[Drabble] Present for Raura

Present for Raura

Inoo Raura

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Hey! Say! JUMP Yabu Kouta

By: Ikkeh

Cover by: @milamunifa and Koizumi Arina

Selamat ulang tahun ke 20 ditanggal 10 Oktober. 🙂 30 drabble untukmu, Laura~

1444262732169

Setsuna Hikikaeni – Hey! Say! JUMP

Raura, dia yang selalu mewarnai hari-hariku. Gadis yang periang, menurutku. Di saat aku dalam keterpurukan aku selalu diberikan semangat olehnya. Rasanya aku bisa bangkit kembali dari keterpurukanku. Lama kelamaan aku semakin ingin melindunginya, jika dibayangkan dia seperti bidadari yang diselimuti cahaya yang dapat membuat siapa pun bahagia.

Tidak, mungkin dia hanya memberikan cahaya pada seseorang yang bernama Yabu Kouta. Itulah namaku. Apakah kita memiliki perasaan yang sama, Raura?

Kuharap kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku menyukaimu—tidak, aku mencintaimu sahabatku, dari lubuk hatiku yang terdalam.


Can’t Say – VIXX

Ya, sudah kuputuskan. Aku akan menyatakan perasaanku pada Raura. Sejak kemarin aku sudah membeli satu bouquet bunga mawar, membuat coklat untuknya, walaupun bukan untuk hari valentine, hehehe… dan aku juga sudah berlatih didepan cermin untuk menyatakan perasaanku. Perjuangan yang besar, bukan? Hahaha.. aku sudah tidak sabar lagi untuk menanti Raura menjadi kekasihku.

Hari ini aku bermaksud menyatakan cinta padanya. Semua benda yang sudah ku siapkan aku masukan kedalam tas. Tidak sengaja teman sebangku ku melihat kedalam isi tasku. Dia sempat menertawaiku karena niatku untuk menyatakan cinta pada Raura yang merupakan sahabatku sendiri. Aku jadi tidak percaya diri, mungkin dia benar, aku tidak akan bisa menyatakan perasaanku pada Raura. Dan mana mungkin Raura mau menerimaku.

Lidahku keluh, keberanianku hilang. Aku tidak bisa mengatakannya dan aku tidak akan pernah mengatakannya.


Just For You – Hey! Say! 7

Kalau kau mendengar ceritaku, mungkin aku terdengar seperti orang yang freak.

Namaku Yabu Kouta. Setiap di sekolah aku selalu memerhatikan seorang gadis yang bernama Raura, bisa dibilang dia temanku atau sahabatku tapi aku memiliki rasa yang lebih padanya. Aku hanya bisa melihat senyumnya dari kejauhan.

Pernah suatu saat dia tidak masuk sekolah karena ada keperluan keluarganya dan hal itu membuatku rindu akan tingkah lakunya yang membuatku bahagia. Setiap saat aku tersenyum untuknya, menangis untuknya, berusaha untuknya dan semua itu dari lubuk hatiku yang terdalam. Mungkin ini akan terdengar egois tapi aku tidak akan melepas Raura dan tidak akan membiarkan siapapun mendekati Raura.

Karena dia adalah segalanya bagiku.


Last Moment – spyair

Beberapa hari ini aku berdiam diri dikamar, sejak aku mengurungkan niat untuk menyatakan perasaanku pada Raura. Ya, itu berawal setelah teman sebangkuku menertawakan niatan yang sudah ku kumpulkan dengan matang, lalu pupus begitu saja. Jika dipikir-pikir apa yang sedang aku lakukan saat ini? Bodohnya aku, dengan mudahnya aku termakan hal konyol seperti itu. Lagi pula aku ini bukanlah anak kecil lagi. Yang kuinginkan adalah menjadi kepingan hidup gadis yang aku cintai. Kemudian merajut masa depan bersama. Tapi tetap saja perkataan temanku membuat seorang Yabu Kouta sepertiku terus terngiang sampai aku menjadi pengecut seperti sekarang. Aku ingin menghapus jiwa yang pengecut ini.

Besok, ya besok! aku akan mengutarakan perasaanku pada Raura, pasti!


Regret – Hoshimura Mai

Hari ini, aku memutuskan untuk menyatakan cinta pada Raura. Hatiku senang bukan kepalang, sewaktu istirahat tadi aku sempat mengajaknya untuk pulang bersama dan tentu saja Raura menerima ajakanku. Mungkin Raura rindu denganku, karena beberapa hari yang lalu aku tidak masuk sekolah. Apakah ini pertanda baik? Oke, aku terlalu banyak berimajinasi.

Aku sudah tidak sabar untuk mendengar bel pulang berbunyi. Di jam pelajaran terakhir aku menghitung setiap detik yang berlalu sampai bel pulang berbunyi. Yes, akhirnya aku bisa mengatakannya pada Raura.

Singkatnya kami pulang dengan arah jalan pulang yang sama, saat diperjalanan aku mulai menyatakan perasaanku pada Raura. Dan tampaknya Raura menyesali dengan ajakan pulang dan kejutan yang kuberikan padanya.

Ya, Raura menolakku tapi tanpa alasan. Mungkinkah dia belum siap? Mungkin saja… ya, mungkin saja…


Beautiful Liar – VIXX

Akhir pekan ini, aku tidak punya kegiatan apa-apa. Mengajak Raura pergi? Tidak, tidak sekarang, mungkin lusa. Mungkin Laura akan merasa ‘awkward‘ jika kami bertemu lagi.

Hari ini aku mau pergi ke mini market terdekat, tiba-tiba saja pemandangan tidak enak terpampang didepan mataku. Raura, dia sedang berjalan-jalan dengan mesranya bersama Chinen Yuuri. Sejak kapan? Apakah sejak aku mengurung diri, dia menjadi dekat dengan Chinen Yuuri? Rasanya sakit, sangat sakit. Apakah karena Chinen Yuuri, makanya aku ditolak olehnya?

Sepasang bola mata yang kukenal melihat ke arahku, Raura melihatku penuh dengan sesal. Ia menolakku karena dia sudah menjalin kasih dengan Chinen Yuri. Aku memberikan sebuah senyum palsu seperti orang yang bahagia atas hubungan mereka berdua. Dan sepertinya Raura percaya dengan topeng yang aku pakai saat ini.

Aku melakukan sebuah kebohongan yang indah. Hatiku teriris tapi aku tetap tersenyum, Ini luka yang indah, aku harus membunuh sisi dalam diriku, menerima air mataku dan mengenakan topeng yang tersenyum. Oh, ternyata aku hebat. Ah bukan, aku seorang pembohong sekaligus pengecut.


When I was Your Man – Bruno Mars

“Yuri… apa kamu tidak sibuk hari ini?” suara di seberang sana membuat Chinen menghela napasnya panjang, tugas kuliahnya hari ini sangat menumpuk. Bagaimana mungkin ia bilang kalau hari ini ia tidak sibuk.

Gomen ne, Raura-chan… aku lagi banyak tugas” jawab Chinen menyesal.

“Aah.. padahal aku ingin jalan-jalan sama Yuri-kun” rengek Raura manja, Chinen melirik jam dinding kamarnya, ini masih lagi kemungkinan siang nanti tugasnya sudah beres semua.

“Ya sudah, nanti siang jam satu kita ketemuan di stasiun aku akan mengajak mu ke suatu tempat, oke?” usul Chinen, demi menenangkan kekasihnya.

Terdengar sorakan gembira dari telepon Chinen yang tersambung dengan Raura “oke… jangan telat ya” suaranya sangat gembira.

“Iya sayang” Chinen menutup sambungannya. Namun detik kemudian ia kembali menerima telepon “moshi moshi? Apa? Serius kamu mau bantu? Oke nanti siang aku ke sana” ia kembali menutup teleponnya. Sejurus kemudian ia menepuk dahinya sendiri, Chinen lupa kalau ada janji dengan Raura. Sedangkan tugas itu sangat penting.

Okelah, bisa ia atur nanti saja.

Raura duduk di kursi tunggu, sebentar lagi kereta akan datang ia berkali-kali melihat jam tangannya, tapi orang yang ia tunggu sedari tadi belum juga datang. Kemana Chinen?

Kini Raura sudah menempelkan handphone-nya ke telinga, menghubungi Chinen.

Moshi-moshi?” Raura tersenyum karena teleponnya di angkat.

“Yuri, kau dimana?”

Ano.. itu…” Raura menyergit, kenapa Chinen sepertinya kebingungan?

