[Multichapter] Saigo no Kioku (Part 4)

Title     : Saigo no Kioku
Chapter : 4
Author : Mikka
Cast     :
Matsumura Hokuto (Six Tones)
Kubota Miyu (i☆Ris)
Jesse Lewis (Six Tones)
Aiba Masaki (Arashi)
Genre  : Romance, Friendship
Rating : PG-13

————————————————–

Sudah beberapa hari Hokuto lebih memilih bolos dan melakukan kerja untuk mengalihkan pikirannya dari perasaan bersalah pada Miyu. Mungkin sudah empat hari dia tidak masuk sekolah. Datang ke sekolah mengingatkannya pada tindakan bodohnya saat mengajak Miyu bolos demi mencari Jesse.

Hokuto berjalan masuk ke dalam gedung dan mengambil sepatu ruangannya yang berwarna putih.

“Aku sudah lama menunggumu…”

Suara itu tidak asing lagi di telinga Hokuto. Itu adalah suara gadis yang menemaninya seharian minggu lalu. Hokuto membalikkan tubuh dan melihat Miyu melipat kedua tangannya. Wajah Miyu merengut dengan alis bertaut dan bibirnya yang manyun. Melihat wajah seperti itu membuat seakan kejadian saat Miyu kambuh seperti mimpi buruk.

“Hokuto-kun?” panggil Miyu saat tak mendapatkan reaksi apapun dari Hokuto.

Hokuto tidak tahu, kalau mendengarkan namanya dipanggil seperti itu saja sudah bisa membuatnya sangat bahagia. Dia langsung berjongkok dan melampiaskan emosinya dengan berteriak.

“Baru saja seminggu tidak bertemu kau jadi gila begini?” tanya Miyu saat Hokuto kembali berdiri. Teriakan Hokuto itu tentu saja membuat seisi ruangan memperhatikannya dan bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi.

“Kau yang membuatku begini,” gumam Hokuto yang dibalas Miyu dengan senyum puas.

“Aku ingin melakukan yang seperti kemarin,” ucap Miyu dengan mata berbinar-binar. Miyu mendekat dan membisikkan sesuatu pada Hokuto.

“Tidak bisa,” tolak Hokuto. “Aku tidak akan membahayakan dirimu seperti kemarin.”

“Aku tidak suka dimanja seolah-olah aku sedang sekarat.”

“Dan aku tidak suka membuatmu jatuh sakit seperti kemarin. Kau tahu kalau aku nyaris terkena serangan jantung?”

“Baguslah, kalau begitu aku punya teman di rumah sakit.”

Hokuto tersenyum dan memukul pelan kepala gadis itu.

“Wah ada apa ini? Pasangan pengantin baru sedang bertengkar di depan umum?” Kedatangan Aiba membuat kedua orang itu pura-pura tak mempedulikan satu sama lain. Aiba berjalan mendekat dan berbisik, “Hmm, sepertinya ruang biologi hari ini tidak akan ada yang menggunakannya.” Kemudian dia pergi begitu saja.

“Kau memiliki wali kelas yang ajaib.”

Miyu tertawa geli, “Padahal aku merasa awalnya dia sangat menjengkelkan.”

“Dia ternyata tidak seperti yang terlihat bukan? Kau tahu, Aiba itu berteman dengan banyak artis terkenal seperti Sakurai Sho.”

Mereka kemudian berjalan beriringan masuk menuju ruang biologi yang berada di lantai tiga.

“Siapa itu Sakurai Sho?” tanya Miyu tidak tahu. Dia sudah menghabiskan terlalu banyak waktu di Amerika sehingga tidak terlalu mengetahui bagaimana keadaan di Jepang.

“Pembaca berita yang merangkap seorang idol, lalu juga Ninomiya Kazunari.”

“Oh, aku pernah menonton salah satu film yang dibintanginya. Aku sampai tidak bisa tidur karena terlalu sedih begitu filmnya habis.”

Hokuto merasa senang, ternyata dia bisa membicarakan hal-hal tidak penting seperti ini dengan cara yang menyenangkan. Padahal dia sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang banyak bercerita. Hanya saja, jika berada di dekat Miyu, dia seperti bisa mengutarakan isi hatinya.

“Jadi apa ada hal yang ingin kaubicarakan?” tanya Hokuto saat mereka sudah duduk di kursi dalam ruang biologi.

“Aku membuat ini,” ucap Miyu sambil menyodorkan sebuah buku kecil.

