[Oneshot] Midnight Melody

Title : Midnight Melody
Genre: Romance
Rating: G
Catagories: Oneshoot
Song: Taylor Swift ft Ed Sheeran – Everything Has Changed
***

Tiga hari yang lalu, Jepang sudah memasuki pertengahan musim gugur. Meski di dalam sini terasa cukup hangat, namun aku tau kalau di luar cuaca sudah mulai dingin. Walaupun tidak seperti musim dingin yang membeku dan dingin yang menusuk kulit, namun di sudut ruangan tampak sebuah pemanas telah dinyalakan.
Segelas coklat panas tampak mengeluarkan asap yang mengepul diatas kotatsu di tengah ruangan, menemani beberapa benda lainnya seperti sebuah Laptop, beberapa buku akutansi dengan ukuran tebal, beberapa paper dengan coretan disana sini – yang juga tampak bertebaran di lantai, dan sebuah buku catatan dan pena yang terdiri dari beberapa warna.
Benar. Untuk beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa ruangan ini sangat berantakan. Namun jika ruangan ini rapi untuk saat ini, aku akan berubah menjadi panik. Dan percayalah, bukan hal yang menyenangkan melihat aku menjadi panik saat sedang berkutat dengan tugas-tugas ini.
“Hhhhh”
Baiklah, aku buntu saat ini.
Kuputuskan untuk bangkit dari posisiku yang duduk dengan nyaman didekat kotatsu. Mengambil gelas coklat panasku dan beranjak dari sana, memilih untuk keluar kamar dan duduk di  sofa di dekat jendela. Cuaca siang ini kelihatan cerah ditambah dengan daun-daun yang berguguran dari pohon di tepi jalanan yang ada di depan apartemenku.
Gelas coklat panasku tadi, kuangkat dan menyesapnya perlahan. Aku tersenyum. Aroma coklat dapat membuat suasana hatiku menjadi sedikit lebih baik.
Kurasakan ponselku yang kuletakkan di saku celana pendekku bergetar. Ku rogoh saku celanaku dan mengambil ponselku, sepertinya sebuah pesan masuk.
Ku letakkan gelasku tadi di dekat meja didekat sofa dan membuka pesan masuk itu.
Kurasakan hangat merasuk ke dalam hatiku, tanpa kusadari, sudut bibirku sudah melengkung membentuk sebuah senyuman.
Aku tidak mengerti, bagaimana sebuah nama dapat membuat suasana hatiku bisa berubah-ubah setiap saat? Bagaimana sebuah pesan sederhana, dapat membuat wajahku terasa panas? Padahal cuaca diluar sedang dingin. Entahlah, sepertinya dia memang sudah menjadi salah satu dari banyak alasanku untuk hidup.
***

