[Minichapter] Kimi ni Attraction (Chapter 1)

Kimi ni Attraction

By. Dinchan

Minichapter (Chapter 1)

Genre   : Romance, School Life

Rating   : PG-13, R

Starring : Chinen Yuri, Inoo Kei, Yaotome Hikaru (Hey! Say! JUMP); Yabu Raura, Ueda Kaho (OC)

Disclaimer : I don’t own all characters here. Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; Yabu Raura belongs to launyan10 and Ueda Kaho is my original character.

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. This fanfiction is launyan10’s requests, and I wrote it as good as I can.

Tidak seharusnya Raura berlari di pagi secerah ini, dimana seharusnya ia merasakan udara bulan april dan berjalan santai di bawah mekarnya bunga sakura, dan jika ia beruntung ia akan bertemu dengan pria impiannya, tapi ia terlambat berangkat pagi ini gara-gara kakaknya yang menyebalkan itu tidak mau membangunkannya, kata Kota ini balasan karena Raura tidak membangunkannya ketika seharusnya ia menonton pertandingan bola. Gerbang sekolah akan ditutup sepuluh menit lagi, tapi Raura masih jauh dari kawasan sekolahnya, masih dua puluh menit lagi jika ia berjalan normal.

“Telat juga?” Raura ingin sekali mereka bertemu dalam keadaan lebih ‘normal’ maksudnya, bukan dalam keadaan berkeringat dan memakai celana olahraga begini.

Raura hanya mampu mengangguk ketika pemuda itu mensejajarkan langkah larinya dengan Raura, padahal ia bisa saja berlari lebih cepat darinya, mengingat pemuda ini adalah seorang atlet atletik di sekolahnya.

“Delapan menit lagi, Yabu-kun!! Ayo lariiii!!” seru pemuda itu yang masih ada di sebelah Raura.

Sebenarnya cukup menyebalkan melihatnya masih bisa tersenyum sambil berlari, berbeda dengannya yang sudah hampir kehabisan nafas. Lima menit terakhir mereka sudah hampir sampai dan pemuda itu masih saja mengikutinya.

“Tiga menit Yabu-kun… ayo sprint!!” pemuda itu mendahului Raura dan menunggu Raura di dalam gerbang sekolah. Terlihat seorang guru piket menunggu untuk menutup gerbang sekolah. Raura berlari lebih cepat dan akhirnya ia selamat sampai di dalam gerbang. Pemuda yang tadi berlari bersamanya menyodorkan sebotol air mineral di hadapan Raura, “Otsukaresama, Yabu-kun!”

Raura mendesah, masih harus mengatur napasnya yang naik turun karena berlari selama lima belas menit penuh, “Arigatou gozaimasu, Chinen senpai!” Raura yang walaupun sedang dalam keadaan capek, masih tetap tahu sopan santun dan membungkuk sekilas pada kakak kelasnya itu.

Tangan Chinen mampir di kepalanya, mengacak pelan rambut Raura yang pendek itu, “Sekarang kita harus berlari ke kelas! Sebentar lagi pelajaran di mulai lho!” ujarnya lalu meninggalkan Raura yang masih shock karena gerakan Chinen yang terlalu tiba-tiba.

‘Chinen-senpai, berhentilah membuatku jantungan,’ bisik Raura dalam hatinya.

Raura masih bisa mengingat bagaimana awalnya ia bisa tertarik kepada senpainya itu. Chinen Yuri pertama ia lihat ketika ia berangkat sekolah SMA hari pertama. Mereka satu kereta saat itu, dan satu gerbong pula. Raura ingat ia pikir Chinen satu angkatan dengannya, saat itu Chinen menyapanya, menanyakan apakah mereka di sekolah yang sama. Raura yang tidak biasa berbicara dengan orang asing, hanya bisa mengangguk dan ketika mereka sampai di sekolah, ternyata Chinen Yuri adalah senpainya yang populer. ‘Cute’, ‘Kawaii’ adalah sebutan abadi bagi Chinen Yuri, dan pemuda itu pun tidak pernah protes dengan sebutan itu.

“Jelek sekali wajahmu,” Sonoko menengur Raura yang terlihat bengong saat memasuki kelas pagi itu.

