[Drabble] Twins

Twins

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Koizumi Arina as Chinen Arina

By: Shield Via Yoichi

untuk Kak Gita yang sedang berulang tahun! >< selamat ulang tahun, kak~ terimalah kado yang tidak seberapa ini~ niatnya tadi mau bikin 22 drable, tapi berhubung tugas masih banyak, waktu tidak memadai(?) maka hanya ini yang bisa saya buat dalam 2 jam… :”’D bahkan judul saja seadanya… X”D fotonya juga nyolong terus di-crop XDDDD

ps: bacanya sambil dengerin lagunya ya XD

Screenshot_2015-12-01-06-35-31

Fuyu ga Kureta Yokan – BiBi

“Aku akan menemuimu saat ulang tahun kita.”

Arina menatap langit malam sambil merapatkan jaketnya. Namun udara dingin yang menggelitik kulitnya tidak membuatnya untuk pulang ke rumah. Ada sebuah janji dari seseorang yang membuat Arina harus rela kedinginan seperti ini.

“Yuuri…” gumamnya.

Dia kemudian melirik jam tangannya lalu menghela napas, “Harus berapa lama lagi aku harus menunggu, Yuuri baka!”

Arina beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya mondar-mandir. Hatinya sama sekali tidak tenang menunggu kedatangan kembarannya tersebut. Chinen Yuuri, saudara kembarnya yang sedang berada di luar kota dan juga cinta pertamanya. Mengingat itu, dada Arina sesak, sudah beberapa bulan ini dia tidak bisa bermanja ria dengan Yuuri dan sekarang…. Yuuri belum kunjung datang.

Dia pun mencoba menghubungi Yuuri, tetapi handphone pemuda itu tidak aktif. Arina mulai meragu akan kedatangan Yuuri, “Kau pasti datang kan, Yuuri? Cepatlah datang kemari, aku sudah kedinginan disini!” ucapnya pada voice mail untuk Yuuri.

Arina kembali duduk di ayunan, tempatnya duduk tadi. Mengedarkan pandangannya ke taman bermain itu dan untuk ke sekian kalinya dia menghela napas. Dia merasa bodoh tetap menunggu di sana, namun firasatnya berkata kalau pemuda itu akan datang. Firasat dari musim dingin.

I miss you, Yuuri…”

 


 

No. 1 – Kana Nishino

Chinen melirik melalui ekor matanya, setelah beberapa detik bertahan di posisinya, dia pun menyerah sambil memegang dadanya.

“Kau kenapa? Sakit?”

Chinen melihat seorang gadis terlihat begitu khawatir, mata pemuda itu sedikit membesar. Gadis itu semakin terlihat khawatir melihat ekspresi Chinen yang tidak biasa itu. Chinen menelan ludah, lalu menggeleng.

“A-aku tidak apa-apa.”

“Kau yakin? Tapi peganganmu pada dadamu dan wajah merahmu tidak berkata seperti itu.”

Chinen melihat ke arah tangannya yang masih mencoba meremas dadanya—lebih tepatnya mencoba meremas jantungnya yang terus saja berdetak lebih cepat dari biasanya—kemudian dia langsung memperbaiki posisinya dan mengeluarkan jurusnya, senyuman manisnya.

“Aku tidak apa-apa, Arina.”

Arina mengangguk mengerti, “Begitu? Ya sudah, aku pergi dulu.”

“T-tunggu!”

“Ada apa?”

Chinen terdiam, dia tidak mengerti mengapa dia menghentikan langkah Arina untuk pergi darinya. Entah kenapa rasa dingin menyergap.

“Tidak…”

“Hah… dasar aneh!” Arina melanjutkan langkahnya, meninggalkan Chinen dengan perasaannya sendiri.

Chinen menghela napas, tangannya menutup wajahnya yang terasa panas di telapak tangannya.

“Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada adikku sendiri?”

“Apa yang kau bilang, Yuuri?”

“Eh?” Chinen memalingkan wajahnya ke sumber suara. Matanya bergerak kesana-kemari, dadanya semakin terasa sesak. Ah, mati aku! Apa alasan yang harus aku keluarkan?, ucapnya dalam hati.

“kau jatuh cinta padaku? Ahahaha…” Arina tertawa. Chinen menatapnya heran, “Tidak heran. Karena aku kan selalu berada di posisi pertama di hati Yuuri~”

Seketika rasa kesal muncul di dada Chinen, “Apa maksudmu, huh?” Dia menjewer pelan telinga Arina, “Ayo pulang. Aku juga mau jadi posisi pertama di hatimu, jadi kau harus memasak semua makanan kesukaanku!”

