[Oneshot] Food

Food

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Koizumi Arina as Chinen Arina

By: Shield Via Yoichi

Song: Favorite Girl – Justin Bieber

Untuk kak Gita yang merangkap(?) jadi mommy saya XDD maaf ya rada gaje dan tidak memuaskan, kak. X’D ini aja hibernasi sekian waktu lamanya XD Judulnya aja mungkin gak sinkron ama isi cerita XD maaf juga untuk segala hal dan typo yang masih bertebaran.

Yuuri dan Arina adalah anak kembar dari sebuah keluarga kecil yang bahagia, keluarga Chinen. Tak heran jika mereka begitu dekat karena selalu bersama sejak mereka dilahirkan, saling membantu, saling mengisi hari satu sama lain dan masih banyak lagi.

Hal itu membuat Yuuri merasakan sesuatu yang melebihi dari rasa sayang kepada saudara. Chinen Yuuri, limabelas tahun, mulai merasakan sebuah rasa yang mengguncang perutnya setiap kali melihat Arina. Memandang adik perempuannya dekat dengan laki-laki selain dirinya membuatnya marah. Bukan Yuuri namanya jika dia tidak bisa menetralkan perasaannya sendiri dan menganggap itu hanya efek dari over-protective.

Dibalik senyum ceria Arina, ada rasa kagum pada kakaknya. Baik, pintar, bahkan tampan sudah ada pada Yuuri. Gadis mana yang tidak akan tertarik padanya? Arina salah satu korbannya. Tapi gadis itu menyadari kalau perasaan ini salah, mereka saudara kandung. Rasa kagum berlebihan itu tidak baik, itu yang ada di pikiran Arina.

***

6 years later

“Huaaaa, Ryo! Kenapa kau penakut sekali sih?” Arina memanyunkan bibirnya kesal.

“Maafkan aku, Arina..” kata Yamada sembari menunduk.

“Coba kamu berani kayak Yuuri. Pasti menyenangkan kalau menonton film horor.” Arina menghela napas, “Dia tidak akan menyembunyikan wajahnya dibalik jaket.”

“Iya deh, Arina. Maaf kalau aku tidak berguna.”

Ups, Arina tampaknya menyadari perkataannya menyakiti Yamada, “Bukan, maksudku….”

“Iya, aku tahu kok. Kakakmu hebat sekali kan dimatamu? Tidak apa-apa, aku sudah kebal kok.” Yamada tersenyum, “Selanjutnya, apa rencanamu?”

“Mau ke rumah? Aku akan memasak makanan kesukaanmu.”

Yamada mengangkat alisnya, “Boleh? Ayo!”

***

“Arina, kenapa rumahmu sepi sekali?” heran Yamada saat memasuki rumah keluarga Chinen yang cukup besar itu.

“Yuuri pasti masih tidur, kalau ibu kan ikut ayah dinas ke luar kota. Aku belum cerita itu padamu ya?” Arina memiringkan kepalanya, Yamada hanya menggeleng, “Semenjak kami SMA, ibu selalu meninggalkan kami berdua untuk ikut ayah yang sering ditugaskan ke luar kota.”

Arina melangkahkan kaki menuju dapur sementara Yamada mengikuti dari belakang. Ini memang bukan pertama kalinya bagi Yamada masuk ke rumah ini, hanya saja dia agak takut dengan kakak Arina, tatapan Yuuri seakan ingin menguburnya hidup-hidup.

“Arina, kau sudah pulang?” Yuuri menuruni tangga sambil mengusap pelan satu matanya yang masih mengantuk.

“Un! Kau baru bangun ya? Rambutmu acak-acakan sekali.” Arina menghampiri saudaranya itu untuk merapikan rambut pemuda itu, “Ah, kau sudah tinggi. Aku bahkan sulit meraih rambutmu kalau kau berdiri tegap begini.”

Yuuri terkekeh, “Sudahlah, aku bisa merapikannya sendiri. Kau bawa dia lagi?” tanyanya sambil melirik Yamada yang sedari tadi melihat mereka dalam diam.

“Iya, dia kan temanku.”

“Teman apa? Kok berteman dengan laki-laki?”

Arina menggembungkan pipinya, “Memangnya tidak boleh?”

“Tidak!” Yuuri menggeleng, “Adikku yang manis seharusnya berteman dengan gadis yang manis juga.”

“Oh, begitu…” Arina mengangguk, “Ya sudah, aku jujur. Dia pacarku.”

“APA?” Yuuri tiba-tiba merasa sedang tersengat listrik, membuat seluruh badannya kaku.

“Kau berlebihan sekali.” Arina memanyunkan bibirnya, “Nah, ayo kita ke dapur, Ryo. Biarkan saja Yuuri mematung di sana.”