Hokuto melihat buku yang bertuliskan My Wishes tersebut.

“Apa ini?” tanya Hokuto walau sebenarnya dia bisa menerka apa isi dari buku-buku tersebut.

“Keinginanku. Kau juga terlibat di dalamnya,” ucap Miyu sambil tersenyum.

Saat Hokuto ingin melihat isinya, dengan cepat Miyu menarik kembali buku itu. Padahal Hokuto belum sempat melihat apa pun.

“Jadi apa saja keinginanmu?”

“Aku tidak akan membeberkan semuanya. Aku akan mengatakannya satu persatu.”

“Lalu, keinginan pertamamu?” tanya Hokuto lagi.

Miyu menggigit bibir bawahnya mencoba menahan senyum lebar yang sulit untuk ditahan.

“Kau juga termasuk ke dalam rencananya ya?” tanya Hokuto saat melihat Jesse juga berada di taman bermain, tempat berkumpul yang sebelumnya sudah ditentukan oleh Miyu.

“Kenapa? Kalian sedang bertengkar?” tanya Miyu merasakan suasana dingin di antara kedua pria di dekatnya.

“Tentu saja tidak.” Jesse menjawab cepat sambil mencoba tersenyum meyakinkan bahwa tidak ada masalah apapun yang terjadi antara dirinya dan Hokuto.

Miyu mengangguk puas, “Kalau begitu ayo kita pergi!” Dia pun berjalan memimpin dengan langkah bersemangat.

Miyu berjalan menuju ke sebuah swalayan yang terdapat di dekat taman tersebut. Kedatangan mereka bertiga disambut ketertarikan yang tak bisa disembunyikan oleh orang-orang di dalamnya. Bahkan sang kasir terus menatap mereka sampai mereka tak tampak lagi menghilang di salah satu rak.

“Biasanya kalian suka makan apa?” tanya Miyu sambil melihat sayur-mayur segar yang terhidang di depannya.

“Aku lebih suka hamburger,” jawab Hokuto yang mendapat lirikan tajam dari Jesse.

“Kau ingin memasak?” tanya Jesse. Tak pernah terpikirkan sekalipun oleh Jesse kalau Miyu bisa memasak. Ditambah lagi dengan kondisi tubuh yang tidak bisa melakukan banyak pekerjaan. Rasanya hal itu terlalu berisiko untuk Miyu.

Miyu yang berjalan di depan membalikkan tubuhnya dan menaikkan alis, “Siapa bilang aku yang akan memasak?” Lalu dia kembali berjalan ke depan dengan langkah ringan.

Mendengar pernyataan Miyu, Hokuto dan Jesse terdiam di tempat. Mata mereka bertemu dengan pertanyaan yang sama di kepala mereka. Lalu siapa yang akan memasaknya?

“Coba salah satu dari kalian cari bahan-bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat hamburger,” suruh Miyu sambil mendorong trolley.

Baru kali ini ada anak perempuan yang dengan beraninya memerintah mereka berdua. Dan hanya Miyu seorang yang dapat melakukan hal tersebut. Tanpa menunggu jawaban lagi Miyu berjalan dengan pelan.

Jesse yang tak banyak protes langsung membuka ponselnya dan mengutak-atik resep hamburger di laman pencarian. Tak butuh waktu lama hingga daftar bahan-bahan itu muncul.

“Kenapa kau dengan seenaknya menyebut hamburger…” bisik Jesse sambil mengambil satu persatu bahan dan memasukkannya ke trolley yang didorong Miyu.

“Karena kau tidak menjawabnya, dan bukannya lebih baik kalau kita tidak usah berlama-lama di sini? Kau kan tahu sendiri kondisi Kubota bagaimana,” tutur Hokuto enteng.

Benar juga. Mengingat kondisi Miyu, Jesse dengan kecepatan ekstra mengumpulkan seluruh bahan-bahan yang diperlukan dan meninggalkan Miyu berjalan dengan Hokuto di belakangnya sementara setumpuk bahan masih dengan setia dipeluknya.

“Apa yang dikatakan ayahku padamu?” tanya Miyu ketika mereka berjalan berdampingan.

Hokuto menatap Miyu sebelum menjawab. Didapatinya mata gadis itu dipenuhi dengan sinar rasa bersalah, “Jangan khawatir. Ayahmu tidak mengatakan hal-hal seperti orangtua lainnya. Orang-orang tua lain sering sekali menyebutku anak yang tidak memiliki harapan dan sampah masyarakat.”

