[Oneshot] Their Love Story

Their Love Story

Sato Miharu

Saruwatari Kumiko

Hey! Say! JUMP Inoo Kei

Ito Raura

By: Shield Via Yoichi and launyan10

HELLOOOOOOOO! Saya datang lagi bersama launyan kyaa kyaa kyaa (?). Karya gaje ini kami persembahkan untuk Eci yang berulang tahun, ff ini ada karena kode kamoh di tuiter ya, Eci. Bukan karena kamoh lagi ultah lho. *ditabok* terimakasih buat launyan yang mau collab ama saya lagi *nangis* terimakasih buat semangat kamu berikan saat saya emang lagi semi-WB(?), Lau. Makanya terciptalah ff gaje ini. XD

“AAAAAAAARGH!!! KUMIKO-CHAN, TUNGGU!!” teriak seseorang bergema di lorong kampus yang ramai. Kumiko dengan wajah yang ditekuk berbalik ke asal suara dan menemukan gadis si pemilik suara yang berlari menuju ke arahnya.

“APA?” balas Kumiko dengan teriakan, “JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN DI LORONG, MIHARU!”

Gadis yang bernama Miharu itu diam mematung setelah mendengar larangan dari Kumiko. Mahasiswa maupun mahasiswi di sekitar mereka pun bergidik ngeri kemudian berbisik-bisik ke lawan bicaranya.

“Itu suara Saruwatari-san kan? Mengerikan sekali..”

“Gadis itu sih, bodoh sekali. Membangunkan monster di tubuh Saruwatari-san..”

Miharu melihat para mahasiswa dan mahasiswi di kiri dan kanannya yang melihatnya dengan tatapan menyelidik lalu melirik ke arah Kumiko.

“Kau mau bilang apa? Cepat, Miharu.”

Miharu menghela napas lega saat suara Kumiko melembut. Kemudian dia mendekati Kumiko dengan cepat.

Gomen ne..” maafnya lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku, “Ini, bisa kau jelaskan tentang ini? Kau tahu kan, aku benci sekali dengan Bahasa Inggris.”

“Kau ini lucu sekali, kau membenci Bahasa Inggris tapi malah memilih jurusan ini. Pendidikan pula.” Kumiko tertawa kecil.

Miharu memajukan bibirnya, “Sudah kubilang, ibuku yang menyuruhku. Oh, ayolah. Ini bagaimana?” Miharu menunjuk-nunjuk halaman buku catatannya dengan geram.

“Hm…” Kumiko tampak berpikir kemudian tersenyum, “Why you didn’t ask Raura-chan?”

But she’s absent today.”

Kumiko tersentak, bagaimana bisa dia lupa akan hal itu?

Okay, okay… Ikut aku ke perpustakaan dan belajar di sana.”

“Siap!”


“Huaaaah, akhirnya aku mengerti..” Miharu memeluk buku catatannya erat, Kumiko tersenyum.

“Kalau kau masih kurang paham, nanti kau bisa menghubungiku.”

Miharu mengangguk, “Baiklah..” dia melirik jam tangannya, “Ah, aku harus pulang sekarang..”

“Ya sudah, kau pulang saja dulu. Aku masih ingin disini, ada buku yang mau aku baca.”

Miharu tersenyum, “Terima kasih atas bantuannya ya, Kumiko-chan. Baibai~”

“Un, baibai~”

Miharu meninggalkan Kumiko yang melihat ke arah jam tangannya, “Masih jam segini, masih ada waktu untuk membaca buku itu.”

Kumiko tersenyum lebar seperti anak kecil. Dia pun melangkah dari kursi baca menuju sebuah rak buku dan dengan cepat mengambil sebuah buku. Senyum masih terus tercetak di wajahnya. Dia kembali ke kursi baca lalu membuka satu per satu halaman buku itu, membaca setiap baris yang ada di sana. Sesekali dia mengangguk dan tak jarang dia mengeritkan keningnya pertanda dia bingung. Kumiko juga sesekali menulis sesuatu di bukunya.

Jam berganti, posisi membaca Kumiko kini dengan kepala berada di atas meja dan tetap melihat ke arah buku itu dengan mata setengah sadar. Sepertinya dia sudah lelah membaca namun dia juga merasa malas untuk meminjam buku tersebut dan lanjut membacanya di rumah. Matanya masih hilir mudik melihat kata per kata di buku itu sampai akhirnya dia tidak sanggup lagi untuk menahan rasa kantuk yang datang akibat kelelahan dan berakhir tertidur.