September, 5 tahun yang lalu,
“Sacchan, ayolah, penampilanmu tidak seburuk itu”
Nakamura Yumi menarik-narik tangan sahabatnya, Sato Miharu, yang tampak meringkuk di sudut backstage. Keduanya baru saja selesai tampil di panggung sebagai perwakilan kelasnya di festival budaya kali ini.
Menurut Yumi, mereka melakukannya dengan sangat baik, namun tidak bagi Miharu. Gadis itu meyakinkan dirinya bahwa dia baru saja melakukan kesalahan di atas panggung, membuat penampilannya sangat buruk, dan dia yakin bahwa para penonton diluar sana akan menertawakannya jika dia keluar.
“Sampai kapan kau mau begini? Sampai festival selesai? Ayolah Sacchan, teman-teman di kelas sepertinya butuh bantuan. Kita harus kembali sekarang.”
Yumi masih membujuk sahabatnya yang masih terduduk lemas dengan wajah yang ditekuk.
“Bagaimana jika kalau aku keluar, orang-orang itu melempariku?” tanya Miharu dengan wajah cemas.
“Kalau kau seperti ini terus, aku yang akan melemparmu dari jendela. Ayo cepat!” kata Yumi dan kali ini berhasil menarik Miharu berdiri dari posisinya dan membawanya pergi dari sana.
Keduanya berhasil mencapai pintu depan aula, dimana pertunjukan festival diadakan. Namun langkah Miharu terhenti sesaat saat dia melihat kedalam aula.
“Ada apalagi Sacchan?” tanya Yumi dengan sedikit kesal,
Namun Miharu sama sekali tidak mempedulikannya. Pandangannya tertuju pada satu sosok yang kini sedang berada diatas panggung. Sosok itu memakai tuxedo dan duduk di depan sebuah grand piano berwarna hitam. Dari tempatnya Miharu dapat melihat jari-jari pemuda itu menari dengan lincahnya diatas tuts-tuts piano dan menjadikannya sebuah lagu yang indah.
“Ah.. lagu ini, aku tidak tau dia benar-benar bisa memainkannya” celetuk Yumi.
Miharu berpaling sejenak kepada Yumi yang sudah berdiri disampingnya, “Kau tau kenal dia?”
Yumi tampak mengangguk, “Aku pernah bertemu dengannya di ruang musik, sedang latihan dengan Yamaguchi sensei. Dia pianis kebanggaan sekolah kita. Sepertinya memang benar, karena dia bisa memainkan lagu ini, Fairytale dari Ludovico Einaudi, begitu yang kubaca di partiturnya waktu itu.”  jelas gadis itu.
Setelahnya, Miharu sama sekali tidak mendengar penjelasan Yumi, karena gadis itu kini tampak menikmati alunan nada yang terbentuk dari tuts-tuts piano yang terasa menari saat dimainkan pemuda dipanggung itu.

