[Oneshot] Gift

Title: GIFT
Type: OneShot
Genre: Romance
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Fandom: HSJ
Starring: Inoo Kei, Sato Miharu dan selentingan orang lewat

Miki baru saja selesai membuat sarapan untuknya dan untuk teman serumahnya.

Ia masuk ke dalam kamar temannya itu dan baru saja Miki ingin melihat keadaan temannya, ia sudah kaget karna temannya tersebut sedang bersusah payah berdiri berusaha untuk duduk di atas kursi roda, karna temannya tidak memiliki kaki sebelah kanan.

“Neechan… kan sudah aku bilang kalau ada apa-apa panggil aku” omel Miki kepada perempuan tersebut yang ia panggil neechan.

“Kamu tadikan lagi masak, dari pada masakan mu hangus?”

“Aahh pokoknya panggil aku”

“Tidak mau, sudah aku mau makan, cepat bantu aku duduk di kursi roda”

Dengan sabar Miki membantu Miharu naik ke kursi roda. Langsung saja Miharu mengayuh kursi rodanya keluar kamar dan menuju meja makan.

“Eh… biar aku antar kesini saja makanannya”

“Tidak mau, kamu malas cuci piring. Biar nanti skalian aku yang cuci piring”

Miki mendengus “enak saja”

Miharu mulai makan makanan yang Miki masak “tidak enak pula makanannya”

“Tidak usah di makan!!”

“Hahahaha”

Pertengkaran? Bisa di katakan begitu.

Kakak-adik ini. Bukan maksudnya dua orang teman ini, Memang selalu bertengkar karena Miki yang terlalu khawatir kepada Miharu-Miharu lebih tua dari Miki, makanya dia panggil ‘neechan’- karena keadaan Miharu yang tidak mungkin untuk dibiarkan sendiri.

Miki dan Miharu adalah teman di tempat kerja yang sama. yaitu bengkel Mobil dan Motor.

Dan, karena kecelakaan di tempat kerjanya.

Kaki Miharu yang sebelah kanan harus di amputasi.

“Aaahh terserah deh. Aku pergi” setelah itu Miki melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Munuju tempat kerjanya.

“Jadi, sekarang ini kau tinggal di rumahnya?”

“Iya”

“Orang tua mu tidak marah?”

“Tidak, dan aku tidak perduli” yah setidaknya kalau ayah nya tidak menikah lagi dengan orang lain, setelah sang ibu tidak ada. Miki tidak akan secuek ini.

“Kenapa si? Jangan terlalu kejam kepada ayah mu, tidak ada dia. Maka kau tidak akan ada juga”

“Urusai!!!” bentak Miki. Membuat pemuda pendek-walau Miki masih sedikit lebih pendek darinya- terkejut. Oke, dia sudah biasa di perlakukan seperti itu oleh Miki.

“Bisa tidak kalau sehari saja tidak mengganggu ku, Chinen-san?”

“Kau itu jarang bicara ja…” pemuda yang di panggil Chinen tadi terdiam saat Miki mengacungkan satu obeng yang langsung berhadapan ke depan matanya. Chinen berpikir kalau Miki akan menusuk obeng tersebut ke dalam matanya. Membuat Chinen terbelalak, kaget.

“Sekali lagi kau bicara kepada ku, mata mu akan ku keluarkan, mau?” ancam Miki dengan galak.

“Ampun buk..”

“AKU SERIUS!!!”

“Hey ada apa kalian?” sang manager yang sedang memantau kerja para anak buahnya tidak sengaja mendengar jeritan Miki, lelaki kurus itupun langsung mendekati keduanya.

“Lanjut kerja, jangan bertengkar” ujar sang manager memperingati keduanya. “Dan Chinen, kenapa kamu disini? Mobil mu kan di sana” dia menunjuk mobil di seberang tempat Miki, mobil yang harusnya Chinen perbaiki.

