[Oneshot] Like A Rose

Like A Rose

Inoo Raura

Chinen Yuuri

Yabu Kouta

Sato Miharu as (Yabu) Inoo Miharu

Inoo Kei

Song: Like A Rose – A1

By: Shield Via Yoichi

yo~ I’m back! Ini fanfic untuk Laura~ sekalian ya lagu Like A Rose-nya didengerin waktu baca ya XD

“MIHARUUUUUUU…!” teriak seseorang yang baru saja masuk ke sebuah ruangan yang hanya berisi seorang pengantin wanita. Sepertinya penata riasnya udah menyelesaikan tugasnya. Dia langsung berlari dan berhamburan ke pelukan wanita yang dipanggil Miharu itu, “Kau cantik sekali!”

“Ah, Raura! Terima kasih!” kata Miharu tersenyum.

“Aku jadi tidak sabar mau jadi pengantin sepertimu.” Raura begitu terpukau dengan gaun pengantin Miharu yang dia pilihkan waktu itu.

Miharu tertawa, “Makanya cepat menikah dengan Chinen-kun. Chinen-kun, cepat lamar dia!” kata Miharu pada laki-laki yang ada di belakang Raura.

“Apaan sih. Dia kan teman kecilku. Ya kan, Yuuri?” Chinen hanya tersenyum lembut menjawab Raura.

“Miharu..” Seseorang berbadan tinggi tegap memakai setelan jas memasuki ruangan tersebut, “Inoo-san sudah menunggu.”

“Ah, sebentar lagi aku siap, Kou.” jawab Miharu.

Pria itu semakin mendekati Miharu dan memegang lengannya, “Ya ampun, kau cantik sekali.”

“Kou berlebihan!” Miharu mengibas tangannya, “Ah, iya. Ini Raura sepupunya Kei dan teman kami berdua, Chinen-kun.” Yabu memberi salam pada mereka. Chinen dan Raura membalas salam itu. Namun pandangan Raura tidak lepas dari sosok Kou itu.

“Kalau begitu, aku kembali ke ruangan Inoo-san dulu ya.” Miharu tersenyum, Kou melangkah pergi, mata Raura terus mengikutinya sampai Kou menghilang di balik pintu.

“Ne, Miharu. Dia siapa?” tanya Raura penasaran.

“Dia kakakku.”

“Eeeeeh?”

“K-kenapa?” Miharu menaikkan sebelah alisnya melihat ekspresi terkejutnya Raura.

“Dia… dia ganteng sekali.” ucap Raura yang seakan-akan meleleh.

Miharu tertawa, “Jangan tertipu dengan tampangnya, hahahaha.. Dia itu playboy. Hahahaha..”

“Aku tidak peduli, Miharu.” Raura memegang tangan Miharu. Miharu berhenti tertawa dan menatap Raura terkejut, “Mungkin dia jodohku!”

“Eh?” kata Miharu dan Chinen bersamaan. Mereka saling beradu tatap dan menatap Raura yang memasang senyum termanisnya.

“Raura, kau sakit?” tanya Chinen akhirnya.

Raura menggeleng, “Tidak kok.”

“T-tunggu sebentar, Raura. Apa maksudmu dengan Kouta mungkin jodohmu?” Miharu menyerngit heran.

Raura menyengir, “Sudahlah, menikah saja sana dengan Kei-nii. Nanti kita urus yang ini. Hehehe..”


Semenjak itu, Raura tidak pernah bisa menghapus bayang-bayang Kouta dari pikirannya. Bahkan suara pemuda itu mengiang di telinganya. Raura tersenyum, sementara Chinen hanya melihatnya. Dia tahu kalau Raura sedang memikirkan kakak Miharu itu.

“Raura..”

“Ya, Yuuri?” Raura menatap Chinen.

Chinen tersenyum, “Tidak apa-apa. Dari tadi aku lihat kau tersenyum terus.”

“Ahahaha… Kakak Miharu itu ganteng sekali sih, membuatku penasaran saja.” Benar dugaan Chinen, tiba-tiba hatinya merasa sakit.

