[Oneshot] Sacrifice of Love

Title: Sacrifice of Love
Type: OneShot
Genre: Romance, angst, hampir NC (maaf masih abal banget)
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Fandom: HSJ
Starring: Daiki Arioka, Kanagawa Miki, Chinen Yuri
Song: All of Me – John Legend

Daiki’s

“Hoi Daichaaannn kau tidak mau pulang?” teriak seseorang saat aku masih berdiri di panggung hall ini, di tempat pembuatan PV Aino Arika. Aku sedang melihat seorang gadis berambut panjang yang tergerai dengan indah, berkacamata namun kecantikannya tidak hilang, menurut ku.

“DAICHAAAN”

“Yooo…..” sahut ku tanpa menoleh ke pemilik suara, ck! Hikaru menganggu ku saja.

“Pulang tidak?” mungkin karna dia kesal kepada ku. Akhirnya Hikaru menghampiri ku dan menyenggol lengan ku, membuat aku mengalihkan pandangan ku ke Hikaru dari perempuan itu.

“Nanti, aku bawa mobil sendiri” mata ku kembali ke tempat orcestra yang masih banyak orang, yang terdapat perempuan berambut panjang tadi. Sang pemain biola.

Tidak lama kemudian, aku melihat perempuan itu dan, YAK! Dia mau bersiap pulang sepertinya. Aku harus menyusul. “Aku pulang, jya” sedikit menepuk pundak Hikaru, aku langsung berlari menghampiri perempuan itu. Mengabaikan protes dari Hikaru.

Aku masih mengejarnya sampai di lobby gedung ini, kelihatan seperti orang bodoh memang, tapi aku tidak perduli.

Sedikit lagi, sedikit lagi aku mendekat dengannya. Namun naasnya aku malah di tabrak seseorang hingga aku terjatuh. Aaahh sial sekali…

“Itte…” keluh ku sambil mengelus punggung ku yang sakit. Masih dalam posisi duduk. Aku lihat kearah orang yang menabrak ku. Dia malah kabur. Aaargghh siaaalll!!!

“Mau aku bantu?” eh? Suara itu, suara perempuan? Jangan-jangan…. berlahan aku melihat tangan yang mengulur di hadapanku lalu melihat ke arah wajahnya. Ternyata benar, perempuan itu. Dia ada di hadapan ku? Kami-sama… arigatou na.

“Tidak mau? ah yasudah” ia baru saja akan mengangkat tangannya, dengan cepat aku menarik tangannya, dan malah membuatnya terjatuh di hadapan ku. Bodoh.. Daiki.. ada apa dengan mu hah? Ini anak orang. Hey!

Tanpa sadar, aku dan ia bertatapan mata. Jantung ku rasa ingin meledak karna di posisi seperti ini. Untungnya yang aku tahu seluruh member JUMP dan para staff sudah pulang sedari tadi. Jadi yang pasti tidak ada yang akan melihat kan?

Selang beberapa detik kemudian, perempuan itu mengalihkan wajahnya dari tatapan ku. “Ah… gomen” ucap ku merasa bersalah.

Ia berdiri dan menunduk berkali-kali di hadapan ku yang masih di posisi duduk ini. “Gomen Arioka-san” lalu ia berusaha lari.

“Chotto!” aku berdiri dan aku lihat ia berhenti dari larinya. Kesempatan, aku berlari dan menghampirinya. Mengenggam tangannya. “kau tahu namaku?” tanya ku di sela nafas ku yang tersengal karna habis berlari, dan karna insiden barusan tentunya.

“I-Iya, kau Daiki Arioka kan? member JUMP? aku tadi memainkan biola bersama teman-teman ku di PV mu hehe” ia tersenyum. Setelah ku perhatikan, ternyata ia sangat cantik saat senyum.

“Siapa nama mu?”

“Kanagawa Miki desu”

“Ayo aku antar pulang” sebelum ia protes, aku sudah lebih dulu menarik tangannya untuk aku antar pulang. Hmm ini cara ku agar tahu rumahnya di mana.

“Arigatou Arioka-san…” ucap Miki saat telah sampai di rumahnya, dan ia telah melepas seftybelt nya bersiap untuk turun. Tapi sepertinya, ada yang tertinggal, Miki kembali melihat ku. “Ngomong-ngomong. Kenapa Arioka-san baik sekali kepada ku?” tanya Miki dengan polos. Pfft aku ingin tertawa rasanya. ‘Aku tidak ada alasan untuk baik dengan mu’, pikir ku.

