[Multichapter] Saigo no Kioku (Part 1)


Title     : Saigo no Kioku

Cast     : Matsumura Hokuto (Six Tones)

            Kubota Miyu (i☆Ris)

            Jesse Lewis (Six Tones)

            Aiba Masaki (Arashi)

Genre  : Romance, Friendship

Rating : PG-13

Author : Mikka

——————————————————————–

Tahun ajaran baru telah dibuka. Sekolah-sekolah yang awalnya terlihat sangat sepi dan tak berpenghuni kini kembali dipadati oleh banyak orang dengan berbagai antusiasme yang berbeda. Banyak yang merasakan ingin kembali ke sekolah, tetapi juga tidak sedikit yang merasa sedih karena libur panjang mereka kini sudah berakhir.

Keadaan serupa terjadi di salah satu sekolah yang terletak di Tokyo. Seijo gakuen adalah sekolah yang cukup terkenal walaupun bukan termasuk sekolah elit. Tetapi, berkat kerjasama dari para guru dan anggota PTA beserta komisaris, Seijo gakuen berhasil setidaknya menarik peminat anak-anak yang baru saja lulus SMP untuk mencoba peruntungannya di sekolah tersebut.

Matsumura Hokuto dan Jesse Lewis, dua siswa tingkat akhir yang paling terkenal melihat kesibukan yang tak biasa, khususnya di kalangan para guru. Di pagi hari yang seharusnya penuh sesak oleh para siswa yang melihat pengumuman kelas di papan malah kini dipadati oleh para guru.

“Apa yang terjadi?” tanya Jesse yang penasaran.

“Sejak kapan kau peduli dengan apa yang terjadi di sekolah ini? Ayo cepat lihat kelas kita dan pergi dari sini,” tukas Hokuto dengan wajah tak peduli.

Kedua orang pria yang tubuhnya lebih besar dari kebanyakan anak SMA kebanyakan itu membelah kerumunan orang. Tak ada orang berpikiran waras yang berani bersentuhan dengan mereka karena berembus kabar angin bahwa sebelumnya mereka berdua berhasil mengirimkan 30 orang preman ke rumah sakit dengan berbagai kondisi yang memprihatinkan dan membuat para preman itu berpikir dua kali untuk kembali menjadi preman.

Bahkan tidak hanya para siswa, hampir semua guru tidak berani berurusan dengan kedua orang itu. Sebab, mereka berdua memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kebanyakan penghargaan olimpiade berhasil mereka dapatkan walau untuk mengikutsertakan kedua orang itu juga memerlukan mental sekeras baja.

Jesse merasakan ponselnya bergetar. Tanpa memperdulikan lautan orang yang menunggu agar dia segera menyingkir, Jesse dengan tenang membuka dan melihat pesan yang masuk. Membaca pesan baru itu membuat ekspresi Jesse berubah.

“Jesse, kita kembali sekelas,” ucap Hokuto saat berhasil menemukan namanya dan nama Jesse. Mendengar tak ada respon dari Jesse, Hokuto memalingkan wajah ke kanan dan melihat Jesse terpaku melihat ponselnya. “Hei, Jesse.”

Begitu pundaknya sedikit diguncang oleh Hokuto, Jesse baru tersadar.

“Kita sekelas? Bagus. Jadi, ayo kita segera pergi dari sini,” balasnya. Mereka berjalan menjauh dari papan, dan kerumunan orang di belakang mereka langsung terbelah untuk memberikan mereka jalan.

Pandang ketakutan orang-orang di sekitar sana tak lama kemudian beralih begitu sebuah mobil limousine mewah berhenti tepat di depan gerbang sekolah mereka. Bahkan Hokuto dan Jesse pun ikut memerhatikan sosok yang akan segera turun dari mobil itu.

“Pergi ke sekolah di antar dengan mobil itu, menurutku berlebihan sekali,” gumam Hokuto.

Tak sama dengan reaksi Hokuto yang melihat kedatangan mobil langka itu dengan tatapan malas, Jesse yang panik kembali meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.