“Cinta pada pandangan pertama, hm?” Chinen menaikkan alisnya, menggoda Raura. Dia mencoba untuk bersikap biasa, menahan rasa sakit hatinya.

“T-tidak kok..” Wajah Raura memerah, “Ya, walau aku sedikit tertarik padanya sih..”

“Semangat ya!” kata Chinen menepuk pundak Raura.

Raura menatap Chinen kemudian mengangguk, “Un! Yuuri temanku yang paling baik!” Raura memeluk teman kecilnya itu sayang, sementara mata Chinen terlihat lesu. Dia tidak bisa jujur tentang perasaannya pada Raura. Dia tidak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena perasaan bertepuk sebelah tangan ini.

Raura melepaskan pelukannya lalu melihat ke arah langit malam, “Hah… aku penasaran Miharu sedang apa sekarang.”

“Kenapa tidak telepon saja?”

“Kalau mengganggu bagaimana?”

“Nanti pukul saja sepupumu kalau dia marah.” Chinen tertawa, Raura pun ikut tertawa.

“Baiklah, aku akan meneleponnya.” Raura mengeluarkan handphone dan menelepon Miharu. Namun tidak diangkat, “Eh, tidak diangkat.” Raura cemberut. Tega sekali temannya tidak mengangkat teleponnya.

“Ya sudah, besok saja ditelepon. Mungkin dia sedang sibuk.” Chinen melihat ke arah jam tangannya, “Ayo aku antar pulang.” Chinen menggenggam tangan Raura dan menariknya berdiri.

“Un!”


“Halo.”

“Miharu!” Miharu menjauhkan handphone saat suara teriakan Raura di telepon membuat telinganya berdengung, “Kenapa kemarin malam teleponku tidak diangkat?”

Miharu yang masih mengantuk itu mencoba mengingat apa yang dia lakukan kemarin malam, “Ah, handphone-ku tertinggal saat mengunjungi rumah keluarga Kei.”

“Eh, kau sudah di Jepang?” tanya Raura dengan suara kaget, “Kok tidak bilang padaku?”

“Tentu saja, memangnya kenapa?” Miharu membalikkan badannya dan mendapati suaminya masih tertidur pulas.

“Ehehehe… berarti aku bisa bertemu denganmu dong?”

“Tidak bisa sekarang, aku masih mengantuk.”

“Yah.. Padahal aku mau sarapan di rumahmu.”

“Kau kan bisa masak sendiri!” Miharu menaikkan suaranya sedikit. Akibatnya, Inoo bergerak tanda bahwa dia terganggu.

Terdengar helaan napas panjang, “Aku kan kangen masakan Miharu, boleh ya?”

“Ya ampun, aku masih lelah, Raura.”

“Lelah? Hayo, apa yang Kei-nii lakukan sampai kau lelah dan jam segini baru bangun? Ini sudah jam sembilan lho~” kata Raura dengan suara menggoda dan tertawa jahil, “Biasanya kau sudah bangun jam lima pagi kan?”

“R-raura!” Wajah Miharu memerah, dia melihat Inoo dan mendapati pria itu sedang memandangnya. Miharu menelan ludah dan kembali fokus pada teleponnya, “J-jangan menggodaku.”

“Kalau begitu aku akan sampai di rumahmu jam sepuluh ya. Makanan kesukaanku harus sudah ada di meja makanmu, Miharu~ bye!”

“Raura, tunggu!” Sayangnya sambungan sudah terputus. Miharu berdecak kesal, menyimpan handphone-nya dan menatap Inoo. Dia tahu betul kalau suaminya tidak suka tidurnya terganggu, “Maaf mengganggu ti—”

“Kau harus dihukum!” Inoo menyeringai kemudian menindih Miharu.

“T-tapi… ini sudah pagi dan.. dan Raura akan datang kesini..”

“Aku tidak peduli, sayang~” Inoo langsung mencium bibir istrinya itu sementara Miharu pasrah. Raura sialan, rutuknya dalam hati.


Gochizousama…” ucap Raura dengan riang. Kini perut laparnya sudah sangat penuh. Miharu memasak banyak makanan kesukaannya, “Makanan buatan Miharu memang enak!”

Miharu menatap Raura, “Arigatou.” katanya malas.

