[Oneshot] How Far Apart We Must Be Before I Can Forget You

Title : How Far Apart Must We Be Before I Can Forget You
Author : Rei-chan
Casts : Matsumoto Jun, Miyazawa Hikari (OC)
Genre : Romance
Rating : Young Adult
Length : Oneshot

HOW FAR APART MUST WE BE BEFORE I CAN FORGET YOU

Pernikahan adalah sebuah momen dimana setiap orang hanya mengharapkan sekali dalam hidup. Dan di sinilah aku menemani sepupuku tercinta sebelum hari bahagianya. Aku berada di kamar pengantinnya dan melihatnya dirias sepanjang waktu.

“Aku kira kau tak akan datang. Okaa-sanmu bilang kau sibuk.”kata Mika, sepupuku.

“Ah. Biasalah. Mana mungkin aku tak hadir dalam pernikahanmu? Kau mengharapkan semua keluarga kita datang bukan?”
Mika adalah putri tunggal Bibiku. Meskipun usianya lima tahun lebih tua dariku, aku tidak memanggilnya Onee-san karena kedekatan kami.

“Sayang sekali, Karin Nee-san tidak datang. Dia akan jadi biang pesta.”kata Mika. “Kau kira London begitu dekat. Lagipula kesibukannya pasti luar biasa. Dan kalau aku tidak salah lihat dia sudah mengirimkan kado pernikahan untukmu bukan?”

“Aku benar-benar tak percaya. Bulan madu ke Hawaii. Karin Nee-san luar biasa.”

“Dia selalu begitu. Entah apa yang akan aku dapat saat pernikahanku.”

“Dia dengan senang hati mengirimimu tiket ke Paris, Hikari-chan.”

“Mengapa mencemaskan pernikahan? Punya pasangan saja belum.”

“Kau ini. Kampusmu pastilah banyak laki-laki yang bisa kau ajak kencan. Mengapa tidak bersama salah satu dari mereka?”
“Mereka mimpi buruk, Mika-chan. Aku iri denganmu.”
“Denganku?”
“Yah. Setidaknya kau menikah dengan orang yang paling kau cintai di dunia. Delapan tahun kisah kalian membuatku tak percaya. Kalian akan segera berakhir bahagia.”

“Sudahlah. Tak perlu membandingkan. Kau sudah lihat apa yang akan kau kenakan nanti malam?”

“Kau berhasil menyiksaku. Tak apalah. Demi pernikahan.”

Mika mengharapkanku mengenakan gaun yang berwarna senada dengan gaun yang dia pakai untuk pernikahannya.

Aku keluar dari kamar Mika menuju dapur. Aku mengambil beberapa potong kue dan sebotol air mineral. Aku tidak banyak membantu persiapan pernikahan sepupuku ini. Semua keperluan sudah diurus oleh Bibiku dan saudara-saudaranya. Tugasku hanya satu, menemani Mika. Dia tidak terlalu suka sering sendirian dengan penata riasnya.

“Mengapa tak makan saja? Daritadi kau hanya makan kue.”protes Mika saat melihatku kembali.

“Aku tak ingin makan berat. Kau menyiapkan keperluan pernikahanmu sendiri?”

“Hanya beberapa. Kau tahu sendiri Okaa-sanku.”

“Dia pasti banyak mengoreksi pilihanmu. Aku bisa lihat dari tatanan bunga yang ada di depan. Bukan seleramu.”

“Aku kira apa sulitnya menyenangkan orang tua.”

“Pilihan hidangannya? Aku benar-benar mengharapkan makanan enak dalam pestamu, Mika-chan.”

“Okaa-sanku tentu saja yang memilih. Beruntung aku boleh menambahkan kue-kue seperti yang kau makan.”

“Tampaknya pernikahan tidak sesimpel yang aku bayangkan.”

“Kalau kau mengharapkan pernikahanku seperti pernikahan Sho Nii-san, kau akan kecewa.”

Selama mengobrol dengan Mika, dia banyak mengingatkanku tentang sepupu-sepupu kami. Karin Nee-san, sepupuku yang paling tua memang belum menikah namun kariernya begitu luar biasa. Dia terbiasa berpindah dari satu negara ke negara lain. Sekarang dia tinggal di London. Sementara Sho Nii-san, sepupu laki-laki favoritku menikah dengan seorang pewaris tunggal perusahaan besar di Ibukota. Pernikahannya dua tahun lalu benar-benar mewah.

“Mengapa sepupu-sepupu kita belum datang?”tanyaku.

“Satoshi Jii-san mengajak mereka ke Mall. Pengalihan perhatian. Tidak ada yang bisa mereka kerjakan di sini lagi pula.”

“Pintar juga.”

“Mungkin Ryo-chan bisa mengenalkan teman-temannya untukmu.”

“Berusaha mencomblangiku? Tak perlu. Aku khawatir usahamu akan sia-sia.”

“Hanya berteman saja, tidak ada salahnya bukan? Mengapa harus menolak?”

“Bukan saatnya mengkhawatirkan mengenai pasangan. Mengapa perlu cepat-cepat? Aku belum ingin menikah.”

“Aku khawatir kau belum bisa membuka hati untuk yang lain.”

“Oh. Kalau kau ingin membicarakan Jun-kun, aku tidak ingin mengingatnya.”

Aku keluar dari kamar Mika-chan. Mengambil buah-buahan lalu naik ke lantai dua rumah Mika. Saat kecil, aku sering sekali menghabiskan waktu bermain dengan Mika-chan di tempat ini. Angin yang berhembus sore ini membelaiku .

