[Oneshot] Tenshi no Uta

Genre : Romance, Fantasy, Oneshoot, School Life
Rating : PG-17
Cast :
– Chinen Yuri
– Yabu Raura
– Okamoto Keito

Theme Song : PADI – MAHADEWI

SUMMARY
“Tiba-tiba saja terdengar bunyi lonceng yang entah dari mana asalnya, dan sayup-sayup terdengar suara nyanyian merdu dari langit… seberkas cahaya yang perlahan menghilang menuju langit yang kemudian berubah menjadi sebuah bintang yang berkelip di langit malam…”

tenshi
Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, namun di salah satu sudut kelas, Yabu Raura tampak enggan untuk berada diluar kelas dan memilih duduk sambil bertopang dagu di tempatnya.
Tatapan matanya tertuju pada satu sosok yang kini tampak duduk berjarak beberapa meja saja dari tempatnya yang kini sedang dikelilingi oleh murid-murid perempuan sekelasnya.
“Ne, Chinen-kun, berapa umurmu?”
“Di Inggris kau sekolah dimana?”
“Apakah rumahmu di Inggris dekat dengan Istana Buckingham?”
Tanpa sadar Raura mengerucutkan bibirnya melihat itu dan mendengar dengan jelas berbagai pertanyaan yang diajukan gadis-gadis itu. Matanya menyipit melihat pemuda yang bernama Chinen yang juga sesekali tampak mengalihkan pandangannya kepada Raura sambil nyengir.
“Yabu-san, Yabu-san,” panggil seorang gadis berkacamata sambil mengibaskan tangannya di depan gadis itu. Namun sepertinya gadis itu tidak mendengar panggilan itu sama sekali karena pandangannya masih terpaku pada satu sosok dan melihatnya dengan tatapan seperti ingin mencekik.
“YABU RAURA!” kata gadis berkacamata itu dengan sedikit keras.
“Eh? Apa? Kenapa?” tanya Raura terkejut.
Gadis berkacamata itu menghela nafas lalu tampak menunjuk kearah pintu, “Kau melamun? Okamoto senpai mencarimu,” katanya.
Raura memandang kearah yang ditunjukkan gadis itu dan tampak seorang pemuda sedang melambai di depan pintu kepadanya. Raut wajah Raura mendadak berubah. Gadis itu tersenyum sumringah sambil berjalan kearah pintu dan menghampiri pemuda itu.
“Senpai mencariku?” tanya Raura sambil memberikan senyuman terbaiknya kepada pemuda itu.
Pemuda Okamoto itu mengangguk lalu mengisyaratkan agar gadis itu mengikutinya. Pemuda itu mengajaknya sedikit menjauh dari pintu kelas, lalu terlihat memberikan sesuatu kepada gadis itu. Sebuah kertas yang dilipat. Raura menerima kertas itu dengan bingung lalu kembali memandang pemuda itu.
“Itu beberapa menu latihan baru untuk tim. Aku ingin kau menyalinnya dan membagikannya kepada para pemain saat pulang sekolah nanti,” kata pemuda itu.
