari semalam, bahkan Saifu terlihat hampir tak akan bertahan.

“Daiki-kun pergi saja, aku menghambat dirimu, kan?”

Daiki tidak menjawab dan hanya diam memeluk si gadis.

“Kita akan temukan jalan keluarnya dan aku harap sampai saatnya tiba, kamu masih bertahan,” ucapan Daiki meyakinkan Saifu yang sebenarnya sudah tidak ingin lagi bertahan, tubuhnya terasa panas dan dingin secara bersamaan, ia menebak bahwa lukanya kini sudah infeksi, sehingga membuatnya tidak lagi bisa konsentrasi.

Terdengar suara ribut disekitar mereka, Daiki menghentikan gerakannya dan menarik Saifu ke bagian dalam gua agar tidak ada yang melihat mereka. Tidak dalam keadaan seperti ini, Saifu bisa terbunuh.

“Kita akan berjalan berapa lama lagi, Keito?” sebuah suara wanita, Daiki mendengar wanita itu menyebutkan nama Keito, dan dengan sekali sentakan Daiki memanggil nama sahabatnya itu.

“KEITOO!!”

Keito menoleh dan lega karena yang memanggilnya ternyata adalah sahabatnya sendiri, Arioka Daiki, Keito secara refleks memeluk sahabatnya itu.

“Jadi Natsuki hilang?” tanya Daiki ketika Keito dan Riisa sudah bergabung bersama mereka di dalam gua.

Keito mengangguk, “Entah itu ia melarikan diri atau diculik oleh si sialan Yuto!” seru Keito kesal, meninju tangan kanannya dengan kepalan tangan kirinya.

Daiki mengangguk-angguk, “Yanagi-san, terima kasih mau merawat Saifu,” ucapnya tulus kepada Riisa yang dengan telaten membersihkan luka Saifu. Wajah Riisa menoleh ke arah Daiki, penuh pertimbangan, akhirnya Riisa menarik Daiki menjauh.

“Arioka-san, maafkan aku, tapi aku rasa luka Suzuki-san sudah infeksi dan sudah menyebar, aku tidak bisa menjamin dirinya akan selamat dengan luka seperti itu,” jelas Riisa pada Daiki.

“Aku tahu,” Daiki mengehembuskan nafas berat, “Tapi aku tak bisa meninggalkannya.”

Mereka kembali ke Saifu dan Keito, Daiki hanya bisa menggenggam tangan Saifu untuk menenangkan gadis itu.

“Jadi, kau mau ikut kami?” tanya Keito pada Daiki.

Daiki menggeleng, “Fu-chan tidak bisa jalan jauh, kau pergilah mencari Natsuki, kita akan tetap bertahan disini,”

Keito tampak enggan, namun akhirnya mengiyakan, “Baiklah, kalau sampai malam hari aku menemukan Natsuki, kita akan kembali ke sini,”

Seakan teringat sesuatu, Daiki mengeluarkan peta miliknya, milik Saifu, dan dua peserta sebelumnya yang sudah ia dapatkan, “Bawalah, aku tidak memerlukannya, tapi… aku minta pisaumu itu,” Keito setuju, mengambil keempat peta milik Daiki dan memberikan belatinya kepada Daiki, toh Keito masih punya senapan yang bisa ia gunakan.

“Kau hati-hati ya Dai-chan, jangan gegabah,” ucap Keito sebelum akhirnya meninggalkan Daiki dan Saifu yang terlihat semakin parah dan berkeringat hebat. Daiki hanya mengangguk setelah memeluk sahabatnya itu.

***

Yabu berjalan tak tentu arah, ia tak punya makanan, tak punya perbekalan, tak punya peta. Ia tak tahu harus berjalan kemana lagi, ia mengistirahatkan dirinya di sebuah pondok yang sudah tak terawat, kayunya banyak terkelupas dan rapuh.