“A-apa tidak apa-apa?” tanya Yamada sedikit takut saat Yuuri meliriknya tajam.

“Tidak apa-apa, ayo..” Arina menarik tangan Yamada agar mengikutinya ke dapur.

***

Yuuri duduk di kursi tempat biasa dia duduki untuk memulai makannya. Namun sekarang bukan itu yang dia lakukan, dia duduk di sana untuk melihat adiknya yang sedang memasak bersama pacarnya. Yuuri merapatkan gigi dan memanyunkan bibirnya tanpa sadar, dia terlihat begitu kesal menonton tingkah pasangan itu.

“Apa benar kau bisa? Sudahlah, biar aku saja.” kata Yamada yang hanya bisa melihat Arina begitu sibuk.

“Iya, aku bisa kok. Kau diam dan lihat saja, hehe~”

Yuuri mendengus, dia sangat kesal. Dia cemburu adiknya memasak untuk orang lain. Yuuri bisa menghitung berapa kali Arina memasak untuknya dengan terpaksa tentunya. Ingin sekali dia mengganggu mereka, tapi dia tidak mau Arina yang temperamen meledakkan amarahnya. Yuuri terlalu takut membuat Arina mengetahui perasaannya pada adik perempuannya itu. Namun, dia juga tidak akan kuat melihat adegan ini berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang tidak bisa diperkirakan oleh akalnya.

“Nah, coba kau rasa. Bagaimana, enak?” tanya Arina setelah menyodorkan sendok berisi kuah pada Yamada.

Yamada mencobanya dan sedikit terkejut, “Wah, ini enak! Kau belajar memasak dengan siapa?”

“Itu rahasia~” Arina tertawa. Yamada tersenyum sambil mengacak rambut Arina pelan. Refleks, dia mencium kening Arina.

“Aku harap kau semakin pintar memasak.” katanya. Arina yang masih terkejut dengan kecupan di keningnya hanya mengangguk. Kemudian dia melirik Yuuri, laki-laki itu sedang menggeram, matanya terlihat ada kilat marah memandang ke arah Yamada.

***

Gochizousama…” Arina tersenyum melihat Yamada menghabiskan makanan yang dia masak, “Maaf ya membuatmu repot karena harus memasak untukku.”

“Ah, tidak. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sudah bisa memasak yang lebih enak daripada sebelumnya.”

Daripada sebelumnya? Maksudnya? Chinen mengangkat sebelah alisnya. Apa Arina pernah memasak untuk laki-laki lemah ini sebelumnya? Sialan.

“Haha, kau tidak perlu melakukan itu.” Yamada kembali mengacak pelan rambut Arina, “Ah, tampaknya sudah waktunya aku pulang.” Yamada bangkit berdiri diikuti dengan Arina lalu berjalan menuju pintu rumah.

“Sekali lagi, maaf membuatmu repot dan terima kasih untuk makanannya.”

“Aku tidak merasa direpotkan kok.” Arina tersenyum dan dibalas Yamada dengan senyuman.

“Arina…”

“Iya?”

“Bolehkah aku menciummu?” tanya Yamada penuh harap.

Arina memandang ke arah kakinya sambil memainkan ujung bajunya, “Maaf, Ryo.. Aku-”

“Tidak bisa ya? Tidak apa-apa.”

“Maaf..”

Yamada hanya tersenyum, “Jya, mata ne..” Yamada melangkahkan kakinya menjauh dari Arina sambil melambai-lambai.

***

Arina memasuki rumah masih dengan raut wajah yang tidak biasa dia tunjukkan. Dia terlihat begitu bimbang.

“Jadi, kapan pertama kali kau memasak untuk…. siapa namanya tadi?”

“Ryo.”

“Ah, ya.. Ryo.. Jadi– eh, Arina kau kenapa?”

Arina menggeleng lalu tersenyum, “Tidak apa-apa. Ah, tadi aku ada menyiapkan untukmu juga.” Arina kembali menuju dapur dan mengambil makanan yang dia khususkan untuk Yuuri walaupun itu adalah makanan yang sama dengan yang dimakan oleh Yamada, “Ini, makanlah.”

“Bukannya ini spesial kau buatkan untuk pacarmu itu?”

“Jangan cemburu gitu, ah. Kau kan kakakku, tentu juga aku harus mengingatmu.”

Ah, benar. Aku ini kakaknya, tidak lebih. Yuuri tersenyum tipis lalu mulai memakan makan itu.

“Arina, bisakah kita seperti dulu lagi?”

“Maksudmu?”

“Ya, bermain bersama, mandi bersama, tidur bersama dan semua hal bersama.”

