[Oneshot] The Moon

The Moon
Type: Oneshot
Genre: Romance
by, Nadia Sholahiyah Utami
Fandom: HSJ
Starring: Arioka Daiki, Yoshikuni Emi (OC)

HAAAII setelah berapa lama seusai saya UAS/asik/ akhirnya aku nulis ff lgi, kali ini ngga berchap, karena aku masih ada hutang ff ke karunii hahaha… oke, ini untuk Wita kakak Ipar aku. Hahaha selamat menikmati, jangan lupa komment.

Oh iya, ff ini aku terinspirasi dari lagu nya Bruno Mars yang Talking To The Moon.

***

Seorang pria pendek, berkulit putih dan berwajah imut itu sedang sibuk memandang bulan yang bersinar menerangi malam, di taman komplek rumahnya itu memang tempat yang pas untuk menikmati bulan, entah kenapa jika ia melihat bulan. Membuat hatinya sangat tenang.

“Mizuki-kun!” panggil seorang wanita yang berjalan kearahnya sambil mengetukan sebuah tongkat ke aspal sebagai alat bantu penglihatannya, mata gadis itu memandang ke sembarang arah “Mizuki-kun, apa kau di sana? Kalau iya, jawab aku” ujar gadis itu lagi.

Pemuda yang di panggil ‘Mizuki’ tadi hanya terkekeh pelan melihat tingkah laku sang gadis “aku disini, Emi-chan” jawabnya kemudian.

Mendengar sahutan yang sedari tadi ia tunggu, akhirnya sang gadis pun tersenyum, dan duduk di sebuah bangku dengan bantuan sang pemuda tadi.

Yoshikuni Emi, si gadis buta yang beberapa bulan ini dekat dengan seorang pemuda yang mengaku dirinya bernama ‘Mizuki’entah itu benar atau tidak, dengan keadaan buta gadis itu tentu saja tidak tahu bagaimana bentuk wajah bahkan postur tubuh si pemuda.

“Apa malam ini bulannya kelihatan?” tanya Emi, kepalanya mendongak ke atas seakan memandang indahnya langit malam, namun matanya tidak tahu mengarah ke mana.

“Ada, bulannya saat ini berbentuk sabit” ujar Mizuki di telinga Emi, gadis itu tersenyum.

“Sabit? Bagaimana itu bentuknya?” tanya Emi. Mizuki memgambil sebelah tangan Emi lalu membuka telapak tangan gadis itu “bentuknya seperti ini” Mizuki menggambarkan bentuk bulan sabit ke telapak tangan Emi menggunakan jari telunjuknya, setelah selesai sang gadis mengangguk mengerti lalu tersenyum.

“Apa itu indah?” tanya Emi.

“Iya, sangat indah”… “seindah mata mu”

“Mizuki!” panggil Emi, karena dirinya merasa di acuhkan sejak tadi.

Entah kenapa pemuda itu tanpa sadar hampir saja mencium gadis di hadapannya saat itu “A-ah iya?”

“Kau dengar tidak aku bicara apa tadi?” ujar Emi dengan nada sedikit kesal.

“Iya.. aku dengar, kan sudah aku jawab bulan sabitnya indah” jawab Mizuki dengan nada innocent-nya.

“Bukan ituuuuu” Emi mengangkat tongkatnya lalu mencoba memukul Mizuki walau tidak kena.

“Jadi apa?” setelah selesai Emi memukulinya, Mizuki kembali bertanya.

Sesaat gadis itu mengambil nafas yang dalam, lalu ia hembuskan kembali “besok pagi, aku akan ke Amerika”

“Amerika?!” wajah kaget Mizuki tidak mungkin Emi ketahui.

“Iya, aku akan operasi mata di sana, kata ayah ku yang sedang bertugas di Amerika, ia mendapat donor mata untuk ku” ayah Emi adalah seorang dokter yang kini sedang bertugas di Amerika. Bersama ibunya ia akan berangkat ke Amerika untuk operasi matanya, tentu saja Emi sangat senang saat mendengar ada seseorang yang berbaik hati mendonorkan mata untuk gadis 17 tahun seperti dirinya.

Mizuki kali ini hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, entah kenapa tenggorokannya sangat terasa kering saat ini “apa.. lama di sana?.”

