[Oneshot] Surat Kaleng Untuk Hey! Say! JUMP

2nd Winner Fanfiction Festival Affiliates With HSJ Indonesia

Judul Fanfiction: Surat Kaleng untuk Hey Say JUMP!
Author: Adinda Aqmarina Toriq
Tema: Hey Say JUMP 8th Anniversary
Cast: Seluruh member Hey Say JUMP!, Chinen Yuri sbg karakter utama. Chinen Miki (ibu Chinen Yuri), Chinen Saya (kakak Chinen Yuri), juga OC.
Rating: G
Genre: Drama
Type Fanfiction: Oneshot

Summary: Banyak surat dan kartu ucapan ulang tahun yang dikirim oleh para penggemar untuk Hey Say JUMP. Namun, ada satu surat yang membuat seluruh member merasa kebingungan dan penasaran, siapakah pengirim surat kaleng tersebut?

“Yuri!” panggil ibu dari arah ruang keluarga. Chinen Yuri yang tengah bersantai sambil membalas chat dari Daiki beranjak dan berlari ke arah ibu.

“Ya?” tanya Chinen yang mendapati ibunya tengah memeriksa tumpukan surat yang ada ditangannya.

Pangkuan ibu penuh dengan surat-surat. Sepertinya hari ini surat yang masuk menjadi rekor. Ibu tidak menghitung banyaknya surat yang ada. Hanya memeriksa kepada siapa surat tersebut ditujukan.

“Banyaknya!” Chinen Saya, kakak dari Chinen Yuri terbelalak kaget. Ia baru saja keluar dari kamarnya dan menggendong boneka kesayangannya. “Pasti karena hari ini JUMP berulang tahun, benarkan?” komentar Saya kemudian mengambil setumpuk surat dan membaca nama “Chinen Yuri” yang tertera pada bagian penerima surat.

“Iya, rasanya tidak ada surat untuk ibu atau pun Saya,” celoteh ibu lalu tertawa kecil.

Biipp. Sebuah chat masuk. Chinen membuka handphonenya dan mendapati nama “Yama” pada layarnya.

Hari ini banyak sekali surat yang masuk ke rumahku! Rasanya ada ratusan!
Begitu isi chat dari Yamada. Chinen tersenyum dan membalas,

Aku juga mendapat banyak surat! Sampai ibu dan kakak merasa tersaingi!

Setelah memeriksa penerima surat dan memisahkannya, ibu merapikan tumpukan surat Chinen. “Selesai! Yuri ambilah kotak dan simpan surat ini dengan rapi,” pinta ibu. Chinen bersegera mencari kotak dari ruang penyimpanan di ruang keluarga.

“Kakak harap kamu tidak pegal membaca semua surat ini,” ucap Saya dengan nada prihatin. Ia tahu betul bahwa adiknya ini jauh lebih terkenal dari dirinya. Bahkan ayahnya yang pernah menjadi seorang atlit.

“Tentu saja tidak, surat dari penggemar akan aku baca semuanya dengan senang hati!” ucap Chinen optimis kemudian membantu ibu meletakkan puluhan surat ke dalam kardus.

“Rasanya, surat ini belum setengahnya. Surat akan lebih banyak masuk ke kantor Johnny’s Entertaintment, benar kan?” kata Saya. Meski dari dulu Chinen selalu mendapat banyak surat. Entah mengapa tahun ini surat yang masuk ke rumahnya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Chinen yakin bahwa penggemarnya semakin bertambah banyak. Tidak hanya dari Jepang tapi dari mancanegara.

Biipp Biipp Biipp. Handphone Chinen berdering nyaring. Banyak chat yang masuk, kali ini melalui grup chat member Hey Say JUMP.