“Umur mengubah semuanya, Yuuri..”

Yuuri menggaruk kepalanya, “Aku hanya merindukan saat itu.” Arina hanya diam. Dia sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Sejak SMA mereka mulai berjauhan karena kamar mereka dipisahkan dan juga sibuk dengan urusan masing-masing, “Bolehkah aku tidur bersamamu? Hari ini saja. Aku ingin mendengar keluh kesahmu seperti waktu kita SMP dulu.”

“Itu….”

***

“Wah, kamarmu rapi sekali, Arina!”

“Jangan sentuh apapun yang ada dikamarku. Kau bilang hanya tidur bersama kan? Tidurlah disampingku dan jangan melakukan hal lainnya.”

“Galak sekali~” goda Yuuri.

“Apa pedulimu?”

“Nanti wajahmu cepat tua kalau marah-marah begitu.” Yuuri mencubit pipi Arina.

“Yuuri, hentikan! Sakit…” Arina mencoba melepaskan tangan Yuuri dari pipinya, Yuuri tertawa. Dia merebahkan badannya.

“Nah, ceritakan apa saja yang membuatmu berpikir terlalu keras hari ini.”

“Err… ano… Apa setiap pasangan yang berpacaran harus berciuman bibir?”

Yuuri mengangkat alisnya, “Kenapa kau bertanya hal yang seperti itu? Apa Ryo-mu itu menciummu?”

“Ah, bukan begitu. Tapi temanku sering bertanya, ‘apa kau sudah berciuman?’. Itu menjadi pikiran bagiku.” kata Arina sedikit berbohong.

“Jadi, begini ya, Arina. Sebagian besar orang beranggapan kalau ciuman itu tanda sayang, dia ingin tahu apakah pasangannya serius menjalin cinta dengannya atau tidak. Ada juga yang hanya sekedar nafsu.”

“Tidak bisakah dengan tindakan lain? Maksudku, seperti sering bertemu atau menelepon atau berkirim email. Banyak cara lain kan?”

“Tampaknya si Ryo itu mencuri ciuman pertamamu ya..”

“Tidak, dia tidak melakukan itu!”

“Lalu?” tanya Yuuri menyelidik.

“Ehm… D-dia bertanya bisakah dia menciumku t-tapi aku jawab tidak. Aku merasa takut d-dan sekarang aku merasa menyesal. Apa yang harus aku lakukan, Yuuri?” kata Arina gemetar.

“Sekarang aku bertanya padamu, apa kau sayang padanya? Apa yang kau suka darinya?”

“Itu…” Arina menggigit bibir bawahnya karena tidak tahu jawabannya, “Aku tidak bisa menjawabnya.” Yuuri, kumohon. Jangan tanya kenapa aku memilih Ryo menjadi kekasihku.

“Berarti kau ti-”

“Maaf, Yuuri. Tiba-tiba aku merasa pusing, aku mau tidur.” Arina menutup matanya.

Yuuri mendekat dan mengelus rambut Arina, “Tidurlah dan mimpi indah..” Arina menelan ludah, jantungnya berdegup dengan kencang saat jari Yuuri sibuk dengan rambutnya. Tanpa diperintahkan, tubuhnya bergerak merapat ke Yuuri. Dia ingin merasakan hangatnya dekapan Yuuri tanpa menghiraukan debaran jantungnya.

“Bisakah….” bisik Arina namun terdengar oleh Yuuri.

“Bisa apa, Arina?” Yuuri menatap Arina bingung. Gadis itu membuka matanya perlahan dan wajahnya langsung memerah saat mendapati wajah Yuuri yang begitu dekat dengan wajahnya.

“T-tidak, bukan apa-apa.” Arina segera membalikkan badannya membelakangi Yuuri namun ditahan pemuda itu.

“Kau ingin kupeluk? Sini..” katanya langsung memeluk Arina. Arina merasa seperti kehilangan oksigen untuk dihirup saking kuatnya degup jantungnya. H-hangat sekali., pikir Arina. Dia bisa merasakan bunyi jantung Yuuri yang seirama dengan jantungnya. Yuuri, kenapa jantungmu berdetak kencang sepertiku?

***

Yuuri membuka mata dan melihat Arina ada disebelahnya. Ah, apakah ini mimpi? tanyanya pada diri sendiri yang selalu berkhayal seperti ini. Namun, Arina bergerak gelisah seakan menjawab pertanyaannya. Dia tampak terkejut dan menyadari bahwa dia memang tidur bersama Arina semalam. Baka., umpatnya.

Yuuri sedikit mendekati Arina, menelusuri setiap inci wajah Arina. Tangannya ikut menari-nari di wajah Arina dan berhenti di bibir adiknya itu. Wajahnya bergerak maju mendekati wajah gadis itu dan semakin dekat.