“Hah?” Raura hanya bisa berkomentar dengan tatapan kosong. Masih jelas diingatannya tangan Chinen yang menyentuh rambutnya.

“Rau-chan,” panggil Sonoko lagi, “Kamu yakin akan di kelas dengan celana olahraga itu?”

“Aaarrggghh aku lupaaaaa!!” Raura segera berlari ke kamar mandi sebelum pelajaran benar-benar dimulai. Ia tak mau hari pertamanya di kelas dua ini dinodai dengan keterlambatannya di kelas.

Ohayou gozaimasu!” Ueda-sensei, yang lebih senang dipanggil Kaho-sensei adalah wali kelas Raura yang baru. Walaupun masih muda, Kaho-sensei mengajar kebudayaan Jepang.

Ohayou gozaimasu!!” semua anak-anak kelas 2B membalas salam Kaho-sensei.

“Pagi hari awal semester ini, kalian akan berkenalan dengan wakil wali kelas kalian yang baru, ehem!” Kaho-sensei berdehem, seorang guru dengan badan kurus, berwajah…. oops, kenapa dia cantik? Dia benar-benar seorang laki-laki kan? Semua anak penasaran siapa guru baru itu, “Silahkan Inoo-sensei,”

“Terima kasih Ueda-sensei,” ucapnya pada Kaho-sensei, lalu pria bernama Inoo itu menghadap kepada seluruh siswa, “Ohayou gozaimasu! Nama saya Inoo Kei, saya yang akan mengajar matematika dan sekaligus wakil wali kelas kalian yang baru. Yoroshiku onegaishimasu!”

“Inoo-sensei!” Sonoko mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan, “Sudah punya pacar belum?”

Disambut sorakan seluruh murid kelas 2B, membuat Kaho-sensei menggelengkan kepalanya.

“Tentu saja belum,” jawabnya lalu mengedipkan sebelah matanya membuat banyak murid wanita berteriak histeris.

***

“Kaahoo-chan!” Chinen berlari ke arah Kaho yang berjalan di lorong kelas 3.

“Panggil aku sensei, Chinen-kun, dan tidak boleh berlari di lorong!” Kaho membenarkan posisi buku yang sedang ia bawa di tangannya.

Chinen menggeleng, “Tidak mau!”

Kaho membiarkan Chinen terus berada di sampingnya, “Sudah mau mausk ke pelajaran ketiga Chinen-kun, lebih baik kamu kembali ke kelas!”

Yappari Kaho-chan no koe daisuuukkiii…” (Aku suka suara Kaho-chan)

Kaho melirik kesal ketika Chinen menjawil pelan pipinya dan berlalu dari hadapannya. Sejujurnya ia sudah habis akal untuk menghadapi seorang Chinen Yuri. Muridnya yang tahun ini naik ke kelas tiga dan sebentar lagi akan lulus dari sekolah. Chinen bukan hanya terang-terangan menyukainya, ia tak segan mengatakannya di hadapan banyak orang, kadang-kadang membuat Kaho merasa risih.

“Ueda-sensei, jangan melamun,” Kaho mencari sumber suara dan mendapati seorang Yaotome Hikaru lah yang menyapanya.

“Tidak kok,” elak Kaho, dan tanpa bisa dicegah ia merasa pipinya merona karena meliht senyum Hikaru yang begitu dekat.

“Kaho-chan, nanti sore jangan lupa, kita ada janji dengan pihak hotel,” ucapnya lalu menggenggam tangan Kaho sekilas.

“Aku mengerti, Yaotome-sensei.” Kaho tersenyum pada Hikaru yang melambaikan tangan padanya.

Yaotome Hikaru adalah calon suaminya. Kaho sendiri memutuskan menikahi Hikaru setelah berpacaran selama dua tahun lamanya. Hebatnya, hubungan ini belum diketahui oleh pihak sekolah dan Kaho berencana untuk memberitahu sekolah sebelum pernikahan mereka.

