[Multichapter] Saigo no Kioku (Part 2)

Title     : Saigo no Kioku

Cast     : Matsumura Hokuto (Six Tones)

Kubota Miyu (i☆Ris)

Jesse Lewis (Six Tones)

Aiba Masaki (Arashi)

Genre  : Romance, Friendship

Rating : PG-13

Author  : Mikka

—————————————-

Begitu pintu dibuka dan mereka keluar, seperti yang sudah diduga seisi sekolah langsung heboh. Miyu langsung tahu kalau saat ini gosip tentang dirinya telah menyebar, namun dia memang tidak mempermasalahkannya sama sekali.

Hokuto yang penasaran bagaimana reaksi Miyu mendapat sorotan seperti ini mencoba mencuri pandang ke belakang dan ekspresi Miyu tetap datar. Memang butuh usaha keras untuk mengeluarkan ekspresi dari gadis satu itu. Bahkan sejak tadi dia tidak memperlihatkan kalau dia takut pada Hokuto.

Miyu mempercepat langkahnya hingga kini dia berjalan sejajar dengan Hokuto. Sadar kalau Hokuto bingung karena dia tiba-tiba berjalan maju, tanpa ditanya Miyu langsung menjelaskan, “Aku tidak mau dibilang pengikutmu karena aku berjalan di belakang.”

Di antara kerumunan orang yang menonton Hokuto dan Miyu, tampak Aiba yang seperti tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Hokuto merasa Aiba akan berpikir kalau Hokuto melakukan ini demi dia. Huh, untuk apa Hokuto melakukan hal untuk guru yang tidak memiliki wibawa seperti Aiba? Tetapi, di dalam hati dia juga bertanya-tanya. Kenapa sekarang dia mau repot-repot membantu gadis ini menemukan Jesse? Tampaknya ada hal yang salah dengan Hokuto.

“Kita mau ke mana?” tanya Miyu ketika mereka berjalan keluar dari gedung.

Hokuto berjalan tanpa menjawab. Dia berbelok ke kanan dan masuk ke celah antara gedung hingga akhirnya mereka tiba di belakang gedung sekolah.

Suasana di belakang gedung tampak sepi dan hanya ada beberapa tempat duduk usang dan pohon sakura tua yang cukup tinggi.

“Kau tahu, kudengar tiap malam ada orang yang berbuat mesum di tempat ini.”

Perkataan dari Hokuto itu mendapatkan tatapan tajam dari Miyu. Melihat wajah Miyu yang melototinya seperti ingin mengeluarkan laser membuat Hokuto terbahak.

“Tenang saja, ini masih siang jadi tidak akan ada yang melakukannya.”

“Teruskan saja dongengmu. Jadi apa yang akan kita lakukan?” tanya Miyu tidak sabar. Seandainya Hokuto masih melakukan hal yang tidak jelas, sudah dapat dipastikan kalau dia akan meninggalkan Hokuto saat itu juga.

“Keluar dari sini, tentu saja. Kita tidak mungkin keluar dari gerbang depan kan?”

Mendengar hal itu, Miyu baru mengerti. Pohon sakura tua yang ada di depannya akan digunakan sebagai tangga untuk memanjat tembok sekolah. Tapi tetap saja, seumur-umur Miyu belum pernah memanjat pohon sebesar ini.

Hokuto berjalan mendekati pohon. Dia langsung berjongkok hingga membuat Miyu keheranan. Apa yang sedang dilakukannya? Mencari semut?

“Pijak pundakku dan raih dahan pohon itu.”

Miyu masih diam karena ragu. Apa dia harus melakukan apa yang disuruh oleh Hokuto?

“Kau mau atau tidak?” tanya Hokuto tak sabar.

Akhirnya Miyu menyerah dan berjalan mendekati Hokuto.

“Jangan menghadap ke atas. Kalau tidak kepalamu akan kuinjak,” ancam Miyu.

