[Multichapter] ICHIGO PRINCE (part 1)

Title : “Ichigo Prince”
Genre : Romance
Rating : G
Author : Koizumi Arina
Type : Multichapter
Chapter: 1

Character :

  • Okamoto Keito
  • Fujiwara Atsuko
  • Chara – chara lainnya


Koridor sekolah masih seperti hari – hari biasa. Gadis – gadis sibuk dengan poster dan banner dengan wajah seorang pria dengan wajah tanpa ekspresi yang menjadi incaran no 1 di sekolah ini. Dan inilah salah satu resiko bersekolah disana, harus terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Di sepanjang koridor sekolah terpampang foto – foto dengan orang yang sama.

Meio Gakuen. Adalah sekolah khusus kerajaan di Jepang, yang mana artinya yang bisa bersekolah disana, adalah anggota kerajaan. Mulai dari Putra atau Putri Mahkota, Pangeran atau anak – anak dari menteri – menteri. Namun, jangan dibilang umum tidak bisa masuk. Bisa. Namun harus melalui seleksi yang sangat ketat. Namun, jika kau punya orang tua yang sangat kaya dan yakin hartamu tidak akan habis meski tujuh turunan, maka tanpa mengikuti ujian pun kau bisa masuk ke sekolah ini.

“Acchan,,, Acchan… Fujiwara Atsuko!!!” panggil seorang gadis kepada gadis lainnya yang sedang berjalan santai di depannya. Namun gadis yang dipanggilnya itu sama sekali tidak mendengarnya, hingga gadis itu harus menepuk pundaknya.

Gadis yang bernama Fujiwara Atsuko itu pun berbalik. Sebuah bandana putih dengan corak Strawberry tersampir dikepala gadis itu. Dan sebuah kamera digital tergantung dilehernya. Dia lalu melepas headset yang terpasang manis di telinganya dan memandang kepada gadis yang memanggilnya itu dengan wajah bingung.

“Naoko? Doushita?” tanya gadis itu.

“Pantas saja kau dipanggil tidak mendengar… itu, kau sudah lihat pengumuman di klub?” tanya gadis itu.

Atsuko menggeleng heran. “Pengumuman yang mana? Kontes foto kucing dengan hadiah makan siang gratis selama seminggu? Aku sudah mendapatkan voucher’a…” kata gadis itu sambil merogoh saku rompi seragamnya dan menunjukkan pada gadis itu.

Naoko mengangguk dengan antusias. “Jadi sekarang kita bisa makan bersama di kantin kan?” tanya gadis itu namun belum sempat Atsuko menjawab apa pun, gadis itu sudah ditarik pergi menuju kantin.

Karena berjalan harus ditarik oleh Naoko ke kantin, gadis itu tidak bisa mengontrol jalannya dengan baik. Sampai naoko berhenti, Atsuko harus mengerem dan akhirnya menabrak seseorang hingga nampan yang dibawanya jatuh.

“Sumimasen,,, sumimasen deshita!” kata gadis itu membungkuk berkali – kali tanpa melihat siapa yang ditabraknya.

Namun tiba – tiba beberapa pria berseragam. Memegang tangan gadis itu dan menegakkan tubuhnya.

“Cho… chotto! Nani kore?” protes gadis itu kepada pria yang memegang tangannya itu.

“Lepaskan dia!” perintah suara dingin seorang pria.

“Tapi Yang Mulia,,, gadis ini…”

“LEPASKAN KATAKU!!!” kata pria itu tegas.

Mendengar suara keras yang hampir mirip bentakan itu membuat pria – pria tadi melepaskan genggamannya. Atsuko sendiri langsung melihat sosok pria yang ditabraknya sekaligus yang membentak tadi.

Matanya terbelalak melihat sosok pria itu. Dia adalah pria yang sama dengan yang ada di banner dan poster yang menggantung di dinding koridor sekolah maupun menjadi wallpaper ponsel hampir semua gadis – gadis di sekolah itu. Sang Putra Mahkota Kekaisaran Jepang, Okamoto Keito.

“Kita pergi saja,,, aku sudah tidak lapar lagi…” kata pria itu dingin lalu berjalan melewati Atsuko yang menyeritkan keningnya, masih bingung dengan kejadian barusan.

“Acchan,,, daijobu?” tanya Naoko yang langsung menghampiri sahabatnya itu.

Atsuko memandang kearah pintu kantin dimana sosok pria tadi dengan pengawalan ketat tentunya baru saja menghilang dari pandangannya dengan kesal.

“Apa-apaan pria itu? Hanya bersekolah saja harus mendapat pengawalan ketat seperti itu! Dan apa itu tadi sikap para pria menegerikan itu? Apa aku punya wajah criminal sampai harus di pegang seperti tadi. Benar – benar…” omel gadis itu tak habis pikir.

Naoko mengelus pundak sahabatnya itu dengan tatapan meringis. “Kau baru saja masuk, ne… sejak sekolah dasar dia selalu mendapat pengawalan seperti itu. Tentu saja karena dia Putra Mahkota negeri ini…” kata gadis itu.

