[Minichapter] DICE (chap 2)

Title: DICE
Type: Chapter 2
Genre: Romance, fantasy, ShounenAi
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Fandom: HSJ
Starring: Nakajima Yuto, Nakamaru Takeshi, Okamoto Keito

WARNING: Cerita ini aku ambil dari Webtoon yang sering aku baca. Ada unsur kekarasan di dalamnya, dan ini hanya fiksi jadi jangan di tiru ya.

DICE

Yuto mengenggam erat dadu berwarna biru yang ada di tangannya, jika ia bisa hancurkan benda itu mungkin sudah dilakukannya. Tapi sayang dadu itu terlalu keras hingga dia hanya bisa mengenggamnya erat. 

Mayat adiknya, Nakajima Raiya terkujur kaku di dalam peti yang sebentar lagi akan di tutup untuk di makamkan. Yuto tidak akan pernah lupa kejadian yang menimpa adiknya hanya karena menuruti permainan dari kubus sialan yang ada di genggamannya.

Entah kenapa saat pagi hari, Yuto melihat adiknya sudah terbaring di atas tempat tidurnya dengan tangan yang susah di jelaskan bentuknya, dan mulutnya yang berbuih, terakhir kali Yuto melihat Raiya sedang memegang kubus bercahaya biru terang.

Sejak saat itu Yuto berjanji akan membuang dadu yang sudah menjemput kematian adiknya itu. Tidak ingin berurusan ataupun dekat dengan orang yang memainkan kubus atau Dice tersebut, karena ia takut jika ia dekat dengan orang itu nanti. Yuto takut orang itu akan hilang karena permainan dadu tidak jelas itu.

Pagi ini, Yuto berniat untuk membuang dadu-dadu bekas adiknya yang terkumpul sangat banyak, semua itu Yuto simpan di dalam tasnya. Namun baru saja Yuto akan membuang dadu tersebut ke kotak sampah yang berada di kampus, Yuto merasakan tubuhnya ditendang oleh seseorang hingga wajahnya tersungkur ke tanah.

BRUK!

“HAHAHA RASAKAN ITU MAKHLUK JELEK” umpat seseorang sedangkan temannya yang berada di belakang hanya ikut tertawa.

“Wajahmu jangan melas begitu.. kau kira aku akan kasihan dengan mu!!” serunya lagi.

“Diam kau Keito!” Yuto berdiri dan mensejajarkan wajahnya di hadapan Keito, “kalau kau iri dengan ku hanya karena aku populer mestinya kau perbaiki dirimu, jangan bully aku!!”

Keito menggeleng “No.. kau salah.. aku hanya ingin membuat wajah mulusmu itu tergores dan itu akan memberi kesan jelek pada dirimu hahahahha” Keito tertawa.

“Lagi pula… kau sombong ya, mentang kau tampan dan kaya sampai saat ini kamu pun tidak mempunyai teman.” sahut seseorang di belakang Keito “teman mu hanya si ‘Kutu Buku’ sok jagoan itu hahaha” lanjut Yamada.

“Sudahlah Yama-chan, siksa dia lagi sampai kau puas” Keito menyeringai.

“SIALAN KAU KEITO!!”

BUGH!

Satu pukulan di perut Yuto mampu membuat pria itu tumbang.

“Cih baru begitu saja kau sudah jatuh dasar lemah~” ejek lelaki yang di panggil Yama-chan itu. “aah~ tidak seru, aku bosan” Yamada merenggangkan otot tangannya.

Saat Yamada melihat Keito bermaksud untuk mengajaknya pergi dari tempat itu Yamada menyergit.

Keito sedang duduk terdiam melihat dadu berwarna biru yang bertaburan di mana-mana, “Sugoii” gumamnya, pria itu mengambil seluruh dadu itu, memasukan ke dalam tasnya, Keito menyisakan satu dadu lalu ia genggam.

Keito jongkok di hadapan Yuto yang masih menunduk menahan kesakitan di sekujur badannya akibat perbuatan dua orang itu, “Ini milikmu?” tanya Keito.