Dari bertahun-tahun ini ia lewati,Yabu merasa kali ini dirinya tidak lagi punya keinginan untuk meneruskan hidupnya. Sebenarnya saat Aiba melontarkan ide mengenai pasangan dengan Yoko, separuh dirinya bersorak, Yoko adalah tipenya, cantik, tinggi, bahkan blasteran, benar-benar seleranya, dan yang pasti Yoko sangat mirip dengan Misa, kekasihnya yang juga mati di arena ini tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun lalu.

Misa-nya, gadis yang paling ia cintai itu terpilih. Masih segar dalam ingatan Yabu saat Misa memeluknya sambil beruraiair mata.

“Kou-chan… Kou-chan… tolong aku…” isak tangis Misa yang baru saja berulang tahun ke 18 hari sebelumnya, merayakannya dengan kekasihnya, baru saja mendapatkan sebuah gelang emas dari Yabu, hasil Yabu bekerja paruh waktu tiga bulan lamanya.

Dan hari itu,Yabu tak mampu memberikan kata-kata penyemangat, ia hanya terus memeluk Misa selama satu jam waktu yang diberikan untuk berpamitan.

“Kou-chan,” Misa menatap kekasihnya yang lebih tua setahun itu, “Aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu,” Misa memberikan ciuman terakhirnya sebelum akhirnya ditarik paksa oleh pasukan Nipon.

Dua minggu setelahnya jasad Misa sudah kembali ke rumahnya, Misa meninggal ditikam oleh salah seorang peserta, yang juga meninggal dua hari setelahnya.

Itulah mengapa Yabu tidak ingin lagi melanjutkan hidupnya di negara Nipon yang menurutnya sudah hancur ini, ia ingin pindah, memulai hidup barunya, dan mungkin melupakan Misa. Saat akhirnya terpilih, Yabu merasa hidupnya sudah berakhir hingga ia melihat Yoko, dan Yabu berjanji pada dirinya sendiri, jika ia tidak bisa menyelamatkan Misa tiga tahun lalu,ia harus bisa melindungi Yoko. Tapi ternyata, Yoko pun mengalami hal yang sama dengan Misa, tidak bisa ia selamatkan, dan bagi Yabu, hal ini membutnya merasa tidak ingin hidup lagi.

***

“Kau bisa tahu banyak tanaman obat ya Miki-chan… hebat sekali,” ucap Opi ketika Miki bercerita mengenai beberapa tanaman obat yang ia temukan.

Miki mengangguk bersemangat, “Kakekku dulu adalah tabib istana, ilmunya diturunkan kepada ibuku, dan karena sering melihat ibu meracik obat, aku pun jadi tau mengenai tanaman obat, walaupun kakekku bilang kalau sudah tidak berguna lagi karena istana pun sudah runtuh dan tidak ada penerus lagi,” ucapnya terdengar sedih.

“Da yo ne… tidak pernah ada yang tau kemana Raja dan Ratu diculik, dan karena mereka tidak lagi punya keturunan akhirnya istana hanya dijadikan simbol sementara pemerintahan dipegang oleh perdana mentri yang kini beralih fungsi menjadi presiden,” kini Chinen yang bersuara.

Sudah lebih dari dua puluh lima tahun negara Nipon akhirnya menjadi republik. Sebelumnya, Nipon adalah sebuah negara kekaisaran. Namun, lebih dari tiga puluh tahun yang lalu Raja dan Ratu diculik, dan secara misterius satu persatu keturunan Raja meninggal, bahkan istana terbakar entah karena apa. Saat Raja diculik dan akhirnya diumumkan meninggal dunia, pemerintahan yang kosong memicu pertikaian diantara pejabat tinggi negara dan akhirnya kekuasaan dimenangkan oleh pihak partai Akagumi, yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri. Lima tahun kemudian karena Raja sudah dinyatakan meninggal, Nipon pun mendeklarasikan diri sebagai republik dengan kekuasaan tertinggi dipegang oleh presiden.