“Aku.. ada urusan mendadak, maafkan aku ya… sayang” Raura tersenyum namun matanya mengeluarkan kristal bening dan lalu turun ke pipi mulusnya, ia tidak bisa bicara. Kalau ia bersuara Raura takut tangisnya akan pecah.

“Sayang?” panggil Chinen setelah lama tidak ada sahutan dari Raura, gadis itu tertegun lalu cepat-cepat menghapus air matanya dan menarik napas.

“Iya, tidak apa-apa. Have fun

Arigatou

“Permisi nona, kenapa menangis?” tegur seseorang setelah Raura memutuskan teleponnya dengan Chinen. Ia tersenyum lalu kembali menghapus air matanya yang mengalir—lagi.

“Hmm.. tidak apa-apa… kamu mau kemana?” tanya Raura mengalihkan pembicaraan, terlihat dua tiket kereta yang ada di tangan pria itu, tapi ia terlihat hanya sendirian.

“Aku ingin ke Okayama, tapi… orang yang aku ajak sepertinya tidak mau” ia menunduk sambil tertawa hambar “kamu sendiri?”

“Hmm tidak tahu, pacar ku tadi janji akan mengajakku ke suatu tempat tapi dia tidak jadi”

“Bagaimana kalau ikut aku? Kebetulan sekali kan?” pria itu tersenyum, manis.

“Tapi…” Raura melihatnya takut.

“Tidak apa-apa.. aku pria baik-baik” Pria itu mengulurkan tangannya ke Raura “Yabu Kouta desu

Pelan-pelan Raura menyambut tangan itu “Inoo Raura desu

“Jadi mau?” Raura pikir pria ini tidak jahat, di lihat dari style-nya pria yang bernama Kouta itu terlihat baik.

“Un oke”

3 Month Later

Kini Raura dan Chinen akhirnya bisa jalan bersama, setelah tiga bulan yang penuh penyiksaan bagi Raura karena menahan rindunya bertemu kekasihnya itu.

Chinen menegak minuman juice-nya lalu menatap Raura “Iya, kenapa?”

“Aku…” Raura mengenggam baju dress-nya dengan kuat. Jujur, saat ini ia tidak ada rasa sama sekali kepada Chinen karena kehadiran Yabu. Setelah tiga bulan terus bertemu dan saling berkomunikasi. Cinta nya telah teralihkan oleh pria tinggi itu.

Raura menelan ludahnya “Aku.. menyukai seseorang” Chinen terdiam lalu menatap Raura dalam.

“Siapa?” tanya Chinen mengintimidasi “buat apa kita jalan-jalan seharian ini?” tanya pria itu lagi.

Tangan Raura menunjuk ke arah belakang Chinen, seorang pria tinggi dengan gaya modisnya sudah ada di sana tersenyum ke arah Raura dan Chinen—tepatnya ke mata Raura.

Chinen mengikuti arah tangan Raura, lalu menghela napasnya, “jawab pertanyaanku yang selanjutnya” kata Chinen kembali menatap gadis di hadapannya itu.

“A-aku ingin melepas kangen dan…” mata Raura melihat kemana-mana mencari alasan, “ingin bilang kalau aku ingin kita putus” ia menunduk dalam.

Chinen mengangkat wajah Raura lalu mencium bibir gadis itu yang kini bukan lagi kekasihnya, “maaf kalau aku sering mengabaikan mu. Bahagialah dengan dia, aku juga akan bahagia” bisik Chinen di telinga Raura.

Membuat Raura mengeluarkan air matanya, “Chinen-kun” panggil Raura gemetar.

Chinen menarik tangan Raura ke arah Yabu, saat sampai ia mengambil tangan Yabu lalu menyatukan tangan Yabu dan tangan Raura.

“Jaga dia baik-baik ya” kata Chinen kepada Yabu, pria jangkung itu mengangguk.

“Oke, Chinen-kun

Chinen membulatkan matanya “kau tahu..nama ku?”

“Raura yang bercerita” mereka berdua menatap Raura yang masih menunduk.

“Baiklah.. semoga kalian langgeng”

Arigatou” lalu Yabu mengenggam tangan Raura lebih erat dan mengajak gadis itu pergi dari hadapan Chinen.

Untuk pertama kalinya, Chinen menangis karena kepergian Raura dari pelukannya.


See You – Matsushita Yuya

Raura menelan ludah. Dia sebenarnya masih ragu dengan keputusannya. Tapi dia tidak bisa lagi memutar ulang waktu, sudah terlambat untuk menyesal.

Gadis itu menatap seorang pemuda yang sedang duduk di hadapannya. Tak ada senyum yang biasa diberikan untuk gadis itu di pagi yang mencekam untuk mereka berdua. Hanya ada guratan sedih dan marah yang tertahan di wajah pemuda itu. Raura menghela napas panjang.

Raura berdiri dari duduknya membuat pemuda itu sedikit tersentak dan melihat Raura dengan tatapan sendu. Mungkin saja dengan memberikan tatapan itu, Raura akan berubah pikiran. Namun sepertinya itu sia-sia saja. Raura balik menatapnya dengan wajah datar. Didalam hatinya, Raura mati-matian untuk tidak menunjukkan ekspresi.

“Sudah waktunya.” ucap Raura. Di melangkah namun terhenti saat merasakan sentuhan hangat di pergelangan tangannya.

“Tunggu.” Pemuda itu bersuara.

Raura melihatnya, “Apa lagi?”

Pemuda itu berpikir sejenak. Lalu menelan ludah dengan kasar, “Bisakah… aku memelukmu?”

Alis Raura menaik sedikit. Kemudian dia berjalan mendekati pemuda itu, menariknya untuk berdiri dan memeluknya erat. Begitu juga dengan pemuda itu, dia memeluk Raura seakan tidak ingin berpisah. Merasakan kehangatan dari orang yang dia cintai untuk terakhir kalinya.

“Aku mencintaimu.”

Raura tidak membalasnya. Dia juga mencintai pemuda itu, tapi dia harus meninggalkannya. Jika tidak, dia tidak akan bisa meraih apa yang dia impikan sedari kecil. Hatinya juga sakit untuk berpisah, dia mengerti perasaan pemuda itu.

“Tidak masalah kalau kau memakiku atau memukulku sebanyak apapun, aku belum bisa melepaskanmu.” ucapnya lagi.

Rasanya Raura ingin menangis di pelukan hangat pemuda itu. Tapi tidak, dia tidak bisa menangis sekarang. Itu hanya akan menghentikan langkahnya.

“Tapi aku akan terus mendukungmu, Raura.” Pemuda itu lebih mengeratkan pelukannya. Kemudian tangannya membelai rambut halus Raura dengan sayang.

Raura mendorong tubuh pemuda itu sedikit, bermaksud untuk melepaskan pelukannya, “Aku harus pergi.”

Tatapan mereka bersatu untuk terakhir kalinya. Raura langsung mengalihkan pandangannya, dia tidak sanggup menatap pemuda itu terlalu lama.

Bunyi hak sepatu Raura menggema di ruangan yang sunyi itu seperti tidak berpenghuni. Pemuda itu terus melihat punggung Raura. Berharap Raura berbalik dan berkata ini hanya acting. Raura berjalan menuju koper yang sedari tadi tergeletak manis di dekat kamar mereka lalu menariknya sampai ke depan pintu akses keluar dan masuk tempat itu.

Di depan pintu, Raura menatap kenop pintu. Tangannya yang bergetar mulai mendekati kenop pintu dan memegangnya. Tiba-tiba sekelebat kenangan bersama pemuda itu di ruangan itu terputar di otak Raura. Raura menutup mulutnya kencang sampai rahangnya terasa sakit untuk menahan tangisnya.

“Raura… aku selalu menunggumu disini, cepatlah kembali. Jangan lupa untuk tersenyum setiap hari ya.” Terdengar nada sedih di suara pemuda itu.

Raura menarik napas dan membuangnya perlahan, “Arigatou, Yuuri.” bibirnya bergetar saat mengeluarkan kata itu.

Tangannya pun memutar kenop pintu dan pintu terbuka. Dia berjalan keluar sambil menarik kopernya.

“Sampai jumpa.” ucapnya sebelum pintu itu ditutup dan airmatanya mengalir deras di pipi lembutnya.

 

Beautiful Rain – NEWS Koyama Keiichiro

Langit menangis, udara dingin menyentuh kulit dengan lembutnya. Chinen berlari menuju jendela, menatap langit kelabu yang menjatuhkan butir-butir air ke bumi. Dia membuka sedikit jendela itu dan tersenyum kecut, setiap hujan dia pasti teringat gadis itu.