“Kata Ayah ku si, aku pulang ke sini lagi saat beliau ada tugas di Jepang, aku tidak tahu itu kapan”

Pikiran Mizuki semakin kacau, setahu dirinya Emi pernah cerita kalau ayahnya tujuh tahun sekali baru pindah tugas. Ini benar-benar membuatnya pusing, gadis buta seumuran dirinya ini sudah membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kali, namun sekarang gadis itu akan pergi? Apa bisa ia merelakan kepergiannya?

Satu helaan nafas Mizuki keluarkan, lalu ia mengambil tangan sang gadis dan di genggam nya “semoga operasinya berhasil ya” senyum getir terpampang di raut wajah pemuda itu.

Emi tersenyum manis “arigatou.”

Esoknya sebelum Emi berangkat ke bandara Mizuki datang ke rumah Emi dan memberikan sebuah kalung untuk Emi, dengan liontin bulan sabit. Di belakang liontin tersebut terdapat ukiran dua huruf.

Mizuki berbisik “jaga baik-baik kalung dari ku ya” lalu di jawab anggukan dari Emi.

***

Tujuh Tahun kemudian.

Langit cerah dengan sinar mentari yang semakin membuat Daiki kepanasan setelah keluar dari mobil, ia berlari ke dalam gedung pencakar langit tersebut, tempat ia bekerja.

Hari ini ia akan melakukan pembuatan video klip terbaru mereka. Dengan tema Baby Pink.

Kabar itu sempat membuat nya sakit perut, karena terlalu sering mendapatkan tema seperti itu.

Baru saja ia masuk ke Lobby Daiki mendapatkan kabar dari temannya, Hikaru melalui chat group kalau harus ke ruang latihan saat ini. Untuk apa? Dengan langkah cepat ia pun menuju ke sana, dan saat baru saja masuk Daiki menemui seorang perempuan asing di dalam ruangan latihannya. Semua sudah datang, ternyata ia terlambat. Lagi.

“Yo! Kau terlambat lagi Dai-chan!” tegur Yabu sambil menghampiri pria pendek itu lalu merangkulnya, namun ekspresi Daiki masih memasang wajah bingung–memandang gadis asing di ruang latihannya tersebut.

“Dia siapa? Pakaiannya?” tangannya menunjuk perempuan itu, bagaimana tidak? Gadis itu memakai baju ala Cosplay, dress yang mengembang sampai kebawah dengan variasi warna Pink susu. Bahkan kaki gadis itu hampir tidak kelihatan karena dress nya yang sangat panjang.

Topi besar dengan warna senada. Rambut panjang yang mengembang, dan dandanan yang terlalu tebal. Kenapa ada wanita aneh yang masuk ke sini? Pikir Daiki.

“Kalian mengundang dia ke sini untuk PV baru?!” protes Daiki kali ini suaranya cukup tinggi sambil memandang teman grup nya, membelakangi gadis aneh itu.

“Daiki dengar!” Yamada menyela “dia designer kita yang baru, memang pakaiannya begitu tapi pasti dia tahu bagaimana menyesuaikan pakaian kita saat di konser atau dimana pun” jelas Yamada.

Daiki mendengus “selera yang norak”

“Terserah kamu mau beranggapan apa, toh dia sudah resmi jadi designer kita” ujar Yabu santai sambil membuka jacket Adidas miliknya lalu ia lempar ke sofa.

“Apa?!” Daiki semakin tersentak.

“Yosh! Ayo kita mulai syuting!!” Chinen menyemangati.

Setelah semua keluar dari ruang latihan menuju ke tempat pembuatan Video Clip mengabaikan respon dari Daiki, kini hanya Daiki dan perempuan itu yang tersisa sampai akhirnya perempuan itu mengulurkan tangannya ke hadapan Daiki dan memperkenalkan diri, ia rasa harus melakukan itu “Hajimemashite Yoshikuni Emi desu”

Saat itu Daiki langsung diam Daiki sepertinya tidak asing dengan nama itu, dan saat Daiki memandang matanya, sepertinya mata itu juga tidak asing.

Ah tidak mungkin nama Emi itu banyak. Pikirnya.

Dengan percaya dirinya ia tersenyum lalu menjabat tangan si gadis “Arioka Daiki”

Sudah satu bulan setelah Emi berkenalan dengan Daiki dan perempuan designer grup mereka yang kini akrab di panggil Emi-chan itu bergabung membuat kostum mereka, ternyata tidak seburuk yang Daiki kira, entah kenapa selera fashion yang ia inginkan, selalu tepat dengan apa yang Emi buat untuk mereka.

