[Oneshot] Real Valentine

cover fanfic nadiaTitle                       : Real Valentine

Author                  : Koizumi Arina

Genre                   : Romance, Incest, Angst

Rating                   : PG-17

Backsound          : KAT-TUN – Promise Song

Cast                       :

  • Arioka Daiki as himself
  • Nadia as Arioka Miki
  • Chinen Yuri as himself

 

Desclaimer          : I just own the plot…

WARNING           : “sekedar saran, baca sambil dengerin lagunya ^^ authornya aja ikutan mewek sambil nulis sambil denger lagunya, author terlalu baper hahahaha”

 

SUMMARY         :

“Dengan jari yang gemetaran kita menjanjikan masa depan, kehangatan itu berubah menjadi kebohongan di saat kita berpisah… Apakah sudah terlambat? kata dan tanganku tak dapat menggapaimu, canda tawamu dan rasa sakit di hatiku, kenangan itu terancam keluar dari mataku… Mungkin aku sudah terlambat, aku tak dapat mengungkapkannya dengan jujur, tak dapat merangkai kata-kataku dengan baik. Ketika aku hanya ingin mengatakan, …aku mencintaimu”

 

—————————————————

 


Seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah tampak baru saja masuk melalui pintu utama rumah sakit pusat Tokyo. Gadis itu, Arioka Miki, melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit itu dengan langkah ringan. Saat dia melewati beberapa perawat, tampak mereka tersenyum dan membungkuk sedikit padanya dan Miki membalasnya sambil tersenyum lebar.

Hampir dari separuh perawat rumah sakit ini mengenalnya. Sudah beberapa tahun ini dirinya menjadi pengunjung tetap rumah sakit itu.

Tidak. Dia tidak sakit apapun. Dia juga bukan seseorang putri dari orang yang penting dirumah sakit ini. Bukan, bukan dirinya.

Tapi karena orang itu, penghuni kamar 3011 yang ada di lantai 3 bangsal 8, rumah sakit ini. Bangsal kardiolog. Dia yang sudah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di rumah sakit ini. Dia yang sejak beberapa tahun yang lalu mengisi hari-harinya dengan warna yang berbeda, suara yang tidak pernah di dengarnya, dan menjadi seseorang yang spesial di hidupnya. Orang itu, pemuda itu, Chinen Yuri.

“Konnichiwa, Yuri-kun” sapa Miki dengan riang saat membuka pintu kamar 3011.

Namun di sana tampak seorang perawat sedang mencatat sesuatu di board miliknya sambil melihat botol infus yang ada disamping tempat tidur.

“Ah, Miki-chan, sudah datang” sapa perawat itu sambil tersenyum sebelum kembali mencatat sesuatu.

“Ada apa? Kau tidak apa-apa?” tanya Miki tampak khawatir sambil segera menghampiri tempat tidur kekasihnya  itu.

“Daijoubu, Miki-chan. Hanya pemeriksaan rutin.” jawab Chinen dengan nada yang menenangkan sambil tersenyum.

“Baiklah, sudah selesai. Akan ku tinggalkan kalian berdua. Kalau butuh apa-apa, tinggal panggil saja,” kata perawat itu dengan ramah.

“Terima kasih suster Koizumi” kata Chinen.

Mata Miki mengikuti ke arah perawat itu keluar meninggalkan kamar itu sebelum kembali memandang kekasihnya yang sedang terbaring di tempat tidur.

“Bagaimana keadaanmu hari ini? Tidak ada serangan lagi yang terjadi hari ini, kan? Wajahmu terlihat sedikit kelelahan,” tanya Miki, masih dengan nada yang cemas.

Chinen menggenggam erat tangan Miki kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Kau terlalu cemas, Miki. Aku tidak apa-apa. Aku baru selesai melakukan terapi dan mereka melakukan pemeriksaan seperti biasa,”

“Ah, jadi kau melakukan terapi hari ini? apakah ada perkembangan?” tanya Miki lagi,

“Tidak ada, selama aku belum mendapatkan donor, aku akan melakukan rutinitas yang sama setiap hari.” jawab Yuri ringan.

Mendengar hal itu raut wajah Miki semakin suram dan tertunduk. Menyadari ada yang ganjil, Chinen mengangkat wajah Miki yang tertunduk lalu mencubit kedua pipinya.