Yuto tidak bergeming.

“Jawab aku bodoh.” geram Keito, Yuto masih saja tidak menjawab.

Karena tidak ada sahutan Keito pun menjambak rambut Yuto sehingga kini wajah mereka hanya berjarak satu senti.

“Kau tuli, HAH?!”

“Itu milik adikku, jangan di ambil atau kau akan mati seperti adik ku” Yuto menatap mata Keito dalam, namun tatapan itu adalah tatapan mengancam, “dan aku benci benda itu.”

Keito berdecih lalu melepaskan tatapan mereka dan jambakan di rambut Yuto.

“Yamada, hajar dia lagi kalau perlu sampai dia tewas!” perintah Keito.

“Siap bos” tanpa menunggu aba-aba lagi Yamada langsung menyerang tubuh Yuto tanpa ampun.

“HEY BERHENTI!!” teriak seseorang, membuat Yamada dan Keito menoleh ke sumber suara yang sedang berlari kearah mereka.

Yamada menghempaskan tubuh Yuto ke sembarang arah, lagi-lagi wajah Yuto tersungkur ke tanah.

Yappari da na~” desis Keito.

“Yo! Kutu Buku mau sok jadi pahlawan lagi ya~” Keito tersenyum sinis.

“Aku tak tahu kau siapa dan berada di fakultas apa, tapi jangan siksa teman ku!!”

“Aku temannya, ralat. Aku musuhnya dari SMA dan aku dari Fakultas Ekonomi” jawab Keito sambil menunjuk ke arah Yuto “kau yang siapa? Selalu datang kalau kami sedang menyiksa dia tapi akhirnya kau juga yang kalah” Keito menatapnya remeh “lagi pula.. yang aku tahu kau itu hanya seorang ‘Kutu Buku’ hahaha” saat mengatakan ‘Kutu Buku’ Keito menyuarakan suara yang aneh untuk mengejek pemuda itu.

“Aku teman sekelasnya, Nakamaru Takeshi desu” jawaban simple, tapi mampu membuat Keito lagi-lagi tersenyum sinis.

“Hanya teman sekelas…” ia menggantung kata-katanya sambil berjalan mendekati Takeshi “lalu apa spesialnya di matamu?” ia memajukan wajahnya di hadapan Takeshi.

Takeshi menelan ludah, rasanya tenggorokannya sangat kering saat ini “karena.. dia sering membantuku untuk mengerjakan tugas”

Keito menoleh ke arah Yuto “kau dengar? Dia berteman dengan mu hanya ingin memanfaatkanmu” Keito mengintimidasi.

Namun Yuto hanya diam, menatap sejurus ke arah mata Keito, tatapan benci. Keadaan Yuto saat ini sangat mengenaskan; bibirnya berdarah, seluruh mukanya lebam karena pukulan Yamada yang sangat keras. Yuto ingin melawan saat itu, tapi tidak ada gunanya juga bagi Yuto.

“Lalu apa maumu?” tanya Yuto setelah beberapa detik keheningan itu terjadi.

“Mau ku? Menyayat wajahmu dengan ini” Keito mengeluarkan sebuah pisau kecil, membuat Yuto, Takeshi bahkan Yamada membelalakan matanya.

Tidak ingin hal lebih buruk terjadi, Takeshi memukul wajah Keito dengan keras sehingga pisau yang ada di tangan Keito terlepas dan terpental jauh dari jangkauan mereka “kau sudah gila?”

Omae…. MATI SAJA KAU KUTU BUKU!!” Keito mengarahkan bogemnya ke wajah Takeshi, namun dengan cekatan ia menghindari tinjuan Keito berlari kearah Yuto dan menarik tangan lelaki itu.

Berlari ke arah berlawanan.

“Hoi!! Kalian!!” Yamada berteriak, baru selangkah Yamada bergerak untuk menyusul mereka. Namun Keito menghalanginya.

Nande?” tanya Yamada, pandangannya masih ke arah Takeshi dan Yuto yang semakin lama semakin jauh.