***

Dari Yumi, Miharu mengetahui beberapa hal yang perlu diketahuinya tentang pemuda itu. Miharu memang bertanya banyak hal, namun sepertinya Yumi menceritakannya tanpa merasa curiga sedikit pun.
Dan berbekal informasi itu, disinilah Miharu sekarang, koridor selatan di sayap kiri gedung utama, berjalan menuju ruang musik sekolahnya. Tanpa sengaja, Miharu bertemu dengan Yamaguchi sensei dan beliau meminta bantuan-sebenarnya Miharu yang saat itu berbaik hati menawarkan dirinya untuk menolong Yamaguchi sensei-untuk membawa amplop coklat berisi beberapa partitur keruang musik, karena mendadak Yamaguchi harus menemui kepala sekolah. Ketika sampai di depan pintu ruang musik, gadis itu tampak menyerit karena tidak mendengar apa-apa dari ruang musik. Perlahan dia membuka pintu ruang musik dan mengintip kedalam. Tidak ada siapa-siapa disana.
Miharu membuka pintu dan akhirnya melangkah kedalam. Melihat sekeliling. Hanya ada sebuah grand piano milik sekolah, beberapa instrumen musik lainnya, papan tulis dengan baris-baris tangga nada, serta sebuah meja yang diyakini gadis itu milik Yamaguchi sensei.
“Siapa kau?”
Miharu tampak terkejut dan hampir saja menjatuhkan amplop coklat berisi partitur yang sedang di pegangnya, dan berbalik memandang kearah suara yang menyapanya.
Untuk sesaat Miharu merasakan bahwa dia lupa bagaimana caranya bernafas saat melihat sosok yang kini berdiri dengan jarak beberapa senti dari tempatnya. Seorang pemuda dengan kacamata ber-frame coklat, kini sedang memandangnya. Dari tempatnya Miharu bisa melihat betapa mulusnya wajah pemuda itu, seperti patung pualam yang di pahat dengan sempurna. Rambut hitam kecoklatan yang membingkai wajah itu serta bibirnya yang berwarna merah muda. Dan untuk sesaat, Miharu meyakini dirinya sendiri bahwa tidak ada seniman manapun di belahan dunia ini yang dapat memahat pualam yang lebih indah dibanding sosok yang sedang berdiri didepannya  ini.
“Hei, kau mendengarku?” seru sosok itu lagi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Miharu yang kini hanya bisa berdiri mematung.
“Ah” gadis itu seperti baru saja mendapatkan kesadarannya kembali sekaligus udara untuk memenuhi paru-parunya.
“Siapa kau? Dan apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya pemuda itu.
“Ah itu, Yamaguchi sensei memintaku membawa ini ke sini, dia sedang bertemu kepala sekolah” kata Miharu sambil menyerahkan amplop coklat itu padanya.
Pemuda itu menerima amplop itu sambil mengangguk, kemudian memeriksa isi amplop itu sejenak dan kemudian memandang Miharu sambil tersenyum.
“Arigatou gozaimasu” kata pemuda itu dengan tulus.
Untuk sesaat itu, Miharu kembali seakan lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Matanya mengikuti kearah pemuda itu pergi, berjalan menuju grand piano yang ada di tengah ruangan. Meletakkan partitur yang baru saja didapatnya, dan duduk tepat di depan piano itu. Pemuda itu tampak memejamkan matanya sejenak. Saat dia membuka matanya, pemuda itu tersenyum memandang pianonya.
“Yoroshiku onegaishimasu” katanya.
Tepat setelah itu tuts-tuts piano itu kembali dimainkan. Miharu kembali merasakan sensasi nostalgia saat dia melihat permainan pemuda itu saat festival. Saat dia melihat jari-jari panjang milik pemuda itu yang menari dengan lincah diatas tuts piano. Suara yang keluar dari piano itu terdengar lembut namun terasa kuat. Miharu seakan ikut hanyut dalam permainan piano pemuda ini. Miharu pun bertepuk tangan saat pemuda itu selesai bermain.
Pemuda itu tampak sedikit terkejut saat mendengar Miharu bertepuk untuknya,
“Ku kira kau sudah pergi dari tadi” kata pemuda itu.
Miharu tersenyum dan menggeleng, “Permainan mu bagus, kau benar-benar membuatku terkesan” katanya.
Pemuda itu tampak menaikkan alisnya, “benarkah?” katanya kemudian tersenyum tulus kepada Miharu, “Terima kasih atas pujianmu” katanya lagi.
Miharu berjalan mendekat dan berhenti tepat disamping piano, “Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti tentang musik klasik, namun aku tidak berbohong saat mengatakan permainanmu bagus” kata gadis itu.
Pemuda itu tersenyum sambil memainkan beberapa nada ringan di pianonya, “Frederic Etude, opus 25, no 5, Chopin” kata pemuda itu. Miharu sedikit menyerit mendengarnya, seperti mengerti kebingungan Miharu, pemuda itu kembali berkata, “Lagu yang baru saja ku mainkan, lagu ini akan ku mainkan saat kompetisi nanti.”
Miharu tampak mengangguk, “Begitu… ku rasa kau akan memenangkan kompetisi itu” kata Miharu lagi.
Pemuda itu tertawa kecil, “Terima kasih banyak. Kau begitu optimis, tetapi sebenarnya aku masih harus banyak berlatih lagi.” katanya.
“Aku tidak bercanda, kau memang bagus. Apalagi saat kau bermain di festival budaya waktu itu, aku benar-benar terkesan.” kata gadis itu lagi.
“Benarkah?” tanya pemuda itu dan Miharu membalasnya dengan mengangguk tegas, “Baiklah, aku percaya padamu” katanya
Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu. Miharu sama sekali tidak bisa melepaskan tatapannya dari manik hitam milik pemuda didepannya ini yang sedang memandangnya dengan lembut.
Pemuda itu mengalihkan pandangannya duluan, berpaling kearah pianonya, dan tampak tersenyum.
“Baru kali ini aku bertemu dengan orang sejujur dirimu” kata pemuda itu lagi sambil menatap Miharu dengan lembut.
Miharu hanya tediam memandang kearah pemuda itu.
Pemuda itu tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya kembali tersenyum dan memandang pianonya. “Kau membuatku teringat sesuatu. Sebagai hadiah karena sudah menjadi penggemarku, aku akan memainkan sebuah lagu, dan kurasa lagu ini cocok denganmu”
Pemuda itu kembali menarikan jari-jarinya diatas tuts piano itu.
Untuk sesaat Miharu merasakan lebih dari tidak bernafas. Gadis itu merasakan sesak di dadanya. Dan merasakan ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perutnya saat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan pemuda itu kepadanya. Saat bagian pertama lagi itu dimainkan, Miharu seakan melupakan bagaimana caranya untuk berpijak. Dia mengenal lagu itu, karena salah satu film kesukaannya pernah menjadikan lagu itu sebagai soundtrack nya. Karya Claude Debussy, Claire de Lune, cahaya bulan.

