[Oneshot] Arioka Daiki’s Idol Life

Title : Arioka Daiki’s Idol Life
Author : Peggy
Rating : G
Genre : Friendship, Comedy


Namaku, Arioka Daiki 2 SMA. Saat ini, aku ingin menjadi idol!

“Maaf, tapi aku tidak bisa menerimamu.”

“Heeee?” Abaikan penampilanku yang tampak seperti pisang ini. Penampilan bukan hal nyang penting sekarang,
“Kok gitu? Kenapa? Suara dan tarianku sudah bagus kan?”

Tentu saja dengan membusungkan dada aku berani mengatakan kalau suaraku lebih bagus dari artis yang sangat tenar jaman sekarang ini, ehm..
Siapa ya namanya? Gunung—? Yah itulah, pokoknya artis yang sedang naik daun sekarang. Mungkin kalian juga tahu dia.

Demi mengembangkan suara dan tarianku saja aku rela ke New York.
Ah, ya, maaf aku bohong

Sebenarnya aku latihan sendiri sambil meniru si artis—ah sudah, kita sebut saja Gunung supaya gampang. Tapi jangan salah, aku sudah mengembangkannya lagi lho. Mangkanya aku berani bilang kalau suara dan tarianku pasti lebih bagus darinya.

“Suara dan tarian sih bagus.. Tapi apa ya? Seperti ada yang kurang.”

“Apa lagi sih?” Ucapku tidak sabaran.
“Mungkin.. Kamu kurang cocok untuk jadi penyanyi solo—“

“Heeee?! Yang bener?”
———————————————————————-
“Cih, ditolak lagi..” bisikku sembari melangkahkan kedua kakiku mengelilingi taman.

Kalau diingat ingat sudah ke 28 kali aku ikut audisi. Kenapa semua selalu bilang kalau aku nggak bisa bernyanyi solo?
Mereka tahu darimana? Rekaman saja belum..

Kakiku kemudian membawaku menuju mesin minuman. Dan.. Ada seorang wanita berambut pendek yang sepertinya kesulitan memasukkan uang kertas ke dalam mesin itu.

Jangan jangan ini… Ini yang namanya pertemuan takdir? Siapa tahu dia seorang pemilik agency yang akan menerimaku kalau aku membantunya? Heheheh…

“Ehem!”

“…”

“Ehem ehem!!”

“…?!” wanita itu menunjukkan wajahnya yang terkejut.

“Hm?”

“Berhasil!” Ucap gadis itu seraya pergi dari tempat semulanya.

Tapi, gadis itu tidak membawa apa apa. Bukannya seharusnya dia membawa minuman? Mecurigakan…

Jangan jangan—!

“Hei, kamu!! Tunggu sebentar!!” Aku langsung mengejar wanita berambut pendek itu.

“Eh? Apa? Apa..??” Refleks, wanita itu pun ikut berlari. Tentu saja, ia pasti berlari. Toh dia bersalah.. Tidak salah lagi, wanita itu menyambil uang dari mesin minuman!

Memang kedengarannya tidak masuk akal. Biasanya orang akan mengambil uang dari mesin telepon. Mungkin wanita ini kurang waras? Tuhan saja yang tahu.

“Kau, pencuri kan!?” Teriakku sambil mengejarnya.

“He? Nggak, ini bukan mencuri, ini bukan mencuri!!” Ucap wanita itu, mempercepat lariannya.

Haha, tapi sayang sekali. Dengan kaki dancerku yang cekatan ini, wanita itu sudah pasti tidak bisa lari dariku. Apalagi aku pria, dia wanita, hahaha!

Tapi, dia cukup cekatan juga lho untuk seorang wanita. Siapa sangka ada wanita yang bisa lari secepat itu. Jangan jangan dia atlet? Hm, hanya Tuhan yang tahu.

Aku langsung melompat di atas wanita itu untuk menangkapnya, “Tertangkap kau!” Teriakku.

“GYAA—!” Teriaknya langsung terhenti begitu tubuhku menindihnya.

“Nah, cepat kembalikan uang itu!”

“Kenapa? Aku tidak mencuri kok!”

“Oh, kau nggak ngaku ya? Aku, Arioka Daiki, demi nama bulan aku akan menghukummu!”

Setelah mengatakan kalimat terkenal itu, aku langsung memegang erat kedua tangan wanita itu agar ia tidak kabur. Untuk ukuran wanita, tangannya lumayan besar. Mungkin dia pemain tennis atau bulutangkis? Atau malah basket? Hm..

