[Oneshot] Espresso

Espresso

Nakamaru Takeshi

Hey! Say! JUMP Okamoto Keito

Song: Severely – F.T Island

By: Shield Via Yoichi

Untuk Karu, oniichan tersayang saya~ terinspirasi dari anime Another.

Warning: BL, penjelasan espresso yang hanya menurut imajinasi saya, dan segala kekurangan yang ada di ff ini.

Takeshi duduk di sebuah café yang sangat terkenal kenikmatan kopinya. Dia menyeruputnya sedikit. Rasa panas dari espresso tersebut menjalar ke seluruh lidah dan rongga mulutnya, begitu juga rasa pahit yang diterima oleh indera pengecapnya. Melihat keramaian café ini membuatnya sedikit nyaman, setidaknya bisa menghilangkan pemikirannya terhadap seseorang. Ya, seorang pemuda yang menarik perhatiannya. Kau boleh tertawa padanya karena menyukai seorang pemuda juga, tapi kau belum melihat bagaimana pemuda itu menjeratmu hanya dengan sorotan matanya yang hangat. Itu menurut Takeshi.

Sesungguhnya dia tidak ingin lagi mengingat pemuda itu. Okamoto Keito sekarang hanya tinggal sebuah nama. Pemuda itu telah meninggal setahun yang lalu. Keito adalah guru bahasa inggris Takeshi—yang umurnya sama dengan umur dirinya—yang membuatnya betah berlama-lama di ruang lesnya. Dia sangat kagum dengannya, perasaan yang dimiliki malah melebihi dari rasa kagum. Takeshi tidak akan pernah lagi bisa menemui Keito, melihat senyum atau bahkan mendengar suara Keito memanggil namanya.

Takeshi menghela napas panjang, dia merasa tolol mengingat seseorang yang sudah tenang di alamnya. Namun Takeshi tidak pernah rela Keito pergi selama-lamanya dari dunia ini. Takeshi belum puas melihat Keito. Bahkan Takeshi belum menyatakan rasa sukanya pada Keito. Dia menyesal telah menjadi orang yang lamban saat itu. Terlambat menyatakan cinta, terlambat menolong Keito, rasanya Takeshi ingin ikut Keito saja ke alam sana. Namun dia sadar, mungkin ini takdir untuknya agar berubah menjadi berani.

Takeshi melirik jam tangannya, sudah waktunya untuk pulang. Dia ingin cepat-cepat mendinginkan kepalanya dan segera tidur namun tampaknya dia akan begadang karena efek minumannya itu. Dia meminum habis espresso-nya lalu beranjak pergi dengan langkah santai. Dia melihat pengunjung di sana sampai dia melangkah mendekati pintu café. Membuka pintu tersebut dan sedikit terkejut ada seseorang yang ingin masuk. Dia mempersilakan orang itu masuk dan rasa terkejutnya kembali datang, lebih dari yang tadi. Melihat wajah itu, Takeshi tidak salah mengira, dia sangat kenal wajah itu. Bagaimana bisa… bagaimana bisa dia kembali?, tanya Takeshi.

“Okamoto?” panggil Takeshi dengan penuh harap. Eksistensi tersebut menoleh padanya.

“Siapa?” tanyanya balik. Mau lepas saja rasanya jantung Takeshi mendengar suara itu, suara yang dia rindukan.

“Eh? Don’t you remember me?” Keito menggeleng. Mata Takeshi tetap membesar melihat Keito. Dia kembali namun tidak mengenalnya.

Wow, you can speak English!” kata Keito tiba-tiba merasa akrab karena seseorang menyapanya dengan bahasa Inggris.

Takeshi mengernyit bingung. Dia tidak mengerti, Keito yang sudah meninggal kembali hidup? Dan dia melupakan Takeshi? Takeshi yakin dia sedang berkhayal sekarang tetapi setelah berusaha mencubit lengannya dia tahu ini kenyataan, “Mau minum denganku?”


Beberapa pertemuan membuat Keito dan Takeshi sangat akrab, beberapa kesamaan yang menyatukan mereka. Keito yang dulu dikenal Takeshi adalah guru bahasa Inggris, sekarang adalah seorang musisi dan membuka les gitar. Takeshi masih tidak mengerti, ada apa sebenarnya?

Kematian Keito saat itu disaksikan sendiri oleh Takeshi. Kepalanya hancur berlumuran darah, begitu juga dengan tubuhnya karena terlindas roda mobil. Itu bukan kesalahan Keito maupun Takeshi, si pengendara-lah yang bodoh.

Saat itu Keito dan Takeshi pulang bersama teman-teman yang lain, Mereka berpisah diperempatan jalan dan Takeshi yang searah dengan Keito mampir terlebih dahulu ke game center dan membiarkan Keito pulang sendiri. Tidak ada firasat bahwa Keito akan meninggal dengan tragis. Tidak ada yang tahu bagaimana detail kejadian karena terjadi sangat cepat.