Mendengar itu Hokuto terkekeh, “Baru kali ini aku diancam oleh perempuan.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Miyu tanpa menghiraukan ucapan Hokuto. Dahan pohon itu masih terlihat jauh dan pasti susah untuk digapai.

“Pegang batang pohon ini dengan erat. Aku tidak bertanggung jawab kalau kau terjatuh.”

Miyu menuruti perintah Hokuto. Dia langsung memegang pohon itu. ketika Hokuto perlahan-lahan berdiri, Miyu juga berusaha agar keseimbangannya tetap terjaga dengan memegang pohon seperti yang dikatakan Hokuto.

“Kau sudah bisa meraih dahannya?” tanya Hokuto saat dia sudah berdiri.

“Ya,” jawab Miyu singkat. Tangan kurusnya langsung memeluk dahan pohon itu. dia mencoba mengangkat tubuhnya sendiri namun gagal. Tubuhnya terasa sangat berat dan tak bertenaga. “Aku tidak bisa…” gumamnya.

Hokuto menghela napasnya, “Kau sudah memegang dahannya kan? Pegang yang kuat.”

Miyu sama sekali tidak mengerti, apa yang akan dilakukan Hokuto selanjutnya, namun dia tetap memeluk dahan itu dengan kedua tangannya. Tanpa dia sangka kedua kakinya dipegang oleh Hokuto dan dengan mudahnya Hokuto mengangkat Miyu hingga akhirnya Miyu berhasil naik ke atas.

“Aku berhasil!” pekik Miyu tertahan. Wajahnya memerah dan napasnya terengah-engah, namun tampak senyum lebar terukir di wajahnya.

“Selamat. Dan menurutku celana dalam polkadot ternyata tidak terlalu kekanakan,” gurau Hokuto sambil tersenyum jahil.

Miyu yang tidak sadar kalau dia duduk dengan sembarang langsung memperbaiki cara duduknya, “Apa yang kau lihat! Dasar mesum!”

“Aku tidak bermaksud melihatnya, kau saja yang memperlihatkannya padaku,” balas Hokuto santai. Hokuto kemudian meloncat hingga mencapai salah satu dahan dan bergelantungan beberapa saat. Seperti tak kesusahan, Hokuto mengangkat tubuhnya hingga dia kini duduk dengan santai di atas dahan tersebut.

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya Miyu sambil melihat ngeri ke bawahnya. Tinggi dahan ini mungkin sekitar tiga meter, dan dia tidak bisa membayangkan dirinya meloncat dari atas ke bawah.

“Aku akan memperlihatkan caranya,” ucap Hokuto yang langsung meloncat dari dahan itu dan mendarat dengan mulus di tanah. Dia berputar dan menatap Miyu yang tidak tahu harus bagaimana.

Tangan Hokuto terentang seakan-akan dia siap untuk menangkap Miyu.

“Kau bercanda kan?” ucap Miyu tak percaya. Masa dia harus jatuh kepelukan pria itu?

“Kalau kau tidak mau ya silahkan saja coba,” tantang Hokuto.

“Cepat meminggir, aku akan melakukannya sendiri!” ucap Miyu.

Kedua tangan Hokuto turun dan dia mengambil langkah mundur. “Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku tidak menanggung apapun yang terjadi.”

“Iya aku mengerti,” ujar Miyu kesal.

Miyu mencoba menghitung mundur dalam hati. Tiga, dua, satu, dan Miyu melompat sambil memejamkan matanya. Sebelum sempat menyentuh tanah, dia merasakan ada tangan yang mendekap tubuhnya dengan erat. Miyu perlahan membuka matanya dan terkejut ketika menyadari betapa dekat wajahnya dengan wajah Hokuto.

“Apa yang kau lakukan? Melompat sambil menutup mata bukan cara yang bijak untuk mematahkan kakimu,” gerutu Hokuto seraya menurunkan Miyu dengan perlahan.

