[Minichapter] Kimi Ni Attraction (Chapter 2)

Title       : Kimi Ni Attraction
Author : Dinchan
Type      : Minichapter
Chapter : 2
Genre   : Romance, School Life
Rating   : PG-13, R
Starring : Chinen Yuri, Inoo Kei, Yaotome Hikaru (Hey! Say! JUMP); Yabu Raura, Ueda Kaho (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; Yabu Raura belongs to launyan10 and Ueda Kaho is my original character.

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. This fanfiction is launyan10’s requests, and I wrote it as good as I can.

Sudah lewat beberapa hari dan Raura masih merasa sangat bahagia jika mengingat dekapan Chinen sore itu. Ia tidak bisa berhenti tersenyum ketika mengingatnya padahal Chinen saat itu dalam keadaan patah hati dan sangat sedih.

“Raura-chan, jangan senyum-senyum sendiri, kita masih di kelas,” Raura langsung panik terlebih menatap senyum Inoo yang direspon tertawaan teman-temannya.

“Sumimasen, Sensei,”

“Menghadap padaku setelah pelajaran, Yabu-kun,” tambah Inoo sebelum melanjutkan pelajaran.

Saat bel istirahat berbunyi, alih-alih ke kantin atau ke gedung tua – seperti biasanya – Raura harus ke ruang guru dulu sebelumnya. Karena Inoo-sensei sudah memintanya untuk menghadap pada saat jam istirahat. Ruang guru yang sempit dan penuh dengan orang dewasa saja sudah mengerikan, ia tidak suka masuk ke ruang guru.

“Selamat siang, Inoo-sensei,”

Inoo yang sedang brwosing sesuatu, karena kebetulan Raura datang dari belakang, dan melihat laptop milik gurunya itu terbuka yang segera ia tutup ketika menyadari ada Raura datang.

“Siang, Yabu Raura-kun, silahkan duduk,” Inoo menarik kursi yang ada di sebelah Raura dan gadis itu pun duduk dengan patuh, “Apa kau ada masalah dengan pelajaranku?”

“Tidak, Sensei,”

“Kau tidak suka matematika?”

Siapa yang suka matematika? – tanya Raura dalam hati, “Uhm… maaf tadi aku hanya memikirkan…” Chinen – tentu saja tidak mungkin ia mengungkapkannya, “Keluargaku, Sensei,”

“Baiklah. Apapun masalah keluargamu, percayalah aku tidak ingin tau kecuali kau mau menceritakannya kepadaku,”

Raura menggeleng.

“Oke, kalau begitu, kau harus mengikuti perintahku,” Raura benar-benar tidak suka dengan nada bicara Inoo saat ini, “Kau akan bergabung dengan anggota olimpiade matematika, kulihat angkamu di matematika tidak buruk, dan aku yakin dengan banyak berlatih kau akan semakin baik,”

“Tapi, Sensei…” ugh, belajar matematika di kelas saja sudah bikin muak, apalagi ia harus belajar di luar kelas, kan?

“Ini bukan tawaran, Yabu-kun, ini perintah. Mulai berlatih besok sore sepulang sekolah, “

Raura mematung di tempatnya. Ia ingin berargumen, namun sepertinya tidak mungkin untuk saat ini.

“Ada urusan lain?” tanya Inoo ketika melihat Raura masih duduk di hadapannya. Raura segera menggeleng, “Kalau begitu, silahkan kembali untuk makan siang, Yabu-kun,”

Raura memaki-maki dalam hatinya. Ia kesal sekali tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

***

Maka ketika keesokan harinya ia muncul di ruang kelas 3A untuk berlatih, Raura yang awalnya mati-matian memikirkan alasan untuk kabur sore ini, mendadak lupa karena kedatangan seseorang yang membuatnya tiba-tiba berpikir bahwa tidak buruk juga belajar matematika.

“Hei Yabu-kun!”

Raura menghitung sampai tiga.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dan ya, laki-laki itu tersenyum, senyum yang beberapa hari ini membuatnya sering melamun.