“Biarkan saja, aku akan mengambil dadu unik ini. Ada apa sebenarnya dengan benda ini” Keito mengeluarkan satu dadu bercahaya biru itu dari genggamannya, lalu memandangnya dengan seksama.

“Waah minta satu ya?” Yamada tersenyum lebar.

“Tidak mau, tunggu kalau aku sudah tahu apa maksud dadu ini baru aku kasih, okey?” Yamada mengangguk semangat.

Keito merasakan ponselnya bergetar.

By: X

Selamat kamu sudah resmi menjadi Dicer. Perkenalkan aku adalah ‘X’ salam kenal, Okamoto-kunㄟ(≧◇≦)ㄏ

***

Takeshi membawa Yuto ke ruang kesehatan untuk mengobati luka-luka yang ada di wajah Yuto dan juga tubuh lelaki itu, tangan Takeshi sangat telaten mengobati luka-luka tersebut karena hal ini sangat sering terjadi kepada Yuto selama satu tahun, ia satu angkatan dan satu kelas bersama pria itu.

“Arigatou ne” kata Yuto setelah selesai lukanya diobati oleh Takeshi “aku selalu merepotkanmu”

Takeshi mengibaskan tangannya “iie iie… santai saja, lagi pula bukannya kita teman?” tanya Takeshi menatap mata Yuto, mencari sebuah jawaban mungkin di dalam mata hitam itu.

Yuto tersenyum lalu mengangguk “ya, kita teman” ucapnya “dan aku pastikan kata-kata Keito tadi salah”

“Jadi namanya Keito” Takeshi menggosok dagunya “iya.. memang itu sangat salah hahaha” Takeshi tertawa lalu Yuto juga ikut tertawa.

Takeshi tertegun saat tangan panjang milik Yuto mengelus kepalanya dan menariknya dalam pelukan hangat Yuto, Takeshi mendengar isakan dari temannya itu. Ya, Yuto menangis sambil memeluk Takeshi.

Arigatou ne.. hontou arigatou, kalau tidak ada kamu mungkin aku sudah mati di tempat” ucap Yuto di tengah isakannya.

Tangan Takeshi mengurai pelukan Yuto, mengangguk di dalam pelukan lelaki kurus itu “un, doita” balasnya.

Untungnya, di dalam ruang kesehatan hanya ada mereka berdua sehingga tidak ada yang melihat tingkah mereka.

Besoknya Yuto merasa sedikit aneh, tidak ada lagi gangguan dari Keito, meskipun ia sering bertemu dengan Yamada di kantin, namun Yamada tidak berani berkutik ketika tidak ada Keito-Keito adalah bosnya katakanlah begitu-.

Takeshi juga jarang menemuinya karena seperti biasa lelaki itu selalu datang ke perpustakaan ‘aku akan pintar seperti Yuto’ ucap Takeshi mengatakan alasannya selalu datang ke perpustakaan sehingga terciptalah panggilan ‘Kutu Buku’ untuk Takeshi

Hingga beberapa minggu kemudian Takeshi mengirimnya pesan malam-malam, mengatakan kalau ia bertemu dengan Keito di perpustakaan. Wajah lelaki itu sangat tampan hampir saja Takeshi terlena akan ketampanannya itu.

Namun mata sipit dari Keito yang tidak pernah Takeshi lupakan, dan logat bicara Keito yang masih terdengar susah menggunakan kalimat Jepang dengan benar.

Yuto jadi penasaran ingin melihat wujud Keito, namun Takeshi melarang karena ia takut hal buruk akan terjadi lagi kepada Yuto, lelaki itu pun menurut hingga hari berikutnya Yuto tidak sengaja melihat dari kelasnya yang berada dilantai paling atas, Takeshi dan Keito di depan perpustakaan.

Ia terbelalak melihat perubahan wujud Keito yang sangat drastis, memang benar kata Takeshi, Keito sangat tampan saat ini. Mata Yuto semakin membulat saat Keito mengeluarkan dadu merah ke hadapan Takeshi, ia tidak ingin Takeshi ikut dalam permainan konyol itu, kalau Keito ia tidak perduli.

