[Multichapter] Saigo no Kioku (Part 3)

Title     : Saigo no Kioku

Cast     : Matsumura Hokuto (Six Tones)

Kubota Miyu (i☆Ris)

Jesse Lewis (Six Tones)

Aiba Masaki (Arashi)

Genre  : Romance, Friendship

Rating : PG-13

Author : Mikka

 

——————————

 


“Jesse sudah bertemu dengan ayahku…”

Hokuto mengernyitkan dahinya heran. Memang kenapa kalau Jesse bertemu dengan ayah Miyu. Apa itu merupakan hal buruk?

“Aku bertemu dengan Jesse karena tidak ingin pulang ke rumah…” jelas Miyu lagi. Penjelasannya kali ini tentu saja membuat Hokuto terkejut.

“Maksudmu… kau ingin bersama dengannya sampai pagi?”

Miyu mengangguk, “Lebih tepatnya aku ingin menginap di rumahnya.”

Hokuto memegang kepalanya dan tertawa, “Hah, memangnya kau ini pacarnya?”

Langsung Miyu menggeleng, “Sejak kecil aku sudah sering menginap di rumahnya. Memangnya ada yang salah dengan hal itu?”

“Kau tidak tahu Jesse tinggal sendiri?”

“Tentu saja tahu.”

“Dia itu masih pria normal dan kau juga sudah bukan anak-anak!”

Tahu ke mana arah pikiran Hokuto dengan cepat Miyu berusaha mengklarifikasinya.

“Aku dan Jesse sudah kenal sejak kecil, aku sudah menganggapnya sebagai kakak laki-lakiku.”

“Kalau kau masih waras sebaiknya sekarang pulang ke rumahmu dan jangan berpikiran macam-macam.”

“Bukan aku, tapi kau yang berpikiran macam-macam!” balas Miyu tidak terima. Karena kesal Miyu langsung berbalik dan meninggalkan Hokuto begitu saja.

“Kau mau ke mana?” teriak Hokuto yang langsung mengejar Miyu.

“Jangan mengikutiku!” perintah Miyu.

“Sebaiknya kau cepat pulang. Malam di kota sangat berbahaya,” suruh Hokuto.

“Memangnya kau ini siapa? Kau tidak berhak memerintahku seperti itu,” desis Miyu tidak suka.

“Tentu saja aku berhak, aku merasa bertanggungjawab karena telah membawamu bolos dari sekolah. Kalau terjadi sesuatu padamu pasti aku yang akan berada dalam masalah.”

“Tenang saja, aku akan memastikan diriku baik-baik saja dan kau tidak perlu bertanggungjawab atas apapun yang terjadi padaku.”

Miyu kembali berjalan menjauh, dan Hokuto masih tidak menyerah untuk mengejarnya. Hokuto berkali-kali memanggil Miyu namun Miyu mengacuhkannya.

“Kubota!” panggil Hokuto, kini dengan nada meninggi. Tangannya menahan Miyu untuk pergi.

“Lepaskan aku atau aku akan berteriak!” ancam Miyu.

“Aku mengerti… aku tidak akan memaksamu pulang.”

“Kalau begitu lepaskan tanganmu!”

Hokuto tetap memegang erat pergelangan tangan Miyu, “Aku akan menemanimu malam ini.”

Hokuto mengajak Miyu ke sebuah taman yang tak begitu banyak dilewati kendaraan karena letaknya yang sudah memasuki pemukiman penduduk. Bunga sakura di taman itu selalu mekar lebih lama dibandingkan dengan yang lainnya, sehingga sampai saat ini belum ada orang yang melakukan hanami di taman itu. Malam itu pun hanya ada Hokuto dan Miyu saja.

Hokuto berhenti berjalan dan malah langsung berbaring, dia menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.

“Apa yang sedang kaulakukan?” tanya Miyu bingung melihat Hokuto.

Hokuto menepuk-nepuk tanah di sebelahnya, “Sebaiknya kau juga coba melakukan ini.”

Miyu duduk dan perlahan merebahkan tubuhnya. Selama dia hidup belum pernah dia baring di tanah lapang tanpa alas seperti sekarang. Miyu pun menatap Hokuto yang baring di sebelahnya.

Melihat Miyu yang menurut, Hokuto tersenyum dan menunjuk ke arah langit. Miyu mengikuti arah yang ditunjuk Hokuto dan begitu takjub saat melihat bagaimana bintang bertaburan di malam itu.

“Bagaimana?” tanya Hokuto.

“Aku seperti bisa tenggelam di antara bintang-bintang itu,” ucap Miyu seraya tangannya seperti berupaya menggapai salah satu bintang. “Kudengar orang yang meninggal rohnya akan menjadi bintang.”

Hokuto tertawa pelan, “Kita tidak akan tahu hal itu sampai kita meninggal.”

“Aneh sekali ya…” gumam Miyu.

“Hm?” Hokuto menatap wajah Miyu yang ternyata juga tengah menatapnya.