“Baik Yabu-san” setelah membungkuk, Chinen kembali ke tempatnya, sementara Miki hanya memutar bola matanya, masa bodo.

“Kembali bekerja”

“Baik”

“Sudah selesai Inoo-kun apa mau aku test dulu mobil mu? Tidak jauh kok, sekitar sini saja” tawar Miki kepada sang pelanggan. Pelanggan setia sejak sebelum Miharu berhenti bekerja. Dan Inoo tetap menjadi pelanggan setia bengkel tempat Miki bekerja.

“Aaahh tidak perlu, aku takut kejadian waktu itu terulang lagi” sedetik kemudian, Inoo menyungging senyum kecutnya. “…dan aku takut”

Miki hanya bisa mengangguk-angguk mengerti “Tapi, kalau ada apa-apa lagi, hubungi aku. Oke?”

“Oke” Inoo masuk ke dalam mobilnya, ditempat kemudi, lalu ia membuka kaca mobil Alphard-nya. Tersenyum dengan Miki “Arigatou, salam buat Miharu ya”

Miki tersenyum sebagai balasan, merasa percakapan mereka telah selesai Inoo melajukan mobilnya. Dan Miki menatap benda mati yang berjalan itu hingga tidak terlihat lagi keberadaannya. Kebetulan sekali, setelah mobil Inoo, waktunya mereka untuk istirahat. Jadi Miki memutuskan untuk makan, karna perutnya sudah bernyanyi sejak tadi.

Sembari makan, Miki kembali mengingat kejadian tragis itu, kejadian yang membuat kaki Miharu harus di amputasi.

Motor besar yang sudah selesai Miharu perbaiki, kini ia berikan kepada pemiliknya, Inoo Kei. Pelanggan bengkelnya, entah itu yang di bawa mobil atau motor miliknya ke bengkel tempat Miharu bekerja.

“Yakin ini sudah beres? Nanti takutnya tambah parah rusaknya” maksud Inoo untuk menggoda Miharu, tapi perempuan itu salah paham dan mengira kalau Inoo tidak mempercayainya.

“Mau aku test?” tawar Miharu.

“E-eehh tidak usaahh” Inoo mulai ketakutan, ia tahu kalau orang yang belum terbiasa membawa motor besar nya ini, tiba-tiba akan dia bawa pasti akan sangat susah dan tidak kecil kemungkinan bisa terjadi kecelakaan.

Tiba-tiba saja Miharu sudah menaiki motor Inoo, dan menghidupkan mesinnya, sebelum ia memkai helm tentunya.

“Sebentar ya” sedetik kemudian, Miharu sudah melaju dengan motor itu. Dan, astaga kecepatannya sangat tinggi, membuat Ino kelabakan.

“MIHARU.. MIHARU BERHENTIIII MIHARUUUUU” namun naas, Miharu hilang keseimbangan dan motor Inoo yg di tunggangi oleh Miharu pun terbalik, walau tidak ada mobil atau motor di depannya. Untung tempat kecelakaan tersebut tidak jauh dari pandangan Inoo.

Dengan cepat Inoo berlari kearah Miharu dan motornya. Kaki Miharu tertimpa motor tersebut, membuat tulang kaki Miharu di bagian dengkul retak.

Dan jika retak, jalan satu-satunya harus di amputasi bukan? Bila tidak cukup biaya untuk operasi.

“Tadaima…..” Miki masuk ke dalam rumah Miharu, duduk di lantai lalu melepas sepatu dan menggantikannya dengan sendal rumah.

“Okaeri”

Dengan cepat Miki mengampiri Miharu yang sedang menonton tv, Miharu duduk di atas kursi roda tentunya. “Tahu tidak? Inoo-san tadi ke bengkel” Miki antusias.

“Hm.. lalu?”

“Ia menitip salam untuk neechan”

Bagaikan sengatan listrik, kata-kata Miki barusan mampu membuat Miharu tekejut dan diam. Salam? Apa artinya ia masih ingat aku? Pikir Miharu.