Atsuko memandang galak kepada sahabatnya itu. “Mau dia Putra Mahkota, mau di Super Model sekalipun, aku tidak peduli dengannya! Dan jangan pernah menyebut pria itu lagi. Apa – apaan itu…” rutuk gadis itu sambil berjalan menuju stand makanan dengan langkah cepat sambil meninggalkan sahabatnya yang hanya bisa geleng – geleng kepala.

**********

Sementara itu,

“Sudah kubilang pada kalian,,, jangan ikuti aku didalam wilayah sekolah. Kalian cukup mengawalku hingga pintu masuk…” kata pria yang baru saja ditabrak Atsuko tadi dan kini sedang mengganti blazernya dengan blazer lain di sudah tersedia di dalam locker’nya.

“Tapi ini perintah dari Yang Mulia Permaisuri,,, kami hanya menjalankan perintah.” Kata salah satu pengawalnya.

Keito memandang kembali pengawalnya dengan dingin. “Ini disekolah! Siapa yang mau mencelakakan aku? aku butuh privasi untuk belajar… dan jangan ikuti aku!” ancam pria itu kemudian berjalan cepat pergi dari pengawalnya.

Namun pengawalnya masih mengikutinya. Keito yang merasa diikuti terpaksa berhenti dan berbalik. Pria itu kemudian mendekati pengawalnya dengan kesal. “Jaga jarak denganku!!” perintahnya tegas kemudian kembali berjalan menuju ke kelasnya.

————————————-

“Tadaima… aaa,,, tsukareta…” kata Atsuko sambil masuk kedalam apartemennya saat hari sudah sangat gelap.

Sebuah apartemen kecil di daerah pinggiran kota Tokyo. Meski kecil dan sangat sederhana, namun cukup untuk berteduh dan tinggal gadis itu seorang diri.

Atsuko berasal dari salah satu panti asuhan di kota Hokkaido. Gadis itu penuh ambisi untuk menjadi seorang yang sukses. Karena itu sejak kecil dia selalu belajar dengan giat dan menabung uang yang didapatnya selama berkerja paruh waktu. Hingga dia lulus SMP, dia ikut ujian masuk ke Meio Gakuen berharap pendidikan yang nanti diterimanya dapat membuat dia bisa masuk perguruan tinggi terbaik dan dapat pekerjaan yang layak.

Dengan uang tabungannya, dia memulai kehidupannya di Tokyo. Dan bekerja paruh waktu di setelah jam sekolah di salah satu supermarket. Dia mendapat hak istimewa untuk itu dari sekolah karena sampai sekarang nilainya bagus dan dia berhasil menyabet berbagai penghargaan dan mengangkat nama sekolahnya.

Bekerja di supermarket membuatnya bisa membeli bahan – bahan makanan dengan harga hampir gratis. Dan juga, kegiatannya di klub fotografer di sekolahnya yang sering kali mengadakan kontes dengan hadiah – hadiah sederhana untuk mereka namun sangat menggiurkan untuk dirinya, membantu kehidupannya di Tokyo.

Atsuko kini duduk di dekat kotatsu dan menjatuhkan kepalanya di atas kotatsu itu dan menghela napas berat. Gadis itu lalu berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil beberapa buku dari dalam tasnya.

“Acchan! Ganbaro ne…” kata gadis itu menyemangati dirinya sendiri.

Dia lalu mulai mengerjakan tugas – tugas yang diterimanya dari sekolah. Hingga jam sudah menunjukkan pukul 9, gadis itu baru selesai mengerjakan tugasnya. Kemudian dia pergi mandi dan berganti pakaian. Kemudian dia membentang futon, untuknya beristirahat. Gadis itu membuka jendela sambil memandang jendela dia menangkupkan tangannya kemudian memejamkan matanya.

“Kamisama,,, hari yang melelahkan. Dan seperti yang kau tau, pengalaman hari ini aku harus tabrakan dengan Putra Mahkota beku tanpa ekspresi itu. Padahal selama ini aku berdoa padamu agar aku tidak terlibat apa – apa dengannya, tapi kau pasti punya rencana lain kan? Ya sudahlah, yang tadi kuterima saja. Oh ya, tadi ketika aku bekerja, Kanazawa-sensei memberiku bahan makanan berlebih dari biasa yang seharusnya ku terima. Katanya ini karena kerja kerasku,,, aku sangat senang, dan sepertinya untuk seminggu ini aku punya cukup makanan. Dan juga aku berhasil memenangkan kontes foto, sehingga aku bisa makan siang gratis di kantin sekolah… arigatou ne, kamisama…” kata gadis itu sambil tersenyum dan tetap memejamkan matanya.