***

Miharu berlari menyusuri jalanan malam sambil matanya melihat kesana kemari. Baru saja dia mendapatkan mail dari Yumi yang mengatakan bahwa pemuda itu menghilang. Beberapa bulan setelah pertemuan di ruang musik itu, Miharu berhasil berada di kelas yang sama dengan pemuda itu di kelas 3. Begitu juga dengan Yumi, tentu saja. Yumi berkata bahwa Yamaguchi sensei – yang sekarang sudah menjadi wali kelas mereka – baru saja mengiriminya pesan bertanya dimana pemuda itu, dan Yumi pun mengirimi email ke seluruh teman sekelas tentu saja.
Setelah menerima pesan itu, tanpa pikir panjang lagi, Miharu mengambil jaketnya dan berlari keluar rumahnya. Gadis itu menyusuri setiap jalan dari rumahnya hingga kesekolah, namun tidak menemukan tanda-tanda adanya pemuda itu.
Hingga dia tiba didepan sebuah gereja. Sayup, gadis itu mendengar dentingan piano dari gereja. Entah bagaimana gadis itu yakin bahwa itu ada permainannya. Miharu yakin, karena dia sudah mengenalnya, dan dia yakin bahwa itu adalah dirinya.
Gadis itu kemudian melangkah masuk kedalam gereja itu, melangkah mengikuti dentingan piano yang didengarnya, perlahan hingga dia tiba di aula utama. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, mencari sebuah piano, dan matanya tertuju pada seseorang yang tampak sedang memainkan piano itu. Miharu kemudian mempercepat langkahnya mendekati sosok itu.
“Hhh… ternyata kau… hhh disini” kata gadis itu tepat saat dia tiba disamping pemuda itu.
Sosok itu menghentikan permainan pianonya dan memandang Miharu dengan tatapan terkejut. Miharu tampak mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan karena terus berlari sedari tadi.
“Bagaimana kau….?” pemuda itu kehabisan kata-kata memandang gadis di depannya ini. Dia sendiri tidak habis pikir bagaimana gadis ini bisa menemukannya.
“Itu tidak penting. Aku akan menghubungi Yamaguchi sensei dan…”
“Jangan katakan pada siapapun aku disini,” pemuda itu memotong kata-kata Miharu tiba-tiba. Miharu yang sudah akan mengambil ponselnya tampak urung dan kembali meletakkannya di saku celananya.
Miharu memandang pemuda di depannya ini, raut wajahnya tampak sedang menyimpan sebuah masalah berat. Miharu diam saja dan memilih untuk duduk di sisi pemuda itu. Diam dan menunggu.  Cukup lama mereka berdua terdiam dalam posisi seperti itu, menikmati keheningan yang menyelimuti keduanya.
“Apakah…” Miharu kemudian membuka suara, “ehmm… maksudku, kau mau memainkan satu lagu?” tanya gadis itu.
Pemuda itu memandang kearahnya sejenak sebelum kembali memandang piano didepannya. Pertamanya dia menekan satu tuts, kemudian jari-jari itu kembali menari disana.
“Baiklah, kau ingin aku bermain apa?” tanyanya.
Miharu tersenyum dan memperbaiki posisi duduknya yang bersisian dengan pemuda itu, menghadap piano. “Apa ya? Bagaimana kalau Ludovico, Fairytale.”
Pemuda itu tersenyum sambil kembali menarikan jarinya di piano tersebut. Miharu tersenyum mendengar bait-bait nada yang mulai mengalun lembut dari piano itu. Gadis itu tidak tau sejak kapan dia mulai merasa nyaman dengan posisi seperti ini, mendengar pemuda itu bermain piano, bermain untuknya, dan tersenyum hanya kepadanya.
Hingga di akhir lagu, Miharu masih tersenyum. Pemuda itu menghela nafas dan menjauhkan tangannya dari piano.
“Aku mendapatkan tawaran untuk melanjutkan sekolah ke Austria. Semua sudah di tetapkan sejak lama, dan aku akan berangkat besok pagi. Aku hanya tidak yakin apakah ini yang benar-benar aku inginkan”
Miharu tampak terkejut mendengar cerita pemuda ini, namun dia diam saja. Entah kenapa dadanya kini merasa sesak.
“Maafkan aku karena tiba-tiba menceritakan ini. Sebaiknya aku pulang saja dan bersiap-siap.” kata pemuda itu lagi.
Pemuda itu kemudian menutup tuts piano dan berdiri dari posisinya. Pemuda itu tampak memandang kearah Miharu yang hanya duduk diam dan tertunduk di tempatnya. Pemuda itu hanya terus berjalan dalam diam.
“Aku akan menunggumu”
Langkah pemuda itu berhenti saat mendengar seruan itu. Pemuda itu kemudian berbalik dan mendapati Miharu berdiri di sisi piano sambil memandangnya. Gadis itu sedang tersenyum lembut kepadanya, selembut cahaya bulan purnama.
“Aku akan menunggumu” ulang gadis itu, “Tidak peduli berapa lama, aku akan menunggumu. Karena itu kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Pergilah ke Austria dan jadilah pianis hebat”
Perlahan, senyuman terukir di wajah pualam itu. Untuk pertama kalinya, pemuda itu merasakan perasaannya menjadi ringan. Seolah beban yang tadi berada di pundaknya, terangkat begitu saja. Dan tiba-tiba saja dia merasakan bisa bernafas dengan lega.
“Kau adalah orang pertama yang akan aku temui saat aku kembali” kata pemuda itu kemudian.
Miharu tampak sedikit terkejut, namun senyuman gadis itu kembali merekah dan mengangguk kepada pemuda bersurai hitam itu.
“Terima kasih”
***
“Everything Has Changed”