Cepat-cepat Yuto membereskan barangnya untuk menyusul dua orang itu. Namun langkahnya tertahan karena Keito kini sudah ada di hadapannya dan wajahnya langsung di hujani tinjuan dari Keito.

DICE

“Yuto percayalah aku dapat Dice ini dari Keito… aku tidak tahu apa maksud benda ini jadi aku ambil saja” Takeshi memelas, sudah dua hari ini Yuto selalu menghindarinya dan tidak pernah menanggapi ucapan Takeshi, seberapa banyak pun Takeshi berceloteh.

“Aahh kenyang~” Yuto menghentakkan minuman botolnya ke meja sambil mengelus perut, mengabaikan kata-kata Takeshi yang duduk di sampingnya. Membuat lelaki itu tersentak kaget.

“Yuto..” Takeshi merengek.

Yuto berdiri dari duduknya, lalu ia berjalan keluar dari kantin dengan Takeshi yang mengikutinya dari belakang.

Mereka melewati perpustakaan, menawarkan Yuto ke tempat favorite nya itu, mungkin bisa mengubah sikap Yuto yang dingin menjadi seperti biasa lagi dengannya.

“Kau mau mampir ke perpustakaan?” masih sama, Yuto sama sekali tidak menanggapi Takeshi, malah lelaki itu menyapa para perempuan yang memang sering menggoda Yuto.

Padahal setahu Takeshi selama ini Yuto sangat cuek dengan perempuan manapun.

‘Aku tidak mau di sentuh Dicer bodoh seperti mu’

Kata-kata terakhir Yuto saat itu masih terngiang di otak Takeshi seperti rekaman yang berulang kali di putar.

Akhirnya kaki Takeshi melangkah ke dalam perpustakaan, setidaknya tempat itulah yang bisa membuatnya jadi tenang saat ini.

Aku ambil dadu ini dari seseorang yang benci Dice, dia sudah tahu Dice ini karena ada saudaranya yang mati karena benda ini

Dan Takeshi baru sadar kalau yang di maksud Keito ‘saudaranya’ adalah adik kandung dari Yuto.

Takeshi tidak melakukan apapun di dalam perpustakaan, hanya diam menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangannya, Takeshi merasakan beberapa kali handphone nya bergetar ia tahu itu dari X tapi untuk saat ini Takeshi tidak ingin diganggu siapapun.

Termasuk X, dialah yang membuat bencana ini; membunuh Keito dan membuat Yuto menjauhinya.

“Kau lihat tidak? Banyak dadu di kantong siswa yang mati itu” bisik seseorang, tanpa sengaja Takeshi mendengarnya dalam diam.

“Aku ambil satu, dan itu sangat bermanfaat. Lihat sekarang aku jadi tampan dan keren kan?” sahut seseorang lagi, mungkin teman lawan bicaranya “dan lebih kuat.”

“Kayak aku ngga aja, aku juga dong tapi jangan berlebihan. Itu bisa berakibat buruk untukmu.”

“Iya.. iya aku mengerti”

Takeshi menegakkan kepalanya ia teringat sesuatu. X pernah bilang jangan berlebihan karena itu akan berakibat buruk. Apakah Raiya adiknya Yuto terlalu berlebihan menggunakan Dice sehingga ia tewas mengenaskan?

Sedang asik berkutat dalam pikirannya, handphone Takeshi kembali bergetar dan membuyarkan kepingan-kepingan ingatannya itu.

Dengan malas Takeshi membuka handphonenya, dan benar dugaan Takeshi itu adalah pesan dari X.

By: X

Hey, kau sombong ya, dua hari ini aku di abaikan = ̄ω ̄=

 

Takeshi memutar kedua bola matanya.

By: X

Akhirnya kau buka handphone juga ⊙▽⊙ aku khawatir~ hey kemarin itu seru sekali aku suka (╯▽╰) dan banyak yang jadi Dicer hihihi aku sangat senang.

“Aku ingin berhenti jadi Dicer”

By: X

He?! Kau serius? (o) Kau pikir kamu bisa melepaskan Dicer? hahaha

 

Takeshi mengerutkan keningnya bingung.

