[Oneshot] Milk

Title: Milk

Type: OneShot

Genre: Romance, Family

Author: Nadia Sholahiyah Utami

Fandom: HSJ

Starring: Chinen Yuri, Inoo Raura, Yabu Kota

Raura mengayuh sepeda nya dengan santai, berhenti dirumah seseorang lalu menaruh sebotol susu ke dalam kotak susu di tempat yg tersedia di depan rumah itu, mengambil botol kosong lalu menaruhnya didalam tas yang ada di depan sepedanya, lalu ia mengayuh sepedanya lagi menuju ke rumah lain, melakukan hal yang sama.

Hingga pukul 7.00 pagi, ia sampai di rumahnya karna sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Yabu Kouta, yang melihat Raura tertidur di sofa hanya bisa tersenyum lembut, senang adiknya itu sangat semangat untuk mencari uang.

Sebenarnya Yabu bukanlah kakak kandung dari Raura, ia hanyalah seseorang yang sudah Raura anggap sebagai ‘kakak’ karna dulunya mereka sama-sama tinggal di sebuah panti asuhan dan Yabu memang umurnya lebih tua dari Raura, mereka memutuskan keluar dari panti asuhan bersama karna merasa sudah ingin mencari uang sendiri dan merasa saling membutuhkan satu sama lain, meskipun mereka masih sering datang ke panti.

Yabu menghampiri Raura lalu duduk di samping kepala gadis itu, mengelusnya dengan sayang “hari ini mau ke panti? Kita sudah satu bulan loh tidak ke sana” Raura langsung duduk lalu menatap Yabu dengan tatapan cemas.

“Benarkah? aaahhh aku lupa karena pagi-pagi sudah mengantar susu lalu langsung pulang mengerjakan tugas” gadis itu menepuk keningnya berkali-kali karna kelupaannya itu. Raura memang sedang berkuliah satu tahun ini, dan  bulan-bulan ini dia memang sangat sibuk dengan tugas-tugasnya “hari ini, bisa?” Yabu mengangguk sambil tersenyum.

“Cepat bersiaplah”

“Yosh!!” Raura dengan cepat menuju kamarnya untuk mengganti baju.

***

Chinen melirik jam dindingnya lalu langsung menuju ke depan rumah untuk mengambil susu yang biasanya sudah datang di jam-jam seperti ini, saat ia sampai di depan lalu membuka kotak itu, senyum imut nya langsung merekah karena susu yang ia sukai ternyata ada. Langsung saja Chinen mengambil susu itu dan membawanya ke dalam, sudah satu bulan ini Chinen sangat suka dengan susu yang selalu ada di dalam kotak itu setiap hari, entah siapa yang mengantarkannya.

Chinen Yuri adalah seorang anak biasa yang baru pulang dari Prancis satu bulan yang lalu, ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sana. Dan karena sedang berlibur jadi Chinen memutuskan untuk pulang ke Jepang, namun ternyata Chinen sudah disiapkan Ibunya sebuah rumah di daerah yang cukup kecil, dan ia pun memutuskan untuk menempatinya. Kata ibunya itu rumah untuk Chinen dan pasangannya kelak.

Sang anak hanya bisa tersenyum simpul mendengarnya, padahal ia nanti bisa beli sendiri sebuah rumah, lagi pula pemuda pendek dan berwajah tampan err sedikit manis itu, belum mempunyai kekasih. Tapi apa boleh buat, ibunya memang sangat baik kepada anak semata wayangnya itu.

Ibu Chinen adalah pemilik panti asuhan yang sudah berdiri sejak ia belum lahir, ya. Ibunya hanya meneruskan panti itu dari kakek dan neneknya.

Selesai menikmati susu yang paling enak itu, menurutnya. Chinen bergegas mandi lalu bersiap karna baru mendapatkan sebuah pesan dari ibu agar datang ke panti, katanya wanita tua itu merindukan sang buah hati.

Ia berdiri di depan kaca yang panjang sesuai dengan tinggi badannya, menambahkan jel di rambutnya lalu membenarkan bajunya, tidak lupa ia menyemprotkan minyak wangi ke sekitar tubuhnya.

“I’m Coming mom!” sedikit berkedip didepan kaca lalu ia berangkat menuju panti.

***

Raura sedikit kewalahan saat membawa botol-botol susu, dua tangannya sudah penuh dengan plastik yang berisi botol susu tersebut, begitu juga Yabu.

Kebiasaan dua orang itu ketika ke panti asuhan adalah, membawa susu-susu yang selama ini mereka antar ke rumah-rumah. Mereka membawa susu itu untuk anak-anak yang masih berada di panti tersebut, dan untuk ibu panti yang sudah mereka anggap sebagai ibu sendiri.

“Ibuuuuu” Raura langsung berlari ke arah ibu panti, saat bertemu di depan rumah. Sangking senangnya ia sampai lupa kalau sedang membawa susu yang banyak hingga akhirnya ia hampir saja terjatuh, untung ada seorang pemuda yang menolongnya.