“Aku mau ramen….”

“Eh?” seru seorang pemuda yang terkejut dengan suara yang cukup keras berasal dari sesosok yang tertidur di sampingnya.

“Aah karaage juga enak..”

“Hah? Dia mengigau ya?” Pemuda itu mulai sedikit terganggu dengan suara Kumiko.

Kumiko bergerak sedikit gelisah, “Aku juga mau melon-pan, waffle, semua yang manis-manis…”

Pemuda itu mengeratkan giginya kemudian mengganggu tidur Kumiko dengan buku yang ditekan-tekan ke tangan Kumiko, “Hei, kau. Bangun, jangan berisik!”

Namun Kumiko hanya bergerak sedikit dan melanjutkan tidur dan ngigaunya, “Strawberry juice, Vanilla icecream aaaaah~”

Pemuda itu sudah naik darah, acara membacanya terganggu karena suara besar seorang gadis yang entah siapa itu, dia pun memukul kepala Kumiko dengan buku, “Hei!”

“ARGH!! Sakit…” ringis Kumiko yang sudah bangun sambil mengelus-elus kepalanya yang nyut-nyut.

“Kalau mau tidur, di rumah! Jangan disini!” Kumiko hanya melihat pemuda itu kemudian menunduk. Kumiko bisa melihat langkah kaki pemuda itu menjauh dari tempat itu dan sepertinya pergi dari perpustakaan.


“Eh? Kei, kenapa datang kemari?” tanya Miharu yang terkejut menemukan tetangganya berkunjung ke rumahnya, “Kau bukan sedang tersesat ke rumahku kan? Rumahmu di sebelah.”

Pemuda yang di panggil Kei itu tertawa renyah, “Apa aku terlihat sebodoh itu?”

“Ya begitulah.” kata Miharu lalu menyingkir dari depan pintu dan membiarkan tetangganya itu masuk.

“Jangan salah, namaku nanti itu keren lho. Inoo Kei si sarjana teknik, jurusan arsitek.”

“Baik, pak Inoo!” kata Miharu sambil memberi hormat ke Inoo lalu tertawa dengan sangat keras, begitu juga dengan Inoo.

Mereka berjalan di lorong rumah Miharu dan masuk ke sebuah ruangan yang berisi sebuah sofa.

“Kau duduk saja dulu, akan kubuatkan teh.”

Miharu meninggalkan Inoo menuju dapur dan tak lama kemudian dia kembali dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh.

“Jadi, ada sesuatu?” tanya Miharu langsung setelah duduk.

“Tadi di perpustakaan aku bertemu dengan gadis yang mengigau, semua makanan dan minuman disebut olehnya ahahaha….”

Miharu tertawa, “Ahahahaha… hanya itu? Kenapa tidak lewat telepon saja?”

“Apa aku mengganggumu, Miharu?”

“Tidak sih.” Miharu menyeruput tehnya, “Aneh saja kalau Kei datang hanya untuk bercerita tentang itu.”

Inoo menatap Miharu dengan serius, “Sebenarnya…”

“Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Miharu sedikit salah tingkah.

“Kau tahu, aku ini tidak suka dengan Bahasa Inggris jadi…”

“Kau mau aku mengajarimu? Kau lupa aku juga tidak suka Bahasa Inggris?”

Inoo menghela napas berat, “Tolong, bantu aku. Banyak sekali istilah-istilah dalam Bahasa Inggris di mata kuliahku, mau tidak mau aku harus mengerti Bahasa Inggris walau sedikit.”

“Aku tidak bisa mengajarimu, Kei..”

“Miharu, aku mohon…” Inoo mengeluarkan jurusnya yang membuat Miharu luluh dalam sekejap.

Miharu memutar bola matanya, “Baiklah, tapi bukan aku yang akan mengajarimu.”

“Eh? Jadi siapa?”

“Aku punya teman, dia jago berbahasa Inggris, dia juga pintar mengajar dan juga suka sekali ikut olimpiade.”

Mata Inoo berbinar-binar mendengar penjelasan Miharu, “Siapa dia?”

“Namanya Ito Raura, nanti aku akan memberitahukannya agar kalian bisa bertemu dan mengatur jadwal bersama.”