“Aku tidak tahu kalau ternyata emosiku bisa berubah secepat ini. Kau tahu, tadi aku merasa sangat marah dan kesal padamu,” tutur Miyu jujur.

“Lalu sekarang?”

“Entahlah… aku merasa nyaman. Apa mungkin sebelumnya kita pernah bertemu?”

“Aku bahkan belum pernah menginjakkan kakiku keluar dari Jepang.”

Miyu kembali menatap langit, tampak tengah menerawang.

“Atau mungkin kita pernah bertemu dikehidupan sebelumnya?”

Hokuto kembali tertawa, “Kau benar-benar mempercayai dongeng seperti itu ya?” Ternyata dibalik penampilan Miyu yang tampak dingin dan realistis, dia memikirkan hal-hal seperti itu benar-benar terjadi.

“Mempercayainya dapat membuatku menjadi lebih tenang.”

“Kenapa?”

Miyu kembali menatap Hokuto. Saat menatap matanya, Hokuto menyadari kalau tergambar kesedihan di mata sayu gadis itu, “Seandainya aku mati besok, aku mungkin akan menjadi bintang, atau mungkin akan terlahir kembali.”

“Tapi kalau begitu orang yang kau tinggalkan akan tetap sedih karena kehilanganmu.”

“Hmm, benar juga.”

Mereka kembali tenggelam dalam kesunyian, sambil menyaksikan bintang yang berkelap-kelip di atas mereka.

“Hokuto, apa ada orang yang kau sayangi telah meninggal?” tanya Miyu sambil tetap menatap bintang di atasnya.

Hokuto duduk dan melihat Miyu, “Tentu saja. Sejak kecil aku tinggal bersama ibuku yang banting tulang untuk menafkahi ke-empat anaknya. Empat tahun yang lalu ibuku ditabrak seseorang dengan mobil dan orang itu kabur.”

“Ibumu meninggal?”

Hokuto mengangguk.

“Ibuku juga sudah meninggal karena leukemia. Setiap bulan ibuku menderita karena melakukan berbagai macam pengobatan. Padahal ibuku dulu wanita yang sangat cantik…”

“Aku bisa membayangkannya. Apa ibumu mirip denganmu?”

“Kata orang seperti itu,” ucap Miyu. “Akibat kemoterapi tubuh ibuku sangat kurus, dia sering muntah-muntah dan rambut di kepalanya sedikit demi sedikit hilang. Aku bahkan nyaris tidak mengenali ibuku sendiri.” Apa hanya perasaan Hokuto, tapi dia merasa suara Miyu bergetar seakan sedang menahan tangis.

Hokuto saat itu benar-benar berusaha menahan dirinya untuk todal merengkuh Miyu ke dalam pelukannya. Jadi dia hanya dapat melihat gadis di sebelahnya yang berusaha tegar untuk tidak meneteskan air mata.

“Kau sudah lelah?” tanya Hokuto saat dia melihat Miyu menutup matanya.

Miyu mengangguk pelan.

“Ayo kita kembali.”

Hokuto berdiri lebih dulu, namun Miyu tetap berbaring dengan memejamkan kedua matanya.

“Kubota, kau tidak berniat untuk bermalam di sini kan?”

Miyu membuka matanya perlahan, “Kenapa di sini dingin sekali?”

Hokuto mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres. Dia berlutut dan dengan hati-hati tangannya menyentuh pipi Miyu yang terasa sedingin es.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Hokuto panik.

Tanpa banyak bicara lagi dia langsung menggendong Miyu dan berlari mencari rumah sakit terdekat.

Miyu yang setengah sadar menarik baju Hokuto, “Tidak… aku tidak sakit. Jangan… ke rumah sakit,” racaunya.

Melihatnya malah membuat Hokuto semakin panik, dia langsung menghentikan sebuah taksi dan meminta taksi itu untuk mengantarkannya ke rumah sakit terdekat.

Hokuto duduk di ruang tunggu seorang diri. Suasana rumah sakit benar-benar sepi, ditambah dengan lampu yang berkerlap-kerlip seakan ingin putus membuat suasana semakin terasa mencekam. Dengan cemas Hokuto berulang kali melihat lampu di yang masih bersinar merah di ruang ICU.

Bau rumah sakit benar-benar hal yang dibenci Hokuto. Tak ada hal menggembirakan yang terjadi di rumah sakit. Rumah sakit seakan melambangkan kesedihan yang mendalam dan keputusasaan untuk menanti suatu hal yang tidak jelas.

Derap langkah banyak orang membuyarkan lamunan Hokuto. Tampak sekitar 10 orang berlari tergesa-gesa, salah satu dari mereka adalah Jesse.

Wajah Jesse benar-benar tampak tak bersahabat. Dia menatap Hokuto seakan-akan ingin membunuh sahabat yang sudah menemaninya sejak SMP itu.