“Kau juga mau menonton kedatangan tuan putri itu?” tanya Hokuto yang ternyata sudah bersiap-siap pergi meninggalkan lapangan.

Jesse memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan mengikuti Hokuto. Sekilas dia mencoba melihat ke belakang dan tampak seorang gadis berambut sepinggang turun dengan dibantu oleh sang supir. Tatapan mereka langsung bertemu, dan Jesse malah cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke depan.

Kubota Miyu telah tiba di sekolah barunya. Suasana yang terhampar di sekelilingnya benar-benar berbeda dengan sekolah lamanya. Sebelumnya Miyu tinggal di Amerika selama 9 tahun, sehingga suasana di Jepang kini terasa benar-benar asing walau sebenarnya dia cukup merindukan suasana tenang seperti sekarang.

Miyu melihat ponselnya yang bergetar ketika sebuah pesan masuk. Jesse pasti sudah membalas pesannya barusan.

Selamat datang kembali Miyu. Aku bukannya bermaksud sombong, tapi sebaiknya kita menjaga jarak selama ada di sekolah. Aku akan menjelaskan detailnya nanti malam.

Miyu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blazer. Dia menarik napas dalam-dalam dan kembali menghembuskannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri dari kegugupan.

Pintu mobil terbuka dan sang supir, Taguchi-san mengulurkan tangannya pada Miyu. Saat Miyu hendak meraih tangan Taguchi-san, matanya menangkap sosok Jesse yang tepat berada di depannya, namun yang membuatnya heran Jesse cepat-cepat berbalik menghadap depan dan berjalan meninggalkannya begitu saja.

“Semoga hari Anda menyenangkan, Miyu-sama,” ucap Taguchi-san.

Miyu mengangguk dengan kaku dan mencoba tersenyum walau dia ragu senyumannya mungkin akan terlihat seperti dia sedang meringis kesakitan.

Seperti yang sudah diduga, pandangan semua orang tertuju padanya. Tak ada lagi keramaian orang-orang yang sibuk mengecek kelas, kini mereka lebih tertarik untuk memerhatikan Miyu.

“Oooh, Kubota-san, selamat datang di sekolah kami!” Salah seorang guru pria bertubuh lumayan tinggi berjalan mendekat. Rambut guru itu dicat cokelat hingga membuatnya tidak terlalu menyeramkan seperti guru-guru kebanyakan. “Perkenalkan, aku Aiba Masaki, wali kelas 1-1 yang berarti aku ini wali kelasmu. Apa aku perlu mengantarkanmu ke kelas?”

“Tidak perlu, aku akan mencari kelasku sendiri.” Setelah berkata seperti itu Miyu menundukkan tubuhnya sedikit dan berjalan meninggalkan Aiba yang mematung.

“Fuuh, kurasa jantungku sudah kembali ke tempatnya semula,” gumam Aiba sambil mengelus dadanya. Kalau bermasalah dengan orang jahat, kau hanya tinggal memanggil polisi dan masalah akan selesai. Lain halnya jika bermasalah dengan orang kaya yang kekayaannya hampir setara dengan perdana menteri, polisi pun tidak akan berguna.

Pintu atap terbuka tiba-tiba membuat Hokuto dan Jesse serempak mengalihkan pandangan menatap ke belakang mereka. Aiba yang muncul dari balik pintu dengan cepat berjalan ke arah mereka dan duduk sambil menghela napas.

“Apa yang kaulakukan di sini? Bukannya kau harus ikut upacara?” tanya Hokuto.

“Anggap saja aku sedang sakit perut dan butuh udara segar, mengerti?”

Jesse mendengus, “Kurasa sebaiknya kau harus menambah wawasanmu dalam beralasan. Kalau kau sakit perut harusnya ke toilet.” Melihat kedua orang ini berada di atap bukan hal yang aneh lagi bagi Aiba. Sekolah pun sudah memberikan perintah kalau sebaiknya mereka dijauhkan dari keramaian sebelum mereka membuat korban berjatuhan. Padahal Aiba paham sekali kalau mereka tidak akan pernah memukul orang jika tidak memiliki alasan yang kuat.