“Ittaaaiiii~” kata gadis itu sambil memukul tangan Chinen.

“Jangan pasang muka seperti itu, seperti aku akan mati saja,” kata Chinen sambil tersenyum, “sudahlah… bagaimana kabarmu hari ini? bagaimana dengan sekolah?” katanya mengalihkan pembicaraan.

Miki manyun sambil mengelus bekas cubitan Chinen di pipinya.

“Biasa saja, sekolah masih seperti biasanya. Oh iya, aku bertengkar lagi dengan oniichan sebelum datang kesini. Seperti biasa dia berkata hal-hal buruk tentangmu dan aku mengancam tidak akan memasak makan malam untuknya hari ini,” kata Miki.

“Hahaha… Daiki-senpai hanya khawatir padamu, Miki” kata Chinen

Miki menggeleng kepalanya, “Dia itu hanya menganggap kalau aku ini masih kecil. Dia benar-benar seperti sipir penjara. Padahal aku hanya pergi untuk bertemu denganmu,”

“Heeemm… kira-kira bagaimana caranya ya biar Daiki-senpai mau menerimaku?” tanya Chinen tampak berpikir.

Miki tersenyum mendengar pertanyaan itu, lalu menggeleng pelan. “Yuri tidak perlu melakukan apapun, Yuri sudah sempurna. Oniichan saja yang over. Hanya saja terkadang…” kata-kata Miki terhenti dan tampak berpikir.

“Doushita?” tanya Chinen pada kekasihnya itu.

Miki buru-buru menggeleng sambil tersenyum, “Tidak, lupakan saja” katanya. Gadis itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada pemuda itu, “Ini catatan pelajaran hari ini untukmu, minggu depan sudah ujian semester,” katanya.

“Itsumo arigatou, Miki-chan. oh ya, sepertinya minggu depan aku sudah bisa keluar dari rumah sakit”

“Benarkah? Yattaaaa~” Miki bersorak dengan girang sambil memeluk pemuda itu.

“Ohya,” seru Chinen tiba-tiba, dan membuat Miki melepaskan pelukannya sejenak dan memandang pemuda itu, “Liburan nanti, kita kencan yuk. Sepertinya sudah lama kita tidak pergi berdua”

Miki mengangguk dengan antusias mendengar tawaran itu, “Tentu saja, ayo kita pergi” katanya bersemangat.

Chinen tertawa melihat itu dan kembali membawa gadis itu kedalam pelukannya.

 

**********

 

“Tadaima”

“Kau baru pulang? Lama sekali kau bersama bocah itu,” terdengar suara gerutuan dari dalam rumah.

Miki menghela nafasnya sambil melepaskan sepatunya. Selalu nada yang sama yang dilontarkan oleh pemuda itu setiap kali dia pulang kerumah.

Yang dia tau, Dai-nii tidak pernah seperti itu padanya. Dia adalah sosok kakak laki-laki yang baik, sosok kakak yang selalu dia kagumi. Kakak yang pintar, yang baik dan selalu menjaganya, yang selalu ceria dan selalu tersenyum untuknya. Setelah ibu mereka meninggal, ayahnya selalu sibuk bekerja dan jarang sekali ada dirumah. Namun, Dai-nii selalu ada untuknya. Disanalah, didalam dekapannya, di dalam pelukannya, satu-satunya tempat dimana dia merasa paling aman.

“Miki, kenapa kau tidak menjawab? Kau kemana saja?” tanya Daiki yang baru saja menghampiri dirinya saat gadis itu akan masuk kekamarnya.

“Oniichan tau aku kemana dan bersama siapa, bukan?” kata gadis itu balik bertanya.

Daiki menahan lengan Miki lalu memepet gadis itu ke dinding dengan satu tangannya di dinding, menahan gadis itu untuk pergi dari posisinya. Tanpa disadarinya, jantung Miki berdetak berkali-kali lipat berada di posisi itu. Apalagi kali ini tatapan Dai-nii lurus padanya.

“Hei, kenapa nada bicaramu seperti itu? Kau masih marah padaku?” tanya Daiki dengan nada sedikit melembut.

“A… aku tidak marah,” jawab Miki pelan sambil memalingkan wajahnya.

Ya Tuhan, kenapa jantungnya selalu berdetak seperti ini saat bersama kakak laki-lakinya. Apa yang salah dengannya? Apa jangan-jangan dia juga mengalami kelainan jantung seperti kekasihnya?