Tiba – tiba sebuah bintang jatuh tepat ketika gadis itu berdoa, “Kamisama,,, ku harap, semoga aku mendapat pengalaman tak terlupakan di hidupku di tahun kedua ku di SMA ini. Kau tau kan, masa paling tak terlupakan itu masa di kelas 2 SMA? Dan ku harap aku mendapat kenangan manis dan tak terlupakan, tolong kabulkan doa ku ini… Amin…” kata gadis itu.

Kemudian dia membuka matanya sambil melihat kelangit. Langit tampak cerah dengan bintang berkedip padanya. Kemudian gadis itu menutup jendelanya dan berbaring di futonnya.

“Oyasumi…” bisik gadis itu sebelum memejamkan matanya.

**********

Ketika di pinggir sana Atsuko sedang tertidur dengan pulas, maka di bagian sini suasana sedang gempar. Tepatnya di dalam istana. Sebuah mobil ambulan baru saja keluar dari gerbang istana bersama dengan beberapa mobil – mobil kerajaan lainnya menuju rumah sakit pusat. Dan dirumah sakit sendiri, dokter dan suster yang bertugas sibuk dengan peralatan medis juga menyulap 3 ruang VVIP di lantai 3 menjadi sebuah kamar khusus.

Tak lama kemudian, rombongan dari istana datang, tampak seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan infus dan alat bantu pernapasan yang sudah terpasang ditubuhnya. Disampingnya seorang pria yang tidak lain adalah sang Putra Mahkota menggenggam tangan wanita itu dengan perasaan cemas.

Beberapa saat kemudian, wanita itu sudah selesai diperiksa dan dokter yang merawat akhirnya pergi dari kamar dan meninggalkan Keito bersama wanita itu.

“Obaasama,,,” desis pria itu sambil tetap menggenggam tangannya.

Wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu tidak lain dan tidak bukan adalah ibu Suri, atau nenek sang Putra Mahkota.

Tiba – tiba pintu kamar kembali terbuka dan tampak sosok seorang pria berseragam hitam seperti bodyguard nya di luar masuk. Namun wajah pria itu lebih ramah dengan kacamata bertengger diwajahnya.

“Yang Mulia…” kata pria itu sambil membungkuk hormat.

“Tuan Sekretaris? Kau disini? Dimana Okaasama?” tanya Keito.

Pria yang dipanggil sekretaris tadi hanya tersenyum. “Yang Mulia, Permaisuri tidak bisa ikut datang, beliau hanya mengutusku untuk melihat perkembangan Ibu Suri dan Yang Mulia Putra Mahkota disini… dan juga beliau menyuruh Yang Mulia untuk segera pulang ke istana…” kata pria itu.

Keito mendengus dengan keras mendengarnya. “Selalu seperti itu bahkan setelah Otousama pergi. Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan keluarga kecuali dirinya sendiri. Dan sekarang ketika obaasama dirumah sakit juga, dia masih memikirkan dirinya sendiri…” kata pria itu dingin.

Sekretaris istana hanya tersenyum. “Meski kelihatannya seperti itu, sebenarnya Yang Mulia sangat menyayangi keluarga kerajaan. Hanya dia harus berada di istana, karena Yang Mulia berada di sini untuk menemani Ibu Suri…” kata pria itu.

“Aku tidak ingin mendengar apa pun tentang wanita itu!” tandas pria itu. “Siapkan saja barang – barangku, aku ingin menginap disini…” kata pria itu lagi.

Sekretaris istana hanya mengangguk kemudian membungkuk hormat untuk menjalankan perintah Putra Mahkota itu.

Keito kembali mengarahkan pandangannya pada wanita tua yang masih terbaring lemah di tempat tidur. Pria itu kembali menggenggam erat tangan wanita itu dan mengecupnya pelan.

“Obaasama,,, jangan tinggalin aku, aku masih membutuhkan mu…” desis pria itu.

———————————————

Atsuko memandang bingung ke seantreo sekolah. Sungguh pemandangan unik dan luar biasa. Seluruh siswa perempuan menangis bersama dengan tersedu-sedu. Bahkan ada yang saling berpelukan dengan sesamanya dan menangis. Pemandangan itu terus berlanjut hingga dia masuk kedalam kelas. Dan pemandangan di dalam kelas lebih hebat lagi. Semuanya menangis dan hanya para siswa laki – laki berpandangan sambil geleng – geleng kepala.

Atsuko berjalan ke tempat duduknya dan menanyai siswi yang duduk dibelakangnya. Naoko.

“Naoko,,, doushite?” tanya gadis itu.

“Hiks, Acchan.. doushiyo? Hiks …” kata gadis itu sambil menangis tersedu – sedu.

Atsuko mengelus punggung temannya itu dengan wajah prihatin. “Ayo cerita, ada apa sebenarnya?” tanya gadis itu lagi.

“Ibu Suri,,, Ibu Suri jatuh sakit… huweeeeee…” setelah berkata seperti itu tangisan gadis itu semakin kencang.

Atsuko mendadak lemas dan memandang temannya itu dengan tatapan malas. “Hanya itu?” tanyanya.