“Langit sepertinya mendung, ya Sakurai-san?” Chinen menatap langit yang terlihat awan menggumpal semakin meredup dan awannya bergulung-gulung.

Miki dan Opi mengangguk bersamaan, mereka memutuskan untuk berbenah dan melanjutkan perjalanan untuk menemukan tempat berlindung sebelum hujan datang. Miki memandangi langit yang berubah warna dengan anehnya, langit tidak lagi menghitam, namun berubah menjadi merah dan semakin lama semakin pekat warnanya.

“Ada apa Miki-chan?” Chinen menghampiri Miki yang wajahnya masih mendongak menatap langit.

“Langitnya aneh,”

Opi setuju. Ada yang aneh dengan langit ini.

“Lebih baik kita segera mencari tempat..” dan sebelum Chinen membereskan kalimatnya, Chinen merasa tangannya terkena sebuah cairan, namun lebih lengket dan tidak teras seperti air hujan. Saat Chinen mendongak, barulah ia tahu, “SIAL!! LARIII!! INI HUJAN DARAH!!”

Opi, Miki dan Chinen berlarian namun hujan darah pekat itu membutakan penglihatan mereka, baunya pun amis membuat mereka panik. Opi berlari mengikuti Chinen yang menarik tangan Miki, ketika mereka rasa hujan darah itu mulai berhenti, Opi dikagetkan dengan suara segerombolan mahluk. Gadis itu mengelap mukanya, mencoba melihat ada apa dibelakang mereka, ketika sadar ternyata itu adalah segerombolan kelelawar, jaraknya tidak lebih dari 200 meter.

“Jangan-jangan… jangan-jangan..”

“IYA MEREKA MAKAN DAGING!! Mereka tertarik pada kita karena kita bau darah!!” Chinen berteriak kalut.

Opi berlari sekencang yang ia bisa, tak sempat lagi ia menoleh untuk melihat apakah Chinen dan Miki juga mengikutinya. Opi mendengar gerombolan mahluk itu semakin dekat, apakah Miki dan Chinen sudah mati? Pikir Opi. Ia terus berlari hingga bertemua sebuah tebing, dilihatnya di dasar tebing itu adalah sebuah sungai yang airnya cukup deras. Tanpa pikir panjang Opi menerjunkan dirinya ke sungai itu.

Sesaat setelah ia menyentuh air, Opi tenggelam semakin dalam, ia berusaha berenang, mencari udara untuk bernapas, enth sudah berapa banyak air yang tertelan olehnya, membuat nafasnya semakin tercekat. Badannya terapung-apung dan akhirnya ia bisa melihat permukaan air, dan karena air yang bergelombang ia akhirnya bisa bernafas lagi meskipun harus terbatuk beberapa kali. Kelelawar-kelelawar yang mengejarnya tidak terlihat lagi, dan ia pun tidak bisa melihat apakah Miki dan Chinen ikut terjun ke sungai.

Semakin lama aliran sungai itu semakin tenang, Opi mencoba berenang ke pinggir sungai dengan tenaganya yang tersisa. Setibanya di pinggir sungai, Opi merasa kembung sekali dan ia baru menyadari bahwa beberapa bagian tubuhnya memar mungkin karena terantuk-antuk saat berayun di dalam air sungai. Opi melepaskan tasnya, berbaring menatap langit yang kini hampir menjadi malam, memikirkan bahwa ia baru saja selamat dari maut yang mengancamnya, jika ia tidak melompat mungkin saja ia sudah dimakan oleh kelelawar-kelelawar itu. Kini ia merasakan bahwa latihan fisik ketika mereka di camp sangatlah berguna untuknya.

Ketika Opi akan beranjak setelah puas berbaring, ia menemukan seseorang sedang berbaring.

Menatapnya.

“Nu…” gumam Opi lirih. Satu-satunya peserta yang tidak ia harapkan untuk bertemu.