“Ah, kamu hanya ingin menghibur ku kan?” tuduh Miharu tak percaya.

Miki menepuk dahinya kesal “harusnya aku rekam kata-kata Inoo-san tadi. Terserah deh kalau tidak percaya, huh” lalu Miki beranjak ke kamarnya. Berniat untuk ganti baju.

“Mau kemana?” langkah Miki berhenti saat Miharu bertanya, lalu Miki menghela nafasnya malas.

“Ke kamar, ganti baju”

“Oh”

Oke, cukup disitu percakapan mereka.

..

Pelan tapi pasti Inoo melajukan mobilnya, melihat setiap rumah-rumah dikomplek itu. Setelah sekian lama akhirnya Inoo melihat rumah yang pernah ia kunjungi saat mengantar seorang perempuan pekerja bengkel setelah selesai kaki nya di amputasi.

Inoo sudah berjalan dan sekarang berdiri di depan pintu rumah itu, dengan segenap keberanian ia coba untuk mengetuk pintu.

TOK TOK

Dua ketukan, tidak ada sahutan.

TOK TOK TOK

Tiga kalipun tidak ada sahutan.

Saat Inoo ingin ulang lagi ketukannya. Tiba-tiba pintu terbuka.

“Inoo-san?” Miharu di sana, dan wajahnya menunjukan bahwa ia sangat terkejut.

Dengan gugup, Inoo melambaikan tangannya dan tersenyum malu. “H-hai… Miharu”

Setelah mempersilahkan Inoo masuk, Miharu memanggil Miki untuk minta tolong membuatkan minum untuk Inoo.

Dua gelas cokelat hangat yang Inoo minta, satu untuk Miharu dan satu untuk Inoo.

Inoo terkejut saat melihat yang mengantarkan minuman untuk mereka berdua adalah Miki “Miki-chan, kamu tinggal disini?”

Miki melihat ke arah Miharu, berisyarat melalui mata. Saat Miharu mengangguk artinya Miki boleh menjelaskan apa yang terjadi.

“Setelah Miharu di amputasi, ia meminta ku untuk tinggal disini..” satu cubitan di tangan Miki yang teramat sakit datang dari tangan Miharu “m-maksud ku. Aku yang meminta untuk tinggal disini, setelah aku dengar kalau orang tua Miharu sudah tiada dua-duanya” Miki selesai menjelaskan, dan di tanggapi Inoo dengan anggukan tanda ia mengerti.

“Aku kira kamu hanya main saja kerumahnya” sangkal Inoo.

“Tidak, itu dulu waktu Miharu masih sehat”

“Ohh..” Inoo mengangguk lagi.

“Sudah ya, aku mau siap-siap bekerja” Miki melihat jam tangannya “hampir telat. Jyaaa” kemudian perempuan itu keluar dari rumah, meninggalkan Inoo dan Miharu yang masih diam satu sama lain. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, entah apa yang ada di otak mereka.

“Maaf ya, setelah mengantar mu… aku tidak datang lagi seperti hantu aku takut kamu marah” ucap Inoo setelah beberapa menit yang lalu terjadi keheningan di antara mereka.

Miharu tersenyum, sedikit lega ternyata Inoo masih memikirkannya. “Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa kok” senyum Miharu masih belum lepas.

“Bagaimana kaki mu? sebenarnya… aku ingin sekali mengajak mu jalan-jalan kalau kakimu baik-baik saja” Inoo terkekeh sebentar “tapi aku akan tetap mengajak mu jalan-jalan” lalu senyuman Inoo merekah, membuat Miharu terdiam, senyum itu, selalu sukses membuat Miharu meleleh.

Miharu menunduk, ia merasa tidak pantas untuk jalan-jalan bersama Inoo, ia cacat, pasti akan banyak orang yang membicarakannya di luar sana. “Tidak bisa” Miharu bergetar “maaf… aku..”

“Kenapa? kamu malu?”

“…..”

“Kita sama-sama manusia, tidak perlu malu.”