“Hm? Kau kelihatan sangat lelah.” Dia melihat wajah mengantuk Miharu.

“Gimana aku tidak lelah? Setelah kau menelepon, Kei marah padaku!”

“Marah?” tanya Raura menyelidik. Miharu mengangguk, “Setahuku Kei-nii tidak pernah marah.”

“Kau pikir dia itu apa sampai tidak bisa marah?”

“Kalau dia marah, kenapa kau malah merasa lelah?” Raura menaikkan alisnya sebelah, “Dia marah dalam tanda kutip ya?”

Mata Miharu membesar, tak menyangka Raura akan bicara seperti itu, “M-maksudmu apa sih?” Miharu membuang mukanya dari Raura, menutupi wajah merahnya dari temannya itu. Raura tertawa terbahak-bahak membuat Miharu kesal, “K-kenapa ketawa? Sebenarnya kau kesini untuk apa?” Miharu mengalihkan pembicaraan, Raura terdiam.

“Ah, itu…” Raura menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku mau kau mendekatkanku pada kakakmu.”

“Apa?” Sekarang giliran Miharu yang menaikkan alisnya sebelah, “Aku tidak salah dengar kan?”

“Ayolah, Miharu. Aku mohon!” Raura menepuk tangannya sekali di depan dadanya dan memohon pada Miharu, “Hitung-hitung ini sebagai balasanmu karena aku sudah mendekatkanmu pada Kei-nii..”

“Lalu, Chinen-kun bagaimana?”

“Eh? Dia kan teman dekatku, tentu saja dia mendukung. Dia bilang aku harus semangat mengejar cintaku hohoho~” kata Raura santai. Miharu menatap Raura sambil menghela napas, gadis yang ada dihadapannya benar-benar bukan gadis yang peka.

“Baiklah, baiklah.. aku akan menelepon Kou dulu.”

“Kyaaaa!! Arigatou, Miharu!” Saking senangnya Raura melompat ke pelukan Miharu.


“Ya, sampai disini dulu pelajaran kita hari ini. Ingat, tugas kalian dikumpulkan minggu depan.” ucap Chinen sambil membereskan bukunya.

“Baik, sensei!”

Chinen berjalan keluar kelas dan disambut dengan senyum dari beberapa siswi yang melewatinya. Setiap dia mengajar mengingatkannya pada masa-masa saat dia sekolah dulu. Mengingat jahilnya Raura saat itu dan dia harus berkali-kali meminta maaf pada guru karena kelakuan teman kecilnya itu.

“Chinen-sensei!”

Chinen menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke asal suara, “Ada apa?” tanyanya dengan ramah.

“A-aku..” Gadis yang ada di hadapannya gelisah, “I-ini!” Dia memberi sebuah amplop pada Chinen, tangannya bergetar. Chinen tahu bahwa itu adalah surat cinta, dia sudah menerima berkali-kali bahkan mungkin beratus-ratus kali jika dihitung sejak dia mengajar di sekolah ini.

Chinen mendekati gadis itu, “Surat cinta ya?” Dia mengambil surat itu dan tersenyum lembut pada muridnya itu, “Sensei juga suka sekali dengan kalian semua.” katanya sambil mengelus kepala muridnya itu.

Gadis itu membelalakkan matanya, napasnya terhenti sejenak, wajahnya memerah melebihi dari yang tadi. Kemudian seulas senyum terlukis di wajahnya lalu berteriak, “KYAAAA CHINEN-SENSEI!!” sambil melompat menjauhi Chinen. Chinen menggeleng sambil tersenyum.

Tiba-tiba dia teringat dengan Raura. Tanpa pikir panjang dia mengambil telepon genggamnya dan menghubungi gadis itu, “Halo, Raura.”

“Halo, Yuuri!” terdengar suara riang Raura. Chinen tersenyum senang.

“Kau sedang apa? Sudah makan?”

“Un! Aku sedang di jalan bersama Miharu.”

Chinen bernapas lega, “Oh, begitu. Miharu sudah pulang honeymoon ya.”

“Un..” Sekilas hening, “Ne, Yuuri. Doakan aku ya?”

