[Oneshot] Stuck In the Moment

Stuck In the Moment

Saruwatari Kumiko

Hey! Say! JUMP Inoo Kei

 Song: Stuck In the Moment – Justin Bieber

Lyric: Stuck In the Moment – Justin Bieber (Thanks untuk blog yang sudah menerjemahkan lirik lagu ini)

by: Shield Via Yoichi

Saya datang lagi dengan cerita saya yang super membosankan. X’D Fanfic ini untuk Eci yang ngakunya sih Mrs. Inoo. :v

Kumiko berjalan menelusuri jalanan malam. Mengenakan pakaian seksi dan dandanan yang terlihat dewasa membuatnya susah untuk dikenali. Dia terus menginjak pedal gasnya sampai ke sebuah diskotik. Di sana, dengan nama samaran dia pun dapat masuk dengan mudah. Baru saja menginjakkan kakinya ke lantai gedung itu, suara musik yang besar menghantam gendang telinganya. Namun Kumiko tidak peduli, dia tetap berjalan sampai menuju meja bartender.

Setelah sampai, dia langsung memesan minuman yang biasa dia pesan. Lalu dia melihat ke arah pengunjung yang ada di dance floor, menari mengikuti dentuman lagu yang dimainkan.

“Hah, kau Saruwatari yang sedang naik daun itu kan? Ternyata suka ke tempat seperti ini.”

Mendengar itu, Kumiko menghentikan gerakannya untuk menegak minumannya. Melirik orang yang menyebut namanya kemudian mengendus, “Apa bedanya denganmu, Inoo? Kau selalu menghibur fans dengan lagu ceria khas anak-anak dan memasang wajah tanpa dosa.”

“Apa kau fansku? Tahu sekali tentangku.” Inoo menaikkan alisnya, “Sesekali datang kesini tidak masalah kan?”

Kumiko memutar kursinya ke arah Inoo, “Dunia kita berat dan membosankan ya.”

“Ya begitulah.” Inoo menyeruput minumannya, “Tapi aku tidak menyesal ke dunia itu.”

“Aku juga begitu. Hanya saja, rasa bosan selalu datang.”

“Hm? Kenapa tidak melakukan sesuatu yang baru saja?” Inoo masih sibuk dengan minumannya. Dia tidak ingin terlalu berurusan dengan gadis itu, mungkin saja gadis itu menyebarkan hal tentang dia ke diskotik dan hilang sudah image-nya yang polos, yang tidak berurusan dengan dunia malam seperti ini.

“Bagimana kita membuat sebuah skandal?” Mata Inoo membulat, kemudian dia terbatuk karena minumannya.

“Hah? Denganku?” tanya Inoo setelah tidak batuk lagi.

Kumiko mengangguk, “Tentu saja, dengan siapa lagi aku berbicara sekarang?”

Inoo memutar matanya, “Jangan bercanda.”

“Kalau begitu, kita buat kontrak saja sampai skandal itu berakhir.”

Inoo melirik Kumiko, entah kenapa dia merasa ingin ikut permainan ini. Dia tampak berpikir sejenak, “Memangnya mau membuat skandal seperti apa?”

“Jadi begini..” Kumiko mengambil pena dan sebuah buku catatan kecil, “Kita buat skandal kau dan aku sedang berpacaran.”

“Kalau itu aku tahu—”

“Aku belum selesai bicara!” marah Kumiko, Inoo langsung menutup mulutnya rapat-rapat, “Oke, aku lanjutkan. Begini skenarionya.”

“Tunggu, jangan aneh-aneh ya?” Inoo mulai meragu.

“Tenang saja. Pertama tentang pertemuan kita, kita saling kenal karena ikut kencan buta dan memulai hubungan setengah tahun yang lalu.” Kumiko menuliskan idenya.

Inoo mengangguk, “Lalu?”

“Kedua, kita buat peraturan selama kita melakukan kontrak ini. Poin pertama, setiap Sabtu dan Minggu kita tinggal satu rumah agar terlihat seperti pacaran yang sesungguhnya.”

“Begitu ya? Kalau begitu, di apartemenku saja. Aku jarang tinggal di sana.”