“Miharu!!!”

“Eh? Kau datang lagi… Ada apa, Kei?”

Inoo menyodorkan sebuah buku yang besar ke wajah Miharu, “Lihat ini, dia memberiku tugas seperti ini!”

Miharu melihat setiap halaman yang buka oleh Inoo, semua panduan belajar dengan cara termudah yang pernah dia buat saat semester awal, “Ada yang salah dengan ini? Memang begini caranya.”

“Lalu kapan aku bisa belajar mata kuliahku sendiri kalau aku harus bisa menghapal ini semua setiap minggu?”

“Memangnya kau meminta bagaimana?”

“Hm… begini…”


Inoo melirik jam tangannya, oke. Dia melihat sekelilingnya, oke.

Dia memiliki sebuah janji dengan Ito Raura, yang kata Miharu–teman kecilnya itu– kalau gadis itu bisa menjadi guru bahasa Inggris-nya. Inoo tidak tahu wajah gadis itu, tapi Miharu sudah memberikan ciri-ciri dari Raura.

Rambutnya sebahu dengan warna hitam kecokelatan, kacamata bergagang biru yang menghiasi wajahnya dan juga ramah.

Di taman ini, Inoo melihat ke kiri dan ke kanan. Mencari sosok Raura. Matanya sedikit membesar saat menemukan gadis yang sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan Miharu.

“Ito Raura-san, benar kan?” sapa Inoo.

Raura menatapnya sebentar, “Benar.”

“Aku Inoo Kei, te—”

“Ah, temannya Miharu kan? Yang mau belajar Bahasa Inggris itu?”

“A-ah, benar sekali.”

“Boleh saja belajar denganku, aku senang sekali. Tapi aku sedang mengikuti banyak lomba, jadi akan susah untuk bertemu. Bagaimana kalau aku menyusun sebuah catatan untukmu, kau harus menguasainya dan kita bertemu sekali seminggu, setuju?”

“Baiklah. Maaf merepotkanmu.”


“Ya jelas saja! Kau ini bagaimana sih, Kei? Seharusnya kau tidak setuju dong!”

“Jadi bagaimana dong?”

Miharu berpikir sejenak, “Ya sudah, aku bilang pada Raura-chan kalau kau juga sibuk atau apalah. Aku akan memperkenalkan satu temanku yang pintar.”

Inoo terlihat ragu, “Tidak seperti ini lagi kan?”

“Tidak, aku jamin!” Miharu mendorong buku yang dipegang Inoo menjauh, “Sekarang pulang dan istirahatlah. Aku mengantuk, oyasumi.”

Oyasumi.” ucap Inoo setelah Miharu menutup pintu rumahnya dengan agak keras.


Keesokan harinya, Miharu menyuruh Inoo untuk bertemu dengannya di perpustakaan. Ketika kelas berakhir ia segera mengemas barangnya dan bergegas ke perpustakaan. Ia melihat sekeliling ruangan, dan akhirnya ia menemukan posisi Miharu. Miharu sedang asik berbicara dengan orang yang duduk berseberangan dengannya. Mungkin itu orang yang dimaksudkan Miharu semalam.

“Yo, Miharu!” sapa Inoo sambil menghampiri Miharu. “Jadi inikah orang yang katamu akan mengaja—”

Inoo belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika ia terkejut ketika pengajar barunya menolehkan wajahnya ke Inoo.

“KAAUU!!?” teriak Inoo dan pengajarnya yang sebenarnya adalah Kumiko itu bersamaan sambil mengacungkan telunjuk mereka terhadap satu sama lain.

“Ssssshh! Jangan berteriak di perpustakaan!” ucap Miharu sambil menarik kedua orang itu agar kembali ke tempat duduk masing-masing, “Jadi… kalian sudah saling kenal?”

“TIDAK!” seru mereka serentak.

“Sudah kubilang jangan berteriak di perpustakaan!” seru Miharu balik tapi dengan suara yang tidak terlalu lantang.

“Aku tidak mengenal orang yang malah tidur di perpustakaan selagi mengigau segala jenis makanan yang ada di dunia dan mengganggu ketentramanku ini. Apa dia yang harusnya jadi pengajarku? Apa tidak ada yang lain selain orang ini?” keluh Inoo sambil menunjuk-nunjuk Kumiko dengan jari indahnya.