Hari ini mereka bertemu lagi di café tempat dimana mereka pertama kali bertemu—lagi untuk Takeshi. Memesan dua cangkir espresso, minuman kesukaan mereka—salah satu kesamaan dari mereka.

Untuk kesekian kalinya Takeshi menghela napas, setiap bertemu Keito selalu saja begitu. Dia masih tidak percaya Keito hidup dan sedang duduk dihadapannya.

So—” perkataan Keito terhenti saat matanya dan Takeshi bertemu. Keito bisa merasakan kalau pemuda itu seperti sedang menyelidiknya, “What do you see? Am I weird?”

Takeshi diam memandang Keito yang terus melihatnya heran. Siapa yang tahan dilihat curiga begitu setiap kali bertemu? Dan pertanyaan itu selalu keluar dari bibir Keito, “Hm…”

What’s wrong, Takeshi? I’m not a ghost.”

Yeah, I know.” Takeshi mengalihkan pandangannya ke cangkir espresso yang isinya tinggal setengah itu, “Sebenarnya aku merasa lapar.”

“Bilang kalau begitu, ayo kita makan!”


Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan berlalu dan Takeshi masih mempertanyakan itu. Di sisi lain dia senang orang yang dia sayangi kembali, di sisi lain dia tentu merasa bingung. Orang mati bisa hidup kembali itu adalah hal yang mustahil, di luar pikirannya. Pikiran seorang manusia.

“Hei, kenapa kau memanggilku?” tanya seseorang di depan Takeshi. Dia mendudukkan diri di kursi depan Takeshi.

“Kau… masih ingat Mister Okamoto?” tanyanya.

Orang itu menyerngit, “Tentu saja! Guru les bahasa Inggris kita yang meninggal secara tragis itu kan? Mana mungkin lupa.”

“Kau tahu—” Takeshi menutup mulutnya lagi. Dia bingung harus berbicara bagaimana. Dia takut dikira gila oleh temannya ini, “Dia masih hidup.”

Uso!”


Takeshi menumpuk tangannya diatas meja, bersiap untuk menjadikannya sebuah bantal untuk kepalanya. Dia tidak begitu tertarik dengan bahasa Inggris, namun orangtuanya menyuruhnya masuk les agar bisa kuliah di luar negeri.

 

Takeshi meletakkan kepalanya ditumpukan tangan itu dan menutup mata. Dia masih bisa mendengar suara riuh murid-murid yang sedang menggosip—atau apalah Takeshi tidak peduli. Suara gaduh itu tiba-tiba hilang dan diganti dengan kesunyian. Takeshi bisa memastikan bahwa gurunya sudah masuk ke dalam kelas. Tidak ada yang membuka suara, bagaimana tidak, mereka menyukai suara guru itu. Suaranya yang merdu setiap mengucapkan kata-kata bahasa inggris dengan fasih, tidak seperti mereka yang masih terdengar sumbang dan gagap.

 

“Takeshi.” panggilnya. Namun Takeshi tidak bergeming, dia sudah memasuki mimpi, “Nakamaru Takeshi!” panggilnya lagi dengan suara lebih keras.

 

Takeshi mengangkat kepalanya, acara tidurnya terganggu. Dia melihat guru itu dengan malas, “Mister, biarkan aku tidur kali ini saja.” pintanya.

 

Keito menggeleng, “Aku tahu kau pintar, tapi tidak ada perbedaan hak pada setiap murid.”

 

“Ck.” Takeshi berdecak kesal. Dia memperbaiki duduknya dan memangku kepalanya dengan satu tangan. Bagaimana bisa aku menyukai orang ini?

 

Jam berganti, waktunya untuk pulang. Namun Takeshi masih setia pada posisinya. Keito melihatnya, “Tidak pulang?”

 

“Aku kesal, Mister.”

 

“Why?”

 

“Kau suka sekali memarahiku, membuatku kesal saja.”

 

Keito tertawa, “Aku marah karena kau tidur. Itu saja. Lagi pula, kenapa kau sensitif sekali seperti perempuan?”

 

Takeshi memalingkan wajahnya dan Keito. Entah kenapa pipinya terasa sangat panas.

 

“Oh, satu hal lagi.” Takeshi melirik Keito, “Jangan panggil aku Mister kalau sedang tidak belajar. Kita kan seumuran.”

 

“Okay, Okamoto.”

 

Keito ketawa kecil, “Kau formal sekali. Panggil namaku saja seperti kau memanggil teman-temanmu yang lainnya.” Takeshi melihat dengan wajah yang tidak bisa dia perkirakan, lalu mengendus kesal.

 

“Mau makan ramen? Atau minum espresso? Aku yang bayar, sebagai tanda maafku.”