“Hei, Chinen-senpai,” beruntung ia bisa membalas senyum Chinen walaupun sepertinya tidak sebaik yang ia harapkan.

“Jadi Raura-chan ikut klub matematika juga?”

Selain Chinen dan dirinya, ada juga tiga orang lain yang Raura tidak kenal. Sepertinya berbeda kelas dengan dirinya.

“Tentu saja tidak, Chinen-kun, kebetulan dia juga dihukum sama sepertimu,” jawab Inoo yang masuk beberapa detik setelah Chinen bertanya.

Raut wajah Raura langsung berubah masam. Orang yang paling ia benci pun masuk ke ruangan.

“Baiklah, aku akan memberikan satu lembar soal ini,” Inoo menunjukkan lembaran kertas yang ia pegang, “Satu soal satu menit,” ucapnya sambil membagikan soal.

Kalau saja Inoo bukan guru, saat ini Raura sudah memaki-makinya, karena jumlah soal yang tidak manusiawi dan ada soal cerita juga, dan dia harus menyelesaikannya dalam satu menit? Dasar sakit jiwa! Seru Raura dalam hati.

“Hai! Mulai! Aku ke kantor dulu!”

“Kau dihukum juga?” tanya Chinen.

Raura yang sedang membaca soal pun terpaksa menoleh, “Eh.. iya senpai,”

“Aku tidak masuk pelajarannya dua kali, hahaha,”

“Eh??”

Chinen mengangguk, “Sekali karena benar-benar sakit perut, dan kemarin aku bolos di klinik sekolah, hehe,”

Setelahnya Chinen pun berbicara dengan tiga orang lainnya yang akhirnya Raura tau namanya Nakashima dan Takeyama dari kelas 2D dan Matsumoto dari kelas 3C. Ia tidak ingin ikut bertanya karena sibuk dengan soalnya. Sementara Chinen mengerjakannya setelah beberapa menit berlalu.

Tiga puluh menit kemudian Inoo masuk kembali ke kelas, “Waktu habis!” ucapnya kemudian mengumpulkan semua soalnya. Hanya dengan waktu beberapa menit saja Inoo sudah selesai memeriksa semuanya.

“Raura-chan, masih banyak yang perlu kau perbaiki, dan masih banyak yang harus dikerjakan,” Raura kaget melihat nilainya hanya 58, “Bagus sekali Chinen-kun, Nakashima-kun, Takeyama-kun, Matsumoto-kun,” Raura melirik kertas milik Chinen, dan tercantum nilai 90 di kertas miliknya. Satu lagi fakta mengenai seorang Chinen Yuri, dia pintar.

“Baiklah, kita mulai penjelasannya,” Inoo kembali ke depan kelas dan mulai menjelaskan. Kali ini ia benar-benar ingin mencekik Inoo.

Jam sudah menunjukkan pukul enam sore ketika ia dan anggota olimpiade yang lain keluar dari sekolah. Raura sudah terlalu lelah untuk mengeluh dan sekarang ia hanya ingin pulang dan makan apapun yang Kota siapkan di rumah.

“Hei!” Chinen berjalan disebelahnya, “Mau makan sesuatu sebelum pulang?”

Raura menoleh ke kanan dan ke kiri, “Senpai, mengajakku?”

Chinen terkekeh, “Tentu saja, ada orang lain disini?”

Raura hanya menggeleng tidak yakin apakah dia harus menjawabnya. Gadis itu hanya mengikuti Chinen hingga ke halte dan naik bis ke kota.

“Kau tidak alergi makanan apapun kan?”

Raura menggeleng, “Asal tidak kopi,”

“Untuk informasi, Yabu-kun, kopi itu sejenis minuman,”

Rasanya ia terlalu gugup dan tidak bisa berpikir dengan benar. Ini adalah kedua kalinya Chinen mengajaknya jalan. Maksudnya walaupun tidak disengaja, tapi ini bisa dikatakan kencan, kan? Tapi Raura lalu ingat kalau Chinen masih menyukai Ueda-sensei, benar-benar perusak moodnya saat ini jika mengingat akan hal itu.