“Eh? Memangnya kau mau melakukan apa?”

“Sekarang aku dan Miharu ingin menemui kakak Miharu. Aaaaaah, aku gugup sekali~” Sedetik kemudian Chinen tidak bisa berpikir lagi. Dadanya terasa sakit, senyumnya yang tadi merekah tiba-tiba hilang, “Yuuri? Kau masih di sana?”

Chinen tersentak kaget, “A-ah, iya. Semoga berhasil ya..”

“Un. Arigatou, Yuuri.”


“Kouta!” Miharu melambai-lambai saat dia dan kakaknya saling beradu pandang. Dengan sedikit menarik Raura, Miharu berjalan menuju meja yang Kouta tempati.

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba ingin bertemu?” tanya Kouta saat Miharu dan Raura sudah memesan minuman.

“Seperti yang kukatakan tadi. Aku ingin menjodohkanmu dengan Raura.”

“E-eh?” Raura menatap Miharu heran sekaligus kaget.

Kouta menggeleng dan memijat pelipisnya, “Ya ampun, Miharu. Aku pikir kau main-main.”

“Kau seperti lupa mencari pasangan. Bahkan adikmu ini sudah menikah.”

“Aku harus mapan dulu baru menikah, Miharu.”

Miharu menyerngit, “Kapan mapannya kalau begitu?”

Raura hanya bisa melihat perkelahian kecil antar saudara ini, dia juga terlalu malu untuk membuka pembicaraan. Suasana terlihat tegang dan dingin, tak ada satu pun diantara mereka yang membuka mulutnya. Hanya mata mereka yang saling menatap seakan sedang membaca isi hati lawan. Keadaan itu masih terus berlanjut sampai pesanan mereka pun datang.

“Pesanan Anda, tuan dan nona..”

“Terima kasih.” kata Yabu bersaudara hampir bersamaan. Raura tertawa kecil.

“Apa yang lucu?” Miharu melihat ke arah Raura, begitu juga Kouta.

“Kalian lucu, bertengkar saja masih bisa sehati begitu. Bagaimana kalau akur?” Raura melanjutkan tawanya. Yabu bersaudara itu merasa panas di wajah mereka kemudian memalingkan wajah mereka, “Tuh, kan!”

“Aduh, Raura. Berisik.” Miharu menyeruput minumannya tanpa melihat ke arah Raura maupun Kouta.

“Ne, Kouta-san. Apa kalian kembar? Kok mirip sekali sih..” Raura masih saja tertawa, dia geli dengan sifat Yabu bersaudara ini.

Kouta dan Miharu kembali menatap Raura, “Memang.” jawab mereka bersamaan.

“Eh?” Raura menghentikan tawanya, “Kenapa kau tidak bilang, Miharu?”

“Kau tidak pernah bertanya. Lagipula kami kembar tidak identik, namun sifat kami hampir sama.”

“Ih, Miharu. Aku jadi malu.” Raura menutup wajahnya.

“Santai saja, ini pertama kalinya ada orang yang bilang kami ini kembar.” sahut Kouta.

“Benarkah?” Raura melirik Kouta dari sela-sela jarinya.

“Benar. Biasanya kami disebut pacaran, bukan kembar. Ya kan, Miharu?”

Miharu mengangguk cepat, “Iya, bahkan Kei juga pernah berpikiran seperti itu.”

“Wah, kalian unik sekali!” Mereka tertawa. Akhirnya Raura bisa menghilangkan suasana dingin tadi menjadi hangat. Setelah itu mereka mulai berbincang-bincang.

“Oh ya, Kouta. Kau tidak sibuk kan?” tanya Miharu setelah melirik jam tangannya.

“Tidak, memangnya kenapa?”

“Aku mau pergi dulu.”

“M-mau kemana?” tanya Raura memotong kata-kata Miharu. Miharu melihatnya lalu tersenyum.

“Mau ke supermarket, beli bahan-bahan masakan.” Miharu beranjak, “Jaga Raura ya, Kou. Bye-bye~”

Raura melihat Miharu pergi dengan tatapan tidak percaya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Miharu benar-benar tega sebagai teman.