Naoko mengangguk. “Putra Mahkota pasti sedih sekali saat ini,,, kau tau? Ibu Suri adalah orang yang paling dia sayangi… Atsu-chan, doushite? Putra Mahkota saat ini pasti sedang menangis… hiks hiks hiks…” kata gadis itu lagi dengan histeris.

Atsuko hanya memandang temannya itu dengan wajah tanpa ekspresi. Jadi hanya karena ini seluruh gadis seantreo sekolah, selain dirinya tentu saja, menangis histeris tanpa henti. Hanya karena ini? Sebenarnya dia masuk ke sekolah seperti apa?

Gadis itu akhirnya memutuskan keluar dari kelasnya karena sudah tidak tahan dan berjalan keluar mencari angin segar. Namun sepanjang koridor dia hanya menemukan hal yang sama, akhirnya dia berjalan menuju ruang klub fotografer berharap mendapat ketenangan.

Dan seperti dugaannya, ruangan itu sepi. Atsuko menghela napas lega kemudian menjatuhkan dirinya di sofa yang berada di tengah ruangan itu.

“Ah… kimochi na…” seru gadis itu.

“Apa yang kau lakukan disini? Belum saatnya berkumpul untuk kegiatan!” bentak seseorang yang baru saja keluar dari salah satu ruang yang bertuliskan ruang gelap. Ruang untuk mencuci foto – foto hasil pengambilan anggota klub.

“Kaoru… senpai? Sumimasen…” kata gadis itu langsung berdiri.

Gadis yang di panggil Kaoru-senpai oleh Atsuko tadi mengintip sebentar keluar sebelum menutup pintu ruang klub kembali.

“Haaah… apa yang dilakukan siswi – siswi itu, menangis histeris seperti itu? Membuang air mata dan tenaga saja…” gerutu wanita itu sambil duduk di atas meja dengan nametag bertuliskan “Ketua Klub”

Atsuko menggaruk kepalanya kemudian duduk kembali ke sofa. “Itu,,, apa senpai tau bahwa Ibu Suri jatuh sakit… karena itulah mereka menangis…” kata gadis itu.

Kaoru melihat kearah Atsuko sebentar kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya pada foto – foto yang baru selesai di cetaknya itu dan sebuah scrapbook.

“Seperti tidak ada hal yang lebih penting saja untuk dikerjakan…” gerutu wanita itu lagi. “dan kau sendiri? Tidak ikut euphoria ini?” tanya Kaoru lagi.

Atsuko menggeleng. “Aku tidak tertarik sama sekali dengan keluarga kerajaan. Lagipula, alasan utama aku masuk ke sekolah ini adalah agar aku bisa masuk ke universitas terbaik…” kata gadis itu.

Kaoru mengangguk mendengar penuturan itu. “Baguslah… setidaknya kau tidak ikutan bodoh seperti gadis – gadis diluar sana itu…” celetuk wanita itu. “Ah,,, bagaimana kalau kau membantu ku mengurus foto – foto ini… aku sedang menyusunnya di scrapbook, dan seperti yang ku tau kau punya cukup kreatifitas untuk mengaturnya…” kata wanita itu.

“Hai, senpai…” jawab Atsuko bersemangat. Kemudian berjalan mendekati meja Kaoru untuk mengambil bahan – bahannya.

**********

Sudah tiga hari dilalui Atsuko dengan suasana yang sama. Ibu Suri masih belum sadarkan diri, dan Putra Mahkota masih belum masuk kesekolah karena harus menemani neneknya. Dan anehnya, hal ini berdampak besar dengan kegiatan di Meio Gakuen.

Dan hal ini tentu saja membuat jengkel Kaoru sebagai ketua klub karena anggotanya tidak ada yang bersemangat.

“Haaaaahh…” desah Atsuko sambil duduk ditepi danau sekolahnya dengan pandangan tak bersemangat.

“Mendesah keras seperti itu, jangan bilang kau juga tertular virus gadis – gadis di sekolah…” kata Kaoru sambil mengambil tempat disamping Atsuko.

“Senpai?” tanya gadis itu melihat Kaoru.

Kaoru menyerahkan segelas latte yang baru dibelinya di kantin kepada Atsuko. Dan dia mengambil latte miliknya dan mulai meminumnya.

“Arigatou senpai…” kata Atsuko.

Kaoru mengibaskan tangannya acuh. “Tidak usah dipikirkan…” kata gadis itu. “Sekarang klub sudah tidak semenyenangkan beberapa waktu lalu, ne?” kata Kaoru.

“Ne, senpai…” kata Atsuko membenarkan.

Kaoru mendesah keras. “Sebenarnya apa sih yang dipikirkan para gadis itu? Membuang – buang waktu saja…” omel Kaoru lagi.

“Yah… dan ini pertama kalinya untukku mendoakan keluarga kerajaan.” Celetuk Atsuko. Kaoru memandang kohei disampingnya itu dengan pandangan bingung. “Yaaaah… setidaknya jika Ibu Suri sembuh, klub akan berjalan seperti biasa lagi. Dan senpai bisa mengadakan kontes – kontes menyenangkan seperti biasa…” jelas gadis itu.