Jesse berjalan cepat ke arah Hokuto dan menarik kerah bajunya dengan kasar hingga Hokuto harus berdiri, “Brengsek! Apa kau ingin membunuh Miyu!” teriak Jesse yang membuat para perawat yang sedang berjaga memanggil pihak keamanan.

Hokuto tahu, saat ini dia tidak ada hak untuk membela diri. Ini semua memang kesalahannya karena dengan mudahnya menyetujui keinginan Miyu.

“Jesse-kun, jangan bertindak sembarangan,” ujar ayah Miyu. Gurat di wajahnya memperlihatkan lelah yang mendera.

Jesse akhirnya mendorong Hokuto menjauh, “Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu pada Miyu.”

Ketika lampu di atas pintu ICU berubah warna menjadi hijau, perhatian seluruh orang di sana tertuju pada dokter beserta perawat yang baru keluar.

“Bagaimana kondisi anak saya?” tanya ayah Miyu yang langsung merangsek maju.

“Jadi Anda keluarganya? Apa Anda bisa datang ke ruangan saya? Saya akan menjelaskan detailnya.”

Ayah Miyu pergi mengikuti dokter itu menuju ruangannya, sementara sisanya menunggu. Hokuto mencoba mengintip ke dalam dan tampak selang infus sudah terpasang di tangan kanan Miyu, dan terdapat alat bantu napas yang terpasang di hidungnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Kubota menderita penyakit tertentu?” tanya Hokuto saat melihat Jesse sudah lumayan tenang.

Jesse tak langsung menjawab. Dia lebih memilih duduk dulu dan menopangkan dagunya, “Aku baru tahu kalau Miyu menderita leukemia tadi pagi.”

“Tadi pagi? Siapa yang memberitahumu?”

“Ayah Miyu.”

Ternyata memang benar dugaan Miyu kalau Jesse tadi tengah bertemu dengan ayahnya. Tapi kenapa hal itu malah membuat Miyu ingin menjauhi Jesse?

“Kenapa Miyu tidak ingin bertemu dengan ayahnya?” tanya Jesse lagi. Saat ini di kepalanya tengah berkecamuk berbagai macam pertanyaan, yang kalau tidak dia ketahui segera jawabannya, mungkin akan menghantuinya sampai ke alam mimpi.

“Dia menceritakan itu padamu?”

“Bahkan saat tahu kau menelepon setelah bertemu ayahnya, dia langsung merebut ponselku dan mematikannya.”

“Jadi bukan kau yang mematikannya?”

“Tentu saja bukan,” jawab Hokuto cepat. Mereka kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Hingga 30 menit masih belum ada tampak yang ingin memulai percakapan hingga akhirnya pintu ruang dokter terbuka dan ayah Miyu keluar dengan wajah tak kalah pucat dari wajah putrinya yang kini sedang tertidur.

“Miyu harus segera dikemoterapi, jika tidak segera, dia terpaksa harus mengulang prosesnya dari awal,” jelas ayah Miyu pada beberapa orang yang ada di sana. Kemudian ayah Miyu tampak sedang mencari-cari, begitu menemukan Jesse dia berjalan mendekat dan mengatakan, “Jesse, apa kau bisa menyuruh Miyu untuk melakukan kemoterapi? Hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa Miyu.”

Jesse mengangguk kaku, “Aku akan mencobanya.”

“Lalu kau…” Pandangan ayah Miyu terarah pada Hokuto, “Terimakasih karena sudah menolong Miyu. Tapi untuk sekarang, kumohon jangan menemuinya.”

Selama seminggu terakhir, suasana di sekolah terasa mencekam. Hokuto dan Jesse yang awalnya selalu bersama kita seperti dua kutub yang saling tolak menolak. Bahkan mereka tidak berbicara sedikitpun.

Melihat keadaan yang tidak mengenakan itu, Aiba mencoba mengambil alih perhatian mereka dengan mencoba bertanya. Bagaimanapun dia adalah guru yang paling akrab dengan kedua begundal Seijo Gakuen.

“Hokuto-kun, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Aiba saat melihat Hokuto berjalan sendiri menaiki tangga menuju atap sekolah.

“Bukan urusanmu dan jangan banyak bertanya,” perintah Hokuto yang membuat Aiba membeku di tempatnya. Belum pernah sebelumnya dia melihat Hokuto begitu dingin dan menakutkan. Pandangan matanya seakan-akan bisa memutilasi Aiba di saat itu juga.

Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aiba sudah memiliki 10 tahun pengalaman mengajar, dan setiap kali dia melihat siswanya yang memiliki sinar mata seperti itu, maka dia tidak akan memperdulikan apa pun yang terjadi pada dirinya.

“Hokuto-kun! Kau harus memikirkan semua tindakan yang akan kaulakukan secara matang. Jangan bertindak hanya karena emosi sesaat atau kau akan menyesalinya!” teriak Aiba karena tidak berani menyentuh Hokuto. Hokuto yang saat itu terlihat seperti macan yang siap memangsa korbannya.

 

———————————

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s