Raura, gadis yang pertama kali dia jumpai saat hujan di tempat Chinen berteduh. Yang akhirnya jadi saling kenal karena berbincang selama menunggu hujan deras itu reda. Yang menjalani kisah cinta pertama kali di saat hujan. Yang berpelukan dan berciuman ketika rintik hujan mulai membasahi tubuh dan berpisah saat hujan disertai petir terjadi. Kisah mereka semuanya terjadi saat hujan, membuat hujan seperti sesuatu yang Chinen tunggu dan Chinen hindari.

“Raura.. You’re just my beautiful rain.”


Who Is? – Bruno Mars

Chinen melirik jam dindingnya sambil terus menatap Handphone nya, pesan yang Chinen kirim kepada kekasihnya belum juga ada balasan. Jam sudah menunjukan pukul 23.00 malam, tapi tunangannya itu belum juga pulang ke rumah mereka.

Karena kecewa pesannya tidak di balas pria itu pun memutuskan untuk menelpon Raura-tunangannya.

Baru saja ia menempelkan benda itu ke telinganya Chinen mendengar suara mobil dari depan rumahnya, pria itu bergegas mendekati jendela lalu sedikit membuka gorden untuk melihat situasi di luar.

Oyasumi, Raura-chan” pria yang berada di hadapan Raura mengacak lembut puncak kepala Raura sambil tersenyum, matanya menghilang saat ia tersenyum.

“Iya… Kouta-kun juga ya” balas Raura lalu mencium singkat bibir tipis pria itu.

Chinen cepat-cepat menutup gorden lalu mengambil napas yang banyak, dadanya terasa sesak melihat itu, dan wajahnya juga terasa sangat panas.

Siapa pria itu? Kenapa memanggil nama Raura dengan seenaknya, begitu juga sebaliknya? Dan kenapa Raura mencium pria tinggi itu? Chinen meremas rambut hitamnya, begitu pusing kepalanya saat ini.

Tadaima…” Raura masuk kerumahnya lalu duduk di atas sofa, tangannya sudah penuh dengan kantong belanjaan bermerek mahal. “Yuri….” panggil Raura sambil membuka satu persatu belanjaannya tersebut.

Chinen yang masih shock melihat tunangannya berciuman dan bermesraan dengan pria tidak di kenal, ia masih diam di tempat “Yuri-kuuun kau sudah tidur ya?” teriak Raura lagi, masih melakukan hal yang sama.

Raura mengangkat baju barunya ke udara sambil tersenyum senang, “Kouta memang baik sekali.” ujarnya sambil terkekeh pelan, namun raut wajahnya berubah saat baju itu di ambil alih oleh Chinen, Raura menatap kekasihnya tidak suka lalu berdiri “apa-apaan sih?”

“Kamu yang apa-apaan? Mencium lelaki duluan? Giliran aku ingin mencium kau selalu menolak” Chinen mendengus “dan ini apa? Barang dari dia?” marah Chinen sambil menyodorkan baju Raura tepat di wajah Raura.

“Kalau iya, kenapa? Dia lebih kaya, lebih tinggi dan lebih berwibawa. Sedangkan kau apa? Hanya bermodal cinta? Kau pikir kita bisa hidup hanya dengan cinta?!” Chinen tertegun mendengar kata-kata itu.

“Dengar ya, kalau bukan karena di jodohkan aku tidak mau denganmu, aku tidak ada rasa. Keputusanku bulat ingin membatalkan pernikahan kita. Maafkan aku, aku bukan tunanganmu lagi mulai malam ini. Dan selamanya.” Raura mengambil bajunya yang ada di tangan Chinen lalu membawa semua barangnya ke dalam kamar.

Setelah gadis itu menutup pintu kamar, Chinen membanting dirinya di atas sofa sambil menutup wajahnya menggunakan tangan yang sudah basah dengan air mata “Setidaknya aku tulus mencintai mu” bisik Chinen, namun hanya dia yang bisa dengar.


Grenade – Bruno Mars

Chinen berkali-kali menelpon kekasihnya, Raura namun tidak ada sahutan, ia juga sudah mengirim e-mail namun tidak ada balasan. Sudah satu jam Chinen menunggu kekasihnya itu di depan bandara, gadis itu sebelumnya sudah berjanji akan menjemputnya.

Karena sudah tidak tahan, ia pun pulang menggunakan taksi, saat sampai dirumah, Chinen tidak menemukan Raura dimanapun, namun saat ia memeriksa kamar gadis itu rupanya Raura sedang tertidur pulas di kasur empuknya.

Chinen mendekat lalu duduk di pinggir kasur kekasihnya. Raura menolak saat Chinen mengajaknya untuk satu kamar.

Perlahan Chinen mengelus rambut Raura dengan sayang, karena sentuhan itu Raura terbangun lalu duduk.

“Eh, kau sudah pulang?” tanya Raura, Chinen mengangguk “hmm baguslah. Jaga rumah, aku ingin pergi” lalu ia beranjak dari kasurnya.

Namun Chinen menahan gadis itu, menarik tangan Raura hingga ia duduk di pangkuan Chinen, tangannya mengurai kepinggang Raura, memeluk gadis itu.

“Kamu tidak merindukanku?” Chinen berbisik.

“Tapi aku ada perlu… sebentar saja ya..” Raura melepas pelukan Chinen, tidak ingin ada perdebatan pria itupun akhirnya mengalah dan mengizinkan kekasihnya pergi. Meskipun Raura tidak menjelaskan ia akan kemana.

Malam hampir datang dan Raura belum juga pulang, namun Chinen yang memang ahli memasak ia sudah menghidangkan berbagai makanan di meja makan milik mereka berdua. Dan juga ada lilin di atas mejanya itu.

Malam ini Chinen akan melamar Raura untuk menjadi istrinya, ia duduk di sebuah kursi sambil memandangi sebuah cincin di dalam kotak berbentuk hati. Namun cepat-cepat ia tutup kembali saat Chinen dengar ada kegaduhan di depan rumahnya. Itu suara Raura dan.. seorang pria?

Saat Chinen membuka pintu rumahnya dua orang langsung masuk, satu pria dan satu wanita yang sedang digendong oleh pria itu, dia Raura.

Gadis itu terlihat mabuk saat pria itu menaruh Raura di atas sofa.

“Yabu-kun~ jangan pergi” ia menarik wajah Yabu tadi dan langsung menciumnya. Sedangkan Chinen? Pria itu hanya bisa diam terpaku melihat itu. Ia berjanji akan membatalkan lamarannya malam ini, bahkan selamanya.


Tell Me Good Bye – Big Bang

“Jauhi wanita itu, karena ayah sudah memilihkan calon yang tepat untuk mu” kata-kata itu yang kini terus terngiang di benak Chinen, dengan kesal pria itu mengacak rambutnya padahal ia sedang berada di sebuah taman menunggu kekasihnya datang.

Pria itu terkejut saat Raura memanggil namanya dan langsung menyuruh Raura duduk di sampingnya. Di genggamnya tangan Raura lalu menatap gadis itu dalam-dalam.

“Raura.. aku ingin mengatakan sesuatu… dan kamu harus bisa mengerti ya” Raura masih diam menunggu kata-kata Chinen selanjutnya.

“Aku, dijodohkan oleh orang lain” tiba-tiba air mata Raura sudah keluar membasahi kedua pipinya.

“Jadi aku?” tanya Raura bergetar.

“Maafkan aku… kalau kita terus bersama ayah ku tidak akan segan mengirimmu keluar negeri, dan aku tidak mau itu. Tolong mengertilah, ya?” ia semakin erat menganggam tangan Raura. Lalu memeluk gadis itu.

Tangis Raura pecah di dekapan Chinen, ia tidak sanggup untuk kehilangan Chinen. Namun ia harus melalukan ini, demi kehidupannya.


When Your Gone – Avril Lavigne

Raura melangkahkan kakinya keluar dari bandara Narita ia habis mengantar kekasihnya Chinen Yuri yang kini sudah berangkat menuju Amerika. Kekasihnya itu pergi untuk menuntut ilmu di negeri paman Sam.

Sebuah pesawat yang baru saja terbang terdengar hingga ke telinga Raura, air matanya kembali menetes saat mengetahui itu adalah pesawat yang di dalamnya ada Chinen. Meski kekasihnya itu selalu mengatakan akan selalu setia dan baik-baik saja tapi tetap saja Raura sangat khawatir.