“Kalau jalan hati-hati dong” marah pemuda itu kepada Raura lalu mengambil alih kantong-kantong susu itu dari tangan Raura, “ini berat kau lari-lari.. kalau pecah, lalu berantakan bagaimana?”

“Emangnya kau siapa? Beraninya memarahi ku, ini untuk anak panti dan ibu panti tahu” jawab Raura tidak suka, lalu ia mengambil dua kantong itu lagi, berjalan menuju ibu itu, menaruhnya di samping ibu itu lalu memeluk wanita tua tersebut “Ibu.. aku kangen”

“Hahaha iya ibu juga, kemana saja sudah lama tidak kesini?” tanya sang ibu dengan lembut.

Raura melepaskan pelukannya lalu menunduk “aku.. sibuk dengan tugas ku bu..” wajah Raura kelihatan sangat menyesal.

“Tidak apa-apa… ibu mengerti” tangan keriput itu mengelus lembut kepala Raura, tidak lama kemudian pemuda yang menolong Raura tadi dan Yabu datang berbarengan, entah kenapa mereka juga tidak tahu tiba-tiba bisa jadi kompak.

“Ibu.. lama tidak jumpa” Yabu memeluk ibu itu sekilas lalu melepasnya “kalau aku sedang sibuk menulis novel bu” Yabu sudah tahu, ia pasti akan di tanya juga kenapa lama tidak mengunjungi panti asuhan.

“Wah.. anak asuh ibu sudah hebat-hebat ya” dia tersenyum senang karna anak didiknya sudah ada yang berhasil, walau Raura masih kuliah tapi itu kemajaun yang sangat bagus.

Sembari ketiga orang itu ngobrol, pemuda itu dengan iseng melihat isi yang ada di dalam kantong plastik itu, betapa terkejutnya ia saat tahu di dalamnya adalah botol susu yang selama satu bulan ini ia konsumsi.

“Ibu… ini susu siapa?” tanya nya, ia mengambil sebotol susu namun Raura dengan cepat merebut dan memasukannya lagi ke dalam kantong plastik.

“Sudah aku bilang, ini untuk anak panti dan ibu..” Raura menatap pemuda itu tidak suka.

“Hahaha.. Raura-chan.. tidak apa kan kasih satu untuk anak ibu?” mata Raura langsung membesar.

“Anak ibu?” tanya Raura tidak percaya, merasa tidak enak karena ia sudah kasar dengan pemuda itu, ibu mengangguk sambil tersenyum.

Pemuda itu merasa bahwa dirinya harus berkenalan dengan Raura, ia pun mengulurkan tangannya ke hadapan Raura “Chinen Yuri desu”

Raura memyambut tangan Chinen “I-Inoo Raura desu” ucapnya, entah karna apa lengkungan di bibir Raura terbentuk senyuman.

Dan tanpa mereka sadari, Yabu sedang menahan emosinya dengan mengenggam tangannya erat. Ya, Yabu telah menyukai Raura sejak dulu, namun ia belum berani bahkan tidak berani untuk menyatakan perasaannya. Takut kalau hubungan ‘kakak-adik’ mereka hancur begitu saja, namun cemburu? Pasti itu yang Yabu rasakan saat melihat Raura tersenyum dengan lelaki lain selain dirinya.

Setelah itu Yabu dan Chinen saling berpandangan, mereka sudah saling kenal ketika Yabu masih tinggal di panti asuhan, keduanya waktu dulu sangat akrab, karena tidak ingin di ketahui emosinya yang sedang memuncak Yabu masih mencoba untuk menatap Chinen.

“Apa kabar?” tanya Yabu saat menjabat tangan Chinen dengan akrab.

“Baik hahha…. sudah lama tidak bertemu”

“Kalian akrab?” Raura menatap keduanya penuh tanya, Chinen dan Yabu mengangguk kompak.

“Sebelum kamu ada disini, si kecil ini sudah pindah ke rumah pamannya hahahah…” Yabu tertawa. Tak lama kemudian anak-anak panti asuhan yang baru saja pulang sekolah meneriakkan nama Raura dan Yabu dengan senang. Dan akhirnya mereka pun bermain tanpa lupa Raura, Yabu, dan juga Chinen memberikan botol susu kepada anak-anak tersebut.

“Jadi….. Chinen pindah ke rumah pamannya saat umur 5 tahun, tepat satu bulan sebelum aku masuk ke sini?” tanya Raura dengan sang Ibu, ia biarkan Chinen dan Yabu yang bermain dengan anak-anak karena jawaban dari Yabu tadi belum puas baginya.

“Iya… dia pindah ke sana karna kasihan, ibu mengurus panti sehingga ia banyak di abaikan… kebetulan pamannya di kampung sana sendirian jadi ibu titip Chinen dengan pamannya” Raura mengangguk tanda ia mengerti.