Daiki: Aku mendapatkan surat kaleng! Apa kalian juga dapat?
Hikaru: Aku tidak menemukan surat di dalam kaleng._.
Inoo: Maksud Dai-chan surat tanpa nama pengirim, haha.
Hikaru: Ah! Ya! Sepertinya ada.
Yuto: Aku dapat! Yama: Aku juga!
Yuya: Aku tidak tau, aku masih bermain di pantai, hahaha.
Yabu: Apakah menjadi hal aneh jika tidak ada nama pengirim?
Daiki: Dari seluruh surat yang aku terima, hanya ada satu yang tidak ada nama pengirimnya. Selain itu isi suratnya aneh sekali!
Yuto: Aku baru membaca surat kaleng itu. Iya benar, rasanya seram.
Hikaru: Benar-benar menyeramkan seperti mengancam!
Inoo: Aku tidak takut. Hanya merinding saja membacanya
Yabu: Uwah! Aku harus segera pulang dan memeriksa surat yang masuk.
Yama: Pada kalimat “aku rindu, akan ku kirimkan pasukan hantu, sehingga ketika kalian tampil selalu ada penampakan” aku merasa merinding
Daiki: Eh! Redaksi katanya mirip dengan yang ada di suratku!
Hikaru: Kata-katanya sama persis seperti yang ada di dalam suratku!
Keito: Aku juga! Maaf baru muncul, aku fokus membaca surat. Surat kaleng yang aneh!

Chinen yang menjadi silent reader akhirnya mencoba memeriksa tumpukan suratnya. Mencari surat kaleng yang tengah dibicarakan. Ia mencoba mencari apakah ia mendapatkan surat kaleng tersebut atau tidak.

Surat yang ada kebanyakan memang ada nama pengirimnya. Chinen bergerak cepat membongkar tumpukan surat yang telah rapi disusun dalam kotak. Namun, ia tidak menemukan surat kaleng. Sama sekali tidak ada. Karena ragu, Chinen kembali memeriksa untuk kedua kalinya. Tetap tidak ada. Handphone terus berdering nyaring. Chat masuk dan ketika Chinen membacanya, seluruh member menanyakan apakah Chinen mendapatkan surat kaleng atau tidak. Chinen memilih tidak membalas. Ia berpikir, mungkin surat kaleng untuknya belum dikirim. Tapi, apakah mungkin? Surat yang mirip seperti itu pasti akan dikirim di waktu yang sama.

“Yuri!” Saya mengetuk pintu kamar Chinen dan membuka pintunya sebelum Chinen mempersilakannya masuk. “Ini ada surat yang baru datang,” Saya memberikan sebuah surat beramplop putih. Chinen meraihnya. “Surat kaleng. Tidak ada namanya. Pasti isi suratnya adalah ancaman,” ucap Saya penuh selidik.

“Hanya menyentuh suratnya saja jadi merinding,” ucap Chinen. Tangannya memang agak bergetar. Tapi ia yakin ini hanya perasaan ketakutan yang tertular akibat member lain yang curhat lewat chat.

“Memang begitu seharusnya surat kaleng. Membuat yang menerimanya merinding,” ucap Saya sambil bergaya layaknya orang yang menggigil.

Setelah Saya keluar, Chinen membuka surat. Tangannya bergetar. Ia khawatir menemukan sesuatu yang lebih mengerikan di dalam surat.

Baru saja Chinen hendak membuka kertas surat, ia dikagetkan dengan suara handphone yang berdering lebih nyaring. Deringnya menandakan ada telpon masuk. Chinen kembali membuka handphonenya dan membaca nama “Yama”.

“Halo” ucap Chinen pada Yama di ujung telpon. Terdengar suara parau yang tengah berdehem kencang.

“Chinen,” jawab Yama, kemudian kembali berdehem kencang.

“Kau sedang sakit?” tanya Chinen. Tiga hari yang lalu ia bertemu dengan Yamada dan ia terlihat sehat.

“Iya,” jawab Yamada lagi dengan suara serak.

“Minumlah, rasanya aku juga jadi ingin terbatuk,” Chinen ikut berdehem. Menular.

“Kau dapat surat kaleng?” tanya Yamada, ia tidak menanggapi saran Chinen.

“Ya, aku dapat,” jawab Chinen. Tangannya tidak lagi bergetar memegang kertas surat. Ia mencoba mengintip isi surat.