Seperti sekarang, Emi sedang membicarakan pakaian untuk lagu New Age yang akan mereka pakai di konser kelak, mereka termasuk Daiki memperhatikan penjelasan Emi. Walaupun pemuda cubby itu masih terlihat acuh.

Arioka Daiki adalah salah satu member Idol Group yang bernama Hey! Say! JUMP. Di bawah naungan Jhonnys Entertaiment , di sana semua bernotaben laki-laki, bahkan semua para staff dan designer adalah laki-laki, hanya ada beberapa staff perempuan. Termasuk Emi.

Namun Emi berbeda, karena Yabu yang menemukannya di sebuah perpustakaan, pemuda itu tidak sengaja menemui Emi sedang menggambar sebuah sketsa baju. Terlihat sangat keren menurut Yabu, hingga akhirnya ia mengajak gadis itu ke tempat kerjanya, memutuskan untuk merekrut Emi menjadi Designer grup nya.

Kebetulan gadis itu lulusan Designer.

Saat Yabu mengajukan permintaan izin untuk merekrut Emi, pemuda itu tidak yakin pada awalnya, namun dengan beberapa tes yang Emi lewati, ternyata mendapatkan respon yang sangat baik dari Direktur mereka.

“…jadi akan terlihat keren dan para gadis-gadis pasti akan suka, mereka mungkin bosan dengan tema yang terlalu feminim jadi aku membuatnya sedikit Bad Boys kalian setuju?” Emi menyelesaikan penjelasannya tentang kostum mereka.

Reaksi mereka hanya diam, sambil menganga kagum, entah itu Yamada, Chinen termasuk juga Daiki.

“Kau perempuan, tapi ide mu sangat hebat sampai seperti ini?” Inoo mengambil selembar kertas yang terdapat gambaran sketsa kostum buatan Emi.

Gadis itu tersenyum malu “itu karena aku selalu memperhatikan kalian”

Hikaru tersentak “benarkah? Sejak kapan?”

“Hmm Screap Teacher? Dan Video Mayonaka no Shadow Boy, aku sangat suka kostum kalian saat itu. Iya itu.. saat pertama kali aku bisa melihat dan kembali ke Jepang”

“Bisa melihat pertama kali? Kembali ke Jepang? Maksud mu apa?” kini Yuya yang membuka suara, karena merasa ada yang menjanggal dari kata-kata Emi barusan.

Namun gadis itu tidak menjawab, ia hanya menunduk dalam, sesekali gadis itu melirik ke arah Daiki yang juga sedang melihatnya, sadar akan hal itu Emi semakin menundukan kepalanya.

Kening Daiki berkerut saat melihat kalung yang Emi pakai, sepertinya bentuk kalung itu tidak asing baginya, ya benar kalung itu. Daiki tidak mungkin salah.

“Ya sudah, aku setuju dengan kostum buatan mu, semoga memuaskan” Yuto memecahkan keheningan yang mencekam barusan.

Dan akhirnya yang lain juga ikut setuju, tanggapan Emi hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Kecuali Daiki yang masih diam dan tenggelam dalam pikirannya.

“Hoi Daiki, bagaimana menurut mu?” tegur Hikaru. Membuat Daiki sadar lalu membenarkan posisi duduknya.

“Terserah kalian saja” ucapnya acuh lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.

“Kau mau kemana?” tanya Yamada.

“Pulang, jaa minna” sikap Daiki yang aneh sukses menimbulkan tanda tanya di antara mereka, termasuk Emi.

.

.

.

Langit malam yang selalu bertaburan bintang, dan satu bulan yang menerangi gelapnya malam, menjadi favorite Daiki untuk menemani dirinya saat malam datang menyelimuti.

Dan menjadi teman bicaranya untuk melepas rindu kepada seseorang di taman tidak jauh dari rumahnya, dari kecil Daiki selalu mengunjungi taman itu setiap malam tanpa ada yang mengetahuinya.

“Apa benar itu kamu, Emi-chan?” ia sedikit mendengus lalu tertawa. “kalau memang benar, kau sangat pintar ya sekarang dan juga…” satu helaan napas di keluarkannya “cantik…”

“Kamu selalu saja membuat ku jatuh cinta, untuk yang kesekian kalinya aku mengatakan kalau aku mencintai mu, Emi-chan” mata Daiki masih fokus memandang bulan, malam ini bulan tersebut berbentuk bulat purnama.

“Apa kau mendengar ku?”