“Aku tidak pantas untuk keluar. Aku cacat, pasti akan banyak orang yang membicarakanku diluar sana” akhirnya air mata Miharu keluar “aku tidak mau.. maaf… lebih baik Inoo-san keluar kalau hanya ingin mempermalukan ku di luar sana”

“Bukan begitu…”

“KELUAR”

Hening.

Inoo terdiam sebentar karna bentakan dari Miharu barusan, oke akhirnya Inoo mengalah dan ia pun pamit pulang. Yang sedikit pun tidak mandapatkan tanggapan dari Miharu.

Di luar rumah Miharu, otak Inoo masih berfikir bagaimana cara yang tepat agar bisa mengajak Miharu jalan-jalan, ia memandang bagasi mobilnya. Yang terdapat sesuatu untuk Miharu, itu ia beli dari hasil jerihpayah nya sendiri.

“Haha.. lain kali akan ku coba lagi” ucap Inoo sambil tertawa hambar. Lalu ia masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya menuju ke tempat kerja.

“Inoo-kun setahu ku ia orang kaya, tapi kenapa ya ia bekerja disini?” bisik seorang pegawai perempuan kepada teman perempuannya sambil melihat Inoo dari jendela dapur yang sedang mengelap meja makan.

“Iya, dia kan anak derektur, bukannya jadi boss malah jadi pelayan? kan aneh…” balas perempuan yang mendapatkan bisikan dari temannya tadi.

“Entahlah, pasti ada sesuatu” balas perempuan itu.

“Hey hey kembali bekerja jangan menggosip” mendengar suara itu, kedua perempuan tadi langsung diam dan bersikap sopan layaknya tidak melakukan sesuatu.

“Baik” seru keduanya, lalu mereka dengan cepat melakukan tugas masing-masing.

Karna bingung topik apa yang sedang para perempuan itu bicarakan. Akhirnya sang asisten derektur -yang membuat kedua perempuan tadi langsung bekerja dengan cekatan- melihat ke pusatnya yang tepat berada di luar jendela.

“Oh.. Inoo” gumamnya mengerti “aku akan tanyakan sendiri apa alasannya bekerja disini” lalu ia berjalan untuk mendekati Inoo yang masih sibuk membereskan meja-meja dan bangku-bangku lainnya. Saat itu cafe sebentar lagi akan tutup.

Dengan gerakan cepat, pemuda itu menarik Inoo duduk di hadapannya, di tempat yang paling sudut di cafe ini. Alasannya memilih tempat itu, agar pembicaraan mereka tidak di ketahui orang lain.

Inoo hanya bisa diam, kaget karna tindakan yang tiba-tiba itu “a-ada apa Hikaru-san?” tanya Inoo masih gelagapan.

“Hahaha…” Hikaru tertawa renyah “santai aku tidak akan apa-apakan dirimu. Aku masih normal” pemuda yang di panggil Hikaru tadi masih tertawa, tak lama kemudian, Hikaru memasang wajah seriusnya. “pegawai yang ada di dapur sana membicarakan mu, mereka heran kenapa dirimu bekerja sebagai pelayan. Padahal kan kamu anak derektur disini?”

“Oh..” akhirnya Inoo mengerti apa maksud Hikaru membawa dirinya untuk duduk di tempat tersembunyi disini. “Semua uang ku di sita oleh ayah ku saat motor ku rusak, sedangkan aku sangat membutuhkan uang untuk memberikan sesuatu ke orang yang sangat aku cinta” Inoo menarik nafasnya dalam lalu melanjutkan “aku bilang ingin bekerja di tempat ayah ku. Kata beliau aku bekerja disini tapi di tugaskan sebagai pelayan” ia mengangkat bahunya “apa boleh buat, kan?”

Hikaru setelah mendengar penjelasan dari Inoo hanya bisa diam. Diam seribu bahasa karna maksud Inoo untuk mendapatkan uang hanya untuk membelikan sesuatu kepada orang yang dia suka? Romantis sekali, pikir Hikaru.