“Karena kamu, aku jadi pembunuh dan orang yang dekat dengan ku jadi menjauh”

By: X

Aku tidak perduli, ini adalah game tapi tidak menentukan siapa yang kalah atau menang di game ini, hanya memerlukan nafsu yang stabil. Dan bagaimana cara penggunaan Dice pada masing-masing Dicer, jika mereka menggunakannya dengan baik, maka dampak kebaikan juga untuknya begitu sebaliknya. Dan satu lagi, kau tidak bisa menghentikan permainan ini. Jika suatu saat kau mati Dice akan berwarna biru lagi agar bisa menciptakan Dicer baru.

Takeshi memgenggam handphone kesal “kuso..” gumam Takeshi.

“Takeshi-kun” Takeshi menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, seorang wanita imut berambut sebahu. Gadis itu mengulas senyum di hadapannya tapi tidak tahu kenapa Takeshi tidak tertarik dengan senyum itu.

“Ada apa?” tanya Takeshi dingin.

“Kita satu kelas kan? Pulang bareng bisa?”

Gomenna…” Takeshi beranjak dari kursinya “aku ada urusan” tentu saja ia bohong Takeshi hanya tidak ingin berkutat dengan seorang wanita. Bisa membuatnya pusing melebihi rumus Kimia yang ia pelajari waktu SMA.

Baru saja Takeshi membuka pintu untuk keluar dari perpustakaan, ia tertegun saat melihat Yuto yang berada di samping pintu, melihatnya sebentar lalu berdecih meninggalkan Takeshi yang masih diam tidak berkutik.

Ingin rasanya Takeshi memanggil Yuto atau menyusul pria itu, tapi lidah Takeshi tiba-tiba kaku begitu juga kakinya. Seketika otaknya tidak befungsi dengan normal.

Lelaki itu tersadar kembali saat perempuan tadi yang menyapanya kembali menemui Takeshi, padahal Takeshi tidak kenal gadis itu. Tanpa memperdulikan si gadis Takeshi langsung melangkah lebih cepat menuju kelasnya.

Baka.. baka..bakaaa” umpat Takeshi dalam hati. Ia menyesal telah mengubah tampilannya menggunakan Dice agar terlihat lebih tampan dan keren, kalau tahu begini jadinya Takeshi lebih baik memilih penampilannya yang dulu.

Sudah satu jam lebih Takeshi berada di kelasnya, berkutat dengan pelajaran yang selama ini ia sudah pelajari sendiri di perpustakaan.

Saat jam pelajaran selesai Takeshi merenggangkan badannya, lalu melihat ke arah bangku Yuto lelaki itu sedang membereskan barangnya. Lalu beranjak pergi, melewati bangku Takeshi tanpa menyapa bahkan melihat pun tidak.

“Sayang sekali.. Yuto sekarang milik kami…” seorang perempuan di kelasnya menghampiri Takeshi yang masih diam di tempat duduknya. Rena nama perempuan itu saat Takeshi melihat papan nama yang terpasang di tas sang gadis “kau mau apa? Mendekatinya?” Rena mendekatkan wajahnya ke arah Takeshi “jangan kau kira Yuto-kun kami tidak normal!” bentaknya.

“Sudah cukup, aku tidak berurusan denganmu!” Takeshi beranjak dari duduknya, mengambil tas lalu pergi meninggalkan kelas.

Beruntung itu adalah kelas terakhirnya di hari ini.

Pria itu menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan yang sekali lagi membuat hatinya tersayat, Takeshi melihat Yuto sedang digandeng oleh perempuan lain, bahkan mereka saling tertawa bersama. Entah kenapa perasaannya sangat berkecamuk saat ini.

“Kutu Buku” panggil seseorang yang terdengar sangat familiar di telinga Takeshi, saat Takeshi menoleh ternyata itu adalah Yamada.

Pria itu menyender pada tembok sambil melipat kedua tangannya di depan dada “berani sekali kamu bunuh temanku” ucapnya dingin “tapi tidak apa, setidaknya aku bisa terbebas dari segala suruhannya” Yamada berjalan mendekati Takeshi lalu menepuk bahu pria itu.