Raura mengangguk mengerti, ternyata pemuda itu hanya menyerahkan tugas yang harus dilakukannya sebagai manajer tim basket sekolahnya. Setelahnya pemuda itu pun berpamitan dan kembali melangkah ke kelasnya. Raura masih berada ditempatnya hingga pemuda itu menghilang dari pandangannya kemudian menghela nafas panjang.
“Jadi ini alasannya kau menolak pulang bersamaku?” tanya sebuah suara yang membuat Raura kaget.
Gadis itu berbalik dan mendapati sosok pemuda yang bernama Chinen yang diperhatikannya di kelas tadi sudah berdiri di belakangnya sambil memandang kearah pandangan Raura tadi.
“Kau mengagetkanku. Sedang apa kau disini? Memata-mataiku?” tanya gadis itu. Ada nada tidak suka di suaranya.
“Memangnya kenapa? Aku bebas melakukan apa saja padamu, dimanapun aku mau, secara kau adalah tuna…” kata pemuda itu penuh percaya diri namun langsung hentikan oleh Raura dengan membekap mulut pemuda itu dengan tangannya.
“Jangan bicara yang bukan-bukan. Aku bukan tunanganmu!” kata gadis itu tajam.
Pemuda itu melepaskan bekapan itu lalu nyengir memandang Raura, “Kenapa? Mau membantah bagaimanapun, kau adalah tunanganku. Hanya tinggal dua hari lagi aku bisa membawamu dari sini dan kita bisa hidup bersama selamanya” kata pemuda itu dengan penuh kemenangan.
Raura terdiam di tempatnya sambil menggigit bibir bawahnya. Perasaannya kini campur aduk. Pemuda itu tampak tidak menyadari perubahan yang terjadi pada diri Raura lalu kembali memandang kearah dimana pemuda Okamoto tadi menghilang.
“Lagipula, apa hebatnya pemuda itu? aku tidak mengerti seleramu dalam memilih pria,” celetuk pemuda itu.
Raura tampak mengeram dengan kesal mendengar celetukannya itu, “Dia pintar basket, jago bahasa inggris, tampan, baik hati, dan tentu saja Okamoto Keito senpai lebih baik dibanding dirimu” tukas gadis itu.
Chinen terlihat nyengir memandang Raura yang kini tersulut emosi, “Benarkah? Kau yakin sekali,” kata pemuda itu.
Raura tampak ingin membalas perkataan pemuda itu namun, sosok itu sudah berbalik. Namun sebelum dia pergi pemuda itu tampak berbalik singkat lalu mengelus kepala Raura, “Kita lihat saja nanti” katanya sambil nyengir sebelum melangkah menjauhi gadis itu.
Raura semakin kesal mendengar itu semua. Gadis itu lalu menghentakkan kakinya beberapa kali dan memutuskan pergi dari sana. Raura naik keatap sekolah lalu berteriak, melepaskan emosinya. Dan seketika saja setelah itu bulir-bulir air mata turun dari pelupuk matanya. Gadis itu jatuh terduduk lalu membenamkan wajahnya kedalam tangannya dan mulai menangis. Menyesali nasib yang sudah menimpanya kini.
Mengingat kembali kejadian yang terjadi tadi malam di apartemennya.

