[Minichapter] Puzzle of Memories (Part 1)

Puzzle of Memories

Chapter: 1

Kanagawa Miki

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Sato Miharu

Hey! Say! JUMP Yabu Kouta

Hey! Say! JUMP Inoo Kei

By: Shield Via Yoichi

Hai~ Hai~ saya kembali setelah…….. sebulan? Dua bulan? Begitulah. Kali ini ff buat Nadia yang jadinya panjang jadi dibagi-bagi dan sangat aneh ini. Untuk genre, saya bingung. Ini Action bukan sih? Yang pasti ada Romance-nya ahahahahaha *tetep* saya juga mau ngucapin banyak terima kasih untuk orang yang saya repotkan dalam menulis ff ini. Yappari, saya gak bakat bikin ff semacam ini.. *cry* makasih juga buat tantangan nulis semacam ini, Nadia. tampaknya saya (memang) gagal, Nadia. banyak yang mau diadukan disini, tapi ya sudahlah~ tidak baik mengeluh(?)


Miki mengunyah permen karetnya, sesekali terdengar letusan balon kecil dari bibirnya. Sementara tangannya sibuk menggosok senapan panjangnya.

“Hoam..” kata seseorang saat membuka pintu dan masuk ke ruangan itu, “Miki-chan, apa kabar?”

“Baik. Kau sendiri, Miharu?”

“Aku sedikit mengantuk.”

Miki memutar ke arah Miharu, “Misimu bagaimana?”

“Ya, begitulah.” Miharu merebahkan dirinya di sofa panjang, “Kenapa mangsaku selalu bapak-bapak tua yang genit sih?”

Miki tertawa, “Mungkin ketua kesayanganmu itu tidak ingin mereka yang muda melihat tubuh seksimu itu.”

“Huh, akhirnya kan mereka aku bunuh. Tetap saja tubuh ini milik ketua~”

“Hahahaha…..”

“Eh, misimu bagaimana?”

“Selalu sukses, Miki gitu lho.” Miki menaikkan sedikit kerah bajunya, pamer kehebatan pada Miharu.

“Hih.” cibir Miharu. Lalu mereka berdua tertawa bersama.

Pintu kembali dibuka, masuklah seorang pria yang tinggi tegap ke sana, “Selamat pagi.”

“Kyaaaaa…. Ketua Yabu!” Miharu dari posisi tidurnya dia langsung pergi memeluk Yabu, “Aku kangen.”

Yabu tersenyum lembut padanya, “Misimu sudah selesai?” Miharu mengangguk cepat, “Nanti kita habiskan waktu berdua ya.”

“Baik, ketua!” Wajah Miharu bersinar senang. Miki yang melihat mereka hanya memutar matanya.

“Ah, aku kesini ingin memberi kalian misi yang baru.” Yabu memberikan map pada mereka masing-masing.

Miharu memanyunkan bibirnya, “Misinya diundur besok ya? Ini kan hari bebas kami. Ya, ketua Yabu?” Miharu semakin memepetkan diri ke Yabu. Dia melihat ke arah Miki yang diam saja menatap mereka kemudian Miharu mencubit lengannya seakan menyuruh Miki untuk ikut merayu Yabu.

“Benar, ketua. Aku juga sedang tidak fit untuk menembak.” kata Miki sambil melirik tajam Miharu. Miharu mengembangkan senyumnya.

Yabu menghela napas, “Baiklah kalau begitu, istirahatlah sepuas kalian.”

“Hore!” Miharu langsung memeluk Yabu, Yabu membalasnya. Miki hanya menghela napas, “Nah, ayo kita pergi karaoke!” katanya sambil menarik tangan Yabu dan Miki.

***

Selama karaoke, Miki hanya duduk dan meminum jus yang dipesannya. Sementara Miharu dan Yabu sibuk bernyanyi dan memilih lagu sambil sesekali berciuman setiap kali selesai menyanyi serta sesekali tertawa. Pikiran Miki hanya tertuju pada data korban selanjutnya.

Chinen Yuuri.