Malam pun datang, Raura terus memegang handphone nya sambil berharap cemas, pasalnya Chinen janji akan mengabarinya saat sudah sampai di sana. Tapi sampai sekarang lelaki itu belum ada kabar.

“Raura!” teriak ibu dari ruang keluarga, Raura yang sudah berselimut di kasurnya cepat-cepat keluar dari kamar dan menemui ibu nya “ada apa bu?”

“Chinen mu lagi ke Amerika kan? Ini pesawatnya?” ibu menunjuk ke arah tv. Saat ia melihat kaki Raura serasa lemas dan akhirnya terduduk di lantai sambil menangis.

Pesawat Chinen mengalami ledakan di udara karena ketinggiannya yang melebihi batas, dan tentu saja tidak ada orang yang terselamatkan.

“Huwaahh Yuriiii…..” Raura membanting handphone-nya hingga pecah, dan langsung mengacak rambutnya. Melihat anaknya yang tentu saja sangan shock, sang ibu pun memeluk Raura untuk menenangkan anaknya, “tenanglah.. Chinen pasti sedih kalau kamu begini” namun Raura masih menangis sejadi-jadinya. Kekasih pertamanya sudah pergi untuk selamanya.


Shadow – Sam Tsui

“AAAAAAAARGH!!!”

Suara teriakan itu membuat seorang wanita berlari ke sumber suara di sebuah kamar. Dia memasuki kamar itu dan melihat sosok yang terlihat sangat frustrasi.

Wanita itu menghampiri dan memeluknya, “Ada apa? Kenapa, Raura?”

Sosok yang disebut Raura itu menangis, “Oneechan…”

“Ada apa, sayang?”

“Aku… aku melihatnya masuk ke kamarku.”

Wanita itu mengeratkan pelukannya, “Tidak, Raura. Itu hanya halusinasi.”

“Aku takut. Takut… aku takut..” Raura memegang tangan wanita itu kuat, tangannya sangat bergetar, “AAARGH!”

Dia kembali berteriak. Memegang kepalanya dengan kencang, matanya yang berair melihat ke kiri dan ke kanan dengan cepat kemudian menutup matanya dengan sangat rapat.

Sekelebat kenangan menari-nari di kepalanya. Kenangan saat dia bersama dengan pemuda yang tersenyum bahagia padanya. Saat merasakan kehangatan yang diberikan pemuda itu. Saat tertawa bersama dengan pemuda itu. Dan saat mata pemuda itu menatapnya datar dan pergi meninggalkannya tanpa alasan. Padahal Raura sudah menaruh sebagian kehidupannya dan percaya penuh pada pemuda itu.

“Berhenti..” ucapnya bergetar, “BERHENTI!!!” Tangisnya pecah. Wanita yang dipanggil kakak olehnya hanya bisa memeluknya saja, dia tidak mengerti harus bagaimana dia membuat Raura tenang jika sudah begini.

“Kenapa… kenapa bayangmu masih tertinggal disini? KENAPA? MAU MEMATA-MATAIKU? PUAS MELIHATKU SEPERTI INI, HAH? YUURI, JAWAB!!”

“Raura, tenang.. kau pasti menemukan yang lebih baik darinya.”

“Bagaimana bisa, neechan? Bantu aku membunuh bayangnya..” Raura terisak, “Bayangnya yang lupa dia bawa pergi bersamanya..”


That XX – G Dragon

Semua tamu undangan di gedung ini bertepuk tangan saat dua kekasih itu menyatakan kalau mereka telah resmi bertunangan. Inoo Raura dan Yabu Kouta, keduanya terlihat sangat bahagia.

Namun hanya Chinen sendiri yang tidak bertepuk tangan ia hanya menatap Yabu dengan tatapan benci pasalnya ia pernah tidak sengaja melihat Yabu berjalan dengan wanita lain selain Raura. Dan juga, ia menyukai Raura teman SMA nya itu.

Hari terus berlalu Raura selalu menghubungi nya dan menceritakan kisahnya bersama Yabu yang terdengar sangat manis namun membuat Chinen muak.

Hari ini, Chinen dan teman-temannya termasuk Raura sedang bejalan-jalan untuk reuni SMA sambil membawa pasangan masing-masing. Yabu tidak bisa ikut karena beralasan sedang ada pekerjaan hari ini. Kebetulan Chinen tidak mempunyai pasangan ini adalah kartu AS bagi Chinen untuk jalan-jalan bersama Raura.

Mata Raura terpaku saat tidak sengaja melihat tunangannya Yabu Kouta sedang bergandengan dengan wanita lain, bahkan pria itu tidak memakai cincin tunangan mereka. Membuat Raura memisahkan dirinya lalu berlari entah kemana, beruntung Chinen menyadari itu dan langsung menyusul Raura.

Kaki Chinen berhenti di parkiran paling atas, melihat gadis itu sedang melihat luasnya langit dari atas gedung mall ini. Pundak gadis itu naik turun menandakan kalau ia sedang menangis hebat.

Chinen mendekat lalu memeluk Raura dari belakang. Ingin rasanya ia mengeluarkan semua isi hatinya namun tidak saat ini, bukan waktu yang tepat.

Tanpa Chinen sadari badan Raura berbalik dan memeluk tubuh Chinen erat. Tangisnya semakin jadi.

Tinggalkan pria itu dan jadilah milikku., bisik Chinen dalam hati.


Time – Hey! Say! JUMP

“Kouta, kenapa?”

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin kita berpisah.”

“Kau tidak mencintaiku lagi?”

“Aku mencintaimu, tapi…”

“Tapi apa? Apa ada wanita lain?”

“Tidak, bukan begitu. Tapi waktu yang menyuruh kita seperti ini.”

“Aku tidak mengerti!”

“Aku juga, Raura. Tapi kita harus berpisah karena waktu tidak bisa diputar balik apalagi dihentikan.”

“Aku tidak mau, Kouta. Aku tidak mau pisah.”

“Raura, dengar.. mungkin sekarang kita berpisah, tapi suatu saat kita akan bersama lagi untuk selamanya. Aku yakin, tunggu saja. Karena waktu yang memisahkan kita dan waktu juga yang akan menyatukan kita kembali.”


Sayonara no Mae ni – AAA

Genggaman hangat yang gemetar itu masih bisa Raura rasakan. Raura menatap genggaman itu kemudian melihat si pemilik tangan. Dia teringat dengan suatu adegan di sebuah novel yang pernah dia baca sebelumnya.

“Raura..”

Mereka berhadapan, Raura menatap dengan penuh harap. Berharap adegan di novel itu tidak terjadi. Ya, ini seperti adegan menyedihkan di novel itu. Perpisahan antara sepasang kekasih.

Sebuah tangan membawanya ke dalam pelukan. Raura membalas pelukan itu dengan sangat erat. Dia ingin waktu terhenti saat ini juga. Pelukan itu melonggar dan kepalanya diangkat.

“Kouta..”

Pemuda itu hanya tersenyum lembut padanya dan mencium bibirnya pelan.

“Maaf.” ucapnya setelah itu, “Kita tidak bisa bersama lagi, Raura.”

Raura tersentak. Apa, apa yang terjadi sebenarnya?

“Kenapa?”

“Aku sudah tidak bisa lagi. Cinta ini seperti cinta bertepuk sebelah tangan.”

“Kau sendiri yang bilang ‘kalau kau takut berakhir, maka jangan memulai’ kan?”

“Maaf, Raura. Tapi aku juga ingin kau mencintaiku, tapi ternyata tidak ada yang berubah.”

Genggaman itu terlepas, perlahan pemuda itu mundur menjauhi Raura, “Sayonara.”

Raura menelan ludah untuk menahan tangisnya. Dia menarik napas dalam-dalam, “Aku mencintaimu, Kouta. Aku memang tidak pernah mengatakan ini, tapi aku benar-benar mencintaimu sejak lama!! Baka!”

Raura berlari meninggalkan pemuda itu yang terdiam kaku karena mendengar perkataan Raura yang tulus dari dalam hatinya.


KISS FOR U – Kis-My-Ft2

Yabu Kouta membuka pintu apartemennya. Alisnya bertaut saat melihat rumahnya gelap.

“Raura?” panggil Yabu pada kekasihnya. Seharusnya wanita itu ada disini dan menyambutnya pulang seperti biasa, “Kau dimana, Raura?”

Tidak ada yang menjawab. Yabu menghidupkan lampu, dia tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di ruangan itu. Dia terus mencari di segala tempat, namun Raura tidak ditemukan.