“Kau masih disini?! Cepat masuk kelas Chinen-kun!” Hikaru berteriak dari lorong, Chinen hanya mencibir dan berlalu dari guru olahraganya itu. Ia bersumpah melihat Kaho tersipu saat Hikaru berbisik padanya. Ia belum pernah melihat ekspresi Kaho yang terlihat malu-malu seperti tadi, dan yang Chinen tidak suka ekspresi itu diperlihatkan Kaho kepada orang lain.

Chinen sudah menyukai Kaho sejak ia masuk SMA. Saat itu Kaho baru saja masuk sebagai guru baru di sekolah, dan Chinen dengan cepat menyukai gurunya yang cantik dan masih muda itu. Chinen selalu suka rambut panjang Kaho yang tergerai dan kacamata berbingkai hitam yang bertengger manis di hidung Kaho yang mungil dan mancung itu. Chinen ingin memiliki Kaho, sayangnya ia hanya seorang murid biasa yang seharusnya tidak jatuh cinta kepada gurunya sendiri.

***

Raura mengeluarkan bekalnya, duduk di bawah pohon Cherry dekat kolam ikan yang terletak di pinggir sekolah. Tempat ini memang bukan tempat rahasia, tapi karena banyak mitos yang menceritakan mengenai angkernya tempat ini, tidak banyak murid yang berani ke tempat itu, namun berbeda bagi Raura yang menyukai keheningan dan ketenangan. Apalagi di jam makan siang seperti sekarang.

“Berani sekali ya, gadis manis sepertimu makan sendirian di sini?” Raura tidak suka diganggu, apalagi sedang makan siang. Raura menengok, mendapati wali kelasnya yang baru, Inoo Kei, sedang menyulut sebatang rokok elektrik yang terselip diantara jari-jarinya yang lentik. Raura tidak mengerti dengan tampilannya yang begitu lembut, ternyata seorang Inoo Kei adalah pria juga.

“Sensei!” seru Raura kaget, sebenarnya kenyataan bahwa gurunya ini merokok malah lebih mengagetkan dirinya.

Inoo tersenyum, dan Raura sangat yakin, walaupun baru, guru ini pasti akan jadi primadona baru di sekolahnya, setidaknya ia bisa menyamai ranking kepopuleran Yaotome-sensei, guru olahraganya, lihat saja senyumnya yang manis itu, pasti banyak gadis yang menyukai senyumnya itu.

“Hanya ketika aku sedang stress,” Inoo mengacungkan rokok elektriknya.

“Mengajar adalah pekerjaan yang membuat stress?” Raura tidak tahu mengapa ia bertanya dengan nada ingin tahu seperti ini, bukan seperti dirinya yang biasa.

Inoo Kei tertawa, menunjukkan barisan gigi giginya yang putih dan menyipitkan matanya, jenis senyum yang rasanya membuat matahari siang di musim semi terasa seperti musim panas, Raura tidak ingin terus terpana menatap gurunya itu dan segera berpaling ke kotak bentonya.

Dengan gerakan cepat Inoo Kei memasukkan kembali rokok elektriknya dan menyentuh kepala Raura, sekilas, seperti menunjukkan kasih sayang terhadap murid.

“Yo! Raura-chan!”

Dan beberapa menit kemudian punggung Inoo Kei sudah menjauh dari pandangan Raura, memberikan gelenyar aneh di perutnya, kenapa Inoo-sensei menyentuh kepalaku seperti itu? – dan Raura tau dia hanya bisa bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

***

“Onegai ne, Raura-chan,” walaupun Raura menghembuskan nafas karena kesal, ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan teman-temannya. Piket kelas. Seharusnya ada tiga orang teman lainnya yang piket hari ini, tapi mereka ada les tambahan dan Raura didaulat untuk melakukannya sendirian.

Yabu Raura hanyalah gadis biasa, berperawakan sedang dengan rambut pendek yang bahkan tidak menyentuh bahunya. Raura yang pendiam dan tidak banyak tingkah, Raura bukannya tidak ingin bercengkrama dengan murid lainnya, tapi dia lebih senang menyendiri, memperhatikan teman-temannya dan berbicara jika diajak berbicara saja. Selebihnya Raura hanya sering mendengarkan jika teman-temannya bercerita.