“Nanti aku telpon” aku membentuk tangan ku seperti gagang telpon dan mengarahkannya ke dekat telinga ku sambil tersenyum.

“Ah, baiklah. Arigatou” ia turun dari mobil ku lalu melambai saat mobil ku mulai berjalan, senyum nya tak lepas sampai terakhir aku melihatnya dari kaca spion ku. Ia melihat ke arah mobil ku. Senyum itu, dan wajah itulah jawaban yang akan aku jawab dari pertanyaannya barusan.

Handphone ku bergetar saat baru saja aku masuk ke dalam rumah. Apakah itu Miki? Untung sekali aku cepat-cepat meminta nomor telpon dan alamat e-mail nya.

Sambil senyam senyum sendiri layaknya orang gila, aku membuka Handphone ku, namun senyum ku seketika hilang saat yang tertera dilayar pipih Hadphone ku bukanlah nama Miki, tapi Chinen.

By: Chinen Yuri
Dai-chan aku tadi lihat di parkiran kau bersama seorang perempuan, siapa itu? Beritahu aku…. tenang saja aku akan rahasiakan ini. Untungnya ya, hanya aku yang lihat, Ryosuke tidak hihihi…

Refleks aku menepuk dahi ku, sial. Ketahuan satu orang, oke… setidaknya mulut Chinen tidak bocor seperti Yabu atau member JUMP lainnya. Saat aku ingin membalas pesan Chinen. Tiba-tiba di layar Handphone ku tertera satu pesan dari Miki. Ha? Benarkah? Dengan jantung yang sepertinya sedang menari di dalam dadaku, aku membuka pesan itu.

By: Kanagawa Miki
Ano.. Arioka-san, katanya kau ingin menelpon ku? Kalau tidak bisa jangan di paksa, aku tidak apa-apa kok

“YUHUUU TERNYATA DIA MENUNGGU TELPON KUU HAHAHA”

“Eh berisik” tegur Daisuke yang sedang asik bertelpon ria di atas sofa, melihatku sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan kalau aku harus diam.

Ah iya aku baru sadar kalau aku masih berada di depan pintu masuk. Sambil senyum-senyum malu, aku berlari kecil ke arah kamar ku, lalu masuk ke dalam.

Karna keasikan mengobrol dengan Miki melalui telpon, aku sampai lupa kalau harus membalas pesan Chinen. Sedikit kecewa si sebenarnya saat aku tanya kepada Miki ichiban nya siapa dan jawaban dia adalah Chinen, tapi jangan panggil aku Daiki kalau perjuangan ku hanya sampai disini, aku akan membuat Miki pindah ichiban ke aku. Hahaha sedikit jahat si, tapi aku sudah terlanjur suka kepadanya.

Akankah ada cinta? Aku rasa, iya.

By: Chinen Yuri.
Jadi, dia ichibannya aku? hhaha yes! Aku senang karna dia cantik haha….

Melihat pesan Chinen barusan, membuat ku kesal dan akhirnya aku memutuskan untuk menelponnya. Ketika tersambung dan dia angkat. Tanpa babibu lagi aku langsung mengoceh. “Enak saja, aku yang menemukannya duluan, lihat saja nanti, dia akan jatuh cinta kepada ku” Daiki, kau bicara apa si?

“Apa? hahaha… okeoke… tapi… kalau tidak, serahkan dia kepada ku” diam, aku hanya bisa diam mendengarkan kata-kata Chinen itu. Aku merasakan sakit yang amat sangat saat mendengarkannya. “…becanda… kalau ada bantuan, kasih tau aku ya, aku siap menolong. Aku tutup ya ibu ku memanggil. Jya” belum sempat aku menjawab, telponnya sudah di putuskan, aku tak tahu sekarang, harus kesal atau berterima kasih kepada Chinen, karna ia mau membantu ku.

Daiki…. aku rasa kau semakin gila karna Miki. Pekik ku dalam hati.
Semakin hari, aku semakin dekat dengan Miki, terkadang aku datang ke tempat latihannya bermain biola, melihatnya bermain biola dan mendengarkan alunan-alunan nada yang ia gesekan dari senar biola itu, sangat indah. Aku merasa seperti melihat seorang malaikat di hadapan ku, malaikat tanpa sayap.
Kadang juga aku mengajak Chinen untuk menghibur Miki, karna gadis itu berkali – kali minta agar aku menemui nya dengan Chinen. Dengan berat hati, akhirnya aku mempertemukan Miki kepada Chinen.