“Kamu ada disini sama persis seperti kedatangan Yabu ke sini” kata ibu melanjutkan, Raura menyerngit kali ini ia tak mengerti.

“Maksud Ibu?”

“Saat ibu sedang membuka pintu depan untuk menyapu halaman, ada keranjang bayi yaitu isinya adalah dirimu, lengkap dengan identitas dan nama orang tua mu, kalau Yabu alasannya karna sang suami tidak ingin memiliki anak laki-laki, kalau kamu alasannya karna kedua orang tua mu sudah meninggal saat kecelakaan di jalan, saat itu ibu tidak tahu siapa yang mengirimu ke sini” ketika mendengar kata ‘meninggal’ Raura tiba-tiba saja meneteskan air matanya.

Orang tuanya sudah meninggal sedangkan ia selamat dalam kecelakaan itu “souka..” jawab Raura sambil menangis, sang ibu mendekati Raura lalu memeluk gadis itu, menenangkan anak angkatnya.

***

“Raura-chan? Hari ini sudah buat susunya?” tanya Yabu ketika membuka pintu kamar Raura, namun adiknya itu masih terjaga dalam tidurnya, Yabu heran biasanya Raura sudah bangun dan buat susu di pagi buta.

“Raura-chan.. daijoubu?” Yabu mendekati adiknya lalu membuka selimut Raura yang terbungkus hingga ke kepala itu, Yabu terkesiap saat melihat Raura sedang menangis hingga matanya bengkak dan merah.

“Ni–niichan.. hiks” tangis Raura saat melihat Yabu, dengan cepat Yabu langsung memeluk adiknya untuk menenangkan Raura.

“Jadi… orang tua mu meninggal saat kamu masih bayi?” Raura mengangguk “niichan mengerti perasaan mu” Yabu membawa botol terakhir yang sudah Raura buat, lalu menaruhnya di tas dan membawanya ke keranjang depan sepeda.

“Biar niichan yang antar susunya ya?”

“Heee tidak usaahh.. nanti merepotkan”

“Mata mu sembab, mana mungkin bisa kamu membawa sepeda dengan benar kalau masih menangis, biar niichan saja” tolak Yabu lalu ia langsung membawa sepedanya.

Raura mengangguk “Terima kasih, hati-hati ya..”

***

Chinen sudah menunggu susunya sejak tadi, ia bahkan sampai memakai jam tangan agar bisa melihat berapa jam atau menit telatnya susu kesukaannya itu di antar.

Ternyata penantiannya tidak sia-sia, dari kejauhan Chinen dapat melihat seorang laki-laki sedang membawa sepeda yang di keranjang depannya terdapat tas untuk membawa susu.

Kring kring

“Maaf telat” Yabu memberi sebotol susu yang isi nya penuh, dan Chinen memberi sebotol susu yang isinya telah tandas karena ia minum kemarin.

“Tumben telat? biasanya tidak pernah” Chinen baru tahu kalau selama ini yang mengantarkan susu adalah Yabu.

“Hahaha.. Raura sedang sedih karena tahu orang tua nya meninggal” Yabu naik ke sepedanya “hari ini ke panti lagi? Aku dan Raura mau ke sana rencananya”

Chinen yang sedang sibuk memandangi botol susu di tangannya tersentak karena pertanyaan Yabu, entah kenapa mendengar nama Raura membuat pipinya memanas “hmm aku pikirkan ya.. lihat saja nanti”

“Baiklah, aku pergi sampai ketemu di panti” Yabu mengayuh sepedanya meninggalkan Chinen yang masih menatap Yabu dan botol susu yang ada di tangannya bergantian.

“Raura.. yang buat ini?” gumamnya “memang apa urusannya dengan ku?” Chinen menggelengkan kepalanya cepat, tidak mungkin ia menyukai seseorang yang baru saja ia kenal kemarin.

Entah karena bisikan apa akhirnya Chinen datang ke panti asuhan, dengan alibi menemui ibu mungkin bisa menjadi alasan yang bagus jika di tanya orang-orang nanti.

Ternyata, saat Chinen baru masuk ke dalam ruang tamu rumah panti itu, di dalam sudah ada Raura dan Yabu yang sedang mengajak anak-anak untuk bermain. Salah satu anak melihat ke arah Chinen, dan langsung mamasang senyum senang sambil melambai ke arahnya, sangat semangat.

“Ada Chinen-kuuuunn” teriak anak itu, lalu berlari kearah Chinen dan memeluknya tepat di perut Chinen, diikuti dengan anak-anak lain meninggalkan Yabu dan Raura.

Tentu saja anak-anak itu sudah tahu dengan Chinen karena mereka kemarin bermain hingga sore hari.

“Chinen-kun, ayo ikut main dengan kami, ada Raura neechan dan Yabu niichan” ucap seorang anak lain ia meraih tangan Chinen lalu menarik tangan pemuda itu agar mendekat dengan Raura dan Yabu.