“Tadi, Senpai hebat sekali, nilaimu maksudku,” Raura tidak berani menatap Chinen yang duduk di sebelahnya.

“Biasa saja. Aku tidak pintar kok, hanya kebetulan aku bisa mengerjakan semuanya,” Chinen menepuk kepala Raura pelan, “Lama-lama juga kau akan terbiasa. Matematika itu hanya soal latihan saja,” ucapnya.

Raura mengangguk-angguk mengerti. Mengapa Chinen selalu melakukan hal yang membuat Raura merasa spesial? Ini tidak adil. Dia menyukai Ueda-sensei, tapi mengapa selalu bersikap manis yang membuat Raura tambah menyukai senpainya itu?!

“Atau kau mau aku ajari? Kita kan latihan hanya seminggu tiga kali, tiga hari lainnya kita bisa mengerjakan soal bersama sepulang sekolah, bagaimana?”

Mata Raura membulat tak percaya. Tuhan sedang memberikan hadiah bertubi-tubi kepadanya, “Apa… tidak merepotkan?” tanya Raura.

Chinen menggeleng, “Tentu saja tidak. Mengajarkan padamu sama saja aku juga belajar kan?” Raura mengangguk setuju, “Baiklah, besok temui aku di kelas ya sepulang sekolah,” lalu tiba-tiba Chinen memberikan ponselnya di hadapan Raura yang kini hanya bisa bengong menatap Chinen, “Nomor handphonemu, Yabu-kun!!”

“Ah iya senpai!!”

***

Entah kerasukan apa,sore ini Raura sudah berada di depan kelas 3A. Rasanya ia tidak sanggup maju dan muncul di kelas 3A. Satu, karena ini kelas tiga dan dia hanya gadis cupu kelas dua. Dan kedua, di kelas selain Chinen ada juga ketiga pria populer lainnya, The Fantastic Four, begitu mereka disebut oleh para penggemarnya. Tentu saja plus Tanimura Rei yang selalu bersama Yamada.

Raura mengintip sedikit di pintu kelas, dan benar-benar hanya ada mereka berlima di kelas. Murid lainnya mungkin sudah pulang, tentu saja ini sudah setengah jam berlalu sejak bel pulang berkumandang.

“Yabu-kun!”

Sial kuadrat. Chinen menyadari dirinya ada di pinggir pintu kelas. Mau tak mau Raura menunjukkan wajahnya, tersenyum dengan segenap tenanganya. Semoga saja dia terlihat benar-benar seperti tersenyum, bukan menyeringai.

“Teman-teman, ini Yabu Raura, dia partner olimpiadeku,”

“Raura-chan!” Yuto otomatis menyambut Raura dan merangkul bahu gadis polos itu, membuat Raura kaget setengah mati, “Youkoso!”

“Manis juga. Chinen pandai juga cari cewek!” ucap Rei.

Chinen hanya tertawa. Tertawa. Ia bahkan tidak berusaha menyangkalnya. Raura yakin wajahnya sudah merah padam sekarang.

“Jadi pacarnya Chii ya? Sayang sekali, padahal kau manis,” Yuto memanyunkan mulutnya dan duduk di sebelah Keito yang masih sibuk dengan ponselnya.

Please, you don’t have to act like that,” nyinyir sekali nada suara Keito, ia pun hanya mengangguk sekilas kepada Raura.

“Baiklah. Kita tinggalkan saja mereka,” Yamada beranjak diikuti Rei, Keito dan Yuto, “Yoroshiku ne, Yabu-kun,” ujar Yamada sambil berlalu.

“Chii!! Kita tunggu di tempat karaoke yaaa!!” Yuto melambaikan tangannya dengan bersemangat, Chinen menjawabnya dengan menunjukkan jempol kepada keempat temannya.