Tidak! Apa yang aku lakukan? Dia berhenti saat bibirnya tinggal beberapa senti lagi menyentuh bibir Arina. Dia menatap Arina yang tidur, bisa dia rasakan darah mengalir ke kepalanya yang membuatnya menjadi panas.

Tidak! Tidak! Tidak! Yuuri bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk membanting tubuhnya kembali ke tempat tidur yang menimbulkan getaran dan mengganggu Arina.

“Uhm…. Sudah pagi ya?” kata Arina yang enggan keluar dari dunia mimpinya. Dia mencoba duduk di pinggir tempat tidurnya dengan mata yang masih tertutup, “Aku masih mengantuk~”

“Kalau mengantuk, tidur saja. Hari ini kan hari Sabtu.”

“Eh?” Arina melihat ke asal suara, “Kenapa kau…. ah, iya.” katanya sambil mengangguk setelah ingat mereka tidur satu kamar kemarin. Sejurus kemudian wajahnya memerah.

“Arina?”

“Ah! Aku harus cepat-cepat!”

Yuuri menyergit, “Bukannya kau tidak ada jadwal hari ini?”

“A-ah..” Arina salah tingkah, “Aku mau belajar bahasa Korea dengan Ryo. Iya, bahasa Korea…”

“Eh? Tumben sekali.”

“Iya… ah, tidak. Maksudku, aku sedang tertarik mempelajarinya, haha…” kata Arina sambil tertawa hambar dan tangan menggaruk belakang kepalanya, “Sekarang, aku harus bersiap-siap dan kau, cepat keluar dari kamarku.”

“Tapi aku masih mengantuk..” kata Yuuri seraya memeluk guling.

“Pindahlah ke kamarmu, jangan disini!” Arina mendorong Yuuri hingga terjatuh dari tempat tidur.

“Baik, baik. Aku keluar sekarang.” Yuuri berjalan menuju pintu kamar Arina sambil mengusap bagian tubuhnya yang sakit.

Setelah Yuuri keluar, Arina segera mengunci kamarnya. Dia meraba dadanya. Ya ampun, perasaan apa ini?

***

“Kenapa tiba-tiba sekali?” Yamada menutup mulutnya saat menguap.

“Maafkan aku, Ryo.” Arina membungkuk dalam, “Aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu.”

“Sudahlah. Memang apa yang terjadi?” tanya Yamada penasaran. Dia mengamati tingkah Arina yang agak gelisah itu.

“Aku… aku… aku bosan di rumah, hehe.”

Uso da..

“Eh? Hm, iya.. Aku memang tidak bisa berbohong padamu ya..”

“Karena aku selalu memperhatikanmu, jadi aku tahu.” Arina menatap Yamada yang tersenyum padanya. Dia bisa merasakan ketulusan pemuda itu, terlihat jelas dari sorot matanya. Sekali lagi, jantungnya berdetak lebih cepat namun tidak sekencang saat Yuuri memeluknya waktu itu.

“Maaf ya kalau aku selalu membuatmu kecewa, Ryo.”

“Kenapa kau bicara begitu?” Yamada menggenggam tangan Arina erat seakan tidak ingin kehilangan Arina.

“Aku selalu saja membandingkanmu dengan Yuuri. Aku tahu kau pasti benci dengan Yuuri tapi…” Arina menunduk, mengalihkan pandangannya dari tatapan Yamada. Tetapi pemuda itu mengangkat kepalanya dan mengelus lembut pipinya.

“Jangan bicara seperti itu lagi. Aku memang laki-laki bodoh yang mau berpacaran denganmu dan tahan dibanding-bandingkan dengan kakakmu. Tapi aku cuma ingin kau tahu, aku berpacaran denganmu karena aku merasa ingin melindungimu. Sekali pun kau tidak menyukaiku dan lebih memilih kakakmu, tapi aku yakin aku bisa merebut hatimu.”

Arina terdiam, dia tidak tahu harus membalas kata-kata Yamada. Dia merasa sedang mempermainkan hati Yamada. Tanpa dia sadari, airmatanya meluncur membasahi pipinya. Dia sudah tidak tahan lagi menahan rasa bimbang ini.

“K-kenapa kau menangis?” tanya Yamada dengan nada khawatir.

Arina tersadar dan menghapus airmatanya, “Aku bingung, Ryo. Kemarin Yuuri bertanya kenapa aku berpacaran denganmu tapi aku tidak bisa menjawabnya.”