“Sekali-kali bilang tidak pun boleh loh, Raura-chan!” lagi-lagi suara itu, Inoo Kei berdiri di pintu kelas, menyenderkan bahu kanannya , menyilangkan kaki kirinya dengan pose yang mungkin bisa masuk ke majalah Duet atau Potato, dengan senyum yang lagi-lagi tidak bisa Raura pungkiri, senyum yang manis.

Raura kembali melakukan kegiatannya, menghapus papan tulis, menyiapkan peralatan guru untuk esok hari, membersihkan penghapus, dan selama Raura mondar-mandir, Inoo masih saja memandanginya.

Anou..Sensei.. kenapa memperhatikan aku terus sih?” Raura mulai risih dan berharap pekerjaannya cepat selesai.

Betsu ni, aku kan wali kelasmu yang baru, Raura-chan itu manis loh kalo dilihat-lihat,” dan Sensei aneh ini pun tertawa, kembali memamerkan senyumnya yang manis.

Raura menyimpan penghapus dan segera mengambil tasnya, “Maaf Sensei, aku pulang duluan!” kalau tidak segera menghindar, Raura takut ia benar-benar jadi salah tingkah.

Keadaan sekolah sudah lengang ketika Raura berjalan keluar dari area sekolah. Tidak banyak yang masih berkeliaran kecuali beberapa klub sekolah yang berlatih. Raura mengeluarkan ponselnya, sejak pagi ia belum memeriksa apakah ada telepon atau pesan dari siapapun. Beberapa missed call dari Kota dan Raura pun segera menelepon balik kakaknya itu sebelum dia diomeli saat pulang nanti.

“Kemana saja sih kau?!” Kota terdengar kesal, wajar saja karena ia sudah menelepon Raura sebanyak lima kali.

“Aku kan di sekolah, mana bisa angkat telepon?!” seru Raura membalas Kota, “Ada apa sih?”

“Sebelum pulang kau belanja dulu ya! Ayah pulang malam ini dan ia ingin makan gyoza buatanku tapi aku sudah di rumah dan malas keluar,” jelas Kota.

Raura mendesah, penyakit akut yang diderita kakaknya, “Mou… kenapa baru bilang sekarang sih?”

“Tolong ya! Beli saja apa yang kau mau, nanti aku ganti uangnya!” klik. Kota mematikan teleponnya, membuat Raura kesal dan memaki-maki ponselnya yang tidak bersalah. Mau tak mau ia berjalan ke halte bus.

“Kau baik-baik saja?” Raura yang sedang menunduk terkaget dan menoleh ke sumber suara, Chinen Yuri berdiri di halte bus yang sama dengannya.

“Uhmmm… iya Senpai, semuanya baik-baik saja!” Raura berharap nada suaranya biasa saja dan tidak terdengar terlalu bersemangat.

Chinen tersenyum.

Tersenyum.

Senyum Chinen senpai yang terkenal manis itu kini diarahkan kepadanya. Dua kali hari ini ia mendapat senyum dari Senpainya itu. Mungkin ini adalah hari keberuntungannya.

“Loh, Chinen-senpai naik bus juga?” Raura ingat kalo pagi ini mereka berlari di arah yang sama.

“Aku harus membeli sesuatu dulu,” ungkapnya, “Kau sendiri?”

“Aku juga harus ke Supermarket,”

Raura melirik ke arah Chinen yang terlihat sedikit murung. Iya dia tersenyum tapi saat Raura berpaling dan kembali menatap Chinen, wajahnya sudah berubah murung. Entah apa yang ia pikirkan dan Raura sebenarnya ingin tahu. Tapi bertanya kepada Chinen bisa saja membuat hatinya sakit, misalnya dia di tolak oleh orang yang ia sukai?

“Yabu-kun, ayo!” Raura tersentak dan lamunannya pun buyar, ia segera naik ke bis yang akan membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan.

“Kau selalu belanja sebelum pulang sekolah?”

Raura menggeleng, “Hanya karena Kota, maksudku kakakku, ingin masak untuk Ayahku yang akhirnya pulang dari dinasnya di luar negri,” jelasku.

“Bukankah seharusnya ia yang belanja?” Chinen terkekeh.

“Dia sudah sampai di rumah ketika Ayah meneleponnya, dan ia terlalu malas untuk keluar lagi dan berbelanja,”

Chinen tertawa, “Keluargamu sepertinya menyenangkan, ya?”