“Chii ayo kita nyanyi lagi” sahut Yabu saat Chinen sudah ada di sampingnya, ide bagus. Pikirnya.

Kemarin mereka memang nyanyi bersama dengan posisi Yabu sebagai gitaris dan Chinen sebagai vokalis -Raura sedang ngobrol dengan ibu panti- kebetulan dari dulu mereka memang sering nyanyi bersama.

Seketika, Raura berfikir hari itu adalah hari terindahnya ;mendapatkan teman baru yaitu Chinen-karena kemarin ia masih belum akrab dengan Chinen-, mendengar suara Chinen yang merdu, menatap senyum Chinen yang menurutnya sangat manis untuk seorang pria di umur seperti itu, dan… tunggu dulu kenapa otak Raura sekarang di penuhi tentang Chinen?

Entahlah, sepertinya ia sedikit tertarik dengan pria bergigi kelinci itu.

“Jadi rumah mu disini?” tanya Raura kepada si pemilik rumah, siapa lagi kalau bukan Chinen?

Sore itu, mereka berencana untuk pulang bersama meski menggunakan sepeda masing-masing. Raura di bonceng Yabu dan Chinen membawa sepeda sendiri.

Chinen mengangguk “iyaps, memang kenapa?

“Aku sangat senang saat mengantar susu ke rumah ini, selalu botolnya kosong saat aku mengantarkan susu yang baru, aku pikir dia sangat hebat. Karena biasanya dirumah lain pasti ada sisa susu walau sedikit, kadang masih penuh” jelas Raura bersemangat “dan ternyata itu kamu hahaha” lanjutnya.

“Bodoh sekali yang tidak meminum susu ini sampai habis, atau yang sama sekali tidak meminumnya, susu buatan mu sangat enak asal mereka tahu”

Wajah Raura memanas, ia yakin kalau pipinya saat ini merah, untungnya hari sudah cukup gelap. Di puji seperti itu ia merasa sangat malu.

“Ah bisa saja..”

“Aku serius tahu” tegas Chinen “ngomong-ngomong kemarin kenapa Yabu yang mengantar susu?” tanya Chinen, ia baru sadar kalau bukan Yabu yang mengantar susu tapi Raura.

“Hmmm kemarin aku nangis semalaman, jadi Yabu-nii yang menggantikan ku”

Chinen mengangguk mengerti “souka..”

“Ayo pulang” suara Yabu membuat Raura sadar kalau kakak nya pasti sudah jengah mendengar mereka hanya ngobrol berdua.

“I-iya… aku pulang ya” Raura naik ke sepeda di belakang Yabu, lalu melambai ke arah Chinen.

Chinen juga balas lambaian dari Raura. Raura tak tahu kenapa dadanya sangat berisik saat ini, hanya dengan melihat senyum lelaki itu?

Sadar Raura, dia pria yang baru saja kau kenal. Rutuknya dalam hati.

***

Keesokan harinya, Raura kembali mengantarkan susu kerumah-rumah menggunakan sepeda, namun ada yang berbeda. Kali ini Chinen telah menunggu nya di depan rumah.

Ia tersenyum saat melihat Raura sampai lalu turun dari sepeda untuk mengambil botol susu yang sudah habis, seperti biasa. Lalu menggantinya dengan botol susu yang penuh.

“Ohayou” sapa Chinen, senyum itu kembali di pasangnya di hadapan Raura.

“Ohayou” balas Raura, tak lupa juga membalas senyum dari Chinen.

“Hari ini mau ke panti lagi?” Raura menggeleng “loh kenapa?”

“Tugas ku menumpuk, aku harus kerjakan semua…. aahh teman-temanku payah tidak ingin membantu ku walau sedikit” rutuk Raura.

“Memang tugas apa?” Raura menyebutkan semua tugas-tugas yang menurut nya membuat kepala pusing tujuh keliling.

Mengambil jurusan designer ternyata tidak semudah yang ia kira.

“Kalau begitu, nanti siang kau kesini saja siapa tahu bisa aku bantu” sekali lagi, senyum itu membuat jantung Raura hampir loncat.

“Yang benar?” mata Raura membulat.

“Sejak kapan aku main-main?” tanya Chinen balik.

Mendengar itu, hati Raura saat ini sedang bersorak gembira, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan ke sana kemari. Tentu saja ia tak bisa menolak.

“Baiklah, nanti siang ya”

“Oke, aku tunggu” senyum itu masih saja Chinen pasang, andai Raura bisa mencubit pipinya pasti akan ia lakukan.

***

“Apa? Kerumah Chinen? Bukannya hari ini kamu mau buat tugas dan tidak bisa datang ke panti karna itu? Lalu kenapa kamu ke rumah laki-laki itu?” pertanyaan bertubi-tubi di lontarkan oleh Yabu saat Raura bilang akan ke rumah Chinen siang nanti. Padahal Raura belum menjelaskan alasannya.