Yabu duduk di sofanya lalu merogoh sakunya untuk mengambil handphone-nya kemudian menelepon kekasihnya, “Halo, Raura?”

Gomen.”

“Apa maksudmu?”

“Hm.. tidak. Aku ingin bertemu.”

“Eh? Memangnya kau dimana?”

“Kau bisa melihatku dari jendela.”

Yabu langsung melongok ke jendela dan mendapati Raura ada di luar gedung apartemen, “Aku akan segera ke sana.”

Yabu berlari di lorong apartemen, memencet tombol lift dengan tergesa-gesa. Dia masuk ke dalam lift dan selama di lift dia mencoba menghubungi Raura. Kemudian dia keluar dengar terburu-buru ke tempat Raura berdiri tadi namun nihil. Dia kembali mencoba menghubungi Raura lagi, “Raura, kau dimana?”

Yabu lari sekali lagi entah ke arah mana pun dengan tujuan mencari Raura, dia tidak menemukannya dimana pun. Handphone kembali berdering, “Raura!”

I love you.”

“Tunggu, jangan putuskan sambungannya. Kau dimana?”

I’ll miss your kiss.”

Yabu menaikkan alisnya, “Raura, jawab aku.”

Yabu malah mendengar suara kecupan di telepon genggamnya, “Do you feel it? I just send my kiss for you, Kouta. Sayonara.”


Bittersweet – Arashi

Sulit untuk menjangkaumu. Senyummu yang selalu terpancar, membuat hari-hariku menjadi bahagia. Rasanya aku ingin terus tertidur dan bermimpi bahwa kita adalah sepasang kekasih. Dalam mimpi, aku merasa bahwa “love is sweet”. Namun ketika ku terbangun, itu berubah menjadi “love is bitter”.

Ya, karena aku merasa cintaku sepihak padamu. Kau selalu berbicara padaku. Tapi aku merasa itu karena kepribadianmu yang selalu mudah dan senang bergaul. Kau mau menjadi temanku. Padahal aku adalah seorang yang pendiam. Huft.. akankah cintaku betul-betul menjadi cinta sepihak?

White Day..

Hari ini adalah white day. Hari dimana laki-laki akan memberikan balasan coklat atau dalam bentuk apapun sebagai pembalasan di hari valentine. Aku memberikan coklat kepada Yabu. Tapi, aku optimis bahwa Yabu tidak akan membalasku.

20.00 malam.

Sudah malam. Tidak ada tanda-tanda bahwa Yabu membalasku. Aku.. kisah cintaku.. memang benar-benar sepihak. Rasanya aku betul-betul ingin menangis. Ah lupakan sejenak. Besok aku ujian. Aku harus fokus belajar dulu. Ketika aku membuka tas, tiba-tiba…

Hah? Apa ini? Surat?

Dan isi surat tersebut adalah..

Raura.. terima kasih atas coklat yang kau berikan padaku di hari valentine! Maaf ya aku pemalu dalam soal begini. Jadi aku hanya bisa membalasnya lewat surat. Susah juga ya tadi menyelinap diam-diam ke bangkumu dan menyelipkan kertas tanpa diketahui oleh teman-teman sekelas >_< mungkin aku berbakat jadi pencuri ya? wwww

Oh iya, apakah kau besok sepulang sekolah kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu berkencan! Um um.. lebih baik aku jujur disini saja ya. Aku menyukai Raura.. sudah ya. Aku jadi malu sendiri hehe. Bye Raura. Sampai ketemu besok di kencan pertama kita.

 

A.. apa – apaan isi surat ini? Bodoh! Yabu Bodoh! Tentu saja aku mau! Ah, aku harus belajar dan setelah itu mempersiapkan kotak bekal untuk dimakan saat kencan pertamaku besok! Love is really… bitter(SWEET) ya? hihi..


 

How to Break a Heart – Westlife

Raura melihat sebuah pigura yang di dalamnya terdapat foto sekarang kekasih yang terlihat saling menyayangi dan bahagia. Seketika emosinya sedikit meluap.

Dia tidak mengerti, mengapa dia harus membiarkan foto itu tergeletak manis di kamarnya. Sementara foto itu hanya akan membuatnya berapi-api, namun dia tidak bisa menghancurkan pigura itu.

Melihat fotonya dengan mantan kekasih. Apa dia tidak bisa melupakan pemuda itu? Bukan, dia hanya ingin mengingat seberapa sakit hatinya saat pemuda itu masih menjadi miliknya. Pemuda itu juga yang mengajarinya bahwa dunia ini luas, tidak hanya pemuda itu saja yang ada di dunia ini.

Bayangkan saja bagaimana rasanya melihat kekasihmu berselingkuh dengan sahabatmu kemudian dengan saudaramu, sementara Raura dan pemuda itu masih berstatus pacaran. Apa dia memang se-menjijikkan itu?

Saat Raura menanyakan hubungannya dengan sahabat dan saudara Raura, dia hanya menjawab dengan santai bahwa dia sedang menyiapkan kejutan untuk Raura. Namun hampir setahun, kejutan itu tidak pernah datang padanya, bahkan di hari ulang tahunnya pun dirayakan sederhana dengan mantan pacarnya itu. Raura sudah terlalu kecewa, dia memutuskan hubungannya dengan pemuda itu dan mengetahui semua kebenarannya.

Hati Raura remuk, hancur berkeping-keping. Tapi Raura harus kuat, lebih kuat daripada yang pemuda itu bayangkan. Raura harus segera menghapus kenangan pahit itu. Tidak, dia harus belajar dari pengalaman tidak mengenakkan itu agar bisa menjadi wanita yang baik. Raura tidak bisa melupakan bagaimana caranya mencintai seseorang, itu akan membekukannya dalam bayang-bayang pemuda itu. Kalau memang dia yang satu-satunya, tidak mungkin dia dengan gampangnya melukai hati Raura.

Itu adalah momen yang paling sulit bagi Raura. Tapi di saat yang sama, kehadiran seseorang yang selalu ada baginya datang.

“Raura.” Raura tersadar, ia berbalik dan melihat sosok berbadan tinggi sudah ada dalam kamarnya, “Masih belum bisa melupakannya?”

Raura sedikit tertawa, “Tidak. Aku sebenarnya ini berterima kasih padanya,” Raura meletakkan pigura itu lalu mendekati pemuda itu dan menggenggam tangannya erat, “karena Chinen-kun mengajariku untuk mematahkan cintaku padanya dan menemukanmu yang selalu mengerti dan ada untukku, Kouta.”

Pemuda itu memeluk Raura sayang, seketika Raura merasakan rasa nyaman yang tidak pernah diberikan oleh mantan pacarnya.


Farewell – Hey! Say! JUMP

Raura adalah seorang gadis biasa yang memiliki mimpi untuk menjadi pelari tercepat. Namun..

“Hei! Percuma saja kau lari! Lambat begitu! Hahaha..”

Hello? Are you stupid? Lihat kakimu pincang dan cacat begitu! Gimana mau bisa jadi pelari, hah? Baka!”

Berbagai kalimat negatif terlontarkan oleh seluruh teman sekelas disekelilingnya saat ia sedang berlatih di lapangan sekolah. Raura saat itu hanya bisa menangis dan berbisik, “Sudah kuduga.. percuma.”

***

“Hei, baka!”

Raura dan seluruh teman sekelasnya terkaget mendengar suara super keras yang terdengar dari arah samping.

“Apa kau mau begini saja?! Kau mudah menyerah?! Kau menyerah karena mendengar perkataan dari teman-temanmu? Alasan macam apa itu?!” Ucapan itu dilontarkan oleh seorang lelaki yang tidak lain adalah lelaki paling populer di sekolahnya dan teman sekelas Raura yang sangat ia cintai dalam hati. Ia bernama Chinen.

Chinen mendekatinya dan menjulurkan tangan padanya, “Tidak ada yang tidak bisa terwujud kalau kita berusaha sekeras mungkin. Percayalah pada dirimu sendiri dan pada Tuhan. Katakan selamat tinggal pada dirimu yang lemah. Aku akan membantumu mewujudkan mimpimu. Ayo, kita berlari bersama. Pegang tanganku.”

Dan sejak saat itu, Raura setiap hari berlari dan berlatih bersama Chinen hingga pada akhirnya ia berhasil mendapatkan gelar “pelari tercepat wanita no. 1 di dunia”.