“Err… bagaimana aku harus memanggilmu?” Kouta menggaruk kepalanya, tatapan bingungnya membuatnya terlihat manis bagi Raura.

“Raura saja.” Raura tersenyum.

Kouta mengangguk, “Baiklah, Raura-chan.”

Mendengar itu, Raura seperti tersengat listrik. Dia merasa jantungnya berdegup kencang. Bukan, sangat kencang. Ditambah melihat senyum Kouta dari dekat membuatnya ingin meleleh seperti cokelat yang akan lumer dimulut.

“Kalau begitu, kau panggil aku Kouta ya.”

Raura mengedipkan mata berkali-kali karena masih kaget dengan hal ini. Terasa seperti mimpi baginya, “O-oke..”


“Sudah lama ya tidak makan masakan Miharu-chan, rasanya semakin enak saja.” puji Chinen sambil menyuapi mulutnya untuk menganjal perutnya yang sudah berteriak meminta untuk diisi.

Miharu menggeleng sambil tersenyum lalu mengibas tangannya, “Tidak kok, Chinen-kun.”

“Benar kok, Miharu!” kata Raura yang mulutnya masih penuh dengan makanan.

Miharu menghela napas, “Terima kasih atas pujiannya, teman-teman.”

Raura mengangguk dia menyuapi makanannya dengan tidak sabaran sampai makanan di piringnya habis. Namun gadis itu heran melihat Miharu yang tampak tidak berhenti makan itu, “Miharu, kau kenapa?”

Miharu menatap Raura dan menggeleng, “Tidak kok, aku hanya sedang lapar.”

“Tapi porsimu melebihi porsi Kei-nii.” Raura menyerngit. Ini bukan Miharu yang biasanya. Dia tahu Miharu memang banyak makan jika sedang stres namun tidak sebanyak sekarang.

“Mungkin efek hamil.” kata Kei yang berhasil membuat Miharu tersedak sementara Chinen dan Raura terkejut.

“Eeeeh?” Raura menutup mulutnya saking kagetnya.

“Kau hamil, Miharu-chan?” tanya Chinen masih tidak percaya.

Miharu bernapas lega saat dia menegak banyak air itu menghilangkan rasa tersedaknya. Lalu dia melihat teman-temannya yang menatap menanti jawaban dari Miharu. Terlihat begitu penasaran dan penuh harap. Miharu mengulas senyum lalu mengangguk.

“Kyaaaa aku senang sekali! Miharu punya anak! Miharu mengandung Inoo kecil!” pekik Raura senang. Dia bergerak heboh sendiri, “Temanku akan punya anak, aku kapan menikah ya?”

Mendengar itu Kei, Miharu dan Chinen tertawa. Raura pun ikut tertawa renyah, “Hubunganmu dengan Kouta bagaimana?” tanya Miharu.

“Eh, Kouta? Yabu-kun?” tanya Kei. Miharu mengangguk mengiyakan, Kei juga hanya mengangguk mengerti.

“Yah… kami sudah sering bertemu dan beberapa kali jalan bersama.” jelas Raura dengan malu-malu, “Sifat kalian benar-benar mirip, jadi aku tidak susah untuk menyesuaikan diri, hahaha…”

“Kalau Chinen-kun?”

“Ya, biasa saja. Aku masih sering dapat surat cinta dari murid-muridku dan beberapa guru.”

“Wah, kau terkenal ya!” seru Miharu tidak percaya. Di sisi lain, Raura merasa sakit sekali di dadanya. Dia tidak suka Chinen disukai semua orang seperti itu.

“Lain kali perlihatkan padaku isi surat cintanya.” kata Raura tidak tahan dengan sakit hatinya.

“Eh? Kenapa?” Chinen menaikkan alisnya heran, “Itu tidak menggangguku kok.”

“Raura-chan cemburu~” goda Kei.

“K-kenapa aku harus cemburu?” Raura membuang pandangannya, kesal. Dia hanya tidak senang Chinen mendapat surat-surat cinta itu.


“Raura…” panggil Chinen untuk kesekian kalinya. Namun Raura masih tetap diam dan berjalan di depan Chinen, “Kau marah?”