“Iih niichan makanya kalau aku sedang bicara itu jangan di potong. Chinen mau membantuku buat tugas… kalau aku sendirian yang mengerjakan ini bisa mati duduk aku” jelas Raura dengan nada kesalnya.

“Kenapa si memangnya? Bukannya Chinen itu teman niichan? Kenapa sepertinya niichan tidak suka dengan dia?” Raura menatap Yabu yang sedang berkacak pinggang di hadapannya, namun seketika Yabu merubah raut wajahnya.

Membuat wajah bingung, tak mungkin ia bilang ‘karna aku cemburu’ di hadapan Raura, ia tak siap untuk di tolak Raura, kalaupun Raura menerimanya itu rasanya sangat mustahil.

“Niichan.. hmm” Yabu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Sudahlah Chinen itu orang baik, dan aku juga sudah besar jadi tidak apa kan?” lagi-lagi Raura menatapnya membuat Yabu jadi salah tingkah.

Tak ada pilihan lain, ia pun akhirnya mengizinkan adiknya ke rumah temannya sendiri yang entah sejak kapan ia anggap sebagai rival dalam hal cinta.

Raura senang dan banyak-banyak berterima kasih kepada Yabu, walaupun lelaki itu memasang senyum tapi itu adalah senyum palsu. Karna hati nya saat ini rasanya seperti sedang di koyak.

“Tsukaretaaaaa!!!” seru Raura sambil mengangkat tangannya ke udara dan merenggangkan badannya.

Akhirnya tugas Raura selesai juga karna di bantu oleh Chinen.

“Ore mo!” seru Chinen, mengikuti gerakan Raura.

“Gomen ya sudah merepotkan… tapi aku juga berterima kasih karna di bantu hehe” Raura tersenyum canggung.

“Aah tak masalah” Chinen menopang tangannya ke belakang untuk menahan badannya, lalu memandang langit-langit rumahnya “aku juga kebetulan mengambil jurusan designer… sebenarnya”

“Hountou?” Raura menatap kearah Chinen dengan kagum, karna hampir semua tugasnya Chinen yang mengerjakan “kau tidak bilang…”

“Hahahaha…. kamu tidak bertanya..”

“Habis.. aku kira kamu tidak kuliah karna santai sekali”

“Aku sedang libur” ia memandang Raura, lagi-lagi senyum itu Chinen keluarkan “kuliah ku di Prancis”

“Nani?!”

“Un!” Chinen mengangguk mantap “waktu libur ku dua bulan lagi… setelah itu aku kembali ke Prancis…”

“Souka” Raura menunduk, ia berpikir bagaimana caranya agar bisa membuat banyak kenangan dengan Chinen. Hah? Membuat kenangan? Memang dia siapanya Chinen. Raura gelengkan kepalanya cepat seperti orang kebingungan.

“Kenapa?” tanya Chinen melihat tingkah Raura.

“A-apa.. nanti kamu akan kembali ke sini?” oh God kenapa Raura tanya itu? Seperti orang bodoh, tentu saja setelah tamat Chinen akan kembali ke Jepang.

Ada keheningan sebentar di antara mereka.

“Tidak” seketika, jantung Raura rasanya akan berhenti detik itu juga “Aku akan menetap di sana untuk kerja” lanjut Chinen.

Sepertinya air mata Raura tidak dapat di bendung lagi.

“A-aku… aku pulang ya, sudah sore Yabu-nii pasti mencari ku” cepat-cepat Raura membereskan buku tugasnya lalu berdiri dan menunduk di hadapan Chinen “Arigatou sudah membantu”

“Oke, hati-hati ya” senyum Chinen kali ini malah membuat hati Raura tersayat.

***

Setelah Raura pikir-pikir kenapa ia harus menangisi Chinen? Lelaki itu bukan kekasihnya ataupun saudara hanya teman dekat. Tidak lebih.

Raura tegaskan skali lagi, tidak lebih dari sekedar teman.

“Jadi jelaskan. Kenapa kamu nangis kemarin? Apa yang Chinen lakukan pada mu?” pertanyaan bertubi-tubi itu kembali di lontarkan dari mulut Yabu kepada Raura yang sedang sibuk meletakkan susu-susu yang akan dia antar pagi ini.

“Tidak apa-apa niichan.. aku baik-baik saja… cuma sedikit curhat dengannya tentang kuliah dan… yah seperti itulah” Raura mengangkat bahunya acuh tak acuh.

“Serius? Kamu tidak bohong kan?” Raura menghela napasnya panjang.

Lalu ia mengeluarkan senyum manisnya sambil membentuk jarinya seperti huruf ‘V’ “duarius” canda Raura.

Yabu tertawa melihat tingkah Raura yang sangat lucu, mengacak rambut Raura gemas.