“Maafkan mereka ya, Yabu-kun, kurasa aku akan mulai memanggilmu…. Raura-chan,” Raura kesal karena Chinen terus saja membuatnya terkena serangan jantung ringan, ia takut akan kehilangan kesadaran sebentar lagi, karena ini terlalu indah dan mungkin saja ini hanya mimpi.

“Raura-chan, ayo kita mulai belajarnya!” tegur Chinen.

“Ah iya Senpai!!”

Waktu belajar mereka hanya satu jam setengah dan selama itu pula Raura bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdentum lebih cepat dari biasanya, terutama setiap kali Chinen tersenyum kepadanya.

“Kau ikut karaoke?” tanya Chinen saat Raura sedang membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang.

“Eh, tapi Senpai,”

“Tenang saja, teman-temanku tidak menggigit ko,”

Dan sejam kemudian Raura benar-benar masuk ke ruang karaoke medium berisikan lima orang populer di sekolahnya. Ini bukan skenario yang sering terpikirkan oleh Raura. Ia tidak pernah ingin populer, ia tidak pernah berpikiran akan berteman dengan mereka, dengan Chinen-Senpai, dengan Yamada, Nakajima atau Okamoto. Orang-orang yang selalu hanya bisa ia lihat dari jauh, kini hanya berjarak beberapa sentimenter saja.

“Pesan apa saja, Raura-chan,” dan Keito pun, memanggilnya Raura-chan sekarang.

Raura menggeleng, “Terima kasih, Senpai,”

“Kupilihkan saja yaaaa.. kau suka kopi atau teh?” Tanimura Rei tiba-tiba saja ada di sebelahnya. Kekasihnya sedang sibuk bernyanyi lagu korea yang Raura bahkan tidak pernah mendengarnya.

“Teh saja, Tanimura-Senpai,”

“Panggil aku Rei saja, Raura-chan, baiklah… Lemon Tea?” tawarnya, Raura mengangguk. Rei segera memesankannya setelah bertanya pesanan Chinen.

“Kapan kau jadian dengan Chii?” Rei kembali ke sebelahnya.

“Tidak Senpai, kami hanya teman, bukan maksudku, Chinen-senpai dan aku satu tim olimpiade matematika,”

Rei mengangguk-angguk, “Tidak usah malu padaku, tapi kau suka pada Chii kan?”

Raura hanya bisa menunduk, berharap mereka segera pulang saja. Ia tidak ingin perasaan sepihaknya ini diketahui Chinen.

Chinen mengantar Raura hingga ke depan gedung apartemennya, “Maaf ya, sampai malam begini,”

“Tidak apa-apa Senpai, menyenangkan sekali ko,”

“Baiklah. Sampai ketemu besok ya!” Chinen melambaikan tangannya ketika ia sudah menjauh dari Raura.

Raura mengangguk dan segera berlari masuk ke apartemen. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang. Seakan semuanya akan berjalan lebih baik, ia tau sekarang Chinen yuri menyukai gurunya tapi bukankah tidak mungkin perasaan seseorang berubah karena sering bersama? Walaupun ia hanya gadis biasa, ia ingin memperjuangkan cintanya.

“Tuh! Aku buatkan spageti kalau kau sudah berhenti terkekeh-kekeh sendiri di depan pintu,” suara Kota membuyarkan lamunan Raura.

Raura langsung cemberut, “Tadaima!”

“Okaeri. Ayah berangkat tadi sore. Ia ingin menunggumu tapi kau tidak pulang-pulang,” ucap Kota. Ayahnya bekerja di Amerika dan hanya pulang beberapa kali dalam setahun.

Raura mengangguk, ia tidak bisa mengeluh karena Ayah adalah segalanya bagi mereka kini, dan Raura tidak akan bisa sekolah dan hidup senyaman ini jika Ayahnya tidak bekerja di luar negri. Apalagi Kota sekarang sedang kuliah, setelah menganggur dua tahun karena mencoba masuk ke universitas yang sama dua tahun berturut-turut, namun akhirnya ia memutuskan untuk masuk universitas yang lain, dengan jurusan yang sama, Psikologi.