Aku duduk di bangku. Bangku yang sama tempatku sering duduk sembari bertukar cerita dengan Mika. Aku menggigit apel yang tadi aku ambil. Sudah lama sekali aku tidak menghabiskan waktu di sini.

Di tempat inilah pertama kalinya, aku bercerita pada Mika tentang cinta pertamaku, Matsumoto Jun. Hanya Mika-lah yang tahu bagaimana perasaanku pada teman SMA-ku itu. Sampai pada kelulusanku, Jun dan aku tidak berakhir sebagai sepasang kekasih. Meskipun Jun memberiku perhatian yang membuatku berpikir bahwa dia menyukaiku.

Jun melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Keluarganya yang kaya membuatnya mudah saja untuk belajar ke negara lain. Aku tidak pernah mendengar kabar mengenai Jun. Aku yakin dia pasti bahagia di luar sana. Aku juga tidak tertarik menanyakan kabarnya.

Baru saja Mika menyinggung Jun. Dalam hidupku, hal yang paling sulit adalah melupakan Jun. Melupakan orang yang pernah sangat mengisi hatiku. Aku sudah bertekad untuk melupakannya. Sejauh ini aku kira aku berhasil sebelum Mika mengungkitnya.

“Kau marah padaku?”tanya Mika.

“Marah? Ada apa memang?”

“Jun-kun.”

“Sudahlah. Tidak ada gunanya memikirkan laki-laki itu menjelang hari bahagiamu.”

“Kau sudah akan bersiap?”

“Begitulah. Aku akan berdandan sendiri.”

Aku kembali ke kamar Mika. Aku telah siap dengan gaunku. Mika terlihat cantik dengan gaun yang indah. Dia terlihat sangat siap untuk menikah.

Satoshi Jii-san meminta semua anggota keluarga besar kami keluar dari rumah menuju tenda yang sudah dipasang. Acara akan segera dimulai. Dan masing-masing keluarga akan mengenalkan anggota keluarga masing-masing.

“Bagaimana Ryo-chan?”tanya Mika saat aku kembali ke kamarnya lagi.

“Dia banyak tersenyum. Berusaha terlihat tenang. Dia tidak pernah berubah. Aku jadi bertanya kapan terakhir aku bertemu dengannya?”

“Kau ini. Delapan tahun dia selalu ikut acara keluarga kita.”

Acara berlangsung seperti sebagaimana seharusnya. Dan ketika malam terus beranjak, keluarga Ryo berpamitan.
Mika memintaku untuk menemaninya tidur di kamar pengantinnya. Agak menggelikan. Tapi aku menurut saja. Kapan lagi aku bisa merasakan sensasi tidur di kamar pengantin?

Alarm yang dipasang Mika sukses membuatku terjaga semenit yang lalu. Mika sudah selesai mandi. Dia menyuruhku bergegas mandi. Sebenarnya aku masih mengantuk dan tentu saja aku agak malas karena aku akan dirias setelah mandi.

“Aku tak ingin repot kalau menikah nanti.”kataku pada Mika.

“Mengejutkan sekali.”balas Mika.

Aku memandang Mika yang sekarang sibuk dengan tatanan rambutnya.

“Aku selalu mengira kau tak akan pernah menikah. Kau selalu jadi sepupuku yang paling tomboy. Ingatkah kau bagaimana Okaa-sanmu menegurmu karena kau suka memanjat pohon?”

Aku tertawa.

Pernikahanku, tentu saja menjadi keinginan kedua orang tuaku. Meskipun belum menjadi prioritas mereka sekarang namun mereka pastilah telah bertanya-tanya mengenai siapa yang akan menjaga putri mereka ini nantinya. Dan kalau ada orang yang serius aku fikirkan untuk aku jadikan pendamping hidup, siapa lagi kalau bukan Jun?
Sedang apa Jun sekarang? Pastilah belajar. Dia selalu bergurau denganku namun aku tahu dia bukanlah orang yang main-main dengan studinya. Jun yang selalu mampir ke game online café favoritnya sepulang sekolah itu tidak pernah melupakan pekerjaan rumah dan tugas-tugasnya.

Mengapa aku tak memberanikan diri sekali saja sekadar untuk menghubunginya? Menanyakan kabarnya? Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Memikirkan alasan mengapa aku tak cukup berani saja dulu untuk mengatakan secara langsung padanya bahwa aku menyukainya, membuatku sangat menyesal sekarang.

“Ryo-chan dulu selalu meledekku kalau aku menangis. Dia bilang tidak akan ada laki-laki yang mau menikahi seorang gadis cengeng.”kata Mika.

“Kau memang selalu cengeng. Dan Ryo-chan pastilah sangat menyesal pernah mengatakan itu padamu.”

“Ya. Dia harus menikah dengan gadis cengeng sepertiku.”kekeh Mika.

“Mengapa kau langsung setuju saat Ryo-chan melamarmu?”tanyaku bodoh.

“Apalagi yang kami tunggu? Kami saling mencintai. Ryo-chan juga sudah mapan. Meskipun butuh sedikit waktu untuk membujuk Okaa-san tapi tidak ada alasan lain yang pantas untuk menundanya.”

Mika benar. Usia yang cukup serta kehidupan yang mapan selalu menjadi pertimbangan utama menyangkut pernikahan. Dan lihat usiaku sekarang,. Dua puluh dua tahun. Tidak bisa dibilang terlalu muda untuk menikah. Namun yang menjadi masalah tentu saja, kehidupan yang mapan. Meskipun Jun berasal dari keluarga berada, tetap saja, kemampuan finansial Jun menopang pada kedua orangtuanya. Tunggu dulu, mengapa Jun yang terlintas dalam benakku?