“Tolong, jangan hukum aku. Apalagi demi nama bulan,” Ucapnya gemetaran,”Aku Cuma pekerja di perusahaan mesin penjual minuman.”

“Pekerja?”

“I—iya, hari ini aku bertugas di Taman Kamome untuk mengambil uang pada mesin yang sudah penuh uangnya. Tapi karena ada uang yang menyangkut, aku terpaksa harus menariknya dari luar,”
Jelasnya panjang lebar,”Apa kau tidak melihat kaosku ini? Bukannya kau pernah melihatnya?”

Sambil tetap memegang kedua tangannya erat erat, aku menengok sedikit ke bagian depan tubuhnya. Di dada sebelah kanannya terdapat tulisan ‘Koli Kola’ Yap, itu merk mesin penjual minuman tadi. Di dada sebelah kiri—oke, mungkin sekarang aku terdengar seperti orang mesum yang mengobservasi wanita ini.

Tapi, ini demi bangsa dan negara!

Di dada sebelah kirinya ada kartu tanda pengenal

‘Hai,
Namaku: Inoo Kei
Jabatan: Service Team’
Inoo Kei.. Nama yang lucu tapi kok kayak nama cowok ya?

“Aku nggak bersalah, kan?” Seakan akan ia tahu kalau aku selesai memeriksanya, ia menanyakannya.

“Hm, kau aman sekarang, kau boleh pergi.” Ucapku sambil sedikit arogan.
Wanita itu pun pergi.., wanita?

“Tunggu sebentar!”

“Kenapa lagi?”

“Kau wanita atau pria?”

“Aku cowok tulen!” ucapnya sedikit berteriak.

Jangan salah sangka, aku nggak terkejut sama sekali kok.

“Masa kamu lupa denganku?”

“Kita pernah bertemu?” Memang kejadian hari ini sedikit mengundang Deja Vu. Tapi aku nggak pernah berhubungan sama petugas penjual mesin minuman kok.

“Tentu saja, aku ketua Agency Johnny’s Entertainment—yang pernah ingin merekrutmu—apa kamu sudah lupa?”

Aku langsung memengang kedua tangannya, “Ternyata, pertemuan kita ini memang takdir! Aku mau bekerja di agencymu!”

“Haha, lucu sekali.” Ucapnya kemudian melepaskan tangannya dari genggamanku sambil berkata,

“Bukannya kamu sudah menolakku? Aku, Arioka Daiki tidak mau bekerja di agency murahan seperti ini! Katamu.”

“Eh? Aku pernah bilang gitu ya? Maaf ya, hehe” Kutunjukkan wajahku yang paling lucu nan imut— abaikan kataku yang barusan.

“Maaf, ya, aku nggak akan pernah menerima orang yang sudah pernah menolakku.” Sambungnya ketus dan menurutku sama sekali tidak cocok dengan figurnya yang lumayan feminim untuk seorang pria.

Setelah mengatakannya, ia pun langsung pergi dengan hentakan kaki yang lumayan keras. Mungkin cukup keras sampai sampai aku bisa mendengarnya dari sini.

Cih, sayang sekali. Coba kalau tadi betul betul pertemuan yang ditakdirkan. Kayak yang di sinetron sinetron itu hehe. Tapi kalau dipikir – pikir lagi, bukannya Inoo Kei tadi seorang ketua agency? Kenapa..?

“Hei, tunggu sebentar!” Ucapku untuk kesekian kalinya.

“Astaga, for the love of God,apa lagi?!”

“Kenapa kau jadi petugas penjual minuman? Bukannya kau ketua agency?”

Angin berhembus sepoi sepoi. Walaupun hembusannya kecil, angin tersebut masih bisa mengangkat daun daun untuk bergerak berputar putar di antara kami. Suasana dramatis yang tidak akan pernah aku lupakan.

“Kenapa kau tanya begitu?”

“Karena.. Aku ingin tahu.” Jawabku singkat.

“Alasan yang aneh. Bagaimana kalau kau datang ke agency-ku saja dan melihat apa yang sebenarnya terjadi?” Ucapnya seraya memberikan kartu tanda pengenal yang berisikan nama agency serta alamat kantornya.

Oke, aku akan langsung menuju ke kantor agency ini! Mari kita lihat apa yang ada di dalam agency nya.