“Hanya ada aku, Kota, dan Ayah saja dan kami jarang bertemu Ayah yang bekerja di luar negri,” Raura merasa aneh harus menceritakan keadaan keluarganya kepada Chinen. Mereka hanya teman satu sekolah, terlebih Chinen adalah kakak kelasnya, dan alasan mereka kenal hanyalah karena mereka pernah dihukum bersama saat Raura masih kelas satu.

Masih segar dalam ingatan Raura ketika ia telat datang ke sekolah karena lagi-lagi Kota telat bangun dan ia lupa menyalakan alarm. Ia terperangkap di luar gerbang dengan beberapa orang lainnya, salah satunya adalah Chinen Yuri.

“Padahal hanya telat 3 menit, ya?” ungkapnya karena kebetulan Chinen berdiri di sebelahnya, pagi itu pun Chinen mengahdiahkan sebuah senyuman manis padanya, “Eh, Chinen Yuri desu, kelas dua A,” ia menunduk sekilas.

“Yabu Raura desu,” tidak sopan jika ia tidak menjawab Chinen.

Dan setelah itu? Hubungan mereka hanyalah sebatas tersenyum jika berpapasan di lorong, Raura melihatnya di kantin dengan beberapa teman-temannya yang otomatis selalu ada di sekeliling seorang Chinen Yuri. Semuanya pria populer. Yamada Ryosuke, tipe cowok yang tahu bahwa dia banyak fans, Yamada tidak pernah sendirian dan selalu berjalan dengan gadisnya, Tanimura Rei, mereka sekelas dan selalu berdua. Okamoto Keito, cowok yang merupakan murid pindahan dari Inggris, tampan, berbadan atletis, dengan cara bicara aneh yang mencampurkan bahasa Jepang dan Inggris. Nakajima Yuto, setahu Raura Yuto adalah seorang drummer di sebuah band indie, ia punya badan yang tinggi dan kepribadian yang ceria, all-girls-favorite, kalau Keito susah didekati, Yuto adalah kebalikannya. Chinen Yuri punya penggemar sendiri, mereka yang menyukai pria cute dan menggemaskan, namun ada rumor yang mengatakan bahwa Chinen tidak suka dengan gadis seusianya, ia lebih suka dengan wanita yang sudah dewasa.

Raura tidak tau bagaimana rumor itu bisa berhembus. Sepertinya saat semester kedua di kelas satu, Raura mendengar bahwa seorang kakak kelas menyatakan cinta kepada Chinen, yang dijawab dengan, “Terima kasih, Senpai, kalau saja kau lebih tua beberapa tahun lagi, mungkin aku bisa menyukaimu,” kira-kira seperti itu jawaban Chinen, karena Raura mendengarnya dari orang lain, tentu saja ada kemungkinan bahwa rumor itu sudah berkembang dan mungkin tidak tepat seperti itu perkataan Chinen.

“Yabu-kun,” suara Chinen membawanya ke waktu sekarang, Raura terperanjat dan menatap Chinen yang memperhatikannya. Apa mulutnya ternganga? Raura mulai sibuk memikirkan alasan Chinen terkekeh melihatnya.

“Kenapa?”

“Memikirkan sesuatu? Kau terlihat lucu dengan ekspresi wajah seperti tadi! Kalau saja aku segera mengambil fotomu!!”

Lucu.

Chinen Senpai menganggap Raura lucu dan Raura tidak bisa berhenti memikirkan perkataan itu hingga mereka turun di halte dekat Supermarket. Apakah lucu seperti lucu sebenarnya? Seperti lawakan? Atau lucu yang berarti dia manis? Cute? Raura yakin kalau ia terus memikirkannya, bisa jadi ia sakit kepala saat pulang nanti.

Mereka pun berjalan memasuki Supermarket beriringan, Raura mengambil keranjang sementara Chinen tidak.

“Tidak ambil keranjang?” Raura heran kenapa sepanjang sore ini ia begitu banyak bicara.