“Jadi, hanya untuk perempuan yang kamu suka?” tanya Hikaru merasa masih tak percaya.

Inoo mengangguk “Iya, dan aku susah sekali untuk mengajaknya keluar. Dia tidak ada kaki di sebelah kanan, dia malu untuk keluar”

Hikaru tambah diam mendengar ‘tidak ada kaki di sebelah kanan’ cinta sebuta itukah?’

“Alasan mu menyukai nya?” Hikaru nampaknya sangat menarik dengan pembicaraan ini, pasalnya ia sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta.

“Apa ya…” Inoo memasang pose berfikir “tidak ada, hanya saja saat kecelakaan itu. Aku merasakan suatu getaran saat menatap matanya yang kesakitan kakinya tertimpa motor. Rasa ingin melindungi dan menenangkannya saat itu ada didalam diriku, setelah aku bertanya-tanya dengan hati ku sendiri, aku sadar ternyata aku mencintainya” Hikaru masih diam tidak mengerti maksud Inoo.

Seakan mengerti kalau Hikaru tidak tahu apa yang dia bicarakan. Inoo pun dengan pelan menjelaskan yang sebenarnya “perempuan itu namanya Miharu, ia seorang montir di sebuah bengkel”

“Montir?” tanya Hikaru tiba-tiba.

Inoo mengangguk “maka dari itu, aku penasaran mengapa seorang wanita bisa bekerja di bengkel? aku hampir setiap hari datang ke bengkel itu, dengan sengaja mobil dan motor ku aku rusakkan sendiri” Inoo berhenti sebentar untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal “bodoh memang, tapi aku penasaran. Setelah aku tanya-tanya dengan temannya yang juga perempuan. Dia anak baru setelah Miharu, ternyata alasan mereka bekerja adalah untuk mendapatkan uang sendiri, dan kebetulan mereka memang mengerti masalah otomotif” Inoo menyandarkan badannya ke senderan bangku “dan dari situlah aku mengenal Miharu lebih dekat” Inoo memandang langit-langit gedung cafe itu “ia kecelakaan saat sedang mengetest motor ku, benar-benar sudah bagus atau belum”

“Intinya sekarang, kau ingin ajak Miharu keluar itu, untuk apa?” tanya Hikaru setelah ia mencerna cerita dari Inoo dan akhirnya bisa ia mengerti.

“Aku ingin memberi ia sesuatu yang sangat berharga, di suatu tempat”

“Dia ulang tahun?”

“Tidak”

“Lalu?”

“Tanda cinta ku untuknya”

Hikaru menutup mulutnya untuk menahan tawa, jadi seindah itukah cinta? Pikir Hikaru, setelah bisa mengontrol dirinya. Hikaru mengisyaratkan kepada Inoo agar pemuda itu bergerak mendekatinya.

“Aku ada ide untuk bisa mengajak Miharu itu keluar dan kau bisa berikan barang itu kepadanya” bisik Hikaru.

“Apa itu?” lalu Hikaru mengeluarkan semua ide briliannya untuk Inoo, entah kenapa ia ingin sekali membantu Inoo yang sedang kesulitan menyatakan cintanya kepada seseorang.

“Terimakasih Hikaru-kun, jangan beritahu ini kepada ayah ku ya” ucap Inoo riang sambil tersenyum dan berjabat tangan dengan Hikaru.

“Tenang, percaya pada ku” Hikaru mengedipkan sebelah matanya.

….

Pertama-tama kau harus bersikap baik kepada Miharu, seolah kau belum berencana untuk pergi bersamanya. Rajin-rajinlah datang kerumahnya, dan berikan kesan yang indah untuk momen mu bersamanya..”

Sesuai dengan apa yang Hikaru rencanakan, Inoo mulai menjalankan aksinya. Di awali dengan ;rajin datang ke rumah Miharu, walau awalnya Miharu enggan menanggapi kedatangan Inoo, tapi dengan bantuan Miki, akhirnya Miharu pun menerima kehadiran Inoo.