Kaoru memiringkan kepalanya tampak berpikir. Kemudian gadis itu menatap kamera yang menggantung dileher Atsuko. Perlahan senyuman mengembang dari wajah gadis itu, dia mendapat sebuah ide.

“Atsuko,,, berkatmu aku mendapat sebuah ide…” kata gadis itu.

Atsuko memandang senpai’nya dengan bingung. Namun Kaoru hanya tersenyum misterius dan menarik tangan kohei’nya itu kembali masuk ke gedung sekolah.

**********

“Saa… mohon perhatian sebentar!” kata Kaoru kepada anggota klubnya yang masih murung dan menggalau ria.

Atsuko duduk di sofa memperhatikan apa yang akan dikatakan oleh senpainya itu.

“Putra Mahkota sudah berhari – hari tidak masuk, dan Ibu Suri sedang dirawat. Daripada kalian bergalau ria tak bekesudahan seperti ini, aku akan membuat kompetisi…” kata Kaoru dengan senyum misteriusnya.

Anggota klub tampak mulai memperhatikan sang ketua klub dengan penasaran. Kemudian gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja kerjanya yang terkunci rapat dengan berbagai macam kunci pengaman. Sebuah foto – foto sang Putra Mahkota dengan pose – pose yang keren.

“Yang berhasil memenangkan kompetisi ini akan mendapat ini dan voucher makan gratis di kantin kita sebulan penuh…” kata Kaoru bersemangat.

Terdengar teriakan antusias di seantreo ruang klub. Atsuko tampak berpikir. Jika aku menang, aku bisa mendapat makan gratis, dengan begini aku makin bisa menghemat uang ku. Demo, kenapa harus ada foto itu??? =.=” tapi gak apa,,, bisa ku kasi dengan yang lain… pikir gadis itu kemudian.

“Kompetisinya apa senpai?” tanya salah seorang siswi antusias.

Kaoru tampak tersenyum misterius. “Karena hadiah kali ini ku dapatkan dengan susah payah, maka kompetisinya pun bisa dikatakan sulit…” kata gadis itu. “Kompetisinya adalah, Foto Wajah Putra Mahkota dengan ekspresi yang berbeda!” kata gadis itu.

“Heeeee??” seru anggota yang lain.

“Yang pasti kita tau, ekspresi Putra Mahkota selalu saja, dingin. Dengan Ibu Suri yang sekarang jatuh sakit, dan Ibu Suri sangat disayang oleh Putra Mahkota, sudah pasti Putra Mahkota akan menampilkan ekspresi wajah sedih, dan ini berbeda dari ekspresi biasanya, ne? yaaah… seperti itulah…” kata gadis itu santai.

Wajah antusias anggota klub berubah drastis menjadi bingung. Bagaimana caranya mengambil foto Putra Mahkota yang sedang berwajah sedih, sedangkan rumah sakit dijaga sangat ketat sekarang. Mereka memutar otak untuk mencari cara.

“Waktu yang kalian miliki dua minggu!” kata Kaoru lalu berjalan pergi keluar dengan santai.

Atsuko duduk terdiam di tempatnya dengan ekspresi wajah ditekuk berkali – kali lipat. Untuk memenangkan kompetisi ini, sekali lagi dia harus berurusan dengan keluarga kerajaan! BENCANA!!!

“Kaoru-senpai, kau kejam…” desis gadis itu lemah.

——————————————-

Pulang sekolah, Atsuko melewati rumah sakit tempat Ibu Suri sedang dirawat. Diam – diam, dia bersembunyi dibalik sesemakan taman rumah sakit itu dan mencoba mengintai. Dari pintu luar, sudah ada penjaga yang siaga, menanyai dan memastikan tiap orang yang datang.

Dari pintu depan, gadis itu juga melihat struktur bangunan itu dari luar. Gadis itu pura – pura berjalan melewati bagian samping gedung rumah sakit itu. Dia berjalan santai, dan mencoba tidak kentara sedang mengamati. Dalam satu kesempatan, dia mendapati sesemakan lainnya dan langsung bersembunyi disana. Untung saja sesemakan itu rimbun sehingga dia tidak terlihat.

Saat gadis itu melihat ke gedung, sebuah jendela terbuka dan tampak sosok Putra Mahkota sedang memandang ke luar jendela. Ekspresi wajahnya tampak murung. Atsuko sejenak terpana dengan pemandangan itu, apalagi wajahnya diterpa sinar matahari sore. Namun dia segera tersadar dan cepat mengambil kameranya, kemudian mengabadikan momen itu.

“Aaaahh… kuso! Gambarnya pecah…” gerutu gadis itu melihat hasil gambarnya.

Ketika dia melihat keatas lagi, sosok pria itu menghela napas kemudian menutup kembali jendelanya.

“Aku harus mendapatkannya dari dekat!!” tekad gadis itu.