“Kau kan sudah ambil, kita belanja sama-sama saja,”

Chinen-senpai mau berbelanja bersamanya. What a magical afternoon buat seorang Raura yang kini hanya sanggup mengangguk dan tiba-tiba ia merasa sangat panik. Mereka seperti sedang berkencan, ia tak pernah selama ini bersama seorang pria, tentu saja selain Kota. Semua kisah suka menyukai versi Raura selalu berakhir dengan memandangi si lelaki dari jauh. Raura tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta atau bahkan mendekati lelaki yang ia sukai. Jika dipikir-pikir, sejak masuk SMA memang Chinen Yuri lah yang ia sukai. Raura sering sengaja lewat ke kelas 2A, untuk mengintip Chinen, atau sekedar menunggu hingga Chinen – dan rombongannya – beranjak dari kantin sebelum ia akhirnya juga kembali ke kelas, Raura juga sering memperhatikan Chinen yang sedang berlatih lari di lapangan.

“Aku nitip ini saja,” Chinen mengambil satu kotak sereal, satu kotak deterjen, “Ibuku minta dibelikan,” ucapnya sambil tersenyum.

Setelah selesai berbelanja, Raura dan Chinen beranjak ke luar dengan Chinen membawakan sebagian besar belanjaan milik Raura.

“Itu mereka!” ucap Chinen tiba-tiba dan ia pun bergerak cepat sehingga Raura harus setengah berlari mengikuti Chinen tanpa mengerti apa yang terjadi.

“Ada apa Chinen-senpai?!” tanya Raura bingung ketika mereka mengendap-endap di sebuah gang dan mengintip ke arah sebuah hotel besar.

“Ueda-sensei?” bisik Raura.

“Ya, dengan Yaotome-sensei,” tambah Chinen.

“Mereka…”

“Akan menikah,” lanjut Chinen yang sekarang terlihat sangat kesal.

“Kau… baik-baik saja?” tanya Raura ketika mereka memutuskan untuk duduk di sebuah taman.

Chinen mengangguk, “Aku hanya tidak mengerti Raura-chan, kenapa Kaho memilih pria seperti Yaotome?!”

“Kaho?”

“Ueda-sensei,” desah Chinen.

Oh! Tentu saja, otak Raura tiba-tiba melambat mendengar penjelasan yang terlalu cepat dari Chinen.

“Memang, apa salahnya dengan Yaotome-sensei?”

“Dia tidak setia pada Kaho-chan. Seminggu yang lalu aku melihatnya bersama wanita lain, dan aku tidak bisa terima Kaho dipermainkan!” Chinen membanting kaleng minumannya dengan sangat keras sehingga menimbulkan suara bising.

“Ano, Chinen-senpai… suka pada Ueda-sensei?” tanya Raura hati-hati, bagaimanapun ia tidak mau membuat Chinen semakin marah.

Chinen tiba-tiba terdiam, ia menatap Raura, “Kaho-chan adalah cinta pertamaku, ya, aku mencintainya dan aku tidak main-main soal melindunginya,”

Tanpa alasan yang jelas, kini Raura merasa patah hati. Seakan-akan Chinen sudah menolaknya sebelum ia menyatakan cintanya. Ketika Raura masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Chinen menarik pinggang Raura dan memeluknya. Raura merasa jantungnya sudah berhamburan keluar karena berdetak terlalu cepat.

“Chinen… senpai…”

Raura merasakan nafas Chinen ditengkuknya, dan membuatnya merinding, “Gomen, biarkan aku begini sebentar saja.”

 

-To Be Continue-

Advertisements

One thought on “[Minichapter] Kimi ni Attraction (Chapter 1)

  1. Raura

    Dinchan daisuki daisuki daisuki daisuki daisuki daisuki daisuki daisukiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Lots of kisses for yoooouuuu mmuuaaaaahhh<3<3<3
    Aku dijadiin adik Kota kyaaa XD
    trus Chinennya, trus Inoonya, kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh~~~~~~<3<3<3
    SUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~~~
    BIKIN KESEMSEM TIADA HENTI IH TIAP MOMEN RAURA SAMA CHINEN DAN INOO, walaupun ada bbrp yg bikin ngakak dlm hati XD
    NEXT CHAPPIE PHLWEEEEAAAAAZZZEEEEEE~~~~~~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s