My Love – Kis-My-Ft2

Yabu sudah satu tahun ini tinggal bersama Raura, karena orang tua mereka dekat dan mereka juga sudah kenal sejak kecil dan kebetulan orang tua Yabu sudah tidak ada lagi, jadi ia tinggal satu atap bersama Raura.

Namun sifat Yabu yang selalu pulang malam dengan alasan kerja kelompok dengan temannya dan Yabu selalu keluar kamar hanya untuk makan bersama, membuat Raura risih sekaligus penasaran sebenarnya ada apa dengan pria itu. Kebetulan hari ini kedua orang tuanya sedang bekerja di luar negeri dan Raura juga sudah memesan tiket nonton untuknya dan Yabu. Mereka tidak pernah jalan-jalan berdua.

Setelah Raura membujuknya dengan susah payah, akhirnya mereka jadi nonton berdua. Setelah itu mereka makan dan karaoke, Raura tidak menyangka kalau jadinya akan seperti ini.

Sedangkan Yabu, ia merasakan ada yang beda saat bersama Raura. Memang ia sudah tinggal bersama selama satu tahun, namun selama ini ia menutup diri dari hadapan gadis itu. Usia membuat semuanya berubah.

Hingga saat ini, Yabu merasakan getaran di dadanya saat melihat Raura tersenyum, tertawa, cemberut di hadapannya. Bahkan jika gadis itu menangis membuat hati Yabu merasakan sakit.

Hingga beberapa hari sudah berlalu, Yabu kini sudah mulai sering keluar dari kamarnya lalu menonton televisi bersama Raura. Hal kecil tapi itu membuatnya bahagia.

Raura sudah membuat hidupnya berubah. Dan ia sadar kalau saat ini ia sedang di mabuk cinta oleh teman kecilnya itu.

Hingga akhirnya Yabu menyatakan perasaannya kepada Raura awalnya gadis itu menolak namun dengan usaha Yabu yang tidak pernah berhenti. Akhirnya gadis itupun luluh dan menerima Yabu menjadi kekasihnya.

I love you” bisik Yabu sambil mengenggam tangan Raura.

Raura tersenyum malu “I love you, too


Kimi Attraction – Hey! Say! JUMP

“Aku… tidak cantik…. bahkan penampilanku sangatlah kuno. Tidak ada satupun yang melirikku…” Kalimat ini setiap hari selalu diucap oleh Raura ketika ia akan pergi ke sekolah. Ya.. ia tidak percaya pada dirinya sendiri terutama sejak ia mencintai Yabu.

***

“Raura.. hei.. Raura! Kau dengar aku?”

“Eh eh eh?! A… i.. i… iya.. Yabu-san! Ada apa?!”

“Apa kamu sedang tidak enak badan? Wajahmu memerah.. atau kita sudahi saja tugas khusus berdua yang diberikan Pak Ucchan ini?”

Raura tidak menjawab sama sekali dan tubuhnya bergemetar. Yabu yang khawatir langsung memegang tangannya.

“Eh.. eh.. a.. Yabu-san?”

“Tanganmu berkeringat dingin. Apa kau sedang punya masalah? aku bisa membantumu. Ceritakanlah padaku.”

“Ti… tidak ada.”

Sou ka.. Raura… cantik ya..” Yabu mengelus rambut Raura.

“Tidak! Aku tidak cantik! Aku kuno! Jelek! Bahkan teman sekelas menjauhiku karena penampilanku ini!”

Yabu terdiam beberapa saat dan kemudian memeluk tubuh Raura yang masih gemetar, “Kau tahu? Selama 1 tahun sekelas denganmu, aku selalu memperhatikanmu. Bahkan aku pernah mengikutimu sampai ke rumah. Aku menyukaimu Raura.. sejak pertama kali kita bertemu di kelas ini.”

“Bo… bohong! Ti.. tidak mungkin!”

Yabu menutup mulut Raura dengan bibirnya dan kemudian berkata, “Aku tidak bohong. Kau tahu apa yang membuatku jatuh cinta padamu? Karena aku suka kepribadianmu yang sangat baik dan aku sangat menyukai senyummu ketika menolong orang… bagiku kau adalah wanita tercantik dan nomor satu di dunia ini.”


Monster – Arashi

 

Dug dug dug dug

Suara yang berasal dari ketukan dinding di kamar sebelah membangunkan Raura.

“Berisiikk~! CHINEN!!!”

Dug dug dug dug dug

Suara itu pun terus berbunyi tiada henti. Raura yang semakin kesal dengan teman sebelah kamar apartemennya itu, mendatangi kamarnya.

“Chinen! Buka! Bisa ga sih ga berisik?! Aku ga bisa tidur nih”

Tidak ada suara yang menjawab sehingga Raura kembali menuju kamarnya. Kemudian ia terkaget karena begitu ia menutup pintu kamarnya, tiba-tiba lampunya mati dan tidak bisa dinyalakan.

“Loh?! Loh?! Kok ga bisa nyala?! Chinen!!! Ini ulahmu lagi kan?! Mau sampai berapa kali sih kau menggangguku? Ini sudah tiga minggu kamu terus-terusan begini! Lama-lama aku membencimu!”

“TARAAA!! TRICK OR TREAT!” teriak Chinen yang muncul dari jendela kamar Raura. Ia menggunakan kostum Halloween yang sangat seram. Wolf. Raura yang sudah terlalu kesal akan kejahilan Chinen, menampar wajahnya dan Chinen pun terkaget.

“Kau ini! Aku sudah muak berada di sebelah kamarmu! Jangan menggangguku terus! Lagipula hari ini bukan Halloween!”

Chinen langsung menarik tangan Raura dan mendekatkan wajah Raura tepat di depan wajahnya, “Kau tahu? Kenapa aku terus-terusan mengganggumu? Karena aku ingin menjadi Monster untukmu.”

“Tapi kau sudah berlebihan!! Dan kau tahu kan aku takut dengan Monster?! Apalagi kau selalu mengangguku dengan kostum-kostum anehmu yang menyeramkan itu! Kenapa kau tega?!”

“Aku menjadi Monster memang untuk membuatmu takut dan menangkapmu. Karena aku.. mencintaimu dan ingin membuatmu menjadi mangsa abadiku selamanya…”


Puppy Boo – Hey! Say! JUMP

 

Chinen sedang membaca buku di taman sekolah. Lalu seorang gadis yang bernama Raura menghampiri dan mengganggunya. Chinen sangat terganggu akan kelakuan Raura. Ia pun heran mengapa Raura selalu saja tidak pernah berhenti melakukan hal-hal menjengkelkan padanya.

Namun suatu saat, Raura tiba-tiba menjadi diam. Hari-hari yang biasa dilalui Chinen penuh keributan oleh dirinya, sekarang tidak ada lagi. Chinen merindukan keributannya. Merindukan sosoknya yang selalu datang menghampiri dirinya sendiri. Merindukan sosok yang selalu menampilkan keceriaannya. Dan ia mulai menyadari bahwa ia mempunyai perasaan yang mendalam terhadap Raura.

Seusai bel tanda pulang sekolah, Chinen menyetop Raura dan menyuruhnya untuk datang ke belakang halaman sekolah. Ia menanyakan, “Raura, kamu kenapa? Kok tidak seperti biasanya?”

Raura hanya menjawab, “Aku biasa saja Chinen. Cuma aku sepertinya kelewatan selalu mengganggumu terus. Wajahmu selalu menampilkan espresi marah ketika aku datang. Jadi aku putuskan untuk tidak mengganggumu lagi.”

Chinen tiba-tiba memeluk Raura, “Tolong… datanglah kepadaku lagi. Buatlah keributan lagi padaku. Ganggulah aku setiap hari. Aku merindukan itu semua. Aku… mencintaimu..”

“Eh? Eh? Be-benarkah…? Chinen? Aku.. Aku juga selama ini menyukaimu. Itu sebabnya aku selalu mengganggumu. Agar aku bisa berduaan denganmu.. agar aku.. bisa selalu berada disampingmu.”

“Raura…”

“I-iya?”

Chinen mengecup bibir Raura kemudian memeluknya, “Ciuman ini sebagai hukuman untukmu karena kau sejak beberapa hari yang lalu tidak menggangguku.. from now on, you are.. my puppy boo. Kau tidak akan pernah kulepas dari sisiku setiap harinya”


A Thousand Years – Christina Perry

 

“Kouta, aku janji saat aku lulus nanti. Aku akan menjadi gadis mu dan akan selamanya bersamamu.”

Kata-kata dari Raura, kekasihnya selalu terngiang di otak Yabu walaupun sudah lima tahun lebih kekasihnya itu berada di negeri Gingseng, Korea Selatan.