Kemudian dia melihat kesekeliling dan merasa aman, lalu keluar dari persembunyiannya. Kemudian berlari melalui bagian belakang hingga keluar dari pintu pagar belakang sambil melompat. Gadis itu kemudian berlari pulang sebelum ada yang melihatnya.

**********

Hari sudah hampir tengah malam, Atsuko kembali datang kerumah sakit yang di intainya sore tadi. Gadis itu masuk dari pagar belakang kemudian berjalan ke tempatnya tadi di gedung bagian samping. Gadis itu melihat jendela yang tadi sore sempat dibuka oleh Putra Mahkota terbuka, dan dia merasa beruntung, maka gadis itu segera melancarkan aksinya.

Untung saja dia sudah mengikat rambutnya dan menggunakan pakaian olahraga. Gadis itu segera berjalan mengendap kebagian sudut gedung. Dia melihat sebuah pipa cukup kuat disana dan memutuskan untuk memanjatnya hingga ke lantai 3. Kemudian berjalan hati – hati menuju di kisi gedung hingga kejendela yang terbuka tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera masuk kedalam ruangan itu.

Untung saja sekarang bulan sangat terang, jadi dia bisa melihat meskipun ruangan itu gelap. Namun pandangannya tiba – tiba tertuju pada satu titik. Sosok yang sedang tertidur pulas. Wajahnya sangat tenang seperti bayi. Napasnya terdengar teratur. Dan wajahnya makin tampak bersinar karena sinar bulan yang menerpa.

Untuk sejenak, kembali gadis itu terdiam memandang wajah itu. Namun dia segera tersadar dan mengambil kameranya. Dan, “Jepreeeeet…” wajah pulas pria itu pun diabadikan dalam kameranya.

Namun flash dari kameranya telah membuat Putra Mahkota terbangun dari tidurnya. Pria itu tampak mengerjapkan matanya kemudian bangun dari posisi tidurnya.

Atsuko yang merasa dirinya sudah tidak aman lagi, hanya memandang ngeri sambil berjalan mundur menjauh dari sosok yang terbangun itu.

 **********

“Jepreeeeet…” wajah pulas pria itu pun diabadikan dalam kameranya.

Namun flash dari kameranya telah membuat Putra Mahkota terbangun dari tidurnya. Pria itu tampak mengerjapkan matanya kemudian bangun dari posisi tidurnya.

Atsuko yang merasa dirinya sudah tidak aman lagi, hanya memandang ngeri sambil berjalan mundur menjauh dari sosok yang terbangun itu. Namun dirinya terdesak ke dinding dengan mata yang masih melekat kepada sosok yang terbangun itu.

Keito menyadari seseorang selain dirinya berada di ruangan itu dan matanya menangkap sosok yang sedang bediri merapat ke dinding. Pria itu langsung berdiri sambil memandang sosok itu. Dia  berjalan perlahan mendekati sosok yang sepertinya sedang ketakutan itu dengan wajah yang masih tanpa ekspresi.

Pria itu melihat benda yang tergenggam erat ditangan gadis itu. Dan dalam satu sentakan dia mengambilnya. Sebuah kamera.

“Siapa kau dan apa yang kau lakukan disini?” tanya pria itu dingin. “Kau memataiku? Kau paparazzi?” tanya pria itu tegas.

Atsuko menggeleng pelan dan masih diam. Keito memeriksa kamera itu dan mendapati gambar dirinya yang sedang tertidur tadi.

“Kau mengambil fotoku tanpa izin! Siapa kau sebenarnya?” tanya pria itu tegas. Kali ini ada raut marah di wajah pria itu.

Atsuko masih terdiam sambil tetap memandang pria itu takut. Mati aku… pikirnya.

“Masih belum mau bicara? Perlu ku panggilkan penjaga?” ancam pria itu sambil berbalik untuk memanggil penjaga.

Mata Atsuko langsung membulat. “Tunggu!” katanya. Keito berhenti dan berbalik kemudian memandang gadis itu dingin.

“Aku,,, aku….” gadis itu tampak takut namun Keito tetap diam sambil memandang Atsuko menunggu gadis itu berbicara.

“Aku hanya mengikuti kontes. Mengambil foto Putra Mahkota dengan ekspresi yang berbeda…” jelas gadis itu. Namun Keito masih diam sambil memandang wajah gadis itu. “Aku membutuhkan hadiahnya… setidaknya aku bisa menghemat uangku untuk sebulan dengan makan siang gratis di sekolah…” jelas gadis itu lagi.

Keito tersenyum sinis sambil meletakkan tangannya dalam saku celananya. “Jadi wajahku dihargai dengan voucher makan siang gratis?” tanya pria itu sinis.

Atsuko tertunduk diam mendengar penuturan pria itu. “Baiklah… kau bisa pergi. Tapi benda ini kutahan…” kata Keito sambil menunjukkan kamera ditangannya.

“De… demo…” kata gadis itu ingin protes sambil berusaha mengambil kameranya, namun Keito menghalangi gadis itu dan segera menyimpannya di dalam saku celananya.