“Aku kira kau satu-satunya yang tidak dapat. Karena jika kau tidak dapat, mungkin penggemarmu yang mengirimkan surat kaleng itu pada member lainnya,” ucap Yama. Chinen berpikir keras, itu mungkin saja terjadi. Karena member Arashi juga pernah mengalami hal seperti ini. Arashi mendapatkan surat kaleng namun hanya satu member yang tidak mendapatkan surat itu, Matsumoto Jun. Setelah berhasil ditelusuri, penggemar Jun lah yang sengaja mengirimkannya.

“Aku dapat surat kaleng yang berarti semua member mendapatkannya,”

“Hanya tinggal Yuya yang belum memeriksa surat yang masuk,” ucap Yamada.

“Aku yakin semuanya memang dapat surat,” jawab Chinen. “Aku akan membaca isi surat yang aku dapat, bisa kah tutup teleponnya dulu?”

Yamada menurut, sejurus kemudian ia menutup telepon, membiarkan Chinen membaca surat yang baginya mengerikan itu.

Sebelum membaca kertas surat yang sudah di buka lebar, Chinen menarik nafas. Akan sangat menyedihkan jika ia juga mendapat ancaman. Akan sangat mengecewakan pula ketika pengirim surat kaleng adalah orang yang membenci Hey Say JUMP. Chinen tak ingin dirinya dibenci.

Tulisan yang tertera diatas kertas sangatlah kecil, sehingga Chinen mendekatkan matanya pada kertas agar dapat membaca isi surat. Bahkan, dari ukuran kertas yang cukup besar, tulisan yang tertera hanya terletak pada bagian atas kertas, banyak bagian kertas yang dibiarkan kosong. Chinen agak curiga. Tetapi memang benar setelah berhasil membaca tulisan mini yang tertera, isi suratnya merupakan sebuah ancaman. Sama seperti yang dialami oleh Yamada, Chinen dibuat merinding pada kalimat “aku rindu, akan ku kirimkan pasukan hantu, sehingga ketika kalian tampil selalu ada penampakan”.

Chinen berpikir keras. Ia curiga pada ukuran tulisan yang sangat kecil hingga membuat dirinya harus mendekatkan matanya pada surat. Selain itu, ia juga mencium bau yang aneh dari kertas yang digenggamnya itu. Chinen kembali mengecek grup chat member dan mendapati obrolan menjadi berbelok pada Inoo, Yabu, Daiki dan Hikaru yang menceritakan kejadian lucu ketika snow boarding bersama. Akhirnya Chinen memutuskan untuk menelpon Yamada.

“Halo?” ucap Yamada dengan suara yang masih serak.

“Yama, kau sedang di rumah kan?” tanya Chinen.

“Tentu, aku sedang istirahat,” jawab Yamada singkat kemudian berdehem.

“Yama, coba pegang surat kaleng milikmu,” pinta Chinen.

Dari ujung telepon terdengar Yamada mencoba mengambil sesuatu. Yamada, mengeluarkan kertas dari amplop surat kaleng itu. “Ya, sudah.”

“Coba kau cium kertasnya, baunya aneh,”

“Aduh Chinen aku sedang pilek jadi tidak bisa mencium apapun,” seru Yamada kemudian dirinya batuk. Chinen merasa bahwa sakit Yama lebih parah. Ia merasa tidak enak pada Yamada.

“Baiklah, baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti,” ucap Chinen.

“Ya, tapi jika aku tidak mengangkat telpon, tandanya aku tertidur. Aku baru saja minum obat. Efek obat tidurnya sangat terasa,” jelas Yamada. Chinen mengiyakan dan berkata bahwa ia akan menjenguk Yamada. Chinen menutup telepon dan mencari nama Keito dari kontaknya.

“Halo?” ucap Keito.

“Keito, kau sedang di rumah? Kedengarannya ramai sekali,” Chinen terheran.

“Ah ya, teman ayah datang dan mengunjungi rumah kami. Ada apa Chinen?” tanya Keito yang tengah mengunyah sesuatu.