“Benarkah? lalu kenapa kau menjawab dengan ketus begitu?” tanya Daiki lagi.

“Sudah sana, aku mau ganti baju” kata Miki, masih menunduk sambil mendorong pelan tubuh Daiki menjauh darinya.

Buru-buru gadis itu meraih pegangan pintu kamarnya dan membukanya. Namun tiba-tiba sepasang lengan merengkuhnya dari belakang dengan lembut. Membuat gadis itu beku di tempatnya saat itu juga.

“Gomen ne. Oniichan bicaranya terlalu kasar ya? Gomen ne Miki, jangan marah lagi ya,” kata Daiki pelan, tepat ditelinga gadis itu.

Miki merasakan jantungnya berdekat berkali lipat lebih cepat dibanding biasanya saat merasakan nafas kakak laki-lakinya berhembus tepat ditelinganya. Tiba-tiba saja dia merasakan lututnya lemas. Untung saja dia masih dipeluk oleh pemuda itu, kalau tidak mungkin dia sudah jantuh terduduk saat itu juga.

Tunggu? Dia masih dipeluk? Ini lebih berbahaya! Dai-nii akan mendengar detak jantungnya.

Miki mendadak berbalik memandang sosok kakaknya, namun detik itu juga dia menyesali perbuatannya. Kini wajahnya dan wajah pemuda itu hanya berjarak beberapa senti saja.

“Miki….?” desis Daiki.

Miki merasakan wajahnya memanas saat itu juga. Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi seperti itu. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja Miki sudah merasakan bibir Daiki melumat bibirnya dengan lembut.

Ciuman itu tidak lama namun memberikan efek yang besar terhadap Miki. Gadis itu kembali membeku ditempatnya. Hingga saat Daiki melepaskan pautan itu dan memandangnya. Miki hanya memandang kakak laki-lakinya dalam diam.

“A… ano… etto…” Daiki tampak salah tingkah sambil menggaruk kepalanya, “Aku akan memasak makan malam,” kata Daiki pelan.

“Ah.. un.. baiklah..” jawab Miki pelan.

Daiki lalu berbalik menjauh dari kamar Miki dan berjalan kearah dapur. Miki langsung masuk kekamarnya dan menutup rapat pintunya. Kini tidak hanya lututnya, namun juga seluruh sendi nya mendadak lemas. Akhirnya gadis itu jatuh terduduk di lantai kamarnya. Tangannya naik kearah jantungnya. Detaknya masih sama, cepat dan tidak beraturan.

Hal ini sama seperti saat dia berada di dekat kekasihnya. Saat Chinen memeluknya, mengelus kepalanya, tersenyum padanya, dan menciumnya. Namun hal ini berkali lipat lebih cepat dibanding saat dia bersama dengan kekasihnya. Jangan-jangan…

“…apakah… rasa sayangku pada Dai-nii… melebihi rasa sayangku pada Yuri?”

 

**********

 

Miki kini terdiam berdiri didepan kamar nomor 3011. Tangannya memegang pegangan pintu kamar itu, namun terlihat ragu untuk mendorongnya. Rasa bersalah menyelimuti dirinya saat ini. Setelah insiden tadi malam, dia dan Dai-nii hanya menikmati makan malam dalam keheningan sebelum akhirnya keduanya kembali ke kamar masing-masing.

Miki memikirkan perasaan yang dirasakannya untuk Dai-nii dan Yuri, dua pria paling penting dalam hidupnya saat ini. Dai-nii adalah kakak kesayangannya, kakak yang selalu di kaguminya. Namun dia tidak tau sejak kapan rasa sayangnya berubah untuk kakaknya itu. Tapi disisi lain dia memiliki Yuri sebagai kekasihnya. Dia merasa seperti mengkhianati kekasihnya itu.

Tiba-tiba saja Miki dikagetkan dengan derap langkah kaki yang mendekat kearahnya. Gadis itu terlalu terkejut saat dokter dan beberapa perawat berlarian melewatinya dan masuk ke dalam kamar 3011 itu.

Masih dengan pandangan linglung, Miki memandang kearah pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya berbagai peralatan digunakan oleh dokter dan perawat itu kepada satu sosok yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Miki hanya terdiam membatu di tempatnya memandang ke satu titik didepannya dengan linglung.