Nama itu terasa tidak asing bagi Miki namun dia tidak bisa mengingat siapa orang itu. Apalagi Miharu diturunkan bersamanya untuk tugas ini. Jarang-jarang ketua Yabu menurunkan mereka bersama, bisa Miki hitung dengan jari berapa kali dia bekerja sama dengan Miharu. Apa dia sekuat korbannya yang seorang mafia yang pernah dia bunuh? Atau seorang koruptor sehingga punya banyak pengawal?

“Kau tidak bernyanyi, Miki-chan?” tanya Miharu yang duduk di sebelahnya. Dia menyeruput minumannya dengan tidak sabaran, tenggorokannya terasa sangat kering.

“Aku tidak bisa bernyanyi.” kata Miki datar.

“Oh, come on. Kau tidak perlu pintar bernyanyi di tempat karaoke. Ini bukan ajang pencari bakat.”

Miki tertawa, “Sudahlah, jangan pikirkan aku. Melihatmu senang dengan ketua Yabu sudah menghiburku.

“Dasar aneh.”

Ya, Kanagawa Miki memang aneh. Miharu benar, dia sepenuhnya tidak pernah tertarik dengan apapun. Dia selalu mengunggulkan rasa penasarannya daripada kelebihan yang dia punya. Bekerja sebagai penembak jitu juga bukan karena dia suka menembak. Semua berawal dari rasa keingintahuannya terhadap senapan laras panjang itu, cara menembak tepat sasaran dan juga cara fokus sepenuhnya pada target. Dia tidak pernah menyangka akan bekerja di tempat penuh darah itu.

“Kau pasti sedang memikirkan target kita kan?” suara Miharu membuyarkan pikiran Miki. Dia melihat Miharu, gadis itu selalu bisa menebak pikirannya.

“Kau tahu saja—”

“Jelas dong, wajahmu itu sampai keriput memikirkan target-target kita. Dari dulu begitu, siapa yang tidak hapal kebiasaan anehmu itu?” kata Miharu sambil memainkan rambutnya, “Lihat wajahku, aku yang lebih tua darimu saja masih terlihat muda.”

“Kau kan sering perawatan.”

Miharu memandang Miki malas, “Tidak ada hubungannya! Berhenti memikirkan kenapa mereka menjadi target kita, Miki-chan.”

“Aku hanya..” Miki kembali meminum jusnya, “Merasa tidak asing dengan wajah itu.”

“Hm, begitu? Ah, aku dapat info.” kata Miharu melihat handphone-nya.

Miki menaikkan alisnya, “Apa?”

“Dia suka datang ke perpustakaan.” Miki menatap Miharu yang kembali meneguk minuman. Gadis itu selalu bergerak cepat, padahal dia selalu terlihat santai, malah sangat santai.

“Kalian bicara apa? Kok tegang sekali?” tanya Yabu yang sudah selesai menyanyi. Dia mendudukkan diri di sebelah Miharu.

“Tidak ada, Kou.” Miharu memeluk Yabu sambil melirik Miki seakan berkata ‘siapa yang akan membunuhnya? Kau atau aku? Atau kita bersama?’. Dia tersenyum mengejek, Miki berdecak kesal.

***

“Kou…” panggil Miharu yang memiringkan kepalanya saat pemuda yang dipanggilnya sibuk menciumi lehernya.

“Hm?” serunya masih setia dengan aktivitas menciumnya.

“Kenapa kau menurunkan aku dan Miki-chan di target yang sama?”

Yabu berhenti mencium leher jenjang Miharu dan sedikit menjauh dari wanita itu. Miharu melihat ke arahnya, “Kenapa kau tanya begitu, Miharu? Biasanya kau yang meminta untuk bersama Miki.”

“Ya heran saja, kau selalu memberiku target yang sudah tua, tapi sekarang kau memberi target yang seusia denganku.” jelas wanita itu sambil memainkan dua jarinya di tangan Yabu, “Bahkan kau pernah ngambek karena aku dekat dengan Inoo-kun, ingat?”

Yabu menghela napas, “Target kali ini agak susah. Aku takut kalau aku hanya menurunkanmu, dia bisa memutarbalikkan keadaan. Kalau hanya Miki, juga pasti begitu.”

“Baiklah kalau itu keputusanmu, aku akan menggaet pria muda itu.” Miharu bersuara manja.