***

Semua sudah selesai mengukur ukuran tubuh mereka untuk kostum yang kemarin Emi jelaskan, hanya sersisa Daiki yang belum datang sampai saat ini, kemana dia? Satu jam sudah berlalu namun batang hidungnya belum juga terlihat.

“Aku keluar dulu untuk beli minum” setelah lama menunggu akhirnya Emi memutuskan untuk keluar juga. Ia tidak tahan berada di dalam lama-lama karena di sana semuanya laki-laki hanya dia sendiri yang perempuan.

“Oh iya, hati-hati Emi-chan” sahut Keito.

Dua mangkuk sushi sudah ia habiskan dalam waktu singkat. Berkali-kali ia memeriksa ponsel namun tidak ada apa-apa, padahal kata Yabu, ia akan memberi kabar saat Daiki sudah datang.

Emi menghela nafasnya dalam, perutnya sudah sangat kenyang saat ini sehingga membuatnya sedikit begah, untung hari ini dia memakai baju santai sehingga tidak akan membuatnya pusing.

Seperti mengingat sesuatu ia pun mengeluarkan kalung yang sudah tujuh tahun ini ia pakai dan tidak pernah ia lepas.

Kalung berliontin bulan sabit, di belakangnya terdapat ukiran huruf ‘A.D’. Pikiran Emi tenggelam, entah kenapa ia malah terngiang dengan wajah Daiki.

Apakah A.D itu maksudnya Arioka Daiki?

Lamunan Emi buyar saat ponsel nya bergetar, ia mendapat pesan dari Yabu kalau Daiki baru saja datang, setelah membayar makanannya Emi cepat-cepat kembali menuju gedung tinggi itu.

“Emi-chan datang!” seru Chinen saat Emi masuk ke dalam ruangan.

Terlihat Daiki yang sepertinya sedang di ceramahi oleh Yabu “ya sudah ukur dulu untuk kostum kita, jangan begadang lagi oke?” Daiki hanya menganggapi nya dengan anggukan.

Daiki mengalihkan pandangannya ke arah Emi namun langsung terdiam di hadapan gadis itu, jantungnya berdegup kencang. Lebih kencang di banding saat ia menari atau berlarian di atas panggung. Berdetak kecang? Ada apa dengan pemuda itu? Belum tentu Emi adalah cinta pertamanya kan? Ah, ya sudahlah.

“Ayo kita mengukur ukuran tubuh mu, Arioka-san?”

“I-iya” Emi pun mengajak Daiki untuk masuk ke sebuah ruangan.

Setelah mereka menghilang Hikaru dan Yamada mendekat sambil memasang wajah bingung ke arah mereka tadi.

“Yamada, kira-kira ada apa di antara mereka?” tanya Hikaru meniru detektif yang ada di dorama.

“Kalau menurut ku si, mereka sedang jatuh cinta” ujar Yamada menanggapi.

“Hey hey… jangan kalian kira kita sedang syuting drama” protes Yuto “tapi ada apa ya di antara mereka?” pria itu menggosok dagunya sambil memandang ruangan Emi dan Daiki masuki tadi dengan tatapan curiga.

“Cih sama saja” bisik Hikaru jengkel.

Daiki yang sedang di ukur tubuh nya tentu saja mendengar obrolan di luar sana, membuat ia tambah gelisah dan mulutnya mendumel.

Ketika Emi akan mengukur di bagian bawah ketiaknya, tanpa sengaja mereka saling memandang satu sama lain.

Daiki memandang mata gadis itu, masih sama seperti tujuh tahun yang lalu mata itu selalu membuatnya tenang. Dan selalu membuatnya seperti hilang ingatan untuk melakukan apapun.

“Anoo aku susah mengukurnya kalau kamu terlalu dekat” ternyata wajah Daiki sudah mendekati wajah Emi, tanpa sadar.

Pemuda itu langsung memundurkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain “ehem, gomenne”

“Sudah, silahkan di pakai lagi bajunya” Emi membelakangi Daiki yang sedang memakai baju, ia sibuk menulis semua ukuran tubuh Daiki.

Saat pemuda itu keluar, Emi lemas dan langsung duduk di lantai, aroma tubuh itu. Membuat Emi yakin kalau itu adalah aroma tubuh Mizuki nya dulu.

Gadis itu menangis, ia terlalu merindukan pria misterius yang ia tidak tahu apa benar ada orang yang bernama Mizuki, atau Daiki itu adalah Mizuki nya? Emi terlalu bingung saat ini.

“Jika itu kamu, mengakulah Mizuki-kun” isak Emi.