Apa? Apa yang sedang terjadi? Yuri kenapa?

 

**********

 

Miki mengerjapkan matanya berkali-kali. Tidak sadar sudah berapa lama dia tertidur seperti itu. Punggungnya terasa sangat kaku karena tertidur dengan posisi membungkuk. Gadis itu memandang kearah jendela dan ternyata hari sudah sangat malam.

“Sudah jam berapa ini?” gumam gadis itu masih dengan nada mengantuk sambil mengucek matanya.

“Pukul sebelas malam,”

Miki tertegun ditempatnya. Matanya langsung tertuju pada satu sosok yang sedang memandangnya sambil tersenyum lebar.

“Yuri…” desis gadis itu.

Chinen menaikkan sedikit kepala tempat tidurnya hingga dia berada di posisi duduk. Tiba-tiba saja Miki langsung menghambur ke pelukan pemuda itu dan memeluknya dengan erat sekali.

“Miki…” panggil Yuri pada gadis itu, dia merasakan pundak gadis itu bergetar di pelukannya.

“Syukurlah… syukurlah Yuri sudah sadar. Aku takut sekali tadi. Ku pikir aku akan kehilangan Yuri… syukurlah Yuri akhirnya bangun,” kata Miki sambil terisak.

Chinen tersenyum dan mengelus lembut punggung Miki, “Gomen ne, maaf sudah membuatmu khawatir,” kata pemuda itu dengan tulus.

Ternyata tadi sore terjadi serangan lagi pada Chinen dan membuat kondisi pemuda itu semakin turun. Miki merasakan perasaannya semakin tidak karuan. Dia merasa sangat takut. Takut kehilangan Chinen Yuri. Akhirnya dia meminta izin pada kedua orang tua kekasihnya untuk ikut menjaga Chinen malam itu. Dia juga sudah menelpon Daiki untuk meminta izin menginap di rumah sakit malam itu.

Namun, tiba-tiba saja dia teringat alasannya datang ke rumah sakit hari itu. Kembali rasa bersalah itu menyusup ke dalam hatinya dan membuat isakannya semakin kencang.

“Miki, kau kenapa?” tanya Chinen bingung.

“Aku tidak akan kemana-mana Miki-chan, aku sudah tidak apa-apa,” Chinen berusaha menenangkan Miki yang menangis dipelukannya, namun tangisan gadis itu malah semakin deras.

Akhirnya Chinen menarik Miki dari pelukannya lalu memandang lurus kearahnya.

“Miki, ayo pandang aku,” serunya.

Miki yang masih terisak mengangkat wajahnya dan memandang Chinen sedang menatapnya sambil tersenyum lembut. Perlahan ditariknya wajah gadis itu lalu mendaratkan satu ciuman lembut di bibir Miki.

“Akhirnya diam juga,” kata Chinen sesaat setelah dia melepaskan ciuman itu.

“Yu..ri..” desis Miki.

Chinen mengangkat satu tangannya dan menghapus air mata di wajah gadis itu dengan lembut.

“Jangan menangis seperti ini. Aku tidak suka kau menangis. Aku lebih suka pada Miki yang ceria, cerewet, dan riang seperti biasanya,” kata Chinen dengan lembut. Miki masih diam ditempatnya sambil memandang kekasihnya itu, “Melihat senyuman Miki saja, aku merasakan semangat lagi. Senyuman Miki adalah obat yang paling ampuh untukku dibanding obat apapun yang diberikan oleh dokter. Karena itu aku ingin Miki selalu tersenyum,”

Miki menunduk ditempatnya. Entah kenapa kini perasaan bersalah itu semakin menusuk hatinya. Pada orang yang sangat baik seperti ini, bisa-bisanya dia membagi rasa cintanya. Namun dia harus apa? Tidak mudah untuk menghapus perasaannya. Dia sangat mencintai pemuda ini, namun dia juga mencintai kakaknya, Daiki.

Miki merasakan tangannya digenggam dengan lembut oleh Chinen. Dan hal itu membuat hatinya semakin sakit.

“Miki… Daiki-senpai ada disini,” kata Chinen.

Miki langsung mengangkat kepalanya memandang Chinen dengan kaget. Namun tidak dengan pemuda itu, Chinen masih memandangnya dengan lembut dan tersenyum.