“Kau tidak ingat kejadian lima tahun lalu saat aku menyatakan perasaanku disini? Kau bilang padaku aku tidak boleh protes saat kau menyamakanku dengan kakakmu dan aku harus selalu meminta izin kalau ingin melakukan sesuatu padamu. Ingat?” Arina mengangguk cepat, “Mungkin karena aku sanggup dengan syaratmu makanya kau menerimaku sebagai pacarmu.”

“Sekarang aku merasa sedikit lega, terima kasih, Ryo..” Arina tersenyum senang.

“Lalu…” Yamada menghela napas, “Apa kau menyukai kakakmu?”

***

Yamada memencet bel dengan susah payah. Tangannya penuh dengan keranjang buah dan beberapa buku.

Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka sedikit, “A-aku ingin menjenguk Arina.”

“Masuklah.” Pintu itu terbuka semakin lebar, “Arina ada di kamarnya.”

Yuuri menutup pintunya saat Yamada sudah berada di dalam, “Demamnya masih tinggi padahal sudah seminggu, dia juga tidak mau makan. Ayah dan ibu juga belum bisa pulang.” Suaranya terdengar sangat khawatir.

“B-boleh aku melihatnya? Ah, ini aku bawakan buah dan beberapa catatan kuliah untuknya.”

Yuuri mengambil semua barang tersebut, “Ayo, aku tunjukkan kamarnya.” Mereka berjalan menuju kamar Arina dalam diam, “Aku harap kedatanganmu membuatnya sedikit membaik. Nah, masuk dan bujuk dia untuk makan.”

Yamada melihat Arina tergeletak lemas di tempat tidurnya. Selimut menutupi sebagian tubuhnya. Dia mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, “Arina..”

“R-Ryo…” Arina mencoba membuka matanya.

“Ini pasti karena hari itu kan? Maaf.”

“J-jangan menyalahkan dirimu terus.” kata Arina mencoba tersenyum.

“Tapi memang benar kan?”

***

“Aku.. tidak tahu.”

 

“Bagaimana rasanya kalau kau dekat dengan kakakmu? Misalnya saat dia merangkulmu atau memelukmu atau menggenggam tanganmu seperti ini?” Yamada mengangkat genggaman tangan mereka.

 

“Aku… merasa sesak dan tidak bisa melihat wajahnya lagi.” Arina mencoba melihat orang yang berlalu lalang di taman itu.

 

“Sudah kuduga.”

 

Arina melihat Yamada dengan bingung, “Eh?”

 

“Kau menyukai kakakmu tapi kau mencoba melarikan diri dari kenyataan dengan berpacaran denganku.”

 

“Tidak, Ryo. Itu hanya karena aku merindukan suasana keluarga kami yang dulu.”

 

“Aku bisa merasakannya, Arina. Saat kau menceritakan tentang kakakmu. Awalnya aku pikir kau hanya kagum dengannya namun kejadian kemarin menjawab semuanya.”

 

Arina menyerngit, “Kejadian yang mana?”

 

“Saat kau mencoba merapikan rambutnya. Kau seakan melupakan kehadiranku saat melihatnya.”

 

Arina menggigit bibir bawahnya, “Jadi?”

 

“Kau sedang berada dalam cinta terlarang, Arina.”

 

Arina membelalakkan matanya. Apa benar yang dikatakan Yamada padanya? Dia melihat ke arah Yamada, wajah pemuda itu tampak begitu serius. Dia mengacak rambutnya gusar, “Jadi aku harus apa?”

 

“Lupakan dia.”

 

“Tidak! Tidak mungkin, Ryo! Dia saudaraku, kembaranku dan juga kakakku!” Arina semakin mengacak rambutnya. Matanya juga mulai berkaca-kaca.

 

“Itu kenapa aku bilang lupakan perasaanmu padanya! Itu menjijikkan, kau tahu!” kata Yamada dengan suara keras. Arina tersentak dan tangisnya pun pecah. Yamada pun mengacak rambutnya kasar dan melemparkan tinjunya ke tanah.

 

***

Yuuri mengintip dari balik pintu. Rasa khawatirnya sedikit berkurang saat Arina sudah mau makan. Rasa lain malah timbul, dia cemburu melihat Arina disuapi Yamada.

“Ingat, jangan memaksakan diri lagi dan dengarkan kata-kata kakakmu. Dia khawatir sekali.” Yuuri mendekatkan telinganya, mencoba mendengar lebih jelas apa yang mereka bicarakan, “Aku juga… aku juga tidak bisa memaksamu untuk berhenti menyukai kakakmu.”

Eh? Apa yang dia katakan? Yuuri ternganga, “Aku akan mundur jika kau masih seperti itu.”

“K-kenapa?”