“Benarkah?” kata Kumiko semangat, “Baiklah, poin kedua. Tidak ada cinta diantara kita selama menjalani kontrak ini. Ini poin yang paling penting.”

Inoo kembali mengangguk, “Bisa aku menambahkan? Poin ketiga, saling memberitahukan kalau merasa ada wartawan yang memata-matai.”

“Wah. Benar juga! Kau pintar!”

“Hei, aku ini lulusan Universitas Meiji.” jawab Inoo ketus.

“Tidak terlihat dari penampilanmu, hahaha…” Kumiko tertawa lepas.

“Sudahlah, apa selanjutnya?” Inoo melirik Kumiko yang tampak berpikir keras, “Sepertinya manajer kita tidak boleh tahu soal ini.”

“Benar, bisa mati aku.” Kumiko memainkan penanya, “Lebih baik kita tandatangani kontrak ini, untuk peraturan selanjutnya bisa ditambahkan nanti.

“Oke.”

***

“Kumiko, bangun!” Inoo berteriak membangunkan Kumiko, “Kumiko!!” Inoo melemparkan bantalnya tepat ke wajah Kumiko.

“Hng?” Kumiko menyingkirkan bantal Inoo dan membuka matanya perlahan, “Ada apa?”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat.”

“Oh, ya sudah. Pergi sana.” katanya dan kembali mengatur posisi tidurnya.

Inoo memijit pelipisnya, “Kau juga ikut pergi!” Inoo menarik tangan Kumiko sampai gadis itu bangun.

“Tapi aku masih mengantuk, Kei..”

“Tapi ini sudah jam sepuluh pagi, Kumiko sayang yang suka tidur.”

Mendengar kata Inoo, mata Kumiko langsung segar. Dia sangat kaget, “Jam sepuluh? Tidaaaaaaaaak…..” dia langsung melesat ke kamar mandi.

Sementara Inoo mengelus dadanya lega saat Kumiko hanya memfokuskan perkataannya ke ‘jam sepuluh’ dan bukan pada kata ‘Kumiko sayang’. Dia tidak sengaja mengatakan itu. Dia sudah terjebak dengan permainan mereka sendiri, dia menyukai Kumiko. Dia sudah melanggar peraturan yang mereka buat, peraturan yang paling penting dalam permainan ini.

***

“Kita mau kemana sih?” tanya Kumiko menjilati es krimnya. Sudah berjam-jam mereka keliling kota, sampai membuat kaki Kumiko mulai lelah. Inoo hanya diam, dia terus berjalan sambil menggenggam tangan Kumiko, “Apa jangan-jangan ini kencan?” tanya Kumiko polos.

“Berisik.” kata Inoo, “Kau tahu, ada beberapa wartawan yang sedang membuntuti kita.” bisiknya. Kumiko akhirnya diam sambil terus memakan es krimnya. Dia balik menggenggam tangan Inoo dengan erat.

“Kei..” panggil Kumiko. Inoo menoleh, “Aku lapar..” Dia memegang perutnya yang sudah berbunyi setelah es krimnya habis. Inoo lupa kalau gadis itu belum makan sejak pagi.

“Baiklah, kau mau makan apa?” tanya Inoo tersenyum.

“Hm.. apa ya? Kalau Kei mau makan apa?”

Inoo menatap Kumiko. Gadis ini sengaja bertanya seperti itu agar terlihat mesra atau bagaimana?, tanyanya dalam hati. Inoo berpikir sejenak, “Aku suka semua makanan sih..”

“Ya, kalau begitu ayo kita makan ramen!” serunya senang.

Inoo terdiam kemudian tertawa sambil menggeleng melihat tingkah Kumiko, “Ya sudah, ayo!”

***

“Sudah hampir setahun, tapi kenapa skandal kita belum dimuat di surat kabar maupun majalah ya?” tanya Kumiko membolak-balikkan majalah. Dia melempar majalah itu ke meja dan menghidupkan televisi, “Di TV juga tidak ada.”

“Mereka menunggu momen yang tepat sepertinya.” Inoo menghampirinya sambil membawa dua gelas teh dan duduk di sebelahnya.