“Yasudah, hati-hati ya naik sepedanya”

“Siap boos!”

Seperti kemarin, Chinen lagi-lagi menunggu Raura di depan rumahnya, untuk menyambut susu buatan Raura.

Hati Raura tidak lagi sakit seperti kemarin saat mendengar Chinen akan menetap di Prancis. Ia sudah mantapkan hatinya menganggap Chinen hanya teman.

Seperti itulah, mengobrol sebentar membicarakan tugas lalu kembali membuat rencana untuk datang ke rumah Chinen lagi siang nanti.

Satu bulan sudah Raura melakukan itu, seperti sudah kebiasaan baginya.

Ralat, satu bulan tapi hampir dua bulan.

Beberapa hari lagi waktunya bagi Chinen untuk kembali ke Prancis melanjutkan kuliahnya, begitu juga Raura yang sebenarnya dari kemarin juga sedang libur kuliah namun di kasih tugas yang banyak oleh beberapa dosennya.

Saat ini, Raura di kamarnya sedang mundar mandir memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana caranya ia bisa merelakan Chinen pergi ke Prancis, setelah beberapa bulan setiap hari selalu kerumah Chinen, ia sadar kalau dirinya menyukai lelaki itu.

Yabu hari ini mempunyai rencana untuk mengajak Raura ke panti asuhan lagi. Sudah hampir dua bulan mereka tidak mengunjungi tempat itu.

Baru saja ia membuka pintu kamar Raura, Yabu sudah di herankan melihat adiknya yang mundar mandir seperti gosokan.

“Raura? Lagi ngapain?” Raura terkejut dan langsung menghentikan langkahnya, melihat ke arah Yabu.

“Hehe…” Raura tersenyum kecut “memikirkan tugas”

“Bukannya sudah selesai?” Yabu yakin ia tidak pikun dan itu juga alasannya untuk mengajak Raura ke panti.

“Hmm..” Raura kembali berfikir untuk mencari alasan.

“Hari ini ke panti ya.. jangan lupa” Oke! Panti! Raura ingat kalau Chinen juga bilang hari ini ia akan ke panti.

“Iya aku mandi dulu~”

Ketika Raura melewatinya, Yabu menahan tangan Raura tanpa melihat wajah Raura saat itu. Tidak mau menunjukan rasa malunya.

“Suki”

“Eeeh?” Raura menatap Yabu yang masih menghindari tatapannya.

“Daisuki, hontou ni daisuki!! Jauhi Chinen, karna aku sangat cemburu!!” kali ini Yabu menatap mata Raura, meyakinkan gadis itu, persetan Raura akan menolaknya yang penting ia sudah menyampaikan perasaannya.

“T-tapi…kita kakak ad…”

“Aku tidak perduli, karna kita bukan saudara kandung bukan?”

“Tapi aku…hmmph” Yabu membungkam bibir Raura dengan bibirnya, mencium lembut bibir gadis yang sudah ia cintai sejak sebelum tinggal berdua.

Tidak ada balasan dari Raura, alih-alih membalas gadis itu malah mengatup bibirnya kuat.

Yabu melepas ciuamannya, masih menatap mata Raura, kali ini dengan penyesalan.

“Kowaii” Raura menangis, ia tidak pernah di perlakukan kasar seperti ini oleh Yabu sebelumnya.

“Gomen…”

Raura menggeleng kuat “kamu bukan Yabu-nii… kamu penjahat!!” Raura melepaskan genggaman Yabu dari tangannya lalu berlari, Yabu tidak mengejar.

Ia tahu, secara tidak langsung perasaannya sudah di tolak “haha.. baka” tanpa sadar Yabu mengeluarkan air matanya. Air mata kesedihan.

Raura mengayuh sepedanya cepat, dipikirannya ingin ke panti tapi hatinya malah bertolak belakang, menuju rumah Chinen.

Tepat saat Raura hampir sampai ke rumah Chinen, sang pemilik rumah sudah keluar kini ia sedang mengunci pagar rumahnya.

Tanpa babibu lagi Raura turun dari sepedanya dan manaruh sepedanya entah dimana, berlari ke arah Chinen memeluk lelaki pendek itu, Chinen masih bingung karna gerakan Raura yang tiba-tiba.

“Yabu-nii kowaii… hiks.. aku takut” Raura mengencangkan pelukannya.

“Sebenarnya ada apa?” meski tak tahu apa-apa tapi Chinen membalas pelukan Raura, tidak tega juga ia melihat seorang gadis menangis di   hadapannya

“Lebih tepatnya, orang tua mu dan Yabu yang meninggal” lanjut ibu ketika Raura sudah meredakan tangisnya.

Lagi-lagi Raura mengernyit, banyak hal yang Raura sendiri tidak tahu tentang dirinya “artinya… Yabu-nii kakak kandung ku?” si ibu mengangguk “lalu kenapa marga kami beda?”