 

“Baiklah.” kata Takeshi yang entah mengapa merasa senang diajak makan oleh gurunya.


Sekelebat kenangan itu terputar diotak Takeshi. Membuatnya merasa sedikit nyeri di kepalanya. Dia memegang kepalanya dan memijitnya sedikit.

“Kau sakit kepala?” tanya Keito yang ada di sampingnya sedang menyuapi ramen ke mulutnya.

Takeshi mengangguk, “Ya, seperti yang kau lihat.”

“Kalau begitu, kau habiskan makananmu dan nanti istirahat di tempatku. Kebetulan apartemenku di dekat sini.”

Takeshi merasa oksigen hilang dari sekitarnya, napasnya terhenti sejenak karena omongan Keito. Untuk apa dia mengajak ke apartemen? Kenapa tidak langsung pulang saja? Apa dia ingin merawatku?

Setelah makan mereka langsung saja menuju apartemen Keito. Keito membuka pintu dan mempersilakan Takeshi masuk. Langsung saja Takeshi tidur di sofa Keito, pikirannya benar-benar membuat kepalanya terasa ingin pecah saja.

“Minum air dulu.” kata Keito yang ada di depannya membawa segelas air putih, “Dan ini obat pereda sakit kepala.” Meletakkannya di atas meja lalu Keito pergi ke kamarnya. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa selimut.

“Kau tinggal sendiri?”

“Kau benar-benar tidak percaya aku tinggal sendiri?”

Takeshi mengangguk, “Habis kau hidup penuh kebarat-baratan.”

Keito tertawa, “Tidak semua harus kebarat-baratan kan? Sudahlah, tidur saja dulu. Kau bisa pulang setelah merasa baikan.” Keito melampirkan selimut ke tubuh Takeshi, “Oyasumi.” katanya lalu mencium bibir Takeshi.

“A-apa yang kau lakukan?” Takeshi mendorong Keito menjauh. Dia sangat kaget.

“Itu kan ucapan selamat malam. Orang barat sering melakukannya.” kata Keito agak bingung.

Ah, benar. Keito tinggal lama di luar negeri. Jelas saja dia masih melakukan apa yang biasanya dilakukan di sana. Tapi kali ini membuat Takeshi terkejut dan sedikit perasaan senang. Bibirnya bisa merasakan bibir Keito.

“Ya sudah, oyasumi.” Takeshi menutup matanya. Jantungnya masih tidak keruan. Bisakah aku menganggap ciuman itu lebih dari ucapan selamat?


Takeshi menarik napasnya dalam-dalam. Rasanya segar sekali. Udara di pemandian air panas ini melegakan pernapasannya—karena hangat, bukan karena baunya yang cukup menyengat. Takeshi tanpa babibu langsung merendam tubuhnya yang tidak terlilit benang apapun.

Beberapa detik kemudian Keito masuk ke sana. Terpampang jelas tubuhnya yang berdada bidang dan tegap itu. Tetapi sesuatu mengganggu pandangan Takeshi. Banyak bekas luka di tubuh itu. Bukan luka bekas sayatan, tetapi luka jahitan.

“Tubuhmu…”

“Ah, ini..” Keito meraba tubuhnya, “Dulu aku pernah kecelakaan.”

Kecelakaan? Takeshi menaikkan alisnya. Dia mencoba membuat air mukanya terlihat tenang, “Kecelakaan apa?”

“Aku tidak ingat. Soalnya itu terjadi saat aku masih remaja.”

What? Ketika remaja?

“Rasanya pasti sakit sekali.” Takeshi merasa punggung Keito dengan wajah sedih. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya tapi melihat bekas luka itu sudah membuatnya ngilu.

“Ya.. aku masih ingat bagaimana sakitnya waktu itu. Aku pikir aku sudah mati. Hahaha…” Keito tertawa garing.

Takeshi terdiam, otaknya berpikir lebih keras. Kalau memang saat itu Keito belum mati, jadi dia mengunjungi upacara pemakaman siapa saat itu? Dia ingat jelas foto Keito terpampang dengan bingkai besar di sana, ibu dan ayah Keito juga ada di sana. Ini benar-benar di luar nalarnya.

“Nanti kita minum espresso lagi ya.”

“Kau suka sekali dengan minuman itu, Keito.”

“Meminum itu mengingatku padamu, I feel so happy.”

“Eh?” Takeshi yakin dia sedang tidak salah dengar.

“Kau orang pertama yang mau jadi temanku untuk minum kopi.”

Sekejap perasaan hangat meliputi hati Takeshi, “Bisa tidak kalau kita lebih dari teman?”

“Untuk saat ini sepertinya tidak.”


“Ada satu hal yang ingin aku tanya padamu.”

What’s that?”

“Seharusnya kau sudah mati—” perkataan Takeshi terhenti saat menyadari apa yang dia katakan.