Miyu menghembuskan napas lega, “Lalu, kenapa kau dan Jesse bertengkar?”

“Siapa yang bilang kami bertengkar?” elak Hokuto, namun Miyu tak begitu saja percaya. Ditatap dengan mata penuh selidik oleh Miyu membuat Hokuto tak dapat berbuat banyak. “Yah, kurasa bagi Jesse aku membawa pengaruh buruk padamu.”

Miyu mengalihkan pandangan pada Jesse, dia tampak berpikir, “Jadi bagi Jesse saat ini sikapku buruk setelah bertemu denganmu?”

“Mungkin… Aku sebenarnya juga tidak menanyakan hal itu secara jelas. Yang pasti Jesse tampak menjauhiku.”

Miyu mengangguk-angguk mengerti. Kemudian sebuah senyum penuh rasa senang tersungging di bibirnya, “Kalian akan baik-baik saja. Aku jamin itu.”

“Kenapa akhirnya kita berakhir di rumahmu?” gerutu Hokuto yang kebagian tugas memasak, karena tentu saja menyuruh Jesse menyiapkan makanan sama saja dengan menyuruh Jesse membuat racun yang berarti bencana besar untuk kelangsungan hidupnya.

“Kalau bukan demi Miyu aku juga tidak akan mau memasak berdua denganmu,” geram Jesse yang sangat memperlihatkan ketidaksukaannya memasak berdua dengan Hokuto. Memang pemandangan yang terjadi di rumah Jesse sangat langka, di mana dua orang pria yang berupa begundal sekolah dipaksa seorang gadis lemah untuk memasak hamburger.

Hokuto menaikkan alisnya, “Tenang saja, kau tidak perlu ikut turun tangan karena aku masih sayang dengan perutku. Duduk dan perhatikan saja aku memasak,” suruh Hokuto yang mulai mengeluarkan barang belanjaan. Hokuto sudah pernah beberapa kali membuat hamburger untuk adik-adiknya, tentu saja dengan bahan yang lebih sederhana dan murah.

Jesse melirik ke sofa di ruang tengah, di ujung kursi tampak kedua kaki kurus Miyu menjulur. Miyu tengah tertidur.

“Untuk apa dia melakukan hal-hal konyol yang membuatnya lelah begini…” gumam Jesse tak habis pikir.

“Mungkin dia ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya,” ucap Hokuto menyuarakan pendapatnya.

“Dasar sok tahu.”

Hokuto mengangkat bahu, “Buktinya saja saat aku mengajaknya bolos untuk mencarimu dia terlihat sangat senang.”

Jesse tak lagi membalas ucapan Hokuto. Kemungkinan seperti itu sebenarnya memang mungkin terjadi. Hal pertama yang ditanyakan Miyu saat bangun adalah Hokuto, namun Jesse tak pernah menyampaikan hal tersebut pada Hokuto. Hari-hari berikutnya Miyu terlihat biasa saja, tanpa senyum di wajahnya.

“Daripada kau cuma melongo di sana lebih baik kau bantu aku menyiapkan piring untuk kita,” ujar Hokuto membuyarkan lamunan Jesse.

Dengan langkah malas Jesse berjalan ke rak piring dan mengambil piring, gelas, beserta sendok garpu untuk mereka bertiga.

Wangi masakan yang begitu menggoda membuat Jesse yang baru saja meletakkan peralatan makan di atas meja mendekati Hokuto dan melihat hamburger yang baru saja digoreng di atas wajan.

“Sejak kapan kau dan Kubota saling mengenal?” tanya Hokuto seraya membalik hamburger di atas wajan.

“Kenapa aku harus memberitahumu?” ucap Jesse sengit.

“Yah, kenapa tidak?”

Setelah dipikir-pikir oleh Jesse, benar juga. Untuk apa dia menyembunyikan hal ini dari Hokuto? Toh, Hokuto paling tidak sudah mendengarkan sebagian masa kecilnya dengan Miyu dari mulut gadis itu sendiri. “Sejak Miyu masuk SD kami sudah saling mengenal. Begitu aku lulus SD kami berpisah dan beberapa kali kami hanya berkomunikasi via email. Setahun terakhir dia mulai rutin menghubungiku dan tiba-tiba saja dia bersekolah di sini,” tutur nya jujur.

“Apa dia memang terlihat seperti itu sejak kecil?” tanya Hokuto lagi.

“Seperti itu bagaimana?”

“Hmm, yah begitu terlihat tak bersahabat dan susah didekati.”