“Aku tidak ingin hanya sebagai pelarianmu saja. Jika kau berada di posisiku, mungkin kau baru bisa mengerti.” Yuuri mencoba melihat keadaan mereka. Ah, sial. Aku hanya bisa melihat punggung pemuda aneh itu.

“Aku tidak bermaksud… aku hanya… kakakku.. aku..” Arina kebingungan ingin bilang apa. Dia ingin Yamada tidak meninggalkannya.

Yamada memegang pundak gadis itu, “Tidak, aku harus pergi. Aku akan bahagia kalau kau bahagia, percaya padaku.” Dalam kesakit-hatiannya, Yamada tersenyum untuk meyakinkan Arina.

“Maafkan aku, Ryo.” sesal Arina. Gadis itu menarik kepala Yamada mendekat dan mencium pemuda itu sekilas.

“Kenapa?” tanya Yamada sambil memegang bibirnya.

“Maaf sudah menciummu disaat kita bukan apa-apa lagi. Itu hanya permohonan maafku karena selama kita bersama aku tidak memeluk dan menciummu. Maaf.”

“Jangan minta maaf lagi, kumohon.”

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Ryo…”

***

Yuuri membuka matanya perlahan saat dia merasa ada yang mengganggu tidurnya, “Yuuri, bangun! Yuuri!” Dia terkejut saat menemukan wajah Arina yang begitu dekat dengan wajahnya. Dia yakin wajahnya sedang memerah sama seperti wajah Arina sekarang.

Arina tersenyum, “Akhirnya kau bangun juga. Aku mau memasak untukmu! Ayo bantu aku~” Gadis itu menarik-narik tangannya pelan.

“Kenapa aku harus membantu? Pacarmu mana?”

“Hah, kami sudah putus. Ayolah, cepat!”

“Eh? Kok bisa?” tanya Yuuri heran. Padahal saat itu dia menyaksikan sendiri Arina dan Yamada mengakhiri hubungan mereka.

Arina berhenti sejenak dan melihat ke arah Yuuri, “Karena kami sudah tidak cocok lagi.”

“Heh… Padahal kalian tampak serasi.” puji Yuuri padahal dia sangat lega Arina bukan milik siapa-siapa lagi, “Jadi hari ini mau memasak apa?”

“Hm…. Apa ya? Yuuri maunya makan apa?”

Yuuri tampak berpikir, “Bagaimana kalau makanan kesukaanmu saja? Aku suka semua sih…”

“Baiklah~”

***

“Ah~ Masakanmu enak sekali~” ucap Yuuri setelah isi piringnya tandas masuk ke perutnya.

Arina hanya tersenyum padanya. Dia senang sekali Yuuri memuji masakannya. Sudah dari lama dia belajar memasak autodidak. Selama Yuuri tidak ada di rumah, dia selalu mencoba memasak. Percobaan pertama dia membuat makanannya gosong tapi dia terus saja mencoba dan akhirnya dia berhasil. Itu semua hanya untuk Yuuri yang senang dengan makanan.

“Tapi masakanku tidak seenak masakan ibu.”

Yuuri langsung memegang puncak kepala Arina dan mengacak rambutnya pelan, “Aku yakin kalau kau terus belajar, pasti rasanya seperti koki di restoran mewah.”

Arina tertawa lalu memegang tangan Yuuri yang ada di kepalanya dan menjauhkan dari kepalanya itu, “Kau ini selalu saja berlebihan.”

“Aku kan cuma mau menyemangati adikku.”

“Iya deh, Yuuri-niichan~” goda Arina. Rasanya dia ingin seperti ini terus. Rasa dimana langit berwarna merah jambu dan awan berbentuk hati memenuhi rumah mereka.

“Oh iya, ada rencana untuk merayakan ulang tahun?” tanya Yuuri. Arina berpikir dengan wajah bingung kemudian menggeleng.

“Kenapa? Apa ayah dan ibu tidak pulang lagi seperti tahun lalu?”

“Ya, tapi kali ini mereka ingin berlibur. Bulan madu, katanya.”

Arina menggeleng heran dengan tingkah orangtuanya, “Dasar, ayah dan ibu itu. Ada-ada saja.”

“Bagaimana kalau aku masak makanan enak untuk perayaan ulang tahun kita?”

“Eh? Jangan memaksakan diri!” larang Arina. Dia tahu Yuuri hanya bisa memasak omurice dan beberapa masakan yang mudah dibuat, tidak lebih dari Arina yang dulu, “Biar aku saja yang memasak.”

“Benarkah? Hore!!”

Saking senangnya, Yuuri memeluk Arina dengan erat. Arina tersentak kaget, tidak menyangka akan dipeluk. Yuuri bukan orang yang gampang memeluk orang lain walau dia bisa bersikap manja padanya. Arina sedikit mendorongnya namun akibatnya wajah mereka berdekatan. Arina semakin terkejut, napasnya terhenti sesaat.