Miyu tak membalas ucapan Hokuto. Dia membalikkan tubuh sambil mencoba menenangkan jantungnya yang berpacu dengan cepat. Wajahnya pun terasa sangat panas hingga dia tidak berani memandang wajah Hokuto secara langsung.

“Ayo cepat kita jalan,” ajak Hokuto.

Miyu yang merasa jantungnya mulai berdetak dengan teratur berbalik dan mengangguk. Dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya…

Jesse memeriksa apakah kemejanya sudah rapi sebelum memasuki ruangan di depannya. Setelah sekian lama, baru kali ini Jesse merasakan kegugupan yang sampai membuat telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

Dengan memantapkan hatinya, Jesse masuk ke dalam ruangan. Di depannya duduk seorang pria bertubuh tinggi, dengan kacamata bertengger di batang hidungnya. Uban di rambut pria yang dikenalnya sebagai ayah Miyu itu kini semakin bertambah, dan kerutan di wajahnya menunjukkan seberapa lama dia telah hidup di dunia ini.

“Lama tidak berjumpa denganmu, Jesse,” sapa pria itu.

Jesse hanya dapat mengangguk dan mencoba untuk tidak terlihat kikuk dan bodoh.

“Kurasa kau sudah berkunjung ke rumah dan bertemu dengan Miyu?”

“Benar, semalam aku berbincang-bincang dengannya.”

Pria itu berdiri dan mencoba tersenyum walau yang ada Jesse malah semakin tidak yakin apa maksud di balik senyuman ayah Miyu.

“Sebaiknya kita berbicara di sofa saja supaya lebih santai.”

Jesse mengikuti pria itu duduk di sebuah sofa yang ada di sudut ruang kerja. Sofa berwarna hitam itu semakin membuat ruangan terasa mencekam. Mungkin ayah Miyu sengaja mendesain ruangan kerja di kantornya seseram ini, agar tiap orang yang masuk akan merasa terintimidasi.

“Menurutmu bagaimana keadaan Miyu?” tanya ayah Miyu sambil bersandar.

“Dia semalam terlihat sehat, walau penampilannya tampak pucat.”

Ayah Miyu mengangguk-angguk, “Apa Miyu menceritakan alasannya untuk pindah ke sini?”

Kepala Jesse tertunduk. Apa dia harus mengatakan apa yang dikatakan oleh Miyu semalam? Bagaimana kalau ayah Miyu malah mencap kalau Jesse orang yang narsis dan sejenisnya?

“Dia ingin bertemu denganmu, bukankah itu yang dikatakannya?” tutur ayah Miyu saat melihat Jesse tak kunjung menjawab.

Jesse kembali mengangguk.

“Kurasa dia tidak menceritakan kenapa tiba-tiba saja dia ingin bertemu denganmu…”

Seorang pegawai masuk dan meletakkan dua cangkir teh hangat di depan Jesse dan ayah Miyu. Jesse menundukkan kepala sopan memperlihatkan rasa terimakasihnya. Dia tidak bisa bertingkah seenaknya di depan ayah Miyu, tentu saja.

Ayah Miyu mengambil teh yang terhidang di depannya dan menyesapnya perlahan, “Aku ingin menceritakan sesuatu padamu,” ujarnya seraya meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya. Tampak kalau hal yang ingin dikatakan ayah Miyu bukanlah kabar gembira, raut wajah tuanya bahkan terlihat semakin menua. Ayah Miyu mengambil napas dan kemudian mengatakan, “Miyu… dia menderita leukemia.”

“Apa?” seru Jesse tak percaya. Lelucon dari ayah Miyu sungguh tidak cocok dikatakan olehnya yang terlihat begitu kaku.

“Dia tidak ingin lagi melakukan kemoterapi. Aku berusaha memaksanya dan dia malah mencoba mencelakai dirinya sendiri.”