“Pergi sekarang dari sini atau ku panggil penjaga sekarang juga!” ancam pria itu.

Atsuko hanya memandang kesal kearah pria di depannya itu. Namun pria itu hanya menatap dengan sebuah tatapan menantang. Akhirnya, Atsuko terpaksa mengalah dan segera menuju ke jendela. Dilihatnya sekali lagi pria itu namun Keito masih berdiri sambil bergeming menatap dingin gadis itu.

Akhirnya Atsuko hanya menurut dan keluar dari jendela itu. Kembali menyusuri sisi jendela gedung itu dengan hati – hati dan turun melalui pipa. Dan akhirnya dia berlari untuk melompati pagar belakang dan berlari dari tempat itu.

Keito yang melihat itu semua dari kamarnya hanya bisa mengerjapkan mata tercengang melihat itu semua. Baru kali ini dia melihat langsung sosok seorang gadis yang beraksi seperti mata – mata di movie yang sering ditontonnya di video.

“Spy-girl…” kata pria itu.

Perhatiannya kemudian beralih pada kamera di sakunya. Dia kembali menghidupkan kamera itu dan melihat – lihat. “Bagus juga…” desisnya.

Kemudian beberapa pria berpakaian serba hitam masuk kedalam kamar pria itu. Keito segera menyimpan kamera itu kembali disakunya dan memandang para penjaga itu dengan tenang.

“Maaf Yang Muliah, kami mendengar ada suara di dalam ini, dan terdengar suara Yang Mulia yang terdengar marah. Apa terjadi sesuatu Yang Mulia?” tanya salah seorang dari penjaga itu.

Keito memandang para penjaganya dengan malas. “Tidak ada apa – apa. Kalian kembali saja berjaga di luar…” kata pria itu sambil berjalan menuju tempat tidurnya.

“Tapi Yang Mulia…”

“Aku berkata tidak ada apa – apa! Sekarang kalian keluar! Aku mau tidur…” kata pria itu tegas.

Akhirnya penjaga itu tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah sang Putra Mahkota kemudian keluar dari kamar itu.

——————————————-

Seminggu telah berlalu sejak hari itu. Keadaan Ibu Suri telah pulih dan sudah kembali ke istana. Putra Mahkota sudah kembali ke sekolah, dan siswa – siswi disekolah sudah beraktivitas seperti biasa. Namun tidak untuk Fujiawara Atsuko. Ketika dia berjalan di koridor sekolah, seluruh siswa dan siswi langsung menyingkir dikarenakan merasakan aura hitam menusuk dan dingin yang keluar dari seluruh tubuh gadis itu.

Dan tampangnya? Jangan ditanya,,, wajah ditekuk berlipat – lipat dan seperti mayat hidup. Gadis itu benar – benar mengutuk sang Putra Mahkota yang telah membuat dirinya tidak bisa mengikuti kegiatan klub seminggu ini. Dia kini kegiatannya seolah – olah menjadi “pesuruh klub” dimulai dari membersihkan ruangan, menyediakan keperluan klub, dan lain – lainnya. Daripada dia disana hanya melongo melihat anggota klub lainnya saling heboh dengan kegiatan.

Hingga tiba di dalam kelas pun, gadis itu masih memperlihatkan aura suram. Hingga dia duduk ditempatnya, gadis itu langsung meletakkan kepalanya diatas meja dan menghela napas panjang.

“Acchan,,, daijobu?” tanya Naoko pada temannya yang duduk tepat di depannya itu.

Namun tidak ada jawaban dari sosok yang ditanya. Naoko  hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya melihat temannya itu. Dia tidak tau apa yang menyebabkan temannya itu berubah menjadi pemurung dan selalu diikuti dengan aura kegelapan di sekitarnya. Yang dia tau hanya, kamera gadis itu hilang, seperti yang dibilangnya dengan yang lainnya.

Namun sepertinya gadis itu sama sekali tidak akan bisa konsentrasi mengikuti pelajaran, maka dia berjalan kearah perpustakaan dan memutuskan untuk menghabiskan waktu disana selama jam pelajaran berlangsung.

Atsuko berjalan menyusuri buku – buku fiksi di rak paling belakang dan paling sudut di dalam perpustakaan itu. Matanya memilih buku yang akan dibacanya. Dalam kondisi seperti itu, tentu saja otaknya tidak akan sanggup melahap buku – buku pelajaran. Maka matanya tertuju pada satu buku fiksi dengan cover biru lengkap dengan bintang – bintang berwarna keemasan. Ketika dia menarik buku itu keluar dari rak, ternyata di seberang sana tampak sosok pria yang sedang membaca buku dengan ekspresi wajah diam dan tak merasa bahwa dia tidak sendiri disana.