Hingga saat ini Yabu masih terus tersenyum sambil memandang sebuah cincin emas yang terbungkus di dalam kotak, lalu ia tutup dan menatap keluar jendela mobilnya. Senyum Yabu terus mengembang karena satu jam yang lalu ia mendapat pesan dari Raura bahwa kekasihnya itu akan sampai ke Jepang.

Ia melirik jamnya, lalu turun dari mobil dan menuju ke dalam bandara untuk menyambut kekasihnya itu.

“Koutaaaa” Raura berlari ke arah Yabu saat menemukan pria itu, kedua tangannya membawa koper.

Raura langsung menghambur ke pelukan Yabu “kangeeenn” ucap Raura sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang Yabu.

Yabu mengurai pelukan Raura sambil mengelus lembut rambut kekasihnya, berlahan Yabu mendekatkan wajahnya ke telinga Raura lalu berbisik “ore mo, my Angel.” sukses membuat darah Raura naik dan mukanya terasa panas.

Gadis itu melepas pelukannya “dasar gombal, oh iya aku bawa oleh-oleh untuk mu” tangan Raura langsung mengambil satu kopernya namun langsung di ambil alih oleh Yabu.

“Nanti saja, aku ingin memberi mu sesuatu di mobil, ayo” Yabu mengenggam tangan Raura lalu mengajak gadis itu ke parkiran menuju mobilnya dengan Raura yang mengikuti kemana langkahnya.

Raura menatap kekasihnya sambil terus tersenyum saat sudah berada di dalam mobil, rindu yang ia pendam selama lima tahun ini sangat membuatnya sakit, meskipun mereka sering berhubungan melalui video call tapi tetap saja tidak puas.

“Kenapa?” tanya Yabu, pria itu jadi salah tingkah karena Raura terus memandangnya, tangan panjang Yabu menekan tombol play di tape mobilnya, lalu terdengar lagu A Thousand Years milik Christina Perry menambah kesan romantis di antara mereka berdua.

Raura masih memasang senyumnya, tangannya bergerak menuju wajah Yabu lalu mengelusnya pelan. “aku kangen banget” ucap Raura tanpa melepas tatapannya di mata Yabu. “tidak berubah, malah terlihat lebih tua” Raura menjebil ke arah Yabu.

Pria itu terkekeh pelan “kau tetap cantik” tangannya mencubit pipi Raura gemas.

Yabu mengambil tangan Raura yang mengelus lembut wajahnya lalu ia genggam “apa kamu punya selingkuhan di sana?” tanya Yabu menggoda, Raura langsung memajukan bibirnya saat mendengar pertanyaan itu.

“Mana mungkin! Kouta orang yang paling aku cinta” bantah Raura “jangan-jangan kamu yang ada…” curiga Raura, matanya menyipit menatap Yabu.

Pria itu tertawa lalu mengacak rambut Raura pelan “sama seperti mu, mana mungkin Raura orang yang paling ku cinta” sedetik kemudian bibir Yabu sudah mencium bibir gadis itu, gadis yang sangat ia rindukan.

“Oh iya, katanya mau ada yang di kasih? Mana?” tanya Raura sambil mengadahkan tangannya setelah ciuman mereka selesai. Yabu mengisyaratkan Raura agar perempuan itu menutup matanya, ia pun menurut.

Sejurus kemudian Raura merasa tangannya seperti dipakaikan sesuatu, seperti..cincin?

“Sekarang boleh di buka” perlahan Raura membuka matanya lalu melihat tangannya, ia terkejut saat jari manis tangan kanannya dipasangkan sebuah cincin. Cantik.

“Kouta.. ini.. apa? Ini..”

Will you marry me?” Raura menutup mulutnya saat Yabu mengatakan itu, ia terkejut karena ini sangat mendadak.

“Kau serius?” Yabu mencium bibir Raura lagi.

“Apa aku terlihat bercanda? Bukannya kamu sudah janji pulang ini kamu akan menjadi gadisku dan bersamaku selamanya?” tanya Yabu balik, menatap mata kekasihnya. Meyakinkan gadisnya itu bahwa ia benar-benar ingin menjadikan Raura pelabuhan terakhirnya.

Air mata Raura berlahan jatuh dari pelupuk matanya, membuat Yabu panik seketika “Jangan nangis…” tangan Yabu menghapus air mata Raura di pipinya.

“Kouta jahat… jahat sudah mencuri hati ku….” ucapnya bergetar lalu memeluk tubuh kurus Yabu.

Mata Yabu membulat ia kira Raura tidak senang ia lamar “jadi, aku di terima?” Raura hanya mengangguk semangat di dalam dekapan Yabu, mana mungkin ia tolak.

Yabu berteriak senang lalu mencium puncak kepala Raura, lagu yang Yabu putar tadi semakin membuatnya bahagia.

 


Pinky Santa – Boyfriend

Yabu menggosok tangannya, di luar hari ini sangat dingin. Ya, ini adalah malam natal tentu saja sangat dingin. Yabu melihat penampilannya, oke, dia sudah terlihat ganteng sekarang. Baiklah, ini berlebihan. Dia pun melirik jam tangannya kemudian tersenyum.

Setahun lalu, ditempat yang sama seperti tempat dia berdiri ini dia melihat seorang gadis yang terlihat sangat bercahaya—baginya. Gadis yang menggunakan scarf berwarna merah jambu, serasi dengan sarung tangannya. Di mata Yabu, dia lebih bersinar di banding pohon natal dengan lampu berkelap-kelip. Bahkan bunyi jantung Yabu sudah sama seperti bunyi bel-bel yang bergema.

“Raura desu.”

Yabu masih mengingat saat Raura memperkenalkan dirinya untuk pertama kali dan juga senyum gadis itu yang membuat Yabu ingin melihat senyum itu lagi dan lagi. Oh, Yabu Kouta telah jatuh cinta.

“Yabu-kun!”

Panggil seseorang membuat lamunan Yabu buar. Pemuda itu melihat gadis yang berjalan ke arahnya, Raura sudah ada di depannya.

“Hari ini dingin sekali ya.” Yabu memberi sebuah kode yang entah akan bisa Raura cerna atau tidak.

“Un! Untung aku baru saja beli sweater yang tebal dan langsung memakainya.”

Ingin rasanya Yabu memasukkan kepalanya ke salju yang lumayan tebal di jalanan karena Raura sangat salah menafsirkan kata-katanya.

“Yabu-kun kedinginan?”

Yabu sedikit kaget Raura akan bertanya seperti itu. Dia melirik Raura dan mengangguk pelan. Tiba-tiba tangan kecil Raura menarik tangan Yabu dari saku jaket dan menggengamnya erat, “Biar Yabu-kun merasa hangat.”

Tidak ada lagi suara selain suara langkah mereka yang entah mau kemana.

“Raura-chan, kalau aku bilang aku mau kau jadi santa-ku bagaimana?”

“Eh?”

Yabu menghentikan langkahnya dan berbalik badan ke arah Raura. Dia bisa melihat wajah Raura yang memerah, entah karena udara dingin atau karena Yabu menggodanya. Manis sekali, Yabu sedikit mencubit pipi gadis itu.

“Karena kau memberikan hadiah padaku…” Raura menaikkan alisnya, “…yaitu cinta.”

“Y-yabu-kun, kau bicara apa?” Raura salah tingkah.

Yabu menarik genggaman mereka menuju dadanya, “Bisa kau rasakan seberapa kencang jantungku berdebar bila dekat denganmu? Aku menyukaimu.”

Raura menatapnya dalam diam, Yabu merasa sedikit cemas. Kemudian Raura tersenyum, “A-aku.. aku juga.”

Perasaan gembira langsung membuncah, Yabu memeluk Raura dengan sangat erat. Raura membalasnya, “Aku akan melakukan apapun untuk Pinky Santa-ku tersayang!”

Pinky?”

“Iya, kita pertama kali bertemu kau memakai scarf dan sarung tangan merah jambu, pipimu yang selalu berwarna pink dan senyum dari bibir merah mudamu yang selalu membuatku semangat.”

Raura tertawa, “Dasar aneh! Ayo kita berjalan lagi, nanti malam natalnya habis. Kan susah kalau harus menunggu tahun depan.”

Okay, my Pinky Santa~”


LU4E ~Last Song~ – Kis-My-Ft2 Fujigaya Taisuke

Raura membuka lemari esnya dan mengambil semua kue tart di sana. Membawanya ke ruangan santai dan meletakkannya di atas meja. Bibirnya melukis sebuah senyum kemudian duduk, dia meletakkan kepalanya di depan kue tersebut.