“Ah, bisa kah kau ambil kertas dari surat kaleng yang kau dapatkan?” tanya Chinen.

“Bisa, tapi aku sedang memanggang daging. Jadi, bisa kah kau tunggu sebentar sampai aku selesai?” ucap Keito. Desis daging yang tengah dibakar terdengar kencang.

“Ah, kalau begitu tidak perlu. Selamat berpesta! Maaf mengganggu,” ucap Chinen.

“Ya, datanglah kalau kau mau,” tawar Keito. Chinen hanya mengucapkan terima kasih dan kemudian mengajak Keito untuk menjenguk Yamada, jika pesta di rumah Keito telah usai. Chinen kembali menghubungi member lain yang dirasa tidak sibuk. Ia mencari Daiki di kontaknya.

“Halo?” kali ini Daiki mengangkat lebih cepat dari biasanya.

“Daichan, bisa kah kau ambil kertas dari surat kaleng mu? Kau sedang tidak sibuk kan?” tanya Chinen.

“Ya, ya, sebentar ya,” Daiki terdengar kesulitan mencari kertas dari dalam surat. “Ya, sudah ku pegang,” kata Daiki.

“Coba kau cium kertas itu,”

“Cium?” Daiki bertanya dengan nada heran.

“Hirup aroma yang ada pada kertasnya,” Chinen memperjelas ucapannya.

Dari ujung telepon terdengar Daiki mengendus kertas.

“Daichan, mencium bau yang aneh?” tanya Chinen lagi.

“Ah ya, baunya aneh,”

Chinen bernapas lega, artinya penciumannya tidak bermasalah selain itu ia akan menemukan sesuatu petunjuk untuk menemukan pelaku surat kaleng itu.

“Apakah tulisan di kertasmu itu sangat kecil?” tanya Chinen.

“Ya, ya sangat kecil. Aku harus mendekatkan mataku agar bisa membacanya,”

“Itu aneh bukan?”

“Ya, sangat aneh, apakah mungkin kau menemukan sesuatu? Suatu petunjuk?” tanya Daiki. Ia tau betul Chinen sangatlah cerdas.

“Ada sedikit petunjuk. Menurutmu bau apa yang tercium dari kertas itu?”

Daiki terdiam, seperti tengah berpikir keras, “seperti bau asam dan agak kecut.”

“Seperti bau cuka dan jeruk, bukan?” tanya Chinen dengan nada yang meyakinkan.

“Ya! Seperti bau cuka dan jeruk, baunya aneh,” ujar Daiki. “Mengapa pengirim menyemprotkan bau aneh ya? Awalnya aku tidak menyadari bau ini. Tapi memang benar, bau cuka dan jeruknya terhirup,” ucap Daiki.

“Baiklah! Aku akan mencari cara memecahkannya dan memberitahukannya pada member lain lewat grup,”

“Oke, aku akan menunggunya, Detektif Chinen,” ucap Daiki dengan nada seperti seorang polisi yang menunggu jawaban polisi detektif. Chinen tersenyum dan menutup telepon.

Chinen mengingat-ingat sesuatu. Kalau tidak salah, Yamada pernah bercerita padanya tentang drama yang diperankannya. Pada salah satu cerita drama, Yamada menjadi seorang detektif dan menemukan kasus yang berhubungan dengan surat kosong. Tapi, Chinen benar-benar lupa, akhir cerita drama yang diceritakan oleh Yamada. Ia lupa, bagaimana cara memecahkan kasusnya.

Salah satunya cara adalah menanyakan pada Yamada. Tak ada cara lain karena Yamada yang paling tau. Chinen tidak mungkin menelpon Yamada karena bisa dipastikan ia telah tertidur pulas karena minum obat tidur. Namun, tidak ada cara lain. Chinen bersegera berganti baju dan bersiap menjenguk Yamada. Tak lupa, ia mengirim pesan pada Keito untuk datang ketika pesta di rumahnya telah usai. Chinen ingin segera menemukan siapa pengirim surat kaleng.