“Kau melamun.”tegur Mika.

“Siapa bilang? Aku hanya mengagumi sepupuku yang begitu cantik hari ini.”

Mika tertawa. Aku pergi keluar kamar mencari sesuatu untuk mengganjal perutku selagi menunggu upacara pernikahan yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi. Dan sasaranku tentu saja kudapan melimpah di meja makan. Tak lupa aku menuang secangkir teh untuk menemaniku pagi ini.
Suasana perlahan mulai riuh seiring terbitnya matahari. Setiap orang sibuk dengan diri mereka masing-masing untuk pernikahan Mika. Kaum ibu termasuk Okaa-san Mika dan Okaa-sanku sibuk berdandan sembari mengecek segala sesuatu yang tampak remeh temeh namun mereka dengan cermat mengecek detailnya. Sementara kaum ayah membuat semacam grup kecil dengan kopi panas dan kue-kue di hadapannya. Aku bisa melihat Otou-sanku bergabung dalam grup sambil menghisap rokok favoritnya.

Jarum jam terus bergerak. Dan inilah saatnya menyatukan dua insan yang saling mencintai, Mika dan Ryo-chan dalam ikatan suci. Suasana tampak sangat mengharukan saat Otou-san Mika menitikkan air mata untuk memulai upacara pernikahan. Aku duduk di kursi sementara, Mika tampak cemas dengan prosesi yang paling penting dalam hidupnya.
Tepuk tangan meriah membuyarkan fikiranku.

Aku tersadar bahwa saat ini Mika sepupuku sudah sah bagi seorang Ryo-chan. Mereka telah dinyatakan sebagai sepasang suami istri. Aku memeluk Mika haru.

“Hikari-chan, ayo ikut Okaa-san sekarang. Okaa-san harus mengecek tempat resepsi.”ajak Okaa-sanku saat aku sedang sibuk mengurus sepupuku yang berlarian setelah prosesi.

Aku mengikuti Okaa-san dengan patuh. Kami tiba di tempat acara tiga puluh menit kemudian. Seperti yang sudah aku duga, Bibiku ikut campur terlalu banyak dalam pesta pernikahan Mika. Konsep resepsi memang sesuai dengan impian Mika namun dekorasi dan hidangan benar-benar selera Bibi. Dan aku mulai bisa membayangkan Okaa-sanku juga pasti akan berbuat hal yang sama seperti saudarinya di pernikahanku kelak.

“Apalagi yang perlu disiapkan, Okaa-san?”tanyaku.

“Okaa-san hanya memastikan semua sudah sesuai. Kau tahu sendiri nantinya akan banyak tamu penting hadir. Kita tak boleh membuat keluarga kita malu di pernikahan Mika-chan.”

Tidak bermaksud menyombongkan diri, namun begitulah kenyataannya. Meskipun aku bukan berasal dari keluarga kaya raya namun keluargaku cukup terpandang. Kami memiliki banyak relasi dan kolega orang-orang penting dan berpengaruh.
Mika benar-benar membuatku sangat iri ketika ia memasuki tempat resepsi dengan penampilan yang luar biasa cantik. Aku hampir tak mengenali sepupuku itu dalam gaun pengantinnya. Dan Ryo-chan terlihat sebagai laki-laki paling bahagia di muka bumi hari ini karena menikahi sepupuku.

Bibiku rupanya cukup bertoleransi mengenai pilihan musik dalam pernikahan ini. Aku banyak mendengar lagu-lagu yang sesuai selera kedua mempelai semenjak acara dimulai. Satoshi Jii-san menjadi perwakilan keluarga mempelai pertama yang menyumbangkan suara emasnya di pernikahan ini. Adik bungsu Okaa-san tampil memukau dengan lagu yang mengingatkan kami semua pada jalinan cinta Mika dan Ryo-chan.

Tamu-tamu berdatangan silih berganti. Aku dengan mudah menemukan beberapa teman Mika dan Ryo-chan yang aku kenal. Meskipun aku lebih muda dari Mika, aku cukup banyak mengenal teman-teman sepupuku. Aku mungkin terlihat sedikit terkejut menyadari perubahan penampilan beberapa orang, apalagi yang datang membawa makhluk kecil nan lucu dalam gendongan.

“Kapan giliranmu, Hikari-chan?”goda Satoshi Jii-san sambil menyantap es krimnya.

“Memang Paman melihat aku membawa calon?”sahutku.

“Bukan lagi saatnya tidak memedulikan pernikahan. Tak lama lagi kau harus menyusul Mika-chan.”

“Do’akan saja aku, Paman.”

Ya. Tidak semua orang bisa memahamiku karena tidak semua orang mengerti perasaanku. Bagaimana pun telah ada Jun dalam hatiku dalam waktu yang cukup lama. Rasanya sulit bagiku untuk membayangkan pernikahan jika bukan Jun sebagai mempelai prianya.

“Ah, itu keluarga Matsumoto datang.”kata Satoshi Jii-san mengagetkanku.

Aku memutar kepalaku. Aku bisa melihat pasangan suami istri Matsumoto hendak menyalami kedua mempelai. Aku masih belum mempercayai penglihatanku saat aku melihat sosok yang amat aku kenal berjalan menuju pelaminan tepat di belakang keluarga Matsumoto

Mika tampak terkejut sepertiku. Ia langsung tersenyum penuh arti padaku. Ia tahu aku merasa senang dengan kejutan tak terduga ini.