“Jelas dong aku marah! Kau tidak pernah bilang kalau kamu dihujani surat cinta di sekolah.”

“Kan sudah aku bilang itu tidak menggangguku.”

“Huh.” Raura mempercepat langkahnya namun langkah Chinen lebih besar langkahnya dan pemuda itu berhasil menggenggam tangan Raura.

“Aku minta maaf, mulai besok aku akan memperlihatkannya padamu.” Seulas senyum tipis terukir di wajah Raura, terlalu tipis sampai Chinen tidak menyadarinya.


“Begitu sudah benar?” tanya Raura setelah bernyanyi sebuah bait lagu yang dibuat oleh Kouta.

Kouta menyerngit lalu menggeleng kecil, “Sepertinya nada yang aku masukkan terlalu tinggi.”

“Begitu..” Raura mengangguk tidak mengerti. Kouta meliriknya, sepertinya gadis itu mulai lelah karena selalu bernyanyi selama dua jam tanpa henti dengan berbagai nada yang ditukar Kouta saat menurutnya tidak pas ditelinganya.

“Istirahat dulu deh.” kata Kouta. Dia beranjak ke dapur dan kembali membawa dua gelas minuman dan memberikannya satu pada Raura.

Arigatou.”

“Kau benar-benar membantuku, suaramu bagus.” puji Kouta.

“Ah, tidak kok..” Raura sudah berkali-kali mendengar pujian Kouta tapi dia tetap merasa suaranya tidak pantas dipuji.

“Kenapa tidak jadi penyanyi saja?” tanya Kouta penasaran.

Raura menggeleng, “Aku bernyanyi karena suka, bukan untuk mencari uang.”

“Tapi pekerjaan dari hobi itu menyenangkan.”

“Menurutku tidak.”

Kouta terkekeh, “Kau aneh. Ah, ada satu hal yang ingin aku beritahu.”

Raura menatap Kouta dan mengangkat alisnya, “Apa itu?”

“Setelah pekerjaan ini, aku akan pergi ke Amerika.”

“Eh?” Raura mematung.

Kouta mengangguk, “Hm… Aku pergi untuk pekerjaan lain kok.”

“B-begitu rupanya.” kata Raura dengan nada lega, namun perasaannya sama sekali tidak merasa lega.

“Itu salah satu alasanku ingin tetap sendiri saat ini. Biarpun Miharu terus memaksaku untuk mencari pasangan, aku tidak bisa.” Tiba-tiba Kouta sedikit terbuka tentang perasaannya, “Aku terlalu mencintai pekerjaan ini.”

“Walaupun denganku?”

Kouta menatap Raura intens, “Eh?”

“A-aku.. aku menyukaimu, Kouta.”

“Apa yang membuatmu suka padaku?”

“Err…” Raura tampak berpikir sebentar. “Kau tampan, berbakat.”

Kouta menggeleng, “Menurutku kau menyukai Chinen.”

“K-kenapa kau bilang begitu?” Raura tiba-tiba salah tingkah.

“Setiap kita bertemu kau selalu menceritakannya. Bahkan dua hari lalu kau marah-marah karena Chinen mendapat banyak surat cinta.” Kouta sedikit tertawa saat mengingat Raura mengeluarkan emosinya hari itu.

“T-tapi..”

“Kau menyukaiku sebatas kagum dan perasaanmu pada Chinen itu cinta.” jelas Kouta.

Raura menggeleng, bagaimana bisa dia tidak mengetahui perasaannya sendiri? Namun, Kouta yang mengenalnya beberapa bulan ini mengetahui perasaannya. Raura merasa bodoh, gadis macam apa dia sampai tidak sepeka ini pada perasaannya? Lalu perasaan Chinen sendiri bagaimana?

“Tenang, banyak gadis yang sepertimu. Menutup perasaannya pada teman kecilnya walau tanpa dia sadari sebenarnya dia menyukainya.” Mendengar kata Kouta, Raura merasa sedikit tenang, “Nah, coba beritahu dia tentang perasaanmu atau tanya perasaannya padamu.”


Sore itu, Raura memasang headphone di telinganya dan memutar sebuah lagu yang diberikan Kouta padanya.