“Hei, jangan sebut-sebut aku dengan ‘orang ini’, aku punya nama! Jadi memang kau orang yang memukul kepalaku dengan buku waktu itu? Apa kau tidak tahu betapa sakitnya dipukul dengan buku setebal itu, hah!?”

“Cukup, cukup. Lebih baik kita pindah ke tempat lain saja daripada kalian malah membuat rusuh disini.” usul Miharu sambil menghentikan kedua temannya.

Pada akhirnya mereka pindah ke kantin berhubung dua di antara mereka bertiga kelaparan karena belum makan siang. Miharu melihat dua temannya yang dengan lahap menyantap makanan mereka. Tidak disangka di satu sisi ternyata mereka sama saja rakusnya.

“Hei, Miharu, aku tidak mau diajari oleh orang ini.” ucap Inoo masih mengunyah makanan di mulutnya.

“Siapa juga yang mau mengajarimu!” ketus Kumiko.

“Kalian ini kenapa sih, daritadi hanya beradu mulut tiada henti. Kalian punya dendam satu sama lain?”

“Dia memukul kepalaku dengan buku tebal disaat aku tidak melakukan apa-apa padanya!” keluh Kumiko terlebih dulu.

“Aku memukulmu karena kau menggangguku saat aku sedang membaca! Kalau mau tidur, ya jangan di perpustakaan, dong!” Inoo membalas balik perkataan Kumiko.

Mereka terus beradu mulut hingga seseorang membungkam mulut mereka dengan perkataannya.

“Hanya karena itu? Memangnya kalian anak kecil yang berkelahi hanya karena persoalan sepele?” ucap Miharu yang sedari tadi hanya diam mendengar ocehan dua temannya, “Maaf, Kei. Tapi kalau kau tidak mau dengan Kumiko, aku tidak bisa membantumu lagi berhubung aku tidak terlalu akrab dengan banyak orang. Atau kau mau minta bantuan Raura-chan lagi?”

Inoo diam sejenak mengingat bagaimana metode belajar dari Raura, “Baiklah… Aku mau diajari orang ini…” ucap Kei pasrah sambil menunjuk Kumiko.

“Sudah kubilang aku punya nama! Namaku Saruwatari Kumiko. Lagipula siapa yang bilang aku mau mengajarimu?”

Inoo yang sudah pasrah untuk diajar Kumiko malah kesal mendengar perkataan Kumiko. Tapi sebelum Inoo bisa mengeluarkan amarahnya, Miharu sudah memohon kepada Kumiko.

“Kemarin kan kau sudah janji padaku, Kumiko~ Ayolah ajari dia, yah yah yaah? Kumohooon~”

Kumiko yang tidak tahan dengan wajah memohon Miharu akhirnya mengalah, “Baiklah. Tapi ini hanya karena Miharu yang meminta. Kalau bukan Miharu mana mungkin aku mau mengajari orang sepertimu.”


“Kalau yang ini bagaimana?” tanya Inoo.

“Ooh kalau yang ini…” Kumiko mengajarkan Inoo dengan sangat baik. Dalam beberapa hari saja, mereka yang awalnya bagaikan kucing dan tikus, sekarang sudah akur satu sama lain.

“Aku mengerti sekarang! Makasih ya, Kumiko!” seru Inoo sambil memberikan senyum terindahnya.

Muka Kumiko langsung memerah ketika Inoo memanggil namanya.

“K-kau barusan memanggilku K-Kumiko?”

“Iya. Habisnya nama keluargamu terlalu panjang. Aku capek menyebutnya… Kau juga bisa memanggilku Kei kalau mau.”

Kumiko tidak tahu kenapa, tapi mukanya semakin memerah dan ia merasa jantungnya berdetak sangat kencang sampai terasa seperti akan meledak saat ini juga.

“Aku tidak menyangka ternyata kau ramah sekali. Kukira kau hanya orang yang tidak bisa memilih tempat untuk tidur dan hanya bisa mengigau tentang makanan. Tapi ternyata kau orangnya lumayan bersahabat. Dan cara mengajarmu juga lumayan.”

“Ah.. Bukan apa-apa,” ucap Kumiko sambil memalingkan wajahnya yang merah padam ke arah lain.

Tidak jauh dari posisi mereka, Miharu melihat dan mendengar percakapan mereka dari pintu perpustakaan. Ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan malah berjalan menjauhi perpustakaan.