Aku memilih menyingkir dari keramaian. Mika memberitahuku lewat senyumnya bahwa inilah saat yang tepat untuk memulai hubungan yang lebih serius dengan Jun. Namun masalahnya adalah, sampai saat ini aku tak pernah punya keberanian lebih untuk berada di dekat Jun. Aku selalu lemah di depan Jun.

Jun tampak sangat tampan tadi. Aku mengakuinya dari dulu. Dan jantungku tidak pernah berdetak normal saat aku menatapnya, bahkan sejak dulu pun selalu begitu. Jun adalah satu-satunya orang yang mampu membuat fungsi organ tubuhku tidak normal.

“Hikari-chan?”

“Hai.”

Demi apa pun. Aku benar-benar ingin segera menghilang dari pesta ini. Jun sekarang berdiri di hadapanku mengulurkan senyumnya yang mampu merontokkan persendian tulangku.

“Lama tak menjumpaimu.”

“Hai. Benar. Lama tak menjumpaimu juga.”

Dua tahun. Itulah waktu yang Jun tinggalkan untukku. Sungguh terakhir kalinya aku bertemu dengannya adalah seminggu setelah pengumuman kelulusan SMA dan ia memberitahukan kepada semua teman bahwa ia akan melanjutkan kuliah di Jerman.

“Bagaimana kuliahmu?”

“Aku? Oh ya, baik-baik saja. Meskipun tak terlalu cemerlang.”

“Jangan merendah begitu. Aku tahu kau bahkan mendapat beasiswa bukan?”

“Eh? Ya. Hanya keberuntungan saja aku kira. Nilaiku tak terlalu istimewa. Sungguh.”

Jun tersenyum lagi. Dunia benar-benar telah runtuh menimpaku saat Jun memberikan senyumannya.

“Kau sedang liburan?”

“Ya. Ini pertama kalinya aku pulang. Ternyata banyak hal yang aku lewatkan. Aku cukup terkejut karena mendapat kabar Mika Nee-san menikah setibanya aku di sini.”

“Terima kasih sudah hadir dalam acara ini.”

“Hikari-chan?”

“Hai.”

“Karena aku sedang berada di sini, bagaimana kalau besok kau menemaniku pergi? Tentu saja kalau kau tak keberatan.”

Aku tak sepenuhnya yakin bahwa ini adah sebuah ajakan kencan. Jun sering mengajakku pergi atau lebih tepatnya menghabiskan waktu bersama teman-teman kami. Bagaimana pun Jun adalah temanku sejak kecil sehingga kami tampak biasa bagi siapa pun melihat kami sering bersama.

“Tentu.”

Mika langsung menguliahiku panjang lebar saat ia berhasil menginterogasiku usai resepsi. Ia benar-benar gemas padaku karena tak menggunakan kesempatan berduaan dengan Jun menjadi sebuah langkah untuk menuju hubungan percintaan yang menyenangkan. Sepupuku itu memberiku bermacam-macam saran untuk pertemuanku dan Jun esok hari. Ia memastikan aku tak akan bersikap bodoh lagi.

Jun, sejak dulu, tak pernah suka memamerkan kekayaan orang tuanya. Ia tak pernah sekalipun bergaya membawa mobil ketika usianya belum mencapai usia yang disyaratkan. Dan inilah untuk pertama kalinya ia menjemputku dengan mobilnya. Otou-sanku yang selalu ramah pada teman laki-lakiku tak keberatan saat Jun meminta izin mengajakku keluar.

“Bagaimana jika kita ke toko buku?”tanya Jun.

“Hai. Bagus sekali.”

Ajakan ke toko buku bersama Jun bukanlah hal yang istimewa sebenarnya. Entah sudah berapa kali aku menemaninya mencari buku-buku. Dan sering kali aku harus berusaha mati-matian untuk menolak Jun yang berusaha kerasa membayar belanjaan bukuku.

“Kau masih menyukai buku-buku sastra?”

“Hai. Aku suka. Kau sendiri hendak mencari buku apa?”

“Aku rasa pasti menarik bisa pergi ke toko buku lagi bersamamu, Hikari-chan.”

Biasanya Jun dan aku berpisah menuju rak-rak buku pilihan masing-masing. Namun kali ini, Jun bahkan mengikuti memilih buku-buku sastra yang dari dulu aku sukai. Jun bersikap di luar kebiasaannya.
Ia tetap berkeras membayar semua tagihan belanjaku sore itu. Ia beralasan ingin memberiku hadiah karena sudah lama tak menjumpainya. Ia berkata bahwa untuk kali ini saja biarkan ia bersikap baik padaku. Akhirnya aku mengalah.

“Ayo, kita makan malam.”

Ini bukan pertama kalinya ada laki-laki yang mengajakkku makan malam berdua. Namun, kali ini laki-laki yang mengajakku adalah Matsumoto Jun, laki-laki yang paling aku cintai. Inilah impianku sejak dulu. Makan malam berdua dengan Jun membuatku sangat bahagia.

Jun dengan ringan menyetujui usulanku makan malam di restoran seafood favorit keluargaku. Aku mengernyit heran. Jun biasanya lebih suka makan di restoran steak yang sudah menjadi langganannya sejak lama. Ia hanya berkilah bahwa ia sedang bosan makan makanan yang biasanya.

“Jun-kun, terima kasih untuk semuanya.”kataku saat ia mengantarku pulang.