Tapi ada yang aneh, setiap Miki dekat dengan ku atau Chinen, ia selalu saja meremas dadanya, seperti menahan sakit sambil tersenyum, senyum itu beda, itu bagaikan senyum untuk menahan sakit yang amat sangat.

Sumpah demi apapun aku sangat khawatir, tapi aku belum berani menanyakannya.

.

Tiga bulan berlalu semakin lama perasaan ku semakin menjadi dengan Miki. Perasaan cinta ini semakin tumbuh, meski Miki sering kali bertingkah aneh, jahil dan sebagainya, tapi kelakuan dan senyum nya itu yang membuatku tambah ingin memilikinya, ya sejauh ini aku belum berani menyatakan cinta ku dengannya.

Hari ini, setahu ku aku dan Miki tidak ada pekerjaan, kebetulan sekali. Aku akan menelponnya, lalu aku menjeputnya dari rumah dan aku ajak ke apartement ku. Hahhaa aku ingin sekali berduaan bersama Miki hari ini.

Aku tempelkan layar handphone yang sudah tersambung untuk menelpon Miki ke telinga ku. Selang beberapa detik kemudian, Miki mengangkat telpon ku.

“Moshi-moshi”

“Miki-chan?”

“Disini, ada apa?” suaranya sangat imut saat di telpon, aku suka.

“Hari ini kamu lagi tidak ada latihan atau acara lain kan?” untuk beberapa detik, aku tidak mendengar jawaban Miki, hanya ada keheningan di sana “Miki?”

“Tunggu dulu Dai-nyan, aku sedang berfikir” kuputar bola mata ku, anak ini memang selalu. Kalau di tanya jawabannya lama.

Panggilan ‘Dai-nyan’ karna ia menyamakan ku seperti kucing.

“Ah!” seru Miki tiba-tiba dan sukses membuat aku kaget “tidak ada… aku tidak ada job apapun hari ini, kamu… mau ajak aku kencan ya? hahaha” seketika aku menutup muka ku. Daiki bodoh kau sedang sendirian saat ini di dalam kamar.

“Aku ingin mengajak mu ke apartement ku”

“A-apar..tement?” jawabnya kedengaran sangat gugup.

“Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa kok, aku…. hanya ingin berdua dengan mu hari ini” kata ku sambil menerawang apa saja yang akan aku lakukan di sana. Tidak berbuat mesum, tapi mungkin masak atau bermain musik bersama itu sangat mengasikan. Bukan mungkin, tapi pasti.

“Hmm baiklah, janji ya? Kalau ngapa-ngapain aku pulang sendiri” ancam Miki dari sana.

“Baik Miki Mouse, 10 menit lagi aku sampai”

“Dai-nyan neko jangan panggil aku……” langsung aku matikan telpon nya, aku yakin saat ini ia pasti sedang mengomel sendirian hahaha.

Aku berhasil mengajaknya ke apartement ku. Wanita pertama yang masuk ke apartement ku. Hanya Miki, entah kenapa aku rasa tidak ada masalah kalau wanita berkacamata ini yang masuk ke tempat private ku.

Saat masuk, Miki langsung terperangah dengan suasana di dalam apartement ku. Mungkin karna dia tidak pernah masuk ke tempat laki-laki sebelumnya, aku tersenyum melihat ekspresinya itu, imut sekali.

“Dai-nyan” ia tersenyum ke arah ku “tempat mu nyaman sekali”

“Hahaha..aku jarang kesini sebenarnya, karna ini tempat ketika ingin sendiri saja” ia mengangguk-angguk mengerti “dan ketika ingin mencari inspirasi untuk lagu ku”

“Time?” Miki menyebutkan salah satu lagu Hey Say JUMP yang musiknya aku aransemen. Aku senang sekali dia tahu lagu apa yang di dalamnya ada campur tangan ku.

“Tepat sekali, aku bekerja sama dengan Takaki dan yang lain supaya lagunya jadi bagus”

“Keren kok, aku suka” Miki tersenyum manis. “diantara yang lain, aku paling suka lagu Time hehhe”

“Mau minum apa?” aku baru ingat, kalau Miki belum aku kasih apapun. Sebenarnya si aku sedikit salah tingkah karna di puji Miki.

“Apa saja yang ada disini?”

“Wine?”