“Siapa yang suruh untuk menggaetnya?” tanya Yabu dengan nada cemburu.

Miharu menatapnya, kemudian dia tersenyum licik, “Sebelum membunuhnya, tentu aku agak menggodanya. Itu kan cara kerjaku yang selama ini kau asah.” Miharu mengedipkan matanya dan menggigit bibir bawah dengan genit.

“Jangan sampai menggoda, cukup berdekatan saja!” perintah Yabu.

“Ah, aku gemas dengan Kouta yang cemburu ini.” Dia mengelus pipi Yabu dan memeluknya, “Kau tahu, Miki bilang dia merasa tidak asing dengan target kita. Biasanya dia berpikir kenapa harus orang ini yang menjadi target, tapi kali ini berbeda. Dia seperti… hm…”

“Seperti?”

“Seperti orang yang lupa ingatan namun dia berusaha untuk terus mengingatnya. Dia terus berusaha sampai terlihat dia lelah untuk berpikir.”

Yabu menatap Miharu yang masih memeluknya. Tangannya bergerak mengelus rambut Miharu dan mulai bertindak nakal mengelus punggung dan perut Miharu, “Aku belum cerita tentang Miki ya?”

Miharu mendongak. Menyatukan pandangan mereka, “Eh, apa?”

“Aku akan memberitahumu setelah menghapus semua jejak pak tua yang menikmati tubuh ini.”

Miharu memandangnya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yabu, tangannya menarik rambut Yabu gemas, “Okay, baby~”

***

Miki membuka gorden dan menatap langit pagi. Dia tidak pernah bisa untuk tidur dengan tenang saat malam sampai pagi tiba. Karena pekerjaannya, dia selalu seperti burung hantu. Bangun di malam hari, tidur di siang hari. Membunuh target lebih mudah saat malam karena mereka akan beristirahat, tidak akan memakan waktu banyak setelah mengatur strategi yang tepat.

Miki beranjak ke dapur mininya, membuat secangkir kopi dan menyesapnya. Aroma kopi sedikit membuat matanya segar, Miki tersenyum. Kopi adalah teman terbaiknya setelah permen karet dan Miharu, tentu saja.

Dia masih setia meminum kopinya sambil berpikir. Beberapa minggu ini dia bermimpi yang sama, membuatnya terganggu. Terlebih lagi bayangan dia menangis di depan dua orang dewasa yang telah terbujur kaku dan seorang pemuda yang memeluknya lalu menjauhkannya dari mayat-mayat itu dan menyuruhnya bersembunyi sementara pemuda itu pergi mengejar pelakunya.

Miki tersentak saat mengingat pemuda itu, dia adalah targetnya. Chinen Yuuri, tidak salah lagi. Dia sudah hapal dengan mimpinya, tidak mungkin dia salah. Pantas saja dia merasa pemuda itu sangat familier.

Miki sedikit berlari menuju kamarnya saat handphone berdering.

Dari Miharu.

“Ada apa?” katanya tanpa basa-basi sama sekali. Miharu tidak akan menelponnya jika tidak penting. Miki mempertajam pendengarannya saat Miharu berbicara dengan nada tak biasa. Tampaknya dia masih bermain bersama dengan ketua Yabu pagi ini.

“Kenapa harus aku?!” Miki terkejut. Dia ditugaskan untuk mendekati target. Bagaimana bisa dia yang seorang penembak jauh berurusan secara langsung dengan target seperti yang dilakukan Miharu?

“Kalian gila? Aku ini penembak jitu, bukan sepertimu, Miharu.” Dengan nada tidak suka Miki menjelaskan perasaannya, “Ya ampun.. baiklah, baiklah. Beritahu aku caranya.”

Miki menyerah, Miharu memang ahli dalam merayu seseorang. Miki langsung bergegas keluar rumahnya dengan mobil menuju markas.

***

Ambil semua peralatanku di gudang. Tanya saja Inoo-kun, dia tahu.

Miki langsung menuju bagian gudang, tempat semua senjata yang mereka butuhkan tersedia di sana.

“Hoh, ada apa, Kanagawa-san? Apa senjatamu sudah mulai rusak?” tanya seseorang setelah Miki sampai di depan gudang.