All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something now I didn’t before.
And all I’ve seen since eighteen hours ago
Is green eyes and freckles and your smile
In the back of my mind making me feel like

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you

‘Cause all I know is we said, “Hello.”
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You’ll be mine and I’ll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

And all my walls stood tall painted blue
And I’ll take them down, take them down and open up the door for you

And all I feel in my stomach is butterflies
The beautiful kind, making up for lost time,
Taking flight, making me feel right

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you

‘Cause all I know is we said, “Hello.”
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
And you’ll be mine and I’ll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

Come back and tell me why
I’m feeling like I’ve missed you all this time, oh, oh, oh.
And meet me there tonight
And let me know that it’s not all in my mind.

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you

All I know is we said, “Hello.”
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You’ll be mine and I’ll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

All I know is we said, “Hello.”
So dust off your highest hopes
All I know is pouring rain and everything has changed
All I know is a new found grace
All my days I’ll know your face
All I know since yesterday is everything has changed

Aku melihat ke cermin untuk terakhir kalinya. Mengecek penampilanku, rambut, wajah, baju, celana, dan sepatu. Dibelakangku, tepatnya di atas tempat tidur, beberapa atasan dan bawahan yang sedari tadi ku coba. Dan yang sedang ku kenakan adalah pilihan terakhirku. Aku kemudian berputar sekali. Aku menghela nafas dan tersenyum. Kali ini aku puas melihat penampilanku.
Aku mengambil tas berukuran sedang dari gantungan tas di belakang pintu, mengambil ponsel yang ku letakkan diatas meja rias, dan berjalan keluar dari kamar begitu saja. Kamarku akan kubereskan nanti setelah pulang.
Aku mengunci pintu apartemenku dan menyimpan kuncinya di dalam tas. Aku mengecek pesan terakhir yang ku terima, hanya sekedar untuk memastikan saja, kemudian ku masukkan ponselku kedalam tas, dan berjalan bergegas menuju lift.
***

To: Sato Miharu
Subject: ただいま
“Aku akan tiba di Haneda pukul 1 siang ini. Temui aku di stasiun Shinzuku jam 3.
Tadaima, Miharu

Inoo Kei”
***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s