Miki langsung saja melemparkan bantal yang ada di sofa kearah ku, untung aku cepat menangkap bantal itu “enak saja! aku tidak mau mabuk”

“Hahahah… yasudah aku beri coklat panas?”

Senyum lebar yang terlihat begitu menggemaskan di keluarkan oleh Miki “Aku mau!”

“Miki Mouse!” aku memanggilnya dari ruang musik setelah selesai menikmati coklat panas.

Miki mendekati ku, masuk ke dalam ruang musik, awalnya Miki ragu namun aku melambaikan tangan ku agar dia tidak malu-malu masuk ke dalam.

Kebetulan sekali aku baru beli biola. Tapi karna aku tidak mengerti cara memainkannya, biola itu hanya menjadi pajangan disini.

“Biola” mata Miki berbinar saat melihat alat musik bersenar mirip gitar itu. Di ambilnya dan nampaknya Miki akan mulai main, tapi dia terlihat ragu “ini biola baru?” what? Dia tahu?

Aku tersenyum malu “kenapa bisa tahu?”

“Aku kenal bagaimana yang baru dan yang lama. Tapi aku suka, pasti suaranya lebih bagus. Boleh aku main?” aku mengangguk, Miki mulai menggesek senar-senar biola itu menggunakan bow sambil memejamkan mata, di saat itulah otak ku merasa berhenti berfikir, aku sampai lupa apa yang ingin aku lakukan tadi.

Air on the G string – J.S Bach

Nada itu sangat indah, aku terlena mendengar alunan biola nya. Aku terhanyut. Dan tanpa sadar aku mendekati Miki, melihatnya dengan tatapan serius. Seolah ingin memiliki.

Setelah Miki selesai memainkan musiknya, aku menyeringai. Pikiran ku kacau, di otakku hanya ingin melakukan sesuatu yang lebih. Ingin memberi tanda bahwa dia milik ku.

Gadis itu membuka matanya, Miki terkejut saat aku sudah berada di dekatnya, wajah kami sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan nafasnya yang tidak beraturan, hey kenapa secepat itu? “D-dai-nyan… hmppph” aku mengunci bibirnya dengan bibir ku, melumatnya tanpa ampun.

Tidak ada balasan dari Miki, bahkan ia berontak dan memukul dada ku dengan kuat, aku tak perduli persetan dengan kesakitan ku. Aku mengunci kedua tangannya sehingga terdengar suara biola yang ia pegang tadi terjatuh ke lantai.

Ku sudutkan Miki ke tembok mendorongnya dengan kuat “ugh!” keluhnya saat aku sudutkan dia ke tembok.

Sampai sekarangpun aku tidak dapat balasan apa-apa dari Miki, karna kesal akhirnya aku menggigit bibirnya kuat “aargghh” bagus, dengan begini aku bisa leluasa memasukan lidah ke dalam rongga mulutnya, mengabsen seluruh isi-isinya. Sangat manis, semanis coklat yang baru saja kami nikmati tadi. Aku tak ingin melepaskan ciuman ini.

Hingga akhirnya napas ku benar-benar habis, aku melepaskan ciuman itu, menjauhkan bibir ku dengan bibir Miki berlahan saliva kami masih menyatuh dan akhirnya putus. Tidak hanya sampai situ, pelan-pelan tangan ku merayap masuk ke dalam bajunya, mengelus perut datarnya.

What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You’ve got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down
What’s going on in that beautiful mind
I’m on your magical mystery ride
And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright

 “Stoph… Dai-nyan stoph hh” aku tak peduli. Tangan ku marayap naik, dan meremas dadanya dengan kuat “aahhh” tangan satunya aku gunakan untuk mengelus bagian sensitif di bawahnya. Desahan Miki semakin membuat ku bernafsu “berhen- ouuh Dai-nyaaaannhhh” jerit Miki saat aku menghentakkan jariku ke bagian sensitif wanita, o’ow aku tidak sengaja memasukan tangan ku ke dalam hot pants Miki, gadis ini meremas pundakku dan mendorong ku tapi tenaga nya tidak kuat untuk melawan ku, lagi aku hentakkan jari ku lebih dalam, dan memainkannya di sana.
“Stoph.. akuh mohon aahh” ia kembali mendesah saat aku menambah jari ku disana.

Aku mendekatkan wajah ku ke telinganya, lalu menjilat telinga itu “Bilang saja kamu menyukainya” bisik ku sehalus mungkin.