Jesse menggeleng, dia berjalan mengambil sebuah kursi dan duduk terbalik, dengan menjadikan sandaran kursi itu sebagai penyangga tangannya, “Dia sangat mudah akrab dengan semua orang. Dia benar-benar sangat mudah menarik perhatian orang lain, kau tahu?”

Hokuto paham dengan maksud Jesse. Dengan wajah orientalnya tentu saja Miyu tampak berbeda dengan anak-anak yang lainnya.

“Dia begitu ceria dan bersemangat. Terkadang dengan mudahnya dia melakukan hal-hal konyol yang membuat pengasuhnya geleng-geleng kepala.”

“Contohnya?”

Jesse tertawa pelan ketika mengenang masa lalunya, “Dia memasukkan kodok ke salah satu celemek pengasuhnya, lalu dia juga pernah melempari anak-anak nakal di sekolah dengan lumpur.”

“Kalau begitu bukannya itu juga menjadikannya anak nakal?” tanya Hokuto sambil tertawa membayangkan Miyu kecil yang menggenggam lumpur.

“Ya, hal itu membuatnya merajai tempat geng anak nakal.” Tawa Jesse perlahan mereda, dan dia tampak kembali tenggelam dalam ceritanya sendiri, “Tapi aku tidak tahu apa saja yang telah terjadi padanya saat aku pindah ke Jepang.”

“Kenapa kau tidak bertanya pada teman-temanmu saat SD?”

“Kau mungkin tidak percaya kalau aku menyebut hanya Miyu lah temanku ketika SD.”

“Tentu saja aku percaya. Buktinya semenjak SMP hanya aku temanmu satu-satunya.” Hokuto membalik hamburger di wajan sekali, dan wajahnya langsung ceria, “Sudah selesai!”

Melihat hamburger itu telah matang, Jesse berjalan ke sofa dan mencoba membangunkan Miyu. Beberapa kali dia memanggil nama Miyu, namun Miyu tak bergeming. Perasaan buruk kembali menghampirinya. Kini Jesse mengguncang sedikit tubuh Miyu hingga perlahan gadis itu mengerjapkan matanya yang merah dan melihat ke sekitar.

“Apa yang terjadi?” tanya Miyu dengan suara sedikit serak.

“Ayo kita makan,” ajaknya seraya membantu Miyu duduk.

Jesse dengan sigap membantu Miyu yang sempoyongan berjalan ke meja makan. Setelah sampai di meja makan, bukannya langsung duduk, Miyu malah menjadikan sandaran kursi sebagai tempatnya berpegang dan seperti berpikir.

“Kenapa?” tanya Hokuto dan Jesse berbarengan.

“Aku kurang terlalu menyukai tempat ini. Kita makan di dekat ruang tengah saja,” ucap Miyu yang sebenarnya lebih mirip dengan perintah itu.

Miyu terlihat jauh lebih baik. Dia kini mulai bisa kembali bergerak sendiri dan berjalan menuju ruang tengah sementara Hokuto dan Jesse kebagian tugas mengangkat makanan beserta peralatannya.

“Tidak tidak tidak. Kita tidak akan makan di meja!” seru Miyu saat kedua pria itu hendak meletakkan makanannya di meja depan televisi. “Kita makan di sini,” ucapnya sambil menunjuk lantai yang bersebelahan langsung dengan jendela besar yang memperlihatkan matahari yang mulai berubah warna menjadi oranye.

“Apa enaknya makan di lantai?” protes Hokuto tidak paham.

“Sudah, tidak perlu banyak tanya. Cepat lakukan,” perintah Miyu tidak sabar.

Kini ketiga orang tersebut sudah duduk dengan tenang di depan makanan mereka masing-masing.

“Jadi ini hasil yang kalian buat berdua?” tanya Miyu melihat hamburger bersaus kuning di depannya. Matanya berbinar-binar senang.

“Lebih tepatnya dibuat olehku sendiri. Jesse hanya bagian komunikasi,” tutur Hokuto tanpa mencoba terlihat untuk pamer.

“Maksudnya?” tanya Miyu lagi yang tidak paham.

“Dia daritadi hanya sibuk bercerita.”

Mendengar seolah-olah dirinya adalah orang yang cerewet, Jesse memberikan tatapan tajam pada Jesse, “Kau yang memintaku untuk bercerita, dasar sialan,” gerutunya.

Tampak tak peduli dengan pertengkaran kecil dua pria di dekatnya, Miyu mengatupkan tangan dan menutup matanya, “Selamat makan!”