“Aku akan ke sana!” Aku pun berlari menuju alamat yang ada di agency itu.
Mungkin di agency ini ada masalah. Aku akan menyelamatkan agency ini dan menjadi idol nomer 1 di dunia! Bwahahahah! Ini adalah masa baru untuk para idol!
——————————————————————————
Sebuah apartement besar yang memiliki 15 lantai dan terlihat berwarna biru karena jendelanya yang transparan. Lebarnya kira kira 20 orang dewasa bisa memeluk bangunan ini.
Johnnys Enternaiment BESAAAR!!
Ini pertama kalinya aku melihat apartemen sebesar ini. Tentu saja yang namanya agency harus besar. Betul kan? Yosh, ayo kita langsung mesuk ke dalam dan kita lihat seberapa luas tempat latihan para idol yang ada di agency ini!

Aku pun menuju meja lobby, “Permisi, apa benar ini Johnnys Entertaiment?” tanyaku pada seorang wanita yang bekerja di sana.

“Oh, selamat datang. Johnnys Entertaiment ada di lantai 9 kamar 20, 21, 22, dan kamar besar 25. Sebelum masuk, silakan isi buku tamu ini dan saya akan menelepon pemiliknya. Silakan tunggu sebentar.”

Aku mengambil pena yang ada di sampingku kemudian menuliskan namaku, tanda tangan, kamar yang dituju… Eh? Tunggu sebentar. Kamar? Jangan jangan ini bukan kantor agency melainkan apartemen?! Eeh? Daritadi aku bilang pada kalian kalau ini apartemen dan aku masih belum menyadarinya? Tunggu dulu.. Mereka tidak punya kantor agency? Mereka menyewa apartemen? Apa dia masih bisa dibilang produser idol?

“Apa benar anda tuan Arioka Daiki?”

“Ha? Oh, iya.” Jawabku sedikit tergagap.

“Saat ini tuan Inoo Kei sedang keluar. Tapi ia memperbolehkan anda masuk. Ini master key kamar besar 25,” Wanita itu piun memberikan kuncinya, “Silakan naik melalui tangga darurat di samping toilet wanita.”

“Liftnya kenapa?”

“Liftnya tidak bermasalah. Namun, setiap orang yang ingin menuju kamar milik tuan Inoo Kei harus menaiki tangga. Tidak boleh menggunakan lift, mohon maaf atas ketidaknyamanannya..”

“Iya, tidak apa apa kok hahaha.”
Aku akhirnya menuju kamar tersebut. Dengan menaiki tangga darurat, tentu saja.

Setelah 10 menit menaiki tangga darurat menuju lantai 9, aku akhirnya sampai di kamar yang kutuju.
Kamar 25. Wanita yang ada di lobby tadi menyebutkan kamar besar 25 ya? Kalau begitu kamarnya besar. Iya kan? Mungkin ini tempat latihan dancenya.
Kamar 25.. Kamar 25 Ah, itu dia! Di depan kamar itu aku mendengar suara musik yang sangat keras. Bingo! Mereka pasti sedang latihan menari. Aku pun membuka pintunya, “Hai semua!”

Lagu yang keras itu masih berbunyi namun, semua yang ada di dalamnya melakukan aktivitasnya masing masing.

Ada yang bermain Hp, menata rambut, membaca majalah, dan bermain Hp lagi.

Tapi tempat itu jelas jelas tempat untuk latihan menari. Ada kaca besar yang memenuhi dinding, lantainya juga dari kayu licin.

“Siapa kamu? Ngapain di sini, haah?!” Ucap seorang yang tiba tiba saja ada di depanku. Wajahnya seram bangett! Mirip wajah salah satu murid nakal yang aku tonton di drama Gokusen.. Hii!

“Oh, maaf salah kamar.” Aku pun menutup pintu tersebut.

Apa aku salah kamar? Kok di kamar itu muncul orang serem kayak gitu? Oh, ya, di kartu milik Inoo Kei tadi ada nomer Hpnya kan? Coba kita telpon.

[Turuuu… Turuuu.. Tu— Trek! Halo?]

“Ha.. Halo”

[Siapa?]

Kok kayaknya aku tahu suara ini ya? Ini bukan suara Inoo Kei. Suara Inoo Kei lebih ringan, tidak seberat suara ini. Siapa kauu??

[Aku tanya, siapa kau?!]

“Gyaaa!!” Teriakku sambil menutup telpon tadi. Gimana aku nggak kaget? Kalian juga pasti sudah tahu kan? Itu suara pria seram tadi!

Cklek! Pintu di sebelahku terbuka.

“Kau mau apa hah?”

“GYAAAA!! PRIA SERAM!!” Teriakku.