My head’s under water
But I’m breathing fine
You’re crazy and I’m out of my mind

“ARIOKA DAIKI AKU BILANG STOP!” Miki menangis, kesadaran ku kembali dan cepat-cepat menjauhkan diri ku dari Miki.

PLAK!

Tamparan itu menambah kesadaran ku kembali seutuhnya.

Gadis itu terduduk di lantai sambil menangis, tubuhnya bergetar, Miki melihat ku dengan tatapan takut. Daiki bodoh kenapa kau lakukan itu?

Aku ikut duduk di hadapannya, dan mencoba meraih tangan Miki, namun Miki dengan cepat menepis tangan ku “jangan sentuh”

“Ma-maafkan aku”

“Aku harus pulang sekarang, terima kasih sudah membawa ku kesini, dan terima kasih sudah membuatku takut dengan mu” Miki keluar dari ruangan musik ku. Mengambil tasnya, baru saja aku ingin menyusul Miki tapi ia sudah keluar dari kamar apartement ku, membanting pintu dengan sangat keras.

Aku pantas di benci, aku pantas di marahinya. Aku ambruk, terduduk di lantai, tanpa sadar air mata ku mengalir deras “AAARRGGGHH”

Tunggu, tidak akan ku biarkan Miki pulang sendirian aku ingat kepada siapa aku harus meminta bantuan. Dengan cepat aku merogoh saku celana ku dan aku ambil handphone ku. Men-dial nama seseorang yang tertera di handphone ku.

“Moshi-moshi Chinen? Tolong aku…”

..

Sehabis latihan dance, aku membanting tubuh ku kelantai dan menyandarkan punggung ku ke tembok, masih mengingat kejadian kemarin. Dari semalam aku coba untuk menelpon Miki, namun tidak ia angkat, mengirimnya e-mail berpuluh-puluh kali yang isinya sama ‘maafkan aku Miki Mouse’ Tidak ada balasan juga.

Untuk kesekian kalinya, aku mengecek handphone ku. Ada inbox kali ini.

By: Daisuke
Kalau pulang nanti belikan aku psp yang baru ya, psp milikku rusak, terima kasih chubby

Bukan Miki, aku sangat kecewa. Aah mungkin ini hukuman untukku dari Tuhan.

“Daiki” aku terkejut saat Chinen menepuk bahu ku tiba-tiba. Aku melihat ke arah Chinen, oh iya aku lupa kalau kemarin Chinen yang mengantar Miki pulang.

“Bagaimana Miki semalam?” tanya ku langsung.

“Dia menangis sepanjang jalan, samar-samar si dia bilang agar aku menyampaikan sesuatu kepada mu”

“Apa itu? Beritahu aku Chinen beritahu aku!” aku mengguncang bahu Chinen dengan kuat, karna pikiran ku sangat kacau saat ini.

“Oke oke, tenang…” aku berhenti mengguncang tubuhnya “kata Miki, dia meminta mu agar tidak menemuinya, bahkan menghubunginya lagi. Karna Miki sudah terlanjur benci dengan mu”

“Kau bohong kan Chii? BILANG KALAU SEMUA ITU BOHONG!!!”

“Tidak Daiki, aku tidak akan berbohong kepada mu”

“Daiki kau kenapa si?” tanya Inoo karna mendengar jeritan ku. Yang lain juga menatap ku aneh. “Kamu capek? Yasudah sebentar lagi kamu pulang saja, tapi tunggu makanan datang, sedang di beli oleh Keito” ujar Yabu panjang lebar.

“Jangan beritahu siapapun masalah ini, mengerti?” bisik ku kepada Chinen dan pemuda itu mengangguk.

Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung berlari keluar dari ruangan itu. Bahkan gedung Jhonnys, aku sama sekali tidak perduli dengan protesan mereka bahkan teriakan mereka yang memanggil nama ku.

Aku harus menemui Miki.

‘Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh oh

Sudah hampir satu tahun sejak hari itu, hari aku mencari Miki. Aku tidak menemukannya di sama sekali.

Bahkan berkali-kali aku datang ke tempat latihan biola nya, teman-teman Miki yang sebagian aku kenal, mereka bilang Miki tidak pernah masuk lagi tanpa alasan yang jelas.

Setiap aku berjalan pulang-pergi latihan atau kegiatan keartisan ku yang membosankan ini, aku tidak pernah menemui Miki.