Hampir setiap hari Inoo datang ke rumah Miharu, entah itu ia membawa kaset untuk menonton bersama Miharu. Atau makanan kesukaan Miharu, atau kadang Inoo menjadi guru Miharu di dalam sebuah pelajaran.

“Disini, apakah ada alat musik?” tanya Inoo di sela-sela obrolan mereka sehabis makan siang.

“Kalau tidak salah, ada di sana” Miharu menunjukan suatu ruangan di rumah itu. “Ayah ku dulu seorang pianis, ia pintar sekali memainkan piano” cerita Miharu, seakan sedang bernostalgia. Miharu hanya bisa diam sekarang, seolah-olah di depannya adalah ayah tercinta.

“Oh ya? Boleh aku kesana?” tanya Inoo membuat Miharu sedikit terkejut dan kembali dari lamunannya, lalu Miharu mengangguk menyetujui.

Inoo mendorong kursi roda Miharu, kearah ruangan yang Miharu tunjuk tadi. Membuka pintu itu perlahan.

Inoo berdecak kagum, saat melihat ruangan musik tersebut sangat bersih, rapi dan bahkan sangat indah dilihat. Meskipun hanya ada satu alat musik di sana, yaitu piano, tetapi banyak figura foto-foto Miharu dan keluarganya. Membuat ruangan ini sangat indah untuk di pandang.

“Siapa yang suka kesini?” tanya Inoo setelah puas memandangi ruangan itu.

“Tidak ada, aku hanya sering merapikannya saja. Dan saat aku cacat aku menyuruh Miki yang merapikan semua ini” Miharu tersenyum “aku juga kadang suka bermain piano”

“Benarkah?” Inoo tersenyum lebar.

“Err hanya sedikit si”

Inoo kembali mendorong kursi roda Miharu kali ini mendekat ke piano tersebut. Inoo duduk di depan piano, membuka tuts nya.

Ia memejamkan matanya sejenak, satu tuts Inoo tekan, dan dalam sekejap Inoo telah tenggelam dalam alunan musicnya yang indah, tangan Inoo menari bebas di atas tuts-tuts tersebut.

Tanpa sadar, Miharu ikut tenggelam dalam alunan itu, dada Miharu merasakan sesak yang amat sangat. Namun terasa nyaman, ia memejamkan matanya. Saat Inoo selesai memaikan piano pun Miharu masih memejamkan matanya. Seperti ingin meminta lagi Inoo memainkan piano itu.

“Aku sudah selesai, Miharu” suara berat itu, seolah menyadarkan Miharu dari tidur lelapnya. Perlahan Miharu membuka matanya, dan tersenyum kearah Inoo “bagus sekali permainan mu, Inoo”

“Kedua, pelan-pelan kamu ajak dia ke tempat-tempat orang cacat atau panti asuhan, memberi dia pengertian kalau orang cacat tidak selamanya harus terpuruk dalam kesepian”

Hari ini, Inoo berencana mengajak Miharu ke panti asuhan yang sudah Inoo seleksi sebelumnya. Ia memilih panti asuhan yang penghuninya banyak anak-anak cacat kaki, tangan dan lain-lain, menyesuaikan dengan keadaan Miharu.

Awalnya Inoo membicarakan ini dengan Miharu, perempuan itu menolak. Dengan usaha Inoo sebisa mungkin-menjelaskan dengan pelan dan sabar- akhirnya Miharu menyetujui ajakan Inoo untuk mengajaknya keluar, tentu saja Miharu tidak tahu dirinya akan di bawa kemana oleh pria cantik itu.

“Kita sampai” Inoo menarik rem tangan mobilnya lalu turun menuju bagasi. Membuka bagasi itu untuk mengambil kursi roda Miharu. Tanpa sengaja Inoo melihat benda yang sebentar lagi akan sampai kepada pemiliknya, Inoo tersenyum karna rencananya sudah hampir berhasil.