“Mi~ha~ru~”

Bersamaan dengan suara yang memanggilnya, Miharu merasakan sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang.

“Eh? Eh? Raura-chan??”

“Yo, apa kabar~” senyum gadis itu sambil melepas pelukannya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Memangnya salah aku disini? Aku kan juga kuliah di kampus ini,” ucap Raura sedikit cemberut.

“Kukira kau masih mengikuti lomba,”

“Aku sudah menyelesaikannya dua hari yang lalu.”

“Kau tidak mengikuti lomba lain lagi?”

“Tidak. Aku sudah capek mengikuti lomba terus tanpa henti. Mulai sekarang aku mau fokus dengan kuliahku.”

“Oooh.. oh ya, ngomong-ngomong Kei yang kuminta kau ajarkan itu tidak jadi belajar denganmu. Dia tidak bisa mengikuti metodemu karena dia juga sibuk dengan kuliahnya sendiri. Makanya aku meminta Kumiko untuk menggantikanmu.” Miharu merasa sedikit bersalah ketika faktanya dia yang memohon pada Raura untuk meluangkan sedikit waktunya untuk Kei.

“Eeh~ Padahal wajahnya manis…”

“Eh?” Miharu sedikit terkejut dan bingung.

“Ketika akhirnya aku sudah memutuskan untuk berhenti mengikuti lomba-lomba, dia malah berpindah ke lain hati…”

“Eh? Eh? Eh? Jadi kau berhenti ikut lomba karena dia? Kau menyukai Kei??”

Raura diam sejenak menatap Miharu, kemudian ia tersenyum, “Aku becanda~ Kau takut sekali aku mendekatinya. Tenang saja aku tidak akan merebut pacarmu~”

“Kei bukan pacarku!”

“Tapi kau menyukainya kan?” Raura tertawa sambil menggoda Miharu.

“Ti-tidak kok…”

Raura hanya tersenyum melihat teman baiknya. Walau Miharu tidak jujur, tapi dia tahu apa yang ada di isi hati Miharu sebenarnya.


“Halo.. Kei?”

“Miharu! Kenapa tidak datang ke perpustakaan tadi?”

Miharu tersentak mendengar suara Inoo di seberang telepon yang sedikit membentaknya, “Ahahaha… tadi aku bertemu Raura-chan, kami akhir mengobrol sampai akhirnya kami ke cafè hanya untuk lanjut mengobrol. Maaf ya?” bohong Miharu. Setelah dia berbincang dengan Raura, dia lebih memilih untuk pulang dan menangis. Entah apa yang membuatnya menangis, tapi dadanya terasa sesak. Bahkan dia menangis sampai matanya tidak tampak lagi karena bengkak.

“Huh, padahal kami menunggumu lho.”

“Ya maaf, maaf…” ucap Miharu, “Bagaimana belajarnya hari ini?”

Entah kenapa Miharu menanyakan ini, mengingat kejadian tadi saja sudah membuatnya sesak apalagi mendengar cerita dari Inoo.

“Ya begitulah.. Masih banyak yang harus aku pelajari ternyata. Entah kenapa Bahasa Inggris sekarang jadi lebih menyenangkan.”

Jadi lebih menyenangkan ya? Miharu tersenyum hambar, airmata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Dan Kumiko benar-benar cocok jadi seorang guru, aku menyukainya!”

Ah mereka benar-benar sudah memanggil nama kecil dan Kei menyukainya… Miharu mengepal tangannya agar tangisnya tidak pecah namun airmata udah turun membanjiri pipinya.

“Miharu? Kau masih di sana?” tanya Inoo saat tidak mendengar jawaban apa-apa dari Miharu.

“A-ah.. Maaf, aku sedikit mengantuk. Kei menyukai Kumiko? Mau aku sampaikan padanya?”

“Jangan! Itu memalukan!”

“Kenapa? Mungkin saja rasa sukamu malah menerima jawaban.”

“Tidak, tidak, Miharu. Jangan.”

“Ahahaha… baiklah kalau begitu. Aku tidur dulu ya, oyasumi.”

Oyasumi.”

Miharu menutup teleponnya dan meletakkan handphone-nya di sembarang tempat. Tidak ada waktu baginya untuk meletakkan benda itu pada tempatnya. Sekarang yang dibutuhkannya adalah melegakan hati dan pikirannya. Airmatanya semakin deras setelah tangisnya akhirnya pecah. Miharu geram, ada apa dengannya? Inoo adalah temannya, kenapa dia merasa begitu sakit saat tahu Inoo menyukai Kumiko yang juga temannya?