Kadang aku merasa malu jika tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang terlihat seperti Miki dan aku menyapa wanita itu hingga dia kebingungan, seluruh member JUMP heran dan bertanya-tanya melihat tingkah ku yang aneh, hanya Chinen yang tahu mengapa aku jadi begini.

Hingga kadang Chinen memarahi ku, dan memberi ku saran untuk berhenti memikirkan Miki.

Awalnya sangat berat bagi ku, tapi lama kelamaan, aku terbiasa tanpa Miki. Mungkin karna kegiatan ku yang sangat sibuk ini, meski hati kecil ku sama skali belum bisa menghapus nama Miki, sampai sekarangpun aku belum bisa menerima perempuan lain, selain Miki tapi aku tidak boleh terus terpuruk dalam kesedihan aku harus berusaha tegar, dan aku selalu berdoa semoga suatu saat nanti aku di pertemukan lagi dengan Miki.

….

One month later

“Minna… sudah sore ayo kita pulang” seru Hikaru.

Semuanya pun bersiap pulang, aku juga karna sangat lelah hari ini. Mungkin jika sudah sampai rumah, aku akan mandi, makan, lalu tidur. Pasti sangat menyenangkan.

“Aduh… kepala ku pusing sekali” keluh Chinen di sela-sela persiapan pulangnya. Aku sedikit khawatir sebenarnya, namun aku tahu pasti Yamada duluan yang menghampiri Chinen.

“Daijoubu?” tanya Yamada khawatir, yang lain juga ikut merasa iba kepada si kecil itu.

Chinen menggeleng “Dai-chan, antar aku ke rumah sakit”

“Boku?” aku menunjuk diri ku sendiri, sambil memasang wajah bingung. Jujur saja Chinen biasanya minta di antar Yamada kemana pun, kenapa kali ini dia minta aku yang menemaninya?
“Iya, ayo cepat. Maaf Yamada aku ada urusan dengan Daiki”

“Eh.. katanya kepala mu pusing?” tanya Yamada kebingungan.

“Tidak lagi, jyaaa” Chinen menarik tangan ku keluar dari gedung jhonnys hingga ke parkiran, menuju mobil ku.

“Cepat masuk” perintah Chinen, enak saja ini yang punya mobil siapa?

“Ada apa si?”

“Masuk atau aku yang bawa mobil?” gawat bisa-bisa aku yang masuk rumah sakit karna kecelakaan.

“Aaah baik… ” aku pun masuk ke dalam mobil, Chinen juga. Setelah Chinen menyebutkan suatu tempat kamipun langsung melesat ke sana.

Ruma sakit? Ternyata dia tidak main-main mengajak ku kesini?

“Ne, Daiki apa kau ingin bertemu seseorang?” tanya Chinen di sela-sela perjalanan kami menuju koridor rumah sakit ini.

“Siapa?” tanya ku, sepertinya Chinen baik-baik saja jadi untuk apa ke rumah sakit? “jangan main-main deh Chii ini sudah mau malam. Yang benar saja kerumah sakit? lebih baik aku pulang” aku memutar badan ku, berbalik arah menuju keluar rumah sakit.

Tapi langkah ku berhenti saat aku melihat sesosok wanita yang aku cari selama ini, ia melangkahkan kakinya menuju taman rumah sakit ini, gazebo. Ia masuk ke dalam gazebo itu, dengan biola yang setia berada di tangannya.

“Miki…” gumam ku tanpa berkedip, satu tepukan di pundak ku dari Chinen sukses membuat ku sadar dari lamunan.

“Iya Miki, aku ingin menemui mu dengan Miki, karna selama ini dia bilang sebentar lagi….Daiki!!”

Tanpa mendengarkan penjelasan Chinen lagi aku langsung berlari menghampiri Miki, dan ketika sampai di depan Gazebo itu aku diam-diam masuk dan duduk di sebelah Miki, beruntung sekali Miki memainkan biolanya sambil memejamkan mata di balik kacamata ber-frame coklat itu.

O Holy Night – Josh Groban

Kali ini alunan lagu itu yang ia mainkan, gesekan antara senar dan bow-nya yang seirama membuat ku mengingat kejadian satu tahun yang lalu. Perasaan itu pun kembali datang, tapi aku harus bisa menahannya, agar kejadian itu tidak terjadi lagi.

Saat alunan itu selesai Miki membuka matanya dan memandang lurus ke arah taman yang kosong, melihat sunset yang sudah mataharinya sebentar lagi akan kembalike peraduannya. Ia tersenyum, senyum itu yang aku rindukan.