“Eh? Tidak bisa begitu! Kan yang jatuh cinta itu kau!”

Chinen tidak menghiraukan ucapan Arina. Dia tetap menarik tangan gadis nomor satunya itu sambil mengembangkan senyumnya.

 


 

Anemone Heart – Minami Kotori & Sonoda Umi (Uchida Aya & Minomi Suzuko)

Aku membuka pintu rumahku, sepi sekali. Aku pun beranjak ke kamarku. Saat aku baru saja membuka pintunya, aku bisa melihat buket bunga ada di meja belajarku. Apa Yuuri masuk ke kamarku? Tidak akan kumaafkan!

Aku segera berjalan mendekati meja belajar dan mengambil buket bunga itu. Carnation, warna putih. Aku mengkerutkan alisku, untuk apa dia memberikan ini? Apa dia tahu arti bunga ini? Aku masih melihat bunga itu dengan bingung dan menemukan sebuah kertas di sela-sela bunga tersebut.

 

Selamat karena sudah mendapatkan pekerjaan! Maaf aku tidak bisa mengatakannya langsung, aku ada urusan penting jadi aku hanya bisa memberikanmu bunga. Kau suka?

Dari saudaramu yang paling imut,

Yuuri

 

“Eh? ‘Saudaramu yang paling imut’?” Aku menggelengkan kepalaku, tidak heran kalau saudaraku itu narsis seperti ini.

Sepertinya Yuuri tidak tahu arti dari sebuah bunga. Carnation putih mempunyai arti cinta murni, yang artinya diberikan kepada kekasihnya untuk menunjukkan rasa cintanya. Kenapa memberiku bunga ini untuk mengucapkan selamat? Seharusnya dia memberiku mawar kuning yang dalam artian bagusnya untuk kesuksesan. Oke, aku terlihat seperti maniak arti dari sebuah bunga.

Aku terduduk di pinggir tempat dudukku, masih memandang buket bunga pemberian Yuuri. Aku tiba-tiba merasa kesal. Kesal karena berharap Yuuri mengetahui arti bunga ini dan sengaja memberikannya padaku. Itu karena aku mencintai Yuuri. Cinta pertamaku adalah dia.

Cintaku pada Yuuri seperti cinta seorang gadis pada seorang pemuda, bukan cinta kakak-adik. Kalau disuruh menyatakannya dengan bunga, mungkin bunga yang tepat adalah Anemone. Bunga yang berarti ketulusan, cinta yang tidak luncur. Dan juga Akasia, cinta yang terpendam.

Semakin aku memikirkan cinta ini, semakin sakit dada ini. Aku ingin mengatakan ‘I love you’, tapi aku tidak bisa. Yuuri akan merasa aneh kalau aku memberitahukan perasaan ini.

Perasaan ini timbul hanya karena Yuuri memperlakukanku begitu istimewa, menyayangiku melebihi dari apapun. Ah…. Aku sepertinya salah menafsirkan perbuatannya!! Aku telah jatuh cinta padanya, aku harus bagaimana? Sepertinya aku akan mengatakan lewat bahasa bunga saja. Anemone? Akasia? Almond Blossom? Atau Tulip merah ya?

“Arina! Kau sudah pulang?”

Aku tersadar dari lamunanku tentang bunga. Aku melirik jam dinding, ternyata sudah sejam aku diam dalam posisiku memikirkan perasaan aneh ini pada Yuuri.

Pintu kamarku terbuka, kepala Yuuri menyembul dari sela-sela pintu, “Ini aku bawakan bunga lagi.”

Dia masuk, tangannya memegang buket bunga. Bunga Anemone!

“Kenapa kau membawa bunga ini?”

Yuuri mengangkat bahunya, “Karena bunga ini cantik.”

Aku mengangkat alisku, “Apa kau tidak tahu arti dari bunga-bunga ini? Kau membuatku kesal saja!”

Aku berdiri membelakangi Yuuri, tanda bahwa aku marah padanya. Tiba-tiba sepasang tangan memeluk dari belakang, “Kau lupa? Aku ini pintar lho, tentu saja aku tahu arti dari semua bunga ini. Aishiteru.”

Aku tersentak kaget, melepaskan pelukannya kemudia berbalik dan mendorongnya. Dia hanya tersenyum dan memberikan bunga Anemone itu padaku.

Yuuri, aishiteru!!!!!

 

the end

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s