********** **********

BRAAAKKK!!
Raura terkejut melihat apa yang dia temukan saat membuka kamarnya. Beberapa saat lalu dia melihat seberkas cahaya terang tiba-tiba saja masuk kekamarnya, entah darimana datangnya. Cahaya itu perlahan menghilang dan meninggalkan satu sosok. Satu sosok yang merupakan seorang pemuda, tersenyum dengan lebar kepadanya dengan dua gigi didepannya yang terlihat seperti kelinci. Bukan itu saja yang membuatnya terkejut. Melainkan sayap putih yang berada di punggung pemuda itu.
“Ah, mitsuketa!” kata pemuda itu masih dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.
“S… siapa… siapa kau?” tanya Raura dengan tergagap.
“Apakah kau melupakanku, Raura? Ini aku, Chinen Yuri, tunanganmu” kata pemuda itu.
Setelah itu Raura tidak ingat apa-apa lagi selain kegelapan yang tiba-tiba saja menyelimutinya. Saat dia kembali mendapatkan cahaya, dia menemukan dirinya berbaring diatas ranjangnya dan ditutupi selimut. Sejenak dia merasakan apa yang tadi terjadi pada dirinya adalah sebuah mimpi, hingga tanpa sadar dia mengalihkan pandangannya ke sofa di kamarnya dan melihat sosok itu kembali, sedang tertidur dengan lelap dengan sayap putih itu menyelimuti tubuhnya.
Raura kembali menghempaskan dirinya ketempat tidur sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit.
Namun pergerakan gadis itu membangunkan sosok bersayap dari lelap tidurnya.
“Kau sudah sadar?” tanya sosok itu sambil menguap dan mengucek matanya.
Raura langsung bangkit dari posisinya kemudian duduk ditepi tempat tidurnya dan memandang sosok itu.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya gadis itu tajam.
Sosok bersayap itu tampak merenggangkan tubuhnya sejenak sebelum kembali duduk dengan tegak di sofa. Sosok itu memandang Raura sambil menyipitkan matanya.
“Kau benar-benar melupakanku? Kau jahat sekali bisa melupakan tunanganmu sendiri,” katanya.
“Tunggu. Aku tidak pernah ingat bahwa aku punya tunangan dari orang tuaku. Dan lagi aku tidak pernah tau bahwa tunanganku adalah sosok gaib yang memiliki sayap.” kata gadis itu.
“Tentu saja orang tuamu tidak tau. Karena mereka memang tidak tau apa-apa, dan kau sudah mengikat sumpahmu sendiri padaku. Dan aku bukan sosok gaib, aku tenshi.” kata sosok itu dengan ringan.
Raura tampak mengerjapkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang sedang didengarnya kali ini.
“A..apa?” tanya Raura lagi dengan nada tidak percaya.
“Yaampun, apa ingatanmu memang seburuk ini?” kata sosok itu sambil menggeleng kepalanya, “Baiklah, aku akan mengingatkanmu kembali”
Sosok itu lalu memperbaiki posisi duduknya dan menatap Raura dengan serius, “Waktu kecil tubuhmu sangat lemah dan kau sering sakit-sakitan, bukan? Ibu dan ayahmu pergi kesana kemari untuk mencari cara agar kau bisa segera sembuh. Namun semuanya sia-sia saja karena kesehatanmu semakin memburuk. Hingga akhirnya orang tuamu membawamu ke kampung halaman nenekmu. Saat itu hujan turun dengan sangat deras disertai badai. Saat itulah aku datang ke kamarmu. Saat itu kau hanya seorang gadis kecil berusia lima tahun. Kau mengira aku adalah sosok malaikat kematian yang akan membawamu, kemudian menangis dan memohon padaku agar aku tidak mengambilmu. Kau sangat sayang pada kedua orang tuamu dan tidak ingin melihat mereka sedih. Aku bukan malaikat maut, dan aku tidak tega melihat kau menangis dan mengiba seperti itu padaku. Akhirnya aku menyembuhkanmu. Aku memberikan separuh dari jiwaku padamu. Setelah itu keadaanmu berangsur pulih dan sejak saat itu aku selalu mengujungimu dan tentu saja,”