“Miki…” panggil ku pelan, hampir menyerupai bisikan.

Mendengar panggilan ku barusan, mata Miki terbelalak layaknya seseorang yang ketakutan. Ia menoleh ke arah ku, demi apapun dada ku sangat sesak saat melihat wajahnya kembali.

Tanpa bicara apapun dengan buru-buru Miki berdiri dan bersiap untuk keluar dari Gazebo. Tidak akan aku biarkan dia pergi untuk lagi kali ini.

Aku tarik tangannya hingga dia mendekati ku lagi walau Miki tidak menghadap ke arah ku tapi memeluknya dari belakang itu tidak masalah “maafkan aku Miki Mouse” bisik ku tepat di telinganya.

Miki tidak menjawab, tapi tubuhnya bergetar dan aku merasakan detang jantungnya sangat tidak beraturan.

“Lepaskan…” suaranya bergetar “LEPASKAN AKUUUU AKU INI PUNYA PENYAKIT JANTUNG KAU PASTI TIDAK INGIN DEKAT DENGAN ORANG PENYAKITAN SEPERTI KU” Miki menangis histeris setelahnya di dalam pelukan ku, aku hanya bisa diam. Tidak menyangka kalau Miki selama ini menahan penyakit mematikan itu.

Dengan paksa aku membalikan posisi Miki hingga menghadapku, ia masih menangis sambil menunduk Miki memukul dada ku dengan tenaganya yang sedikit.

“Semenjak kamu mencium ku… hiks.. penyakit jantung ku kembali kambuh dan rasanya sangat sakit… AKU BUTUH PENDONOR JANTUNG TAPI SAMPAI SEKARANG TIDAK ADA!!! AKU DI PERKIRAKAN AKAN MATI SEBENTAR LAGII AKU TIDAK ADA HARAPAN UNTUK HIDUP!!!!” lagi, Miki kembali memukul tubuh ku dengan sekuat tenaga hingga biola yang ada di tangan Miki jatuh entah ke mana.

Aku memeluk tubuh lemah itu, memeluknya dengan erat merasakan detang jantung Miki yang semakin lama semakin tidak beraturan. Aku menangis di dalam pelukannya, ikut merasakan sakit yang di derita Miki.

How many times do I have to tell you
Even when you’re crying you’re beautiful too
The world is beating you down, I’m around through every mood
You’re my downfall, you’re my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can’t stop singing, it’s ringing, in my head for you

“Jadi…” aku kembali membuka percakapan setelah tangis ku dan Miki mereda “biarkan aku mencium mu skali lagi, untuk terakhir kalinya. Aku mohon, anggap saja ini perpisahan kita”

Miki terbelalak melihat ku, dengan air matanya yang masih tersisa ia menatap ku terkejut “kamu… rela aku mati?” tanya Miki dengan wajah polosnya, ia sama sekali tidak berubah ternyata.

Aku mengangguk “kau jahat Dai-nyan…” Miki mengembungkan pipinya, ya ampun bahkan di saat serius seperti ini ia masih bisa memasang wajah imut itu.

“Aku serius, kita tidak bisa melawan takdir Tuhan kan?” selang beberapa detik kemudian, bibir ku sudah di bungkam oleh bibir Miki, rasanya manis seperti hari itu.

Miki mengalungkan tangannya di leher ku, dan aku memeluk pinggangnya, kali ini aku menciumnya dengan sangat lembut dan tidak terburu-buru.

Miki melepaskan ciuman kami, mengatur nafasnya yang mulai putus-putus, ia masih mengalungkan tangannya di leher ku hampir saja Miki jatuh untung dengan cepat aku menggendongnya. Di sela-sela nafasnya yang tersisa ia tersenyum dengan matanya yang terpejam “Arioka Daiki.. arigatou”

“Tidak… aku akan berusaha biar kamu bisa sehat Miki” dengan cepat aku berlari sambil menggendongnya menuju ke arah IGD langsung saja seorang dokter dan beberapa perawat lainnya memeriksa Miki.

“Kalau ada pendonor jantung minimal 60 menit lagi, Miki masih bisa hidup” kata-kata dokter itu terngiang di otakku.

Cepat-cepat aku menelpon Chinen, tapi aku urungkan karna Chinen tiba-tiba sudah ada di samping ku.

“Aku mengikuti kalian dari tadi” katanya.