***

Chinen yang memang memiliki kunci ganda apartemen Yamada, memilih menggunakan kunci tersebut daripada mengetuk untuk membangunkan Yamada. Meski sebelumnya ia mengucapkan permisi terlebih dahulu.

Yamada memilih untuk tinggal sendiri. Ia yakin bahwa kedewasaan muncul ketika ia berani hidup mandiri. Surat-surat yang didapatkan Yamada pun diberikan oleh kakak perempuannya, Yamada Chihiro yang sengaja mengantarnya dari rumah.

“Chinen?” Yamada terbelalak kaget melihat Chinen masuk mengendap-endap sambil menjinjitkan kakinya seperti seorang pencuri.

“Eh, kau tidak tidur?” Chinen tidak lagi menjinjitkan kakinya.

“Aku kembali terbangun karena Daichan menelpon berkali-kali,” ucap Yamada yang baru saja dari dapur mengambil botol air mineral. “Katanya kau menemukan sesuatu?” tanya Yamada.

“Ya! Aku teringat drama detektif yang kau mainkan. Kalau tidak salah, kau pernah memecahkan kasus surat kosong pada drama itu!” Chinen antusias.

Yamada berpikir keras, “Ya, ya, aku ingat.”

“Kau ingat cara memecahkannya?”

Yamada mengangguk, “surat kosong itu aku letakkan tepat di atas api pada lilin, kemudian sebuah tulisan yang sebelumnya tidak ada menjadi terlihat,”

Tanpa berpikir panjang, Chinen berlari kearah dapur dan mencari lilin. Setelah menemukan lilin, Chinen bersegera menyalakannya,  membuka surat miliknya dan meletakkan kertas tersebut tepat di atas lilin yang menyala.

“Jangan terlalu dekat dengan api, nanti kertasnya terbakar,” pesan Yamada. Chinen menurut dan melakukan perintah Yamada.

Tak lama, sebuah tulisan muncul, tulisan berwarna agak kecoklatan. Tulisan itu timbul perlahan dan semakin terlihat jelas.

“Muncul!” teriak Chinen, kemudian membaca kalimat yang tertera.

“Mari bertemu esok hari. Pukul 7 pagi. Di Family Restaurant, dekat kantor Johnny’s Entertainment. Dari orang yang merindukanmu. Datanglah, atau kekecewaan akan menyeruak”

“Yama, coba kau ambil surat milikmu,” pinta Chinen.

Bersegera Yamada berjalan menuju kamar untuk mengambil kertas. Chinen melakukan hal yang sama pada kertas milik Yamada dan mendapati tulisan yang sama.

Bel pintu berdering kencang. “Itu Keito,” ucap Chinen kemudian beranjak dan membukakan pintu untuk Keito. “Kau membawa suratnya?” tanya Chinen. Kemudian melakukan lagi hal yang sama pada surat milik Keito. Kalimat yang sama kembali timbul pada bagian kertas yang kosong.

“Bagaimana dengan yang lain?” tanya Keito.

Chinen mengambil handphonenya dan memotret tulisan yang agak kecoklatan itu kemudian mengirimkannya di grup chat. Chinen juga memberitahukan cara memecahkannya. Tak lama, member lain memberi jawaban.

Daiki: Aku menemukannya!
Hikaru: Wah! Keren juga!
Yuto: Seperti kasus pada drama yang Yama perankan.
Inoo: Kalimat yang sama persis.
Yabu: Aku telah memeriksanya, redaksi kalimatnya sama.
Yuya: Aku masih di pantai. Belum memeriksa surat…

“Jadi, esok hari kita ke restaurant itu?” tanya Keito sambil menatap Chinen dan Yamada bergantian.

Chinen dan Yamada saling menatap. Kemudian secara bersamaan mengangguk pada Keito.