Malam sudah datang, namun para pria tampan tersebut belum juga ada niat untuk pulang, karena mereka sedang asik bermain dengan Emi, sang designer mereka.

Berawal dari kelakuan Hikaru yang sepakat akan melakukan suatu rencana bersama Yamada. Karena mereka sangat penasaran dengan sikap Daiki yang akhir-akhir ini berubah saat kedatangan Emi. Mereka berniat untuk melakukan suatu permainan.

“Jadi peraturannya seperti ini, ketika kita memutar botol itu” Hikaru menunjuk ke arah botol yang ada di tengah-tengah mereka “dan berhenti di hadapan siapapun dia harus siap menerima beberapa pertanyaan dan harus menjawab dengan jujur”

“Jadi ini lebih ke truth?” sela Yuto.

“Bisa di katakan begitu, namun jika tidak mau menjawab ia harus terima hukuman dari siapa saja yang ingin menghukumnya, boleh di mulai?” Hikaru mengedarkan pandangannya ke arah teman-temannya yang sudah duduk melingkari botol yang menjadi objek permainan mereka.

“Kalian saja aku ingin pulang”

“Enak saja! Duduk sini!!” Chinen menarik tangan Daiki saat pemuda itu baru saja ingin berdiri, membuat Daiki kembali duduk dan hanya bisa pasrah mengikuti alur permainan teman-temannya.

“Kita mulai!” Yamada pun memutar botol tersebut. Untuk waktu yang lama botol tersebut belum menuju ke arah Daiki, walaupun ke Emi sudah tetapi Daiki tidak menanyakan hal yang aneh-aneh.

Hanya Hikaru yang menanyakan tentang orang yang Emi sukai, tapi jawaban Emi “Ada tapi aku tidak tahu dia menyukai ku atau tidak” mendengar kata-kata itu entah kenapa malah membuat dada Daiki merasa hangat.

Hingga beberapa saat botol itu kembali di putar lalu mengarah ke Daiki. Berawal dari pertanyaan simple yang di beri Yabu, Chinen, Inoo dan teman-temannya yang lain.

Namun ketika Emi bertanya, malah membuat Daiki merasa tersudut “siapa nama teman kecil mu?”

Daiki ingin bilang, tapi lidahnya terasa kelu. Bukan, itu bukan teman kecilnya, tapi cinta pertamanya. Jadi jika di tanya itu. Tentu Daiki akan menjawab yang lain.

“Himitsu” jawab Daiki setelah lama menunggu.

“Nani?! Uso!” geram Hikaru. “Harus di jawab dong”

Pemuda chubby itu dengan santainya mengangkat bahu “terserah aku mau menjawab atau tidak”

“Kalau begitu, antar Emi pulang sampai ke rumahnya”

“Hah?!”

“Ide bagus Yama-chan!” seru Hikaru dalam hati.

Dan berakhirlah dengan Daiki yang mengantar sang gadis designer grup nya itu ke rumah. Walaupun harus berdebat dulu, tapi toh di dalam hati Daiki ia malah senang.

Senang?

“Anoo..” Emi bersuara pelan sambil menunduk, “kenapa kau merahasiakan teman kecil mu?”

Tiba-tiba mobil yang Daiki bawa berhenti mendadak membuat Emi kaget dan hampir saja kepalanya terbentur. “hati-hati dong!” bentak Emi.

“Kau yang membuat ku jadi tidak hati-hati, kenapa harus tanya itu lagi?!”

“Itu… karena…” Emi berkata gugup.

Daiki berdecih lalu kembali menjalankan mobilnya, alamat rumah Emi yang di berikan kepadanya, membuat Daiki yakin bahwa ini adalah Emi nya yang dulu.

Ternyata gadis itu tidak pindah rumah.

“Arigatou Arioka-kun” Emi menundukan kepalanya setelah keluar dari mobil milik pemuda chubby itu. “maaf sudah merepotkan”

“Hmm daijoubu masuk dan tidurlah, oyasumi”

Emi tersenyum “oyasumi”

Lagi-lagi Daiki kembali duduk di sebuah bangku taman, kembali melihat indahnya bulan.

Berharap bulan tersebut dapat menyampaikan isi hatinya kepada gadis yang ia cintai.

Namun ternyata Daiki sadar, semua yang ia katakan hanya nihil, tidak ada yang di sampaikan oleh bulan itu kepada Emi.

Meski begitu, berbicara dengan bulan sudah menjadi kebiasaan seorang Daiki.