“Daiki-senpai menunggumu diluar. Sebaiknya malam ini kau pulang saja, aku sudah tidak apa-apa,” kata pamuda itu.

Miki langsung menggeleng kepalanya, “Aku ingin disini bersama Yuri,” tolaknya.

Chinen mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di kedua pipi Miki, “Hei, aku sudah tidak apa-apa,” kata Chinen lagi dengan nada yang menenangkan, “malam ini pulanglah dengan Daiki-senpai. Aku akan ada disini besok saat kau datang, seperti biasa.”

“Seperti biasa?”

“Seperti biasa.”

“Kau janji?”

Chinen mengangguk dan mengecup singkat puncak kepala Miki, “Aku berjanji. Aku akan ada disini, selalu bersamamu dan menjangamu.” katanya.

Miki akhirnya tersenyum dan mengangguk. Gadis itu pun bangkit dari tempatnya dan mengambil tasnya. Saat akan membuka pintu, dia berbalik lagi untuk memandang pemuda yang berada di tempat tidur dan sedang memandangnya dengan lembut.

“Oyasumi, Yuri” kata Miki.

Chinen mengangguk dan tersenyum, “Oyasumi, Miki” katanya.

Miki pun membuka pintu dan keluar dari kamar Chinen. Di hadapannya kini sudah ada Daiki yang sedang memandangnya sambil tersenyum. Pemuda itu memakai baju santainya seperti biasa namun entah kenapa saat itu terlihat sangat tampan.

“Kau sudah siap pulang?” tanya Daiki sambil mengulurkan tangannya kepada Miki.

Miki memandang uluran tangan itu dan meraihnya dengan perlahan. Gadis itu kembali mengangkat kepalanya dan memandang kakak laki-lakinya itu dan ikut tersenyum dan mengangguk pelan.

Atashi ga, saite da na.. aku mencintai dua pemuda di saat yang sama, aku benar-benar gadis yang mengerikan.”

Miki berdesis dalam hatinya.

 

**********

 

“Tidak ada jalan lain. Keadaannya sudah semakin melemah. Kita harus segera mendapatkan donor jantung untuk putra anda.”

Pembicaraan yang didengarnya di depan kamar 3011 tadi menggema di pikirannya sepanjang malam membuat pemuda berpipi chubby itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pemandangan saat kedua orang tua dari penghuni kamar 3011 yang jatuh terduduk dan menangis luar kamar, dan pemandangan di dalam kamar dimana dia melihat adiknya menggenggam tangan pemuda yang sedang terbaring di kamar 3011 itu dan memanggil namanya terus menerus. Entah kenapa semua itu tidak mau keluar dari pikirannya dan malah menganggu dirinya.

Daiki terdiam memandang langit-langit kamarnya yang gelap. Pemuda itu berdesis pelan sambil mengangkat satu lengannya menutupi wajahnya.

Namun tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu kamarnya dari luar dan kemudian terbuka, membuat Daiki bangkit dari posisinya lalu menyalakan lampu di cabinet yang ada disamping tempat tidurnya.

“Miki? Ada apa?” tanya pemuda itu.

Miki berjalan pelan ke tempat tidur Daiki dan naik begitu saja lalu berbaring di samping pemuda itu.

“K… kenapa?” Daiki gugup dan heran melihat tingkah adiknya yang tidak biasa itu.

“Oniichan, boleh aku tidur disini malam ini? Aku tidak bisa tidur. Perasaanku tiba-tiba saja tidak enak,” kata Miki pelan.

Daiki memandang Miki sejenak yang saat itu juga sedang memandangnya dengan tatapan yang berharap. Pemuda itu akhirnya menyerah dan mengangguk lalu kembali berbaring ditempatnya.

“Oniichan,” seru Miki kemudian.

“Ehm? Kenapa?” tanya Daiki.

“Apa… menurutmu aku gadis yang mengerikan?” tanya Miki perlahan.

Daiki menyerit kemudian mengubah posisi tidurnya menghadap kearah Miki, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Jawab saja, bagaimana pendapat oniichan tentangku,” kata Miki

“Benar sih. Menurutku kau itu adalah adik yang sangat mengerikan, cerewet, manja, dan mengesalkan,” kata Daiki yang membuat Miki langsung memandang kearah kakak laki-lakinya itu dengan mata yang melotot tidak percaya,

“Benarkah aku seperti itu?” tanya Miki lagi.