“Jadi, kau mau cerita kenapa kau tersenyum sendiri di depan pintu?”

Raura menyimpan tasnya, menuju ke tempat cuci piring untuk mencuci tangannya sebelum makan, “Tidak ada apa-apa,”

“Berhubungan dengan pria cantik yang tadi mengantarmu?”

Mata Raura terbelalak. Dasar kakaknya usil, dia pasti mengintip tadi!

“Chinen-senpai tidak cantik!”

“Jadi namanya Chinen, baiklah… hahaha! Aku ke kamar dulu! Jangan lupa masukkan sisanya ke lemari es!” Yabu menghilang dari pandangan Raura dan ia pun makan dalam diam, memikirkan semua kejadian yang sudah terjadi antara dirinya dan Chinen.

Belanja bersama, Chinen memeluknya, belajar olimpiade bersama, makan malam bersama, karaoke, dan bahkan diperkenalkan kepada teman-teman dekatnya. Bohong jika Raura tidak merasa spesial bersama Chinen, namun menyadari Chinen bilang bahwa Ueda-Sensei adalah cinta pertamanya, ia sedikit pupus harapan karena mungkin saja Chinen memang hanya menganggapnya sebagai adik kelas saja.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari Chinen.

From : Chinen-senpai
Subject : (no subject)

Maaf mengganggumu malam-malam.
Aku baru ingat kalau aku tadi mau mengajakmu
Ikut ke taman bermain sabtu ini.
Tidak hanya aku, ada yang lain juga. Bagaimana?
^^)b

Chinen Yuri.

Astaga. Astaga. Astaga. Raura membaca pesan itu berkali-kali hingga bahkan ia mengingat setiap detai kata-katanya.

Sabtu.

Taman bermain.

Sabtu.

Taman Bermain.

Chinen-senpai mengajaknya untuk berkencan, yah walaupun bersama teman-temannya, pasti ini maksudnya dia ingin mengajak Raura sendirian, tapi dia tak mau berkesan awkward sehingga ia juga melibatkan temen-teman dekatnya.

Oke Raura, Tenang! Serunya pada dirinya sendiri. Raura tidak yakin apa yang harus dia pakai sabtu nanti, tapi masih ada dua hari untuk memikirkannya, dan ia harus bisa bersikap wajar saat bertemu besok dengan Chinen-senpai. Rasanya ia tidak bisa tidur karena terlalu banyak berpikir hal yang bahagia malam ini.

***

Chinen membiarkan dirinya sedikit tenang setelah mandi dan minum kopi. Bukan kebiasaannya, tapi ia butuh kopi. Siang ini ia melihat Kaho bersama tunangannya, yah, tentu saja bukan hal baru, tapi Hikaru sialan itu merangkul Kaho, karena mereka sedang di belakang sekolah, dan Kaho terlihat sangat bahagia.

Ia masih harus mencari bukti sebelum ia membeberkan semuanya kepada Kaho. Lelaki itu berselingkuh, padahal mereka akan menikah dalam hitungan bulan. Kenapa bisa seorang Yaotome Hikaru mengkhianati Kaho seperti itu?! Membuat Chinen kesal saja.

Pertama kali ia melihat Hikaru bersama wanita lain adalah saat ia pulang sekolah dan harus belanja seperti biasa. Hikaru terlihat se-mesra saat bersama Kaho, dan itu membuatnya marah. Bagaimana bisa wanita secantik dan secerdas Kaho harus diduakan dengan wanita yang pasti tidak sebaik Kaho?! Ia ingin langsung melabrak Hikaru, tapi saat itu ia tidak punya nyali, ia tidak ingin berbuat rusuh dengan gurunya.

“Moshi-moshi?!” angkat Chinen ketika sadar ponselnya bergetar dan menunjukkan nama ‘Ryosuke’ di layarnya.

“Kau ajak siapa sabtu ini?” tanyanya to-the-point. Yamada memang tidak pernah repot-repot berbasa-basi saat meneleponnya.