Hokuto tak langsung memakan hamburger buatannya sendiri, dia lebih tertarik melihat bagaimana reaksi Miyu. Dengan sabar dia menunggu Miyu memotong hamburger menggunakan pisau dan menyuapkan sepotong kecil menggunakan garpu.

“Bagaimana?” tanya Hokuto dengan napas tertahan.

Miyu mengangguk sekali, “Enak,” jawabnya setelah berhasil menelan potongan tersebut, “Gochizousama,” ucapnya dengan kembali mengatupkan tangannya. “Aku tidak pernah tahu kalau kau pandai memasak,” puji Miyu setelah meneguk tetesan terakhir air minumnya.

“Adik-adikku terlalu sering meminta makanan mahal yang tidak mungkin kubeli dengan uangku. Jadi aku terpaksa mempelajari resepnya dan memasaknya sendiri,” jelas Hokuto yang kemudian melakukan hal serupa dengan Miyu setelah makanannya telah habis.

Tak banyak yang diperbincangkan mereka setelah saat itu. Miyu kembali merasa kelelahan dan akhirnya sang supit, Taguchi-san datang menjemput Miyu di rumah Jesse.

“Untuk apa dia melakukan hal yang merepotkan dirinya sendiri?” tanya Hokuto yang baru saja membantu Jesse membereskan piring dan kini menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tangan kanannya yang memegang pegangan sofa tak sengaja menyentuh sejumput rambut panjang. Melihat rambut-rambut itu, Hokuto langsung tahu kalau rambut ini pasti milik Miyu. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh gadis tersebut pasti membuatnya seperti ini.

“Mengumpulkan kenangan sebanyak-banyaknya, kurasa,” ujar Jesse yang duduk di sebelah Hokuto. Kedua pria itu terdiam sambil menatap televisi yang tak menyala. “Dia sepertinya merasa kalau hidupnya di dunia ini tidak akan lama lagi.”

“Bahkan dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri kan?”

Jesse terkejut mendengar ucapan Hokuto barusan. Darimana Hokuto tahu kalau Miyu pernah mencoba untuk bunuh diri? Ayah Miyu bukanlah tipe orang yang bisa berbicara dengan orang yang baru dikenalnyaa. Apa mungkin Miyu sendiri yang menceritakannya?

“Aku melihatnya… guratan mengerikan di pergelangan tangan gadis itu…” tutur Hokuto teringat dengan bekas sayatan di nadi Miyu. Tak hanya satu, melainkan dua sayatan. Berarti tak sekali Miyu berusaha melakukan

“Tiga kali… dia berusaha membunuh dirinya sendiri.” Kini perhatian Hokuto sepenuhnya terpaku pada Jesse, “Selain menyayat tangannya sendiri, Miyu pernah meminum obat melebihi anjuran dari dokter, hingga dia mengalami overdosis.”

Kenyataan yang begitu mengerikan itu terdengar seperti kisah yang hanya terjadi di novel maupun dorama. Tak pernah terbayangkan oleh Hokuto kalau dia mengenal salah satu orang yang telah kehilangan semangat di dalam hidupnya seperti Miyu.

“Tapi, sepertinya Miyu akan menjalani kembali kemoterapinya. Dokter bilang ini masih belum terlalu terlambar. Setelah semua sesi kemoterapi selesai Miyu bisa langsung melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang dan hal itu bisa memperpanjang usianya,” jelas Jesse disertai rasa bahagia. “Ayah Miyu mengatakan kini Miyu sudah mau kembali menjalani pengobatan itu.”

Berlainan dengan Jesse, malah Hokuto tampak murung mendengar hal itu, “Untuk apa dia melakukan semua itu?” tanyanya tak mengerti. Padahal dia sudah mendengar langsung dari Miyu kalau dia sangat membenci pengobatan kanker karena hal itu sangat menyiksa, walaupun dulu dia menceritakan dari persepsi ibunya, tetapi jelas secara tak langsung itu adalah pendapat pribadi Miyu.

“Apa maksudmu?” Jesse tampak senang melihat wajah Hokuto yang malah terlihat sedih. Kurang ajar sekali Hokuto malah murung begitu mengetahui Miyu masih ingin memperpanjang usianya.

            “Kau tidak pernah tahu bagaimana tersiksanya Kubota menjalani semua itu hingga dia mencoba bunuh diri, dan tentu aku juga tidak begitu memahaminya.”

—————————————–

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s