“Inoo-san, aku butuh semua peralatan milik Miharu.”

“Eh? Miharu-chan? Sebentar.” Inoo masuk ke ruang gudang dan beberapa saat dia kembali membawa sebuah koper. Miki menyerngit melihat bawaan Inoo, “Semuanya ada di koper ini.” Inoo membuka koper tersebut dan menyerahkan pada Miki.

Miki melihat semua peralatan itu dengan heran. Inoo tertawa melihat ekspresi Miki, “Kenapa tertawa?”

“Ahahaha… Tidak, kau terlihat bingung. Peralatan Miharu memang semuanya berukuran kecil dan banyak, tidak sepertimu yang hanya butuh senapan.” jelas Inoo. Miki mengangguk mengerti, “Untuk apa kau meminta barang-barang ini?”

Miki menatap Inoo, dia tidak menjawab pertanyaan itu. Pandangannya beralih ke handphone-nya saat ada pesan masuk.

Pasang semua alat penyadap itu di tubuhmu.

“Eh? Pasang sebanyak ini?” Miki terkejut. Layar terpanya bergetar lagi.

Bukan semua yang ada di koper, baka!

Miki menaikkan satu alisnya lalu melihat sekeliling. Apa Miharu sedang memata-matainya?

“Err.. Kanagawa-san?”

“A-ah, iya..”

***

Setelah memasang perangkat milik Miharu—dengan bantuan Inoo, disinilah Miki sekarang. Di sebuah gedung perpustakaan yang cukup besar di daerah itu.

Lakukan sesuai perintahku!

“Baiklah.” bisik Miki.

Jujur, dia merasa sangat gugup. Dia tidak pernah bertatap muka dengan target, ini pertama kalinya. Miki tidak jago dalam hal berbicara, dia lebih memilih untuk merakit bom dan melemparkannya langsung ke target daripada harus berbasa-basi seperti ini. Tapi Ketua Yabu yang egois dan Miharu sedang menuntutnya seperti ini. Rasa-rasanya dia ingin membunuh Miharu saat ini karena seenaknya menyuruh.

Miki mengelilingi ruangan yang penuh dengan rak buku dengan berbagai jenis buku di sana. Seperti instruksi Miharu, dia harus menemukan yang menarik perhatiannya dan pura-pura membacanya di kursi baca. Tapi Miki tidak mengerti tentang sastra, dia bertanya buku apa yang harus dia ambil dan Miharu membalas seperti ini:

Baka!

Hal itu benar-benar membuat Miki yang sensitif ini kesal dan tidak mau bertanya lagi pada Miharu tentang buku.

Miki masih mengitari rak-rak tersebut dan melihatnya judul-judul buku. Banyak buku yang rasanya terlalu berat untuk Miki baca walau dia tertarik dengan beberapa buku itu. Dan dia menemukan sebuah buku yang judulnya cukup menarik dan lumayan tipis. Miki sedikit tersenyum karena bisa menemukan buku tanpa harus bertanya pada Miharu lagi, dia pun menjangkau buku itu namun terhenti saat melihat ada tangan lain yang juga sedang berniat mengambil buku itu.

Miki melihat ke arah pemilik tangan dan terkejut. Dia dengan cepat berusaha menahan ekspresi terkejutnya. Si pemilik tangan juga melihatnya lalu tersenyum.

“Ah, kau mau membaca buku ini juga?” tanyanya pada Miki yang masih agak kaget sampai badannya susah bergerak, “Hei?”

“A-ah.. Iya. Tapi kau lebih dulu mengambilnya, jadi aku harus mencari buku lain.” Miki bernapas lega saat dia bisa membuat alasan secepat mungkin dan kemudian membalas senyum itu.

Dia menggeleng, “Tidak apa-apa. Kau baca saja dulu. Aku bisa membacanya kapan-kapan.” Dia menyerahkan buku itu pada Miki. Miki masih saja diam, pikirannya sudah membubung jauh. Tapi dia kembali tersadar saat tangannya dipegang untuk memegang buku itu.