“Ternyata benar itu kamu, Emi-chan, kenapa kamu masih bertanya masalah teman kecil ku?” Daiki tersenyum memandang bulan.

“Aku tidak punya teman kecil, kalau cinta pertama waktu kecil aku ada”

“Jadi, cinta pertama mu siapa?” Daiki terbelalak karena mendengar suatu pertanyaan yang di lontarkan oleh suara yang familiar.

Suara yang baru saja tadi ia dengar, suara itu milik seseorang yang ia rindukan. Emi.

“Aku kira kau sudah pulang” Emi berjalan mendekati bangku yang di duduki oleh Daiki, lalu ia menempatkan posisi nya di samping pria itu.

Bagaikan di sengat listrik, Daiki hanya bisa diam tidak mengatakan apapun, ia bingung harus menjawab apa dari pertanyaan Emi barusan.

“Wajah mu…” Emi mendakati wajahnya sambil memejamkan mata ke arah Daiki, membuat Daiki semakin membisu. Seketika Daiki bisa merasakan lembutnya belaian tangan Emi di wajahnya. “mengingatkan ku pada seseorang”

“Souka… kenapa kau harus membelai wajah ku? Seperti orang buta saja” ucap Daiki ketus. “dan kenapa kamu kesini?”

Emi menjauhkan dirinya dari Daiki lalu mendengus. “Aku dulu buta”

“Eehh?”

“Sebentar, kau belum menjawab pertanyaan ku”

“Pertanyaan yang mana?”

“Siapa cinta pertama mu?”

Daiki kembali diam, ingin ia mengatakan kalau cinta pertamanya adalah Emi, tapi pemuda itu takut kalau Emi tidak mengenalnya. Karena yang Emi tau dirinya bukanlah Daiki, melainkan Mizuki.

“Cinta pertama ku, bulan” jawab Daiki akhirnya.

“Apa?”

“Iya bulan” Daiki menatap Emi lalu tersenyum “karena bulan itu melambangkan seseorang” masih dengan senyum nya Daiki lalu berdiri.

“Aaahh aku pulang ya, besok harus kerja lagi” setelah merenggangkan badannya, Daiki pun meninggalkan Emi yang masih diam sambil memperhatikan kepergian Daiki.

“Mizuki-kun” langkah Daiki berhenti.

“Aku mengenal seseorang yang mengaku diri nya Mizuki. Aku merindukan pria itu. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, tapi di dekat mu, aku merasakan kehadiran Mizuki-kun di samping ku” lalu pria itu membalik tubuhnya, kembali melihat ke arah Emi yang sudah berderai air mata.

“Aku ingin menemuinya, seperti apapun ia” Daiki mendekati sosok Emi yang masih menangis. Di peluknya perempuan itu lalu mengelus kepalanya dengan sayang.

“Suatu saat kau akan bertemu dengannya, Emi-chan” bisik Daiki di telinga Emi. Gadis itu masih menangis di dalam pelukan Daiki. Hangatnya dekapan Daiki membuatnya tenang.

“Mizuki-kun..” bisik Emi membalas pelukan pria itu.

***

“Mizuki-kun” malam itu, Emi kembali datang ke taman. Menghampiri lelaki yang selama beberapa bulan ini mengisi malamnya.

“Ada apa?” tanya Mizuki dengan nada lembut.

“Kenapa, setiap aku menyetel televisi, aku seperti mendengar suara mu ya?” kali ini Emi yang bertanya dengan polosnya, kepalanya mengarah ke Mizuki, walaupun matanya tidak tau mengarah kemana.

Tanpa sepengetahuan Emi, ekspresi Mizuki kini sangat terkejut, bagaimana kalau Emi tahu kalau dirinya adalah seorang artis. Walaupun masih Junior.

“Ah.. itu..” Daiki menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencari alasan yang tepat. “mungkin.. hanya perasaan mu saja” ya, hanya itu yang bisa Mizuki katakan.

Cukup lama Emi terdiam, lalu kepalanya menengadah ke arah bulan. “wahai bulan, kalau dia bohong. Hukum saja dia tidak bisa tinggi nantinya”

“E-eeh kau kejam sekali” seru Mizuki takut.

“Makanya jujur kepada ku” Mizuki hanya bisa menelan ludah. Haruskah?

Sedangkan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menutup identitasnya dari Emi. Karena Emi pernah berkata “aku tidak ingin mempunyai pacar seorang artis.”