Mata Atsuko membulat ketika melihat sosok itu. Ya… dia… pria yang sudah membuatnya bermuram durja dengan menyebarkan aura membunuh ke seluruh penjuru sekolah. Gadis itu kemudian berjalan mendekati rak disebelah sambil memperhatikan sekeliling. Dan sepertinya aman, tak ada tanda – tanda bahwa pria itu dijaga oleh pengawalnya yang berwajah mafia itu.

Dengan satu sentakan, Atsuko menarik kerah belakang baju pria itu dan membawanya ke bagian paling sudut perpustakaan itu.

“Hei… apa yang kau lakukan?” bentak sosok pria itu yang tak bukan adalah Okamoto Keito, sang Putra Mahkota.

Atsuko menyudutkan pria itu dan memandangnya dengan tatapan menantang. “Kembalikan kamera ku!!” katanya tegas.

Keito menyipitkan matanya melihat sosok yang berani berkata tegas seperti itu dengannya. “Memangnya kau siapa berani menantang ku seperti itu?” tanya pria itu tak mau kalah.

“Ck…” gadis itu makin malas kemudian menyilangkan tangannya di depan dadanya dan memandang pria itu kesal. “Memangnya kenapa kalau kau seorang Putra Mahkota? Bagiku kau tidak lebih dari seorang pria menyebalkan yang muncul dikehidupanku dan mengacaukan segalanya!” kata gadis itu berani. “Dan aku tidak mau memperpanjang urusan ku lagi dengan orang sepertimu,,, sebaiknya kembalikan saja kamera ku sekarang juga! Aku membutuhkannya!” desak gadis itu lagi.

“Aku tidak membawanya…” jawab pria itu santai sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya.

“Haaaa??” tanya gadis itu.

Keito mengangguk. “Buat apa aku bawa kamera jelek seperti itu kesekolah? Dan juga,,, kamera murahan seperti itu banyak di toko… kenapa kau ribut sekali??” tanya pria itu santai.

Atsuko tanpa mengepalkan kedua tangannya disisi tubuhnya ketika mendengar kata – kata sombong dari pria itu. Dan benar dugaannya, dia semakin benci dengan pria itu.

“He,,, ternyata selain menyebalkan kau juga sangat sombong!!” kata gadis itu.

“Apa?” protes Keito tidak terima.

“Ya,,, kau itu menyebalkan dan sombong. Aku tidak tau bagaimana Negara ini nantinya jika kau menjadi seorang kaisar…” kata gadis itu lagi. Namun belum sempat pria itu ingin menyanggahnya, Atsuko sudah berkata lagi. “Kau tidak tau bukan bagaimana orang seperti aku hidup di Negara seperti ini? Karena kau hanya pria manja yang duduk dengan nyaman di singgasanamu di istana yang tertutup itu sepanjang hari dengan segala keinginanmu akan terpenuhi dengan memanggil pelayanmu saja. Ya,,, memang kamera itu murahan untukmu, tapi aku membutuhkan perjuangan besar untuk mendapatkannya…” jelas gadis itu menggebu – gebu.

“Sepertinya aku hanya membuang waktu untuk menjelaskan dengan orang sepertimu bagaimana kehidupan orang – orang seperti ku. Karena kau juga tidak akan mengerti…” kata gadis itu lagi.

Kemudian dia menghela napasnya dan memeluk buku fiksi yang tadi diambilnya dan kembali memandang pria itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. “Sebaiknya lain kali, kau segera mengembalikannya padaku, karena aku sudah tidak tahan memiliki urusan dengan orang sepertimu…” kata gadis itu sebelum akhirnya dia berjalan pergi meninggalkan pria yang sedang memandangnya dalam diam tanpa melepaskan matanya pada sosok gadis itu hingga dia menghilang dari balik rak.

**********

Atsuko membasuh wajahnya di dalam toilet wanita yang berada tak jauh dari kelasnya kemudian dia memandang wajahnya di cermin dalam diam. Tiba – tiba saja raut wajahnya berubah memelas dan dia kemudian menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.

“Atsuko bodoh!! Apa yang kau lakukan menghina seorang Putra Mahkota seperti itu? Kau bisa dihukum… atau lebih parah! Kau akan dikeluarkan dari sekolah? Aaaiiissshhhh…” gerutu gadis itu sambil memukul kepalanya sendiri. Apalagi sambil memikirkan kemungkinan terakhir.

Gadis itu langsung menggeleng kepalanya dan memukul wajahnya kemudian membasuh wajahnya lagi dengan air.

“Tenang,,, tidak akan ada yang terjadi padamu… kau tenang saja…” kata gadis itu mensugestikan dirinya sendiri.

Tepat saat itu bel sekolah berbunyi dan Atsuko segera berlari keluar dari toilet menuju ke kelasnya.

——————————————-

TBC

Wkwkwkwkwkwkwk XDD

Komen yoh,,, hehehehe 😀 😀 😀

Save

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] ICHIGO PRINCE (part 1)

    1. yamariena Post author

      ichigo disini artinya… pangerannya asem-manis gitu wkwkwkwkwk
      tapi ichigo biasanya yama sih hahahaha

      arigatou udah baca 😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s