“Raura-chan. Kenapa?”

“Jadi kau menyukai gadis itu? Sudah menyerah soal Ueda-sensei, eh?”

Chinen mendesah, “Raura-chan itu bukan siapa-siapa. Maksudku, dia manis, tapi aku belum bisa melupakan Kaho.Tidak akan pernah bisa!” seru Chinen kesal.

“Whuooww… tenang Chii! Kuharap kau bisa melupakannya. Maksudku, dia dan Yaotome-sensei kudengar akan menikah?”

Jadi Hikaru sialan itu sudah memberitahu sekolah soal rencana menikahnya dengan Kaho, ucap Chinen dalam hati.

“Sudahlah. Kalau kau hanya mau menceramahiku, lebih baik simpan tenagamu. Aku tidak mau mendengarkanmu!” Chinen menekan tombol merah dan tiba-tiba merasa frustasi.

Chinen membuka layanan chat nya dan membaca pesan terakhir yang Kaho kirimkan beberapa hari yang lalu.

Kaho : Chinen-kun jangan selalu berkata bahwa aku adalah cinta pertamamu. Mungkin perasaanmu ini hanya karena kau mengagumiku? Atau kenyataan kau ingin kakak perempuan?

Me : Aku benar-benar mencintaimu Kaho-chan!

Kaho : Maaf Chinen-kun, aku tidak melayani murid jika bukan mengenai pelajaranku. Tidurlah, sudah malam… Good night! ^^

Dengan semua usahanya selama dua tahun ini, Kaho belum pernah menolaknya secara gamblang, tidak pernah meminta Chinen benar-benar berhenti mengejarnya. Ia selalu bilang bahwa Chinen mengaguminya saja. Ia hanya bisa merasa frustasi, bagaimana caranya mendapatkan hati Kaho?!

***

Sabtu yang sudah Raura tunggu-tunggu. Ia bangun terlalu pagi, mencari baju yang pas untuknya hari ini. Terusan? Dress? Ia membuka lemarinya dan menyesal tidak beli baju dulu kemarin. Ia harus pakai apa? Ia mencoba sebuah terusan selutut dengan warna pastel yang dulu sekali dibelikan Ayahnya. Tidak pernah ia pakai kecuali ada Ayah – Untuk menghargainya – Ugh! Ini bukan dirinya. Raura mencoba kaos dan jeans, lalu ia menyesal pasti ia tidak terlihat seperti gadis yang akan kencan jika memakainya. Ia mencoba beberapa baju lainnya dan akhirnya menyerah menggunakan celana jeans, sebuah atasan rajutan berlengan panjang warna abu-abu kesukaannya dengan dalaman kaos putih polos, ia pun menggunakan sepatu conversenya seperti biasa. Walaupun sudah bulan Mei, udara masih belum panas dan seharusnya ini sudah pas. Ia tidak ingin terlihat terlalu terlihat memaksakan diri. Raura mengambil back packnya dan segera berangkat ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

Ketika ia sampai di pintu taman bermain, ia melihat Chinen dan Yamada serta Rei sudah menunggunya. Ia berlari ke arah ketiga orang itu dan langsung merasa salah kostum saat melihat kostum Rei yang sangat…. well prepared. Gadis itu menggunakan mini dress sebatas paha dengan sepatu boot nya.

“Maaf aku telat?”

“Tidak kok, Raura-chan! Kau datang tepat sekali. Kita juga baru sampai.”

“Kita hanya berempat?” tanya Raura bingung. Ia pikir akan bertemu The Fantastic Four lengkap, mungkin bahkan dengan pasangan mereka.

“Tentu saja! Ayahku hanya punya empat tiket, jadi aku ingin double date!” jelas Rei. Jadi Rei mendapatkan empat tiket gratis dan mengajak Chinen serta dirinya? Raura hanya mengangguk-angguk.

“Ayo berangkat!!” Rei segera menarik lengan Yamada dan membuat Raura tiba-tiba merasa canggung dengan keberadaan Chinen disampingnya.