Aku bernafas lega, setidaknya aku bisa melihat senyum Miki untuk yang terakhir kalinya, dan aku bisa mengandalkan Chinen untuk melakukan suatu hal yang aku minta.

…..

Chinen’s

Sedang lelapnya tidur, dengan posisi kepala ku di pinggir kasur aku sedikit terkejut karna merasakan sesuatu yang menyentuh pipi ku. Tangan ini, apakah Miki sudah bangun?

Pelan-pelan aku mengangkat kepala ku dan melihat kearahnya, tersenyum karna bersukur ia sudah bangun.

“Chinen-kun? Daiki mana?” tanya Miki, matanya berkeliaran kemana-mana mungkin ia mencari sosok Daiki.

“Ada, dia di sini” aku menyentuh dadanya “jantung mu, sudah di ganti dengan jantung Daiki”

“Tidak mungkin” Miki meneteskan air matanya “artinya Daiki… Daiki… tidak mungkin… Daiki tidak mungkin matii….” gadis itu menangis histeris bahkan ia melepaskan infus nya dan turun dari kasur.

“Kamu mau kemana?” tanya ku saat berhasil menggapai tubuhnya dan menahan kepergian Miki.

“Aku ingin lihat Daiki, dia pasti di luar.. dia pasti ada disini kan… kau pasti bercandaaa” Miki meronta meminta ku melepaskannya, tapi tenaga ku pasti lebih kuat.

“Miki.. Miki dengarkan aku Daiki sudah meninggal.. dia sudah tenang di surga.. kemarin sore dia sudah di makamkan”

Miki diam, tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Pelan-pelan aku kembali membantu Miki untuk tidur di kasur dan menyelimutinya “ada surat dari Daiki, aku bacakan ya” Miki tak bergeming.

Dear Kanagawa Miki

Hey, Miki Mouse.. mungkin setelah kamu baca surat ini aku sudah tidak ada lagi, jaga baik-baik ya jantung ku yang ada di dalam tubuh mu jangan sampai sakit lagi. Tenang saja jangan pikirkan aku, aku sudah tenang disini, baik-baiklah dengan Chinen karna aku menitip diri mu dengan si Chibi itu. Oh iya, sebenarnya alasan ku untuk baik dengan mu adalah, karna sejak pertama kali aku melihat mu dari hall tempat pembuatan PV Aino Arika, aku jatuh cinta dengan mu dari pandangan pertama, haha awalnya aku tak percaya tapi ternyata aku sendiri yang merasakannya. Aku mencintai mu Miki, maaf kalau aku tidak pernah katakan ini sebelumnya, karna aku malu dan takut di tolak terlebih setelah kejadian itu aku makin takut untuk mengungkapkan perasaan ini. Tapi.. jatung ini ku serahkan sebagai tanda cinta ku. Cinta ku yang tulus untuk mu.

I love u. Kanagawa Miki

Dari yang mencintai mu
Arioka Daiki.

Miki menangis dalam diam setelah aku selesai membacakan surat ini, jujur saja hati ku tersayat saat melihatnya menangis, tangisan itu untuk Daiki.

Sebenarnya aku juga menyukai Miki, tapi aku tak mungkin menghianati teman ku sendiri. Jadi biarkan aku pendam perasaan ini.

……

Beberapa bulan berikutnya, Miki menjalankan aktifitasnya kembali seperti bermain biola. Mengadakan konser orcestra layaknya Miki yang ku kenal dari sosok Daiki.

Namun ada yang berbeda setiap pulang dari kegiatannya Miki merengek meminta ku agar datang ke apartement Daiki.

Seperti saat ini Miki sedang ada di pangkuan ku, mencium bibir ku sesukanya. Bahkan ia meremas rambut ku merasakan kenikmatan yang aku berikan untuk Miki.

Miki melepas ciuman kami dan sedikit berbisik “I love you Dai-nyan”

“I love you too, Miki Mouse” balas ku seolah-olah aku adalah Daiki.

Miki mengalami gangguan jiwa ringan, ia memang bersikap seperti manusia normal pada umumnya, namun ia selalu saja berhalusinasi ketika melihat ku seperti sedang melihat Daiki.

Miki menganggap ku Daiki dan aku harus berpura-pura menjadi Daiki hingga Miki sembuh dari gangguan jiwa nya, atau mungkin seumur hidupku.

Give me all of you
Cards on the table, we’re both showing hearts
Risking it all, though it’s hard

I give you all of me
And you give me all of you, oh oh

The End

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s