“Apa? Pria seram?! Aku nggak seram kok.” Jawabnya sambil menurunkan volumenya sedikit, “Itu, kartu agency kita.. Ya kan? Masuklah.” Sambungnya lebih lembut.

Aku pun mengikutinya dan masuk ke dalam agency itu, “Aku, ingin jadi idol!” ucapku keras, namun tidak mengalahkan suara musik di ruangan itu.

Semua yang ada di dalam kamar itu pun melihatku.

“Hahah! Kau menarik sekali!”

“Ya, sangat aneh!”

“E—hehe?”

Jawaban dari orang orang yang tidak kukenal, “Oke, aku akan tunjukkan bakatku!” Aku pun mematikan radio mereka dan memutar musik di Hpku. Tentu saja lagu buatanku yang tersayang, RELOAD! Lagu yang kumainkan dengan gitar ini akan menggetarkan seluruh dunia! Bwahahah!

Chikara o Kashite, Music! Hey, DJ Beat Drop!
Yuuki o kure, Music! Hey, DJ Beat Drop!

4 menit laguku pun berlalu, “Gimana?”

“Hm, bagus, ternyata kau memang menarik. Namaku Takaki Yuya, yoroshiku.”

“Namaku Yaotome Hikaru. Jangan jangan lagu tadi itu untuk merayuku ya? Haha”

“Aku Yabu Kota. Semoga kau suka di sini.”

“Suka di sini? Itu berarti aku diterima di agency ini? Produser gimana?”

“Yang memutuskan anggota kami sendiri kok. Biarkan saja produser itu.” Jawab Hikaru yang kemudian mengambil majalahnya dan membacanya kembali.

“Yeeey!!” Teriakku sambil melompat lompat di udara. Aku, Arioka Daiki sekarang telah menjadi idol, walupun kecil kecilan heehee.

“Tapi, kayaknya ada yang kurang ya?” Ucap Yabu sambil meletakkan tangannya didagunya, pose berpikir.
Ah, lagi lagi kata kata itu. Kenapa semuanya selalu bilang kayak gitu sih?
“Apa yang kurang? Dance dan suaraku seharusnya sudah sempurna kan? Kalian juga sudah menerimaku di sini. Artinya sudah tidak perlu diperbaiki kan? Ini sudah sempurna, kan?”

“Oi oi, jangan emosi dulu, Dai-chan”
Dai-Chan? Apa apaan panggilan itu, Hikaru?!

“Memang betul kata Yabu, ada yang kurang.” Sambung Yuya.

“Yap, kau tau, Dai-Chan?” Kata Yabu sambil berjalan mendekatiku kemudian meletakkan tangannya di bahuku, “Kau butuh kami.”

“Eh? Maksudnya?”

“Bagaimana kalau kau bergroup dengan kami. Mau mencoba?” Yabu pun mengambil Hpku—mungkin lebih tepatnya mencuri Hpku—dari dalam kantongku. Kemudian ia memutar lagu RELOAD yang sudah kuputar tadi.
Dan mereka bertiga mulai menari sambil menyanyi.

Dengan harmoni yang belum pernah kulihat, koreografi yang profesional—menurutku.

“Ayo, Dai-Chan!” Teriak mereka bersama.

“Hu u, yeah! Nana nana nanana.. na oh!”

A beautiful day hitomebore tatazumu kimi ni Mellow Mellow 
oshiete Find a way takaburu kimochi o kakusenai Tonight 

meikakuna koi dōshitara ī?
Kimi no me ni utsuru tame ni 

chikara o kashite Music! Hey! DJ Beat Drop
terekakushi no hatto Say “Hat” 
hotto Say “Hot” hora Moving on!
Karada o yurase Dancing! Say! Issho ni Sing it
Groove o kanjite… Say “Hat” 
A – ha Say “Hot” Hey kometa negai
Reload… 

“Kereen! Kalau dengan kalian, mungkin bisa melebihi Gunung!” Ucapku setelah selesai menari bersama 3 orang itu,

“Kalau ada 1 orang lagi, mungkin ini akan lebih perfect!”

“Panggil saja produser. Dia yang mengajari kita bernyanyi dan menari kok.” Ucap Yuya.

“Oke! Kalau gitu, kita, Regu Daiki siap melebihi Gunung!” Aku memasang pose superman.

“Regu Daiki, apaan tuh? Gimana kalau regu kita yang lama ini kedatangan seorang anggota baru?” Usul Hikaru sambil sedikit mentertawakanku.

“Regu kalian yang lama?”

“Ya, kami, BEST—Best Excellent Select Team!” Ucap Yabu.