Keito menyatukan alisnya, “Maksudnya?”

Takeshi melihat Keito, pemuda itu terlihat begitu penuh tanda tanya, “Sebenarnya kau siapa? Okamoto Keito yang aku kenal seorang guru les bahasa Inggris yang sudah meninggal.”

Keito menatapnya aneh, “Maksud aku tidak hidup lagi begitu? Mungkin beda orang—”

“Tidak!” kata Takeshi keras, “Tidak ada dua Okamoto Keito dengan wajah yang sama, sifat yang sama, menggunakan dua bahasa yang sama bahkan dengan tatapan yang sama!”

Keito hanya melihat Takeshi dia tidak tahu harus membalas apa. Mata Takeshi sudah berkaca-kaca.

“Okamoto Keito sudah mati, dia terlindas mobil yang kehilangan arah dan masuk ke trotoar.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Apa kau kembali hidup karena aku tidak merelakanmu pergi untuk selama-lama, huh? Answer me, Keito!” Takeshi menangis, dia menunduk. Melihat ke arah cangkir kopinya yang masih penuh.

Sementara Keito bingung. Dia tidak pernah merasa kenal dengan Takeshi, walau wajah pemuda itu terlihat tidak asing baginya. Keito juga tidak pernah merasa pernah menjadi guru les Inggris, namun dia ingat saat dia mengajar banyak orang.

Tiba-tiba Keito memegang kepalanya, semua kenangan masa lalunya terputar membuat rasa sakit menjalar sampai ke seluruh kepalanya. Takeshi menatapnya bingung, “Sekarang aku ingat.”

“Apanya?”

“Aku ingat kenapa aku hidup kembali.”

“Hah?” Takeshi semakin bingung.

“Aku membuat ingatanku hilang dan memasukkan semua keinginanku menjadi perjalanan masa laluku karena aku takut untuk mati sekali lagi.” Takeshi menyerngit, dia semakin tidak paham apa yang terjadi, “Aku melupakan semuanya termasuk kau, orang yang membuatku hidup kembali.”

“Aku?” tanya Takeshi. Keito mengangguk. Aura gelap keluar dari tubuh Keito, Takeshi menganga, “Jadi luka itu karena saat itu?” Keito mengangguk, aura gelap semakin banyak keluar. Beberapa saat kemudian terjadi getaran yang cukup kencang—gempa bumi. Semua pengunjung dan karyawan berhamburan keluar. Takeshi hanya melihatnya, “Hei, ayo cepat keluar.”

“Aku sudah mati, kau saja yang menyelamatkan diri.”

“Baka!” Takeshi menarik Keito, “Ayo.”

Namun Keito menarik Takeshi ke pelukannya, “Nikmati saja dulu espresso-mu.” Keito mengambil cangkirnya dan meminum isinya kemudian mencium Takeshi. Kali ini Takeshi tidak senang dengan ciuman itu, dia panik ingin menyelamatkan diri mereka dari maut. Keito melepaskan ciumannya lalu tersenyum.

“Bodoh.”

“Kau yang bodoh, Takeshi.”

“Kenapa?”

“Sudah kubilang aku hidup kembali karena kau.”

Takeshi menghela napas, “Makanya ayo kita keluar dari sini.”

“Tidak, aku ingin diri bersamamu.”

“Hah?”

“Ayo kita bersama-sama menuju keabadian.” Takeshi menatap pemuda itu, Keito semakin erat memeluknya. Aura hitamnya memenuhi Takeshi seakan-akan mengikatnya, “Aku takut mati tanpamu, tapi denganmu mati pun aku rela.”

Takeshi hanya diam. Dia tidak tahu harus takut atau tidak menghadapi kematian. Rasa untuk menyelamatkan diri juga sudah hilang dari benaknya. Tangan Keito mengingat dagu Takeshi dan sekali lagi menciumnya, “I love you, Takeshi.”

I love you too, Mister.”

Sedetik kemudian terjadi ledakan di toko itu yang mengeluarkan api besar dan terbakar habis, begitu juga dengan Keito dan Takeshi yang di dalam sana.


Breaking News

Sebuah café telah terbakar habis, diperkirakan karena konselet listrik. Ditemukan satu korban tewas hangus terbakar, belum diketahui identitasnya. Sebelum terbakar, terdengar suara ledakan­

Tidak ada yang ingat akan gempa yang terjadi saat itu, getaran yang diakibatkan oleh Keito—seakan itu sinyal agar hanya Takeshi yang pergi bersamanya ke surga. Begitu juga dengan jasad Keito yang menghilang. Nakamaru Takeshi, tinggallah sebuah nama dan juga kenangan dibenak teman-temannya. Pemuda yang menyukai espresso itu sudah bahagia dengan cintanya di dunia sana.

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Espresso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s