“AAAARGH!” Miharu melemparkan tinjunya ke lantai dengan keras, “SAKIIIIIIIT!!BAKAAA!!”

Tak lama, telepon genggamnya berdering. Miharu menghapus airmatanya lalu mengangkat telepon itu.

“Halo?”

“Kau baik-baik saja? Suaramu terdengar sampai ke rumahku.”

Miharu membelalak, alasan apa yang harus dia berikan?

“Aku baik-baik saja, tadi aku terjatuh dari tempat tidur. Hehehe…”

Baka~ Makanya tidur itu yang baik.”

“Iya, ayah..”

“Siapa yang ayahmu?!”

“Hehe… sudahlah, aku benar-benar mengantuk. Biarkan aku beristirahat, Kei.”


Hari ini Miharu memasuki kelasnya dengan malas. Dia melihat isi kelas lalu duduk di samping Kumiko yang sedang sibuk mencatat entah apa itu.

Ohayou.” sapa Miharu.

Kumiko memalingkan wajahnya ke Miharu, “Ah, ohayou! Tumben kau memakai make up, begadang lagi?”

Kumiko tahu benar kebiasaan Miharu memakai make up hanya di saat wajahnya benar-benar lusuh karena kurang tidur atau karena jam kuliah mereka lama.

“Ya begitulah. Akibatnya aku harus kayak badut seperti ini…” ujar Miharu, “Kau sedang buat catatan apa?”

“Ah, ini untuk Kei. Setidaknya dia bisa membaca ulang apa yang sudah dia pelajari.”

Benar, kan.. mereka sudah saling memanggil nama Kei. Aku merasa tidak spesial lagi. Miharu memajukan bibirnya.

“Kenapa cemberut begitu?”

“Kau tidak pernah membuat catatan untukku seperti ini. Aku kan juga mau!” Miharu memberikan alasan yang lumayan tidak masuk akal.

“Kau kan punya catatan sendiri, baka!” Kumiko memukul pelan kepala Miharu lalu kembali menulis, “Dia itu lucu ya.”

“Eh?”

“Dia bilang dia tidak suka bahasa Inggris, tapi waktu aku mengajarinya, dia bisa memahaminya dengan cepat.”

“Kumiko menyukai Kei ya?” Miharu memasang senyum setannya, menutup rasa sedihnya. Kumiko menelan ludah saat melihat wajah Miharu.

“T-tidak kok, eh maksudku bukan begitu. Ya, gimana ya…” Kumiko salah tingkah, “Kau juga, kenapa tidak bisa memahami bahasa Inggris dengan cepat? Jelas-jelas kau ada di jurusan bahasa Inggris.” Kumiko mengalihkan pertanyaan.

“Kumiko tega, tidak menjawab pertanyaanku. Malah marah padaku karena tidak mengerti bahasa Inggris.. hiks…” Miharu menutup wajahnya seolah-olah akan menangis. Di sela-sela jarinya, dia bisa melihat Raura memasuki ruang kelas dan dia pun segera menghampiri Raura, “Raura-chan, Kumiko jahat padaku.. huwee..”

“A-ada apa ini?” tanya Raura bingung dengan sikap aneh Miharu.

Miharu menunjuk ke arah Kumiko, “Dia… dia…”

“J-jangan salah paham dulu, Raura.” ucap Kumiko sambil menarik tangan Miharu yang memeluk Raura.

Raura menaikkan alisnya, “Kalian kenapa sih?”

“Raura-chan… Kumiko merebut Kei dariku, huwaaaa…”

Kumiko maupun Raura mematung, sementara Miharu tersenyum lebar di pelukan Raura. Dia tahu, sebentar lagi Kumiko akan meledak. Raura menatap Kumiko yang memerah, entah karena malu atau marah. Tapi yang pasti, dia tahu kalau baik dia maupun Miharu sedang dalam masalah sekarang.

“MIHARU. KUBUNUH KAU!!!”

“GYAAAAAAAH!!!”