Seluruh kenyataan mengenai Miyu bagaikan hantaman keras di dada Jesse. Dia tidak pernah menyangka bahwa Miyu akan menjalani hidup begitu yang begitu sulit dihadapi oleh gadis seusianya. Lagipula, siapa orang yang sudah bersiap-siap akan mengidap kanker?

“Jadi sekarang dia sudah menghentikan pengobatan sama sekali?” tanya Jesse.

“Dia masih mengkonsumsi obatnya, namun dia menolak untuk dikemoterapi.” Ayah Miyu mengatur napasnya. Tampaknya ayah Miyu berusaha agar emosinya tetap terjaga selagi bercerita, “Miyu sudah dua kali mencoba bunuh diri.”

Miyu menunggu Hokuto keluar dari sebuah gang sempit yang berada di depannya. Entah kenapa Hokuto melarang Miyu untuk ikut masuk, dan dia menyuruh Miyu untuk menunggu di depan gang. Gang itu diapit oleh sebuah toko roti dan di sebelahnya ada toko pakaian yang tampaknya juga menjual perhiasan mahal.

Karena terlalu bosan menunggu Hokuto, Miyu melihat-lihat baju yang dipajang di etalase dari luar. Gaun putih yang sangat cantik dan terlihat mewah. Sebuah gaun pengantin. Memikirkan kelak dia tidak akan memiliki kesempatan mengenakan gaun itu membuat mood Miyu memburuk dan dia berjalan menjauh dan mencoba melupakan tentang apapun yang membuatnya sedih.

“Dia tidak ada di sana,” ucap Hokuto sambil menyeka keringat di dahinya.

Miyu melirik jam tangannya yang sudah memperlihatkan jam 6 sore. Pasti saat ini orang-orang di rumah sibuk mencarinya.

“Kau ingin pulang?” tanya Hokuto yang memperhatikan Miyu tengah melihat jam.

Miyu cepat-cepat menggeleng dan menurunkan jamnya, “Aku kesal sekali kita tidak bisa menemukan Jesse di manapun. Apa kau ini benar-benar sahabatnya?”

“Kau meragukan persahabatan kami?” tanya Hokuto tidak terima. Tepat saat dia ingin kembali protes ponselnya berdering. Tertera nama Jesse Lewis di layarnya.

“Kau di mana?” tanya Jesse dari seberang telepon.

Hokuto mengernyitkan dahinya bingung, kenapa malah Jesse yang menanyakan keberadaannya. Padahal kan dia yang entah pergi ke mana.

“Sedang jalan-jalan, kau ada di mana?” tanya Hokuto balik.

“Di rumah temanku.” Hokuto menunggu karena Jesse seperti ingin mengatakan sesuatu. “Hoku, apa kau tahu dengan anak baru yang diantar dengan limousine kemarin?”

“Ya… begitulah…” jawab Hokuto sambil melirik Miyu yang tampak penasaran.

“Apa kau sedang bersamanya?”

Hokuto diam beberapa saat, sepertinya Jesse ingin menemui Miyu. Selintas terbersit di hatinya ingin mengatakan kalau dia tidak bersama Miyu. Tetapi, hati nurani Hokuto menang dan dia akan mengatakan yang sesungguhnya. Lagipula Miyu juga sedaritadi ingin bertemu dengan Jesse.

“Ya, aku sedang bersama dengannya. Kenapa kau bisa tahu?”

Belum mendengar jawaban dari Jesse, ponsel Hokuto dirampas Miyu dan dia langsung memutuskan sambungan telepon. Miyu juga langsung menonaktifkan ponsel tersebut.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hokuto yang terkejut.

“Aku membatalkan rencanaku ingin bertemu dengan Jesse.”

“Lalu untuk apa kita mencarinya sejak tadi?” tanya Hokuto dengan tidak sabar.

“Jesse sudah bertemu dengan ayahku…”

—————————————–

TBC

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Saigo no Kioku (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s