***

Sebuah kembang api melesat di udara, Keito segera merasa dirinya gugup. Ia tak sanggup jika benar nama yang akan disebutkan adalah Natsuki. Lisa menghampiri Keito dan memberikan segelas air hangat kepada pemuda itu.

“Selamat malam para peserta Treasure Hunting!! Pukul 4 sore, Yabu Kota,” ucap pengumuman itu.

Keito bisa merasakan beberapa ototnya mengendur, dan ia bisa bernafas lega karena ternyata bukan nama Natsuki yang disebutkan.

“Tidurlah..kita sudah berjalan jauh, Rii-chan, biarkan aku yang berjaga,” Keito memberikan selebar kain yang biasa mereka pakai untuk alas tidur. Riisa mengangguk dan mencoba untuk tidur. Kali ini mereka tidak sempat mencari gua sehingga mereka hanya berhenti di tengah hutan saja.

Entah sudah berapa lama Keito berjaga sehingga rasanya kantuk mulai menyerangnya. Ia berusaha tidak tertidur karena ini bukan tempat yang cukup aman. Keito merasa suasana malam itu sangat tenang sehingga ia pun memejamkan mata, hanya sebentar saja, pikirnya, pasti tidak akan ada apa-apa. Rasanya belum lima menit Keito tertidur, ketika ia membuka mata, sebuah mata menyambutnya, tepat di depan matanya. Keito hampir saja melonjak ketika tiba-tiba sosok itu memeluknya.

“KEITOOOO!!”

Eh? Natsuki? Keito menarik tubuh mungil itu, menatapnya dan ia yakin ia tidak bermimpi. Langit sudah terang, cahaya matahari tentu saja sepertinya sudah datang sejak tadi.

“Kau baik-baik saja?!” Keito seakan kembali mengingat bagaimana caranya tersenyum kembali ketika melihat wajah Natsuki ada di hadapannya.

Gadis itu mengangguk, “Maafkan aku,” ucapnya tulus.

Keito menarik kembali gadis itu ke dalam dekapannya, “Sudahlah, yang penting kau tidak pergi lagi.”

Yuto, Yamada, dan Riisa yang melihat adegan itu memutuskan untuk berpaling dan menikmati makanan mereka. Hanya dua buah ikan sungai yang ditemukan oleh Yuto, tapi cukup menggembirakan untuk mereka.

“Peta kalian banyak sekali!” seru Yamada melihat peta yang tersimpan tidak jauh dari tempat Riisa duduk.

Riisa memandang peta itu, “Kami mendapatkannya dari beberapa orang yang kita temui.”

“Kalian ada kesempatan menang dong?” tanya Yuto.

“Kita bisa menang bersama jika bekerja sama!” Yamada mengatakannya seolah-olah itu adalah ide yang sangat cemerlang.

“Berapa yang kita dapatkan dengan menang bersama-sama?” tanya Yuto. Semuanya tau bahwa ada jumlah hadiah yang diberikan kepada pemenang dan jumlahnya walaupun banyak tentu saja tidak akan menjadi sangat banyak ketika harus dibagi dengan jumlah pesertayang banyak.

Sangat masuk diakal ketika seseorang menginginkan hadiah, maka semakin tamaklah dia dan tidak ingin membaginya dengan yang lain sehingga permainan ini berkembang menjadi permainan saling membunuh ketika mereka menginginkan harta karun, terlebih lagi mereka harus memiliki semua peta untuk mengetahui letak persis dari harta karun yang mereka inginkan.

“I don’t need any cents of those bloody treasure!” Keito berpaling, ia tak pernah membutuhkannya. Keluarganya sudah cukup berada.

Ketika malam semakin larut, Natsuki tiba-tiba saja ingin ke toilet. Tentu saja maksudnya ia harus mencari sumber air. Natsuki memandangi wajah Keito yang tertidur pulas disebelahnya. Menurut Riisa, Keito tidak tidur nyenyak beberapa hari belakangan dan natsuki tidak tega untuk membangunkan Keito dan memintanya mengantar ke sungai.