Jun tersenyum manis.

“Hikari-chan?”

“Hai.”

Aku merasakan bibir Jun di bibirku.

Ini bukan mimpi. Sama sekali bukan. Jun menciumku. Dan itu adalah ciuman pertamaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku benar-benar tak bisa berfikir.

Aku kira Jun akan menghubungiku lagi. Mengajakku bertemu atau semacamnya. Namun ponselku tidak menunjukkan tanda-tanda Jun menghubungiku. Aku jelas ingin bertanya maksudnya menciumku secara mendadak malam itu. Aku membutuhkan penjelasannya.

Aku mencintai Jun. Ya. Sangat. Dan ciumannya padaku malam itu membuatku bertanya apakah ia juga memiliki perasaan yang sama padaku. Aku berharap ia mampu membalas perasaan yang sudah lama aku simpan untuknya.
Dan kini aku berdiri di depan rumah mewah orangtua Jun. Setelah berfikir selama berhari-hari, aku memutuskan untuk menemui Jun tanpa memberitahunya. Aku bertegur sapa dengan penjaga rumah Jun yang sudah lama aku kenal.

“Miyazawa-sama, belum tahu apa yang sedang terjadi?”tanya si penjaga.

“Tentang apa?”

“Tuan Muda Matsumoto dibawa ke rumah sakit semalam.”

“Rumah sakit? Jun-kun sakit apa?”

Si penjaga rumah menggeleng. Ia mulai menceritakan kejadian semalam saat kepanikan melanda rumah karena Jun tiba-tiba ambruk. Setelah mengetahui rumah sakit tempat Jun dirawat, aku bergegas pergi.

“Hikari-chan?”sapa Jun.

Otou-san dan Okaa-san Jun menoleh ke arahku. Okaa-san Jun bangkit dari tempat duduk dan memersilakanku masuk.

“Maafkan Hikari-chan, Paman, Bibi. Hikari-chan tidak tahu Jun-kun dirawat di sini.”

Otou-san dan Okaa-san Jun tersenyum. Mereka berkata pada Jun akan keluar kamar untuk mengurus administrasi rumah sakit.

Suasana canggung meliputi kamar perawatan Jun. Aku cukup terkejut karena peralatan yang berada di sekitarnya cukup banyak. Sepanjang ingatanku Jun termasuk orang yang sangat menjaga kesehatan. Ia tidak pernah sakit parah apalagi masuk rumah sakit.

“Hikari-chan?”

“Jun-kun.”

Kami berkata bersamaan. Jun tersenyum. Aku benar-benar malu.

“Ada yang ingin kau katakan, Hikari-chan?”

“Ah tidak.”

“Aku mohon padamu. Jangan temui aku lagi, Hikari-chan.”

Aku selalu berfikir bahwa kepergian Jun ke Jerman dua tahun yang lalu hal paling menyakitkan dalam hidupku. Namun kata-kata yang baru saja meluncur dari mulut Jun sangat melukai hatiku.

“Jun-kun.”

“Pergilah. Aku tak ingin kau terluka.”

Seseorang yang paling kau cintai di dunia ini tak mengharapkan kehadiranmu. Lalu apa yang harus kau lakukan. Aku sungguh tak mengerti Jun.

“Maafkan aku, Jun-kun.”

Okaa-san Jun memanggilku saat berlari meninggalkan kamar perawatan Jun. Aku terluka sekali. Belum pernah aku merasakan kesakitan seperti ini atas sikap Jun. Aku tahu ia tak pernah mempedulikanku lebih dari seorang teman ketika di SMA. Namun sekarang, setelah semua kenangan manis yang kami lewati bersama beberapa hari lalu, haruskah aku melupakan kenangan itu?

Aku cukup sadar siapa diriku sebenarnya. Ya. Bagi Jun mungkin aku hanya teman masa kecil. Aku hanya gadis yang menghabiskan masa-masa sekolah bersamanya. Aku hanya teman berbagi cerita mengenai gadis lain yang disukainya. Aku hanya gadis temannya bertanya soal matematika yang sulit. Aku tahu. Aku hanya gadis seperti itu baginya.

Jun bagiku adalah kata-kata yang terucap setelah sekian lama. Perasaan yang harus aku sembunyikan darinya selama ini karena aku tak ingin melukai kenangan indahnya tentang gadis teman masa kecilnya. Dan setelah semua arti Jun bagiku diketahui dunia, haruskah aku menerima kenyataan pahit yang ia ucapkan?

“Hikari-chan?”panggil seseorang.

Aku menoleh. Mika di pintu kamarku.

“Kau belum kembali kuliah?”

“Besok aku baru kembali, Mika-chan. Kau sendiri? Aku kira kau pergi berbulan madu.”

“Kau lupa? Bulan depan aku baru pergi.”

Aku hanya tersenyum.

“Apa yang terjadi padamu? Aku dengar kau mengurung diri di kamar sejak siang.”

Tanpa perlu aku bercerita, Mika sudah tahu bahwa aku bersedih karena Jun. Mika tahu hanya Jun yang mampu membuat suasana hatiku berubah dengan sangat tiba-tiba. Mika hanya memelukku untuk menyalurkan dukungan yang amat aku butuhkan.

Aku berpamitan dengan Otou-san dan Okaa-san keesokan harinya. Aku harus kembali ke kota tempatku menuntut ilmu. Aku harus memusatkan kembali seluruh badan dan fikiranku demi kelancaran studiku.