“Inoo-kun” teriakan Miharu sukses membuat Inoo sadar dari lamunannya, dan cepat-cepat menghampiri Miharu.

Semua anak-anak panti asuhan senang dengan kehadiran Inoo dan Miharu, Miharu juga senang karna melihat senyum para anak-anak itu. Tersenyum walau kondisi badan tidak sempurna, senyum walau sedang melawan sakit keras, dan senyum walau tidak ada orang tua disisi mereka. Sukses membuat Miharu meneteskan matanya, terharu. Dan bersukur ia masih bisa bernafas hingga hari ini.

“Tidak seburuk yang kau pikirkan bukan?” tanya Inoo tiba-tiba sambil memeluk Miharu dari belakang. Miharu kaget, namun ia tersenyum senang.

“Iya, harusnya aku bersukur masih bisa bernapas dan melihat hingga hari ini. Aku egois” air mata Miharu tambah deras mengalir “terima kasih Inoo-kun”

Inoo beralih duduk di depan Miharu, lalu menghapus air mata Miharu “jangan menangis, nanti cantiknya hilang” Inoo tersenyum.

“Oneechan, ada kado untukmu dari Inoo nii-chan” seorang anak laki-laki yang memang sudah Inoo suruh untuk mengambil barang itu dari bagasi mobilnya. Memberikan sebuah kotak kado kepada Miharu.

Inoo tersenyum saat Miharu menerima kotak itu, dan secara serempak para anak-anak dan pengurus panti asuhan mengelilingi mereka.

“Apa ini?” tanya Miharu masih bingung.

“Buka saja” senyum Inoo belum lepas, apa lagi saat Miharu membuka kotak itu.

Sebuah kaki palsu yang cocok ukurannya dengan Miharu, di keluarkan oleh pemiliknya. Miharu semakin menangis menangis bahagia karna menerima hadiah yang paling Miharu sukai.

“A-arigatou” ucapnya sambil terharu. Inoo mengambil kaki palsu itu, lalu Inoo bertekuk lutut di hadapan Miharu, dalam sekejap. Inoo memasangkan kaki palsu Miharu, dan berhasil.

“Kamu bisa?” tanya Miharu tidak percaya, Inoo mengangguk. “aku belajar langsung dengan dokternya”

Lalu Inoo mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya. Saat Inoo buka, terdapat sebuah cincin yang sangat cantik. Inoo menengadahkan kepalanya menghadap wajah Miharu.

“Will you marry me?”

Seluruh yang ada di ruangan itu bereaksi kaget. Termasuk Miharu, yang Miharu tahu mereka tidak pernah berkomitmen apapun. Mengapa sekarang Inoo melamarnya?

“Kita…tidak pernah berpacaran” Miharu masih bingung.

“Karna aku lebih memilih kau menjadi istri ku dibanding pacar ku” senyum Inoo masih belum lepas.

Tidak ada jawaban apa-apa dari Miharu, ia hanya menyuruh Inoo berdiri, dan Miharu juga berusaha berdiri. Namun masih belum seimbang, Miharu hampir saja terjatuh, untungnya Inoo cegatan menahan tubuh Miharu.

Miharu tersenyum dan menatap Inoo “aku terima lamaran mu”

“KYAAAA AKU DITERIMAAA HAHAHA”

“HOREEE” anak-anak yang lain ikut senang dan bertepuk tangan karna melihat dua pasangan baru itu.

Inoo mencium bibir Miharu, perempuan itu memejamkan matanya hingga akhirnya  Inoo melepas ciuman itu, menatap mata gelap Miharu.

“Aishiteru, Sato Miharu”

“Aishitemo, Inoo Kei”

“….saat di sana. Depan semua orang kamu beri hadiah itu, dan sekaligus kamu melamarnya atau apalah agar kalian mempunyai status hubungan. Semoga sukses”

The End

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s