Chinen: Esok hari mari kita pergi bersama menuju Family Restaurant. Jika ternyata pengirimnya adalah orang yang membenci kita. Itu tak mengapa. Tetapi, aku rasa dia bukanlah orang yang membenci kita. Karena kita bertemu di Family Restaurant bukan di belakang sekolah. Heheee…

Isi chat Chinen segera dibalas oleh member yang menyetujuinya. Mereka bersiap untuk menghadapi pengirim surat kaleng itu. Mempersiapkan hati untuk menerima, jika ternyata orang yang membenci mereka lah pengirim surat sebenarnya.

Sebelum pukul 7, para member sudah berkumpul. Meski Yamada agak terlambat karena efek obat tidur masih terasa. Suara Yamada kembali normal. Kulit Yuya nampak lebih kecoklatan karena seharian ia berada di pantai. Daiki terlihat lebih gemuk. Inoo yang masih dengan wajah suntuknya. Yabu yang sesekali mengucek matanya. Keito yang tak berhenti berdehem, mungkin ia akan segera sakit batuk. Yuto yang menggenggam kameranya untuk mendokumentasikan kejadian yang mungkin akan menjadi unik. Chinen menarik nafas panjang.

Sebenarnya mereka heran, mengapa ada Family Restaurant yang buka sepagi ini. Rata-rata pertokoan maupun restaurant akan buka pada pukul sepuluh. Selain itu, Family Restaurant masih menutup jendelanya dengan kain penutup. Tapi, bagaimanapun mereka harus tetap datang.

“Siap?” tanya Chinen sambil menatap satu-satu member Hey Say JUMP. Sudah jam 7. Saatnya bagi mereka menemui orang yang mengirim surat kaleng itu.

Semuanya mengangguk. Yamada membuka pintu Family Restaurant. Yuto pun mulai mengarahkan kameranya, ia tidak ingin tertinggal satu kejadian pun.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan di tambah sorotan lampu yang menyilaukan mata.

“Selamat ulang tahun!”

Suara teriakan terdengar begitu kencang, membuat member Hey Say JUMP terkaget dan membelalakkan matanya. Suara trumpet party terdengar nyaring. String spray dan snow spray disemprotkan di sana – sini. Puluhan orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Semuanya tersenyum dan tak henti tersenyum memandangi para member yang terlihat seperti di alam mimpi.

Tanpa bisa berkata-kata, member Hey Say JUMP tersenyum. Tidak menyangka bahwa sebuah pesta diadakan untuk mereka. Kue ulangtahun yang besar dibawa masuk. Ada dekorasi kue yang berbentuk member Hey Say JUMP di atasnya. Angka 8 juga menghiasi dekorasi ruangan pesta.

“Jujur, aku tidak menyangka pengirim surat kaleng adalah penggemar Hey Say JUMP,” ucap Chinen setelah meniupkan lilin bersama-sama dengan member lain. “kalian pasti kebanyakan penggemar Yamada ya? Sampai mengirimkan petunjuk seperti dalam dramanya,” Chinen tertawa. Member lain juga ikut tertawa.

Banner buatan tangan para penggemar dikeluarkan. Member Hey Say JUMP terkejut. Tidak menyangka bahwa penggemar yang datang dari mancanegara, termasuk negara Indonesia.

Thank you very much,” ucap para member bersamaan.

“Terimakasih atas surat-suratnya. Kami membaca semuanya sampai semalam suntuk. Terutama untuk surat kaleng, kami benar-benar merasa merinding membaca tulisannya,” ucap Chinen lagi.

Hari ini menjadi hari ulang tahun yang paling di ingat oleh member Hey Say JUMP. Mereka selalu membahas kejadian itu ketika program televisi menanyakan tentang hal unik yang paling berkesan bagi para member di hari ulang tahun Hey Say JUMP.

-TAMAT-

Pesan Cinta untuk Hey Say JUMP: I’m in love with JUMP since Dreams Come True became my favorite! Tetaplah ada, meski kadang fans seringkali berpindah haluan. Idola semakin bermunculan di tiap tahunnya. Namun, Hey Say JUMP memiliki keunikannya tersendiri untuk terus berkembang dalam dunia hiburan. Selamat ulang tahun yang ke-8!

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s