Ya. Inilah saatnya aku kembali pada kenyataan. Jun memang tidak ditakdirkan untukku. Jadi aku memutuskan untuk berhenti berharap meskipun tidak serta merta menghapuskan rasa cintaku padanya.

“Hikari-chan?”sapa seseorang dari sebuah nomor yang tak dikenal di ponselku.

“Hai. Ini Hikari-chan. Maaf, dengan siapa saya berbicara?”

“Okaa-san Jun-kun.”

“Eh? Ada yang bisa saya bantu?”

Aku berusaha keras melupakan Jun selama sebulan ini. Dan Okaa-san Jun baru saja menggagalkan usahaku.

“Bibi berharap kau mau menemui Jun-kun di rumah sakit.”

Siang ini juga, aku mendapati tiket pesawat ke Jerman yang disebut Okaa-san Jun dikirimkan untukku. Apakah ini yang dimaksud Okaa-san Jun menemui putranya adalah pergi ke negeri itu? Apa yang terjadi padanya? Jun mendadak membuatku cemas.

“Jun-kun?”panggilku.

Jun tampak baru menyelesaikan makan malamnya didampingi Okaa-sannya.

“Hikari-chan, ayo masuk.”ajak Okaa-san Jun.

Sungguh membutuhkan kekuatan yang amat besar untuk menatap matanya. Jun tampak sangat berubah. Ia terlihat kehilangan berat badan.

“Okaa-san akan keluar. Kalian bisa bicara santai.”

“Okaa-san, aku akan keluar bersama Hikari-chan.”

Okaa-san Jun membantu putranya duduk di kursi roda. Aku cukup terkejut Jun bahkan seperti menahan sakit untuk duduk di kursi roda.

Jun menolak saat aku membantu mendorong kursi rodanya. Aku menurut. Ia mengajakku ke taman rumah sakit. Beruntung udara malam cukup bersahabat. Aku sudah cemas andai Jun akan kedinginan dengan tubuh sekurus itu.

“Maafkan aku.”Jun buka suara.

“Untuk apa, Jun-kun?”

“Aku sudah kasar padamu waktu itu.”

“Aku sudah melupakannya.”

“Aku menyesal kau mendatangiku saat kondisiku sudah semakin memburuk. Bukankah waktu itu aku sudah memintamu tak menemuiku lagi, Hikari-chan?”

“Jun-kun, apa yang terjadi sebenarnya?”

“Aku akan mati, Hikari-chan.”

Aku menutup mulut dengan kedua tanganku. Seumur hidup Jun belum pernah mengatakan hal seperti itu dengan nada yang amat meyakinkan.

“Kau bergurau.”

“Kau sudah melihat kondisiku. Aku akan segera meninggalkan dunia ini, Hikari-chan. Aku mohon sekali lagi padamu. Pergilah.”

“Jun-kun.”

“Aku telah mendapatkan kenangan yang manis denganmu, Hikari-chan. Aku tak ingin pergi sebagai orang yang menyakitimu.”

Tidak pernah aku mengizinkan diriku sendiri menangis di hadapan orang lain apalagi seseorang yang sangat aku cintai. Air mataku menetes tanpa bisa aku tahan.

“Lupakan aku, Hikari-chan.”

Jun memutar kursi rodanya. Ia berbalik membelakangiku.

“Aku tidak datang kemari untuk mendengarmu mengatakan hal-hal mengerikan seperti itu. Aku datang kemari dengan harapan aku akan menemui Jun-kun, temanku yang selalu membuatku tertawa saat bersamanya.”

“Jun-kun yang kau harapkan sudah tiada.”

Sikap Jun yang begitu menyakiti hatiku akhirnya terjawab. Okaa-san Jun secara diam-diam menemuiku saat aku belum mampu menghapus air mataku.

Jun sedang sangat berputus asa karena penyakit yang diidapnya. Kanker otak. Okaa-san Jun mengucapkannya dengan bibir bergetar dan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Langit seolah runtuh menimpaku saat membayangkan kejadian buruk yang ada di depan Jun. Mendadak tubuhku bergidik ngeri. Okaa-san Jun dan aku saling berpelukan.
Aku baru saja menelepon teman kuliahku. Ia sudah menjanjikan akan membuatkan surat izin untuk kuliah yang amat terpaksa tak aku hadiri. Aku ingin menemani Jun menjalani pengobatan.

Aku tahu bahwa cerita-cerita dalam drama yang aku lihat maupun novel yang aku baca pastilah bersumber dari sesuatu yang nyata di dunia yang sebenarnya. Dan kisah mengenai pemuda yang menderita kanker otak pastilah sudah banyak dipublikasikan. Namun, amat sangat berbeda rasanya jika yang harus menghadapi penyakit itu adalah orang yang aku kau cintai. Dan orang itu adalah cintaku. Jun.

“Mengapa Hikari-chan masih di sini, Okaa-san?”tanya Jun.

“Aku ingin menemanimu, Jun-kun.”

“Tidak ada yang bisa kau lakukan di sini. Pulanglah.”

Aku tidak akan menangis. Aku masih mampu menahan air mata ini.

Aku menunggui Jun seharian. Betapa pun ia tak menyukai kehadiranku, aku tak akan meninggalkannya. Aku tahu ia bermaksud baik. Ia tak ingin membuatku bersedih dengan kondisinya yang semakin memburuk.

Jun disarankan menjalani operasi meskipun kemungkinan keberhasilan kecil. Namun aku percaya akan kekuatan do’a yang mampu mengubah hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Aku percaya Jun akan pulih.