Daiki mengangguk dengan yakin, “tapi, kau sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat manis, dewasa, dan bertanggung jawab,” kata Daiki lagi dengan senyuman jahil diwajahnya.

Mendengar itu mendadak Miki merasakan rasa hangat masuk ke hatinya. Gadis itu tersenyum sambil memukul pelan dada kakak laki-lakinya itu, “dasar jahil,” katanya.

“Tapi menurutku, aku masih saja gadis yang mengerikan,” kata Miki lagi.

Daiki kembali memandang adiknya dengan lekat. Miki mengubah posisi tidurnya menghadap Daiki. Kali ini mereka berbaring dengan saling berhadapan. Miki tersenyum masam memandang Daiki di hadapannya.

“Aku mencintai dua orang pemuda disaat yang bersamaan, aku mengerikan bukan?” kata gadis itu.

“Maksud…mu?”

“Aku mencintai Yuri dan saat ini masih berpacaran dengannya, namun aku baru menyadari bahwa aku juga mencintaimu,” kata gadis itu.

Kali ini Daiki yang memandang Miki dengan mata membulat tidak percaya. Benarkah yang baru saja dikatakan gadis di depannya ini.

Daisuki dayo, Dai-nii. Dan aku juga tau kau mencintaiku,” kata gadis itu lagi sambil menyentuh pelan wajah Daiki.

“Darimana…? Bagaimana kau yakin bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama padamu?” tanya Daiki pelan.

Miki tersenyum lembut, “Dari cara oniichan menciumku tempo hari. Itu bukan ciuman karena oniichan ingin menjahiliku. Aku bisa merasakan perasaanmu dalam ciuman itu,” kata Miki lagi.

Daiki masih diam sambil memandang lurus kedalam mata Miki, mencari-cari bahwa gadis itu sedang bercanda, namun dia tidak menemukan tanda-tanda itu. Karena saat itu Miki sedang memandangnya dengan serius.

“Tapi, oniichan, aku tidak bisa memilihmu. Aku mencintaimu, sangat, tapi aku juga mencintai Yuri, dan dia lebih membutuhkanku saat ini,” kali ini terdengar nada sedih di suara Miki.

Mendengar hal itu, Daiki merasakan dadanya sesak. Tangannya terkepal sambil memandang kearah Miki namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang hak Miki untuk memilih.

Sebulir kristal itupun jatuh dari pelupuk mata gadis itu. Melihat hal itu Daiki mengangkat tangannya untuk menghapus bulir kristal itu namun segera ditahan oleh Miki, gadis itu menggeleng.

“Bagaimana ini, aku membuat oniichan sedih, aku benar-benar adik yang mengerikan” kata gadis itu.

Daiki menggeleng dan berusaha tersenyum untuk menenangkan adiknya itu, “Tidak. Kali ini kau adalah adik yang membanggakan. Kau sudah dewasa dan bisa memilih jalan hidupmu sendiri,” kata Daiki.

Mendengar kata-kata kakaknya, Miki menundukkan kepalanya dan menangis semakin keras. Melihat itu, Daiki mengangkat pelan wajah gadis didepannya itu. Perlahan didekatkannya wajahnya dan mengecup lembut bibir merah muda Miki. Miki membiarkan saja apa yang dilakukan kakaknya dan memejamkan matanya dan membalas perlakuan Daiki padanya. Cukup lama mereka menahan ciuman itu sebelum Daiki melepaskannya pertama kali. Pemuda itu tersenyum memandang Miki dan mengelus lembut kepala adiknya itu.

“Tenang saja, itu untuk terakhir kalinya aku melakukannya padamu,” kata Daiki.

Miki masih terdiam ditempatnya. Daiki kembali melanjutkan kata-katanya dengan penuh percaya diri, “Yaaah, meskipun aku cukup kecewa kau memilih anak itu, tapi tetap saja dia tidak bisa mengalahkanku. Aku tetap memiliki tempat istimewa di hatimu, oniichan nan dakara ne,”

Senyuman yang membuat hatiku selalu tenang, senyuman yang mampu menbuat siapapun ikut tersenyum karenanya, senyuman tulus dari seorang Daiki untuk Miki, membuat gadis itu menangguk dan ikut tersenyum.

“Oniichan, mau memelukku?” tanya Miki kemudian.

“eh?”