“Kouta, apa kau ingat?” katanya sambil terus memandangi kue tersebut, “Apa kau ingat hari apa ini? Aku harap kau ingat.”

Raura menghela napas, “Andai kau ada disini, aku pasti sangat bahagia. Apa jangan-jangan hanya aku yang bahagia?”

“Kouta, jika kita bertemu lagi, aku hanya ingin jatuh cinta padamu. Aku hanya ingin bersamamu untuk selamanya. Apa kau juga begitu?”

“Hari ini adalah hari ulang tahunku dan juga hari dimana kau bilang suka padaku, ingat?” Airmata membasahi pipinya, Raura tersenyum lembut, “Aku mencintamu selamanya, Kouta.”


Chau# – Hey! Say! JUMP

 

Sudah hampir menuju tiga tahun aku berteman denganmu, Yabu. Hari-hari kita lalui bersama. Rasanya jarang sekali kita berpisah. Setiap sekolah, kita selalu pergi dan pulang bareng. Setiap mendapatkan tugas kelompok, kita selalu saja berada dalam satu kelompok yang sama. Saat pertandingan olahraga musim panas, kita juga selalu berada dalam satu team. Orang lain pun sampai mengira: “kalian pasti pacaran ya?”.

Sejujurnya, sejak pertama kali bertemu Yabu, aku merasakan suatu rasa yang benar-benar tidak biasa. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya. Ini benar. Tapi, aku tidak mau kalau aku mengungkapkan perasaan sesungguhnya pada dirinya, persahabatan kami akan runtuh. Lebih baik aku menjaga dan memendam perasaan ini. Ya, asal selalu setiap hari bersama dirinya, aku sudah sangat bahagia.

Besok adalah hari perpisahan sekolah. Mulai besok kami akan menyandang status “alumni SMA Horikoshi”. Senang dan sedih bercampur aduk.

Esoknya..

Aku kaget. Ketika aku akan menghampiri Yabu setelah upacara kelulusan, aku melihat ada seorang perempuan yang sedang bersamanya. Aku mengintip dan ternyata.. perempuan tersebut sedang menyatakan perasaan sukanya kepada Yabu. Aku.. tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak kuat.. lebih baik aku pulang saja dan membatalkan janjiku untuk karaoke sepulang upacara bersama Yabu.

20 misscalled. 10 sms. Semua itu dari Yabu. Aku tidak mau mengangkatnya, aku tidak mau membacanya. Aku tidak mau tersakiti mendengar bahwa “Raura! Ada seorang perempuan yang menembakku. Dan aku menerimanya”.

Pukul 00.00 malam

Terdapat 1 sms yang masuk lagi. Dan itu dari Yabu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membaca semua sms yang masuk ke handphone-ku mulai dari sepulang upacara. Begitu melihat sms terakhir yang dikirimkan tepat 00.00 malam..

Raura… Selamat ulang tahun yang ke 20! Yeaay… apakah aku menjadi orang yang pertama mengucapkannya? Aku harap begitu.

Kau tahu? Tadi sepulang sekolah ada gadis yang menembakku! Aku shock karena ku pikir aku laku juga ya? Hahaha.. dan mengapa kau tadi pulang? Aku mencemaskanmu! Dan kau seenaknya membatalkan janji kita untuk karaoke dan berpesta akan kelulusan kita. Apa aku ada membuatmu marah?

Oh iya.. mengenai gadis yang menembakku, aku.. MENOLAKNYA.

Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahukanmu..

Raura, sejak pertama kali kita bertemu di kelas 1, aku sebenarnya sudah menyukaimu. Bagiku kau sangat spesial. Namun, aku memendam perasaan itu. Aku tidak mau kalau hubungan persahabatan kita hancur. Apa kau.. mau menerima ku untuk menjadi kekasihmu? Jika kau mau menjadi kekasihku, sekarang juga buka jendela ya

Raura yang kaget sekaligus menangis, langsung dengan refleks membuka jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Saat ia melihat kebawah, Yabu berdiri di tengah jalan. di tengah lilin lilin yang dipasang mengelilinginya. Lilin tersebut membentuk tanda “LOVE”. Ia memegang kertas “apakah jawabanmu ya?

Tanpa ragu lagi, Raura langsung mengangguk dan ia menghampiri Yabu penuh dengan tangisan bahagia. Baginya, ini adalah ulang tahun terindah sepanjang hidupnya.


GIFT – Hey! Say! JUMP

Musim salju datang menandakan kalau tahun sebentar lagi akan berakhir dan akan datang tahun yang baru. Namun aku rasa hidupku tidak akan ada yang baru, hanya begini saja. Tidak ada arti bahkan kekasih pun aku tidak punya.

Kali ini aku hanya diam sambil melihat sepatu hitamku yang menginjak kristal-kristal salju.

Tiba-tiba aku mendengar tawa seorang wanita, membuat aku tertarik hingga aku mengangkat kepalaku mencari asal suara.

Ternyata seorang perempuan yang sedang memberi makan seekor anjing entah itu punya nya atau itu anjing liar. Dan entah kenapa senyumku mulai mengembang.

Aku mendekati perempuan itu dengan rasa sedikit gugup aku memperkenalkan diriku di hadapannya. Ayolah Yabu Kouta kenapa kamu bisa bertindak sejauh ini?

Dengan usaha ku yang tidak sia-sia ini aku pun mengetahui namanya. Inoo Raura, nama yang bagus.

Hari, bulan, kami lalui bersama bahkan kami merayakan tahun baru bersama. Dan aku baru ingat kalau dua hari lagi Raura akan berulang tahun. Aku bingung ingin memberi dia kado apa.

Karena kehadirannya bagaikan hadiah dari Tuhan untukku. Kado terindah yang tidak akan aku biarkan hilang bahkan lepas dari genggamanku.

Dan karena aku belum menyatakan cinta ku kepadanya apa perlu aku memberi kado spesial itu untuk Raura? Baiklah, aku akan berusaha.

10 Oktober 2015

Hari itu pun datang, hari di saat Raura ulang tahun, ia mengadakan party yang sangat meriah. Apakah ini akan sukses? Apakah aku akan membuatnya senang? Jujur saat ini aku sangat gugup, karena sebelumnya aku sudah pesan ke MC-nya agar aku bisa naik ke panggung dan membicarakan sesuatu ke Raura.

Namaku di panggil dan aku pun naik, ini benar-benar membuatku gugup.

Berlahan aku memegang mic dan mendekatkan benda itu ke mulutku, tanganku satunya lagi memegang dua mawar. Satu mawar merah dan satu mawar merah yang sudah layu.

“Inoo Raura, terima kasih kau sudah terlahir di dunia ini, aku sangat senang bisa mengenalmu di akhir Desember tahun lalu. Dan hari ini adalah hari kelahiranmu, aku sangat bersyukur kau ada disini, aku sangat bersyukur kita bisa saling kenal” semua tamu undangan termasuk Raura masih diam menatap ke arahku.

“…kau adalah hadiah yang Tuhan kirim untukku, kehadiranmu membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Menjadi lebih indah dan begitu menyenangkan aku memang tidak menyiapkan hadiah apapun kepadamu. Tapi, perasaan ini adalah kado untukmu” aku menyodorkan dua mawar tadi ke hadapan Raura “maukah kau menjadi kekasihku? Aku menyukaimu. Sungguh, jika kau menerimaku ambil mawar merah yang masih segar, jika tidak ambil yang sudah layu”

Raura menatap kedua mawar yang ada di tanganku ini, para tamu sudah saling bersahutan agar Raura mengambil mawar yang masih segar.

Namun tangannya mendekat ke arah mawar yang layu, aku menutup mataku. Ini sungguh memalukan mungkin pulang ini aku harus mengurung diri ku lagi.

“Yeaaaaayyyy!!!” aku kaget saat mendengar teriakan dari para tamu, saat aku membuka mata ternyata Raura mengambil mawar yang masih segar. Aah, aku beruntung ternyata.

Refleks aku menggendongnya karena terlalu senang. Dan mata ku membulat saat bibir Raura menempel di bibirku. Oh Tuhan, terima kasih atas segalanya. Ini benar-benar kado terindah untukku dan mungkin untuk Raura juga.

Otanjoubi omedeto, Raura”

1444168695000

 

Advertisements

2 thoughts on “[Drabble] Present for Raura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s