“Lagu ini sedikit cocok untuk kisah kalian. Coba kau dengar.”

Itu perkataan Kouta saat Raura hendak pulang. Raura menatap ipod-nya. Like A Rose, judul lagu dari A1 itu sedang diputar. Raura menghayati setiap lirik yang dinyanyikan dengan merdu itu. Setiap lirik mengingatkannya pada Chinen, begitu mengambarkan sikap Chinen padanya selama ini. Chinen yang selalu ada bagaimana pun keadaan Raura, saat Raura marah dia juga bisa meredamnya. Yang selalu merawatnya ketika Raura sakit, padahal Miharu ingin merawatnya saat itu. Chinen selalu membuatnya tersenyum saat merasa sedih, yang menghapus airmata setiap dia menangis. Chinen yang rela membiarkan Raura mengejar cinta butanya. Lalu, mengapa Raura sangat bodoh tentang hal ini?

“Raura? Sedang apa di depan rumahku?” tanya Chinen yang baru pulang kerja sedikit terkejut melihat gadis yang disukainya itu duduk di depan pintu rumahnya.

Tanpa kata yang keluar dari bibirnya, Raura langsung memeluk Chinen erat, “Eh, kau kenapa?”

“Aku baru menyadarinya..”

“Tentang?”

Raura melepaskan pelukannya, “Perasaan ini.” Raura memegang dadanya. Rasanya sangat berdebar-debar. Ini melebihi debarannya saat bersama Kouta.

Chinen memiringkan kepalanya bingung, “Aku tidak mengerti.”

“Aku menyukaimu.” Mata Chinen melebar kemudian dia mengorek telinganya, takut dia salah dengar. Lalu menampar pipinya sendiri dan terasa sakit. Ini nyata!?, pekiknya dalam hati.

“Hei, hei.. kau kenapa?” tanya Raura sambil mencubit pipi Chinen.

“Aku tidak bermimpi kan? Atau kau sedang bermain-main, sedang berlatih acting at—” bibir Chinen langsung terkunci saat Raura menciumnya. Dia bisa merasakan lembutnya bibir Raura diatas bibirnya.

“Masih bilang ini mimpi?” Chinen menggeleng, dia masih begitu kaget. Raura kembali memeluk Chinen, “Terima kasih karena selalu bersamaku, Yuuri.”

Chinen memeluknya, “Kau itu seperti bunga mawar, harus selalu aku rawat walau sering membuatku sakit karena durimu.”

“Guru kesenian itu menggombalnya keren juga ya.” kata Raura sambil tertawa.

“Menggombal untukmu harus selalu keren.” Chinen ikut tertawa bersama Raura, masih dalam keadaan berpelukan, “I love you, Raura.”

Lama dalam posisi berpelukan, tiba-tiba Chinen melepaskan pelukannya dan memegang dadanya kuat, “Akh..” katanya sebelum tersungkur ke tanah yang keras.

“Kau kenapa?” tanya Raura panik. Dia menghampiri Chinen yang terlihat sangat kesakitan dengan sesak napasnya itu, “Hei, Yuuri.. kau kenapa?” Tanpa gadis itu sadari dia menangis.

Chinen meraih wajah Raura dan menghapus airmata Raura dengan tangannya yang lemah, “Aku bercanda.” Chinen kemudian tertawa dan menjulurkan lidahnya, tangis Raura berhenti.

“YUURI SIALAN!!” Raura memukuli Chinen, kesal. Bisa-bisanya dia membuat Raura khawatir setengah mati seperti itu.

Chinen bangkit berdiri dan duduk di sebelah Raura, “Raura… Will you marry me?”

Raura terkejut. Dia menggeleng, “Aku tidak mau.”

“Eh?” Chinen terdiam, badannya terasa kaku. Dia baru saja ditolak terang-terangan.

“Aku tidak mau menolak. Hahahahaha…” Lega rasanya napas Chinen mendengar itu. Dia merangkul Raura, menariknya ke pelukannya. Rasanya hari ini adalah hari terindah yang pernah mereka alami. Lebih indah daripada semua mimpi yang mereka bayangkan.

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Like A Rose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s