“Aku ingin kau memelukku lagi. Aku ingin tidur dalam pelukanmu, seperti saat kecil dulu. Dame ka?”

Daiki tersenyum lembut dan menarik Miki kedalam pelukannya. Miki memejamkan matanya dan membalas pelukan itu. Pelukan hangat Daiki yang selalu membuatnya tenang. Pelukan yang membuatnya merasa aman. Pelukan yang selalu dia rindukan.

Aishiteru yo, Miki,” bisik Daiki pelan, “Oniichan akan selalu disini menjagamu. Kau tidak perlu memikirkan apa-apa lagi, tidurlah…”

 

**********

“Kepada Arioka Miki, di tunggu di ruang guru. Sekali lagi diberitahukan kepada Arioka Miki, kelas 3.b, di tunggu di ruang guru, terima kasih”

Beberapa saat yang lalu suara itu terdengar dari speaker sekolah membuat Miki terpaksa harus izin keluar meninggalkan pelajaran di kelasnya dan pergi ke ruang guru. Setibanya di ruang guru, wali kelasnya mengabarkan bahwa ayahnya menelpon dan mengabarkan bahwa Daiki kecelakaan dan meminta Miki untuk segera ke rumah sakit karena kondisi kakaknya kritis.

Dunia bagaikan runtuh bagi Miki saat itu. Seperti potongan film, Miki menyadari dia sempat kembali kedalam kelasnya untuk mengambil barang-barangnya, lalu berlari begitu saja keluar dari sekolahnya menggunakan taksi yang sudah dipanggil oleh wali kelasnya. Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu lama meskipun saat itu taksi sudah melaju dengan kecepatan penuh. Saat tiba di rumah sakit, dirinya langsung berlari menuju ruang UGD mencari Daiki ataupun ayahnya yang tidak ada disana, dia diberi tahu bahwa kakaknya sudah dibawa keruang operasi dan Miki langsung berlari kesana.

 

**********

 

Menurutku kau itu adalah adik yang sangat mengerikan, cerewet, manja, dan mengesalkan tapi, kau sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat manis, dewasa, dan bertanggung jawab.

Diam. Linglung. Khawatir.

Saat-saat terakhir bersama Daiki terus berputar di kepala Miki. Lampu ruang operasi masih berwarna merah sejak sejam yang lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda berubah menjadi hijau. Miki masih duduk di depan ruangan itu sambil terus berdoa. Ayahnya entah sudah berapa kali berjalan mondar mandir di depan pintu dengan wajah yang sama dengan dirinya, setidaknya itulah yang dia pikirkan.

Yaaah, meskipun aku cukup kecewa kau memilih anak itu, tapi tetap saja dia tidak bisa mengalahkanku. Aku tetap memiliki tempat istimewa di hatimu, oniichan nan dakara ne.

“Dai-nii…” bisik Miki dalam doanya.

Tiba-tiba lampu merah itu berubah menjadi hijau dan pintu dibuka. Perlahan Miki ikut bangkit dari tempatnya bersamaan dengan keluarnya seorang dokter dari balik pintu itu yang langsung berbicara dengan ayahnya. Miki mendekat dengan perlahan saat dilihatnya ayahnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan jatuh terduduk. Pundak ayahnya tampak bergetar dari tempatnya berdiri.

Sebuah tempat tidur ditarik keluar dari ruang operasi oleh beberapa perawat yang masih mengenakan pakaian operasi. Miki memilih untuk menghampiri tempat tidur itu. Diatas tempat tidur itu tampak satu sosok yang seluruh tubuhnya di tutupi kain putih. Perlahan Miki membuka kain penutup itu hingga tampak wajah dari sosok yang sedang terbaring itu.

Disana, tampak satu sosok yang dikenalnya tampak sedang tertidur dengan pulas. Wajahnya terlihat sangat damai. Meskipun sangat tipis, namun Miki melihat lekuk senyuman dari bibir itu.

Mungkin dia sedang bermimpi indah. Pikir gadis itu.

“Ne, oniichan. Kau baik-baik saja kan? Kau hanya tertidur sebentar kan?” bisik Miki pada sosok itu.