“Y-Yuuri?”

Yuuri diam memandang mata Arina yang sama sepertinya. Dalam keheningan ini, Yuuri bisa merasakan detak jantungnya dan milik Arina sama berisiknya. Yuuri mendekatkan wajahnya ke wajah Arina, sementara Arina sudah menutup matanya rapat sekali.

“Rambutmu sudah panjang banget nih.” bisik Yuuri telinga Arina. Arina yang sudah membuka mata merasa kehilangan oksigen di sekitarnya.

Arina langsung mendorong kencang tubuh Yuuri, “Ih! Kalau bicara tidak perlu sedekat itu!”

Yuuri tertawa terbahak-bahak, “Lagi pula, kau tampaknya bersedia kalau aku menciummu.”

“Apa katamu, huh?” Arina menjewer telinga Yuuri dengan kencang.

“Ampun… sakit..” katanya sambil memegang tangan Arina dan mencoba melepaskan tangan kembarannya itu dari telinganya, “Aku bercanda.”

“Huh. Aku mau tidur saja ah.” Arina langsung melangkah ke kamarnya namun baru beberapa langkah dia terhenti, “Jangan menyusup ke kamarku, eh?”

Yuuri tercekat. Bagaimana bisa Arina tahu kalau dia menyusup ke kamar Arina hanya untuk memandang wajah tidur adiknya selama beberapa jam sebelum dia tidur di kamar tidurnya?

Di dalam kamar, Arina memeluk gulingnya dengan erat. Bibirnya tersenyum lebar. Perasaan bahagia menyelimutinya. Andai tadi Yuuri benar-benar menciumnya, mungkin dia bakal merasa lebih bahagia lagi. Tapi dia tidak mungkin meminta Yuuri menciumnya, dia tidak mau perasaan yang melebihi dari sayang antar saudara ini terungkap.

“Ih, Yuuri~” Dia kembali memeluk gulingnya, membayangkan dia memeluk Yuuri.

***

Yuuri mencium aroma yang sangat nikmat dari dapur. Dia segera mengikuti aroma itu dan menemukan Arina sedang memasak. Dia memakai celemek dan mengikat rambutnya, membuat Yuuri merasa deg-degan.

“Yuuri, sedang apa disini?” tanya Arina yang sadar saudaranya sudah ada di dapur.

“Aromanya sampai ke kamarku, jadi aku datang kemari.”

Arina tertawa kecil, “Masakannya belum jadi, tunggu sampai nanti malam ya.”

“Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya.” Yuuri mengelus perutnya sambil menyapukan lidahnya di bibirnya.

Malam ini mereka akan merayakan ulang tahun bersama. Sebenarnya ulang tahun mereka adalah besok hari, tapi sejak malam ini mereka akan menghabiskan waktu bersama dan tepat jam duabelas malam nanti mereka akan bertukar kado. Tidak seperti tahun lalu, Arina sudah tidak sabar dengan hadiah yang akan Yuuri berikan. Biasanya, Yuuri akan bertanya pada gadis itu, ingin kado seperti apa. Tapi kali ini tidak, membuat Arina sangat penasaran.

Malam pun tiba, makanan sudah tertata di atas meja. Penghangat ruangan juga sudah dinyalakan, udara sudah sangat dingin karena musim dingin akan datang. Arina sudah duduk di depan meja, menunggu Yuuri yang masih mandi.

Yuuri melihat pantulan dirinya di cermin, dia harus kelihatan tampan hari ini. Ya, ada hal yang akan dia sampaikan pada Arina. Dia sudah tidak sanggup untuk menahan cintanya pada Arina. Dia tidak berharap akan memiliki Arina sebagai kekasih karena dia sadar sepenuhnya tentang status mereka sebagai saudara kandung. Dia hanya ingin perasaan ini di ketahui Arina, urusan diterima atau tidak itu tidak penting baginya.

Yuuri segera keluar kamar dan bergabung dengan Arina yang sudah duduk manis menunggunya. Mereka pun memulai makan sambil sedikit melirik. Mengagumi satu sama lain yang terlihat berbeda hari ini.

Gochizousama… Masakan Arina memang terbaik~”

Arina tertawa, “Cukup, jangan terlalu memujiku. Masakanku masih jauh dari sempurna.”

“Tapi memang enak sekali sampai-sampai bisa menambah ketampananku.”

“Hahahahahahaha… Dasar.”

Yuuri menatap Arina yang duduk di sampingnya, ada beberapa pertanyaan yang harus Arina jawab sebelum Yuuri mengatakan perasaannya.