“Aku sudah dijanjikan Keito untuk diberikan Dice itu kepadaku, tapi sampai sekarang tidak ada” Yamada memgeluarkan Dice merahnya “setelah dia mati. Aku ambil beberapa Dice yang dia miliki” pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Takeshi perlahan lalu berbisik “arigatou Takeshi-kun” Yamada mengerlingkan matanya dihadapan Takeshi, dan tersenyum sambil melangkah pergi.

Sedangkan Takeshi? Ia hanya diam terpaku bagaikan patung.

Oh Tuhan, kenapa otak Takeshi selalu tidak bereaksi saat di hadapan pria tampan?

Takesih merasakan getaran di handphonenya, so pasti itu adalah si X.

By: X

Quest: Jadikan orang tadi temanmu

Dice yang di dapat: 2

***

Beberapa hari ini, Takeshi berhasil menjadi teman Yamada, sesuai dengan quest yang di beri oleh X. Ternyata Yamada tidak seburuk yang ia kira.

Kelihatannya saja tatapan pria itu dingin, tapi sebenarnya Yamada adalah orang yang baik. Yamada dekat dengan Keito karena pria itu adalah tetangganya dan selalu mengajari Yamada bahasa Inggris setelah tamat SMP pria itu baru pulang dari London ke Jepang.

Keito selalu menyuruhnya ini itu, jika Yamada menolak maka Keito akan mengancam tidak mau mengajari Yamada bahasa Inggris lagi, padahal dia ingin diam-diam belajar bahasa Inggris agar suatu saat nanti bisa mengajak orang tuanya ke luar negeri juga dan ia bisa berkomunikasi dengan lancar di sana.

Oke, hayalannya terlalu tinggi. Yamada hanya ingin saja belajar bahasa Inggris tanpa biaya apapun, dan itulah resikonya; menjadi boneka Keito.

Yamada juga tidak berniat untuk menyakiti Yuto, kalau pria itu populer di kampusnya, itu tidak masalah bagi Yamada, ia menyiksa Yuto karena perintah dari Keito saja.

“Jadi, Yuto menjauhimu karena ia lihat cahaya Dice saat kamu telah mendorong Keito dari jendela hingga jatuh kebawah?” Takeshi mengangguk. Ia keluarkan seluruh keluh kesahnya ke Yamada.

“Ini susah.. karena kalau orang sudah sangat benci, ia tidak akan luluh hatinya meski dengan cara apapun” Takeshi menunduk dalam “Hoy Takeshi! Kau jangan lemah dong…” Yamada mengguncang pundak Takeshi “lihat tuh Yuto di depanmu” Takeshi sontak menegakkan kepalanya, tapi nihil Yuto tidak ada di depannya.

Pria itu memasang wajah cemberut ke hadapan Yamada, membuat Yamada geli dan akhirnya tertawa.

“Cih menyebalkan” Takeshi bergumam.

Takeshi dan Yamada kaget ketika mendengar atau merasakan Handphone mereka bunyi dan bergetar. Bukan hanya mereka bahkan hampir seluruh yang berada di kantin.

Takeshi mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kantin, tidak ada Yuto di sini ia malah menemukan sosok Rena, teman sekelasnya, perempuan itu juga sedang memeriksa handphone nya.

By: X

Quest: Bawa orang yang ada di foto ke atas atap gedung, pastikan kalian mengambil fotonya sambil telanjang bulat. Waktu yang di beri mulai besok pagi pukul 6:30 waktu Jepang sampai matahari tenggelam

Dice yang di dapat: 22

-Image-

Yamada dan Takeshi yang sedang menyantap makanan masing-masing sambil membaca pesan di ponselnya tiba-tiba tersedak karena melihat foto orang yang di maksud adalah Yuto.

Mereka berdua saling bertatap muka “Dameeee!!

DICE

To Be Continue…

Advertisements

2 thoughts on “[Minichapter] DICE (chap 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s