“Pasti masih lama. Filmku rilis akhir tahun ini, konsermu juga sudah lewat kan?” Inoo melihat Kumiko. Apa gadis ini benar-benar ingin skandal ini cepat dimuat? Apa dia bosan melakukan hal ini? Apa dia bosan bersamaku?, tanya Inoo dalam hatinya.

Kumiko menoleh ke arah Inoo. Dia terpaku saat mata mereka saling bertemu. Bagaimana bisa dia menahan gejolak dalam hatinya kalau harus terus seperti ini? Dia menyukai Inoo, menyukai cara pria itu membangunkannya, caranya tersenyum, caranya memandang Kumiko seperti sekarang ini. Dia sadar dia salah mempunyai perasaan pada Inoo, tapi dia juga tidak akan kuat untuk terus membohongi perasaannya. Kumiko hanya bisa menyalahkan efek tinggal bersama. Walau hanya dua hari dalam seminggu, tetap saja hati berkata lain.

Inoo masih menelusuri manik indah milik Kumiko. Sedikit keraguan bisa dirasakan Inoo pada mata Kumiko. Pria itu sudah tidak sanggup lagi menekan perasaannya, dia bergerak mencium bibir Kumiko. Kumiko membelalakkan matanya dan mendorong Inoo, “A-apa yang kau lakukan?”

“Maaf, aku…” Inoo membuang pandangannya. Dia mulai mengutuk dirinya sendiri.

“Sepertinya ada poin yang harus kita ubah.” kata Kumiko, “Aku terjebak dan…… jatuh cinta padamu.”

Mau copot saja rasanya jantung Inoo mendengar itu, dia sudah berpikiran negatif saja sebelum Kumiko melanjutkan perkataannya. Sekarang Inoo bingung, ini seperti senjata makan tuan.

“Kumiko… Aku..” Kenapa begitu gugup?, tanya Inoo dalam hati. Inoo menarik napasnya, “Sepertinya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.”

Kumiko tersenyum, “Ini bukan lagi kontrak, kontrak kita sudah batal. Sekarang ini aku hanya ingin bersama Kei.”

Inoo memeluknya, “Aku tak berharap kita berpisah.”

***

Inoo berlatih gerakan baru untuk single mereka bersama rekannya. Berkali-kali pelatih memujinya karena bisa menari dengan cepat.

“Wah, kau semangat sekali, ada apa?” tanya Daiki menghampirinya lalu meneguk air mineral.

Inoo menggeleng, “Tidak ada. Aku suka gerakannya.” Inoo tersenyum. Kejadian kemarin ternyata membuatnya mengeluarkan feromon bahagia terlalu berlebihan.

“Ada apa, cerita padaku. Kau tampak sangat ceria hari ini!”

Inoo tertawa sambil menggeleng, “Tidak ada apa-apa, Dai-chan!”

Sementara Kumiko yang sedang menunggu giliran pemotretan terus saja tersenyum melihat telepon genggamnya. Sesekali dia memeluk handphone-nya saking bahagia.

“Saruwatari-san, kau baik-baik saja?” tanya manajernya heran padanya.

“Are? Memangnya aku kenapa?” tanya Kumiko balik sambil memegang wajahnya, “Apa aku terlihat sakit?”

“Sebaliknya, kau tersenyum sambil melihat handphone-mu.”

“Ehehehe… aku baru saja mendapat rekor baru di game kesukaanku.” Kumiko tersenyum manis, menutupi kebohongannya.

“Ah, souka~”

***

“Kumiko, apa kau masih mengharapkan skandal kita tersebar?” tanya Inoo. Bisa dia dengar suara desahan napas berat Kumiko dari ponselnya.

“Awalnya begitu, tapi sekarang aku bingung.”

Inoo menatap langit malam, “Kalau skandal kita ada di surat kabar, apa kita akan berpisah?”

“Kei, jangan tanya seperti itu.”

“Aku tidak ingin kau dihujat, Kumiko!” Inoo meninggikan sedikit suaranya. Dia tidak ingin orang yang dia sayang di-bully oleh fans.

Terdengar helaan napas dari Kumiko, “Seharusnya aku yang bilang seperti itu, Kei.”

Hening, mereka tidak tahu harus bicara apa lagi. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Berpikir tentang kelanjutan kisah cinta mereka ini. Di dalam otak mereka selalu ada kata ‘andai saja..’, ‘akankah..’ dan semua bayangan buruk yang mereka pikirkan.