Raura terdiam, sepotong demi sepotong bagian dari memorinya mulai merambat masuk menjadi sebuah ingatan samar dikepalanya. Memang benar, sejak kecil tubuhnya sangat lemah dan dia ingat bagaimana wajah sedih dari ayah dan ibunya waktu itu. Namun setelah dia sembuh, hingga sekarang dia tidak pernah lagi jatuh sakit.
Gadis itupun memandang sosok yang bernama Chinen Yuri itu dan kembali bertanya,
“Lalu bagaimana kau bisa menjadi tunanganku?” tanya gadis itu lagi.
Chinen menghela nafasnya, “Aku memberikan separuh jiwaku padamu. Pimpinan para malaikat tidak setuju dengan yang aku lakukan dan aku disuruh mengambilnya kembali. Tapi aku tidak tega merenggut tawa dan kebahagiaan dari seorang anak kecil, jadi aku menolaknya. Lalu aku disuruh membuat pilihan, mengambil jiwaku kembali saat itu juga atau mengambilnya kembali setelah kau berusia tujuh belas tahun dan membawamu serta ke duniaku,” jawabnya.
“dan kau memilih untuk membiarkan ku hidup dan memutuskan mengambilnya kembali setelah tujuh belas tahun?” simpul Raura kemudian.
Chinen mengangkat bahunya tak acuh, “pilihan apa saja yang kuambil sebenarnya sama saja, bedanya hanya kau akan pergi ke dunia yang mana. Ke alam baka atau tinggal bersamaku di dunia para tenshi,” kata pemuda itu ringan.
Raura kembali menyerit, “Maksud..mu?” tanyanya hati-hati.
“Kedua pilihan itu sama-sama berarti kau akan mati, Raura. Jika aku mengambil jiwaku saat itu juga, kesehatanmu akan kembali memburuk dan perlahan kau akan mati. Dan untuk membawamu serta ke dunia para tenshi, kau juga harus berada dalam wujud fana, yang berarti jiwa dan tubuhmu harus terpisah, singkatnya ya mati,” jelas Chinen.
Raura terdiam ditempatnya. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa maksudnya ini? Kenapa takdir mempermainkan hidupnya seperti ini?
“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya Chinen Yuri.
Pemuda itu bangkit dari tempatnya lalu berjalan mendekati Raura dan duduk disampingnya.
Raura mengangkat kepalanya, matanya kini tampak berkaca-kaca, memandang sosok Chinen yang sudah duduk disampingnya.
“Kapan? Tepatnya berapa lama lagi aku harus pergi?” tanya gadis itu.
“Tiga hari lagi, saat usiamu mencapai 17 tahun, tepat jam 12 malam akhir dari hari ulang tahunmu,” jawab Chinen.
Mendengar itu Raura kembali menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya dibalik gerai rambut panjangnya. Namun Chinen tau bahwa gadis itu sedang menangis. Pundak gadis itu tampak bergetar. Perlahan dia merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Dan tangis gadis itupun pecah. Chinen memeluk Raura dengan sangat lembut, mengelus kepalanya, dan sayap putih dipundaknya pun membungkus keduanya dalam kehangatan yang mampu dia berikan.