Chinen Yuuri sedang ada di hadapannya. Tersenyum manis dan ramah. Apa salah pemuda mungil ini sampai harus mengerahkan pembunuh bayaran seperti dirinya? Dia sama sekali tidak berbahaya, bahkan mungkin didorong sekali saja dengan sedikit paksaan, pemuda itu langsung jatuh. Apa, kenapa? Miki sama sekali tidak menemukan sesuatu yang mengancam dari Chinen. Atau mungkin hanya untuk sekarang.

Dia tidak tampak seperti korbannya Takaki Yuya yang sangar si pembantai atau Arioka Daiki yang nakal si penggoda—menurut info yang dia terima. Dia terlihat….. polos. Ya, menggambarkan seorang Chinen adalah polos, seperti pemuda biasa lainnya. Informasi tentang dirinya juga tidak terlihat berbahaya seperti korban Miharu bernama Kitayama Hiromitsu yang rakus pada uang dan mengancam para karyawannya untuk tunduk padanya walau seberapa curangnya dia dalam hal keuangan. Itu bisa mengancam negara, jelas kalau dia menjadi sasaran pembunuhan.

Miki membawa buku itu dan membacanya di kursi baca. Tak lama, Chinen duduk di sampingnya. Miki meliriknya, buku masih terbuka di tangannya dan rahangnya terus bergerak memakan permen karet. Hening, bukan. Hanya terdengar suara kunyahan dari Miki. Targetnya tiba-tiba bergerak dan mengarahkan wajahnya ke arah Miki. Tatapan itu membuat Miki sedikit menelan ludah.

“K-kenapa?”

Chinen masih menatapnya dalam diam dengan wajah datar sementara Miki mulai gelisah dan mempercepat kunyahannya lalu bukunya didekatkan ke mukanya dengan tangan yang terlihat bergetar. Apa yang harus dilakukan? Miharu, bantu aku!!

Miki-chan, bersikaplah tenang.

Suara Miharu terdengar di telinganya. Tapi Miki sudah tidak mengerti harus tenang seperti apa.

Miki-chan, dengar… aku bisa melihat kalian dari sini. Kamera di perpustakaan telah di retas, jadi kumohon tenanglah.

Miki mengedipkan matanya berkali-kali, “Jadi aku harus bagaimana?” bisiknya. Bibirnya masih mengeluarkan suara kunyahan.

Buku yang Miki pegang ditarik paksa, Miki tercekat. Matanya memandang mata Chinen yang sudah sangat dekat padanya. Tanpa memperkirakan pergerakan pemuda itu selanjutnya, Miki merasakan sesuatu yang lembut di bibirnya yang menghentikan kunyahannya. Tidak hanya itu, napas Miki juga terhenti saat sadar sedang dicium oleh targetnya.

“Kalau begini kan jadi tenang.” ucapnya setelah mencium Miki. Dia tersenyum senang lalu pergi. Mata Miki membesar.

Miki, apa yang terjadi?!

Miki tidak menghiraukan suara Miharu. Dia terlalu terfokus pada pemikirannya sendiri. Entah kenapa dia merasa kejadian itu pernah terjadi sebelumnya.

Miki-chan, jawab aku!!

“Miharu, tadi dia…… dia menciumku.”

Apa? Bagaimana bisa? Sedari tadi aku hanya melihat kalian mengambil buku yang sama dan membaca buku. Kenapa bisa terjadi?

Miki menggeleng, “Entahlah, Miharu. Aku juga bingung. Tapi…”

Tapi apa?

Miki menghela napas sebelum menjawab Miharu lagi, “Tapi aku.. aku merasa………. sepertinya kita harus bertemu untuk menjelaskan ini.”

Baiklah, nanti malam aku ke rumahmu.

to be continued

Advertisements

5 thoughts on “[Minichapter] Puzzle of Memories (Part 1)

  1. Miki_nadia1

    Aaaaaaa baru pertama udah ada cium cium 😄😄😄 aku sukaaa
    Sesuai harapan kok~ ada Miharu nyaaa…. asik kita berdua partner/ngek/
    SYUKAA SUKAAA APALAGI CIUMANNYA SYUKAAA/plak/ karakter ku juga seperti yg aku harapkaaan~ arigatou 😘 di tunggu lanjutannya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s