“Kei..” Kumiko memecahkan keheningan.

“Iya, Kumiko..”

“Aku merindukanmu..”

Mendengar itu Inoo tertawa, “Haha.. bersadarlah. Lusa kita akan menghabiskan waktu bersama.”

Dua hari berlalu, Kumiko berlari kencang menuju sebuah mobil yang terparkir, dia yakin si pemilik berada di dalam menunggu dirinya.

“Kei..” panggilnya terengah-engah ke arah mobil saat dia sudah berada di depan pintunya. Dia membuka pintu itu dan segera masuk ke mobil.

“Bagaimana pekerjaanmu, Kumiko?” tanya Inoo dengan penuh senyum.

Kumiko melihat Inoo tidak senang, “Pekerjaanku biasa saja, tapi berlari menuju gedung ini sangat melelahkan.”

“Maaf, maaf..” Inoo mengelus rambut Kumiko sayang. Kemudian dia memutar kemudi, menjalankan mobil itu menuju sebuah restoran. Menikmati malam dengan kekasihnya, dia sudah tidak peduli lagi dengan para wartawan yang membuntuti mereka.

Setelah makan malam, mereka langsung menuju apartemen Inoo. Menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang memata-matai mereka. Selebriti juga punya kehidupan pribadi, kan?

“Kei..” Kumiko duduk di samping Inoo yang terlihat murung, “Ada apa?”

“Eh? Tidak.. Aku hanya berpikir kalau hubungan kita ditentang—”

“Sudah, Kei. Biarlah. Kita habiskan waktu kita berdua selagi tidak ada yang tahu.” Kumiko memeluk Inoo, mencoba menenangkan. Inoo membalas pelukan itu, “Kita yang membuat permainan ini dan kita juga yang menentukan bagaimana akhirnya.”

“Aku memikirkan dirimu, aku tak bisa membuatmu tersiksa karena fansku.”

“Tenang saja, Kei. Bersamamu aku menjadi kuat.”

“Terimakasih sudah masuk ke dalam hidupku, Kumiko.”

“Eh?” Kumiko melepaskan pelukannya, dia melihat wajah Inoo yang tersenyum manis padanya.

“Aku merasa lebih hidup saat menjalani berbagai kegiatan denganmu. Sering mengirim email, bertelepon, bercerita. Semua itu jarang aku lakukan sebelumnya.”

Kumiko memegang pipi Inoo lalu mencubitnya, “Kok kau lucu sekali sih? Aku gemas sekali.”

“Sakit! Hentikan!” kata Inoo mencoba melepaskan tangan Kumiko dari pipinya.

“Kei lucu sih, aku juga senang bersama Kei. Oh, jangan lupa dengan minum di diskotik. Pertama kali kita bertemu di sana kan?”

“Wah, kau benar.” Inoo mendekatkan wajahnya ke wajah Kumiko, “Mau kesana sekarang?

***

“Saruwatari-san, jelaskan padaku.”

“Eh? Apa?” tanya Kumiko kaget karena diserbu oleh manajernya.

“Sudah, tidak usah berbohong. Kau tahu, sudah berapa banyak wartawan yang memanggilku dan menanyakan tentangmu.” Kumiko menyerngit, “Kau… memiliki hubungan dengan Inoo Kei-san dari Hey! Say! JUMP itu kan?”

Kumiko salah tingkah, “Ya.. err.. maksudku..”

“Kenapa? Kenapa kau harus menyembunyikannya? Dan kenapa di saat kau sedang naik daun?”

“Maafkan aku, Sato-san.” Kumiko menunduk.

“Kau tahu kan apa akibatnya? Tidak cuma dari fans, di berita gosip pun kau akan—hah!!” Manajer Kumiko meninju dinding terdekat, menyalurkan rasa kesalnya.

Malam itu, Kumiko berjalan pulang ke rumahnya. Membuka pintunya lalu masuk dan tidak beranjak dari posisinya untuk waktu yang lama. Matanya mulai berair dan airmatanya mengalir di pipinya. Kumiko terduduk, dia tidak mengerti kenapa dia merasa sangat sedih semenjak manajernya memarahinya. Dia seakan lupa dengan karirnya yang sudah susah payah dia bangun, kemudian dia mulai merasa menyesal telah membuat permainan ini.