Okaa-san Jun berterima kasih karena aku bersedia menggantikannya menunggui Jun. Aku tahu Okaa-san Jun ingin membiarkanku bersama Jun sedikit lebih lama.

“Kau belum tidur?”tanya Jun.

“Aku masih ingin menatapmu.”

“Hikari-chan, mengapa kau mempersulit hidupmu?”

“Apa maksudmu?”

“Lupakan aku, Hikari-chan. Lupakan seluruh cintamu untukku.”

Jun membuatku kehabisan kata-kata. Jun ternyata merasakan perasaan yang aku simpan untukknya. Jun mengetahuinya.

“Jun-kun.”

“Aku tahu kau mencintaiku. Tapi kau tak akan pernah bisa berbahagia dengan seorang pengidap kanker sepertiku.”

“Aku bahagia selama bersamamu.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja.

“Kau tahu, Hikari-chan? Sore dimana kita bersama-sama menghabiskan waktu setelah pernikahan Mika Nee-san adalah hal terindah yang pernah terjadi padaku. Aku merasa berbahagia sekaligus bersedih karena kelancanganku untuk menciummu.”

“Apakah kau memiliki perasaan yang sama untukku?”

“Apakah aku diperkenankan untuk tidak jujur padamu kali ini?”

“Jun-kun.”

“Lebih dari apa pun. Aku mencintaimu, Hikari-chan.”

Kata-kata itu. kata-kata yang aku tunggu sekian lama. Kata-kata yang amat aku harapkan akan terucap dari bibir seorang Jun. Kata-kata yang mampu membuatku terbang ke awan. Aku kehilangan kendali diriku sejenak.
Jun memintaku mendekat. Aku menurut. Ia menyentuh tanganku. Menggenggamnya dengan genggaman seolah aku akan melepaskan diri.

“Aku mohon berbahagialah tanpaku.”

Aku membalas genggaman tangannya.

“Bahagiaku hanya padamu. Aku tak akan pergi betapa pun kau memintanya.”

Dan entah hingga berapa lama hingga aku membuka mata menyadari genggaman kami tak terlepas. Matahari sudah terbit ketika aku menyadari itu terjadi. Jun tersenyum melihatku.

“Kau tampak cantik saat tidur, Hikari-chan.”

Aku tersipu. Jun tak pernah memujiku cantik sebelumnya. Ia lebih suka menertawakan penampilanku sejak dulu. Aku tahu bahwa aku bukanlah gadis yang pintar berdandan. Meskipun aku marah padanya karena cemoohannya aku tak bisa berbuat banyak untuk mengubah itu.

“Ini pertama kalinya kau berkata aku cantik.”

“Aku tidak pernah berani mengungkapnya padamu sebelumnya.”

“Kau memintaku pergi tapi kau pula yang terus menggenggamku.”

Jun terkejut.

“Aku ingin ke toilet sebentar.”

Jun menujukkan wajah kesalnya sebelum kemudian tertawa.

Jika ini yang disebut pacaran, maka aku akan menyebutnya sangat menyenangkan. Sikap Jun kembali seperti yang aku kenal. Bahkan lebih baik. Ia lebih memperhatikanku. Ia seolah tak mau lepas dariku. Aku bahagia sekali berada di sisinya.

Jun menunjukkan gairah untuk lebih bersemangat dengan pengobatannya. Ia bersedia menjalani operasi. Hal itu membuat kedua orang tuanya sangat bahagia.

“Karena aku adalah bahagiamu, aku tidak akan pergi meninggalkanmu.”jawabnya saat aku menanyakan alasannya menyetujui operasi itu.

Aku memeluk Jun.

Sebelumnya aku tak pernah membiarkan pemuda manapun untuk menyentuhku lebih dari sekadar berjabat tangan. Namun entah berapa kali Jun menggenggam tanganku. Sesekali ia memelukku. Namun aku masih saja menolak untuk berciuman lagi dengannya.

“Aku akan memberikanmu lebih dari ciuman jika kau sembuh nanti.”janjiku.

Jun menjalani operasi hari berikutnya. Ia tampak sangat sehat dan siap utnuk menjalani operasi yang amat penting menyangkut nyawanya. Aku tak henti berdo’a mengharapkan hal yang terbaik baginya.

Keluarga Jun dan aku menunggu dengan cemas selama berjam-jam. Aku berusaha keras menepis hal-hal buruk yang terlintas di benakku. Jun akan sembuh. Jun akan sehat. Jun akan kembali padaku.

Dokter keluar dari ruang operasi enam jam setelahnya. Jun dipindahkan dalam kondisi tak sadarkan diri. Ia harus menginap di ICU.

“Putra Anda sedang mengalami masa kritis. Mari kita bersama-sama berdo’a agar ia mampu melewati masa kritis ini.”
Tangis Okaa-san Jun pecah. Antara bahagia dan sedih. Okaa-san Jun tampak belum lega atas jawaban dokter mengenai kondisi Jun.

Aku tak pernah melihat ruang ICU seseram itu. Sebabnya apalagi kalau bukan Jun yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Aku ingin sekali berbagi rasa sakit dengannya namun aku tahu ia sangat kuat untuk memenangkan pertarungan ini.

“Jun-kun sudah sadar, Okaa-san.”kataku saat memberi tahu Okaa-sanku lewat telepon.
Aku bisa mendengar tangis haru Okaa-sanku. Aku tahu ia amat mencemaskan Jun. Okaa-san berpesan agar aku selalu menjaga kesehatan dan menjaga Jun.