“Sudah ibu bilang kan? Yabu di kirim ke sini karna sang suami tidak ingin memilik anak laki-laki, jadi otomatis Yabu itu adalah marga dari ibunya, dan kamu memakai marga ayah mu”

Kali ini Raura mengerti, padahal dia sudah menaruh hati dengan Yabu yang ia anggap sebagai kakak-bukan kakak kandung- namun takdir berkata lain, mereka adalah saudara kandung. Satu darah, dan yang pasti hubungan mereka sangat ditentang.

Raura yang tadinya sudah berhenti menangis, malah kini semakin jadi tangisannya. Cinta pertama Raura harus berakhir di hari itu juga, walau Yabu tidak tahu itu.

“Aku boleh bawa pulang surat keliharan kami?”

“Tentu, itu adalah milik kalian” walau bukan sekarang Raura akan memberi tahu Yabu bahwa mereka saudara kandung, namun pada saat yang tepat nanti pasti akan Raura jelaskan dan memberi bukti dengan surat lahir mereka.

“Aku.. aku dulu suka dengannya tapi dia kan kakak kandung ku, mana mungkin bisa kami saling mencintai” Raura menjelaskan kepada Chinen di tengah tangisnya, Chinen membawa Raura ke danau yang ada di daerah rumah mereka. Arah menuju panti.

“Raura-chan” setelah selesai mendengar keluhan Raura, akhirnya Chinen bersuara “cinta itu tidak memandang status teman, sahabat, saudara kandung, atau saudara angkat bahkan teman yang baru saja kenal. Tapi ada satu hubungan yang memang sangat di larang yaitu hubungan satu darah atau saudara kandung. Jadi perasaan mu kepada Yabu tidak salah kok karna itu manusiawi”

Mereka saling berpandangan “bahkan saat aku baru mengenal mu dan tahu kalau susu kesukaan ku adalah buatan mu, sudah membuatku jatuh cinta pada mu” Raura menunduk malu, menyebunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah.

“Kamu berlebihan”

“Tidak kok…” Chinen mengangkat wajah Raura, lalu mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, menatap mata teduh Raura.

“Suki”

“Suki mo” tanpa penolakan Raura menyambut ciuman Chinen.

“Jadi kita pacaran?” Chinen bertanya sesaat sudah melepas ciumannya, memasang senyum jahilnya.

“A-apa-apaan sih” Raura mendorong Chinen pelan, ia yakin wajahnya kini semakin merah di bandingkan yang tadi.

“Aku mohon..terima aku..” Chinen meraih tangan Raura.

“Tapi.. kamu mau ke Prancis kan? Aku tidak mau pacaran jarak jauh” Raura memasang wajahnya cemberutnya, membuat Chinen gemas dan mencubit pipi gadis itu “Itte..”

“Aku sudah pindah kuliah disini” Chinen bersiul sambil memandang langit-langit, sedangkan Raura memandang Chinen kaget.

“Hontou?” Raura tak tahu bagaimana caranya Chinen pindah kuliah dari Prancis ke Jepang dalam waktu yang singkat, yang pasti ia sangat senang mendengar kabar itu.

“Un! Jadi, terima aku ya? Terima terima.. please….” Chinen kembali menganggam tangan Raura, kali ini ia mengenggam tangan gadis itu dengan kuat mengarahkan ke dadanya.

Dan karna Chinen memasang wajah mohon yang sangat konyol, Raura tidak bisa menahan tawanya, ia menggeleng “gomen..”

“Yaah” Chinen menunduk dan melepas tangan Raura.

Namun seperdetik kemudian Raura menarik tangan Chinen lagi “gomen aku tidak bisa tolak hahahaha”

“YATTAAAAAA” Chinen berdiri dari duduknya, meloncat kegirangan bagaikan mendapatkan harta karun yang selama ini yang ia cari.

Lalu memeluk tubuh Raura, membawa gadis itu ke dekapannya yang hangat bagi Raura.

“Arigatou” bisik Chinen tepat di telinga yang kini telah jsdi gadisnya, Raura mengangguk dan mempererat pelukan Chinen.

***

Setelah Raura pergi entah kemana Yabu tidak tahu, Yabu menelusuri kamar adiknya itu memang ia sering datang ke kamar ini tapi hanya sekilas tidak melihat keseluruhan isi kamar Raura.

Ada sebuah bingkai yang tergambar gaun hasil karya Raura, saat Yabu melihat di belakang bingkai ada tulisan ‘Gaun pernikahan ku bersama Yabu-nii kelak’ Yabu tercekat melihat itu, dan di mejanya ada buku harian milik Raura, karna penasaran Yabu pun membukanya dan membacanya satu persatu.

Awalnya Yabu tertawa sendiri karna di dalam situ Raura menceritakan tentang hidupnya dan Raura yang masih kecil, saling bercanda, bertengkar, membuat Yabu rindu akan hal-hal itu.