Namun Kumiko tidak bisa lepas dari Inoo. Pria yang selalu mengisi harinya selama lebih dari setahun terakhir ini, yang membayangi mimpinya sampai tadi malam. Kumiko menghapus airmatanya, menarik napas, menyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan yang menurutnya benar lalu mencari handphone-nya di dalam tasnya, menulis sesuatu dan kembali menangis.

***

Jangan mencari atau menghubungiku lagi. Permainan kita sudah berakhir.

Inoo menatap telepon genggamnya. Ini sudah sekian kalinya dia membaca email dari Kumiko itu. Dia tidak mengerti dengan pikiran gadis itu. Kenapa, apa yang terjadi pada Kumiko? Sudah sebulan sejak dibalasnya pesan itu, namun sampai detik ini dia tidak menerima balasannya.

Inoo sedikit terkejut saat handphone-nya bergetar dan berbunyi di genggamannya, dia menerima sebuah telepon. Tapi bukan dari Kumiko, “Halo.”

“Inoo-chan! Cepat liat berita!” terdengar suara Daiki panik.

“Eh?” Inoo langsung menghidupkan TV dan tercengang. Skandalnya dan Kumiko sudah tersebar. Dia melihat foto dirinya dan Kumiko keluar bar, café dan beberapa foto mesra lainnya. Gosip yang bertebaran sama persis dengan yang disusun Kumiko waktu itu.

“Inoo-chan, kau masih di sana?” tanya Daiki yang masih belum mematikan teleponnya.

“A— iya..”

“Lebih baik kau segera kesini dan jelaskan semuanya agar skandal ini selesai.”

“Dai-chan, arigatou.”

***

“KAU PIKIR KAU INI APA?” teriak Yabu pada Inoo yang menunduk, “KAU INI PUBLIC FIGURE! DAN KAU PUNYA IMAGE POLOS! APA KAU LUPA?”

“Yabu, tenanglah.” kata member lainnya. Mereka memegang badan Yabu yang sedari tadi ingin memukul Inoo.

“Aku tidak peduli kau berpacaran dengan siapa, tapi ke diskotik? Ke bar? Aku tahu kita semua disini sudah cukup umur untuk ke sana, tapi ingat image grup yang kita bangun!” Inoo hanya menunduk, dia tidak bisa melawan Yabu yang sedang sangat emosi itu. Dia teringat ketika Yabu terkenal skandal, mereka semua menghakimi dan memarahinya karena sudah ceroboh kehilangan handphone-nya dan sekarang Inoo tahu bagaimana rasanya dihakimi oleh teman sendiri. Dia juga tidak habis pikir kalau wartawan membuntutinya sampai ke diskotik.

“Inoo-chan, kau pasti mengerti kenapa aku marah seperti ini, aku hanya tidak ingin kau mengalami hal yang sama sepertiku.” kata Yabu lalu melangkah meninggalkan Inoo dan teman-temannya pergi. Semua melihatnya sampai punggungnya tidak tampak lagi dibalik pintu lalu mereka melihat ke arah Inoo yang masih menunduk.

Inoo mengangkat kepalanya menatap mereka kemudian dia berdiri dan membungkuk dalam, “Aku benar-benar minta maaf.”

***

“Aa~ Saruwatari-san~ Kau hebat sekali!” puji seseorang yang Kumiko kenal sebagai kepala agensi, “Dengan begini, popularitasmu akan melejit lebih tinggi dari sebelumnya~”

Kumiko tersenyum kecil, pandangannya begitu sedih. Dia sama sekali tidak berniat seperti itu, dia hanya ingin kehidupannya yang membosankan itu sedikit berwarna. Sekarang Kumiko tahu apa yang dikhawatirkan oleh manajernya.