Maka dari itu, Mizuki jadi memutuskan untuk tidak memberitahu Emi kalau dirinya adalah seorang artis.

“Sembuhkan dulu mata mu, baru kau akan tahu. Aku artis atau bukan” ucap Mizuki kemudian, setelah Emi berkali-kali memanggilnya.

“Ah, yasudah. Aku ingin memberi mu ini” Emi meraih sebuah kantong kecil berwarna kuning gading yang sedari tadi ada di pangkuannya. Lalu memberikannya kepada Mizuki.

“Apa ini?” tanya Mizuki sambil memeriksa benda yang ada di kantong tersebut.

“Lihat saja” sesuai perintah Emi, Mizuki membuka kantong tersebut lalu mengambil isinya, berisi kotak lumayan kecil. Setelah di buka, ternyata isi nya adalah Mp3 kecil dan sebuah ear set sebagai alat pendengar Mp3 tersebut.

“Nande? Tiba-tiba kamu memberi ku ini” Mizuki menyodorkan barang dari Emi, meski ia tahu Emi pasti tidak menyadari itu.

Emi tersenyum “ketika kamu merindukan ku, dengarkan rekaman di Mp3 itu”

.

.

.

.

“Hay, Mizuki-kun apa kabar? Kalau kau dengar ini pasti mata ku sudah sembuh. Hahaha… aku ingin sekali melihat mu. Kalau aku pulang dari Amerika kita bertemu ya, di tempat yang selama ini kita kunjungi setiap malam. Salam rindu, Emi desu”

Berkali-kali Daiki menyetel Mp3 tersebut, ingatannya kembali terngiang akan sosok Emi yang dengan polosnya memberikan benda itu, andai saja bisa ia katakan kalau dirinya adalah Mizuki, tapi Daiki merasa takut. Takut kalau perempuan itu tidak mempercayainya.

Daiki menundukan kepalanya lalu melepas ear set tersebut. Mendengar suara itu akan membuat dadanya sesak saja.

“Hoi Dai-chan” tegur Inoo membuatnya kembali menegakkan kepalanya dan melihat Inoo “giliran mu tuh” Inoo menunjuk ke arah background tempatnya untuk berpose sesuai perintah photographer.

Mengerti, Daiki akhirnya berdiri lalu berjalan mendekati tempat pemotretan tersebut. Sedangkan Inoo duduk di samping kursi tempat Daiki sebelumnya.

Tanpa Daiki sadari, Mp3 miliknya jatuh saat Daiki berdiri tidak jauh dari tempat duduknya, hampir saja di injak oleh Emi kalau perempuan itu tidak merasa ada yang aneh di lantai.

Emi mengambil barang kecil tersebut, lalu matanya melihat ke arah Daiki. Di pikirannya hanyalah “kalau dia Mizuki, di Mp3 ini pasti ada suara ku”

Gadis itupun duduk di samping Inoo, beruntung lelaki itu sedang sibuk dengan temannya yang lain.

Ia pun memasang ear set itu ke telinganya, dan menekan tombol play pada Mp3 tersebut.

“Ah.. lelah juga walaupun hanya berpose saja hahaha” Emi cepat-cepat memasukan Mp3 milik Daiki ke saku celana nya.

“Are? Emi-chan.. doishita?” tanya Daiki, karena kursi yang ada sudah penuh akhirnya Daiki hanya bisa berdiri di depan Emi.

Emi menggeleng “hmm… Arioka-san.. bisa antar aku pulang hari ini? Tiba-tiba ibu ku tidak bisa menjemput” ucap Emi sedikit gugup.

Setelah menelan air mineral untuk membasahi tenggorokannya, Daiki berfikir sambil mengelus dagu. “boleh saja.”

“Arigatou Arioka-san” setelah itu, Emi langsung berdiri dan berlari dari situ. Daiki hanya bisa mengangkat bahunya lalu duduk di tempat Emi–sebelumnya tempat ia duduk.

Seakan sadar sesuatu, mata Daiki langsung terbelalak “loh Mp3 ku mana?.”

“Tuh kan… mereka ada hubungan apa-apa” bisik Hikaru kepada Yamada yang rupanya sedari tadi memperhatikan Daiki dan Emi tidak jauh dari situ.

***

“Sudah sampai Emi-chan” Daiki menarik rem tangan mobil miliknya setelah berhenti di depan rumah Emi.