Secara tidak langsung Rei mengatakan bahwa dirinya dan Chinen adalah pasangan juga.

Selama delapan jam setelahnya mereka main banyak sekali permainan karena Rei menggunakan tiket VIP sehingga mereka tidak perlu mengantri. Chinen selalu berada di samping Raura, naik apapun itu, dan Chinen juga menjaga Raura ketika mereka naik roller coaster misalnya. Chinen tau Raura takut dan secara refleks menggenggam tangannya, juga saat mereka harus berjalan di tempat gelap, Chinen menuntunnya. Raura tau, ini hanya untuk sementara tapi ia terus-terusan berharap Chinen sebenarnya menyukainya dan bukan karena suatu kewajiban ia memperlakukan Raura seperti kekasihnya.

“Hari ini menyenangkan sekali Raura-chan!!” Rei memeluknya sebelum mereka berpisah karena Yamada dan Rie akan pergi makan malam di tempat lain. Sementara Chinen bilang akan mengantar Raura pulang.

Chinen memang terlihat lain hari ini. Walaupun mereka bersenang-senang, Raura mendapati Chinen terlihat murung beberapa kali saat hanya Raura yang memperhatikannya. Ia tidak tersenyum se-ceria biasanya.

“Chinen-senpai, kau baik-baik saja?”

Chinen menatap Raura, “Tentu saja! Hanya sedikit lelah. Hey! Ada penjual burger, kau mau?” Chinen berlari ke sebuah mobil penjual burger yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berjalan.

Setelah menunggu, burger mereka sudah jadi dan Chinen menyerahkannya pada Raura.

“Arigatou, Senpai…” Raura mengigit burgernya dan rasanya lumayan juga.

“Kau benar-benar tidak ingin makan sebelum pulang?” tanya Chinen.

Raura menggeleng, “Tadi kita ngemil banyak sekali loh, Senpai!” satu porsi kentang goreng, dua buah sosis ukuran besar, popcorn, beberapa gelas soda, bagaimana Raura bisa makan lagi setelah semua cemilan itu masuk ke perutnya, ditambah sekarang ia sedang mengunyah sepotong burger.

Raura memandangi Chinen yang sedang asik menikmati burgernya hingga tak sadar ia sudah makan dengan berantakan. Raura tertawa dan mengelap pelan sudut bibir Chinen yang belepotan oleh mayonaise. Seakan ia tersadar bahwa ini sudah melewati batas kebiasaannya, Raura tiba-tiba mematung karena Chinen kini menatapnya dengan posisi tangan Raura masih berada di pipi Chinen.

“Uhm…” sial. Raura merasa benar-benar canggung.

Apakah ada yang salah dengan dirinya? Mengapa Chinen menatapnya seperti itu?! Raura mulai panik dan hendak menarik tangannya saat ia merasakan bibir Chinen sudah mendarat tepat di atas bibirnya. Tangan Raura lemas dan burger yang tak bersalah itu pun jatuh ke tanah. Belum sempat Raura menguasai keadaan, Raura merasakan telapak tangan Chinen mendarat dengan mulus di lehernya, menarik wajah Raura untuk menguasai ritme ciuman yang ia inginkan. Bibir Chinen terasa lembut dan manis, Raura memejamkan matanya untuk menikmati kuluman bibir Chinen, merasakan magisnya suasana ini dengan suara dentuman jantungnya yang makin tak terkontrol.

Raura masih menutup matanya untuk menikmati ciuman lembut itu ketika ia merasakan Chinen menjauh. Ia rasa kini mukanya sudah merah padam. Raura tak berani menatap Chinen, pemuda itu berdiri agak menjauh, membelakangi Raura sehingga hanya punggungnya saja yang bisa dipandangi oleh Raura.

“Lebih baik kita pulang,” suara Chinen sedingin es.

Apakah Raura melakukan kesalahan? Mengapa Chinen tiba-tiba berubah setelah memberinya ciuman pertama yang tidak akan pernah ia lupakan.

-To Be Continue-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s