“Kau tahu, setelah skandal ini kau akan sangat sibuk. Akan semakin banyak tawaran pekerjaan untukmu, tidak peduli kalau di berita gosip kau dibilang menumpang ketenaran, lalu banyaknya haters yang akan mencaci makimu dan datangnya fans baru hahahahaha~” Kumiko kembali memasang senyum terpaksa pada wajahnya. Dia benar-benar menyesal telah membuat ide konyol itu bersama Inoo. Kumiko juga tidak berharap terkenal karena caci makian, “Hari ini kau boleh istirahat, Saruwatari-san~”

***

Kumiko menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Hari ini dia begitu lelah karena promosi drama dan syuting. Untung saja dia diperbolehkan pulang cepat hari ini karena merasa tidak enak badan. Kumiko merenggangkan sedikit badannya lalu bergerak mencari remote dan menghidupkan TV. Setidaknya menonton mengurangi stresnya.

Dia berhenti mengganti channel saat menemukan sebuah acara musik dengan bintang tamu sebuah grup yang salah satu anggotanya sangat dia kenal bahkan sangat ingin dia temui. Hey! Say! JUMP sedang mempromosikan album baru mereka.

“Jadi lagu yang akan kalian bawakan warnanya berbeda dari biasanya ya?” tanya salah satu MC.

“Iya, lagu ini punya makna yang dalam dengan instrumen yang ringan.” terang Yamada Ryosuke, si center.

Kemudian MC mempersilakan mereka bernyanyi. Kumiko menatap televisi itu tanpa berkedip. Hey! Say! JUMP mulai menyanyi dan menari.

Lihat hanya karena dunia yang dingin dan kejam ini
Berkata kita takkan bisa
Sayang, kita berdua berhak tuk memutuskan
Dan aku setuju

Lirik milik Yamada dan Inoo yang membuat Kumiko tersadar bahwa lagu itu tentang cinta dia dan Inoo.

Dan aku tak ingin menjadi tua dan beruban
Mengenang hari-hari yang lebih baik ini
Tapi
peraturan memberitahu kita tuk menyerah
Agar kita takkan pernah tahu

Dan dilanjutkan dengan lirik ini membuat Kumiko semakin yakin kalau menceritakan mereka. Mata Kumiko berair, tanpa sadar airmata turun membasahi pipinya. Kenapa lagu itu menyayat hatinya? Kumiko kembali berfokus pada tontonannya, “Andai kita punya waktu lain~ Andai kita punya tempat lain~” Kumiko ikut menyanyi dalam isak tangis, “Aku masih terjebak dalam waktu bersamamu..”

Handphone Kumiko berdering. Dia melihat siapa yang meneleponnya. Kei, nama yang meneleponnya. Kumiko dengan cepat menarik napasnya dan berdeham agar suara sesaknya tidak terdengar, “Halo.”

“Kau dengar lagu tadi?” tanya Inoo, namun tidak ada jawaban, “Aku membuatkannya untukmu.” Kumiko menarik alisnya tapi tetap diam, “Aku masih belum bisa melupakanmu, aku sangat mencintaimu. Kenapa kau pergi? Kau bilang kau tidak peduli dengan fansku yang membencimu dan—”

“Seperti yang kukatakan, permainan kita udah usai.”

“Tapi..”

“Kita ini milik fans, mengertilah kalau kita tidak bisa saling memiliki sampai saat ini. Itu peraturan yang tidak tertulis untuk seorang idola kan? Ingat perjuanganmu membangun karirmu itu, aku tidak ingin karenaku perjuanganmu hancur. Aku juga sudah lelah menutupi hubungan kita, lebih baik berakhir kan?” Airmata Kumiko kembali mengalir dan lebih deras. Namun dia berusaha untuk tidak membiarkan suara isakannya terdengar oleh Inoo.

“Kumiko, kumohon…”

“Kita akan bersama lagi kalau kita berjodoh. Maaf karena permainanku, image polosmu hancur, maaf. Selamat tinggal, Inoo-san.”

Kumiko menutup teleponnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Kenapa Inoo tidak mengerti kalau Kumiko menjauh demi kebaikannya juga? Andai saja mereka bukan selebriti, hubungan mereka tidak akan setragis ini. Dan andai saja permainan ini tidak pernah dibuat, tidak ada yang tersakiti. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini Kumiko hanya bisa menangisi kebodohannya dan mendoakan Inoo selalu bahagia tanpanya.

“Aku mencintaimu, Inoo Kei…”

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Stuck In the Moment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s