Aiba mengacak rambutnya seperti otang frustasi, “Aku terlibat dalam masalah dan kau malah mengomentari hal yang tidak penting.”

“Aiba-sensei, kami tidak tertarik dengan masalahmu,” ucap Hokuto dengan wajah malas.

Karena merasa tidak didengarkan, Aiba berjalan ke depan mereka dan duduk untuk menghalangi pandangan mereka.

“Kalian tahu, ada anak konglomerat yang masuk ke dalam kelasku…”

Hanya Jesse yang langsung tertarik dengan pembicaraan itu, “Lalu?”

Aiba menjadi semangat untuk bercerita begitu Jesse memperlihatkan antusiasmenya untuk mendengarkan.

“Aku takut padanya. Pandangannya terlihat dingin dan seperti tanpa belas kasihan, dia seperti tidak memiliki nyawa dalam dirinya,” jelas Aiba. “Apa yang harus kulakukan?” rengeknya seperti anak kecil.

“Dia tampak semengerikan itu?” tanya Jesse tak percaya. Gambaran yang dijelaskan Aiba barusan tentu saja bukan sosok Miyu yang dikenalnya 9 tahun yang lalu.

“Aku merasa berbuat salah sedikit saja pekerjaanku ini akan menjadi taruhannya,” keluh Aiba lagi.

“Kalau begitu berhenti saja dan cari pekerjaan di tempat lain,” saran Hokuto walau sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan masalah Aiba.

“Kalian belum mengerti bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di situasi ekonomi seperti ini.” Aiba menunduk dan mengacak rambutnya kesal. “Kenapa aku harus bernasib sial?”

Mendengar ucapan Aiba itu Hokuto tertawa, “Kalau begitu kapan kau akan merasa beruntung? Kalau dia menakutkan kenapa kau harus memandangnya? Anggap saja dia tidak ada.”

“Aku tidak bisa mengacuhkan anak dari donatur terbesar sekolah ini…”

“Jangan terlibat terlalu banyak dengannya.”

“Bagaimana caranya?” tanya Aiba kembali menaikkan kepalanya.

Hokuto tersenyum jahil dan mendekatkan wajahnya, “ Bu-kan u-ru-san-ku.” Dia lalu berdiri dan meninggalkan Aiba bersama Jesse.

Kini tatapan memelas Aiba berganti pada Jesse, “Jesse-kun apa yang sebaiknya kulakukan?”

Jesse yang dipikirannya sedang berkecamuk berbagai macam pertanyaan hanya mengedikkan bahu. Malam ini dia harus menemui Miyu untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gadis itu.

Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, Jesse datang berkunjung ke rumah Miyu setelah Miyu mengirimkan alamatnya. Jesse sudah tak heran lagi melihat kemewahan rumah yang berdiri kokoh di depannya, bahkan rumah itu mungkin bisa disebut kastil dalam bentuk mini. Gerbang depannya dapat dibuka secara otomatis dan begitu masuk, air mancur yang disinari lampu berwarna-warni datang menyambut. Halaman di sebelah kanan dan kiri dipenuhi dengan pohon-pohon nan rindang, juga terdapat bunga yang menjadi hiasan di sepanjang jalan menuju pintu masuk rumah.

“Jesse Lewis?” tanya si kepala pelayan begitu membukakan pintu untuk Jesse.

“Benar,” jawab Jesse.

“Miyu-sama sudah menunggu Anda di dalam kamarnya.”

Kepala pelayan berjenggot abu-abu itu mempersilahkan Jesse untuk masuk. Jesse memerhatikan interior rumah yang terkesan seperti rumah klasik di Inggris, perabotan di rumah ini dijaga bersih dan dengan kualitas atas, menyentuhnya saja membuat ngeri.

Mereka naik ke lantai dua, kemudian belok ke kanan yang mana langsung disambut dengan lorong yang cukup panjang. Setelah melewati beberapa pintu, kepala pelayan itu berhenti tepat di depan sebuah kamar yang pintunya dicat berwarna oranye.