“Apa?” tanya Arina saat sadar sedang diperhatikan. Wajahnya sedikit merona.

“Hm.. tidak. Aku penasaran, sudah berapa kali mantan pacarmu itu memakan masakanmu.” Yuuri menopak kepalanya dengan satu tangan.

Arina menyergit, “Berapa ya? Sepertinya baru dua kali.”

Yuuri mengangguk, “Sebenarnya aku cemburu saat itu.” Baru saja mau melanjutkan perkataannya, Arina bergerak mengangguk cepat kemudian tertawa kecil.

“Aku ingat itu! Wajahmu jelek sekali saat itu! Hahaha…”

“Eh? Apa sebegitu terlihatnya?”

“Un! Kau seakan-akan bilang ‘aku saja cuma makan kare buatan Arina, dia sudah makan masakan Arina yang lain’, kalau ingat itu lucu sekali!”

Yuuri menggaruk kepalanya salah tingkah, “Begitu ya..”

“Tapi tenang, aku akan memasak untuk Yuuri lebih sering lagi.”

“Masukkan resep cinta ya ke setiap masakanmu.” ucap Yuuri membuat wajah Arina sedikit kaku dan menatapnya.

Yuuri meraih kepala Arina dan mengelus rambutnya sebelum menarik leher kembarannya dan menciumnya.

Mata Arina terbelalak saat merasakan bibirnya menyentuh bibir Yuuri. Lembut, itu yang dia rasakan. Lebih lembut daripada yang dia bayangkan sebelumnya.

Yuuri membuka matanya perlahan setelah mengakhiri ciuman itu, lalu tersontak kaget saat matanya beradu dengan mata Arina yang tak kalah kagetnya dengan dirinya. Yuuri langsung mengubah air mukanya kembali tenang, “A-aku… aku hanya menghangatkan saja..” Ah, Bodoh sekali., rutuk Yuuri dalam hati.

Arina tertawa mendengar alasan Yuuri. Ketegangan sekitar mereka pun sedikit hilang, “Kalau begitu, aku mau Yuuri menghangatkanku lagi.”

“Kau bicara apa?” Yuuri melihat Arina dengan mata terbelalak. Wajah gadis itu sangat merah.

Arina mendekati Yuuri dan memeluknya, “Aku menyukai Yuuri.” bisiknya. Dia melonggarkan sedikit pelukannya untuk memandang wajah Yuuri dari dekat. Dia bisa melihat wajah pemuda itu juga tak kalah merah dengannya. Arina mendekatkan bibirnya ke bibir Yuuri dan menciumnya. Bisa Arina rasakan Yuuri memeluknya sangat erat dan membalas ciumannya.

“Tapi cinta kita ini….” ucap Yuuri setelah puas mencium Arina.

“Terlarang? Menjijikkan? Kalau begitu cukup kita berdua saja yang tahu karena perasaan ini hanya kita yang rasakan.” jawab Arina mematahkan keraguan Yuuri, “Jadi pilih mana, aku yang menghangatkanmu atau masakanku yang membuatmu hangat?” Arina melihat ke wajah Yuuri.

“Dihangatkan olehmu lebih menyenangkan.”

Arina mencubit pipi Yuuri, “I love you, oniichan!”

“Sejak kapan jadi memanggilku oniichan?” tanya Yuuri menaikkan alisnya.

Arina memanyunkan bibirnya, “Itu panggilan sayang!!”

“Ah, tidak bagus. Ganti dong.”

“Jadi apa?”

“Yuuri yang tampan~” Sedetik kemudian Arina menjitak kepala Yuuri keras, “Kenapa?”

Arina menggeleng lalu tersenyum, “I love you, my handsome Yuuri.”

Alarm mereka berbunyi, pertanda sudah jam duabelas malam dan itu artinya hari sudah berganti serta bertambahnya umur mereka. Arina dan Yuuri saling beradu pandang dan tersenyum.

Happy birthday, Arina. Terima kasih sudah mau lahir bersamaku. Aku mencintaimu.”

“Selamat ulang tahun juga, Yuuri.”

“Mulai hari ini aku bisa tidur bersamamu dong?”

“Siapa yang bilang?”

“Kan kita saling mencintai, tidak apa-apa dong? Aku akan menjaga Arina setiap malam~ seperti kesatria~”

“Seperti pelayan sih, iya!”

Yuuri mendengus, “Arina tidak bisa melihatku bahagia!” Dia mencubit pipi Arina, Arina membalas. Mereka tertawa bersama lalu kembali berpelukan.

“Kau akan tetap menjadi gadis favoritku, Arina. Selalu.”

The End

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Food

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s