“Kereen! Ayo langsung debut! Taklukkan Gunung!”

“Apaan sih, Dai-Chan? Gunung gunung melulu? Kau suka memanjat gunung ya? Mau debut di gunung?” Tanya Yuya sambil memasang senyum yang dipaksakan.

“Gunung, itu loh, artis terkenal jaman sekarang! Gunung.. Gunung apaan sih?” Jawabku yang memang kedengaran aneh.

“Yamada Ryosuke?” Kata seorang yang tiba tiba muncul dari balik pintu, yap, itu adalah produser—Inoo Kei!

“Ya! Dia! Betul!” Benar juga, namanya Yamada Ryosuke! Gimana? Kalian juga tau nggak? Dia terkenal banget lho! Mungkin semua orang di Jepang pun kenal sama Yamada ini.

“Dulu, dia juga se-group dengan kita, Hey Say JUMP. Sayangnya ia dan kawan kawannya memisahkan diri dengan nama Hey! Say! 7” Jelas Inoo sambil memasang wajah murung.

“Kita ajak gabung saja! Pasti dia mau kalau kita sudah berkembang seperti ini, benar kan?”

“Tidak, kita tidak berkembang sama sekali.” Ucap Hikaru menolakku, “Untuk masuk perlombaan saja kita tidak berani, karena ada dia. Selalu Hey! Say! 7 menjadi juaranya.”

Setelah mendengarnya, aku langsung mengambil majalah yang sedari tadi dibaca oleh Hikaru. “Gimana kalau kita ikut Music Stations Competition ini saja? Yamada juga ada kan? Kalau kita menang, mereka harus mau tampil di panggung bersama kita. Begitu saja gimana?”

“Hm, ide yang nggak buruk. Tapi, memangnya dia mau?” Tanya Inoo Kei.

“Tentu saja mau! Kembali berdiri di panggung yang sama dengan mantan rekannya. Bukankah itu seperti perayaan ulang tahun yang ke 17? Semua teman datang, berkumpul, dan melakukan hal yang sama sama disukai.”

“Benar juga ya.”“Hm, tidak buruk.”“Aku sih boleh saja, Produser?”

“Oke, ayo kita ikut!” Ucap Inoo Kei bersemangat.
“YO!”
——————————————————————————-
Tanpa perlu basa basi, aku sendiri juga tidak sabar memberitahukannya pada kalian, hehe. Kami masuk juara 2!

Tentu saja juara 1 nya Hey! Say! 7 dengan anggotanya, Yamada, Chinen, Yuto, dan Keito yang membawakan lagu Hey! Say! Yang sangat keren sekaligus memotivasi. Dan BEST membawakan laguku! RELOAD yang juga nggak kalah keren dong!

Tapi, Hey! Say JUMP terbentuk lagi! Lebih tepatnya sih terbentuk ulang karena tambahan anggota, yaitu aku!
Setelah tampil dipanggung bersama sama saat Music Stations Competition berakhir (karena Hey! Say! 7 yang menginginkannya) para Hey! Say! JUMP ini menagis bersama di atas panggung.

Kata Yamada sih soalnya mereka sebenarnya tidak ingin berpisah dan ternyata BEST sudah berkembang dengan bertambahnya aku, sebagai anggota! Yang benar saja, sudah 7 tahun bersama sama di panggung tiba tiba berpisah, hm, tidak terbayangkan kenapa bagaimana rasa kangennya.

Yang pasti, aku sangat senang bisa bersama mereka! Mereka adalah group paling hebat! Setalah ini, Kami akan menaklukkan Jepang, jadi mohon dukungannya ya, semua!

Aku, Arioka Daiki, anggota Hey! Say! JUMP telah menjadi idol dan akan menjadi yang nomer 1 di Jepang! Pastikan kalian terus mendukung kami!
———————————————————————————————————-
Nama: Peggy
Facebook: Peggy Ignatia
My ichiban : Yama-Chan! >w
Author’s Note: Akhirnya selesai juga fanfic yang saya buat sembunyi sembunyi karena akan UTS ini (lol) Semoga para juri, juga pembaca lainnya bisa enjoy membacanya. Maaf tata bahasa jelak dan typonya banyak (maklum buru2), saya mau bikin karakternya Dai-Chan lebih keliatan lagi soalnya. Maaf juga, kalau tidak sesuai tema (mending saya nggak usah menang deh XD) Makasih udh ngasih kesempatan untuk ikut lomba ini! Semoga cerita ini bisa dinikmati semua orang! JUMP!

Save

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Arioka Daiki’s Idol Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s