Kepala pelayan itu mengetuk pintu kamar pelan, “Miyu-sama, Jesse-san sudah datang.”

“Buka saja pintunya,” jawab suara dari dalam.

Oh, sudah berapa lama Jesse tidak mendengarkan suara itu? suara Miyu benar-benar berubah jika Jesse mengingat terakhir kali mereka bertemu. Sekitar 3 tahun yang lalu, saat itu Miyu tampak seperti anak perempuan lainnya yang senang bermain sambil berteriak dengan keras.

“Lama tidak bertemu denganmu, Jesse…” sapa Miyu begitu Jesse masuk. “Nakagaki-san, Anda boleh keluar.”

Jesse berjalan mendekat ke tempat Miyu yang duduk di atas karpet beledunya, dengan sebuah buku berbahasa Inggris di tangannya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jesse. Dia sama sekali tidak berbasa-basi, dia benar-benar sangat ingin mengetahui bagaimana keadaan gadis itu kini. Kulit Miyu kini memang tampak pucat, tubuhnya kurus dan matanya tampak sayu.

“Aku baik-baik saja, seperti yang bisa dilihat, kenapa kau tidak menegurku di sekolah?” tanya Miyu tanpa basa-basi.

Jesse cukup lama merangkai kata-kata di dalam benaknya. Dia menatap Miyu yang masih tampak menanti jawaban. Sepertinya dia memang harus menjelaskan semuanya dari awal.

“Aku memiliki imej yang menyeramkan di mata para siswa lainnya. Aku tidak mau kau juga akan dicap sebagai anak berandal.”

“Apa sekarang aku tampak seperti berandal saat berbicara denganmu?”

Jesse memerhatian Miyu, “Tentu saja tidak.”

“Berarti masalah selesai, bukan?” tukas Miyu terlihat cukup puas.

“Tidak Miyu. Kau tidak mengerti dengan kondisinya. Kau bisa dijauhi oleh seluruh siswa dan mungkin bisa lebih buruk lagi.”

“Aku yakin, aku siap menerima hal itu.”

“Dan aku tidak siap!”

Miyu agak terkejut mendengar nada Jesse yang sedikit meninggi, namun dia mencoba tetap terlihat tenang.

“Jesse, apa kau tidak bertanya kenapa aku pindah kembali ke Jepang?” tanya Miyu yang memecah keheningan di antara mereka.

“Kenapa?”

Miyu tersenyum, sudah lama sekali Miyu tidak tersenyum hingga Miyu hampir melupakan caranya tersenyum secara tulus, “Aku ingin bertemu denganmu.”

“Klise sekali. Kurasa kau terlalu banyak menonton opera sabun,” ucap Jesse sambil tertawa.

“Kupikir juga begitu. Aku merasa hari-hariku terbuang secara percuma. Karena itu aku kembali ke Jepang.”

Hokuto menatap papan tulis dengan malas. Sementara teman sekelasnya tengah sibuk menyalin yang dicatat guru mereka di depan kelas, Hokuto malah memainkan kursinya sambil mengunyah permen karet.

Perasaan Hokuto tak akan sekesal ini jika saja Jesse mengajak Hokuto untuk bolos juga, bukannya malah pergi tanpa alasan seperti saat ini.

Begitu bel istirahat berbunyi, Hokuto tidak langsung keluar seperti anak-anak lainnya. Hokuto hanya diam di kursi dan menatap keluar kelas. Bunga sakura yang ada di lapangan tampak sudah mekar. Tak lama lagi pasti sekolah mereka dipenuhi oleh bunga sakura yang berjatuhan. Aneh sekali bagi Hokuto, karena momen seperti itu pasti selalu ditunggu-tunggu oleh para siswa.

“Permisi…”

Hokuto langsung memutar kepalanya dan melihat seorang gadis dengan rambut hitam sepinggang dan bertubuh kurus semampai sudah berdiri di sebelahnya. Sudah lama sekali Hokuto tidak berbicara dengan perempuan selain dua adik perempuannya tentu saja. Terakhir kali dia berbicara dengan perempuan yang diingatnya perempuan itu menangis berlari meninggalkannya.