Namun pandangan mata Yabu terpaku pada beberapa halaman yang tertulis.

I Love You Yabu-nii

Aaahh aku tinggal bersama Yabu-nii hari ini? Aku maluuuu >////<

Kalau aku bilang suka sama Yabu-nii, dia percaya tidak ya?

Cinta pertama ku adalah. Yabu Kouta

Yabu menangis, ternyata dia yang bodoh tidak menyadari perasaan Raura terhadapnya.

Yabu kembali membalik lembaran kertas buku itu. Tulisan terakhir dari Raura.

Hari ini aku ke panti lagi, sudah satu bulan aku tidak mengunjugi panti. Aaahh aku kangen dengan anak-anak di sana dan ibu panti. Tapi aku baru tahu kalau Yabu-nii punya teman lama, ternyata itu adalah anak ibu panti!! Aku kaget dan rasanya tidak percaya. Tapi setelah di jelaskan aku baru percaya. Tidak hanya disitu yang aku rasa hari ini penuh kejutan. Ternyata ibu dan ayah ku meninggal…. dan… *sigh* Yabu-nii adalah kakak kandung ku. Aaaah cinta pertama ku harus kandas saat ini juga :'(( tapi aku bawa surat lahir kami, untuk bukti jika suatu saat aku ingin memberi tahu Yabu-nii. Kokoro ku sakit… huhuhu.. tapi aku sedikit tertarik dengan teman lama Yabu-nii yang namanya Chinen Yuri. Dia unik.

Sempat tidak percaya di benak Yabu kalau mereka adalah saudara kandung. Yabu pun morogoh seluruh isi lemari Raura, mencari map yang berisi akte lahir mereka.

Mata Yabu berhenti saat menemukan dua map yang isinya ia cari sedari tadi.

Seketika, pandangan Yabu semakin kabur karna air mata yang menggenang di pelupuk matanya, setelah di lihat berkali-kali nama orang tua Yabu dan Raura sama. Namun marga Yabu yang berbeda, ia berasumsi bahwa marga yang ia pakai adalah marga pemberian ibunya.

Yabu ingin sekali menemui Raura, ia pun akhirnya berlari dan memgambil sepeda miliknya yang selama ini memang hanya di simpan, untung masih layak di pakai.

Tempat pertama kali yang Yabu pikirkan, pasti Raura sedang ke rumah Chinen namun nihil berapa kalipun Yabu menekan bel rumah itu tidak ada yang menyahut.

Tempat kedua pasti ke panti asuhan, dalam perjalanan Yabu tidak sengaja mendengar jeritan hingga membuatnya berhenti karna penasaran.

“YATTAAAAAA” mata Yabu terbelalak saat melihat Chinen dan Raura berpelukan mesra.

Tapi ia mengurungkan niatnya untuk cemburu, Raura adalah adiknya. Yabu sadar itu.

Yabu pun menghampiri keduanya sambil memasang senyum, menyembunyikan map yang ia bawa dari tadi di belakang punggungnya.

Meski Raura masih memandangnya takut, tapi Yabu tak apa.

“Yabu.. teriakan ku pasti terdengar ya sampai kamu tahu keberadaan kami” Chinen terkekeh pelan.

“Iya, memangnya ada apa si? Senang sekali kayaknya”

“Aku dan Raura aaww!!” Chinen merasakan sakit karna tangannya di cubit oleh Raura.

“Jangan kasih tahu dulu..” Raura berbisik ke arah Chinen.

“Dia tadi senang karna.. karena.. karena…” Raura menggosok dagunya untuk berfikir “karena…” sialnya otak Raura beku saat itu dan sangat tidak berguna.

“Sudahlah, ini” Yabu meyodorkan dua map yang isinya sudah pasti Raura tahu.

“Kamu adik kandung ku kan?” pertanyaan Yabu sukses membuat Raura terkejut, ternyata Yabu sudah tahu lebih dulu sebelum ia yang menunjukan.

“Niichan…” Raura mendekati Yabu.

“Nani imoutochan?” dan saat Raura lebih dekat dengannya Yabu memeluk lembut adik kesayangannya itu.

“Aku sayang niichan”

“Ore mo” Yabu melepas pelukan mereka “maafkan niichan kejadian tadi ya” Raura mengangguk.

“Jadi, Chinen jerit-jerit tadi kenapa?”

“Aku dan Chinen jadian”

“Raura katanya jangan beritahu sekarang??”

“Benarkah? Kamu terima si pendek ini?” Yabu menunjuk Chinen sambil menahan tawa.

“Tadinya si aku tolak tapi dia memaksa~~ jadi aku terima saja” Raura berkedip ke arah Chinen lalu menjulurkan lidahnya.

“Itu bohong!!”

“Hahahahaha”

Dan permainan kejar-kejaran pun terjadi di antara mereka berdua, Yabu juga ikut terlibat sebagai perisai Raura.

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s