Gadis yang ia panggil masih saja melamun, mengabaikan panggilannya “Emi-chan, sudah sampai. Rumah mu terbakar” ucap Daiki di telinga Emi. Kalau saja Emi tersadar saat Daiki melakukan kebohongan kecil–rumah gadis itu terbakar.

“A-apa? Serius??! Tidaakk aku harus tinggal di mana” ternyata benar saja, Emi akhirnya tidak melamun lagi, ketika ia melihat rumah miliknya aman-aman saja Emi langsung memasang wajah cemberut lalu melihat ke arah Daiki “KAU MEMBOHONGI KU?!”

“Aduh! Ampun! Kamu sih aku panggil tidak menyahut” Daiki mengeluh karena menerima pukulan Emi yang bertubi-tubi. Hingga Daiki mengenggam pergelangan tangan Emi agar berhenti memukulinya. “nah begitu kan bagus..”

Emi menarik tangannya dari genggaman Daiki “aku.. belum mau pulang” ujar Emi dengan nada kesal.

“Eeh? Jadi kau mau ke mana? Ini sudah malam”

“Ikut aku sini” Tiba-tiba Emi keluar dari mobil, di susul dengan Daiki.

“Taman ini?” Daiki melihat ke sekelilingnya, bingung. Kenapa Emi mengajaknya ke taman tempat dirinya dan Emi biasa kunjungi. Bisa di katakan, sampai sekarang Daiki sering mengunjungi taman ini.

“Aku, mau mengembalikan ini kepada mu” Emi mengeluarkan sebuah Mp3 beserta ear set yang masih terpasang di Mp3 tersebut.

Dengan cepat, Daiki mengambil barang yang sedari tadi ia cari, hampir saja membuatnya frustasi “kamu..menemukan ini dimana?”

“Di lantai, sepertinya kamu jatuhkan saat akan pemotretan” tangan Emi di taruhnya di belakang sambik menggoyang-goyangkan tubuh. Layaknya anak kecik yang baru saja di belikan mainan baru oleh ibunya.

Daiki yang melihat tingkah Emi hanya bisa mengkerutkan kening “kamu kenapa?” tanya Daiki, rasa penasaran lelaki itu semakin menjadi saat melihat Emi tersenyum sangat lebar. Tersenyum…senang?

“Akhirnya.. aku bertemu dengan mu, Mizuki-kun” lagi-lagi Daiki hanya bisa diam.

Lalu ia melihat Mp3 yang kini ada di genggamannya, dan melihat ke Emi yang masih memasang senyum manis “kamu…mendengar rekaman di Mp3 ini?”

Emi mengangguk.

“Kamu dulu buta, mengenal pemuda yang bernama Mizuki? Operasi di Amerika?”

Emi mengangguk berkali-kali, menjawab pertanyaan Daiki. Membuat Daiki ikut tersenyum lega.

Setelah itu, Emi mengeluarkan jari telunjuknya ke hadapan wajah Daiki “aku hanya ingin memberi mu satu pertanyaan!” nada Emi sedikit membentak saat mengucapkan kata terakhirnya, membuat Daiki kaget dan mengedip-ngedipkan mata.

“Apa itu?”

Emi mengeluarkan sebuah kalung berliontin bulan sabit di sertai ukiran tukisan A.D, yang sedari tadi ia sembunyikan di balik baju, lalu memperlihatkan kalung tersebut ke hadapan Daiki “kalung ini dari kamu kan?” Daiki mengangguk.

“Pantas saja kau pendek!” seru Emi sambil tersenyum lebar, meledek pria chubby di hadapannya.

“Apa maksud mu?” Daiki berkacak pinggang lalu sedikit membentak Emi.

“Aku kan pernah berdoa, kalau kau bohong, pendekan saja badannya, ternyata terkabul hahahaha”

“Awas kau yah!” dan terjadilah kejar-kejaran di antara mereka. Hingga Daiki sukses menangkap Emi dengan posisi memeluk gadis itu dari belakang.

Mereka pun tertawa bersama menyadari bahwa orang yang selama ini mereka rindukan, kini kembali ke pelukan.

“Emi-chan, i love you” bisik Daiki di bawah terangnya bulan sabit.

Emi tersenyum lalu membalikan badannya, menghadap Daiki “I love you too”

Kini mereka tidak akan lagi kehilangan satu sama lain, karena mereka sudah mempunyai ikatan, menjadi sepasang kekasih.

Bermandikan cahaya bulan. Daiki mencium bibir Emi, menandakan kalau Emi adalah miliknya.

THE EN

Advertisements

One thought on “[Oneshot] The Moon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s