“Kau siapa?”

“Namaku Kubota Miyu, dari kelas 1-1,” jawab Miyu.

“Ada perlu apa denganku?” tanya Hokuto dingin.

“Namamu Matsumura Hokuto kan? Di mana Jesse?”

Hokuto menaikkan sebelah alisnya mendengar nada pertanyaan yang seperti mengintrogasi itu, “Kau menanyakan Jesse padaku?”

Miyu mengangguk, “Iya, kalian berteman akrab kan? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi. Ke mana dia?

Hokuto mendengus dan melirik Miyu dengan tatapan tidak suka, “Aku tidak menyangka kalau Jesse kini memiliki stalker. Bukannya kau gadis kaya itu? Harusnya kau melakukan hal yang lebih bermartabat daripada merendahkan dirimu mengejer-ngejar pria seperti sekarang.”

Miyu memutar bola matanya kelihatan malas, “Tampaknya aku bertanya pada orang yang salah. Lupakan kalau aku pernah berbicara padamu,” tukasnya dengan wajah datar. Melihat reaksi Miyu seperti itu, Hokuto pun menjadi kesal. Belum pernah ada perempuan yang berani berbicara seperti ini pada Hokuto sebelumnya.

Tanpa sadar tangan Hokuto menarik pergelangan tangan Miyu hingga membuat gadis itu tersentak. Tersadar kalau tampaknya dia terlalu keras Hokuto langsung menarik tangannya. Kini wajah gadis itu tak lagi datar, tampak kedua alisnya saling bertautan menunjukkan dia tengah kesal.

“Kau ini orang kaya tapi kenapa tubuhmu seperti orang yang sudah sebulan tidak makan?”

“Ini tubuhku, jadi bukan urusanmu,” geram Miyu.

Hokuto melipat kedua tangannya di depan dada, “Kalau kau ingin tahu Jesse ada di mana, katakan dulu alasanmu ingin menemuinya.”

Miyu memiringkan kepalanya bingung, “Memang kau ini pacarnya?”

“Katakan atau tidak sama sekali?”

Miyu menghela napas, “Aku tidak suka diperintah.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan tutup mulut.”

Hokuto kembali ke tempat duduknya dan pura-pura membuka buku.

“Semalam Jesse menyuruhku supaya jangan berbicara dengannya di sekolah. Aku tidak suka dia memerintahku seperti itu. Jadi untuk memperlihatkan padanya kalau aku tidak peduli dengan pandangan orang lain aku ingin langsung berbicara dengannya.”

Mendengar hal itu, Hokuto menurunkan bukunya dan tersenyum puas.

Melihat  Hokuto tersenyum seperti barusan, Miyu berpikir saja Hokuto lebih ramah, dia tidak akan menyeramkan sama sekali. Malah mungkin dia bisa menjadi idola di sekolah ini.

“Jawabannya, aku juga tidak tahu sama sekali di mana Jesse berada.”

“Apa?” Miyu merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Sebelum Miyu sempat menyemprot Hokuto, dengan cepat pria itu menjelaskan, “Tapi aku memiliki rencana yang akan langsung membuat kita mengetahui di mana keberadaan Jesse saat ini.

Hokuto menyuruh Miyu berjalan mengikutinya.

Sebelum keluar kelas Hokuto berhenti dan berbalik hingga kini dirinya dan Miyu saling berhadapan. “Sebelumnya aku ingin memperingatkanmu. Tepat seperti yang dikatakan Jesse, kau akan dicap jelek jika orang lain melihat kita bersama seperti ini. Bahkan caraku untuk menemukan Jesse pun pasti akan memperburuk reputasimu.”

“Dan seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak peduli dengan pandangan orang terhadapku.”

Hokuto kembali tersenyum. Jarang sekali dia bisa tersenyum pada orang yang baru dikenalnya sesering ini, “Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai misi ini.”

————————————-

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s