********** **********

Raura menghela nafasnya panjang. Langkahnya gontai berjalan menuju gym sambil memeluk board dan beberapa kertas menu latihan yang tadi diberikan Okamoto senpai padanya. Pikirannya melayang kepada kejadian pagi ini dimana saat dia terbangung dan berharap semua yang dialaminya hanya sebuah mimpi, namun kenyataannya dia menemukan dirinya terbangung dalam dekapan pemuda itu diatas tempat tidurnya sendiri. Dan lagi, pemuda itu memutuskan untuk ikut bersamanya ke sekolah dan memperkenalkan diri sebagai siswa baru yang pindah dari Inggris. Raura tidak mengerti apa yang dilakukan pemuda itu, kenapa dia harus repot-repot, padahal kenyataannya mereka akan menghilang setelah tiga hari.
Saat langkahnya sudah hampir mencapai ruangan gym, tiba-tiba saja dia mendengar suara tawa seorang gadis yang disusul seorang pemuda. Perlahan Raura membuka pintu gym dan melihat sebuah pemandangan yang menghancurkan hatinya saat itu juga.
Disatu sudut disana, tampak pemuda yang dikenalnya sebagai Okamoto Keito, mengejar seorang gadis sambil tertawa. Hingga dia mendapatkan gadis itu, pemuda itu lalu memeluknya dari belakang, menggendongnya dan memutarnya. Gadis itu lalu terlihat meminta di turunkan. Segera setelah diturunkan, gadis itupun berbalik dan memeluk pemuda Okamoto itu.
Raura menutup pintu gym kembali, hatinya tidak kuat untuk melihat itu semua, kemudian gadis itupun berlari dari sana. Tidak tau kemana, hanya saja jauh dari tempat itu. Sehingga dia tidak perlu lagi melihatnya dan mendegarnya.
Hingga tanpa sadar, gadis itu berada di taman belakang sekolahnya. Raura kemudian melepaskan tangisannya disana. Tubuh gadis itu pun merosot dan kembali menenggelamkan wajahnya kedalam tangannya. Tangisan keduanya hari itu.
Sampai satu lengan merengkuhnya dengan hangat membuat gadis itu mengangkat kepalanya. Dilihatnya kini sosok Chinen Yuri berada tepat didepannya, mengelus lembut pundaknya. Raura lalu menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu. Chinen Yuri hanya diam dan mendekap Raura lembut dalam pelukannya.
“Kau tau, bukan? Kau tau bahwa Okamoto senpai sudah memiliki kekasih, karena itu kau berkata seperti itu. Kau sudah tau, tetapi kau tidak mengatakan apa-apa padaku,” kata gadis itu disela isak tangisnya.
“Kenapa nasibku harus seperti ini? Orang yang kusuka sudah memiliki kekasih, dan aku terikat dengan seorang tenshi, lalu lusa aku akan mati. Kenapa nasib begitu mudahnya mempermainkan ku? Kenapa?” gadis itu kembali melepaskan isi hatinya disela isak tangisnya.
Dan Chinen Yuri tidak melakukan apapun selain mendekap gadis itu dan mengelusnya dengan lembut, menenangkannya. Tidak lama kemudian, getaran di pundak gadis itu tampak mereda. Perlahan Raura menarik diri dari dekapan pemuda itu. Chinen mengangkat wajah gadis itu lalu mengusap air matanya sambil tersenyum. Raura memandang Chinen yang sedang tersenyum memandangnya. Memikirkan betapa anehnya nasib mempermainkannya. Dia menyukai seorang pemuda dari golongan manusia, namun ternyata pemuda itu sudah memiliki kekasih. Dan kini seorang pemuda lain yang bukan dari golongan manusia, ada untuknya, menenangkannya dan mengusap air matanya.
“Kau benar, seleraku memilih pria buruk sekali,” kata Raura sambil tersenyum.
Chinen menggeleng sambil tersenyum menenangkan, “Tidak juga,” katanya. Raura memandang Chinen menunggu pemuda itu melanjutkan karena dilihatnya Chinen sudah kembali nyengir, “karena sebelum kau memilih pemuda Okamoto itu, kau sudah memilihku.” katanya dengan nada percaya diri.
Raura tertegun sejenak sebelum akhirnya tawanya meledak, “Percaya diri sekali kau? Kau sendiri hanya seorang tenshi,” katanya.
“Setidaknya aku lebih baik dari dia. Karena aku menyadari kelembutanmu,” katanya.
Raura tersenyum mendengarnya, entah kenapa kini hatinya terasa sangat ringan.
“Terima kasih,” katanya gadis itu.
Chinen kini tersenyum lembut sambil menyentuh puncak kepala Raura, “Apapun agar kau tersenyum lagi, Raura.” Katanya tulus.
Chinen lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada gadis itu yang segera disambutnya. Chinen lalu menarik Raura kembali berdiri.
“Kau mau kemana sekarang? Kembali ke kelas?” tanya pemuda itu.
Raura diam sejenak tampak berpikir kemudian menggeleng kepalanya, “Aku ingin pulang dan mempersiapkan segala sesuatunya. Besok aku ingin pergi mengunjungi kedua orang tuaku di kampung halaman, aku ingin menghabiskan saat-saat terakhirku bersama mereka.” Katanya.
Chinen tersenyum dan mengangguk. Menggandeng lembut tangan Raura dan keduanya pun pergi dari sana.