Gadis itu pun melihat ke sekelilingnya, dan hanya seorang Nakajima Yuto yang kini sedang giliran berjaga. Natsuki menghampiri Yuto, “Anou, aku ingin ke kamar mandi,”

Yuto terkekeh, “Di sini tidak ada kamar mandi, Natsuki-chan,”

“Maksudku, aku harus pipis,” ucapnya dengan nada mengiba.

“Baiklah. Ayo aku antar,” Yuto membimbing Natsuki masuk ke hutan yang lebih dalam, “Di sini bisa? Aku akan menjauh agar kau bisa lebih leluasa,” sebuah pohon besar yang rimbun Natsuki ditinggalkan sendirian.

Natsuki bersumpah serapah, mengapa ia malah ingin buang hajat di kondisi arena yang sudah gelap gulita begini. Ia ingin kembali saja rasanya ke tempat sebelumnya. Natsuki menoleh ke kanan dan ke kiri ketika ia melihat seperti kilatan benda, ia kaget dan belum sempat Natsuki berteriak, ia merasa hilang dan hampa.

Yuto berlari menerjang semak belukar sambil berteriak histeris.

“Keito!! Rii-chan!!”

Keito seketika terbangun dan kaget tidak melihat Natsuki di sebelahnya. Lebih aneh lagi ketika melihat Yuto bersimbah darah.

“Natsuki… Natsuki… aku mengantarnya ke dalam hutan karena ia..” napas Yuto yang tersengal-sengal dan raut wajahnya yang panik membuat Keito ikut panik.

Saat itu Riisa dan Yamada pun bangun. Riisa memegang bahu Yuto, “Tenang dulu Yuto, ada apa sebenarnya?!”

“Natsuki diserang binatang buas. Aku tadi mengantarnya ke hutan untuk buang air kecil!!” ucapnya dengan wajah masih panik.

Tanpa pikir panjang Keito berlari ke dalam hutan. Riisa, Yamada dan Yuto pun ikut berlari menyusul Keito. Suasana hutan sangat gelap, mereka tidak menemukan jasad Natsuki, yang kemungkinan besar sudah diambil oleh pihak penyelenggara Game.

“Tidak ada binatang buas disini!”seru Keito yang kini mendekati Yuto.

“Aku bersumpah! Aku bersumpah! Aku benar-benar melihatnya!!” Yuto terlihat panik.

Keito mencengkram kerah baju Yuto, ia menariknya, mencium darah yang melekat di tangan Yuto, “PEMBOHONG!! INI DARAH NATSUKI!!”

Yamada melihat ada yang tidak beres, ia perlahan mundur, menarik lengan Riisa yang masih bingung, beberapa saat kemudian ia melihat Keito memukul rahang Yuto hingga pemuda jangkung itu tersungkur, Keito meraba pinggangnya dan kaget tidak menemukan pistol anginnya disana.

“Game Over,” Yuto menyeringai dan mengarahkan pistol angin itu tepat di kepala Keito, “Lihat pemuda tampan ini, merasa pintar, eh?”

Yuto sudah mengambil pistol itu saat Keito tertidur, “Sudah siap mati? Ada permintaan terakhir?”

Keito mencoba mengambil pistolnya, namun yuto lebih cepat, ia menghantam perut Keito dan menempeleng muka pria itu hingga kini Keito tersungkur, “Mau menyusul wanita kesayanganmu? Kau harusnya lihat saat ia aku bunuh… mukanya cantik sekali, sempat berteriak, tapi ia memanggil namaku, bukan namamu!! Hahahaha!” Yuto mengarahkan pistol itu dibelakang kepala Keito dan tertawa histeris sebelum menarik pelatuknya.

DOR!

 

-To Be Continue-

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Treasure Hunting (Chap 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s