Dalam sebuah cerita, ada beberapa pemeran sampingan dan aku masuk dalam salah satunya. Aku pemeran yang mempersatukan para pemeran utama dan membuat mereka menjalin kasih. Aku bangga hanya menjadi pemeran sampingan dari cerita cinta Kei dan Kumiko, berbahagialah teman. Aku Miharu dan mungkin Raura juga termasuk, akan selalu mendukung kalian. Aku tidak apa-apa, selanjutnya lanjutkanlah dengan cara kalian sendiri.


“Kenapa akhir-akhir ini Miharu tidak ikut belajar bersama kita ya?” tanya Inoo saat berada di perpustakaan bersama Kumiko. Dia melihat ke sekeliling, biasanya dia akan melihat Miharu yang sudah seperti ekornya yang selalu menganggunya. Tapi sekarang gadis itu tidak lagi menganggunya.

“Oh, dia sekarang belajar bersama Raura-chan.”

“Begitu ya? Padahal belajar dengan Kumiko itu menyenangkan.”

Wajah Kumiko memerah mendengar pujian itu, “Apa semenyenangkan itu?”

“Iya. Kau pasti jadi guru favorit, cara mengajarmu itu sangat mudah dimengerti.”

“A-aku senang kau bilang begitu. J-jangan benci lagi dengan bahasa Inggris ya.” Kumiko mengalihkan pandangannya ke luar jendela perpustakaan. Dia juga tidak bisa menghentikan lajunya detak jantungnya yang semakin tidak beraturan.

“Aku menyukai bahasa Inggris sekarang,” ucap Inoo dengan senyum termanisnya, Kumiko meliriknya kemudian ikut tersenyum. Inoo menarik napas dalam-dalam, sepertinya sudah saatnya dia menyatakan cintanya pada Kumiko sebelum orang lain mendahuluinya, “…seperti aku menyukaimu.”

“Eh?”

Kumiko terdiam, dia tidak tahu harus berekspresi apa saat ini. Wajahnya juga terasa sangat panas, begitu juga dengan degup jantungnya yang semakin laju. Inoo sendiri gugup bukan main karena ini pertama kali baginya untuk menyatakan cinta. Dia meraih tangan Kumiko dan menggengamnya erat. Seolah-olah berbicara kalau dia serius tentang hal itu.

Please be my girlfriend…” ucap Inoo sambil menatap dalam ke mata Kumiko.

Kumiko tidak bisa berkata-kata. Rasanya ia mau pingsan di tempatnya saat ini.

“S-s-sure…” jawabnya gagap dengan muka yang lebih merah dari warna sebuah apel segar.

Mendengar jawaban Kumiko, Inoo merasa dirinya akan melayang pada saat ini juga. Hening menyelimuti mereka berdua. Mereka hanya tersenyum sambil melihat ke arah lain, tidak berani saling menatap. Hingga Kumiko sadar ada seseorang yang duduk tidak jauh dari mereka sambil memegang sebuah handycam dan mengarahkannya ke Kumiko dan Inoo.

“Raura-chan!!??” seru Kumiko kaget. “Apa yang kau lakukan??”

“Hm~ Tentu saja merekam~”

“Eh? Me-merekam?” tanya Inoo pucat. Raura hanya mengangguk dan tersenyum seperti orang tak berdosa.

“Mere….kam apa?” tanya Kumiko.

“Tentu saja merekam kalian berdua~” tawanya sambil mematikan handycam-nya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.

“Tu-tu-tunggu!” seru Kumiko dan Inoo bersamaan. Mereka mengejar Raura, tapi target mereka sudah kabur keluar perpustakaan.

“Oooooiiii Raura!! Hapus video itu sekarang!!!!” teriak Kumiko sambil berlari mengejar Raura. Inoo juga ikut mengejar, tetapi ia terhenti ketika melihat sosok Miharu yang menyandar di dinding samping pintu perpustakaan.

“Jadi kalian sudah resmi pacaran?” tanya Miharu tanpa menatap cinta bertepuk sebelah tangannya itu.

“Y-ya begitulah…” jawab Inoo dengan wajah yang sedikit memerah.

“Padahal aku sudah menyukai Kei lebih lama…” bisik Miharu pelan. Tapi bisikan itu masih bisa terdengar jelas oleh Inoo.