********** **********

Raura duduk di teras rumah sambil memandang langit malam. Mengingat saat demi saat yang terjadi dalam hidupnya hingga sekarang.
Kemarin, dia memesan tiket kereta tujuan kampung halamannya dan berangkat pagi itu juga seorang diri. Dia membawa banyak sekali oleh-oleh untuk kedua orang tuanya yang dibelinya malam sebelumnya. Gadis itu tiba di kampung halaman kedua orang tuanya siang hari setelah berganti dengan bus dan menempuh perjalanan selama dua jam. Gadis itu merasakan nostalgia karena tempat ini adalah dimana dia pertama kali bertemu dengan sosok Chinen Yuri yang sudah menyelamatkan nyawanya waktu kecil. Setelah berjalan kaki selama tiga puluh menit, dia pun tiba dan disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Hari itu dia habiskan bersama dengan orang-orang yang disayanginya. Orang tuanya sempat bertanya kenapa dia memutuskan datang padahal bukan waktunya liburan. Raura berkilah bahwa dia ingin merayakan ulang tahunnya bersama kedua orang tuanya.
Dan hari ini, hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Mereka merayakannya dengan sederhana namun berkesan. Setelah itu, disinilah dia sekarang, duduk sendirian di teras kamarnya setelah menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya, menikmati langit malam yang terlihat lebih cerah dibanding biasanya.
Tiba-tiba saja seberkas cahaya terang terpancar dari langit dan menyinari wajahnya. Tiba-tiba saja dia bisa melihat dengan jelas satu sosok di hadapannya. Sosok itu tersenyum dengan lembut dan Raura pun membalas senyuman itu.
“Apakah sudah saatnya?” tanya Raura pada sosok itu yang tidak lain adalah Chinen Yuri.
Chinen yang dihadapannya kini sudah kembali dalam wujud tenshinya yang serba putih lengkap dengan sayap di punggungnya. Sosok itu masih tersenyum lembut dan mengangguk pada Raura.
“Apa masih ada keinginan terakhir?” tanya Chinen padanya.
Raura tampak berpikir sejenak. Sejujurnya dia ingin berpamitan kepada kedua orang tuanya, namun dia tidak ingin melihat mereka sedih. Akhirnya gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah siap. Lakukanlah dengan cepat,” jawab gadis itu.
Chinen melihat pundak Raura sedikit bergetar. Pemuda itu mendekat dan merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Menenangkannya sejenak, dan Raura kembali merasakan nyaman di dalam dekapan itu.
“Sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” bisik Chinen tepat ditelinganya, “Dengan segenap jiwa dan ragaku, aku mencintaimu. Dan aku akan menjagamu sampai kapanpun,” katanya lembut.
Perlahan Chinen melonggarkan pelukannya, ditatapnya Raura sejenak, lalu dia pun mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Perlahan, bibir mereka bersentuhan dengan lembut. Raura merasakan kehangatan mulai mengambil alih. Chinen Yuri kemudian melepaskan bibirnya, tepat saat sebuah cahaya berbentuk bola kecil keluar dari mulut Raura dan terbang masuk melewati dada pemuda itu. Tiba-tiba saja tubuh Raura merosot dan gadis itu pun jatuh terbaring di teras kamarnya. Sebuah cahaya keluar dari tubuh Raura tepat saat jiwa gadis itu terpisah dari raganya. Chinen mengulurkan tangannya dan menarik jiwa gadis itu lalu mendekapnya.
Sebuah sayap kini terbuka dari punggung Raura. Chinen tersenyum dan mengajak Raura terbang sejenak mengitari rumahnya, membiasakan gadis itu dengan sayap barunya.
Raura kemudian mendekat dan memeluk Chinen dan mendekatkan bibirnya di telinga pemuda itu, “Aku juga mencintaimu,” bisiknya.
Dari arah rumahnya, terdengar derap langkah kaki dan tak lama kemudian dilihatnya ibunya menghampiri tubuhnya dan memanggilnya dengan nada panik. Raura memandang sejenak kearah rumahnya. Gadis itu mendekat kepada orang tuanya yang sedang mengguncangkan tubuhnya dengan panik. Raura mencium sejenak pipi ayah dan ibunya, namun tentu saja mereka tidak bisa merasakan apa-apa karena sosok putrinya kini sudah tak lagi bisa disentuhnya.
Raura kemudian kembali berbalik, memandang kepada Chinen Yuri yang sudah menunggunya. Gadis itu meraih tangan pemuda itu yang akan membawanya kedalam keabadian.
Tiba-tiba saja terdengar bunyi lonceng yang entah dari mana asalnya, dan sayup-sayup terdengar suara nyanyian merdu dari langit. Kedua orang tua Raura mengangkat kepalanya dan mata mereka menangkap seberkas cahaya yang perlahan menghilang menuju langit yang kemudian berubah menjadi sebuah bintang yang berkelip di langit malam.

********** **********

Owari desu

Advertisements

3 thoughts on “[Oneshot] Tenshi no Uta

  1. shieldviayoichi

    satu yang bikin paling ngakak bacanya; Raura suka ama Keito! AHAHAHAHAHAHA
    namanya juga jadi Yabu Raura.. X””’D
    ehem..
    ehem.
    oke… ceritanya bagus, aku suka ada malaikat malaikat begini XD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s