“Okaa-sanku menitip salam untukkmu.”

Jun kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ia belum diizinkan untuk banyak berbicara. Ia hanya menanggapi dengan tersenyum. Aku sangat bersyukur melihat keadaan Jun.

Tanpa mengatakan apa pun, Jun memintaku untuk selalu berada di sisinya. Tanpa sungkan ia terlihat sangat bermanja padaku di depan keluarganya. Aku sungguh merasa tak nyaman. Jun konyol sekali.

“Jun-kun, aku minta maaf.”

Jun terdiam.

Aku sungguh merasa tak enak padanya karena aku harus kembali masuk kuliah. Aku sudah pada batas maksimal untuk mengambil izin. Aku tidak bisa menemaninya lebih lama lagi. Aku benar-benar menyesal.

“Pulanglah. Tunggu aku kembali.”

Jun menyungingkan senyumnya. Aku mencium keningnya sebelum pergi.

Fakta bahwa sekarang aku adalah kekasih Jun telah diketahui oleh seluruh keluargaku. Mika-lah yang paling berbahagia atas berita itu. Ia turut bahagia karena akhirnya aku bisa bersama dengan orang yang paling aku cintai.
Okaa-san maupun Otou-san tidak menujukkan gejala penolakan aku menjadi kekasih Jun. Mereka tidak berkomentar banyak. Mereka hanya menasehati untuk selalu menjaga hubungan. Mereka mengharapkan yang terbaik untukku.

Ternyata butuh waktu dua puluh dua tahun bagiku untuk menemukan cinta. Dan cinta itu adalah Jun. Cinta yang sudah ada dalam hatiku sejak aku berusia sepuluh tahun. Namun cinta itu baru terbalaskan bertahun-tahun kemudian.
Cinta memiliki jalannya sendiri. Aku yang sudah amat berputus asa atas cintaku pada Jun harus mengembalikan perasaan pada jalan yang seharusnya. Aku sadar betapa pun aku mencoba melupakannya, Jun kembali padaku dengan jalan takdir yang tak disangka-sangka.

“Hikari-chan, besok kau akan pulang ke rumah bukan?”tanya Okaa-san padaku saat aku sedang berkemas.

“Hai, Okaa-san. Liburan sudah dimulai. Aku akan pulang besok.”

Aku sangat menantikan kepulanganku ke rumah. Tentu saja karena berita bahagia dari Jerman. Jun akan kembali ke Jepang minggu depan. Aku akan segera berjumpa lagi dengan kekasihku.

Otou-san belum pernah terlihat sangat rapi seperti malam ini. Otou-san hanya berkata bahwa akan ada tamu spesial berkunjung ke rumah kami. Sementara aku mendapati Okaa-san tersenyum penuh rahasia.

Aku tak terlalu tertarik melihat sikap aneh kedua orang tuaku. Aku sedang berkirim pesan dengan Jun.

“Hikari-chan, kemari sebentar.”panggil Okaa-san.

Aku sedang malas untuk menemui tamu Otou-san. Aku sedang tak ingin beramah tamah dengan tamu Otou-san. Tentu saja karena Jun yang sedang menggodaku di pesan singkat yang dikirimkannya.

“Jun-kun?”

Aku tak mempercayai pandanganku. Jun duduk di kursi rodanya di ruang tamuku. Ia datang bersama kedua orang tuanya.

“Kau bilang akan kembali pekan depan?”

“Perubahan rencana. Kau terkejut?”

Aku tahu mukaku seketika merah padam karena jawaban Jun.

“Jun-kun punya satu kejutan lagi untukmu, Hikari-chan.”kata Okaa-san Jun.

“Ia baru saja melamarmu.”jelas Otou-san.

Pendengaranku masih berfungsi dengan baik. Sungguh. Gurauan yang sama sekali tak lucu aku kira. Namun Jun menatapku dengang wajah serius.

“Hikari-chan, apakah kamu bersedia menikah dengan Jun-kun?”kali ini Otou-san Jun yang bertanya.
Aku terdiam.

“Hikari-chan, Jun-kun menanti jawabanmu.”kata Otou-san.

Aku menatap Okaa-san. Aku paling tahu bahwa Okaa-san tidak akan mengizinkanku menikah sebelum kuliahku selesai. Kuliahku sudah di semester akhir.

“Okaa-san akan senang sekali jika kau menikah dengan Jun-kun.”ucap Okaa-san seolah membalas pertanyaan dalam tatapanku.

Aku terlalu malu untuk mengatakan ‘ya’ di hadapan keluargaku, keluarga Jun dan tentu saja Jun. Aku hanya mengangguk
untuk menyembunyikan wajahku yang semakin merah ini. Jun benar-benar mempermainkanku.

“Kau benar-benar jahat, Jun-kun.”cecarku saat memisah diri dari keluarga kami.

“Jahat bagaimana? Aku hanya berusaha bersikap sebagai seorang laki-laki. Aku serius denganmu, Hikari-chan.”

“Tapi kau tak perlu berbohong akan kembali minggu depan.”

“Memang apa bedanya? Semakin cepat semakin baik, bukan? Mungkin minggu depan kau sudah sah menjadi Nyonya Matsumoto.”

“Jun-kun, jangan menggodaku seperti itu.”

“Aku tak menggodamu. Aku hanya menagih janjimu.”

“Janji?”

“Aku menginginkan lebih dari sekadar ciuman darimu.”

Jun benar-benar telah menaklukan hatiku.

-THE END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s