Namun sosok itu tetap bergeming di tempatnya. Perlahan bulir-bulir kristal kembali jatuh bergulir dari pelupuk mata Miki. Seorang perawat kembali memasang kain penutup di wajah sosok yang sedang tertidur itu dan menarik tempat tidurnya menjauh. Miki masih terdiam ditempatnya memandang tempat tidur yang sudah ditarik semakin menjauh dari dirinya. Bulir-bulir kristal itu jatuh semakin deras hingga Miki tidak bisa menahannya lagi. Begitu deras hingga hatinya merasakan sakit yang sangat menusuk.

Oniichan….

…Aishiteru yo, Miki, Oniichan akan selalu disini menjagamu. Kau tidak perlu memikirkan apa-apa lagi…

 

**********

 

~OMAKE~

14 Februari…

“Kau mau es krim?” tanya Yuri dan dijawab dengan anggukan oleh Miki, “Tunggu sebentar ya,”

Chinen berlari pergi menuju sebuah stand ice cream yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdua duduk tadi. Ditempatnya Miki memandang kekasihnya dari jauh. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari di depannya dan jatuh tersandung. Anak itu mulai menangis. Miki bangkit dari tempatnya dan tanpa sengaja menyenggol tasnya hingga jatuh dan isinya berceceran. Namun Miki menghampiri anak kecil itu dulu dan membantunya bangun.

“Yoshh.. kau anak kuat, jangan nangis lagi ya,” kata Miki sambil membersihkan pasir yang menempel di baju anak kecil itu.

Anak itu tampak berhenti menangis dan mengangguk sambil menahan tangisnya untuk keluar lagi.

“Arigatou, oneesan,” katanya.

“Miharu-chan,” panggil seorang wanita paruh baya tak jauh dari sana.

Anak kecil tadi tampak langsung berlari menghampiri wanita itu sambil berteriak “mama”. Miki memandang kejadian kecil itu sambil tersenyum. Gadis itu lalu menghampiri barang-barangnya yang tadi terjatuh dan kembali memasukkannya kembali ke dalam tasnya.

Gerakannya terhenti saat melihat buku catatannya yang jatuh terbuka di halaman terakhir. Tampak disana, terselip lipatan kertas di dekat sampulnya. Miki tersenyum sambil memungut buku itu dan kembali duduk di bangkunya tadi. Gadis itu tampak tersenyum sambil menyentuhnya. Itu adalah surat terakhir yang di tinggalkan Daiki untuknya yang diberikan perawat rumah sakit padanya sesaat setelah operasi itu selesai. Pesan terakhir yang di tuliskan Daiki untuknya di sisa terakhir tenaganya.

“Maaf menunggu lama,” kata Chinen yang ternyata sudah menghampirinya.

Miki menggeleng kepada Chinen dan tersenyum. Gadis itu lalu memasukkan buku itu kembali kedalam tasnya dan menerima es krim yang disodorkan Chinen padanya.

“Ayo kita lihat pertunjukan lumba-lumbanya. Sepertinya sudah mulai,” ajak Miki sambil menarik tangan Chinen yang saat itu baru saja mau duduk kembali.

“Eh? Tapi es krimnya?”

“Kita makan sambil jalan saja,”

Aku memang gadis mengerikan yang mencintai dua pria di waktu yang bersamaan, namun Dai-nii, ternyata kau lebih mengerikan karena mampu mencintaiku lebih besar dibanding cintaku padamu.

 

**********

 

Dear Miki,

Sepertinya waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku meminta perawat itu untuk menuliskan surat ini dan menyerahkannya padamu.

Kau sudah tau bukan aku sangat mencintaimu? Meskipun wujudku tidak lagi bisa bertemu denganmu, namun ketahuilah bahwa cintaku akan selalu abadi bersamamu.

Karena itu, setelah aku pergi, aku akan mendonorkan jantungku untuk kekasihmu itu. Tenang saja, tadi aku sudah mengatakannya pada ayah.

Saat kau tertidur di rumah sakit waktu itu, aku sempat berbicara dengannya. Dan pendapatku masih sama, aku membencinya. Karena dia benar-benar mencintaimu dengan tulus. Karena itu meskipun saat ini aku tidak lagi disisimu, aku masih bisa menjagamu melalui anak itu. Dia tetap tidak bisa mengalahkanku dalam hal mencintaimu, tentu saja, boku wa anta no oniichan nan dakara ne.

Ku harap kau akan selalu berbahagia dengan hidupmu setelah ini. Sampaikan salamku untuknya.

 

Aku selalu menyayangimu.

 

**********

END

Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] Real Valentine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s