“Maaf, Miharu. Tapi aku hanya menganggapmu sebagai adik…”

Inoo merasa tidak enak terhadap Miharu. Miharu melihat ekspresi bingung Kei dan menertawakannya, “Hahahahahahaha apaan sih mukamu itu. Aku tidak apa-apa kok! Sudahlah, sana pergi bantu kekasihmu untuk mengejar Raura-chan!” Miharu mendorong badan Inoo ke arah Kumiko dan Raura pergi tadi. Inoo ragu untuk meninggalkan Miharu sendiri, tapi Miharu memaksanya hingga akhirnya ia pergi mengikuti Kumiko. Ketika Inoo sudah hilang dari pandangan Miharu, setetes air mata yang sudah ditahan Miharu sedari tadi akhirnya mengalir di pipinya.

“Ini…” seseorang menyodorkan sapu tangannya pada Miharu.

“Eh? Raura-chan!? Bukannya tadi kamu lari ke arah sana??”

“Hahaha~ Kabur itu salah satu keahlianku!” ucapnya bangga. “Ke kantin yuk~ Aku lapar nih…”

“Kumiko bagaimana??”

“Biarkan saja dia menikmati momen berdua dengan kekasih barunya~” balas Raura sambil menarik tangan Miharu, “Miharu, mau kukenalkan dengan teman pacarku? Orangnya tinggi walaupun sangat kurus, tapi dia baik, ramah, dan wajahnya tampan! Namanya Yabu Ko—”

“Eh, tunggu, tunggu, kau sudah pacaran dengan si pendek itu?”

“Hehehehe~ aku sudah pacaran dengannya sejak selesai mengikuti lomba terakhirku~” Raura memberikan senyuman termanisnya, “Makanya kau coba kenalan dengan Kota saja dan lupakan cintamu pada Inoo!”

Miharu berpikir-pikir sejenak. Kemudian pandangannya teralih ke Kumiko dan Inoo yang terlihat dari jendela.

“Yah, mungkin itu bukan ide yang buruk~”


Pada ulang tahun Kumiko, ia merayakannya hanya bersama Inoo, Miharu, Raura dan pacarnya. Mereka merayakannya kecil-kecilan di apartemen Kumiko, tapi kehadiran teman-temannya saja sudah menjadi momen terindah bagi Kumiko. Teman-temannya memberikan hadiah padanya. Dan kemudian Raura memberikan sebuah kotak kecil pada Kumiko sebagai hadiah darinya. Ketika Kumiko membuka hadiah dari Raura, ia menemukan sebuah CD di dalamnya. Raura menyuruh Kumiko untuk memutar CD itu. Tapi Kumiko merasa ada yang mencurigakan ketika melihat senyuman Raura. Ia kemudian memutar CD nya dan menontonnya bersama semua temannya.

Please be my girlfriend…”

“EH?? EH??? EHHHH??? TUNGGU TUNGGU TUNGGU! APA-APAAN INI??” Kumiko langsung panik ketika melihat momen pernyataan cinta Inoo di layar TV nya. Ia berusaha menutupi layar dengan tangannya. “HEI, MATIKAN VIDEONYA! CEPAT!!”

“Tidak mau~” ucap Raura sambil membawa kabur remotenya. Kumiko pun mengejar Raura.

“Padahal tinggal matikan langsung dari player-nya kan bisa…” Miharu menghela napas pelan melihat kelakuan kedua teman baiknya.

Kumiko mencari ke seluruh ruangan tapi tidak menemukan Raura dimanapun. Ia menyerah dan akhirnya pergi ke beranda sejenak untuk menghirup udara segar sambil menatap langit malam.

“Kumiko…” Kumiko bisa mendengar suara lembut yang memanggilnya dari belakang. Ia tersenyum karena ia sudah tau siapa pemilik suara tersebut. Kumiko membalikkan badannya dan menatap kekasihnya itu.

“Ada apa, Kei?”

“Ini. Hadiah dariku.” Inoo menyodorkan sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi dengan pita.

“Apa isinya?” tanyanya penuh semangat. Kumiko membuka bungkusnya dan tertegun melihat isinya.

Happy birthday, Kumiko.” Inoo mengambil isi dari kotak itu dan memakaikannya di leher Kumiko, “Untunglah kalungnya cocok denganmu.”

“Ke…Kei…” Kumiko tidak bisa berkata-kata lagi karena begitu bahagianya mendapat sebuah kalung yang indah dari orang yang dicintainya.

I love you..” bisik Inoo sambil memeluk Kumiko.

I love you too, Kei.”

THE END

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Their Love Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s